Actions

Work Header

kopi dari hati

Summary:

“Cakep…” Gumam Hikari pelan, pandangannya tidak bisa lepas dari barista berkuncir dua itu. (coffee shop au)

Notes:

waktu ubek2 file ketemu gambar aku yang udah lama banget sebelum enlightenment era trus ya udh aku buat sekalian deskripsinya dalam bentuk mini fic ini. j̶a̶n̶j̶i̶ ̶j̶i̶w̶a̶ au.

oh ya! cw mungkin ini pet peeve orang tp aku ga italic kata2 bahasa enggresnya soalnya aku pake italic kebanyakan buat pikiran hikari atau pesan/tulisan biar ga bingung. trus aku jg ga bs bahasa indonesia yg baik dan benar jadi sekian.

Work Text:

kopi dari hati

Hikari mendengus kesal sembari membuka pesan singkat dari Kaoruko. Jangan lupa, macchiato-nya pakai extra shot ya! Tipikal Kaoruko, pikir Hikari. Suara melengking gadis berambut biru itu terngiang di kepalanya, benar-benar intrusif dan tidak mengenakan. Ketika jam makan siang datang Hikari yang hendak membeli tisu di minimarket lantai bawah tiba-tiba dititipi kopi oleh Kaoruko, kawan semeja dan sekantornya. Hikari awalnya ragu-ragu, tapi Kaoruko memang tipikal yang suka memaksa hingga rasanya sulit untuk ditolak.

Kaoruko sudah berpesan untuk menggunakan kupon dari salah satu aplikasi dompet digital. Meski tidak melek teknologi, untung saja Hikari juga sudah menggunakan aplikasi yang dimaksud. Repot juga kalau nanti harus mengunduh aplikasi baru hanya untuk promo beli satu gratis satu.

Antrian di kedai kopi kantor sudah cukup ramai, maklum ini juga sudah jam makan siang. Eksekutif muda dan tua berlalu lalang di sekitar tempat Hikari mengantri. Oh iya, tadi Kaoruko juga bilang kalau minuman gratisnya bisa Hikari minum. Hikari tersenyum kecil, mungkin ada gunanya juga dia jadi suruhan Kaoruko siang ini, untung-untung dapat kopi gratis. 

Papan menu di depannya penuh dengan coretan kapur warna-warni, lengkap dengan ilustrasi kecil coffee of the day yang ditawarkan hari ini. Java chip Frappe, tulisannya. Jujur, Hikari tidak begitu tahu tentang kopi dan tidak banyak meminumnya juga. Mungkin bertanya langsung kepada barista yang bersangkutan untuk menu yang enak bisa menjadi satu opsi.

Mata Hikari berpindah dari papan menu ke dua barista yang sedang sibuk melayani pembeli. Di kantor memang ada gosip kalau barista kedai kopi ini memang bertampang lumayan. Lagi-lagi wajah Kaoruko terlintas dipikiran Hikari. Memang dari mana lagi sumber gosip segar kalau bukan dari makhluk satu itu? Hikari menginspeksi mereka dari jauh, mencoba membuktikan kata-kata Kaoruko kalau memang barista-barista ini berparas ayu. Satu diantaranya sama sekali bukan tipe Hikari, gumamnya.

Tanpa sadar matanya jatuh pada satu barista yang berposisi lumayan jauh dibelakang. Tampaknya sedang meracik minuman di dekat coffee press. Tangan cukup lihai ketika menuang bahan demi bahan ke dalam gelas plastik. Hikari terus memperhatikan barista itu, bahkan ketika antrian sudah semakin memendek pun matanya tetap melekat pada sosok yang tak dikenal ini.

“Cakep…” Gumam Hikari pelan, pandangannya tidak bisa lepas dari barista berkuncir dua itu. Mungkin ada nilai positifnya juga dia menjadi suruhan Kaoruko di jam makan siang ini. Cuci mata, lebih tepatnya. 

Herannya, Hikari merasa sudah pernah melihat barista tersebut. Kuncir dua yang menghiasi rambut coklatnya rasanya sudah sangat familiar di benak Hikari. Mungkin dia mirip seseorang yang pernah Hikari kenal, teman SD? Hikari menggelengkan kepala dengan cepat, malu juga jika bertemu dengan teman SD di tempat seperti ini… Ia tidak mau sampai dikenali di kantor.

“Selamat datang di Kopi Janji Cahaya Bintang, bisa dibantu pesanannya, Kak?” Hikari terbelalak kaget mengetahui dirinya sudah berada di ujung antrian. Seorang barista merangkap kasir dengan rambut berwarna kuning terang menyapanya sopan. 

“Eh, oh-” Hikari terbata-bata, belum siap untuk menjawab pertanyaan si barista. “Tunggu sebentar ya-”

“Baik, Kak.”

Aduh, tadi si Kaoruko pesan apa sih… Hikari buru-buru membuka pesannya lagi untuk menemukan pesanan Kaoruko. “Bukan…. Bukan… Oh, mau pesan iced caramel macchiato with extra espresso shot ya.”

“Okay Kak,” Sang barista dengan cepat menuliskan pesananya pada gelas plastik. “Mau ditambah ekstra caramel drizzle juga, Kak?”

“Uhm, boleh deh,” Sebenarnya Hikari tidak tau preferensi Kaoruko apakah manis atau pahit namun ya sudahlah, Hikari tipe orang yang sulit menolak promosi.

“Ada lagi Kak?”

“Kalau pakai aplikasi bisa gratis satu minuman lagi kan ya?”

“Iya Kak, promonya untuk hari ini dan besok saja ya,” Barista itu menjelasnya dan Hikari mengangguk. 

“Rekomendasinya apa ya yang enak?” Hikari bergumam, sesekali menoleh ke kiri untuk mencuri pandang terhadap barista yang tadi, bukan yang di kasir.

“Ini Kak, rekomendasi barista ada di papan atas,” Barista kasir menunjuk, “Kalau dari aku ada Banana Frappe, kalau dari Karen ada Java chip Frappe.”

Karen.

“Boleh deh, Java chip Frappe,” Hikari membalas, sembari tersipu sedikit. Jadi namanya Karen.

“Oke Kak, atas nama siapa ya?”

“Hikari. Oh iya, pakai kartu member juga ya untuk poinnya.” Hikari merogoh dompet dari tas jinjing biru yang dia bawa dari lantai atas. Ia kemudian mengambil kartu membernya dan menyerahkannya ke barista tersebut. 

Setelah pembayaran selesai, Hikari duduk di sekitar pick up counter di samping kasir sembari bermain dengan kartu member yang masih di tangannya. Ponselnya tiba-tiba berbunyi dan Kaoruko muncul di layar sebagai penelepon.

“Halo?”

“Udah jadi belum kopinya? Haus nih.”

“Sabar dong,” Hikari menggerutu kesal sembari melihat jam tangan, masih ada setengah jam sebelum istirahat makan siang berakhir. “Lagi dibikin sama baristanya.”

“Yang mana yang bikin? Maya?” Kaoruko membalas, “Rambut coklat trus tinggi bukan?”

“Rambut coklat sih tapi kayaknya orangnya pendek,” Hikari membalas, matanya terus memperhatikan barista yang tadi. Karen . Diam-diam dia berharap Karen yang membuat pesanannya, bukan barista kasir yang tadi. 

“Karen tuh kayaknya." Kaoruko berkata lagi, sedikit menyeringai.

“Loh, kamu kenal sama barista disini?”

“Kenal semua sih,” Kaoruko terkekeh pelan, “Kan langganan.”

“Memangnya ada berapa orang yang kerja disitu?" Tanya Hikari penasaran.

“Biasanya ada empat orang tapi ganti-gantian shift,” Kaoruko berkata lagi, “Memang kenapa?”

“Gapapa,” Hikari buru-buru mengelak, enggan memberikan kesempatan untuk Kaoruko meramu bahan julid untuk di kantor nanti. “Penasaran aja.”

“Pasti deh ada yang cakep,” Goda Kaoruko. Biasanya kalau sudah begini Hikari harus segera kabur sebelum ada pertanyaan lanjutan. “Siapa sih? Karen, ya?”

“Ga ada yang cakep,” Hikari mendengus kesal, “Sudah dulu, kayaknya tadi sudah dipanggil.”

“Baiklah~ Cepat ya, sudah ingin minum kopi, nih.” Kaoruko terkekeh kecil lalu menutup telponnya. Hikari menengok ke arah pick up counter dan menemukan seorang barista sudah menaruh minuman pesanannya di meja.

“Hai, Kak Hikari, ya?”

“Uhm, iya,” Hikari tersenyum malu, ternyata Karen yang membuat minumannya dan menaruhnya di pick up counter.

“Iced caramel macchiato with extra espresso shot and caramel drizzle, yah,” Karen berkata lagi, membuat dada Hikari semakin berdebar-debar tiap kali mendengar suaranya. “Oh ya, satu lagi itu Java chips Frappe.”

“Iya sudah benar kok,” Hikari mengangguk pelan sambil bersandar pada meja. “Pakai kantong ya.”

“Oke Kak,” Karen berkata lagi, “Ini sedotannya ya.”

Hikari mengangguk lagi, tidak tahu harus berkata apa. Rasanya pipinya sudah panas saja jika berada terlalu dekat dengan Karen. Ia ingin cepat-cepat naik ke atas dan membenamkan kepalanya ke bantal Mr. White yang ada di mejanya. 

“Terima kasih, datang kembali ya Kak!”

Senyuman Karen manis, hanya itu yang ada di dalam pikirannya saat ini. Persetan dengan pesanan Kaoruko, persetan dengan jam makan siang yang sudah mau berakhir. Apa tidak ada alasan lagi untuk Hikari berada lebih lama di kedai kopi ini?

Hikari menggeleng pelan, sungguh tidak logis. Ia mengambil kantong yang berisi dua minuman itu dan bergegas berjalan ke arah lift. Semakin cepat keluar dari sini semakin baik , pikirnya. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk mencapai lift dan Hikari tidak membuang waktu untuk menekan tombol panah atas. 

“Kak, tunggu!”

Huh , Hikari menoleh. Terlihat Karen sedang berlari kecil ke arahnya sambil melambaikan kartu. Oh .

“Ini kartu membernya ketinggalan di meja,” Karen berkata, nafasnya sedikit terengah-engah karena harus mengejar Hikari sebelum dia terlanjur naik lift. 

“Ah, maaf ya jadi merepotkan,” Hikari tersipu malu sambil menaruh kartu tersebut ke dalam tasnya. “Sampai harus lari-lari begini…”

“Eh, gapapa kok, Kak,” Karen terkekeh kecil, menggaruk kepalanya dengan lugu. “Kebetulan aku ingat nama kakak karena pesanan yang tadi. Kak Hikari kan ya?”

“Eh iya,” Hikari senang karena Karen mengingat namanya.

“Oh iya, aku Karen,” Karen menawarkan tangannya, “Tadi belum sempat kenalan.”

“Hikari,” Katanya lagi, “Tapi kamu sudah tau namaku, jadi…”

“Kenalan lagi juga gapapa kok,” Karen tersenyum lugu dan menjabat tangan Hikari, “Salam kenal ya!”

“Iya, salam kenal juga,”

Ding .

“Eh, maaf, aku harus segera ke atas,” Hikari berkata lagi, sedikit kecewa karena lift yang ditunggu sudah datang. Ia masuk ke dalam lift sambil melambai pelan pada Karen.

“Okay deh, datang lagi ke kedai ya Kak!”


“Nih,” Kata Hikari cepat sambil menaruh kantong di atas meja Kaoruko. Ia sedang tidak ingin berbasa-basi dengan Kaoruko, sekarang rasanya ingin menghilang saja jadinya. Pertemuan dengan Karen tadi memang cukup membekas, apalagi ditambah dengan terjadinya kebodohan di mana ia lupa mengambil kartu membernya.

“Makasih sayang~” Kaoruko berkata pelan sambil merogoh isi kantong tersebut untuk mengambil minumannya. “Ini gratisannya kamu minum aja.”

“Iya sebentar,” Hikari berkata lagi, matanya fokus ke layar laptop didepannya. “Tiba-tiba ada email dari klien.”

“Hikari,”

“Ya?”

“Kata Karen kamu cantik.”

“HAH?”

Merah sudah muka Hikari begitu Kaoruko menyebut nama Karen. Bisa-bisanya… ! “K-Kok bilang begitu….”

“Ini ada tulisannya di gelasnya,” Kaoruko menyeringai tajam, siap untuk menggoda Hikari soalnya pesan ini. “Tuh kan! Pasti deh ada yang cakep!”

“Masa sih?!” Hikari merebut paksa minuman yang ada di tangan Kaoruko dan benar saja disitu tertulis:

have a nice day, kak! p.s. kamu cantik banget! -K

Lagi, rasanya Hikari mau menghilang saja dari muka bumi ini.