Work Text:
Butuh keberanian yang amat besar untuk mengungkapkan perasaan yang telah lama dipendam. Apalagi untuk seseorang sepemalu Fushiguro Megumi. Tidak ada yang menyangka bila lelaki penghuni tetap perpustakaan di jam istirahat ini sudah memiliki seorang pujaan hati.
Selain untuk membaca buku, ia selalu duduk di kursi dekat pintu untuk mencuri pandang pada seseorang bernama Ryomen Sukuna--yang selalu lewat setiap akan pergi ke aula olahraga. Tapi Megumi tidak berani melakukan apapun. Ia tidak berani untuk melangkah lebih jauh dan mendekati kakak kelasnya itu. Ada rasa rendah diri yang selalu membayangi pikiran setiap Megumi ingin melakukannya.
Sampai kedua teman sejak kecilnya menatap prihatin. Nobara dan Yuuji menahan Megumi di kelas, melarangnya pergi ke perpustakaan khusus untuk hari ini.
"Fushiguro, kau yakin tidak ingin mengungkapkan perasaanmu?" tanya gadis berambut sebahu penasaran. Ia menopang dagu di bangku belakang Megumi.
Yuuji duduk di bangku seberang, menghadap teman pemalunya. Sesekali mengangguk-angguk agar dianggap ikut dalam pembicaraan. "Benar, Fushiguro. Kau tidak boleh hanya diam di perpustakaan."
Megumi hanya diam selama kedua temannya itu bertingkah seolah sedang menginterogasi penjahat.
"Kau tahu siapa orang yang kau suka? Kapten tim basket, idola satu sekolah, Ryomen Sukuna. Kalau kau tidak bertindak sekarang, Ryomen-san akan diambil orang," bentak Nobara sambil memukul meja. Beberapa murid di kelas itu sampai menoleh ke arah mereka karena terkejut.
"Maaf," cicit Nobara lalu kembali tenang.
"Fushiguro, maksudku cepat katakan perasaanmu. Jangan pedulikan rasa malu jika kau ingin memiliki kekasih seperti Ryomen Sukuna."
Megumi masih terdiam. Ia menatap Yuuji dan Nobara bergantian. Ragu. Benar-benar ragu.
"Apa akan baik-baik saja bila aku menyatakan perasaan padanya?"
Nobara menepuk dahi, gemas dengan sifat pemalu Megumi yang mulai kambuh. "Tentu saja bukan masalah. Lagipula Ryomen belum punya pacar."
"Kita berdua akan membantumu," cetus Yuuji.
"Benar. Nanti sore, setelah latihan basket selesai, nyatakan perasaanmu," timpal Nobara.
Seketika, sepasang manik kebiruan membulat sempurna. Terkejut dengan jadwal yang diputuskan Kugisaki Nobara.
"Apa? Kapan lagi kau mau melakukannya? Aku sudah lelah memergokimu menunggu Ryomen Sukuna lewat di depan perpustakaan."
.
.
.
Sore ini, Nobara dan Yuuji benar-benar menyeret Megumi ke aula olahraga. Tidak lupa membekali lelaki pemalu itu dengan sebotol minuman pengganti ion dan sticky note yang sudah berisi pesan penyemangat.
Kedua lutut Megumi benar-benar gemetar ketika harus berdiri di sisi pintu aula. Di dalam sana, anggota klub basket sedang saling bercengkrama. Mungkin saja latihan mereka sudah selesai. Megumi mengelus dadanya sendiri, berulang kali menggumamkan kata-kata penenang.
"Tidak apa-apa," sebut lelaki itu, "aku tidak akan mati hanya karena memberikan minuman pada kakak kelas."
Beberapa detik kemudian Megumi bergumam lagi, "Tapi aku mungkin saja mati kalau harus mengungkapkan perasaan pada--,"
"Ada yang bisa kubantu?" celetuk seseorang--entah siapa.
Megumi tersentak dan mendongak, melihat sosok yang sedang berdiri di hadapannya. Rambutnya berwarna merah muda dan sepasang manik merahnya tengah menatap penuh tanya.
Ryomen Sukuna. Dia Ryomen Sukuna.
Refleks, Megumi langsung menyodorkan botol minuman di tangannya ke depan lelaki itu. Bibirnya dengan gemetar terbuka dan merapal kata-kata yang sudah disusun dengan volume pelan.
"A-aku sudah menyukaimu sejak lama, Ryomen-san. Jadi a-aku ingin memberikanmu minuman ini... lalu pergi. Aku t-tidak akan mengganggu waktu latihanmu. Aku p-permisi."
Sangat berbeda. Itu bukan kalimat romantis yang sudah Megumi rencanakan bersama Nobara dan Yuuji. Megumi terlalu gugup untuk berhadapan dengan Ryomen Sukuna, dengan orang yang ia sukai. Terlalu gugup sampai ingin tenggelam dalam lumpur hisap.
Tapi Ryomen Sukuna sudah menariknya sebelum masuk ke dalam kubangan. Tangannya ditahan erat-erat. Megumi menahan napas selama beberapa detik. Ia yakin sedang menjadi tontonan oleh anggota klub basket di dalam aula.
Entah Sukuna baru saja membaca pikirannya atau tidak, tapi sekarang lelaki itu malah menyeretnya bergeser dari depan pintu. Tidak ada yang bisa melihat mereka sekarang. Ada pun mungkin hanya Yuuji dan Nobara yang bersembunyi di balik semak-semak.
Ryomen Sukuna mencondongkan badan, berbisik di telinga Megumi agar tidak ada yang bisa mendengar obrolan mereka. "Kenapa buru-buru ingin pergi? Kau tidak ingin mendengar jawabanku?"
Hanya dua kalimat. Tapi seluruh wajah Megumi sudah merah dibuatnya. Ia melirik ke sana kemari, mencari ide untuk menjawab.
"Itu-- aku-- aku hanya--," ucap Megumi terbata-bata dan jauh dari kata jelas. Ia pusing bukan main. Apa yang biasanya orang-orang katakan dalam situasi ini? Apa yang mungkin Nobara lakukan? Apa yang mungkin Yuuji lakukan bila menjadi dirinya?
Apa Megumi harus lari saja? Atau diam di sana dan pura-pura pingsan?
"Kau adik kelas, kan?" tanya Sukuna lagi sembari meneliti tanda pengenal di seragam, "Fushiguro Megumi? Itu namamu?"
Megumi mengangguk cepat sebagai balasan. Astaga, pasti dia terlihat sangat menyedihkan sekarang. Tapi Sukuna merespons anggukan itu dengan senyuman. Tipis, namun sukses menggoyahkan hati.
Anggap saja Megumi sangat mengagumi sosoknya hingga cahaya surga dan kelap-kelip bintang seolah tengah menyelimuti sosok Ryomen Sukuna, membuat yang lebih muda enggan berkedip.
"Kalau kau benar-benar sudah menyukaiku sejak lama, maka buatlah aku menyukaimu juga," ucap Sukuna sambil melepas sticky note lalu mengembalikan minuman pengganti ion itu pada Megumi.
"Kurasa kau lebih membutuhkannya. Tubuhmu berkeringat jauh lebih banyak dariku," gumam sang ketua klub basket kemudian mengantongi kertas ucapan pemberian Megumi.
Sebelum berpisah, Sukuna sempat mengusap puncak kepala lelaki itu-- sambil memamerkan senyum maut lagi. Sejenak pikiran Megumi benar-benar tidak berfungsi. Ia bahkan tidak sempat melihat ekspresi Ryomen Sukuna sebelum memasuki aula kembali.
Sembari mengusap luar kantung celana, lengkung bibir Sukuna semakin kentara dan pipinya merona senang.
.
.
.
"Apa katanya?" Nobara langsung berhambur ketika Megumi sudah kembali ke area loker. Sebelum lelaki itu menjawab, matanya melirik botol minuman pengganti ion di tangan Megumi.
"Bukankah seharusnya Ryomen menerima minuman ini? Kenapa ada di tanganmu? Dia menolakmu? Tapi wajahmu tampak bahagia. Apa yang terjadi?"
Yuuji yang datang belakangan menepuk pundak Nobara, mencoba menenangkan gadis satu-satunya dalam trio mereka. Dia terlalu antusias. Padahal bukan orang yang mengungkapkan perasaan. "Kugisaki, biarkan Fushiguro bicara," ucap Yuuji.
Tapi Megumi tidak bicara apa-apa. Semburat merah yang sudah ada sejak awal bertemu dengan Sukuna masih betah tinggal di kedua pipinya. Tubuh lelaki itu terasa panas dan perutnya mual. Megumi tidak tahu bertemu dengan Sukuna bisa menciptakan efek separah ini.
"Tenang, Fushiguro! Bernapas dengan benar," panik Yuuji sekarang ganti menepuk-nepuk pundak Megumi.
Nobara yang semula biasa saja, juga ikut khawatir. Ia meraih tangan Megumi dan mengusapnya pelan. "Apa yang bisa kami bantu? Cepat katakan, Fushiguro!"
Megumi menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Sudah kesekian kali ia berusaha untuk menenangkan diri tapi rasa gugupnya sangat sulit hilang. Tapi melihat kepanikan dua temannya, degup jantung Megumi berangsur-angsur normal. Ia harus tenang untuk melaporkan kerusakan yang Ryomen Sukuna lakukan pada pikirannya.
"Ryomen-san bilang aku harus membuatnya menyukaiku."
Keheningan sesaat melingkupi mereka bertiga. Yuuji dan Nobara saling bertukar pandang dengan bingung.
"Maksudmu, Ryomen tidak menolakmu tapi malah berkata seperti itu?" ulang Nobara untuk memastikan bahwa pendengarannya baik-baik saja.
Sementara Yuuji menggeleng pelan di tempat. "Aku belum pernah mendengar jawaban yang seperti itu," gumamnya.
"Lalu aku harus apa? Kugisaki, kau yang menyarankanku untuk melakukan semua ini. Kau harus memberiku ide," desak Megumi dengan raut frustasi. Dibandingkan sebuah jawaban, ucapan Sukuna tadi lebih terdengar seperti tantangan. Dan Megumi tidak memiliki rencana apapun dalam memenuhinya.
"Tenang saja, Fushiguro," cetus Nobara sambil menjentikkan jari, "aku ahli dalam urusan cinta." Kemudian gadis itu meraih pundak Yuuji dan merangkulnya, "Dan Itadori adalah asisten yang baik."
"Ay ay ay, kapten!"
.
.
.
Keesokan hari, Megumi menjalankan rencana pertama. Nobara bilang membuatkan bento untuk seseorang adalah sesuatu yang sangat menyentuh.
"Ryomen Sukuna pasti akan langsung luluh," ucapnya dengan nada yakin.
Lelaki itu menarik napas dalam-dalam sebelum memberanikan diri mengetuk pintu kelas atas. Yang menyambutnya adalah seseorang lelaki berambut kelabu panjang dengan tatapan bertanya-tanya. Tanpa menunggu Megumi bicara, murid kelas atas itu sudah menoleh ke belakang, mengarahkan pandangan pada sosok berambut merah muda.
"Kau ingin mencari siapa?" tanyanya kemudian, membuat Megumi tersentak kaget.
"A-apa Ryomen-san ada di dalam?" Harusnya Megumi tidak perlu bertanya. Sudah jelas-jelas orang yang ia kagumi berada di dalam kelas. Tadi ia sempat mengintip sebelum kakak kelas di depan pintu ini bertanya.
"Sukuna-kun, ada yang mencarimu."
Jantung Megumi berdegup lebih cepat ketika lelaki ini berteriak memanggil Sukuna. Sungguh sangat mendebarkan. Tangannya memegang bento erat-erat untuk melampiaskan rasa gugup. Jika ingin membuat Ryomen Sukuna menyukainya, Megumi harus terbiasa akan hal ini.
Akan debaran jantung. Akan rasa gugup. Akan suara rendah yang memanggil namanya.
"Fushiguro Megumi?"
Astaga, Megumi tidak sanggup mendongak. Tapi akan sangat tidak sopan untuk bicara tanpa melihat lawan. Jadi lelaki itu mengangkat kepala, mempertemukan pandangan dengan sepasang manik merah menawan yang selalu ia pikirkan setiap saat.
"Ada apa mencariku?" tanya Sukuna walaupun ia sudah bisa melirik kotak bento di tangan Megumi.
Dengan terbata lelaki itu memberi jawaban, "Aku i-ingin memberimu bento."
Megumi mengulurkan bawaannya sambil menunduk. Ia khawatir bila Sukuna akan menolak makanan susah payah dibuatnya pagi ini.
"Ah, Uraume sudah membuatkanku bento."
Dan benar saja.
Megumi langsung menurunkan uluran bento-nya. Nobara bilang Ryomen Sukuna belum memiliki pacar? Lalu siapa Uraume? Apa Megumi baru saja mengganggu hubungan orang? Ia merasa sangat bersalah sekarang.
Sukuna menoleh ke dalam kelas, melihat angka pada jam dinding di atas papan tulis. "Jam istirahat makan siang masih lama. Apa kau mau masuk dan makan bersamaku?"
Tunggu. Respons macam apa ini? Kalau sudah memiliki seorang kekasih, mengapa Sukuna masih mengajaknya makan bersama?
"T-tidak usah. Aku tidak ingin mengganggu hubungan Ryomen-san dan Uraume-san. Aku p-permisi," ujar Megumi sebelum beranjak dari depan kelas.
Tapi lagi-lagi Sukuna menahan tangannya. Seperti tempo hari.
"Uraume itu tukang masak di rumahku."
Penjelasan singkat yang membuat Megumi menghentikan langkah. Perlahan-lahan Megumi berbalik menghadap Sukuna lagi. Ia menatap mata lelaki itu, mencari sebuah kebohongan yang tidak ada.
"Kau mengira aku berpacaran dengan Uraume?"
Megumi menelan ludah, malu dan gugup. Ia ingin pura-pura mati saja saking malunya. "I-ya," cicit lelaki itu sebagai jawaban.
Sukuna terkekeh pelan, menarik tangan Megumi untuk masuk ke dalam kelas. Tanpa menyinggung pembicaraan tadi, ia menyuruh Megumi duduk di sebuah bangku. Sukuna menempati kursi di depannya dan berhadapan dengan sang adik kelas.
"Buka bento-mu," suruhnya sembari membuka pemberian Uraume.
Megumi membuka miliknya, membiarkan Sukuna melihat nasi kepal, tomat ceri, dan telur gulung yang tertata rapi di dalam kotak. Jauh lebih sederhana dari masakan Uraume yang rata-rata berupa tumisan. Namun apa yang Megumi bawa sudah mampu membuat senyum bertengger di bibir Sukuna.
"Kau membuatnya sendiri?"
Anggukan pelan adalah jawaban yang diberikan Megumi. Maniknya tertuju ke bawah, masih menatap bento yang ia bawa dengan rendah diri. Kenapa Megumi tidak bisa mengatakan apapun? Ayo bicara sesuatu!
"Uraume sudah memasak untukku sejak kecil," cerita Sukuna sembari menyumpit telur gulung dari bento Megumi, "aku tumbuh dengan makanan ini."
Manik kebiruan mengikuti pergerakan sumpit Sukuna. Ia memakan sepotong telur gulung itu dengan lahap sembari menyodorkan bento Uraume pada Megumi. "Cobalah," ucap Sukuna.
"I-itadakimasu," sebut Megumi pelan kemudian menyumpit sepotong ayam bumbu dan melahapnya.
Enak.
Saat menunduk ke bawah, Sukuna sudah menukar bento mereka. Megumi mendongak kembali dan menatap lelaki itu penuh tanya. Ia tersenyum lebar.
"Itadakimasu," ucapnya lalu menyumpit tomat ceri dan memasukkannya ke dalam mulut.
Megumi tidak tahu menyukai seorang Ryomen Sukuna akan selalu membuatnya terkejut. Bukankah harusnya ia yang sedang berusaha membuat Sukuna menyukainya? Mengapa malah Megumi yang jatuh semakin dalam pada pesona lelaki itu?
.
.
.
Setelah rencana pertama berhasil, Nobara semakin yakin bahwa ia adalah seorang ahli cinta. Walaupun Yuuji sebenarnya berpikir itu murni usaha Megumi. Temannya itu sangat lucu saat malu-malu. Yuuji juga yakin Nobara gemar melihat lelaki itu merah padam setelah bertemu dengan Sukuna. Karena Yuuji juga senang melihat Megumi jatuh cinta.
"Sekarang rencana kedua," cetus satu-satunya gadis dalam trio, "kau tahu musim gugur ini, klub basket akan bertanding, kan? Kalau mereka menang, maka sekolah akan maju ke turnamen musim semi."
Megumi mengangguk-angguk selama Nobara menjelaskan prolog rencana pendekatan ini.
"Tugasmu adalah menyemangati kapten. Bawa minuman dan handuk. Lalu kau harus mempersiapkan suaramu untuk berteriak." Suruhan Nobara bukanlah hal sulit, sampai ia berkata bahwa Megumi harus mempersiapkan suara.
"Teriak?" ulang lelaki itu sambil memasang raut tidak percaya.
Nobara mengangguk antusias. "Tentu saja. Ketika dia memegang bola, kau harus berteriak. Panggil namanya dan Ryomen Sukuna akan mencetak angka karena kau semangati."
Yuuji menggaruk rambutnya bingung, "Memangnya Ryomen-san akan tahu kalau Megumi yang teriak?"
Dengus jengah lolos dari bibir Nobara. Ia melayangkan tatapan tajam pada Itadori Yuuji yang kurang memiliki ide romantis. "Pokoknya teriakkan saja namanya. Ini pertama kalinya kau ikut menonton pertandingan resmi, kan, Fushiguro?"
Megumi mengangguk mengiyakan. Selama menjadi pengagum, belum pernah sekalipun ia menunjukkan perasaannya di depan umum.
"Tenang saja, Fushiguro. Aku dan Kugisaki akan menemanimu duduk di bangku penonton."
Megumi menghela napas. Gugup bercampur ragu. Nobara dan Yuuji memang menemaninya. Tapi keramaian di tribun penonton membuat nyali Megumi untuk berteriak semakin ciut.
"Fushiguro, aku jadi memikirkan kata-kata Itadori," gumam Nobara ketika mengambil tempat di antara pendukung sekolah.
Mereka saling berteriak, menyuarakan dukungan pada tim. Megumi melongok ke bawah, mencari Ryomen Sukuna di antara para pemain basket. Dia di sana, dengan seragam tanpa lengan berwarna hitam dengan garis merah. Megumi bisa melihatnya dengan jelas.
"Aku hanya harus memanggil namanya keras-keras, kan?"
Yuuji dan Nobara sontak menoleh ke arah Megumi, terkejut dengan tekad kuat yang tiba-tiba muncul dari dalam diri Megumi.
Lelaki itu tidak berteriak sepanjang permainan. Ia butuh waktu yang tepat. Saat Sukuna sedang memegang bola, kata Nobara tempo hari.
Manik kebiruan tak pernah lepas dari si rambut merah muda. Ia mengikuti setiap lari, memandangi ekspresi bersemangat yang ditunjukkan sang pujaan hati sebelum merebut bola dan berlari ke dekat ring.
"Ryomen-san, ganbare!" Dan Megumi berteriak, dengan suara terkencang yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya.
Lalu sebuah poin tercetak dari lemparan Sukuna.
Megumi bergeming. Diam sementara maniknya terus menatap sosok yang ia sukai--yang sedang melihat tribun seolah mencari seseorang. Lelaki itu berhenti saat menemukan Megumi, lalu tersenyum lebar.
Untuk sesaat, hanya sesaat, bolehkah ia merasa Sukuna mengenali suaranya?
.
.
.
Selepas pertandingan basket musim gugur, Megumi belum melakukan apa-apa lagi. Klub basket menang dan mendapat tiket untuk maju ke turnamen musim semi. Sukuna menjadi lebih sibuk latihan. Megumi tidak ingin merepotkan lelaki itu dengan afeksi-afeksi kecil. Jadi ia menjaga jarak, bahkan juga meminta Nobara dan Yuuji untuk berhenti membuat rencana.
Waktu berlalu hingga tahun baru. Megumi dan kedua temannya pergi ke kuil untuk berdoa. Pertama, agar kesehatan selalu menyertai mereka. Kedua, agar ujian sekolah mereka tahun ini mendapat nilai bagus. Dan terakhir, khusus untuk Megumi, ia berdoa semoga klub basket dapat menjuarai turnamen musim semi.
Sebelum kembali dari kuil, Megumi membeli sebuah jimat keberuntungan. Tanpa disuruh Nobara. Ia ingin menghadiahkan benda kecil itu atas inisiatif sendiri di awal masuk sekolah nanti.
Udara masih terasa dingin ketika Megumi berjalan menuju aula olahraga. Ia pergi pagi buta, karena Sukuna memang selalu ada di sana untuk berlatih. Megumi tahu karena sering melihat lelaki itu berlari ke kelas untuk jam pelajaran pertama, penuh keringat.
Megumi mengusap-usap tangannya sendiri, menghembuskan napas, lalu menatap asap putih yang keluar dari mulutnya. Ia merogoh jimat berwarna merah di dalam saku, memegangnya erat-erat sebelum memasuki aula olahraga.
Manik kebiruan melihat ke dalam, menemukan Ryomen Sukuna tengah melemparkan bola basket ke arah ring. Megumi selalu menghabiskan waktu di perpustakaan. Lalu di pertandingan kemarin, ia hanya bisa melihat dari jauh. Baru kali ini lelaki itu bisa memandang dari dekat, memperhatikan ekspresi serius Sukuna.
Bibir Megumi tanpa sadar terbuka. Ia tidak mengumumkan kehadiran atau bicara apapun. Hanya diam dan memandang Ryomen Sukuna penuh kekaguman.
"Kau kemari?" sapa sang kapten.
Megumi tersentak, sadar dari keterdiaman. Tangannya yang sejak tadi berada di dalam saku refleks keluar, menjatuhkan jimat merah ke lantai aula.
"M-maaf mengganggu latihanmu. Aku akan p-pergi," sebut Megumi seraya berbalik badan
Sukuna menghela napas di belakangnya, berkacak pinggang tanpa beranjak dari sana.
"Ke mana keberanian seseorang yang meneriakkan namaku di tengah pertandingan kemarin?" sindir lelaki itu.
Apa itu artinya dia benar-benar mengenali suaranya kemarin? Megumi menghentikan langkah, perlahan berbalik dan menghadap Sukuna lagi. Senyum tipis nan hangat menyambutnya.
"Katakan padaku, kenapa kau kemari?"
Pertanyaan barusan terucap dengan nada ramah. Tapi Fushiguro Megumi tetap saja merasa gugup. Ia menarik napas dalam-dalam sembari memejamkan mata sebelum merogoh saku lagi.
Jimatnya tidak ada.
Megumi mengedarkan pandangan ke sekitar tempatnya berdiri, mencari benda kecil berwarna merah yang harusnya ia berikan pada Sukuna.
"Kau mencari ini?" tanya lelaki rambut merah muda itu memungut jimat yang tadi terjatuh.
Sepasang mata biru terbelalak, menatap benda di tangan Sukuna. Benar. Itu yang ia cari. Itu juga yang ingin ia berikan pada sang kapten tim basket.
"Ambilah," ucap Sukuna sambil mengulurkan jimat merah kepada lelaki itu.
Pikiran Megumi seolah berhenti bekerja. Ia tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi ini. Hanya berdua dengan Ryomen Sukuna di ruangan sebesar aula membuat lelaki itu terlalu gugup.
Tiba-tiba saja Megumi membungkukkan badan sembilan puluh derajat, "A-aku ingin memberikan jimat itu untuk Ryomen-san. Semoga klub basket menang dalam pertandingan musim semi."
Sudah. Megumi sudah mengatakannya.
Ia kembali berdiri tegap dan menghadap Sukuna, melihat lelaki itu tertawa kecil.
"Aku tidak mau menerimanya," ucap Sukuna sambil memberikan jimat merah itu kembali pada Megumi.
Tangan mereka saling bersentuhan. Agak lama. Cukup untuk membuat rona merah muncul di pipi Megumi. Tapi bukan itu yang harus ia pikirkan sekarang.
Sukuna baru saja menolak pemberiannya, usaha pertamanya tanpa bantuan Nobara. Mengapa? Apa yang salah?
"Kau harus memberikannya padaku dengan benar," imbuh Sukuna kemudian.
"Tatap mataku," sebut lelaki itu sambil menarik dagu Megumi, membuat dua pasang manik mereka saling bertemu.
"Lalu ulangi apa yang kau katakan tadi."
Mata biru Megumi terbuka lebar, sementara wajahnya makin merona saja. Mengatakan pesan tadi sambil membungkuk saja sudah membutuhkan banyak sekali keberanian.
Dan sekarang Sukuna menyuruhnya bicara sambil menatap mata? Bagaimana kalau Megumi pingsan di tempat? Sukuna akan kerepotan menyeretnya nanti.
"Bicara padaku, Fushiguro Megumi," minta Sukuna sambil mengusap tangan lelaki itu.
Selama bersentuhan Megumi merasa tubuhnya amat panas. Dan perutnya mual seolah ratusan kupu-kupu sedang berterbangan dari dalam sana.
"A-ku ingin-- aku--," ucapan Megumi terputus. Bibirnya bergetar hebat.
Astaga, mengapa bicara dengan orang yang disukai terasa sangat sulit? Megumi tidak habis pikir.
"Pelan-pelan," ucap Sukuna mencoba menenangkan, "katakan pelan-pelan."
"Aku ingin--," jeda sejenak untuk menarik napas, "--memberikan jimat ini pada Ryomen-san."
Dengan tatapan lembut, Sukuna menerima uluran jimat dari tangan Megumi. Tapi ia masih menahan lelaki itu. "Lalu?"
"Lalu?" ulang sang adik kelas kebingungan.
Sukuna tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh dengan ekspresi Megumi. Ia mengelus punggung tangan lelaki itu, menyiratkan bahwa sesuatu baru saja terlupakan.
Benar. Megumi lupa satu kalimat penutup.
"Semoga klub basket menang dalam pertandingan musim semi." Kali ini lancar. Tanpa terbata-bata atau terputus tarikan napas. Megumi merasa lega sekarang. Dan Sukuna sudah menerima jimat pemberiannya.
"Terima kasih," ucap sang kapten basket kemudian mengusap puncak kepala Megumi, "lain kali tidak perlu gugup saat bicara denganku. Aku tidak akan menggigitmu."
Sukuna berjalan ke sisi lapangan dan mengambil tas sekolah. Ia sudah selesai latihan. Jimat merah pemberian Megumi digantung pada resleting, tempat semua orang bisa melihatnya.
"Oh, lain kali juga--," sebut kapten klub basket sebelum keluar dari aula olahraga, "--panggil aku Sukuna."
.
.
.
Pada awalnya Megumi selalu mengandalkan saran Nobara untuk melakukan pendekatan. Tapi akhir-akhir ini, ia yang berusaha sendiri. Kedua teman Megumi memperhatikan dengan senang. Akhirnya Megumi tidak menjadi terlalu pemalu lagi.
Selepas pulang sekolah lelaki itu pergi ke aula olahraga seorang diri. Nobara dan Yuuji sudah yakin Megumi bisa mengatasi masalah hatinya. Mereka hanya menunggu saja di depan sekolah, sampai Megumi menyelesaikan misi untuk membuat Ryomen Sukuna menyukainya.
Dengan antusias ia menggenggam sebotol minuman pengganti ion. Megumi akan menjamin dirinya sendiri tidak seberkeringat Sukuna nanti--agar sang pujaan hati tidak mengembalikan minumannya lagi.
Tapi begitu tiba di depan aula, Megumi melihat pemandangan yang belum pernah ia bayangkan. Ada seorang gadis tengah mengulurkan minuman penambah ion pada Ryomen Sukuna. Lalu sang kapten basket mendekat dan membuat gestur seolah sedang berbisik.
Atau mungkinkah dia sedang mencium gadis itu? Apa mereka baru saja jadian?
Megumi menggelengkan kepala, mengusir dugaan buruk tadi jauh-jauh. Tapi ia tidak bisa.
Megumi tidak bisa berhenti bertanya-tanya. Tapi ia tidak ingin mendekat. Ia tidak ingin mendengar jawaban yang kemungkinan akan membuatnya sakit hati.
Dan lelaki itu memilih kabur seperti pengecut.
Baru saja Megumi memutuskan untuk berusaha membuat Sukuna menyukainya tanpa bantuan orang lain, tapi hatinya sudah patah sekarang. Ia kembali dalam rutinitas duduk di kursi perpustakaan--kali ini jauh dari pintu agar tidak perlu melihat kakak kelas pujaan hatinya lewat.
Sudah dua minggu ia menghabiskan waktu istirahat seperti ini. Tidak ada lagi agenda untuk memberikan Sukuna bento atau memperhatikan latihan klub basket di aula olahraga.
Demi menjawab tantangan untuk membuat Sukuna menyukainya, Megumi tidak akan mau merusak hubungan lelaki itu dengan orang lain. Jika Ryomen Sukuna memang berpacaran dengan gadis di depan aula itu, Megumi akan merelakannya.
Tapi--
Tapi bagaimana bisa Megumi membiarkan hatinya sendiri terluka setelah memberanikan diri mengungkap perasaan?
Ia tidak ingin semuanya berakhir seperti ini. Bahkan ia sendiri belum pernah memanggil tidak dengan 'Ryomen-san'. Sukuna baru saja mengizinkan Megumi untuk menyebut nama pemberian.
Itu kesempatan spesial. Sangat spesial jika Megumi tidak patah hati setelah melihat Sukuna berduaan dengan seorang gadis.
"Aku sangat menyedihkan," gumam Megumi dengan volume pelan. Ia tidak ingin membuat keributan di perpustakaan karena suasana buruk dalam hati.
"Kenapa menyedihkan?" celetuk seseorang di depannya.
"Karena aku tidak seharusnya menyukai seseorang yang sudah berpacaran," balas Megumi tanpa mendongak.
Kekeh pelan terdengar setelahnya. Dan Fushiguro Megumi masih mengingat suara ini sejak pertama kali mendengarnya.
Kekehan Ryomen Sukuna.
"Kalau tidak punya pacar, berarti kau boleh menyukainya, kan?" Pertanyaan itu terdengar membingungkan. Bahkan Megumi tidak bisa memikirkan alasan mengapa Sukuna mengatakan itu padanya.
Jadi Megumi hanya menjawab singkat, "Boleh."
Sukuna tersenyum, menopang dagu di atas meja agar bisa lebih nyaman memandang Megumi. Lelaki itu sekarang menunduk dalam diam. Ia tidak gemetar seperti pertemuan awal mereka. Tapi jemarinya saling menekuk, gelisah.
"Kau tahu, Megumi? Aku tidak suka orang yang mudah menyerah," tegas Sukuna seraya meraih tangan Megumi, mengusap buku-buku jarinya.
"Kalau merasa penasaran, tanyakanlah. Aku tidak akan tahu jika kau tidak bilang," sebut lelaki itu sambil dengan mulusnya menggamit tangan.
Ada perasaan hangat yang menjalar di dalam hati, yang membuat Megumi seolah mendapat keberanian. Apakah ia terlalu percaya diri jika menduga bahwa Sukuna merasakan absennya selama dua minggu ini?
"Ryomen-san--," sebut Megumi namun dengan cepat disela.
"Sukuna."
"S-Sukuna-san, apa aku akan merusak hubunganmu dengan orang lain bila terus menyukaimu?" tanya Megumi setelah sekian lama.
Harusnya ia bisa lega karena telah mengungkapkan semuanya. Tapi tidak. Pertanyaan itu memerlukan jawaban. Dan Megumi takut hal yang paling tidak ia inginkan terlontar dari mulut Sukuna.
"Aku meminta agar kau berusaha membuatku menyukaimu. Tidak mungkin aku mengatakan itu saat sudah memiliki pacar, kan?"
Benar. Itu masuk akal.
"Jadi jangan menyerah hanya karena kau melihat seorang gadis di dekatku," imbuh Sukuna sambil mencubit hidung Megumi. Ia kemudian tersenyum gemas, memperhatikan air mata berkumpul di depan pelupuk.
Megumi menangis setelahnya. Terharu dengan kata-kata yang keluar dari bibir Sukuna. Ucapan tadi menjawab semua pertanyaan di dalam kepalanya. Tapi Megumi tidak pernah berpikir sang pujaan hati akan repot-repot datang dan mengatakan hal itu. Rasanya sangat tidak mungkin.
"Semua orang berhak menyukai. Tapi semua orang juga berhak memilih orang yang akan ia sukai balik," sebut Sukuna seraya menyeka air mata Megumi dengan ibu jarinya.
"Dan aku ingin balik menyukaimu."
Jam istirahat di perpustakaan kala itu terasa seperti mimpi. Dan Megumi tidak ingin terbangun selepas pernyataan tidak langsung Sukuna. Kalau bisa ia ingin berada dalam momen membahagiakan itu selamanya.
.
.
.
Semuanya terasa lebih baik setelah diungkapkan. Dan Megumi yakin, walaupun sering melihat Sukuna bersama para gadis, ia sudah memiliki sebuah tempat di daftar reservasi. Sore ini, Megumi memutuskan untuk pergi ke aula olahraga lagi dengan agenda yang sama, memberikan minuman pengganti ion--dan selembar sticky note penyemangat.
Sukuna tidak menghampiri di depan pintu seperti saat pertama Megumi mengungkapkan perasaan. Jadi lelaki itu masuk sendiri, mengambil langkah berani untuk mencari Ryomen Sukuna di dalam.
Anggota klub basket sedang istirahat ketika Megumi datang. Dan yang membuat lelaki itu terkejut adalah bahwa mereka langsung memanggil Sukuna sebelum Megumi sempat mengucapkan apapun.
"Sukuna, cepat kemari. Pacarmu sudah datang," teriak salah satu anggota.
Mendadak rona merah muncul menghiasi pipi Megumi. Mereka belum berpacaran tapi ia sudah menerima sambutan seperti ini. Dan Ryomen Sukuna yang baru saja menghampiri tidak berusaha untuk meluruskan fakta bahwa mereka belum memiliki hubungan apapun.
Belum? Astaga, Megumi sekarang memiliki banyak harapan selepas pernyataan di perpustakaan tempo hari.
"Di luar saja," bisik Sukuna sebelum menarik tangan Megumi keluar aula.
Mereka mengambil tempat di sisi pintu, duduk berdua dengan jarak dekat. Megumi harus terbiasa bila suatu saat nanti ia akan benar-benar menjadi pacar Sukuna. Tapi sekarang, saat lengan mereka bersentuhan, degup jantungnya langsung berubah tak beraturan. Megumi tidak bisa mengatasinya.
"Megumi," panggil Sukuna sembari menatap profil samping, "kau akan datang menontonku turnamen, kan?" Ia bertanya dengan penuh harap.
"Pasti. Aku akan mengajak Kugisaki dan Itadori bersamaku nanti," jawab Megumi dengan lancar.
Sukuna tersenyum akan perubahan itu. Perlahan tangannya menelusup ke belakang, melewati pundak Megumi. Jemarinya tiba di pelipis lelaki itu. Sukuna mengusapnya pelan, sambil sedikit mendorong agar Megumi bersandar di bahunya.
"Setelah pertandingan selesai, temui aku di depan ruang ganti," minta lelaki itu, "jangan ajak Kugisaki dan Itadori. Pergilah sendiri."
Megumi melirik Sukuna dari samping, menemukan sedikit rona merah di pipi saat lelaki itu bicara lagi, "Ada sesuatu yang ingin kukatakan di sana."
.
.
.
Suasana turnamen musim semi rasanya jauh lebih riuh dari sebelumnya. Megumi berpikir Nobara akan biasa saja, namun ternyata gadis itu sama terkejutnya. Begitu pula Yuuji. Pada kesimpulannya, mereka bertiga terkejut dengan betapa ramainya tribun lapangan ini. Ada penjual makanan yang berkeliling ke sana kemari. Lalu para pendukung tim yang membawa spanduk besar dan alat musik tabuh.
Di bawah sana anggota klub basket sedang bersiap-siap, mungkin menyusun strategi di awal pertandingan. Megumi melihat sang kapten tim. Saat berbalik dan menghadap penonton, lelaki itu tengah menggenggam sesuatu. Setelah mereka selesai memberi hormat, sesuatu tadi tampak lebih jelas--karena Sukuna mengangkatnya tinggi-tinggi.
Itu jimat merah pemberian Megumi.
"Fushiguro, itu jimat yang kau beli di kuil saat tahun baru?" tanya Yuuji.
Megumi hanya mengangguk sebagai jawaban. Sementara Nobara di sebelahnya sudah berteriak kegirangan.
"Astaga, mengapa temanku romantis sekali," komentar gadis itu sembari memeluk lengan Megumi. Yuuji di sisi lain juga ikut-ikutan memeluk.
Kembali pada pertandingan, klub basket sekolah berhasil unggul di babak pertama ini. Latihan-latihan yang mereka lakukan sepanjang akhir tahun membuahkan hasil. Megumi tersenyum ketika melihat sang kapten memeluk para anggota satu persatu sebelum memandangi tribun.
Lalu lelaki itu melayangkan pandangan pada satu orang. Satu orang di tengah kerumunan yang tempo hari ia minta untuk bertemu di depan ruang ganti.
Sekarang saatnya, saat untuk mengetahui sesuatu yang akan diucapkan Ryomen Sukuna setelah semua usaha yang Megumi lakukan untuk membuat lelaki itu menyukainya.
Ia berlari ke bawah, meninggalkan Nobara dan Yuuji yang masih sibuk menghabiskan sisa brondong jagung. Megumi berhambur menuju ruang ganti, bersamaan dengan Sukuna yang berlari dari luar lapangan. Mereka bertemu di koridor. Agak ramai dengan lalu lalang panitia, tapi tidak mengurungkan niat Sukuna untuk maju dan membawa Megumi dalam dekap erat.
Ada rasa bahagia yang membuncah di dalam hati keduanya. Terlebih hati Megumi saat sebuah kecupan mendarat di dahi.
"Fushiguro Megumi," panggil Sukuna, "Megumi."
"Sejak awal, aku sangat ingin memelukmu seperti ini," ucapnya sambil menatap sepasang manik kebiruan, "tapi kau terlihat seperti akan pingsan bila aku langsung melakukannya."
Tidak salah. Megumi terkekeh, menertawai betapa kikuknya dia saat pertama kali berusaha mengungkapkan perasaan.
"Sekarang aku tidak perlu takut kau akan pingsan." Sukuna berucap lagi tanpa memalingkan wajah. Manik merahnya hanya memandang Megumi seorang.
"Dan kurasa kau juga tidak perlu gugup lagi untuk menjawab pertanyaanku."
Untuk sejenak, tidak ada suara yang tertangkap di telinga keduanya selain detak jantung masing-masing. Sebelum akhirnya Sukuna bicara lagi, bertanya.
"Aku sudah jatuh cinta padamu, Fushiguro Megumi. Apa sekarang kita bisa saling menyukai sebagai sepasang kekasih?"
Tidak perlu sesi berpikir semalaman untuk menjawab pertanyaan itu. Menjadi kekasih seorang Ryomen Sukuna adalah impian bagi sang pengagum. Dengan segenap hati, dengan haru berwujud air mata bahagia, Megumi menerimanya.
"Bisa."
.
.
.
The End
