Actions

Work Header

Menuju Jalan Pulang

Summary:

Jisung datang ke reuni sekolah dengan harapan bertemu Hyunjin, murid tampan dengan segudang prestasi yang secara kebetulan adalah sahabat merangkap mantan pujaan hatinya. Maka ketika yang ia lihat adalah Hyunjin yang tidak terlihat seperti Hyunjin, Jisung merasa tidak bisa diam saja.

Notes:

hiii i've been longing to write some hyunsung dan akhirnya dari segudang prompt yang numpuk, ada juga yang aku eksekusi hehe. aku nulis ini dengan menggabungkan vibe/mood dari tiga lagu: han's i wish you back, taylor swift's begin again dan 5sos' long way home. bisa sambil dengerin kalau berkenan!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Yang Jisung pikirkan mengenai acara reuni sekolah adalah: bertemu dengan teman-teman lamanya yang mungkin sudah berubah seratus delapan puluh derajat secara tampilan, cara berpakaian, cara berbicara dan cara memilih menu. Mungkin juga tidak ada yang berubah, hanya suara yang semakin berat, namun masih tetap lugu seperti dulu ketika mereka suka mencari alasan tidak masuk akal untuk menghindari hukuman karena telat masuk gerbang. Jisung membayangkan wajah-wajah ceria yang makmur meskipun tidak ada yang tahu isi hati masing-masing individu. Bahkan sebelum ia datang dan berjabat tangan dengan paling tidak sepuluh orang, dering obrolan bernada tinggi penuh rindu sudah lewat di gendang telinganya.

Jisung juga tahu jika membicarakan tentang reuni, beberapa orang otomatis terpikirkan kepada sosok-sosok spesifik yang menjadi favorit atau justru alasan utama mereka dahulu bersemangat bangun pagi untuk mengayuh sepeda ke sekolah. Tidak bisa dipungkiri bahwa seorang Han Jisung hanyalah satu dari sekian orang tipe tersebut. Sejak undangan reuni SMA Wonjong angkatan 2014 disebar, memori Jisung sudah langsung merujuk pada satu nama yang selalu ia rapalkan tiap malam selama paling tidak setahun terakhir masa SMA-nya. (Mungkin ia juga tersenyum seperti orang bodoh saat menyadari ia akan dapat bertemu kembali dengan orang itu setelah sekian lama, tapi mari abaikan saja bagian ini.)

Nama Hwang Hyunjin yang identik dengan sebutan paras-tampan-seperti-idola beserta kecerdasannya yang berada di atas rata-rata mengingatkan Jisung pada kegelian di perutnya yang sering membuatnya bangun satu jam lebih pagi demi mencapai bus yang ditumpangi sang pujaan hati. Bukan, Jisung bukan penggemar menyeramkan yang tidak tahu privasi, justru ia adalah satu dari sedikit orang yang kemungkinan dapat dipanggil Hyunjin sebagai teman dekat. Ingatan Jisung akan hal itu cukup berhasil meninggikan ego sekaligus antisipasinya akan kedatangan Hyunjin hari ini.

Jisung hampir bisa membayangkan Hyunjin masuk ke restoran yang disewa untuk acara hari ini dengan tubuh tegapnya yang semampai, setelan sederhana yang selalu nampak pas serta senyum cerah yang membuat ketampanannya semakin terpancar. Bisa dibilang … Jisung menantikannya, dengan tidak sabar.

Maka ketika figur familiar yang ditangkap matanya di antara lalu lalang puluhan orang tidak begitu mirip dengan apa yang ia bayangkan, Jisung rasa ia berhak untuk terkejut.

Jisung sedang menopang dagu di atas meja panjang yang hampir penuh--orang-orang di sekitarnya sibuk mengobrol--dengan kedua mata senantiasa mengitari ruangan, fokus utama adalah pada pintu kaca yang dibuka-tutup, saat Hwang Hyunjin masuk dengan langkah-langkah lebar yang tidak terlihat pasti. Punggung Jisung menegap secara otomatis, siap untuk menyambut kedatangan teman spesialnya sekaligus menajamkan pandangan karena ia hampir tidak percaya atas apa yang ia saksikan.

Hyunjin tidak terlihat seperti Hyunjin dengan proporsi tubuh yang bisa dibilang jauh lebih kurus, kulit yang lebih kusam dan kering, rambut panjang yang tidak ditata rapi serta plester yang menutupi goresan luka di atas wajahnya. Jisung tidak tahu apakah ia yang berharap terlalu banyak atau mungkin ingatannya akan Hyunjin yang sudah memudar. Jisung juga tidak tahu mana yang lebih membuatnya kecewa: penampakan Hyunjin yang terlihat tidak terawat atau senyum tipis yang sepertinya terlalu berat untuk Hyunjin ulas di sudut bibirnya.

Ada banyak kontemplasi yang mengguncang bahu Jisung, tapi ia tidak bisa membawa dirinya untuk mengambil keputusan dengan cepat begitu sadar bahwa tidak ada seorangpun di ruangan yang berdiri untuk menyambut Hyunjin. Hal itu menciptakan sendu tersendiri di dalam hati Jisung, terutama ketika ekor matanya mengikuti figur Hyunjin yang memilih untuk duduk jauh dari keramaian hanya dengan secangkir kopi hitam dan sebatang rokok.

Jisung hanya bisa mengamatinya dari kejauhan. Meski demikian, sorot mata Hyunjin yang redup tetap bisa ia saksikan bersama dengan antisipasi yang merosot jatuh menjadi pertanyaan-pertanyaan tak berujung di dalam benak.

Jisung mendadak takut. Takut jika … ternyata ia tidak lagi mengenali Hyunjin.

 


 

Acara reuni berjalan dengan selayaknya acara reuni pada umumnya. Jisung tidak bisa banyak menyimpulkan karena otaknya sudah dipenuhi akan hal lain, lebih tepatnya satu orang bernama Hwang Hyunjin. Hyunjin masih berada di sudut ruang meskipun yang lainnya berkumpul untuk mengambil minuman dan berfoto, dan Jisung pun berangsur-angsur merasakan hambar seiring Hyunjin juga mematri ekspresi kosong di antara asap rokoknya.

Tanda tanya yang tidak terjawab karena keberanian dan kepercayaannya menyusut mengantarkan Jisung pada asumsi-asumsi liar yang diciptakan pikiran negatifnya sendiri. Ia pernah diberitahu bahwa manusia memang cenderung untuk berpikir negatif dibanding positif, dan sepertinya ia merasakan buktinya secara langsung saat ini juga.

Nyatanya, Jisung sudah tidak tahu lagi definisi pikiran positif itu yang seperti apa lantaran yang dapat ia simpulkan tentang teman tersayangnya tidak jauh dari kata-kata memilukan yang identik dengan kegelapan dan keputusasaan. Jisung bahkan tidak bisa merangkainya dalam suatu kalimat utuh atau mencoba mengumpulkan keberanian untuk sekedar mendekat dan bertanya apakah orang itu memang benar adalah Hyunjin.

Jisung menghela di atas kursinya yang kini tidak lagi dikelilingi banyak orang. Jika bicara tentang Hyunjin--Hyunjin dari kelas 12-4, sahabat yang diam-diam ia sukai dahulu, bukan Hyunjin yang merokok dan secara sengaja mencederai diri--rasa-rasanya Jisung bisa menulis esai yang panjangnya melebihi pidato kepala sekolah di pembukaan turnamen olahraga tahunan.

Hyunjin memang bisa dikatakan sebagai tipikal murid laki-laki populer yang digemari seluruh kalangan karena ketampanannya, tapi Hyunjin juga lebih dari itu.

Hyunjin adalah sebuah wujud nyata dari apa yang sering digambarkan orang-orang sebagai kasih sehangat cahaya matahari di musim semi. Hyunjin adalah siswa dengan prestasi cukup gemilang yang masih sudi meluangkan waktunya untuk mengajari detail-detail materi pada teman sekelasnya yang kesulitan. Hyunjin juga berbakat di banyak bidang olahraga, tapi ia tidak pernah melangkahkan kakinya dengan angkuh di lorong sambil memantul-mantulkan bola basket yang tidak pernah dikembalikan ke gudang sekolah. Hyunjin mengulas senyum terlebar meski harinya tidak selalu berjalan sempurna dan peringkatnya tidak selalu di atas. Hyunjin rela membuat kukunya kotor saat tukang kebun yang menata pot di depan kelas butuh tenaga bantuan.

Hwang Hyunjin identik dengan kata-kata manis yang dilontar calon kekasih pada kencan pertama, tapi Hyunjin juga yang bersedia menggenggam tangan orang tersayangnya di saat-saat tersulit mereka.

Jisung larut dalam dunianya sendiri meski kedua mata secara tidak sadar masih terpaku pada laki-laki di seberang petak. Ia masih melamun, masih bertanya-tanya apakah Hyunjin yang itu adalah Hyunjin yang ia kenal. Di saat itu lah, Hyunjin yang itu tanpa sengaja memberikannya sinyal sekaligus jawaban akan pertanyaan sederhana yang dirapal Jisung seperti mantra di dalam kepalanya sejak tadi.

Hyunjin yang duduk dengan secangkir kopinya dan tidak berkutik sama sekali sejak puluhan menit lalu--meskipun secara teknis ia berada di tengah acara yang dimanfaatkan sebagai wadah bersosialisasi--tiba-tiba berdiri dan berjalan keluar tanpa membawa tasnya.

Dua manik Jisung masih mengikuti saat laki-laki yang memakai jaket hitam kebesaran itu berjongkok di depan pintu dan mengeluarkan bungkusan dari kantung celana jin sobek-sobeknya. Jisung melongok untuk memeriksa, tidak menyangka bahwa yang dilakukan Hyunjin adalah memberi makan seekor kucing jalanan yang tidak terawat serta mengelus bulunya dengan tangan kasar yang Jisung yakin masih menghantarkan kehangatan.

Di sekitarnya, orang-orang dengan setelan berkelas masih sibuk saling berbincang mengenai kehidupan universitas dan jurusan bergengsi mereka, bertukar cerita yang sedikit dibuat-buat agar terlihat lebih baik dari yang lain. Namun, yang Jisung saksikan hanyalah Hwang Hyunjin, senyum tipisnya yang akhirnya cukup familiar saat ia menatap seekor kucing yang bersandar di sepatunya, serta sebuah harapan kecil yang membuat Jisung meyakini satu hal.

Hyunjin itu masih Hyunjin yang Jisung kenal.

 


 

“Hyunjin?”

Mungkin keputusan Hyunjin untuk berpindah ke luar ruangan adalah salah satu dari sedikit hal yang bisa disyukuri Jisung hari ini lantaran ia tidak perlu repot-repot berteriak hanya untuk memanggil namanya--suasana di dalam masih berisik meski acara sudah resmi berakhir sepuluh menit yang lalu.

Hyunjin yang satu kakinya naik ke gazebo yang ia tempati ditemani sebatang rokok yang hampir habis tampak lebih dari terkejut ketika Jisung menyapanya. Jisung merasa respons itu tidak berlebihan mengingat eksistensi Hyunjin di acara ini nyaris sepenuhnya diabaikan.

Bagaimanapun, kesedihan karena merasa tertolak masih tidak bisa Jisung hindari akibat refleks yang diberikan Hyunjin ketika ia mendapati Jisung berjalan cepat ke arahnya adalah untuk menjauh.

“Eh, Jin!”

Seruan Jisung menjadi lebih keras saat Hyunjin terburu-buru membuang rokok, menyambar tas dan memakai sepatu yang sempat ia lepas beberapa saat yang lalu. Hyunjin jelas-jelas menghindari Jisung dan mungkin juga menghindari semua orang yang berniat menyapanya dan hal itu hanya berarti satu hal: Jisung perlu berusaha lebih untuk mendapatkan perhatiannya.

“Hyunjin, kok buru-buru? Masih ingat aku, kan?” Jisung menunjukkan agresivitasnya dengan menahan lengan Hyunjin demi menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin berbicara. “Aku Jisung, dulu kita sering berangkat dan pulang bareng naik bis 413.”

Mungkin Jisung agak meracau seperti biasa saat ia berada di dekat Hyunjin dan kehilangan sepersekian dari akal sehatnya untuk bertingkah normal. Mungkin juga Jisung sengaja mengabaikannya karena terlampau fokus kepada dua mata yang kini menatapnya balik dengan ekspresi canggung yang membuat Jisung semakin mengeratkan pegangannya.

Hyunjin menatap Jisung seperti ia akan hilang begitu saja di detik Jisung melepaskan genggaman tangannya.

“Hyunjin, apa kabar?” lanjut Jisung dengan senyum sumringah yang berusaha keras dibuat tetap terlihat ramah, “aku lihat kamu-”

“Kamu mau apa?”

Basa-basi yang susah payah dibangun Jisung dipotong cepat oleh Hyunjin berikut dengan hempasan dari lengannya. Pandangan yang penuh ragu mendadak berubah tajam.

“Kenapa kamu ngomong sama aku?”

Pertanyaan Hyunjin terdengar semakin menghakimi seiring waktu. Ada banyak sekali emosi yang Jisung saksikan terpancar dari dua bola matanya yang bergetar. Jisung tidak berani menyebutkan semuanya, tapi ketakutan adalah salah satu yang dapat ia lihat dengan jelas di sana.

Hal itu membuat Jisung tidak mampu untuk memaksa lebih jauh. Ia ingin bicara dengan Hyunjin, tentu saja, setelah sekian lama, tapi ia juga ingin mengutamakan kenyamanan Hyunjin di atas segalanya.

Jisung mengambil satu langkah mundur dan ia tidak bisa lebih bersyukur lagi saat menyadari Hyunjin tidak berlari kabur begitu saja.

“Aku cuma mau nyapa, Hyunjin. Aku … kangen sama kamu,” lirih Jisung, “maaf, aku agak telat. Aku masih mastiin kalau ini beneran kamu tadi.”

Jisung tidak merasa kalimatnya salah, namun decihan sarkastis dari Hyunjin menjawab kekhawatirannya.

“Iya, aku udah nggak kayak yang dulu, kan? Sampai harus mastiin ini beneran aku,” ucap Hyunjin, “ini emang udah bukan Hyunjin yang dulu Ji, maaf.”

Hati Jisung kembali teriris-iris melihat Hyunjin yang berusaha sekeras mungkin membangun tembok tinggi di antara mereka berdua, berusaha membuat Jisung menyerah jika yang ia inginkan adalah bertemu dengan Hwang Hyunjin dari kelas 12-4.

“Nggak, Jin, aku-”

“Aku pergi dulu Ji, ada urusan.”

“Hyunjin bentar, hei.” Jisung menahan lengannya kembali. “Aku nggak bermaksud gitu, aku nggak berharap apa-apa selain dapet waktu buat ngobrol sama kamu.”

Jika Jisung sempat berpikir bahwa Hyunjin sudah menyadari keberadaan Jisung sejak ia datang dan juga sibuk berkontemplasi sama seperti dirinya, maka Jisung bisa memercayai asumsi itu sekarang. Sekarang, saat Hyunjin menatapnya dengan kaca-kaca air yang memburamkan pandangannya.

Dengan suara yang hampir pecah, Hyunjin berkata, “apa yang bisa diobrolin, Ji? Kamu nggak lihat aku kayak apa? Aku kelihatan kayak sampah, aku merasa kayak sampah. Aku bukan temenmu di SMA yang jadi idola dan rutin ikut olimpiade, aku bukan-”

“Hyunjin.”

“Aku, aku ….” Hyunjin bergetar, Jisung bisa merasakannya dari genggaman tangan yang masih ia eratkan. “Aku udah kayak mesin rusak, Ji, fisik maupun mental. Aku cuma kesini karena lagi bingung harus kemana, aku nggak layak kamu ajak ngobrol jadi tolong-”

“Hei, nggak ada yang layak atau nggak layak. Aku cuma mau ngobrol biasa, sebagai temen lama, oke?” Jisung melonggarkan cengkeramannya, membiarkan Hyunjin menunduk dalam sambil menahan isak yang hampir pecah. “Dan jangan bilang kamu kayak sampah. Kamu Hyunjin, temenku.”

Intonasi Jisung memelan. Hyunjin mendongak saat Jisung selesai bicara dan yang ingin Jisung lakukan hanyalah menghapus titik-titik air di bawah kelopak matanya.

“Aku kangen kamu, Hyunjin. Apa kamu nggak kangen aku?”

 


 

Pinggiran kota Bucheon sore ini sejuk seperti biasa. Jisung meninggalkan kendaraannya di area reuni yang masih ramai untuk berjalan beriringan bersama Hyunjin di sepanjang trotoar dan berhenti pada sebuah kafe minimalis bercat gelap namun dengan nuansa menenangkan. Tulisan ‘Izzo Coffee’ di atas pintunya memaksa Jisung mengingat-ingat harga menunya--seingatnya ia pernah mampir sekali dua kali--hingga memutuskan bahwa kantung mereka rasa-rasanya tidak akan terkuras untuk secangkir latte di tempat ini.

Dua laki-laki yang baru menginjak kepala dua itu belum banyak bertukar kalimat lagi sejak pertanyaan konyol Jisung disambut dengan anggukan kecil oleh Hyunjin sebagai tanda setuju untuk mengobrol di tempat yang lebih kondusif, namun gestur mereka kompak untuk memilih tempat duduk di ujung ruang, dekat dengan jendela yang tidak terlalu besar namun cukup sebagai jalan masuk sisa-sisa cahaya matahari senja.

Musim semi masih dingin dan Hyunjin masih menyebut green tea latte sebagai pesanannya. Jisung dengan segala refleksnya memesan secangkir amerikano panas, hirau pada respons kecil yang diberikan Hyunjin atas preferensi mereka yang belum benar-benar berubah.

“Kenapa masih suka yang pahit-pahit?” tanya Hyunjin dengan suara yang jauh lebih lembut dan merdu. Nada itu mengalun dengan nyaman di rungu Jisung. “Apa hidupmu kurang pahit?”

Jisung tergelak. Hyunjin ikut terkekeh meski masih canggung. Jisung menerima kecanggungan itu dengan tangan terbuka.

“Hidupku manis-manis aja sih, kayaknya, apalagi bisa ketemu kamu hari ini,” tutur mulut licin Jisung lagi.

Hyunjin tidak merespons dengan verbal.

Ketika cangkir minuman dihidangkan, kedua pemuda itu dengan cepat menyeruput minuman masing-masing seolah dahaga mereka telah ditahan sejak berjuta-juta jam yang lalu. Jisung tidak ingin keheningan di antara mereka membuat atmosfer kembali dingin. Ia hendak memulai dialog dengan basa-basi lain namun Hyunjin seperti menangkap sinyalnya dengan lebih cepat.

“Kamu tadi udah tau ada aku sejak aku dateng?”

Jisung menelan kopinya dengan sedikit lebih banyak usaha. “Iya, maaf aku nggak langsung nyapa. Aku bingung aja soalnya kita udah lama banget … kamu tahu lah, kita nggak pernah kontakan lagi.”

Hyunjin akhirnya meletakkan cangkir panasnya. Dua manik itu masih sibuk berlarian kesana kemari, sekuat tenaga menghindar dari tatapan penuh tanda tanya milik Jisung. Bagaimanapun, Hyunjin cukup kooperatif untuk diajak bicara dan itu sudah lebih dari cukup.

“Aku sebenernya nggak sama sekali berniat buat dateng. Maksudku, kamu lihat sendiri keadaanku kayak gini,” Hyunjin terkekeh dengan sirat sendu di helaan napasnya, “tapi aku lagi nggak tau mau kemana … nggak tau juga aku tadi berharap apaan sampai berani-beraninya dateng ke reuni.”

“Ya emang kenapa, sih? Kamu kan juga bagian dari kita, dan jelas-jelas diundang. Nggak ada yang salah dengan kamu dateng, Hyunjin.”

“Nggak ada yang salah, kalau aja-” Hyunjin menghela lagi. Jisung hanya berharap ia tidak tercekik napasnya sendiri. “Kalau aja aku masih Hyunjin yang dulu. Kalau aja aku nggak compang-camping kayak gini, kayak orang nggak bernyawa. Jangan bilang aku kelihatan oke-oke aja karena aku sendiri ngerasa tatapan orang-orang ke aku, Ji.”

Kalimat terpanjang Hyunjin sudah dilanturkan. Jisung memandang netranya yang penuh keraguan, sibuk menimbang apakah racauan barusan perlu dilanjutkan atau tidak. Jisung pikir keraguan Hyunjin wajar untuk muncul mengingat mereka baru saja kembali berbicara setelah empat tahun tidak bertukar kabar sama sekali.

Jisung menghormati semua kontemplasi Hyunjin, dan spasi yang penuh kebebasan itu membuat Hyunjin berani melangkah lebih jauh lagi.

“Beberapa ngeliatin aku dengan aneh, sisanya bahkan nggak sadar aku dateng. Ya, aku nggak mau nyalahin mereka juga,” lanjut Hyunjin, “apa, sih, yang dipikirin orang-orang tentang masa depan murid berprestasi yang jago di banyak bidang waktu SMA? Yang jelas ekspektasi mereka jauh dari keadaanku sekarang.”

Jisung masih terdiam. Hyunjin sudah membalas tatapan matanya. Kerapuhan yang tidak familiar bagi Jisung tampak dengan jelas ada di sana.

“Jujur, Han Jisung. Kamu juga punya ekspektasi lebih kan tentang aku?”

Kesadaran Jisung bahwa ia sedang berada di dalam dialog yang tidak bisa dianggap sepele baru kembali saat bibir Hyunjin berhenti bergerak. Tiba-tiba, tenggorokan Jisung terasa kering. Ada terlalu banyak kebohongan yang ingin ia sampaikan untuk memperbaiki suasana hati Hyunjin, tapi ada juga kejujuran-kejujuran kecil yang jika ditimbang justru punya peluang dampak baik yang lebih besar lagi.

Jisung tidak bisa memilih antara keduanya.

“Udah kuduga kok, jadi kamu nggak perlu merasa bersalah.”

Dan Hyunjin membacanya dengan terlampau baik.

Jemari Jisung kaku. Ia menjadi orang yang menunduk sekarang dengan lidah kelu yang terasa seperti dikurung penjara mulutnya sendiri. Bohong jika Jisung bilang ia tidak membayangkan Hyunjin datang dengan sejuta pesona dan prestasi baru untuk dibanggakan, dengan nama almamater yang mungkin probabilitas diterimanya siswa SMA pinggiran seperti mereka hanya satu banding sekian juta. Jisung bisa menggambar visualisasi Hyunjin dengan senyum lebar dan intonasi bicara yang tetap ramah, disapa oleh setiap manusia yang menganggapnya sebagai murid unggulan di masa mereka SMA.

Namun jika benar bahwa benaknya sendiri dipenuhi ekspektasi tinggi mengenai Hyunjin, lantas apa namanya perasaan menggelitik yang masih menyambangi perutnya ini kendati kedatangan Hyunjin ke acara reuni jauh dari yang diimpi-impikan? Disebut apakah kehangatan yang menyergap dadanya seketika saat ia bisa melihat bibir Hyunjin masih mampu membentuk senyum, saat suaranya tidak parau dan saat maniknya menatap balik Jisung seperti dua orang yang dihubungkan benang merah?

Jisung mungkin masih belum tahu tentang itu, tapi yang ia tahu adalah bahwa dunia tidak berhak membuat Hyunjin merasa seperti ini.

“Ji,” panggil Hyunjin di tengah lamunan Jisung, “nyatanya aku emang udah bukan siapa-siapa dan kamu harus terima itu.”

Di dalam rusuknya, Jisung kembali merasakan sesuatu yang melebur, terenyuh, terendam dalam pilu yang ingin segera Jisung buang jauh-jauh.

“Kenapa? Kenapa kamu mikir gitu?” Jisung perlahan merayap, menyusur ke sisa-sisa jalan yang ada di dalam sobekan peta yang ia miliki demi menggapai kepercayaan dalam diri Hyunjin. Kepercayaan pada dirinya sendiri. “Kalau kamu bilang kamu bukan siapa-siapa, apa kamu yakin orang lain juga mikir gitu?”

Hyunjin tergelak, “kamu nggak lihat gimana orang-orang ngelihat aku? Nggak usah jauh-jauh Ji, tetanggaku, keluarga besarku, semuanya lihat aku dan bilang aku produk gagal. Apa lagi yang perlu aku percaya?”

Entah kenapa, Jisung mampu mengukir sebuah senyum tipis di atas bibirnya yang kering saat Hyunjin menaikkan intonasinya.

“Bener kata kamu, nggak usah jauh-jauh,” tuturnya, “orang yang lagi di hadapan kamu? Apa kamu nggak mau percaya pendapat dia?”

Emosi Hyunjin seperti sudah naik beberapa tingkat semenit yang lalu saat Jisung tidak bisa memberinya pegangan lain untuk percaya. Jisung yakin dirinya bukan penyair yang punya banyak kosakata indah nan kaya makna, tapi dengan menatap manik Hyunjin--dan mungkin menggenggam tangannya secara tidak sadar--sebuah dorongan besar menuntunnya untuk mengembalikan cahaya di sorot mata sang sahabat.

“Jangan jauh-jauh kan, kamu bilang?” lanjut Jisung, “Mama gimana kabarnya? Orang-orang di dalam rumah kamu, pernah bilang kamu nggak berguna?”

Manik Hyunjin melebar setelah kalimat itu. Jisung tidak tahu apa yang terjadi selama empat tahun ke belakang, tapi ia terlampau mengenal Hyunjin untuk tidak menyebut satu nama yang selalu menjadi pondasi utama Hyunjin untuk terus berjuang.

Dan sepertinya Jisung tidak salah langkah.

“Mama ….” Hyunjin menunduk perlahan. Bahunya turun, emosinya reda. Jisung masih selalu terkesan akan sebanyak apa pengaruh baik yang dapat dibawa sang ibu terhadapnya. “Mama, beliau lagi nggak sehat, Ji.”

Secara mendadak, arah bicara berubah. Kemudi sudah diserahkan Jisung kembali ke Hyunjin dan hal itu bukan sesuatu untuk disesali. Jisung bersedia pergi kemana saja asal bukan ke tempat dimana Hyunjin merasa kecil dan tidak ada nilainya sebagai seorang manusia.

“Mama sakit?” tanya Jisung. Ia juga tidak tahu sudah berapa lama, tapi rupanya jemari Hyunjin ikut mencari kehangatan di sela-sela genggaman mereka di atas meja.

Hyunjin menghela napas berat. “Kamu pasti masih inget ayahku. Habis aku lulus SMA, beliau beneran pergi sama pacar barunya. Mama masih sayang sama Ayah, sayang banget,” lirih Hyunjin, “berat buat Mama lihat Ayah pergi semudah itu. Aku harus gantian jaga kedai sama Mama, sampai setahun kemudian Mama sakit. Aku … harus cuti kuliah, sampai drop-out karena udah nggak ada uang buat bayar.”

Cukup banyak skenario yang berusaha dimainkan oleh Jisung sejak pertama ia melayangkan pandang pada Hyunjin hari ini, namun ceritanya masih terdengar seperti hal yang tidak pernah Jisung bayangkan. Ia mengeratkan genggaman tangan mereka saat bahu Hyunjin semakin turun.

“Kamu kuat banget, Jin.”

Hyunjin mendongak. “Makasih, udah lama aku nggak denger itu.”

Dan dengan itu, konversasi mereka terbuka ke pintu-pintu lain yang belum dijamah siapapun sebelumnya. Ketakutan dan kerapuhan terbesar Hyunjin, impiannya yang dianggap tidak akan pernah tercapai, rasa kesepian yang menggerogotinya selama beberapa tahun lamanya. Jisung cukup yakin Hyunjin belum pernah seterbuka ini, dan meskipun kesedihan ikut mengikis kenyamanan hatinya, Jisung ingin berterimakasih pada Hyunjin dan secercah sinar senja yang menyebar percik kehangatan kembali pada jiwanya yang sudah mendingin.

“Hyunjin, kamu harus tau kalau kamu itu segalanya buat Mama,” kata Jisung setelah kisah-kisah Hyunjin selesai dibongkar. Cangkir mereka sudah nyaris kosong. “Kalau kamu nyerah, gimana coba Mama? Mama pasti bersyukur banget masih punya kamu setelah semua hal yang terjadi sama kalian.”

Helaan napas Hyunjin menjadi jauh lebih ringan sekarang. Punggungnya sudah bersandar pada kursi dan ekspresinya tidak sekaku satu jam yang lalu. Sepertinya Jisung mengada-ngada, tapi ia bisa melihat Hyunjin sebagai kelopak bunga matahari yang perlahan mekar kembali setelah sekian lama layu.

“Kamu cuma perlu … orang yang tepat aja. Kamu nggak perlu nyenengin semua orang,” lanjut Jisung.

Hyunjin tersenyum tipis. Ia menenggak sisa latte yang sudah tidak hangat lagi. “Ada benernya. Jadi, Mama itu orang yang tepat buat aku.”

Jisung menggigit bibirnya. “Sebenernya, bisa aja ada lagi … orang yang tepat, bahkan mungkin orang yang nganggep kamu sebagai dunianya.”

Kekehan Hyunjin mengudara, kali ini bukan dengan nada sarkastis lagi. Ia benar-benar tertawa meski volumenya masih kalah dengan suara pendingin ruangan kafe yang sepertinya mulai rusak. Mungkin senyuman lebar Jisung bahkan sudah mencapai telinga.

“Kata-katamu makin puitis aja,” gelak Hyunjin.

“Iya lah, belajar dari ahlinya.”

“Ahlinya? Aku maksud kamu?” Hyunjin mencubit lengan Jisung pelan. “Ngeledek ya?”

“Aduh, nggak ngeledek, Hyunjin!”

Tawa mereka kini beradu dan ketika Jisung menatap, Hyunjin sepenuhnya mekar kembali, berteman dengan sinar matahari yang masih hangat di pucuk kepalanya.

 


 

Setelah matahari terbenam, Hyunjin setuju untuk diantar pulang oleh Jisung dengan sepeda kayuhnya yang Jisung yakinkan cukup kuat untuk menahan beban mereka berdua.

Tikungan terakhir ke rumah Hyunjin disambut oleh jalan setapak dengan ubin berbatu yang menanjak, membuat keduanya memilih untuk turun dan berjalan sembari Jisung menuntun sepedanya. (Hyunjin sudah bilang Jisung bisa langsung pulang saja dari situ, tapi tentu saja pemuda itu menolak.)

Atmosfer diantara mereka sudah bergeser jauh dari kata dingin dan canggung. Guyonan kuno mengalir dengan mudah di lidah masing-masing, diiringi dengan tawa rendah yang terkadang terlalu berisik hingga Hyunjin harus mengingatkan Jisung karena daerah tempat tinggalnya cukup sensitif dengan kebisingan. Jisung merasakan kehangatan, terutama saat ia menoleh dan mendapati Hyunjin bersinar di bawah cahaya rembulan.

“Udah sampai,” ucap Hyunjin saat mereka berhenti di depan petak bangunan dengan pintu besi yang berkarat. Jisung tidak bisa melihat lebih banyak di balik tanaman menjalar dan lumut yang sepertinya sulit dibersihkan, tapi ia cukup bisa membayangkan senyum Mama Hwang yang selalu menunggu Hyunjin dengan tangan terbuka di dalam sana. “Makasih … buat hari ini, Jisung.”

Fokus Jisung yang sempat buyar karena terlalu lama melongok ke belakang pundak Hyunjin langsung terpusat kembali ke pemuda berparas indah di hadapan ketika suara merdu membelai indra pendengarannya.

Sekali lagi, Hyunjin tampak bersinar.

“Aku masuk dulu.”

Saking bersinarnya, Jisung sampai harus kehilangan waktu dan momen untuk membalas perkataan Hyunjin barusan. Mungkin ia terlalu lama menatap Hyunjin hingga pemuda itu memutuskan untuk menutup percakapan panjang mereka hari ini dengan sebuah pamit yang sederhana. Jisung tidak bisa menyalahkannya, tapi lidah Jisung juga masih kelu untuk berkata-kata lagi.

Meskipun punggung Hyunjin perlahan menjauh, Jisung masih bisa merasakan kehangatan yang berangsur kembali terpancar darinya. Jisung bisa merasakan sorot mata teduh yang kembali familiar, tidak asing seperti tatapan tajam yang Hyunjin berikan siang tadi padanya. Ada sebagian dari diri Jisung yang merasa bangga karena mampu membawa Hyunjin untuk melangkahi tembok tinggi yang sudah lama menjadi pembatas di antara mereka, namun hal terbesar yang membuat Jisung ikut merasa lega adalah bahwa Hyunjin tahu betapa berharganya dirinya.

Bukan berharga hanya untuk Jisung, bukan pula untuk Mama seorang. Hyunjin berharga bagi dunia ini hingga Jisung tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Hyunjin tidak mampu bertahan. Bagaimana jika Hyunjin lebih memilih untuk menyerah di tengah perjalanan yang begitu panjang dan terjal.

Berdiri di tengah keheningan membuat Jisung dihampiri emosi yang meluap-luap seperti banjir bandang di tengah kota. Lidahnya masih sulit membentuk kata, maka yang ia lakukan untuk mengungkapkannya adalah berlari dan menahan lengan Hyunjin sekuat tenaga, menariknya ke dalam sebuah pelukan terburu yang terasa sangat tepat untuk dilakukan.

Hyunjin terkejut, Jisung bisa merasakannya. Namun ia tidak berontak dan sungguh, hanya itu yang Jisung butuhkan saat ini. Jisung bahkan tidak menyadari bahwa bahu Hyunjin sudah basah akan air matanya.

“Ji ….”

“Hyunjin,” isak Jisung dengan ujung kaki yang berusaha keras menahan jinjit agar pelukan eratnya tidak terlepas, “makasih, makasih banyak karena udah bertahan.”

Kata-kata Jisung terbatas. Ia harus bersyukur karena Hyunjin dapat memakluminya. Pelukan yang membuatnya terkejut kini dibalas Hyunjin dengan penuh kelegaan, seolah mereka tidak berpisah selama beberapa tahun dan masih rutin melakukan hal ini setiap hari. Jisung masih tersedu, tapi senyum tipis Hyunjin mengobati segala pilu yang menghajar Jisung hari ini.

“Iya, Ji, iya … udah, kok kamu malahan yang nangis, haha.”

Jisung bisa bilang Hyunjin terlampau hebat karena tidak ikut menangis ketika dirinya justru tersedu-sedu dan membasahi pakaian pemuda itu. Ketika pelukan dilepas, Jisung masih bisa menyaksikan wajah Hyunjin yang berseri.

“Sini aku pukpuk.” Hyunjin mengulurkan tangannya dengan mudah untuk mengelus rambut Jisung. “Kamu masih anak kecil ya, ternyata.”

Jisung lantas tergelak di tengah isak yang mereda, “anak kecil apanya? Ini cuma jalannya yang miring, makanya aku kelihatan pendek.”

Hyunjin melontarkan tawa paling tulus yang pernah Jisung dengar saat aroma candaan di antara mereka kembali terbangun.

“Iya udah, nggak usah ngambek. Besok aku traktir cheesecake, deh, mau?”

Tawaran Hyunjin secara tiba-tiba diungkap. Jisung yang masih sibuk menghapus air matanya pun mendadak membeku. Tatapannya lebar terpaku pada Hyunjin.

“Hah? Maksudnya? Kamu beneran?”

“Lah, beneran dong. Aku masih mampu beliin kamu cheesecake, kok.”

Jisung menggeleng cepat, sekaligus untuk menyadarkan diri jika saja ia salah dengar. “Nggak gitu! Maksudku … kamu, beneran? Mau ketemu aku lagi gitu? Yang barusan, ajakan buat ketemu lagi, kan?”

Wajah Jisung mungkin terlihat begitu konyol saat ini hingga Hyunjin susah payah menahan tawa gelinya.

“Ya kalau kamu mau aja, sih,” goda Hyunjin.

“Hah, ya mau dong!” seru Jisung, “eh maaf … kelepasan, hehe.”

Cengiran Jisung melebar dan diikuti oleh sang lawan bicara. Setelah puas menepuk pucuk kepala Jisung, dialog mereka akhirnya benar-benar selesai dengan Hyunjin yang memberikan nomor ponselnya yang baru. Hyunjin sempat berpesan pada Jisung untuk membuangnya jika tidak ingin bertemu lagi, membuat Jisung sontak berteriak, “mana mungkin!”

Ketika punggung Hyunjin menghilang di balik pintu dan ketika Jisung memutar balik sepedanya untuk pulang, langit yang penuh bintang serasa ikut tersenyum menyaksikan dua insan yang saling menguatkan satu sama lain di antara beribu masalah hidup yang menghujam tanpa henti.

Sedikit banyak Jisung tahu, malam itu Hyunjin mengecup dahi Mama dan berbisik padanya,

“Ma, kayaknya aku punya alasan buat bertahan lebih lama lagi.”

Notes:

makasih udah baca! kudos and comments are very much appreciated! :D