Work Text:
Jarum menit pada arloji sudah menunjukkan hampir pukul enam, mengiringi matahari yang masih memiliki sinar walau sudah berangsur menghilang, menemani senja dingin untuk pria yang tengah menggenggam gelas venti Americano.
Siapapun bisa melihat dengan jelas jika helaan nafas yang sejak tadi dikeluarkannya adalah helaan nafas lelah.
Maka saat bis dengan nomor delapan tertulis akan sampai dalam beberapa detik lagi di papan pengumuman, ia bangkit dari tempatnya, mengondisikan celana baggy denim serta fair isle sweater yang menghangatkan pada Januari yang dingin, pria itu berlanjut menuju tempat sampah terdekat mengingat bis Korea tak pernah ramah pada penumpang yang membawa minuman seperti itu.
Ia tak membuang waktu saat bis telah berhenti, kaki jenjang tersebut masuk pada barisan dan menempelkan kartu T-Money bergambar kelinci oranye pada mesin, sempat tersenyum pada sang supir sebelum berlanjut untuk mencari tempat duduk.
Beruntung, sore ini tak terlalu padat. Pria pemilik manik serupa berlian hitam itu tak bisa membayangkan jika seandainya saja ia harus berdiri setelah selama satu hari penuh tenaganya seperti diperas.
Merapatkan gym bag berisi seragam kerjanya, ia menjelajah sekitar. Memperhatikan bahwa setiap tempat duduk tunggal telah terisi dan deret belakang juga tak bersisa.
Menyisakan bangku berisi dua orang, yang satu untuk duduk bersama wanita tua dan satu lagi dengan seorang murid sekolah menengah—terlihat dari blazer marun yang sering sekali ia lihat di sekitar sini.
Pilihan pria itu akhirnya jatuh pada bangku bersama murid sekolah. Tak membutuhkan banyak basa-basi karena anak itu peka untuk bergeser saat ia mendekat.
Bis akhirnya berjalan, membelah jalanan kota yang memang cukup padat pada jam pulang kerja seperti ini. Beberapa kali matanya memandang sekeliling, melihat pada pemandangan di sebelah kirinya berisi hamparan gedung pencakar langit yang tiap jendelanya mulai menyalakan lampu tanda menyambut malam.
Seoul memang kota yang super sibuk, namun tetap saja pemandangannya yang ala komik selalu bisa menghapus fakta itu. Ia suka memperhatikan kota, melihat kesibukan setiap orang, suatu hal sederhana yang cukup membuatnya senang.
Terdengar puitis, khas ia sekali memang. Bahkan dulu ia sempat menduga bahwa dirinya akan bekerja dibidang sastra alih-alih dengan pekerjaannya yang sekarang. Namun siapa sangka, takdir selalu menuliskan garisnya sendiri.
Bis masih melaju dengan kecepatan normal, memperdengarkan deru mesin pada para penumpang dengan ritme yang teratur. Semakin membuat tenang seluruh ototnya yang menjerit lelah.
Hanya saja, segala senja penuh ketenangan itu mendadak mendapat kunjungan. Karena ia yang baru saja terpejam menikmati hiruk-pikuk mendengar suara berisik seperti seseorang yang bergerak cepat.
Benar saja, anak dengan seragam marun itu merogoh tasnya cepat-cepat. Seperti bersikap panik mencari sesuatu sembari satu tangan lainnya berada di depan mulut, yang ternyata setelah ia perhatikan lebih jauh tangan itu memuat beberapa cairan merah.
Anak itu mimisan.
“Hei-hei, berhenti. Tengadahkan kepalamu.” Ujarnya segera menarik bahu itu untuk tidak semakin banyak bergerak. Walau sempat melihat dirinya sedikit heran, anak laki-laki itu menurut.
Ia memajukan wajahnya dan medongak ke atas. “Sebentar,” tuturnya lagi yang kini membuka tas olahraganya sendiri. Mengais dengan cepat diantara seragam kerja monokromnya dan menggenggam sehelai benda yang sedang ia cari.
“Ini,” ia menyodorkan sesuatu seperti kain putih, yang ditanggapi oleh si anak laki-laki dengan pandangan bertanya, “tekan hidungmu seperti ini,” ia mencontohkan melalui telunjuk dan ibu jarinya seperti tengah mencapit sesuatu.
“Tapi, sapu tangan ini akan kotor.” Anak itu akhirnya bersuara, terdengar rendah dan sedikit nyaring, namun pria itu tersenyum menanggapinya.
“Aku punya banyak seperti itu.” Ia kembali membantu anak itu dengan pertolongan pertama untuk mimisan, “Sebenarnya mendongak bukan hal yang tepat dilakukan. Tetapi karena tadi kau nampak panik, darahnya bisa jatuh ke seragammu.” Ia kini mengarahkan bahu si anak laki-laki untuk bersandar lagi.
“Apa kau pertama kali mimisan seperti ini?” anak berseragam marun itu mengangguk. “Lain kali, jangan panik, ya? Jika panik, darahmu bisa keluar lebih deras.”
Anak laki-laki itu mengangguk, memberikan senyum kecil dengan kini tangan kanannya mengapit hidung dan berusaha menyeka dengan sapu tangan milik pria itu. “Terimakasih, Paman.” Lirihnya kecil, “Maaf, sapu tangannya jadi kotor karena darah. Biar saya cuci dulu ya? Lalu bagaimana saya mengembalikannya?” ujarnya kini memperhatikan sapu tangan dengan renda-renda kecil di sekeliling, melihat sekilas pada benang merah yang seperti dirajut khusus di ujung yang terlihat.
Pria itu tertawa, menghadirkan kekehan kecil di balik masker dan menepuk pahanya sendiri sebagai gestur tubuh semata. “Aku punya banyak seperti itu, kakak perempuanku hobi menyulam.” Pria itu kembali merogoh tasnya, mencari lagi benda-benda serupa dan mengeluarkan lima buah. “Lihat? Semua sulamnya sama.” Ia memperlihatkan benang merah yang terjalin di setiap ujung, bertuliskan sesuatu yang segera dibaca oleh si anak tersebut.
“Swoopy.”
Anak tersebut berpikir beberapa saat, “Seperti karakter kartun,” ujarnya tetap berbicara walau kini suaranya terdengar aneh karena himpitan di hidung. “Snoopy? Anjing yang selalu di atas atap rumahnya itu ‘kan?”
Pria itu kembali menjalin tawa, “Benar. Entah mengapa kakak selalu menjahit segala jenis sapu tangan dengan nama ini.” ia kembali merapikannya lagi untuk diletakkan di dalam tas, “Berbicara tentang snoopy, kau menyukainya juga?”
Anak itu menggeleng, “Bukan, bukan aku. Kakakku yang mengoleksi snoopy.”
Jelas, pria itu tertarik. “Apa kakakmu kolektor?”
Murid sekolah menengah lokal itu mengangkat bahunya, “Jika hobinya yang selalu panik tergesa untuk membeli setiap edisi snoopy yang datang ke Korea bisa dibilang kolektor, maka sepertinya ia memang kolektor.” Mengganti tangan untuk mengapit hidungnya karena pegal, ia kembali melanjutkan, “Kamarnya sudah seperti toko pajangan snoopy.”
Tanpa sadar, pria itu bahkan mencondongkan tubuh ke samping, tak ragu untuk menunjukkan antusiasmenya pada sebuah tokoh kartun walau umurnya sudah memasuki masa dewasa akhir.
“Hebat, pasti ia berusaha sangat keras untuk mengumpulkan seluruh snoopy itu.” Ujarnya menggambarkan deskripsi ruangan yang penuh akan tokoh kartun kesukaannya seperti uraian si murid sekolah menengah.
“Paman harus melihat bagaimana kakak selalu histeris jika aku tak sengaja menyentuh koleksinya.” Merasa hidungnya sudah tak terlalu berdenyut seperti tadi, ia melepaskan sapu tangan yang sejak tadi menyeka darahnya, melihat sedikit horror pada darahnya yang bisa dibilang hampir memenuhi seluruh permukaan sapu tangan.
Rasa tidak enak itu semakin menguasai dirinya, hendak berkata lagi mengenai permohonan maaf, namun suara mesin sudah mengumumkan bahwa bis akan berhenti pada pemberhentian apartemen Daewoo Mirae Sarang beberapa ratus meter lagi, mau tidak mau si anak laki-laki cepat-cepat menekan tombol berhenti.
“Paman, sekali lagi aku minta maaf. Aku sudah sampai di pemberhentianku. Bagaimana dengan sapu tangannya?”
“Bawa saja,” ia berujar santai, “Aku masih punya banyak.”
Bis akhirnya benar-benar berhenti, pintu keluar terbuka dibelakang bangku mereka dan pria itu menyingkirkan kakinya dengan bergerak ke samping mempersilahkan si anak lewat.
Melihat supir bus yang sudah memasang wajah masam, si anak laki-laki bergegas bergerak. Masih dengan genggaman sapu tangan penuh darah memandang si paman yang kini melemparkan senyuman, “Hati-hati, ya.”
Ia bergerak menuruni tangga bis, “Akan aku kembalikan sapu tangannya saat kita bertemu lagi, Paman Swoopy.” Lirihnya tak begitu keras walau si pria dapat mendengarnya.
Lantas benar-benar turun dan berlari menuju titik gelap di mana si paman tak bisa melihat. Meninggalkan ia yang kini bersedekap di depan dada dan kembali tertawa entah untuk yang ke berapa kali dengan mata yang masih memandang keluar jendela.
“Paman Swoopy, ya? Lucu juga.”
Jika bisa membuat pilihan ulang, sudah pasti sejak awal ia tak akan pernah mau memilih pekerjaan ini. Walau memang tak ada pekerjaan yang mudah, tetap saja seandainya ia dulu bersikeras untuk bekerja pada bidang jurnalistik atau sastra sesuai keinginannya, ia akan mendapatkan gaji, lelah dan terutama kesenangan.
Sayangnya, semua itu hanya andai-andai semu, karena sekali lagi hari-harinya masih dibuat lelah oleh pekerjaannya yang sekarang.
Melakukan rutinitas seperti biasa, ia segera berdiri saat bis yang akan ia tumpangi terlihat. Kakinya sudah menjerit pegal saat dipaksa berjalan.
Tak seperti sore kemarin, ia sudah bisa melihat dari tempatnya berdiri bahwa bis sudah mulai sesak—beberapa pria terlihat berdiri dengan berpegangan. Cukup menjadi alasan untuknya segera menghela nafas lagi membayangkan sore yang masih panjang.
Setelah kaki jenjangnya yang sore ini dibalut celana straight berwarna hijau khaki memasuki bis dan telah mendengar kata ‘terimakasih’ dari mesin tap kartu, ia tak menaruh harapan untuk mendapatkan tempat duduk.
Menyelempangkan tas olahraga yang lagi-lagi berisi seragam kerja, pria itu berpegangan pada tali yang digantung, merogoh saku celana untuk selanjutnya semakin merasa kesal karena baru menyadari bahwa ia tak membawa earphone.
Jadi, pilihannya kini diserahkan untuk memandang jalanan Seoul yang padat. Masih menyukai lanskap perkotaan seperti biasanya, namun ia tetap berada dalam suasana hati yang terburuk.
Memperhatikan gerak semu cepat gedung-gedung yang disajikan, sedikit merutuki dalam hati karena selain ia yang sudah lelah, bisnya cukup ugal-ugalan, memacu pada kecapatan tinggi namun mengerem tiba-tiba saat di pemberhentian.
Ia sudah membuat protes janji dalam hati, jika sampai ia tergelincir atau apa—yang ternyata benar saja, bis mengerem lebih ekstrem lagi.
Membuatnya nyaris saja terjatuh jika kakinya tidak cepat-cepat mengambil pijakan yang tepat, hal itu juga terjadi pada penumpang yang lain—seseorang yang baru saja menabrak lengannya cukup keras karena gaya dorong bis. Beberapa lansia nampak menghadirkan protes pada sang pengemudi.
Ia berdiri lagi, mengucapkan berkali-kali kata sabar pada diri sendiri, lantas berlanjut dengan menengok kondisi seseorang di sampingnya tadi.
Hendak bercakap basa-basi lain sebelum akhirnya terkejut mendapati bocah kemarin tengah berdiri di sampingnya, kali ini ia menggunakan padding hitam dengan logo persegi panjang kuning di dadanya.
“Wow, halo? Kita bertemu lagi.” Ujarnya memberi sapaan ramah. Anak itu menoleh, nampak sedikit heran awalnya walau akhirnya mengerutkan mata tanda tersenyum di balik maskernya juga.
“Paman Swoopy.” Panggilnya menyuarakan satu-satunya nama yang ia ingat.
Hal itu membuat ia tertawa, masih dengan lengan berbalut hoodie abu-abu berpegangan erat, ia kembali membenarkan letak tasnya yang tadi melenceng.
“Seungwoo saja,” ia kembali melanjutkan, “aku juga belum kepala tiga, jadi aku rasa bukan paman?”
“Kak Seungwoo?” anak itu mencoba menggumamkan namanya.
“Lebih baik.”
Mereka berdua sama-sama berpegangan pada tiang besi, menghadap ke arah kiri bis dan kali ini memperhatikan bahwa bis telah berada di kawasan yang semakin ramai, terlihat dari kecepatan yang memelankan lajunya karena pejalan kaki yang berulang kali menyeberang. Khas kawasan Hongik.
“Aku Baejun, Kak.”
Seungwoo menoleh kala anak itu kembali berkata, melihat pada manik bulat matanya yang seperti bersinar pada pencahayaan bis yang tak terlalu baik, “Choi Baejun.”
“Nama yang bagus, Baejun.” Seungwoo berujar kasual, tangannya yang tak berpegangan dimasukkan ke kantong celana mencari kehangatan. “Bagaimana dengan mimisanmu? Apa terjadi lagi?”
Baejun memiliki rambut yang tak terlalu tebal, namun bisa dibilang gaya rambutnya yang memperlihatkan dahi memberi kesan bahwa ia bukan murid sekolah menengah; ia terlihat begitu dewasa. Juga alisnya yang tak tebal namun teratur, mengindikasikan bahwa anak ini selalu menjaga penampilannya.
“Mimisan,” Baejun bergumam pelan. Bergerak reflek, ia melepaskan pegangan dan melepaskan sebelah tas punggungnya, kembali mencari sesuatu yang harus tertunda kala bis berbelok dengan kecepatan tinggi.
Menyebabkan pemuda Choi hampir saja terjatuh jika Seungwoo tak cepat-cepat memeganginya. “Hei, hati-hati. Pengemudinya terlalu bersemangat.”
“Maaf.” Baejun bergumam kecil.
Seungwoo memberi anggukan sebagai jawaban, kini atensinya tertuju pada Baejun yang telah berpegangan sembari menyodorkan kain putih dan sebuah benda kecil di tangannya.
“Sudah ku bilang untuk simpan saja sapu tangan ini.” meski begitu, ia tetap menerima. Melihat pada sapu tangannya yang sudah bersih tanpa darah bersamaan dengan sebuah objek lain menarik perhatiannya.
Benda kecil seukuran potongan kue beras berwarna putih-hitam yang membuat Seungwoo terkejut, “Snoopy?” Baejun memberikannya gantungan kunci tokoh kartun favoritnya.
“Untuk Kak Seungwoo.” Setelah menutup tas punggungnya kembali, Baejun turut memandangi snoopy kecil di tangan pria itu. “Itu kakak membelinya dari Jepang.”
Jujur saja, dari segala hal yang terjadi pada hari buruk ini, gantungan kunci bisa sedikit mengobatinya. “Sebenarnya tidak perlu, aku tak pernah mengharapkan imbalan seperti ini.”
Baejun tertawa lalu beralih memandang keluar bis, “dan kakakku juga tak mengharapkan penolakan.” Ia kembali menoleh pada Seungwoo yang masih sibuk memperhatikan benda di tangannya, “Diterima ya, Kak? Ini barang yang spesial.”
Seungwoo sempat menimbang selama beberapa saat, memperhatikan lagi bahwa sudah lama ia juga tak menambah koleksi pada rak pajangan di pojok flatnya, sedikit berat akan rasa ‘tidak enak’ walau akhirnya ia menerimanya dengan kerutan mata tanda sedang tersenyum.
“Terimakasih atas pertolongannya kemarin, Kak. Hal itu membuat aku ingin membalasnya.”
“Terimakasih juga, Baejun. Sampaikan juga pada kakakmu, ya.” Seungwoo menyimpan benda kecil itu di saku celananya bersama dengan sapu tangan dan kembali berujar, “Apa kau cerita pada kakakmu mengenai mimisan kemarin?”
Baejun mengangguk, membuat surai legamnya turut mengikuti. “Kakak langsung tertarik saat melihat aku pulang dengan cerita mimisan itu, tapi ia lebih tertarik lagi saat melihat sulaman huruf di sapu tangannya.”
Percakapan mereka terhenti sebentar karena suara bising dari salah satu penumpang, “Kak Seungwoo tahu sendiri di Korea juga tidak banyak penggemar snoopy. Jadi dia memiliki histerianya sendiri saat mengetahui asal-usul Swoopy itu.”
“Aku berani bertaruh bahwa kakakmu mempunyai banyak teman,” ujarnya menerka dari cerita Baejun seperti apa sosok si ‘kakak’.
“Walau ia sedikit menyebalkan dan suka memerintah. Tapi iya, temannya banyak sekali. Tak terhitung berapa kali interkom apartemen berbunyi dalam sehari karena kunjungan mereka.”
Baejun kembali menuturkan, kali ini suaranya terdengar lebih rendah entah kenapa. “Mungkin karena kepribadiannya yang murah hati itu temannya banyak. Juga tak berpikir panjang saat aku menceritakan kejadian kemarin dan ia yang mengusulkan turut memberi sedikit hadiah untuk si ‘paman swoopy’.”
“Persaudaraan yang berwarna, ya?” Seungwoo mengomentari. “Beruntung kau tak hidup bersama dengan dua kakak perempuan. Jika bukan telinga yang memekik karena teriakan mereka, kau sudah pasti akan menjadi supir untuk mereka berdua.” Candanya membicarakan dua wanita Han yang kini telah berumah tangga sendiri-sendiri. Nostalgia kecil.
Mereka terdiam sedikit lama, sebelum akhirnya Seungwoo memilih untuk membangun percakapan kembali. “Tapi aku penasaran,” Seungwoo menoleh pada Baejun yang masih menunggu. “Apa kau tahu kita akan bertemu lagi hari ini?” ungkapnya merujuk pada fakta Baejun yang membawa sapu tangan dan hadiah kecilnya.
Baejun menggeleng pelan, kembali mendongak karena perbedaan tinggi mereka yang cukup besar—ia tidak pendek, hanya saja masih masa pertumbuhan. “Tidak, hanya saja karena kita bertemu di bis yang hanya berkeliaran di distrik ini, aku rasa kita akan bertemu lagi, yang ternyata benar.”
Pemuda Choi itu melanjutkan, “Hari ini aku sempat pesimis, sejak tadi bis sudah mulai penuh tapi aku tak menemukan paman—ehm, maksudku Kak Seungwoo. Walau di pemberhentian Yonsei tadi aku melihat celana khaki ini naik, tapi aku tak menduga jika itu Kak Seungwoo.” Tunjuk Baejun pada celana Seungwoo. “Juga karena kakak sejak tadi menunduk dengan desahan lelah yang keras, aku semakin tidak mengenali.”
Mendengar hal itu, Seungwoo segera sadar bahwa sejak tadi pasti ekspresi wajahnya buruk sekali. Tak membayangkan jika tanpa masker ini mungkin saja orang-orang akan melihat raut masamnya.
“Kakak terlihat lelah sekali hari ini,” komentar Baejun sebagai lanjutan.
Seungwoo menanggapinya dengan mengangguk kecil, “Hanya rutinitas yang melelahkan. Kehidupan dapur tidak pernah mudah.”
“Dapur?”
“Aku bekerja di restoran western dekat pemberhentian dan hari ini bisa dibilang cukup ramai? Sesuatu yang tak pantas aku keluhkan tapi rasanya lelah sekali.”
“Aku pikir Kakak bekerja sebagai instruktur olahraga. Tasnya mengatakan seperti itu.” Baejun menunjuk melalui dagunya menunjuk pada gym bag hitam Seungwoo.
“Jangan percaya dengan tampilan luar, karena di dalamnya berisi seragam dengan beberapa cipratan minyak.”
Baejun menganggap hal itu sebagai gurauan karena Seungwoo yang seperti berujar terpaksa. Sedikit menganggap percakapannya dengan Seungwoo cukup menyenangkan, hingga membuat kepalanya tak kesulitan untuk mencari topik lain dan menyambung obrolan.
Seungwoo adalah sosok yang hangat, hingga menjalin percakapan ala orang asing bisa terasa seperti sepasang teman lama. Dari caranya menanggapi, mendengarkan hingga memperhatikan cerita Bajeun—yang sebenarnya berisi topik terselubung dan berujung dengan mereka bertukar nomor telepon. Hingga pengumuman pada sistem pengeras suara menghentikan segalanya, disampaikan bahwa pemberhentian apartemen Daewoo Mirae Sarang akan mereka jangkau beberapa puluh meter lagi.
Hal itu membuat Baejun bergerak tergesa menyentuh tombol ‘berhenti’, juga tak terlalu mengejutkan untuk Seungwoo karena ia tahu kemarin anak ini berhenti di titik yang sama.
Maka saat bis itu telah berhenti sepenuhnya, Baejun mengucapkan perpisahan.
“Sampaikan terimakasihku pada kakakmu. Hati-hati, Baejun.” Ucapnya memberi salam dan merasa seperti orang tua. Anak itu mengangguk padanya, membuat Seungwoo menyadari bahwa suasana hatinya sudah cukup baik.
Hingga tak menyadari bahwa bis sudah sangat lenggang karena banyak penumpang yang turun, memberi Seungwoo beberapa tempat duduk kosong yang ia syukuri diam-diam.
Hendak memilih satu di belakang bangku pengemudi, namun langkahnya urung saat ujung sepatunya menendang sesuatu.
Sebuah nametag, yang setelah dilihat memiliki ukiran huruf Korea ‘Choi Baejun’.
Tak berpikir lama, Seungwoo berlari ke arah pengemudi. “Tolong tunggu sebentar. Barang kenalan saya baru saja terjatuh.” Pengemudi itu sempat memandangi Seungwoo beberapa saat, melihat pada spion yang mengarah pada bangku penumpang yang lenggang, maka ia memberikan anggukan pada Seungwoo.
Pria itu bersyukur lagi dalam hati, memuji sang pengemudi seolah melupakan perjalanan yang ugal-ugalan.
Seungwoo lantas sedikit berlari menuruni tangga bis, melihat pada sosok dengan padding bahwa ia masih tak terlalu jauh dan berteriak, “Choi Baejun!”
Anak itu menoleh dengan terkejut.
“Kenapa, Kak?”
“Ini,” Seungwoo menyodorkan nametag-nya. “Milikmu terjatuh.”
Baejun memandang dengan kaget dan melihat pada seragamnya yang memang kosong, “Terimakasih lagi, Kak Seungwoo.”
Pria itu mengangguk, menepuk bahu Baejun dan kembali berlari lagi menuju dalam bis. Membungkukkan badan pada sang pengemudi tanda berterimakasih dan duduk di tempatnya.
Menikmati perjalan pulang yang sudah tak terlalu jauh dengan hati yang senang mengingat pada snoopy kecil di kantongnya. Ia memandangi benda itu berulang kali, memperhatikan bagaimana karakter penuh senyum itu terasa pas digenggamannya.
Hingga tangannya menangkap sesuatu pada bagian belakang gantungan kunci, seutas surat yang dililitkan dengan kata kata yang susah payah dibaca karena ukurannya.
Jika sudah aku beri kabar, hubungi nomor ini untuk menemui si pemilik koleksi Snoopy. +8293405xxxx
.
.
.
Melihat senyum yang terlalu tebal, rasanya semua lampu jalan yang menerangi ini akan setuju bahwa mulut pemuda ini mungkin akan sobek jika ia tersenyum lebih lebar lagi, mengabaikan nafasnya yang berkali-kali mengeluarkan uap asap tanda kedinginan, reaksi normal pada suhu yang nyaris mencapai nol derajat rutinitas pada januari yang dingin.
Hanya saja, ia nampak tak terganggu oleh hal itu; berulang kali melihat pada tas plastik yang dibawanya, membuka untuk mencium aroma ayam goreng dengan saus madu yang masih mengepul hangat, mulai membayangkan bagaimana respon Baejun saat mengetahui mereka akan makan enak malam ini.
Ia lantas cepat-cepat berjalan, membuat langkah lebar melalui kaki panjangnya dengan harapan cepat sampai rumah, karena kini ia hanya mengenakan jas kerja dan topcoat yang rasanya masih membiarkan suhu dingin itu menembus tulangnya.
Ia melangkah semakin cepat, berulang kali meniup kedua telapak tangannya untuk mencari kehangatan tambahan. Mulai membayangkan memasuki unit apartemennya yang memiliki penghangat yang nyaman, berganti pada celana tidur dan menghabiskan ayam sembari menemani adiknya yang tak bisa diam.
Semakin bersemangat hingga rasa itu bertambah saat suara mesin mobil terdengar, membuatnya menoleh dan melihat pada bis yang kini menepi pada pemberhentian di depan apartemennya.
“Ini pasti Baejun.” Tuturnya bersemangat. Mempercepat langkah untuk menuju perempatan itu, sudah memasang suara akan memanggil nama adiknya saat melihat anak itu turun dari bis. Kebetulan memang, tak biasanya mereka berpapasan pada pemberhentian apartemen.
Namun mulutnya yang telah membuka mengurungkan suara, karena detik selanjutnya seorang pria juga ikut turun.
Mengenakan fashion ala beberapa pemuda yang senang menghabiskan malam dikawasan Hongdae, ia juga melihat pada surainya yang berwarna kecoklatan di bawah lampu pemberhentian, menyodorkan sesuatu pada adiknya hingga membuat anak itu tersenyum dari balik maskernya.
Ia sudah memiliki niat untuk menghampiri, ingin bertanya mengenai apa yang mereka perbincangkan karena percakapan yang terlihat akrab, namun masih mematung karena pria tinggi itu telah memasuki bis lagi.
Meninggalkan adiknya yang memandang sesuatu dalam genggamannya.
“Choi Baejun!” teriaknya sedikit keras—berterimakasih pada kawasan apartemen yang tak terlalu ramai hingga ia tak perlu menarik perhatian orang sekitar.
Baejun mendongak menatapnya, melambaikan tangan pada si kakak dengan raut ceria. “Kak Byungchan!”
Pria yang baru saja memasuki umurnya yang ke dua puluh empat itu mendekat, hingga membuat Baejun bisa mencium aroma ayam goreng di tangannya.
“Kakak bawa ayam?” tanyanya dengan raut berbinar, merebut bawaan Byungchan bersemangat. Byungchan merangkulnya untuk kembali berjalan meninggalkan pemberhentian dan masuk ke lobi apartemen. “Hebat, makan enak malam ini.”
Byungchan tertawa, mengabaikan fakta bahwa harinya di kantor juga tak terlalu baik tetapi semua sirna saat melihat antusiasme si keluarga satu-satunya.
Putra pertama keluarga Choi itu mengusak kasar surai sang adik yang masih memandang ayam goreng. “Itu tadi siapa?” Byungchan melanjutkan, “Yang tadi mendatangimu dari bis?”
Baejun menghentikan sebentar kegiatannya pada kumpulan ayam tersebut, seiring dengan mereka yang telah memasuki lobi dan merasakan kehangatan yang lebih nyaman.
“Itu Paman Swoopy yang kemarin, namanya Kak Seungwoo.”
Byungchan sebenarnya sudah menduga hal ini, terlihat dari ciri-ciri yang kemarin di gambarkan Baejun saat sampai di apartemen.
“Kau mimisan?” Byungchan tak bisa menahan rasa khawatirnya saat hendak menyambut adik yang baru datang, dikejutkan dengan anak itu yang menggenggam sapu tangan penuh darah.
“Tadi tiba-tiba keluar di bis, Kak.” Cerita sang adik. “Seorang paman menyelamatkanku. Memberikan ini.”
Byungchan menerima sapu tangan itu, mengenali itu bukan milik adiknya karena kebiasan Baejun yang tak pernah membawa sapu tangan. “Swoopy?” gumamnya tertarik.
“Ya, ya. Aku tahu, rupanya paman ini tadi penggemar snoopy, sama seperti Kakak.”
“Sungguh?”
Baejun berlalu menuju kamar mandi diikuti Byungchan, masih menggenggam sapu tangan penuh darah dengan raut menuntut penjelasan lebih.
“Paman Swoopy, tubuhnya langsing, punya mata bulat kecil seperti mata burung, rambutnya lurus menutupi matanya. Tak jauh berbeda dengan mantan-mantan kakak dulu.”
Byungchan ingin saja menendang anak itu jika tak ingat bahwa ia baru saja mimisan, membuatnya kapok karena sok tahu namun segera diurungkan. Berganti dengan alibi lain sebagai pertahanan.
“Sudahlah. Sana, mandi lalu makan. Jangan belajar dulu malam ini.” tuturnya mendari bahwa bulan-bulan terakhir sekolah menengah sering membuat adiknya belajar hingga dini hari, memberikan praduga terkuat dari mimisan yang baru saja terjadi.
Membuatnya bisa menyingkir dengan mulus, demi mendalami fakta ketertarikan. Snoopy bukan karakter yang umum di Korea, maka saat ia menemukan sesama seperti ini, Byungchan merasa penasaran.
“Kalian bertemu lagi rupanya?” ujar Byungchan berbasa-basi.
Baejun bersama Byungchan memasuki lift. Menempatkan mereka berdua pada kubus kosong untuk melanjutkan percakapan, “jelas bertemu, karena bis kemarin hanya mengitari distrik. Apalagi ia terlihat bekerja di sekitar Yonsei.”
Byungchan yang masih menyembunyikan tangan di balik coat menunjukkan ketertarikan. “Tahu dari mana?”
Baejun kembali berujar, “Kemarin ia mengenakan tas olahraga, aku pikir salah satu instruktur di pusat kebugaran di depan sekolah. Tapi jika dilihat dari proporsi badannya yang kelewat kurus rasanya bukan, jadi tadi aku bertanya. Ternyata ia seorang juru masak.”
Sesungguhnya Byungchan tak memahami dari mana anak ini memiliki bakat esktrovert yang kentara. Begitu mudah membangun percakapan bahkan pada orang asing tanpa merasa terbebani.
“For your information,” Baejun berujar dengan logat Inggris yang dibuat-buat, “Kak Seungwoo bekerja di sebuah restoran western di dekat rumah sakit Yonsei. Katanya, tadi cukup ramai. Jadi bisa dibilang bukan restoran kecil?” kakak beradik itu keluar dari lift saat telah sampai di lantai mereka.
“Kenapa kau mengatakan semua ini padaku?” tanya Byungchan yang masih tak bisa menahan rasa heran pada tingkah sang adik.
Sedangkan pemuda Choi itu tertawa jahil dengan alis yang dinaikkan. Menyentuh digit kunci pintu lalu berlalu masuk. “Mantan kakak yang terakhir kali sudah berapa lama? Kenapa tak mencoba lagi? Kak Seungwoo pria baik kelihatannya.”
Hal itu sukses mendapat delikan dari Byungchan. Membuatnya melemparkan tas jinjing berisi sisa pekerjaan yang ada dan mengejar sang adik, berlarian dalam apartemen mereka yang tak terlalu besar dengan tawa Baejun yang menggelegar.
Tak menunggu lama untuk Byungchan bisa menangkap si surai lebat itu, memberi gelitikan pada perut sang adik yang tertawa keras dan menghentikan aksinya saat adiknya meneriakkan kata ampun.
Mereka berdua akhirnya membaringkan diri di atas lantai, sama-sama memperhatikan langit-langit untuk mengembalikan nafas yang tersengal.
“Tapi Kak,” Baejun menoleh pada sosok yang masih mengenakan dasi dan kemeja formal di sampingnya, “aku serius, Kak Seungwoo kelihatan baik? Bahkan ia mau berlari mengantarkan nametag-ku tadi. Jadi kau tidak perlu meminta restuku jika memang tertarik dengan dia.”
Byungchan memberi pukulan pelan pada kepala adiknya, “anak kecil tahu apa.” Yang sebenarnya hanya pengalihan dari Byungchan yang merasa campur aduk. Ia lantas berdiri, melepaskan coat-nya dan beranjak ke kamar mandi. “Siapkan makan malamnya.” Lalu tubuh tingginya menghilang di balik pintu.
Memberikan waktu Byungchan untuk bersandar pada pintu kayu kamar mandi, memikirkan sebuah pikiran yang sedikit tak ia pahami sendiri, hingga tangannya seperti memiliki otak yang tak bisa dikendalikan, Byungchan merogoh ponselnya untuk menuju situs pencarian.
Mengetikkan ‘Restoran western di Yonsei’ begitu saja untuk semakin tak paham dengan dirinya sendiri.
Ia melihat pada layar ponselnya, tak bisa menahan rasa terkejut karena mesin itu hanya menunjukkan satu pencarian.
Ninety Nines Restaurant, dengan rating nyaris sempurna dan beberapa komentar yang bisa ia baca.
Bibirnya bergumam kecil dan meletakkan fokus pada salah satu komentar dengan foto profil beruang, “Makanannya enak, pelayanannya ramah. Apalagi untuk si koki yang tampan. Aku rasa aku jatuh cinta pada mata kecilnya. Huhu.”
Byungchan jelas akan memasukkan kegiatan impulsifnya siang ini pada pada daftar ‘hal yang paling aneh yang pernah aku lakukan’.
Memberi tahu Lim Sejun—kolega yang tak pernah absen menggunakan kemeja Armani—untuk pergi makan siang di daerah Yonsei, meyankinkannya pada sebuah fakta bahwa ada sebuah restoran yang menyajikan makanan barat yang harus mereka coba.
“Sudah lama tidak mencoba steik ayam? Adik ku memberi tahu di dekat rumah sakit Yonsei ada western restaurant yang harus dicoba,” yang sesungguhnya hanya dicetuskan Byungchan cuma-cuma, siapa sangka bahwa Sejun yang baru saja membeli mobil listrik mengiyakan, berkata ia juga ingin melakukan test drive dengan mobil barunya sebagai jawaban atas Byungchan yang mengingatkan jaraknya yang tidak dekat.
Maka di sinilah mereka berdua. Duduk di sebuah meja yang berisi untuk dua orang. Memperhatikan hiruk pikuk tempat makan yang penuh karena jam makan siang sudah dimulai sekitar tiga puluh menit yang lalu.
Mengatakan pada para pramusaji untuk dua porsi chicken steik dan mereka menjanjikan makanan akan siap dalam lima belas menit lagi.
Memanfaatkan sisa waktu yang ada, Byungchan menjelajah sekitar melalui matanya, memperhatikan interior yang diperkaya oleh penerangan lampu sudut dan sebuah petak persegi panjang di tengah ruangan yang menyajikan pemandangan langsung dapur terbuka yang dikemas seperti bar, tempat makanan di proses dengan api-api yang bersemangat; semakin membuat Byungchan terkejut, mujur sekali ia hari ini.
Hal itu jelas membuat Sejun protes, “Di sini berisik, Byungchan. Suara kompornya terlalu keras.”
Byungchan membalas walau atensinya masih berkeliling, “Hangat, di sini hangat dekat kompor. Terima saja!” Byungchan menunjuk pada sekitar, “Lagi pula yang lain sudah penuh.”
Sejun mengerling malas, “Sekarang penuh. Tadi lenggang, Byungchan. Bahkan meja dekat jendela itu kosong.”
Dan tak bisa melihat ke arah dapur? Yang benar saja.
“Diam dan fokus makan saja. Waktu kita tak banyak.” Bisiknya dengan suara pelan, tak paham juga mengapa berbisik-bisik tetapi yang jelas matanya fokus menjelajah bagian dapur.
Memperhatikan tiga orang pria yang sibuk pada kegiatannya masing-masing; ada yang memotong, melakukan sesuatu pada kompor dan seseorang dengan seragam hitam yang sibuk pada kertas pesanan.
Sedikit kecewa karena tak menemui si surai coklat semalam—atau ia berada di tempat yang salah?
Menemui rasa pesimis, Byungchan ingin menyudahi antusiasmenya. Berpikir untuk besok mulai mencari lagi restoran seperti maksud Baejun, namun mendadak muncul sebuah harapan baru kala teriakan salah seorang chef—yang terlihat seperti pemimpin dari pakaiannya yang berbeda sendiri—meneriakkan sebuah nama.
“Woo-ya, dua steik ayam untuk meja enam.”
Byungchan meneguk kasar salivanya, menanti dengan jantung berdebar saat derap langkah terdengar. Memperlihatkan seorang pria keluar dari bagian dapur dalam yang tengah mengenakan double breastesd jacket alias seragam koki dengan lengan panjang yang digulung dan berlari mendekati si head chef.
Byungchan memandangi punggung yang tengah memperhatikan kertas pesanan tersebut, semakin berpacu pada ritme jantungnya hingga puncak cerita terjadi.
Pria itu menoleh pada mejanya, memberikan senyum lebar dengan mata kecil yang melengkung sesuai deskripsi Baejun dan mulai menyalakan kompor dengan torch yang tersedia. “Dua steik anda akan siap dalam sekejap,” tuturnya jelas karena jarak mereka yang tak jauh; memberi pembenaran akan pelayanan yang ramah sesuai komentar di internet.
Ketemu.
Biasanya, Byungchan yang paling bersemangat saat jajangmyeon menjadi menu makan malam mereka. Sudah menjadi rahasia umum untuk kakak-beradik Choi bahwa Byungchan membutuhkan dua porsi saat sudah berhadapan dengan mi saus kedelai hitam ini.
Sayangnya, meski satu mangkok jajangmyeon sudah disajikan, Byungchan masih setia mengaduk tanpa makna.
Perhatiannya terpusat pada hal lain walau matanya kini menatap sebuah objek yang sama seperti yang ditatap Baejun; siaran liga bola favorit mereka berdua.
Malam ini adalah suasana yang sangat nyaman. Memang Korea masih berada di masa suhu terendah hingga membuat penghangat ruangan menjadi fasilitas yang begitu nyaman. Ditambah dengan fakta mereka berdua sedang makan malam pada meja kecil, serta mi yang masih hangat, harusnya ini nyaman. Tetapi tidak untuk Byungchan.
Raut wajah campur aduk itu terlihat oleh Baejun kala ia mendapati sang kakak yang tak bergerak, masih dengan beberapa mi di mulutnya, ia memandang Byungchan heran. “Mi-nya akan dingin, Kak.” Dengan senggolan kecil melalui sikunya.
Byungchan mengerjap cepat, bersikap salah tingkah dengan cepat-cepat melahap melalui sumpit yang mengapit. Berusaha bersikap biasa saja walau Baejun malah menangkapnya sebagai gelagat aneh.
“Tak biasanya kau tidak berselera dengan mi kedelai hitam ini.” tuturnya mengomentari, yang sedikit kemudian berganti rasa kesal karena setetes pasta yang jatuh ke celana hangatnya.
Masih dengan upaya membersihkan dengan tisu, Baejun melanjutkan, “Kenapa, Kak? Masalah kantor lagi?”
Byungchan menggeleng, bisa dibilang hari ini masuk pada jajaran hari terbaik selama ia bekerja, nyaris tidak ada masalah.
“Tidak, semua baik-baik saja.” Ujarnya kecil dan melanjutkan makan dengan pandangan kosong.
“Yakin?”
Byungchan mengangguk, “Seratus persen.”
Lalu Baejun yang memang tak mengambil pusing mengangkat bahunya tanda menerima penjelasan sang kakak. Membuatnya kembali berfokus lagi pada tayangan pada laptop. Menahan teriakan saat sang gelandang nyaris kehilangan bolanya.
Baejun nyaris tersedak karena euforia yang terlalu bersemangat. Meraih gelas air mineral di sampingnya dan meneguk sedikit sebelum kembali meletakkannya lagi. Meremat asal ujung kaosnya dengan mulut yang masih mengunyah.
“Tadi saat rehat, aku makan siang di Ninety Nines.”
Baejun masih tak mengalihkan pandangannya dari drama tendangan jarak jauh yang gagal. “Kenapa? Apa kali ini pelayanannya lama lagi?”
Byungchan menggeleng walau sang adik tak melihat, “Itu,” ia tersendat oleh salivanya sendiri. “Tempat kerja si pria swoopy.”
Detik itu juga Baejun merasakan laju oksigen pada paru-parunya terhalang—ia tersedak oleh gumpalan mi yang belum terlalu halus. Baejun memukul dadanya sendiri tanda berusaha menelan makanannya.
Sang kakak tak kalah panik, pria berumur dua puluh empat tahun tersebut segera mengambil air minum Baejun di atas meja. Meminumkan perlahan pada adiknya untuk meredakan rasa tersedak tersebut.
Beberapa menit berlalu dan Baejun sudah tak tertarik lagi dengan tayangan bolanya.
“Kakak bilang apa tadi?”
Byungchan mengaduk mi-nya sebagai pengalihan. “Aku hanya merasa penasaran. Jadi, ya, tak ada salahnya untuk makan di sana.”
Baejun memasang tampang mengintimidasi. “Oke? Penasaran setelah bersikap denial seperti kemarin?” rujuknya pada Byungchan yang tak menganggap penting pembicaraan mereka kemarin malam. “Kau pembohong yang payah, Kak.”
Byungchan bersiap siap untuk menyanggah kembali, namun tak terwujud karena Baejun menaikkan alisnya dan melanjutkan.
“Akui saja, kau tertarik dengan Kak Seungwoo, ‘kan?”
Byungchan memotong mi dalam mulutnya lamat-lamat, masih memilah kata pada kepala untuk menyanggah perkataan adiknya.
Walau akhirnya ia menyerah karena kehabisan ide, “Mungkin?”
Setelah agenda syok, kini Baejun melanjutkan dengan membelalakkan mata tak percaya.
“Mungkin karena kita memiliki antusiasme snoopy yang sama dan karakternya yang lembut?” juga mata kecilnya yang menakjubkan. “Aku rasa itu hal yang wajar jika aku tertarik dengan swoopy.”
Sayang sekali tadi Baejun tak menaiki bis yang mengitari mapo-gu tersebut. Ia memilih ikut pada tumpangan dari mobil antar jemput temannya. Sebuah tawaran yang ia terima setelah membantu si teman pada praktek bola voli.
Jadi, ia penasaran apakah si Kak Seungwoo akan meceritakan hal yang sama seperti Byungchan.
“Lalu bagaimana? Apa kalian berbincang? Dia benar-benar baik, ‘kan?”
Byungchan menggeleng, dengan telunjuk memberi isyarat tanda ia ingin menelan makanannya dahulu.
“Itu,” Byungchan menunjuk entah pada bagian wajah Baejun yang mana. “Aku ingin meminta tolong padamu.”
Baejun menunggu dengan hati-hati, bersedekap di depan dada menunggu kelanjutan dari pembicaraan Byungchan.
“Aku memiliki ide untuk kencan buta.” Byungchan berkata seolah itu ide yang cemerlang. “Seperti menonton bioskop atau pergi ke museum dan menghabiskan malam di Itaewon.” Byungchan kembali melanjutkan, “Tetapi masalahnya hanya kau jembatan antara dia dan aku.”
“Aku paham, kau memintaku untuk berbicara dengan kak Seungwoo?”
Byungchan mengangguk, “Juga apa menurutmu ini bukan hal yang aneh? Kau tahu, orang benar-benar asing mengajak bertemu seperti itu.”
Baejun mengusak kasar rambutnya dengan senyum kecil tercetak. “Selama kedua belah pihak menyetujui, aku rasa itu tidak akan menimbulkan pemikiran yang buruk.” Baejun memasang nada menggoda, “Walau asal usul ketertarikan dua pria ini karena si adik yang mimisan, itu baru terdengar aneh.”
Byungchan memamerkan deret giginya yang cemerlang, tak tahu harus memasang ekspresi macam apa. “Jadi bagaimana? Apa kau punya rencana? Tak perlu memaksa. Sudah total menjadi haknya jika tidak ingin, aku hanya merasa tak ada salahnya untuk mencoba ….”
Baejun menaikkan alisnya, “Setiap kualitas yang oke, akan selalu ada harganya.”
Putra pertama keluarga Choi mengerutkan dahinya, “apa maksudmu? Kau akan berbicara dengannya besok di bis?”
“Bulan ini jatah uang sakuku dua kali lipat. Bagaimana?”
Byungchan berujar sumringah, sang adik memang bisa diandalkan. “Deal.”
.
.
.
Byungchan merasa campur aduk. Memikirkan lidahnya baru saja mendeklarasikan rasa tertarik pada orang asing, terlebih ia membicarakan hal tersebut bersama adiknya—benar-benar sang adik, Choi Baejun yang selama ini tak pernah ia ajak berdiskusi mengenai asmara.
Namun sesungguhnya bukan itu yang Byungchan pusingkan.
Sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu ia menyudahi makan malam penuh drama konyol bersama adiknya, dan selama itu pula ia menyibukkan diri berselancar pada situs online shop, berulang kali kebingungan memilih dari kemeja, baju santai hingga kaus untuk kencan buta bersama si koki.
Sebenarnya, ada konflik yang lebih pelik lagi, tidak ada kah yang lebih menggelikan dari pada bingung mencari pakaian untuk kencan buta bersama pria yang bahkan hanya ia lihat sekali? Byungchan mengusap kasar wajahnya, mengabaikan rangkaian produk perawatan kulit yang belum meresap sempurna pada kulitnya. Aku sudah berumur dua puluh empat tahun, demi Tuhan.
Beberapa kali Byungchan sempat berpikiran untuk mengurungkan tindakan konyolnya, namun sebanyak itu juga sebuah pikiran ‘kenapa tidak?’ menjawab semua keraguannya.
Maka, setelah menggantungkan pilihan pada kata hati yang paling unggul, Byungchan menjatuhkan pilihan pada sebuah kaus bergambar kata-kata masa kini untuk nantinya ia padukan bersama wool coat, berusaha tampil rapi-semi formal dan tak terlalu kaku.
Sampainya besok pagi, lirih Byungchan semakin tersipu saat melihat jadwal pengiriman setelah melakukan pembayaran.
Hal itu semakin membuat pipinya bersemu, membuang ponselnya pada sisi lain tempat tidur dan meraih bantal karakter snoopy-nya untuk menenggelamkan wajahnya. Semakin tak paham dengan dirinya sendiri walau setelahnya debaran menyenangkan itu mengarah pada bayangan Seungwoo yang siang tadi tersenyum padanya.
Manis.
Byungchan semakin dalam membenamkan kepalanya, meredam teriakan pada bantalan tersebut untuk selanjutnya hampir terlonjak kala ponselnya memberi dering yang memekik; satu pesan telah masuk.
From: +82102478xxxx
Halo Byungchan, malam?
Maaf jika ini terdengar payah, tetapi aku ada dua tiket bioskop untuk besok.
Mau pergi bersama?
Byungchan mengerutkan dahinya tak paham, mengambil duduk masih dengan memeluk bantal ia mengetikkan balasan.
Siapa?
Tak lama ponselnya kembali berbunyi, memberikan notifikasi yang sanggup membuatnya hampir menjerit terkejut.
From: +82102478xxxx
Swoopy.
Byungchan membaca pesan itu berulang kali, membelalak dengan rasa terkejut kentara, yang selanjutnya ia alihkan menjadi teriakan hampir memekikkan telinga.
“Choi Baejun!”
Selang beberapa detik, kepala penuh surai gelap itu datang dari balik pintu, menampakkan wajahnya yang jauh lebih kecil dari Byungchan dengan senyum tanpa dosa. “Kenapa, Kak?” ia kembali melanjutkan, “Kak Seungwoo sudah mengirim pesan?”
Byungchan menatap nyalang adiknya dengan emosi yang disembunyikan, “Kau bilang akan mengatakannya besok saat bertemu lagi di bis?”
Baejun mengangkat bahunya dengan senyuman jahil, mulai memasang kaki untuk bersiap-siap melarikan diri.
“Buat apa menuggu besok jika aku bisa menghubungi Kak Seungwoo malam ini?”
Byungchan masih tak memahami alur yang terjadi, ia meletakkan ponselnya sedikit melupakan akan pesan yang belum terbalas. “Kau bilang jika kalian hanya berkenalan dalam bis? Bukan pertemanan seperti itu?”
Kali ini Baejun benar-benar menghilangkan setengah badannya di balik pintu. “’Pertemanan seperti ini’ bukan berarti kami tidak bisa bertukar nomor telepon.”
Byungchan membuka mulutnya, “Tapi kapan kalian bertukar—tidak, tunggu bukan itu.” Byungchan menarik nafas, “Tapi bagaimana ini? dia mengajakku—,”
“Ya, ya … kencan larut malam ke bioskop, berterimakasihlah padaku, Kak.”
Byungchan memberikan tatapan horornya. Seiring dengan si adik yang berlari keluar.
“Choi Baejun!”
Terdengar teriakan yang teredam antar ruangan, “dua kali lipat, kak. Selamat bersenang-senang.”
.
.
.
END
