Work Text:
Renjun kadang capek, orang-orang tuh sering banget nanyain dia dengan pertanyaan yang sama.
"Lo gak bosen apa Ren sama Mark? Enam tahun, anjir, six fucking years lo udah pacaran sama dia."
"Nyesek sih kalo udah lama begini, terus lo berdua nanti malah putus. Emang beneran sama sekali gak hambar hubungan lo berdua?"
"Ren, lo gak takut kalo ternyata Mark main belakang? Bisa aja 'kan dia ngerasa bosen sama lo, terus ya... diam-diam selingkuh."
Renjun kesel setengah mati setiap dapat pertanyaan gitu. Harusnya dia yang ngerasa bosan. Bukan, bukan bosan sama Mark, tapi sama pertanyaan-pertanyaan gak berbobot yang mereka lontarkan.
Enam tahun.
Iya, Renjun sama Mark emang udah enam tahun pacaran.
Kalau ditanya, "Bosen gak sih?" ya, namanya suatu hubungan, pasti ada 'kan rasa-rasa hambar? Rasa-rasa di mana kayak buat ingat nama pacar sendiri aja bisa nguras energi yang banyak.
"Terus, kok bisa tahan?"
Soalnya, dibanding rasa bosan, rasa sayang Renjun ke Mark lebih besar.
Kalau bosan, mereka bakal bilang, terus dicari solusinya, bukan malah putus.
Coba kalau bosan sedikit aja mereka putus, udah berapa banyak mantan Mark atau Renjun kalau keduanya punya pemikiran kayak gitu?
Mau sendiri dulu? Okay.
Mau cari suasana baru? Okay.
Bosan itu hal biasa dan bisa terjadi kapan aja.
Yang penting, komunikasi mereka tetap lancar, walaupun memang gak se-intens kayak pas awal pacaran.
Komunikasi antara Mark dan Renjun udah gak perlu lagi lewat spam chatting. Gak perlu yang namanya setiap saat nanyain "udah makan belum?" atau setiap malam ngucapin "Good night, sayang. Have a nice dream."
Enggak.
Mereka gak se-kurang kerjaan itu.
Renjun dan Mark gak mau menjadikan hubungan mereka ini sebagai beban, tapi tetap mereka jadikan sumber bahagia yang paling utama.
Yang paling utama bukan berarti apa-apa selalu didahulukan. Geez, Mark-Renjun juga punya kehidupan masing-masing yang harus dijalankan, tapi walaupun begitu, kegiatan mereka yang selalu padat gak membuat mereka lupa akan presensi masing-masing dalam hati dan pikiran mereka.
Enam tahun emang udah berlalu, tapi rasa sayang dan percaya yang dipunya Renjun untuk Mark masih tetap sama kayak dulu.
Then, how about Mark? Did he still have the same feelings for Renjun after all these years?
Mark akan dengan tegas menjawab "Ya, masih sama. Sama sekali gak ada yang berubah.
Jangan tanya seberapa besar rasa sayang gue ke Renjun, soalnya tidak terbatas, gak bisa didefinisikan dengan angka."
Menurut Mark, rasa cinta itu gak melulu diungkapkan lewat kata; cukup dengan sebuah pelukan, keduanya bisa langsung percaya, kalau mereka masih punya satu sama lain untuk terus bertahan sampai waktu yang memisahkan.
Dan juga menurut mereka, hubungan itu gak perlu terlalu dipublikasikan. Yang penting dunia tau kalau Renjun belongs to Mark and Mark belongs to Renjun. Udah, begitu aja cukup. Hubungan mereka ini, biar mereka aja yang ngerasain suka dukanya.
Renjun pernah bertanya pada Mark, "Kalau ternyata aku menemukan orang yang bisa bikin aku lebih nyaman dibandingkan sama kamu, gimana?"
Mark cuma senyum, tatapannya masih sama teduh, ibu jarinya mengelus punggung tangan Renjun lembut.
"Gak masalah. Justru aku senang, karena Renjun-ku memang pantas dibuat nyaman, dicintai sebegitu besarnya sama banyak manusia di dunia."
"Gimana kalau nanti aku bosan dan minta putus sama kamu?"
"Kalau gitu, disaat mungkin memang nantinya aku harus melepas kamu, aku gak perlu khawatir. Aku gak nampik kalau aku bakalan patah hati, tapi dengan lihat kamu bahagia walaupun sama orang lain, hal itu cukup buatku nanti menyembuhkan luka di hati. You might be the cause of my pain, but you're also a cure for my heart, Renjun."
Padahal, Renjun gak serius dengan pertanyaan yang ia lontarkan tadi. Tapi, jawaban Mark, benar-benar membuatnya untuk memantapkan hati pada satu-satunya orang yang saat ini menatapnya dengan pandangan paling hangat yang tidak pernah Renjun temukan pada orang lain.
Waktu hanyalah angka.
Putus karena bosan itu cuma alasan bagi orang yang tidak tulus mencinta, dan itu jelas bukan Renjun ataupun Mark.
Buat mereka, makin banyak waktu yang mereka lewati, makin besar rasa sayang dalam hati. Bosan hanyalah pengingat untuk istirahat sebentar, sebelum lanjut untuk mencintai pasangan lebih dalam dari sebelumnya.
