Work Text:
A BakuTodo Fics
Written by Rumikana
7 Deadly Sins : Greedy
.
.
.
.
"Terlalu banyak keinginan membuat dirimu lupa terhadap sesuatu yang berharga."
"Kau kalah lagi ya?" Kirishima menatap ke arah muka frustasi temannya, Katsuki. Semenjak mengenal game online, ia menjadi kecanduan akan kemenangan dan rela melakukan apapun untuk bisa melangkah menuju level berikutnya.
"Bangsat! Aku hanya ingin memenangkan tantangan pada permainan ini."
"Itu karena karakter yang kau pakai sangat lemah. Kau harus punya minimal 100 dollar untuk membeli karakter yang kuat."
"Berisik. Aku tau itu."
Komputernya ia matikan, lalu memikirkan sejenak apa yang bisa ia lakukan untuk memperoleh uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat untuk membeli apapun yang ia inginkan.
Tidak seperti teman-temannya yang lain, Katsuki tidak memiliki apa-apa dan ia bekerja pun hanya mendapat penghasilan yang pas-pasan hingga akhirnya ia berhenti dan mulai berjudi untuk mendapat uang yang banyak secara instan.
"Uang hasil berjudimu memangnya sudah habis?"
"Aku pakai untuk membeli karakter dan ia sudah tidak berguna lagi." Temannya hanya mengangguk, tidak berniat menolong sedikitpun karena sibuk juga mengumpulkan uang untuk membeli karakter yang diincar.
"Wohoo! Kau lihat, mereka mengeluarkan karakter baru dengan attack, defense, dan power yang lebih tinggi. Tidak lupa dengan keunggulan lainnya yang benar-benar tidak ada pada karakter lain."
Katsuki menyeringai. Dadanya merasa sesak dan dahinya berkeringat, ia menginginkan itu. Dan ia punya satu lagi orang yang bisa ia andalkan.
"Kurasa aku bisa membelinya."
"Kau gila!? Ini terbatas dan harganya sangat mahal."
"Bukan masalah."
Shouto, si pemuda baik hati, cantik, periang dan penuh dengan keceriaan, begitulah orang-orang mengenalnya. Ia tinggal bersama kekasihnya di tengah kota tempat di mana hiruk-pikuk penduduk banyak melakukan transaksi jual-beli dan berekreasi. Bahkan malam hari sekalipun, kota ini tetaplah ramai.
Rambut hitamnya—sebagai warna samaran—Shouto sampirkan ke belakang telinganya, menikmati hembusan angin yang menggebu di atas balkon dengan langit yang sudah menggelap.
"Aku pulang." Suara milik kekasihnya terdengar, lantas ia pun segera menghampiri lalu memeluk pria bersurai pirang tersebut. Tidak mempedulikan bau alkohol yang tercium samar dari badan kekasihnya.
"Selamat datang, Katsuki." Ucapnya seraya menatap rindu ke arah mata crimson kekasihnya
.
Shouto terlalu banyak berdiam diri di rumahnya dan menunggu kekasihnya pulang dari pekerjaannya, tidak berani pergi ke luar karena saat ini ia sedang di buru oleh sekumpulan orang-orang jahat yang menginginkan rambut indahnya yang unik.
Dikaruniai rambut dua warna yang berbeda—setengah putih dan setengah merah—dan hanya ia seorang yang memilikinya, membuat siapapun kagum saat melihatnya, tak terkecuali Katsuki
.
Sedikit kilas balik, mereka berdua tak sengaja bertemu saat Shouto melarikan diri dari orang yang ingin menculiknya dan menjualnya. Tudung yang menyembunyikan rambut Shouto tak sengaja terbuka saat bertubrukan dengan Katsuki di tengah hutan. Dengan ekspresi ketakutan yang tergambar jelas melalui wajah Shouto, Katsuki tahu bahwa ia harus menyelamatkannya.
Sudah dua tahun mereka bersama dan Shouto masih merasa bahwa Katsuki masih setia merawat, menjaga, dan menyayanginya.
Tapi Shouto tidak mengetahui sama sekali seluk-beluk kehidupan kekasihnya, bahkan pekerjaan kekasihnya saat ini pun masih menjadi misteri baginya.
Tiap kali ditanya apa pekerjaannya, Katsuki selalu menjawab tidak penting, dan mengalihkan topik pembicaraan dengan sengaja. Atau jika Katsuki sedang lelah ia pasti memarahi dan tak segan bermain tangan pada Shouto untuk tidak bertanya tentang hal tersebut.
Cukup menjaga Shouto dan membuatnya bahagia, itulah yang selalu menjadi jawaban Katsuki.
"Besok, apa kau ingin ikut keluar bersamaku?" Katsuki membuka suaranya sambil mengunyah makan malam buatan Shouto.
"Hm? Ada apa, Katsuki? Apa ada hal penting?"
Katsuki menggelengkan kepalanya, "Hanya ingin membawamu keluar dan melakukan hal lain."
"Hal lain?"
"Nanti kau akan tau sendiri. Mau?"
Binaran kedua mata Shouto terpancar, ia mengangguk dengan antusias.
Katsuki dengan wajah datar biasanya pun mengangguk, sudah diputuskan bahwa ia akan pergi bersama Shouto esok hari.
"Katsuki?"
"Ya?"
"Tempat apa ini? Kenapa kita di sini?"
Shouto mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat. Saat ini ia ada di gedung usang yang tidak terpakai, dengan lampu yang agak temaram sepertinya menunggu seseorang untuk ditemui.
Katsuki tidak menjawab pertanyaannya dan itu membuat wajah cantiknya terlihat murung. Tapi Shouto tidak akan mudah bersedih, baginya sudah cukup jika Katsuki mau membawanya keluar. Dengan begini ia bisa mengenal Katsuki lebih dalam.
"Apa kita akan menunggu seseorang di sini?"
Belum sempat menjawab, suara seseorang yang memanggil nama kekasihnya terdengar.
"Ah, Bakugou kau ternyata membawanya?"
"Sesuai dengan permintaanmu." Jawab Katsuki pada orang di depannya.
"Katsuki, d-dia siapa?" Tidak ada jawaban yang terlontar membuat Shouto sedikit curiga.
"Mana?" Tatapan menuntut orang di depan mereka membuat Shouto ketakutan.
"Dia." Katsuki menunjuk Shouto dan itu membuat dirinya sangat terkejut.
Setelahnya Katsuki dengan sengaja membanjur kepala Shouto dengan air yang ada di dalam kantung yang ia bawa. Lunturlah warna hitam yang selama ini mereka sembunyikan diganti dengan warna putih-merah yang unik nan indah.
Katsuki melempar kantung air yang sudah habis isinya ke sembarang arah, lalu mendorong Shouto dengan kasar untuk mendekat kepada orang di depannya.
"Oh, dia cantik dan unik. Persis seperti yang kau katakan. Bayaran yang setimpal."
Sejujurnya Katsuki sama sekali tidak mempedulikan ocehan orang di depannya.
"Berisik. Sekarang berikan uangku."
Shouto masih merasa bingung namun merasa sakit hati tiba-tiba diperlakukan jahat seperti itu.
"Katsuki?" Katsuki menatap kearahnya dengan tampang yang menunjukkan bahwa ia merasa terganggu.
"K-kau sedang apa?"
"Menjualmu." Jawabnya dengan santai, tidak peduli pandangan terkejut yang Shouto tunjukkan.
"Kenapa?" Suaranya lirih dan dadanya sesak. Apa ia salah mendengar? Kekasihnya sendiri menjualnya?
"Karena kau mahal." Itu semua benar. Katsuki tidak berbohong.
"Katsuki..." Suaranya tak Katsuki hiraukan malahan dengan mata berbinarnya, ia pergi menuju arah koper uang yang menjadi bahan tukar kekasihnya.
"Semuanya 150.000 dollar."
"Bagus, dengan begini aku bisa kembali berjudi dan membeli segalanya tanpa perlu terepotkan oleh siapapun lagi." Katsuki mengambil koper dengan uang yang sangat banyak itu lalu memamerkannya di hadapan Shouto.
Mata Shouto memerah, badannya kaku, "Tidak perlu menangis seperti orang bodoh, kau selama ini hanya bisa menjadi beban bagiku, kau harus tau itu."
"Aku tidak membutuhkanmu lagi karena aku sudah mendapat pelanggan yang kaya raya dan suka rela ingin membelimu."
Brengsek.
"Cepat bawa dia pergi." Suara perintah dari orang disebut sebagai 'pembeli' membuat dua orang pengawal datang.
Shouto mencoba melawan namun badan ringkihnya tidak bisa melawan kekuatan kedua pengawal yang membawanya secara paksa.
Ia menangis, masih tidak percaya bahwa ia akan dimanfaatkan sekejam ini. Ia pikir Katsuki itu orang yang baik, rela melindunginya dari siapapun agar ia tetap merasa aman. Shouto bahkan dengan sukarela memberikan segalanya bagi Katsuki, termasuk menjadi pemuas nafsu agar Katsuki tetap bahagia.
Saat hendak pergi dari pandangan kekasihnya—mungkin jika masih layak disebut begitu—Shouto melihat binaran sesungguhnya dari mata Katsuki, yang tidak pernah ia lihat sebelumnya saat menatapnya.
Fakta bahwa Katsuki ternyata mencintai harta yang berlimpah dan Shouto yang menurutnya hanyalah sebuah barang.
"Baik, mari kita mulai dengan membeli PC gaming terbaru dan karakter yang aku incar. Setelahnya aku akan membalas lagi tantangan perjudian yang sudah lama tak aku terima."
Saat ini Iblis Mammon sedang tertawa kesenangan di atas sana.
END
