Work Text:
Zona Nyaman
Markhyuck
baelinsh
Haechan membuka pintu unit apartemennya dengan lemas. Lampu lorong depan otomatis hidup ketika Haechan menginjakkan kakinya ke dalam ruangan.
"Eh udah pulang?"
Satu suara ringan menyambut kepulangan Haechan. Tampak lelaki dengan kaos hijau sedang memegang roti, berusaha mengoleskan selai ke atas roti tersebut—sang pacar tampan dengan alis camarnya, Mark Lee.
"Kamu mau?" Tawar Mark Lee.
Haechan mengerut cemberut kemudian terseok-seok berjalan ke dapur, ke arah Mark Lee.
"Kamu kenapa ke sini?" Tanya Haechan.
Mark Lee yang sedang mengunyah roti selainya hanya mengangkat bahunya ringan. Apa salahnya kan ia datang ke rumah pacarnya?
Mendengar Mark Lee yang terdiam, Haechan merengut. "Capek," ujarnya "Hari ini jelek banget,"
Mark terkekeh. Ia memakan habis sandwichnya kemudian tersenyum, "mau cerita?"
Sayup-sayup musik blues mengisi ruangan. Lampu tidur berwarna putih dan kuning sudah hidup di langit-langit. Haechan menghempaskan badannya yang segar sehabis mandi ke kasur, berguling dengan malas di samping Mark yang kini sedang mengutak-atik ponselnya.
"Enak mandinya?" Mark bertanya, menatap Haechan dengan senyumannya.
Haechan yang menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal, menegakkan kepalanya untuk menatap sangar sang pacar. "Ga! B aja," Cetusnya. Sejak kapan ada mandi yang enak? Pacarnya ada-ada saja!
Mark terkekeh, ia bawa tangannya untuk menyeka rambut Haechan, membawa poni tersebut untuk tak menutupi wajah manis kekasihnya.
"Jadi udah mau cerita hari ini kenapa marah-marah mulu?" Tanya Mark.
Haechan menegakkan badannya, menopang badannya dengan tangan untuk menatap Mark yang ada di samping. "Kamu kenal ga sih teman sekelas aku si Chenle?"
"Iya kenal,"
Muka Haechan langsung melotot marah setelah Mark mengangguk. "Aku sekelompok berdua sama dia. Tau ga sih, dari awal dia gaada ngapa-ngapain, disuruh buat ppt ga mau, disuruh buat paper ga mau, disuruh cari materi ga mau, alasannya sibuk hima. Gilak sih ya aku tuh baik banget, sabar banget sama dia. Aku pikir it's okay lah biar yg materi pptnya aku yg cariin, dia pandai ngomong jadi ntar biar dia yang presentasi. Eh, pas hari presentasi, tau ga sih kamu dia ga masuk! Katanya sakit! Padahal dia udah iyain buat presentasi dan akhirnya aku yang presentasi! Kewalahan banget aku beneran, dosen matkul ini jelek banget, aku serasa diintorgasi tau ga. Juga kesal banget Chenle yang sama sekali gaada kontribusi ke kelompok malah dikasih nilai yang sama kek aku, dosennya mana mau tau. Ih beneran benci banget!" dengan berapi-api, Haechan berseru marah. Bibirnya maju merengut, tanda ia benar-benar sebal.
"Kemudian pas aku mau makan tadi sore, tiba-tiba kantin malah ramai, jarang banget lho kantin ramai sore-sore, endingnya aku ga jadi makan kemudian lapar—ih kamu kenapa sih mainin rambut aku!"
Mark tersenyum pelan mendengar rengutan kesal kekasihnya. Tangannya menyampingkan poni halus Haechan yang ada di dahi pria tersebut. "Cantiknya ketutupan," ujarnya.
muka Haechan yang tadi merengut kesal perlahan memerah lucu. "AAAAAAA!" Teriaknya. Tangannya terangkat untuk menutup wajahnya.
"Kenapa? Mau dipeluk?" Tanya Mark terkikik geli.
"Mau... mau banget!" Haechan langsung menyelusupkan wajahnya ke dada Mark, merasakan wangi pria itu memenuhi seluruh inderanya. Tangan hangat Mark menyambut Haechan, memeluk Haechan dengan begitu erat.
"Kamu bisa berhenti manis ga sih?" Bisik Mark di telinga Haechan.
"Aku lagi misuh-misuh, lho!" Seruan Haechan teredam oleh dada Mark. "lagian kamu yang lebih manis... aku udah ga marah lagi gegara kamu," dengan nada malu-malu, Haechan berujar.
"Sama-sama," kekeh Mark, kemudian ia melonggarkan pelukannya, mencium bibir Haechan kilat kemudian bertanya, "mau makan?"
Tidak ada alasan bagi Haechan untuk menolak ajakan tersebut. Balik mencium Mark, Haechan pun mengangguk, membawa pria tersebut untuk bangkit, berjalan bersamanya menuju dapur.
Dan itulah sedikit cerita tentang Haechan dan zona nyamannya.
