Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Weetings Collection
Stats:
Published:
2021-04-10
Words:
1,465
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
39
Bookmarks:
4
Hits:
654

kolaborasi apik antara rahasia besar dan bau mi

Summary:

Menurut Jihoon, tidak ada yang salah ketika kau menyukai seseorang.

Menurut Junkyu, Jihoon menyukai Hyunsuk itu adalah sebuah kesalahan.

Notes:

Seluruh tempat dan situasi yang tercantum di fiksi penggemar ini tidak nyata. Pengarang hanya meminjam nama dan tokoh dari Treasure. Hak cipta Treasure sepenuhnya milik YG Entertainment. Tidak ada keuntungan material diperoleh.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 


Tidak ada yang salah jika kau menyukai seseorang. Cinta memang suka tidak tahu diri, datang sesuka hati, kalau pergi, bisa bikin orang merana bahkan berani menentang alam sendiri. Benar-benar tidak ada yang salah, sungguh. Dengan siapa pun kau mencoba menaruh suka; laki-laki, wanita, tua, muda, itu tidak salah, tidak pernah.

“Masalahnya, orang yang kau sukai itu Choi Hyunsuk. Gangster sekolahan yang suka malak pakai kaki, yang suka bolos tapi tetap bertahan sebagai murid kesayangan guru, yang permen kesukaannya lolipop chupa chups bukan milkita. Sebagai pencinta milkita, aku haters dia.”

Jihoon memutar bola mata jengah mendengar omelan Junkyu tentang Hyunsuk. Lelaki itu membaca komik kesayangan sambil memutar-mutar lolipop milkita rasa melon dalam mulut. Jihoon tidak pernah peduli bagaimana tabiat Hyunsuk yang dianggap nakal oleh seisi sekolah, atau preferensi permennya sesuai penuturan Junkyu—Jihoon tidak peduli itu.

Yang ia peduli, adalah bagaimana Hyunsuk pernah menyelamatkannya dari anjing galak yang tidak sengaja ia temui di gang kecil. Hari itu memang sial, Jihoon iseng mencoba jalan pulang baru menuju rumah dan ia justru dipertemukan dengan anjing galak yang sudah menghadangnya di tengah jalan, lengkap dengan air liur menetes, runcing taring yang mengilap terkena bias matahari, matanya yang berapi-api, dan tali rantai yang menjulur tanpa diikat.

Mati sudah. Riwayat hidup Jihoon berakhir konyol digigit anjing galak freelancer (tanpa majikan). Seharusnya seseorang menyematkan papan plang awas anjing galak di sekitar sini, agar suatu saat tidak ada lagi yang bernasib sial seperti Jihoon.

Ketika ia sudah hampir ingin kencing di celana, seseorang datang dan berdiri di depannya memunggungi. Bak pahlawan, Hyunsuk melindungi Jihoon meski perbedaan tinggi mereka cukup berlawanan. Ia menatap tajam pada lawan di depan, pada anjing yang sudah mengais kakinya seperti banteng.

Jihoon memegangi bahu pemuda itu, berlindung di balik punggungnya dan menatap pemandangan di sana seperti film horor. Anjing itu menggonggong, orang itu balik menggonggong, bahkan lebih nyaring. Mereka saling bersahutan, saling berteriak. Jihoon mengernyit, melihat Hyunsuk yang aktif sekali membalas gonggongan anjing layaknya melihat dua pemeran film yang memang sudah lama sekali bermusuhan dan saling dendam akhirnya memiliki waktu untuk menuntaskan urusan mereka.

Pertandingan itu tentu saja dimenangkan Hyunsuk. Ia berlari maju sambil menggonggong dengan tangan terbuka seakan ingin menerkam. Si anjing galak pun ciut, suaranya mengecil dan berbalik mundur terbirit-birit. Hyunsuk berdiri tidak jauh dari tempat Jihoon berada, ia berbalik, memandang Jihoon yang menatapnya kagum.

Ibu jari terangkat. Hyunsuk memberikan thumbs up pada Jihoon, menandakan semua masalah sudah beres, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Jihoon bisa pulang dengan selamat tanpa ada gangguan dari ganasnya anjing galak.

“Lalu, kau merasakan panah cinta asmara saat itu pula. Seakan jempol Hyunsuk yang tertuju padamu adalah panah tadi, yang langsung menembak hatimu, jleb! Oh, dia sangat memesona. Hyunsuk benar-benar sosok pahlawan. Aku sangat menyukainya.” Junkyu mengangkat kedua kakinya ke atas meja, membalik halaman komik, mengisap permen lolipopnya lagi. “Itu adalah cerita jatuh cinta paling konyol yang pernah ada.”

Jihoon bersandar, ia menghela kasar. “Mau kuambilkan kaca untukmu? Haruskah aku menceritakan kisahmu yang menyukai anak kelas tiga SMP? Siapa namanya? Hasan? Haris? Hakim? Semuanya konyol, semua orang setidaknya mengalami satu kali kisah cinta yang kocak, Junkyu.”

“Setidaknya aku tidak menyukai seseorang hanya karena dia menyelamatkanku dari anjing galak.”

“Makanya kubilang semua orang pernah mengalami kisah cinta yang kocak!” Jihoon duduk tegap, “kau sendiri, kalau Hamidan menyelamatkanmu dari anjing galak, kau pasti langsung suka.”

“Namanya Haruto!”

“Mau Haruto, mau Hamidan, terserah. Tetap saja tidak ada yang berubah. Kita kelas tiga SMA dan kau menyukai anak kecil. Tapi aku tidak akan menghakimi, tenang saja.” Jihoon berdiri dan mengambil tas ransel.

“Mau ke mana?” tanya Junkyu lalu menurunkan kedua kaki.

“Mau pulang. Kau masih mau di sini?”

Junkyu mengangguk. “Aku masih ada urusan OSIS. Nanti ada rapat.”

“Oh, oke. Aku duluan.”

Jihoon membuka pintu kelas dan meninggalkan Junkyu dengan bacaan komik dan lolipop milkitanya. Selama perjalanan, ia menggumamkan lagu yang akhir-akhir ini ia dengarkan. Hyunsuk yang merekomendasikan lagu itu pekan lalu, dan sekarang sudah melekat dalam pikiran Jihoon, semua melodi dan liriknya.

Langkahnya terus berjalan, melewati gang kecil yang dalam ceritanya pernah menjadi saksi buta bagaimana Jihoon jatuh cinta dengan Hyunsuk. Terus berjalan, ia melihat sekumpulan berandalan yang tengah memalak anak cupu berkaca mata, bagian selangkangannya basah sebab ia kencing secara tidak sadar, hidungnya sudah dipenuhi ingus karena tangis ketakutan. Berandalan itu melihat Jihoon berjalan melalui mereka dan membungkuk hormat. Jihoon menatap pemandangan itu dengan seringai, tidak ada niatan menolong anak malang tadi.

Mulutnya terus bersiul, tangan masuk ke dalam saku celana, tidak sabar ingin segera pulang dan bersantai di kamar sembari bermain gim. Ponselnya tiba-tiba bergetar, ada sebuah pesan masuk.

Kapan kau pulang? Aku sudah lama menunggu.

Jihoon mengetik balasan, mengatakan ia sudah di jalan dan tidak lama lagi akan sampai di rumah. Ia menatap lekat pada kontak itu, tertera nama Hyunsuk lengkap dengan emoji hati berwarna merah.

Junkyu pasti akan marah besar padanya jika tahu hal ini.

Tercium aroma mi instan sesaat ketika ia masuk ke dalam kamar. Bungkus hamburger, kotak pizza, botol kola, dan sampah jajanan lainnya selengkrakkan di sana. Dan ada Hyunsuk yang baru ingin memasukkan mi ke dalam mulutnya, ia membatu melihat kedatangan Jihoon yang memperhatikan isi kamar mirip kapal pecah.

“Apa yang terjadi di sini? Kau habis mengadakan pesta?” tanya Jihoon, menendang gelas kola dan mengenai kotak pizza.

“Aku lapar,” jawab Hyunsuk kembali berkutat dengan mi miliknya.

Jihoon mendekat dan membuka mulut. "Minta.”

Hyunsuk mengernyit, “Kau bisa membuatnya sendiri. Mau kupanggilkan pembantumu?”

“Aku ingin milikmu.”

“Jihoon. Kau dengar apa kataku tadi. Aku lapar.”

“Dan aku minta punyamu.”

Hyunsuk menyerah. Jihoon ini memang keras kepala sekali. Ia akhirnya menyumpit mi tadi dan menyuapkannya ke dalam mulut Jihoon. Lelaki itu mengunyah dengan telaten sambil mengamati wajah Hyunsuk.

“Enak.”

Hyunsuk ingin sekali memukul kepala orang ini. “Kau tahu, kata orang, makanan itu jadi jauh lebih enak kalau kau meminta milik orang lain.”

Jihoon mengangkat kedua alis. Ia melempar tas dan meneriakkan nama pembantu agar membersihkan semua sampah yang berserakan di kamarnya. Jihoon mulai mengganti baju, melempar kemeja dan celana sekolahnya sembarangan. Mencari pakaian santai di antara lemari, Hyunsuk tiba-tiba berbicara.

“Jihoon.”

“Hmm?”

“Aku masih makan.”

Jihoon menoleh. “Aku tidak minta mi punyamu lagi, Hyunsuk.”

“Melihatmu tanpa baju begitu membuat nafsu makanku menurun.”

“Kenapa? Kau sudah sering juga melihatku begini.”

“Ya Tuhan.” Hyunsuk kemudian duduk membelakangi. “Kenapa saat itu aku harus menerima ajakan kencanmu, kalau tahu kau seberandal ini.”

Jihoon tertawa mendengarnya. “Kau harus menerima pacarmu apa adanya, Hyunsuk.”

“Mana tahu ternyata kau lebih parah dariku. Semua orang mengatakan akulah preman sekolah paling garang. Semua orang takut padaku. Padahal, ada kau!” Hyunsuk tiba-tiba berbalik, menemukan Jihoon yang baru akan memasang celana, “lihatlah dirimu. Tidak ada adat.”

Jihoon tersenyum bangga. “Terima kasih.”

“Itu bukan pujian, dasar sinting. Bayangkan jika Junkyu tahu hal ini.”

“Pertama-tama, dia akan protes kenapa aku tidak bilang padanya kalau aku sudah mengencanimu. Selamai ini yang dia tahu, aku selalu menyukaimu diam-diam, dan dia terus mengataiku kenapa aku menyukai seseorang sepertimu. Kedua, dia akan menjadi teman baikmu karena setelah tahu bagaimana tabiat asli diriku, dia akan kasihan padamu karena sudah berpacaran denganku.”

Hyunsuk meletakkan mi cup-nya. Seluruh nafsu makannya sudah hilang, seketika kenyang mendengar semua penuturan Jihoon. “Lucunya, dia percaya saja dengan kisah tentang anjing galak yang berulang-kali kau ceritakan. Kenyataannya, yang menghadang di sana bukanlah anjing galak, melainkan kau, dan yang dihadang adalah aku.”

Jihoon menyeringai. “Ingat bagaimana aku menantangmu berkelahi? Kalau kau kalah, kau harus berlutut dan mengiyakan ajakan kencanku.”

You sadistic.”

Jihoon mengangkat kedua bahunya. “Kupikir hanya dengan cara itu kau mau menjadi pacarku.”

“Kau bisa melakukannya lebih romantis.”

“Oh, aku ini sangat romantis dari siapa pun, Hyunsuk.”

Setelah selesai berpakaian, Jihoon duduk tepat di samping Hyunsuk, mengalungkan tangannya di pundak Sang Kekasih, dan menyalakan televisi. Ia menarik tubuh Hyunsuk mendekat lalu mencium pipinya singkat.

“Kau ini kenapa?” tanya Hyunsuk. “Jangan cium-cium, aku bau mi.”

“Aku suka mie.” Jihoon mulai menggesekkan hidungnya di pipi Hyunsuk. “Dan aku menyukaimu.”

“Seingatku kau suka sushi.”

“Sekarang aku suka mi.”

Hyunsuk terkekeh. Ia meletakkan tangan Jihoon di perutnya dan mulai menikmati acara televisi. Sementara pembantu rumah membereskan semua sampah, keduanya asyik menonton televisi, sesekali tertawa, sesekali berkomentar. Tidak ada yang peduli dengan orang lain yang ada di sekitar mereka, atau apa pun itu. Ketika Jihoon sudah berdua dengan Hyunsuk, ia hanya peduli dengan dunianya bersama dengan pemuda itu.

Sudah ia bilang. Ia tidak peduli dengan omongan orang yang mengatakan Hyunsuk adalah anak nakal, atau bagaimana pilihannya mengenai permen lolipop menurut penuturan Junkyu, Jihoon tidak peduli. Ia menyukai Hyunsuk, dan hanya itu yang terpenting. Lagi pula, anak nakal di sini bukan hanya Hyunsuk.

Ia juga nakal. Hanya saja tidak ketahuan.

Junkyu benar-benar akan mengomel panjang lebar jika tahu teman baiknya merahasiakan hal ini. Lelaki itu pasti akan memberikan pembelaan bagaimana ia selalu terbuka tentang kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan antara ia dengan anak tetangga kelas tiga SMP yang tinggi sekali itu—siapa tadi namanya?

Hadrian? Haidar? Hamsyari?

Ah, sudahlah.

.

.

.

Selesai.

 

Notes:

Entri pertamaku untuk fandom ini! Please welcome me (༎ຶ ෴ ༎ຶ)

Terima kasih sudah membaca sampai sini!