Work Text:
“Beberapa orang dipertemukan sebagai pelengkap kisah, bukan menjadi tajuk cerita.”
Entah berapa kali kalimat itu terus menari-nari di kepalanya, memandang kosong pada pemandangan malam kota yang terlihat sendu dari tempatnya duduk. Tak melakukan apapun selain berpegangan pada setir kemudi dan satu tangan lain yang menopang kepalanya di dalam mobil yang ia parkir.
Seolah mendukung segala angin ribut di kepalanya, langit malam ini terasa sama. Malu-malu menampakkan bulan dan hanya berisikan bisikan malam yang memekakkan telinga.
Ia memutuskan keluar dari mobilnya, merasakan angin malam yang menyambut namun tak berhasrat untuk sekedar merapatkan jaket. Minatnya sedang tak mengarah pada hal itu.
Sensasi dingin juga sudah merambah pada dua tindik pada wajahnya, menegaskan sekali lagi bahwa udara dingin tetap terasa tidak ramah, namun ia tak peduli. Ia memijakkan kaki pada ban sedan keluaran lama itu, menempatkan kaki di atas kap mobil dan turut mendudukkan bokongnya.
Melipat kaki hingga lutut menjadi topangan lengan dan kembali memperhatikan pemandangan kota yang terlihat indah dari ketinggian.
Subin meletakkan cangkir tehnya. Walau enggan mengakui, mata pria itu memberikan rasa simpati yang tulus pada dirinya. “Beberapa orang dipertemukan sebagai pelengkap kisah, bukan menjadi tajuk cerita.” Pria itu menepuk pundaknya pelan, “jika memang tak ada alasan untuk bertahan, bukannya itu menjadi alasan yang paling tepat untuk mengakhiri semuanya?”
Reka adegan tersebut terus terulang di kepalanya. Memberi sebuah afirmasi yang ia benci akui, walau memang benar adanya.
Ia yang memaksa bertahan, kini tak mempunyai jalan tentang kemana semua ini akan berjalan.
Jemarinya yang telah berubah kaku karena kejamnya angin merogoh saku dan mengeluarkan ponsel. Menarik nafas berat selama beberapa detik hingga tangannya mengetuk dua kali layar tersebut.
Menampilkan layar kunci dengan foto dirinya yang tersenyum memamerkan tindik melingkar sedang tersenyum di samping pemuda dengan lubang pada pipinya; yang dulu selalu menjadi segalanya.
Kala itu, orang-orang menyebutnya dalam fase madu. Saat segala sesuatu terasa manis, diikat oleh cinta yang menggebu-gebu dan kupu-kupu dalam perut. Seolah menyatakan bahwa dia adalah ‘orangnya’.
Sayangnya fase itu juga memiliki kadaluarsa. Hingga kini berganti dengan sebuah fase baru, fase pahit. Dimana segala sesuatu mulai kembali ketempatnya dan kupu-kupu dalam perut yang telah pergi. Menyisakan mereka berdua dalam pertanyaan ‘apa ini akhirnya?’
Atensinya terfokus pada mata pria itu yang melengkung, memamerkan sebuah senyum manis yang lebar, salah satu hal favorit dari berjuta pemandangan di dunia ini. Juga sepasang mata yang selalu bisa membuatnya bergumam aku pulang.
Namun manusia tetaplah manusia. Terkadang memori mempertahankan mereka, berharap rasa manis itu bisa datang lagi hingga tak sadar telah menyakiti diri sendiri.
Ia membuka layar kunci itu, melihat pada barisan menu membosankan dan terarah menuju satu aplikasi yang dulu notifikasinya selalu menjadi suara favorit dan menuju pada salah satu ruang obrolan dengan pesan terakhir pada dua hari yang lalu.
Miris, sudah terbentang jarak melupakan jika dulu mereka tak bisa berhenti berkirim pesan hingga larut malam.
Hanse—pria dengan segala tindik di wajahnya—menghela nafas, menyentuh tombol panggil pada ujung layar dan menunggu dengan perasaan hampa hingga sebuah suara menyahut di ujung sana.
“Halo.”
“Halo, Sejun,” bahkan, nama itu sudah tak memiliki aliran listrik lagi untuk dirinya, “jika kau tak sibuk, bisa kita bertemu?”
Ia tak berminat basa-basi, walau perbincangan terakhir mereka adalah dua hari yang lalu, ia tak ingin lagi membohongi dirinya sendiri.
Seseorang diujung sana tak langsung menjawab, nampak seperti sedang berpikir sebentar, “Sekarang?”
Hanse paham, ini memang sudah larut malam tetapi untuk sekali ini saja, agar semuanya tuntas.
“Sekali ini saja. Tak akan lama, ada yang ingin aku bicarakan.”
“Baiklah, kita bertemu di The Papa’s.”
Suara serak pria itu, terdengar hangat. “Sampai bertemu, jangan lupa gunakan jaket.” Ujarnya menutup pembicaraan.
Menyadari bahwa masih ada rasa khawatir walau rasa yang lain telah menghilang.
.
.
.
Hanse hanya duduk. Bersama dengan dua burger, satu ekstra saus tomat dengan daging asap dan satunya lagi ekstra acar dengan double keju; sesuai dengan favoritnya yang penyuka acar.
Nyatanya, hingga akhir ia masih tetap mengingat, karena dua tahun ini memang segala sesuatu hanya tentang dia, tentang Sejun yang memenuhi kepalanya. Namun sekarang, tidak seperti itu lagi.
“Hei, sudah lama menunggu?”
Dia datang. Dengan senyumnya yang manis dan jaket hitam dengan tudung yang selalu ia kenakan setiap hari.
“Duduklah, aku baru saja memasan burger acar favoritmu.”
Maka, Sejun duduk. Di sampingnya di antara sebuah meja yang menengahi. Sama-sama menghadap lahan parkir yang malam ini terasa kosong karena hanya ada mobil milik Hanse dan miliknya sendiri. Namun tak ada perasaan mencekam yang menyelimuti, karena beranda The Papa's yang sepi dan jalanan depan yang gelap dulu pernah menjadi tempat mereka berdua menghabiskan malam. Tak peduli deret toko lain telah tutup dan hanya ada sinar dari papan nama yang menyala, mereka merasa tak memiliki masalah.
Ia menghempaskan bokong, membuka tudung jaketnya dan mengambil burger itu tanpa suara. Tak menyadari bahwa Hanse tengah memandangnya.
Memperhatikan setiap lekuk wajah pria itu. Hidung runcingnya, dahinya yang serasi dan pipinya yang semakin tirus. Sesuatu yang dulu kerap ia sentuh untuk merasakan lubang di pipi pria itu saat ia tersenyum, menghantarkan banyak kupu-kupu untuk berterbangan di perutnya.
Hanse turut mengambil makanannya. Mengambil gigitan kecil dan mengerutkan dahi sebentar akibat rasa asam dari saus.
“Bagaimana kabar ibumu?”
Pria manis itu—Sejun—dengan pipinya yang sibuk mengunyah potongan roti menjawab walau tak terlalu jelas. “Sedang berada dipuncak kesenangannya walau kesehatannya berkata sebaliknya. Sakit lututnya tak membaik.”
Nyonya Lim, wanita dengan rambut abu-abu dan senyum serupa seperti milik Sejun, yang kerap memeluknya dan memberinya satu tas berisi kimchi terenak sepanjang masa, sudah satu tahun sejak terakhir kali ia melihat wanita penyuka giok tersebut.
“Lalu, bagaimana dengan kabarmu?” Hanse tulus bertanya, membuat pria itu menghentikan acaranya makannya sebentar.
“Aku,” ia berkedip cepat, membuang pandangannya pada makanan dan melanjutkan, “baik.”
Suaranya berubah.
Lebih tepatnya, segala sesuatu tentang Lim Sejun telah berubah.
Hanse tak melihat segala kerlap-kerlip di mata pria itu saat mereka berpandangan. Tak ada semangat, tak ada semuanya. Sejunnya telah kembali menjadi Lim Sejun.
“Bagaimana dengan kabarmu?” Pria Lim itu mengalihkan topik.
Hanse tertawa, menyelesaikan kunyahannya dan menghela nafas untuk mendongak pada langit malam yang sendu, “aku tidak terlalu baik.”
Ia tak menghadap kekasihnya, masih tak terbiasa dengan perubahan tak kentara walau kini Sejun menatapnya bertanya. Ia meletakkan roti daging yang tersisa di atas meja itu dengan gerakan malas.
“Kupu-kupu kita telah lama mati, Sejun.”
Bahasa kiasan tersebut tak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Keduanya lebih dari paham apa yang dimaksud dengan kupu-kupu tersebut. Sebuah perumpaan yang tercipta di awal hubungan mereka, saat Sejun yang mengaku pertama kali berkencan merasakan seperti ribuan kupu-kupu ingin meledak dari perutnya.
Sejak saat itu, mereka memiliki kebiasaan untuk menyebut euforia dengan kupu-kupu.
Sejun berhenti mengunyah, tenggorokannya tercekat oleh kepalanya yang berkecamuk. Ia masih menggenggam burgernya tanpa rasa.
“Aku sudah berusaha, tetapi kupu-kupunya tetap pergi.”
Hanse tertawa, membuat bahunya bergetar dan bertatapan kembali dengan Sejun. Mengamati secara lekat pada oniksnya yang memantulkan cahaya, terlihat indah namun secara sadar ia tahu, manik itu bukan tempatnya pulang lagi.
“Beberapa orang dipertemukan sebagai pelengkap kisah, bukan menjadi tajuk cerita.” Hanse menunduk, “Kita sudah terlalu jauh melenceng, Sejun.”
Pembicaraan sedih itu mengalir begitu saja, harusnya mereka merasakan sakit atau kesedihan yang mendalam.
Namun alih-alih merasa begitu, keduanya hanya merasakan … kosong.
“Terdengar kejam bahwa setelah dua tahun ini, kosong yang merambati. Aku tak lagi bisa melihatmu dengan cara yang sama.” Hanse menghela nafas, “Sekarang, aku hanya melihatmu sebagai Lim Sejun.”
Sejun termenung, matanya memandang kosong pada jajaran pohon yang melambai karena angin malam. Lalu ia tersenyum, membuat sedikit lubang pipinya terlihat samar. “Aku juga terdengar jahat, tetapi aku juga sudah lama kehilangan rasa itu.” Sejun mengusak rambutnya, “tak ada kupu-kupu, tak ada rasa yang membuncah dan hanya tersisa kau, Do Hanse sebagai kekasihku,” ia menaikkan bahu, “secara harfiah.”
Lalu mereka berdua berpandangan selama beberapa saat, seolah berusaha membantah perasaan hampa dengan mencari binar-binar membahagiakan lagi pada mata masing-masing.
Namun pada menit kedua, mereka sama-sama membuang pandangan, dengan perasaan kosong yang masih sama.
“Jika terus berjalan tanpa arah seperti ini, bukannya kita akan saling menyakiti?” tanya Hanse begitu saja.
Sejun mengangguk, membuat surainya yang telah panjang melewati alis bergerak mengganggu pandangannya. “Kita hanya berusaha saling mempertahankan sesuatu yang sudah tidak ada.”
Hanse mengiyakan. “Rupanya kita hanya menjadi bagian cerita pada kisah masing-masing. Rasa ini sudah selesai.”
Hanse kembali menyambung, “Berawal dari orang asing, dekat karena ruang, menjadi satu karena perasaan dan berakhir kosong karena waktu. Aku rasa kita selesai sampai di sini, Lim Sejun?”
Sejun memilih berpikir selama dua detik, mempertimbangkan kembali suatu keputusan yang sebenarnya sudah ia pikirkan saat lubang-lubang hubungan ini mulai terlihat.
“Terimakasih pernah jadi sesuatu dalam hidupku, Do Hanse.” lirihnya halus, juga membisikkan pada udara dingin seolah menjadi saksi untuk perpisahan mereka.
“Terimakasih juga karena memilih mengakhiri ini secara baik-baik.” Hanse mengepalkan tangannya, menunggu Sejun memberikan tos yang sama dan kembali tersenyum. “Semoga setelah ini kau menemukan tajuk ceritamu.”
Sejun mengangguk, “Kau juga, Hanse.”
Afirmasi akan kupu-kupu yang telah mati sudah usai. Kini, mereka menjadi orang asing, lagi.
.
.
.
END
