Actions

Work Header

You Through My Eyes

Summary:

Bagi Tawan, New itu indah. Sudah indah sejak awal mereka bertemu, hingga sekarang ketika mereka adalah sepasang kekasih. New itu indah, dan akan selalu indah sampai kapapun.

Notes:

Hi!

Ini pertama kalinya gue post oneshot Indo gue pake AO3 heheh. Alur di oneshot ini adalah maju mundur, I hope you guys won't get confused.

Enjoy a little present from me to celebrate bebek's 1k followers. I love you all <3

- @taynewreal (bebek)

Work Text:

Guyuran hujan deras disertai dengan badai dan kilat yang menembus gorden kamar membuat seorang laki-laki terbangun dari tidur pulasnya. Sebenarnya, bukan suara hujan atau cahaya dari kilat yang membuat ia terbangun, akan tetapi karena ia kedinginan. Angin dari Air Conditioner yang dipasang dengan suhu dua puluh empat derajat dengan kecepatan angin paling rendah tidak membuatnya merasa kepanasan sama sekali. Tidak di cuaca yang seperti ini.

 

Tawan--yang sekarang duduk di pinggir ranjang--mengucek matanya dengan kasar. Ia menolehkan pandangannya ke jam digital yang terletak di nakasnya. Layar LED tersebut menunjukkan angka 03:19 dengan warna hijau yang bersinar di gelapnya ruangan luas tersebut. Pantas saja ia pusing, ia baru tidur sekitar empat jam dan harus terbangun. Dengan malas lelaki tersebut berdiri, ia kemudian mengitari kasurnya--menuju ujung kasur yang di sebelah kiri--untuk mengambil comforter nya. Pemuda dengan tinggi 177 cm tersebut menggelengkan kepalanya ketika melihat kain tebal yang sebelumnya menutupi tubuhnya dan kekasihnya sudah tergeletak di lantai.

 

Comforter berwarna biru tua tersebut ia ambil--sambil menguap lebar--lalu dihamparkan di atas ranjang. Tawan membetulkan posisi comforter tersebut supaya menutupi tubuh kekasihnya hingga ke bahu, sebelum ia kembali ke sisi ranjang bagiannya untuk membaringkan dirinya.

 

New, yang sepertinya masih pulas, menggeliat--kemudian menenggelamkan wajahnya ke dada Tawan--ketika lelaki tersebut baru saja meletakkan kepalanya di atas bantal. Tawan tersenyum, kekasihnya terlihat sangat damai ketika ia tertidur. Ia menyukai lelaki yang masih tertidur di sebelahnya tersebut ketika ia tidur, ketika ia berbicara banyak, ketika ia makan hingga pipinya menggembung seperti hamster , ketika ia serius melakukan pekerjaannya, ketika ia tertawa hingga pipinya memerah, atau juga ketika ia menangis sewaktu Tawan mengerjainya--semuanya.

 

Tawan memiringkan tubuhnya, sekarang ia berbaring berhadapan dengan kekasihnya yang kedua kelopak matanya tertutup dengan damai.

 

Indah . Mungkin kalau Tawan disuruh untuk mendeskripsikan New, tanpa berpikir Tawan akan menjawab bahwa lelaki yang ia cintai itu dengan kata indah . Indah secara fisik, dengan kulit putih; mata bulat yang memandangnya dengan penuh cinta; hidung mancungnya, tidak lupa beserta tahi lalat menggemaskan di ujungnya; sepasang bibir tebal yang menjadi candu baginya; leher jenjangnya; jari-jari panjangnya yang lentik; bahunya yang mulus; serta hal-hal lain yang tidak seharusnya Tawan pikirkan di jam-jam seperti ini.

 

New itu indah . Secara personal; bagaimana ia menghargai setiap pendapat orang lain, bahkan yang tidak sejalan dengannya; bagaimana ia mengutamakan kepentingan umum daripada dirinya sendiri; bagaimana ia selalu mencari kebaikan orang lain di tengah-tengah lautan sifat buruk mereka; bagaimana ia peka dan memperhatikan orang lain; masih banyak yang belum disebutkan, tapi Tawan pikir daftar ini tidak akan ada ujungnya.

 

New adalah pribadi yang sangat indah . Dengan berbagai caranya memperlakukan Tawan, yang membuat Tawan selalu merasa dicintai.

 

Tawan merapikan rambut New yang menusuk kelopak matanya. Ujung-ujung bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyuman ketika New menggerakkan kepalanya untuk mengikuti telapak tangan Tawan yang mengusap rambutnya kemudian sisi wajahnya. Bahkan dalam tidurnya pun lelaki yang lebih muda bisa merasakan presensi Tawan.

 

Di dalam kondisi apapun, New adalah orang yang selalu menyadari keberadaan Tawan. Sama seperti tujuh tahun lalu, ketika mereka pertama kali bertemu dan berkenalan. Tawan ingat betapa tertekan dirinya ketika orang tuanya--alih-alih mendaftarkannya di sekolah internasional--malah menyekolahkannya di sekolah nasional plus. Walaupun sekolah tersebut adalah salah satu sekolah swasta terbaik di Jakarta, tetap saja tidak banyak anak-anak yang fasih berbahasa Inggris.

 

Ia ingat betul bagaimana di dua bulan pertama ia tidak pernah berbicara dengan siapapun di sekolah, kecuali benar-benar terpaksa. Bukannya tidak suka dengan Tawan, teman-teman kelasnya merasa malu ketika berbicara dengan Tawan karena kemampuan berbicara mereka yang masih tersendat-sendat. Sedangkan, jika disuruh berbicara dengan Bahasa Indonesia, Tawan yang tidak bisa. Sebenarnya ini bukan salah Tawan, selama ia tinggal di Australia, ia tidak pernah dibiasakan untuk menggunakan Bahasa Indonesia di rumah. Oleh karena itu, kosakata yang ia miliki hanya mampu membawanya untuk terlibat di perbincangan dasar--contohnya perkenalan.

 

Entah apa yang dipikirkan lelaki tersebut ketika ia mendaftarkan dirinya untuk menjadi anggota OSIS. Pada waktu itu Tawan berpikir bahwa ia hanya ingin mencoba. Toh, kemungkinan besar ia tidak akan lolos karena ia tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Alangkah terkejutnya dirinya ketika satu minggu kemudian ia dinyatakan lolos seleksi untuk menjadi anggota organisasi sekolah tersebut.

 

Tawan ingat di pertemuan perdana anggota OSIS, ia  datang lima menit sebelum pertemuan dimulai--sengaja menghindari percakapan yang hanya akan membuatnya tertekan. Satu menit sebelum rapat dimulai, New masuk melalui pintu yang terbuka lebar. Tawan masih ingat dengan jelas bagaimana laki-laki berkulit putih dengan tinggi sekitar 150 cm tersebut menunduk dengan kedua tangan bertumpu di lututnya, napasnya terengah-engah. Kedua pipi putih New dihiasi rona dengan warna merah gelap, rambut hitamnya berantakan, dan bagian belakang seragamnya keluar. Menggemaskan .

 

Selama dua belas tahun lebih hidupnya waktu itu, belum pernah ia menganggap seorang laki-laki yang seumuran dengannya sebagai seseorang yang menggemaskan. Namun itulah faktanya. New sudah menarik perhatiannya sejak kedua maniknya pertama kali mendarat padanya. Sepertinya hal tersebut juga berlaku pada New, karena di tengah-tengah berpuluh-puluh manusia yang memandanginya, New memilih untuk menoleh ke arah Tawan. Hal yang cukup mengherankan, memperhitungkan bahwa laki-laki berkulit tan tersebut duduk di kursi paling pojok di belakang, bagian yang tidak begitu dipedulikan orang lain.

 

Tanpa berbicara banyak, New melangkahkan kakinya ke arah Tawan, membuatnya sedikit salah tingkah karena semua mata pada saat itu mengarah kepada mereka berdua. Tanpa gerak-gerik canggung, New menghempaskan bokongnya di kursi di sebelah Tawan. Ketika pertemuan dimulai, laki-laki yang lebih muda mencondongkan wajahnya ke telinga Tawan.

 

“Lo anak baru ya? -Oops, sorry. I mean, are you the new student? From Australia… right?”

 

Itu adalah kalimat pertama--kalimat panjang pertama--yang Tawan dengar dari siapapun yang berbicara kepadanya selama dua bulan ia berada di sekolah tersebut. Tawan bermaksud untuk menoleh sebentar waktu itu, akan tetapi sepasang manik hitam milik New menahannya untuk berpaling. Jadilah ia mengangguk sambil menyelami mata bulat yang memandangnya balik. Sepasang mata yang menatapnya penuh kehangatan.

 

Di pertemuan pertama di ruang OSIS tersebut, anggota-anggota baru diajak berkenalan satu dengan yang lain, beserta guru pembina mereka. Tawan pikir waktu itu ia hanya membayangkannya, tapi jika dipikir-pikir sepertinya pikirannya tidak membohonginya. Ketika mereka diminta untuk berkenalan satu sama lain, New mengikutinya. Bahkan ketika mereka diberikan penjelasan mengenai berbagai hal, New--dengan aksen Bahasa Inggrisnya yang menggemaskan, tetapi masih bisa dimengerti--menerjemahkan inti penjelasannya kepada Tawan.

 

Di hari itu Tawan berkenalan dengan New. Dengan New yang menyodorkan sebuah permen lolipop rasa stroberi kepadanya, dan dirinya yang memberi setoples coklat--yang memang disiapkan oleh mamanya untuk dibagi dengan teman-temannya--mereka memulai pertemanan mereka.

 

Ketika Tawan berkata bahwa New selalu menyadari keberadaannya, ia sadar penuh akan kebenarannya. Di akhir pertemuan pertama mereka, New mengajaknya bertukar nomor telepon. Setelah hari itu, lelaki tersebut muncul di kelas Tawan setiap jam istirahat dan makan siang, entah untuk mengajaknya ke kantin atau sekadar mengobrol. New dan aksen Bahasa Inggrisnya yang menggemaskan menemani Tawan sejak bulan ketiganya di Indonesia, hingga sekarang laki-laki tersebut bisa berbicara dengan pelafalan yang sangat baik dan menjadi kekasihnya.

 

Kembali ke saat ini, Tawan menyelipkan lengan kirinya di bawah leher New, lalu membawa kekasihnya mendekat kepadanya. New menyandarkan kepalanya di bahu Tawan.

 

“Tawan kenapa nggak tidur?” Gumam lelaki tersebut dengan tidak jelas. Kemungkinan besar New hanya mengigau--ini bukan pertama kalinya bagi Tawan untuk menyaksikan lelaki tersebut mengigau. Ia menepuk pundak New dengan pelan, membawa kekasihnya kembali ke tidur pulasnya. “Ssh.. Go sleep ,” bisiknya sebelum mengecup kening New dengan sayang. Walau ia tahu bahwa lelaki yang sedang didekapnya itu hanya mengigau, ia tetap membalas perkataannya.

 

Ketika New kembali tertidur, Tawan menenggelamkan wajahnya di rambut lembut New, menghirup aroma dari lelakinya yang membuatnya nyaman. New dan aromanya, New dan senyumnya, New dan perkataannya yang terkadang konyol, New dan wajah merahnya ketika digoda, New dan seluruh keberadaannya, memberikan kenyamanan bagi Tawan.

 

Bukan hanya bagi Tawan, keberadaan New juga membawa kenyamanan bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan yang baru ia kenal sekalipun.

 

Tawan ingat ketika Frank, adiknya, pindah ke Indonesia empat tahun yang lalu. Dengan rentang waktu dua bulan sebelum ia mulai bersekolah yang diberikan oleh orang tuanya, adiknya tersebut tidak berniat untuk meninggalkan kamar sama sekali. Berbeda dengan Tawan yang tidak terlalu peduli dengan orang lain, Frank adalah anak dengan jiwa sosial yang tinggi. Hanya saja, Tawan mengerti alasan mengapa Frank sempat merasa kebingungan waktu itu. Kepindahan ke negara baru, dengan bahasa dan lingkungan yang baru, tentu saja membuatnya bingung. Apalagi Frank baru saja lulus sekolah dasar pada saat itu.

 

Waktu itu Tawan dan New duduk di kelas sebelas--2 SMA--sedangkan Frank kelas tujuh--1 SMP. Sudah satu minggu sejak tahun ajaran baru dimulai, dan Frank masih menolak untuk keluar dari kamarnya. Berbagai cara dikerahkan oleh paman dan bibi Tawan--waktu itu mereka masih belum pindah ke rumah Kak Arm--untuk membujuk Frank untuk pergi ke sekolah. Tentu saja tidak ada yang berhasil.

 

Tawan, yang waktu itu juga pusing melihat tingkah adiknya, menceritakan kepada New keadaan di rumah. Ia ingat New hanya pernah bertemu sekali dengan Frank ketika ia bermain di rumahnya, itu pun mereka hanya berkenalan. Entah apa yang dipikirkan New waktu itu hingga ia menawarkan diri untuk berbincang dengan Frank, akan tetapi Tawan menyetujuinya.

 

Satu setengah jam adalah waktu yang New butuhkan untuk membawa Frank dari kamar. Tidak ada yang tahu apa yang New bicarakan dengan Frank sehingga anak tersebut keluar dari kamarnya dengan mata berbinar--yang sudah tidak tampak selama beberapa bulan ia di Indonesia--dan menarik New untuk berbelanja peralatan sekolah di mall . Hingga saat ini pun New dan Frank tidak ada yang berniat untuk memberitahu isi percakapan mereka empat tahun lalu. Sejak saat itu, New semakin sering berkunjung ke rumah Tawan--entah untuk mengerjakan tugas sekolah dan OSIS bersamanya, atau bermain dengan Frank.

 

Keberadaan New membuat siapapun merasa nyaman. Tentu saja Tawan yang paling tahu kenyamanan jenis apa yang mampu diberikan oleh laki-laki berkulit putih tersebut. Ketika ia mengalami sesuatu yang membuat hatinya merasa tidak enak, New ada disana untuk menenangkannya. Ketika Tawan merasa ragu dengan keputusan yang akan dan sudah dibuatnya, New ada untuk mengingatkan seberapa baik dirinya sudah berjuang. Bukan hanya di situasi tidak enak New memberikan kenyamanan, di situasi yang menggembirakan pun lelaki dengan tahi lalat di ujung hidungnya tersebut mampu memancarkan kehangatan dan kenyamanan dari dirinya. Seperti ketika Tawan memenangkan lomba debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi, ketika semua orang menyelamatinya dan orang tuanya memberikan hadiah untuknya, senyum dan rangkulan dari New lah yang membuatnya paling merasa nyaman dan bahagia.

 

Seperti saat ini, ketika Tawan membungkus tubuh mereka berdua dengan comforter tebal hingga ke leher mereka dan mendekatkan tubuh mereka, Tawan merasakan nyaman yang luar biasa. Irama napas New yang teratur, dengan angin hangat yang menerpa kulitnya dari hembusan napasnya, memberikan kedamaian tersendiri bagi Tawan.

 

Tawan memandangi wajah tidur New yang tampak menggemaskan. Kebiasaan New ketika tidur adalah menendang comforter hingga jatuh ke lantai dan tidur dengan mulut sedikit terbuka. Tawan tidak mengerti bagaimana lelaki tersebut bisa menendang kain yang cukup berat tersebut hingga jatuh dari tempat tidur tanpa mengubah posisi tidurnya. Tawan sering menemukan benda tersebut terjatuh bahkan ketika New tertidur di dekapannya hingga pagi dengan posisi yang sama sebelum mereka tidur. Sahabat sekaligus kekasihnya tersebut selalu meminta maaf dan mengecek keadaan Tawan ketika ia tidak sengaja menjatuhkan comforter dari kasur. Ia tahu betul bahwa Tawan tidak terlalu tahan dingin, setidaknya tidak setahan New. Begitu besar perhatian New kepadanya hingga lelaki tersebut memperhatikan hal-hal kecil sekalipun.

 

Tawan ingat pertama kalinya ia menyadari betapa beruntungnya ia memiliki New sebagai sahabatnya. Waktu itu adalah satu minggu setelah Ulangan Tengah Semester di semester pertama, juga tahun pertama perkuliahan mereka. Tawan belajar terlalu keras--ia hanya tidur dua hingga tiga jam selama dua minggu penuh--untuk mempersiapkan dirinya mengikuti ujian. Ia masih ingat kapan ia tumbang dan bagaimana keadaannya saat itu.

 

Rabu pagi di pertengahan bulan April, ketika Tawan hendak bangun dan bersiap-siap untuk berkuliah, ia merasa badannya lemas. Kepalanya seperti mau pecah saat itu dan badannya sangat panas. Yang ia lakukan pertama kali saat itu adalah menelepon New untuk mengabarinya bahwa ia tidak bisa menjemput sahabatnya untuk pergi ke kampus bersama. New dengan segala kekhawatirannya tentu saja langsung memutuskan untuk bolos dan merawat Tawan di rumahnya. Tawan masih ingin tertawa jika mengingat wajah kebingungan Kak Alice dan Kak Arm ketika mengantar New ke kamarnya. Tentu saja mereka bingung, mereka yang serumah dengannya saja tidak tahu bahwa ia sedang sakit, tapi sahabatnya yang tinggal beberapa kilometer darinya bisa tahu.

 

Dirawat oleh New di saat sakit adalah suatu pengalaman baru bagi Tawan saat itu. Biasanya, ketika ia sakit New hanya mampir di rumahnya sejenak untuk mengecek keadaannya dan memberitahunya materi pelajaran dan PR yang harus ia kerjakan. Mungkin ia lebih perhatian karena Tawan terdengar begitu lemas dengan suara seraknya dan keringat dingin yang bermunculan di dahinya ketika New tiba di kamarnya.

 

Di hari itu New merawatnya seharian penuh, bahkan laki-laki tersebut menginap di rumahnya. Lelaki yang lebih muda menyuapinya ketika makan, membantunya membersihkan diri dan mengganti baju, mengingatkannya untuk minum obat, dan mengupaskan buah-buahan untuknya. Sejak saat itulah Tawan menjadi rewel dan hanya ingin dirawat New ketika ia sakit.

 

New merawatnya sambil berkuliah--entah dari mana ide sahabatnya tersebut untuk menghubungi salah satu teman kelasnya untuk melakukan video call dengan kamera yang dihadapkan ke layar ketika dosennya mengajar. Tawan tidak mengerti bagaimana New bisa seakrab itu dengan teman kelasnya yang baru dikenalnya selama beberapa bulan. Itulah hebatnya New, ia bisa membuat orang lain menyukainya dalam waktu singkat.

 

Selain dengan perhatian yang New berikan secara penuh dan hanya berfokus kepadanya, Tawan juga menyukai bagaimana suara New menjadi sangat lembut ketika ia sakit. Dulu, Tawan sempat mencoba begadang beberapa malam di minggu yang tidak terlalu sibuk supaya ia bisa sakit, akan tetapi ia tidak berhasil. Tawan bersyukur sekarang ia tidak perlu berpura-pura sakit lagi untuk mendengarkan suara lembut dari New untuknya. Bahkan, sekarang New terbiasa berbicara dengan nada manja kepadanya.

 

Itulah New dengan segala ke indah annya. New dengan segala keberadaannya, segala kualitasnya, efek yang ia berikan kepada orang lain membuatnya begitu indah .

 

Namun ke indah an New tidak berhenti disana. Terlepas dari segala kelebihannya, lelaki berkulit putih tersebut juga memiliki beberapa kekurangan. Tawan, yang sudah mengenal pemuda yang masih tertidur di dekapannya ini selama kurang lebih tujuh tahun, tahu betul kekurangan yang ada padanya.

 

Semua orang yang mengenal New tahu bahwa New adalah seseorang yang bisa diandalkan dan tidak pernah menolak permintaan tolong orang lain. Sebenarnya itu adalah sifat baik yang dimiliki seseorang, hanya saja di dalam kasus ini, sifat baik New ini merugikan dirinya sendiri.

 

Tawan ingat ketika mereka berdua duduk di kelas sebelas, 2 SMA, di semester genap. Waktu itu Tawan baru saja naik menjadi ketua OSIS yang baru, bersama dengan New sebagai sekretarisnya. Di peralihan periode tersebut, Tawan juga disibukkan dengan persiapannya untuk mengikuti lomba debat tingkat kota. Tidak berhenti disana, tugas sekolah yang menumpuk juga membuat Tawan kewalahan. Dengan bersusah payah, ia menyusun kegiatannya dalam satu hari supaya tidak ada tanggung jawabnya yang terabaikan.

 

Setelah beberapa minggu, ia mulai lelah. Di tengah kepusingannya dengan tugas dan tanggung jawab yang ia emban, New menawarkan untuk mengerjakan beberapa bagian tugasnya sebagai ketua OSIS. Sahabatnya tersebut adalah orang yang peka, ia tahu saat itu Tawan sudah di ambang batas pertahanannya, ia tahu Tawan akan segera ambruk jika tidak ada yang menghentikannya untuk bekerja terlalu keras. Lelaki yang lebih tua pun pada akhirnya mengiyakan, dengan syarat ia juga harus tahu apa saja yang New kerjakan.

 

Tanpa ia ketahui, keadaan New pada saat itu juga sedang tidak baik, bahkan lebih parah daripada Tawan. Memang lelaki yang lebih muda sudah tidak terlalu terpukul lagi karena ditinggalkan mamanya, akan tetapi saat itu ternyata New sedang berada di tahap awal perang dinginnya dengan papanya. Sampai saat ini, Tawan sangat menyesali ketidaksensitifannya terhadap perubahan kecil sahabatnya saat itu. Memang perubahan yang terjadi pada New tidak terlalu signifikan; sinar matanya yang tidak secerah biasanya walaupun ia sedang tersenyum, suaranya yang sedikit bergetar ketika diajak berbicara setelah melamun, bahkan ia menghindari pembicaraan mengenai keluarganya. Keadaan tersebut berlangsung selama kurang lebih dua bulan--dengan New yang sebenarnya terbeban, akan tetapi ia lebih memikirkan Tawan.

 

Tawan baru menyadari bahwa sahabatnya tersebut dilanda masalah yang berat ketika ia meledak. Tawan mempercayakan terlalu banyak tanggung jawab kepada New saat itu, sedangkan lelaki yang lebih muda juga punya banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ditambah lagi keadaannya yang tidak baik karena perang dingin dengan papanya. Sayangnya, walaupun Tawan membujuknya, New berkata bahwa ia belum siap untuk membagikan masalahnya dengannya.

 

Sejak saat itu Tawan mencoba belajar untuk lebih peka, terutama terhadap New--ralat, hanya terhadap New, maksudnya. Ia tidak terlalu peduli dengan orang lain, ia hanya mempedulikan sahabatnya tersebut. Jika dipikir sekarang, sepertinya Tawan sudah menyukai New sejak lama.

 

Tawan mengangkat kepalanya, ia menoleh ke arah nakas di belakangnya. Sebenarnya agak sulit bagi Tawan untuk menoleh dengan posisi seperti ini, ia tidak ingin kekasihnya terbangun karena pergerakannya. Waktu menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh tiga. Sudah dua puluh menit lebih ia terjaga, sekarang rasa kantuk yang sempat menderanya sudah hilang.

 

Tangan New melingkar di pinggangnya beberapa saat kemudian, menariknya mendekat. Sepertinya lelaki yang masih terlelap tersebut mengira Tawan adalah gulingnya. Tawan menahan kekehannya ketika New menggerakkan kepalanya, mengusap pipinya di dada bidang Tawan. New terlihat seperti seekor kucing yang menggemaskan jika sedang seperti ini.

 

Sekali lagi, Tawan memindahkan rambut New yang menutupi matanya. Tawan memperhatikan bulu mata New yang panjang, warna hitamnya sungguh kontras dengan kulit putihnya. Di balik kedua kelopak mata yang tertutup tersebut, ada sepasang mata yang indah, yang memegang dunia Tawan. Tawan berharap, kedua mata indah tersebut terus memancarkan sinar hangat dan bahagia sepanjang hidupnya.

 

Tawan kembali mengingat masa-masa dimana ia mulai menyadari setitik kesedihan atau kegalauan di manik New. Sejak New berteriak kepadanya di kelas sebelas, Tawan mulai menyadari ada sinar yang berbeda di netra sahabatnya tersebut. Tawan pikir itu hanya karena New ada banyak pikiran atau tugas. Sayangnya, sinar tersebut tetap ada bahkan sampai tahun lalu, ketika mereka dekat dan menjadi sepasang kekasih.

 

Sekitar setengah tahun yang lalu Tawan menyadari alasan dibaliknya. Perdebatan dengan papa New bertahun-tahun lalu telah menumbuhkan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang Tawan harap tidak pernah New rasakan--tapi kenyataan berkata lain.

 

Setelah pertengkaran dengan papanya, New menjadi lebih keras terhadap dirinya sendiri. Ia seringkali merasa bahwa dirinya tidak cukup baik--karena seksualitasnya--sehingga ia harus bisa membuktikan dirinya kepada papanya. Di masa-masa sulit tersebut New sering mencurahkan isi pikirannya kepada Tawan mengenai dirinya yang tertekan karena belum tahu akan menjadi apa di masa depan. Walaupun tidak separah dulu, akan tetapi Tawan masih sesekali menemukan kekasihnya tersebut berkecil hati karena tidak ada bayangan akan masa depannya. Untungnya, yang membuat Tawan lega, sekarang New sudah bersedia berbagi isi pikirannya dengannya.

 

New itu indah . Indah dengan segala kehebatannya, kehangatannya, keceriaannya, dan hal-hal yang Tawan sukai.

 

New itu indah . Bahkan di tengah kelemahannya, kekurangannya, dan berbagai hal yang Tawan tidak sukai, ia tetaplah indah . Jika banyak orang yang bilang mereka mencintai pasangannya terlepas dari kekurangan mereka, Tawan memiliki pikiran yang berbeda. Menurut lelaki berkulit tan tersebut, ia mencintai New, dan New tetap indah baginya dengan seluruh kekurangannya. Tawan mungkin tidak sepenuhnya suka ketika New menunjukkan kekurangannya, akan tetapi menurutnya New akan selalu indah .

 

Tawan menguap. Ia melingkarkan satu tangannya yang bebas ke sekeliling bahu kekasihnya, kemudian membetulkan posisi kepala New yang bersandar padanya. Ia melihat kepala yang lebih muda bergerak, kemudian mendongak kepadanya. Kelopak mata New terbuka sedikit, menunjukkan bahwa ia masih setengah tertidur.

 

“Tawan kenapa nggak tidur?” Tanyanya dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.

 

Indah. Ya Tuhan, New benar-benar indah .

 

“Tawan?” Sekarang lelaki yang lebih muda tersebut memegangi pipinya, kemudian mengelusnya dengan lembut. Tawan mendekatkan wajahnya ke telapak tangan New, merindukan afeksi dari lelakinya.

 

“Tadi saya kebangun, soalnya comforter nya jatuh ke lantai. Did I wake you up? Sorry ,” ujar Tawan pelan. Rasanya ia ingin mencium lelaki yang sekarang masih memandanginya dengan mata yang setengah tertutup. Menggemaskan sekali kekasihnya ini.

 

You didn’t . Aku cuma kebangun aja, kok. Tawan tidur lagi, yuk, besok aku buatin french toast buat sarapan.” Sepertinya New memang tidak sepenuhnya tersadar. French toast adalah sarapan mereka kemarin pagi.

 

Tawan mengusap puncak kepala New dengan lembut, menyalurkan afeksinya. New yang terlihat rapuh dan menggemaskan saat ini membuatnya ingin melindunginya dari segala hal jahat di dunia ini. “Hmm…” Gumam lelaki yang lebih tua, kemudian mengecup bibir New singkat. “Ayo tidur.”

 

Senyum tipis terpulas di bibir New yang baru saja dikecup oleh Tawan. Walaupun matanya setengah tertutup, Tawan bisa melihat kilau mata New yang hangat. Binar dari iris yang berwarna gelap karena cahaya tersebut seolah menangkap Tawan, membawanya masuk ke dalam dimensi yang hanya dihuni oleh dirinya dan kekasihnya disana.

 

Tanpa Tawan sangka, New mendekatkan wajah mereka, lalu mencium bibirnya. Hanya satu detik, akan tetapi membuat jantung Tawan berdetak tidak karuan. Entah mengapa mencium New dan dicium oleh New memberikan efek yang berbeda kepadanya.

 

Oleh karena itu, ketika ia kembali menatap balik ke wajah kekasihnya, dan menemukan sepasang mata yang sudah hampir tertutup sepenuhnya,  ia berbisik, “ I love you, New.”

 

Dan ketika ia menarik kepala lelaki yang lebih muda untuk bersandar padanya, ia bisa mendengar gumaman pelan yang tidak jelas yang menjawabnya balik, “ I love you too, Tawan.”

 

New itu indah . Indah dengan segala kehebatannya, kelebihannya, dan semua hal yang Tawan sukai pada dirinya. Indah juga dengan segala kelemahan, kekurangan, dan hal-hal yang kurang Tawan sukai dari dirinya.

 

New itu indah . Dan bagi Tawan, New paling indah karena New ada disini bersamanya, di pelukannya. Indah karena bagi Tawan, ia adalah New.

Series this work belongs to: