Work Text:
Haechan berusaha mengalihkan pandangannya, berusaha melihat keadaan sekitar— anything or anyone— kecuali pada seseorang yang berdiri di sebelahnya dengan senyum yang lebar dan tidak berubah sedikitpun. Haechan mulai menyesali keputusannya untuk menyetujui ide gila Jaemin dan membantunya membuat konten YouTube di channel pribadinya. Channe l YouTube dengan 100 orang subscribers.
Ayo dong Chan bantuin. Kalau ini berhasil dan viral terus subscribers gue naik, BAMM! Imagine all the money I could get!, dan bukan Jaemin namanya kalau ia tidak berhenti merengek,memohon sampai Haechan menerima tawarannya.
Kiss Your Ex Challenge
Yes. As absurd as it sounds, Haechan agreed to do that.
With Mark Lee.
Pacar terakhirnya dan pacar terlamanya. Mereka pacaran hampir 3 tahun hanya untuk kandas begitu saja, yang bahkan Haechan sudah lupa alasan mereka putus. Bosankah? Haechan ingin lebih menikmati hidup dengan bebas? Ia sudah tidak ingat lagi. Dan lebih anehnya lagi Mark juga ternyata tidak keberatan. Padahal seingat Haechan, diantara mereka berdua Mark lah yang selalu berpikir rasional.
Haechan tidak menyangka ia akan se- nervous ini, soalnya mereka sudah putus sekitar satu tahun, seharusnya mereka sudah biasa saja— seharusnya ia sudah biasa saja. Berbeda dengan Mark yang terlihat sangat santai, Haechan tidak bisa mengontrol detak jantungnya.
Namanya juga ketemu pertama kali sejak putus, disuruh ciuman lagi. Wajar Chan, wajar kalau deg-degan, ucap Haechan dalam hatinya seperti mantra.
“Okay, udah siap kan?” tanya Jaemin dari balik kamera yang sudah selesai ia atur sedemikian rupa untuk menghasilkan video yang bagus.
“Gue jelasin dulu rules -nya ya,” ucapnya sambil melihat script di tangannya.
"Peraturannya simple. Nanti gue akan ngajuin pertanyaan. Kalau pertanyaan itu cocok atau mendeskripsikan mantan lu. Lu harus cium dia. Ngerti?"
Mark terlihat berpikir sebentar sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Sementara Haechan hanya bisa menyerngitkan dahinya penuh tanda tanya,
"Maksudnya? Jangan berbelit gitu lah Na. Tolong pake bahasa yang bisa gue mengerti" protes Haechan
"Yee otak lu aja yang gak nyampe!"
"Sembarangan lu!"
"Udah-udah jangan berantem," ucap Mark menengahi
"Nih gue kasih contoh. Lu sih ngegas duluan Chan, kan gue belom selesai."
"Pertanyaannya. Siapa diantara kalian yang zodiaknya gemini?"
"Gue," jawab Haechan
"Nah berarti Mark–"
Cup
Mark mencium pipi sebelah kiri Haechan, tepat di daerah tahi lalatnya. Bagian tubuh Haechan yang paling Mark suka.
Haechan bisa merasakan rasa hangat yang menjalar ke pipinya.
"Mark!"
"What?! Bener kan gitu cara mainnya? Atau harusnya cium bibir?" tanya Mark sambil mengerling jahil ke arah Haechan dan Jaemin secara bergantian.
"Bener kok Mark kayak gitu," jawab Jaemin yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia yakin sekali kontennya kali ini akan viral.
"Soal tempatnya sih bebas, terserah. Kalau gak keberatan mau cium bibir juga boleh banget–"
"Gue keberatan gue!" protes Haechan lagi "Keep it PG you guys. Mark please!"
"Okay okay. Santai aja sih Chan, nanti keliatan di kamera jelek loh,"
Tidak seperti mantan pada umumnya, hubungan mereka setelah putus sebenarnya baik-baik saja. No hard feelings, they're pretty chill with each other. Bukan mantan yang akan menghindar kalau mereka tiba-tiba berpapasan di jalan.
"Oke. Kita mulai ya.” ucap Jaemin “Ngg… perkenalan dulu deh. Haechan? Mark? Siapa yang mau duluan?”
“Haechan?” jawab Mark sambil mempersilahkan Haechan untuk ngomong duluan.
“Hai. Gue Haechan 21 tahun. Mantannya Mark” ucapnya singkat. Memperkenalkan diri sebagai mantan pacar Mark secara gamblang ternyata lebih susah dari bayangannya.
“Mark?” Jaemin kemudian mempersilahkan Mark untuk berbicara
“Hai! Gue Mark Lee, 22 tahun. Gue mantannya si cowok manis, cerewet, tapi perhatian dan caring banget— a shoulder to cry on gue selama 3 tahun, Haechan.”
Haechan memukul bahu Mark pelan untuk menutupi rasa kaget dan saltingnya.
“Panjang amat sih Mark! Lebay banget, sebel”
"Lah emang kenyataan!"
Mark hanya terkekeh pelan, begitu juga dengan Jaemin yang tanpa banyak kata lagi langsung memulai membacakan pertanyaan yang sudah ada ditangannya.
“Okay guys.” Jaemin membuat sinyal dengan tangannya dibalik kamera, agar kedua narasumbernya ini kembali fokus.
“Siapa yang nembak?”
Haechan menggigit bibir bawahnya dan melirik sinis ke arah Jaemin yang terlalu sibuk membaca scrip t-nya. Pertanyaan pertama aja udah gini, pikirnya. Masih sibuk dengan pikirannya Haechan tidak melihat Mark yang kini sudah mendekatkan pipinya pada wajah Haechan.
“Here, kiss me. I confess first of course,” ucap Mark pada kamera sambil menunjuk pipinya dengan telunjuk, meminta segera dicium.
Haechan menarik nafas dalam-dalam, dan perlahan mendekatkan bibirnya ke pipi Mark.
Cup
Kecupan singkat yang tidak sampai 3 detik, sukses mendarat di pipi Mark. Dia yang dicium tapi Haechan yang merah pipinya.
Jaemin mengangkat jempolnya, dan membuat gesture good job dengan mulutnya.
“Siapa yang mulai pas ciuman pertama?”
Haechan memejamkan matanya dengan gusar. Mark hanya tersenyum simpul, menarik Haechan supaya berdiri lebih dekat dengannya lalu mencium pipinya dan menatap Haechan agak lama sesudahnya.
“Dia yang nyosor duluan, tapi jelas dong gue yang pegang kendali”
“Mark! TMI! Bisa gak sih jawab sesuai pertanyaan aja,” Haechan kembali memukul lengan Mark karena hanya itu yang bisa ia pikirkan sekarang. Ia pasti terlihat sangat konyol sekarang.
Mark dengan cepat merangkul Haechan dan mengelus-elus pundaknya. Gesture yang sering sekali ia lakukan saat mereka pacaran. Biasanya kalau udah gini Mark selalu mencubit pipinya sambil berkata,
Cute banget sih kamu,
Dan Mark sepertinya tidak mau merubah posisi tangannya, bahkan saat Jaemin menanyakan pertanyaan berikutnya
“Setelah putus, siapa yang nge-chat kangen duluan?”
Mark tertawa, tangannya turun ke pinggang ramping Haechan dan mencium pipinya sekali lagi.
“Eh tapi Haechan nge-chat gue kalau lagi mabok doang. Still count right?”
“Lu sengaja ya kok pertanyaannya memojokan gue terus sih?” protes Haechan “Yang lain kek Na, masa gue kalah,”
“It’s not competition sir . Ok lanjut ya... “ Jaemin tidak memperdulikan Haechan dan lanjut dengan pertanyaan selanjutnya
“Siapa yang paling romantis?”
Cup
Haechan dengan malas mencium pipi Mark.
“Diantara kalian siapa yang lebih lucu?”
“Of course, it’s Haechan!” ucap Mark sebelum mencium pipi Haechan, lebih lama kali ini. Cowok yang lebih tua ini tidak berhenti tertawa geli, dan kini malah mencium rambut Haechan dengan ujung hidungnya.
“Siapa yang minta maaf duluan kalau berantem?”
“Bentar—” Protes Haechan sebelum Mark menarik tubuhnya yang berusaha menghindar dan kini Mark memeluk pinggang mantan pacarnya posesif
“Come here, kiss me”
Haechan mencium Mark, dan kini posisi mereka berubah menjadi berhadapan karena Haechan yang terus menghindar. Tangan Mark masih melingkar longgar di pinggang Haechan
“Siapa yang lebih sabar?”
Haechan mencium Mark
“Setelah putus, siapa yang nyapa duluan?”
Haechan kembali mencium Mark.
Mark selalu sabar dan pengertian. Setelah putus mantannya ini masih berusaha menjaga hubungan mereka. Mark benar-benar tidak mau mempunyai unfinished business dengan siapapun, apalagi Haechan.
“Siapa yang lebih caring?”
Mark dan Haechan beradu pandang.
Semua berlangsung dengan cepat, Mark yang akan mencium pipi Haechan, bertabrakan dengan Haechan yang juga akan menciumnya. Alhasil kini bibir mereka bertemu. Beberapa detik yang sukses membuat waktu seakan berhenti.
“MARK!” Haechan memundurkan tubuhnya dan memandang Mark dengan bola mata yang hampir keluar. Yang diliatin malah nyengir santai dengan ekspresi clueless nya.
“What? you think I'm caring?”
Haechan tidak percaya. Mereka habis berciuman bibir. Oke mungkin bukan ciuman gimana-gimana, more like a peck. But still?! Yang Mark urusin adalah pertanyaan bodoh Jaemin? Haechan hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Mark lu cium gue!”
“Lah kan emang peraturannya?”
“On my lips!”
“Loh kan gak apa-apa kata Jaemin juga. Iya kan Na?”
“Ya gue sih bebas, gimana kesepakatan. Tapi bibir lucu juga ya. Sexual tension nya lebih dapet”
“See? It’s good for the view… and for me.” untuk bagian akhir Mark mengucpkannya pelan hampir tidak terdengar “ Kita kan mau bantu Jaemin supaya viral!”
“You’re using me for a clout. What a best friend! You gonna pay for this Na Jaemin”
“Yeah… nanti juga lu yang makasih sama gue… “ gumam Jaemin
“Emang kamu gak mau Chan?”
“Apa?”
“Aku cium?”
“Kamu udah nyium aku dari tadi Mark! Baru minta izin sekarang?"
“So, can i kiss you? On your lips?”
“Next! Cepet-cepet ah, banyak iklannya dari tadi. Ayo biar cepet beres”
“Kamu nggak nolak,”
“Shut up Mark Lee!”
Jaemin yakin sekali kontennya kali ini akan sukses. Saat ini di otaknya sudah ada efek musik kencring-kencring uang masuk seperti bgm karakter Mr. Krab di kartun SpongeBob.
“Siapa yang sering minjem barang terus nggak dibalikin?”
Cup
Mark mengecup Haechan. Di bibirnya kali ini. Dan Haechan sudah tidak ada tenaga untuk protes. Atau mungkin ia juga sebenarnya menikmati ini.
“Udah aku balikin semua gak sih?” tanya Haechan
“Masih ada yang belum… “
“Apaan?” perasaan Haechan waktu mereka putus, ia sudah mengirim semua barang milik Mark yang ada di kamarnya.
“My heart?”
Haechan hanya bisa berdecak mendengar jawaban Mark.
Sekitar 10 menit, dan 10 pertanyaan lainnya Jaemin lontarkan. Sepasang mantan kekasih ini sudah tidak peduli. Mereka mencium disembarang tempat. Pipi, bibir, jidat, rambut, hidung. Anywhere they feel like it.
Kalau tadi mereka berpelukan longgar, sekarang posisinya sudah lebih rapat, dada mereka menempel satu sama lain. Mereka dapat merasakan detak jantung masing-masing. Mark meletakkan dagunya di bahu Haechan dan mencium aroma tubuhnya.
“Oke. Dikit lagi nih, gerah ya gue lama-lama… “ Jaemin menyesal tidak membawa teman untuk syuting kali ini. Ia benar-benar merasa seperti obat nyamuk.
“Siapa yang ingin minta maaf tapi nggak sempet?”
Haechan mencium Mark di samping bibirnya. Lebih lama kali ini, dan tangannya balas memeluk Mark. Bohong kalau ia tidak kangen. Semua memori saat mereka masih berpacaran berputar seperti video flashback dalam otaknya.
Kenapa mereka putus? Kenapa Haechan minta putus padahal sampai saat ini ia belum bisa menemukan pengganti Mark. Kenapa Haechan selalu membandingkan semua calon pacarnya dengan Mark saat ia bisa bisa— masih berpacaran dengan Mark kalau saja ia tidak memutuskannya saat itu?
“Oke. Pertanyaan terakhir… “ Jaemin menatap kedepan, melihat sepasang manusia yang masih berpelukan erat.
“Siapa yang ingin balikan?”
Haechan melepaskan pelukan Mark dan menatap Jaemin tidak percaya. Bagaimana bisa pertanyaan ini ada dalam script Jaemin. Sahabatnya ini benar-benar all out . Haechan menyesal tidak mengecek pertanyaan apa saja yang akan Jaemin tanyakan, dan memilih percaya begitu saja.
Haechan menahan nafasnya. Setiap detik terasa mematikan, ia menunggu. Menunggu siapapun membuat tindakan. Jantungnya berdebar kencang, saat tidak Mark juga terdiam.
Did he not want me anymore?
Haechan bisa merasakan basah yang sudah berkumpul di pelupuk matanya. Sekali sentuh saja, pasti air mata itu akan mengalir dengan sendirinya.
Haechan masih sibuk dengan pikirannya saat Mark mendekatkan bibirnya. Mencium Haechan hati-hati di bibirnya. Lebih lama kali ini.
Tangan Haechan reflek mendorong dada Mark, hanya untuk dipeluk lebih dekat lagi. Mark tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyudahi ciumannya. Saat bibir Haechan terbuka karena kaget, cowok yang lebih tua itu langsung menarik tengkuknya, melumat bibir lembut dan manis yang sudah sangat ia rindukan.
Mark menciumnya pelan dan penuh perasaan. Berusaha menyalurkan kata hatinya lewat sentuhan bibir mereka. Tanpa berpikir panjang, Haechan balas mencium Mark. Ia tahu sesudah ini banyak sekali hal yang harus mereka bicarakan, namun di otaknya saat ini hanya ada perintah untuk mencium Mark dengan urgensi yang sama. Supaya Mark, tahu kalau ia juga ingin balikan. Kalau Mark masih mengisi hatinya. Hanya Mark.
Mereka berdua berhenti untuk menarik nafas, dengan jidat saling menempel.
“Mark… “ ucap Haechan pelan
Mark kemudian memundurkan wajahnya, dan mengecup bibir Haechan cepat.
Cup, sekali.
Cup, dua kali.
Tiga kali, empat kali, lima kali. Sampai akhirnya mereka tertawa bersama. Bukan hanya muka yang merah, telinga dan leher keduanya ikut memerah.
“Stop it! Gak malu apa ada kamera?”
“Your lips are so soft. I could kiss them all day,”
“Please kiss me a lot from now on. I miss you,”
" Dengan senang hati… I miss you too baby,“ Mark memainkan ujung hidungnya dengan ujung hidung Haechan dan siap melumat bibirnya lagi saat Jaemin menginterupsi mereka.
“Okay cut! Wow so sexy! BUT PLEASE MY EYES!”
Haechan menyembunyikan kepalanya di dada Mark, yang dibalas dengan usapan lembut di rambutnya.
“Hahaha, thanks Jaem”
“Gila gue ngeditnya gimana ini! Imagine the nightmare!”
“You’re using us for a clout. Kalau sampe viral jangan lupa bayarannya!” protes Haechan
“Gampang itu sih. Sekarang traktir gue. Laper banget liat orang ciuman”
“Gak ada hubungannya Na,”
“Ada Chan! Mata gue harus dicuci sama pemandangan indah. Apa lagi yang indah kalau bukan makanan? Lu yang traktir ya?” tanya Jaemin pada Haechan sambil membereskan kameranya.
Tidak menjawab Jaemin, Haechan malah menarik dagu Mark dan menciumnya lagi.
“Mark yang traktir!” ucapnya sebelum mereka kembali berciuman
“OH MY GOD! STOP IT YOU TWO!”
Setelah di upload , konten Jaemin langsung viral dan menjadi trending selama 3 hari di berbagai negara.
