Work Text:
"sejun, lo mau pesen apa?"
"nasi goreng seafood, minumnya es lemon tea."
bukan. bukan sejun yang jawab, melainkan seungsik yang duduk disampingnya.
byungchan yang duduk di depan mereka cuma diam sebentar, tapi setelahnya dia langsung menuliskan pesanannya.
mengabaikan tatapan heran dari teman-temannya, baik seungsik maupun sejun tetap bersikap seperti biasa, bahkan sekarang mereka malah mengobrol santai sembari sesekali tertawa.
"lo berdua lebih mirip pasangan nikah daripada roomate ." ucap hanse.
seungsik tertawa, "apaan dah, ya gue tinggal sama dia lama-lama tau lah makanan kesukaan dia."
hanse mencibir tidak percaya. dua orang ini memang sudah beberapa minggu ini tersandung gosip berpacaran, tapi keduanya tidak menyangkal gosip tersebut yang mana justru makin memperkuat opini orang-orang kalau mereka pacaran sungguhan, hanya orang-orang terdekat mereka saja yang tahu kalau hubungan mereka hanya sebatas teman serumah, alias mereka sepakat untuk berpura-pura pacaran di depan semua orang.
ada alasannya kok.
mari kita flashback sejenak.
seungsik itu memang anak IPS berjiwa IPA, makanya waktu lulus sekolah dia iseng submit ke jurusan teknik industri di salah satu universitas negeri bergengsi di ibukota, seungsik kaget bukan main pas ternyata dia lolos ujian.
dan tentu saja, itu mengharuskan seungsik harus pindah dan jauh dari orang tuanya yang berada di kota yang berbeda.
ospek hari pertama, seungsik sama sekali tidak mengenal siapapun, sudah dibilang kan kalau dia itu anak nyasar, teman-teman semasa sekolahnya mengambil jurusan yang berbeda darinya dan lebih banyak yang meneruskan kuliah di kota asalnya.
jadi yang dilakukan dirinya saat ini hanyalah mendengus bosan mendengar celotehan kakak tingkatnya yang entah kenapa sangat betah berpanas-panas ria di depan sembari berbicara dengan suara lantang menggunakkan mic.
"maaf bang, saya telat."
ocehan kakak tingkatnya itu terhenti saat tiba-tiba saja ada mahasiswa yang baru datang dengan baju acak-acakkan.
semuanya penasaran siapa yang dengan beraninya datang telat di hari pertama ospek, tidak terkecuali seungsik yang sekarang sibuk berjinjit dan lompat-lompat kecil untuk melihat siapa yang menyebabkan keributan itu.
seketika seungsik menyesal ambil barisan paling belakang, seungsik tuh suka keributan.
"hari pertama masuk aja udah telat, lo mau jadi jagoan disini?"
semuanya bisik-bisik pas lihat kakak tingkat dengan muka senga itu mulai terpancing emosinya karena raut mahasiswa baru yang telat itu sama sekali tidak menunjukkan raut bersalah.
"kan saya sudah bilang 'maaf'? tadi jalanan macet dan—"
"banyak alasan lo! push up sana!"
seungsik masih sibuk menyipitkan matanya untuk melihat wajah mahasiswa yang datang terlambat itu, tapi tetep aja yang kelihatan cuma blur, ini lah derita orang dengan mata minus.
tanpa ingin memperkeruh suasana, akhirnya mahasiswa baru itu menurut. lelaki itu menghela nafas dan menjatuhkan tasnya asal lalu menggulung lengan bajunya hingga memperlihatkan otot lengannya.
"ANJIR OTOTNYA PLEASE MAU PEGANG?!!!"
seungsik menatap bingung sekitar saat cewek-cewek malah sibuk histeris. kating yang didepan sana makin kesel dong? niat mau mempermalukan lelaki ini justru malah berbalik bikin orang-orang disitu histeris dan berdecak kagum.
"udah! udah! bangun lo!"
lelaki itu langsung bangun dan membenarkan kembali bajunya, para cewek-cewek disitu langsung mendecak kecewa.
"siapa nama lo?"
"sejun."
cewek-cewek disitu langsung pada nyatet namanya di otak, tapi beda sama seungsik, dia cuma melongo mendengar nama itu, sambil kembali nyipit-nyipitin matanya supaya keliatan jelas muka cowok itu.
"sejun? sejun...siapa ya kayak kenal.." batinnya.
"sejun? im sejun?"
kali ini yang heboh bukan cewek-cewek aja, tapi yang cowok juga heboh.
siapa yang gak kenal sama keluarga Im? sekeluarga isinya orang-orang hits semua.
kecuali seungsik tentunya yang masih berusaha inget-inget sambil garuk-garuk kepalanya mikir keras.
"im sejun? hmm siapa ya..aduh lupa.." batinnya lagi.
"yang maju mulai dari barisan belakang ya! yang lain duduk dulu!"
lamunan seungsik buyar pas denger teriakan katingnya, dia kelamaan mikir sampe gak sadar kalau mahasiswa yang telat tadi sudah bergabung ke barisan.
pas barisan seungsik sudah didepan, dan disuruh perkenalan nama, keadaan mulai gak kondusif.
mulai dari kating maupun maba, sama aja rusuhnya yang bikin seungsik tuh risih liatnya.
baik yang cewek maupun yang cowok digodain abis-abisan, apalagi temen cewek yang tadi di sebelah seungsik pas maju tuh udah disiul-siulin dan diomongin macem-macem, seungsik yang liat aja gak nyaman, apalagi cewek itu yang ngerasain sendiri?
"anjing ini ospek apaan sih?!" batin seungsik yang mukanya udah ditekuk dalam.
puncaknya pas mereka udah mau duduk, tangan seungsik ditahan sama kating berwajah senga tadi, otomatis cuma ada dia mahasiswa baru yang masih ada di depan sana, sembari lengannya dipegang erat sama kating itu.
"eh bentar, lo tadi kenalan singkat banget, sekalian lah kasih id line ."
seungsik geram bukan main, berusaha ngelepas paksa genggaman di lengannya, jangan lupa dia juga masang muka galak.
"udah eh! kalian jangan gangguin maba terus!" ucap salah satu kating cewek yang duduk di pinggir lapangan.
tapi tentu saja ucapan itu gak digubris, karena seungsik berhasil melepas genggaman di lengannya, kating itu justru malah turun megang pergelangan tangan seungsik.
muka seungsik udah merah banget nahan marah, tapi sedetik kemudian dia kaget pas tiba-tiba aja tangannya ditarik paksa dan ada bahu lebar yang nutupin pandangan dia ke kating itu.
"maaf kak, tapi menurut saya yang barusan udah kelewatan."
"loh, sejun?" gumam seungsik, sekarang lihat dari deket seungsik baru sadar kalau lelaki dihadapannya ini temannya dia dulu waktu SMP.
"perasaan dulu tingginya sebahu gue.. kenapa sekarang tingginya hampir sama kayak gue?" batinnya
sejun gak ngomong apa-apa, tapi pandangannya lurus ke kating berwajah senga yang saat ini semakin merah wajahnya karena emosi.
"lo tuh emang mau jadi jagoan ya dari awal?"
"bukan gitu, tapi semua yang ada disini juga tau kalau dia dan mereka yang tadi maju kesini tuh gak nyaman sama perlakuan kalian." ucap sejun sambil mengendikkan dagunya ke seungsik saat mengucapkan kata 'dia'.
"ya urusan lo apa?! ngapain ikut campur? lo pacarnya?!"
kating yang dari awal udah seungsik duga bersumbu pendek itu ternyata benar-benar terpancing, bahkan sekarang tangannya meraih kerah kemeja sejun kasar, seungsik kaget bukan main, selain karena kating yang tiba-tiba marah, juga karena sejun yang langsung mengeratkan genggamannya saat dirasa tubuhnya ditarik oleh kating itu, sejun berusaha menarik seungsik agar tetap berada di belakang punggungnya.
"udah! heh berhenti gak?!" akhirnya kating cewek yang sedari tadi duduk di pinggiran itu nyamperin dan nengahin mereka berdua dengan raut kesalnya.
"kalian berdua, balik ke tempat masing-masing, dan lo! mending ke belakang sana!" ucap kating cewek itu marah.
akhirnya suasana kembali kondusif saat kating senga itu menghilang entah kemana, dan sejun serta seungsik kembali ke tempatnya masing-masing.
dalam hati seungsik berharap, bisa bertemu lagi dengan sejun untuk mengucapkan terima kasih, karena setelah ospek selesai lelaki itu justru tidak terlihat.
*
sebulan setelahnya, seungsik beneran gak pernah ketemu sama sejun. padahal kalau denger dari desus-desus orang sejun tuh satu fakultas sama dia, tapi entah kenapa seungsik gak pernah jodoh ketemu sama lelaki itu.
saat ini, seungsik lagi sibuk sama laptopnya untuk mencari orang yang butuh roomate , karena temen kostannya yang saat ini bilang mau pindah ke rumah orang tuanya, seungsik gak akan sanggup bayar kamar kost sendirian, jadi dia memilih nyari orang lain atau dia yang musti pindah ke kost yang lebih murah.
seungsik melongo saat tiba-tiba ada cowok yang duduk di hadapannya sambil minum susu pisang dengan santainya, gak meduliin tatapan orang-orang yang saat ini tertuju ke meja mereka.
"sejun?"
sejun nyengir, "kok lo sendirian?"
seungsik mengerjapkan matanya kaget, beneran gak nyangka kalau ini beneran sejun, Im sejun temennya pas SMP dulu.
"gapapa, pengen aja. gak nyangka gue ketemu lo, lo beneran sejun kan? im sejun temen gue yang dulu?!"
"iya, sikkie." seungsik tersenyum antusias saat mendengar nama kecilnya kembali disebut oleh sejun, dulu sejun selalu memanggilnya dengan nama itu.
"lo kok tinggi sih sekarang? perasaan dulu baru sebahu gue deh tingginya?"
"iya dong, makin tinggi dan makin ganteng."
"najis."
keduanya mengobrol layaknya teman lama, yang anehnya seungsik tidak canggung sama sekali, dulu saat SMP mereka memang cukup dekat, sampai sejun dan keluarganya memutuskan untuk pindah dan baru sekarang mereka bertemu kembali setelah sekian lama lost contact .
seungsik menceritakan keluh kesahnya yang kesusahan mendapatkan roomate baru ataupun mencari kostan, sedangkan ia tidak tega meminta uang lebih ke ayahnya untuk membayar biaya kost, lalu dirinya terkejut saat sejun menawarkan opsi yang menggiurkan.
"yaudah tinggal di apart gue aja."
"hah?"
"iya, apart gue gede, kamarnya banyak."
seungsik gak tau ini sejun mau pamer apa gimana, tapi seungsik bersyukur kalau dirinya benar bisa tinggal bareng sejun.
"biaya sewanya?"
"hmm.. gak perlu sih? gue udah kaya soalnya."
"sejun, lo gue lempar buku ya lama-lama."
sejun terbahak, tapi langsung berhenti pas seungsik udah angkat modul yang tebel banget, dan siap mau dilempar ke sejun.
"hahaha iya ampun, tapi beneran gak usah, gue cuma mau nolong temen gue kok."
"ya tetep aja lah! gak enak gue."
sejun nampak berpikir keras, lalu sedetik kemudian menjentikkan jarinya.
"gini aja, sebagai gantinya lo musti sedia bantuin gue beberes rumah karena gue gak pinter beberes, masak, dan terus....dongengin gue tiap malem!"
seungsik melongo, kalau beberes sama masak oke lah, seungsik udah biasa, nah yang terakhir itu.
"hah? ngedongengin?"
"kenapa? normal lah gue kalo tidur musti didongengin!"
seungsik mencoba maklum, memang temannya itu rada ajaib sejak dulu, harusnya seungsik tidak kaget.
"yaudah, boleh."
"oke? deal ?"
" deal ."
"yaudah, yuk!"
"hah? mau kemana?" seungsik mendongak pas sejun tiba-tiba aja berdiri dari duduknya.
"ya ke kost lo lah? ngambil barang-barang, pindah sekarang aja lah biar enak, sekalian gue bantuin."
seungsik cuma cengo, iya sih barang-barang dia juga belum banyak karena dia baru sebulan disitu, tapi ini dadakan banget?!.
"beneran lo mau bantuin?"
"iyaaaa."
akhirnya seungsik beresin barang-barangnya dan beranjak dari tempatnya, dalam hati bersyukur ketemu sejun saat ini, huhu baik banget emang cinta pertama berkedok teman semasa kecilnya itu.
eh?
"tapi jemput pacar gue dulu ya, sik."
seungsik langsung badmood , harusnya dia gak kaget kan? cowok se-hits sejun kan gak mungkin jomblo.
"ayah… please doain seungsik supaya gak baper sama pacar orang…" batin seungsik.
*
terhitung sudah tiga bulan seungsik tinggal sama sejun, beneran udah nyaman banget, seungsik dibolehin dekor kamarnya sendiri, dibolehin mengelola makanan apapun, ditambah apart sejun luas dan bagus, jangan lupa yang punya apart juga ganteng, hehe...bonus.
bohong banget kalau selama tiga bulan disini gak ada baper-baperan.
inget kan kalau sejun tuh sebenernya cinta pertamanya seungsik? walaupun itu udah lama, pas dia masih bocil dan dia suka sejun dulu karena sering diejekkin temen-temennya kalau pacaran sama sejun, tetep aja sebenernya dalam lubuk hati yang paling dalam seungsik tuh seneng banget ketemu lagi sama sejun, seungsik kangen.
tapi ingat, sejun.sudah.punya.pacar.
jadi seungsik beneran kasih batas yang tinggi diantara mereka berdua.
tapi sayangnya, sejun itu sangat clingy dan suka banget skinship , jadinya seungsik musti ekstra sabar dan pengen banget nulis tulisan yang gede-gede di jidatnya dengan tulisan: 'dilarang bikin anak orang baper kalau punya pacar!'.
saat ini seungsik lagi santai nonton tv sambil makan keripik pisang punya sejun, terus dia kaget pas tiba-tiba sejun muncul dan duduk di sebelahnya sambil masang muka masam.
seungsik buru-buru ngumpetin keripik pisangnya di belakang badannya.
"seungsik."
"iya! iya! gue ganti ntar keripik pisangnya." ucap seungsik, dia pikir sejun bakal marah karena keripik pisang kesukaannya dihabisin, tapi ternyata cowok itu malah narik dia dan meluk erat, dagunya diistirahatin di bahu seungsik.
"sejun? lo kenapa?"
bukannya jawab, sejun malah ngeratin pelukannya sampe bikin seungsik sesak.
"e-eh..sejun lo jangan sange dong.."
"gue putus."
"hah?"
sejun ngelepas pelukannya, tadinya mau seungsik teriakkin 'makanya jangan bucin banget!', tapi gak tega soalnya raut wajah sejun tuh beneran yang sedih banget.
"gue mergokkin dia jalan sama orang lain, mesra mesraan."
"anjing.."
seungsik beneran emosi, gila lo apa yang kurang dari sejun sampe pacarnya itu selingkuh coba?!.
"bagus dah, putus."
"kok gitu?"
"ya berarti dia gak baik buat lo, makanya tuhan nunjukkin sisi dia yang gak bener sekarang."
sejun ketawa liat seungsik yang ngomongnya santai tapi raut wajahnya memerah karena emosi.
"udah lo jangan sedih-sedih, gak cocok tau gak. mau apa? biar gue beliin." gaya banget padahal duit dia gak seberapa, tapi demi 'temennya' ini seungsik rela deh, tapi dengan syarat sejun gak boleh sedih lagi.
"jadi pacar gue gimana?"
seungsik melotot, yaiya dia sih pengen-pengen aja jadi jadi pacar sejun, tapi ya GAK GINI JUGA.
"lo gila?"
"maksud gue, jadi pacar pura-pura gue, gue mau nunjukkin kalo gue bisa tanpa dia."
seungsik sakit kepala, seingetnya dia gak pernah buka jasa rental pacar, dan dia sama sekali gak mau ikut campur masalah sejun dan mantannya itu.
"gak mau ah."
seungsik tadinya mau nolak mentah-mentah, tapi seungsik bisa apa kalau sejun udah masang tatapan datar yang mengartikan, 'kalo lo gak mau, silakan minggat dari sini, thanks.'
jadilah.. seungsik nerima dengan pasrah sambil berdoa semoga dia gak jatuh lebih dalam lagi sama lelaki ini.
—
saat ini keduanya sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, seungsik duduk di sofa sibuk dengan ponselnya, sedangkan sejun tiduran dengan paha seungsik sebagai alas kepalanya, matanya terpejam karena kepalanya sedikit pening karena di luar tadi panas-panasan.
"eh lo bentar lagi ultah kan ya?" ucap seungsik tiba-tiba yang membuat sejun membuka matanya.
"inget?"
"inget lah, lo mau kado apaan?"
"gak surprise banget."
seungsik terkekeh, "daripada gue salah beli dan berujung lo gak suka barangnya mendingan gue tanya lah? sama aja kok maknanya."
"apapun yang dari lo, gue suka."
seungsik terdiam, sejun memang mengucapkan itu dengan nada enteng dan datar, tapi efeknya bung… seungsik gak kuat huhu pengen baper, tapi cuma pacar boongan.
"ck males ah gak jelas." sejun tertawa saat seungsik menepuk jidatnya pelan.
"gue pengen ngasih kado ke followers gue deh."
"duh iya deh, beda emang selebgram berasa artis."
"berarti lo pacar artis? bangga dong."
"pacar boongan." sejun ketawa kenceng, seungsik cuma diam, walaupun dia ngomongnya dengan nada cuek, aslinya mah ada sakit-sakitnya dikit di hati.
"tapi serius sik, pengen cover lagu."
mata seungsik yang tadinya berkutat sama ponselnya pindah jadi menunduk menatap sejun dibawahnya yang masih nunjukkin senyuman lebarnya.
"yaudah."
"pilihin lagu."
"kok gue?"
"katanya lo mau kasih gue kado?"
seungsik berpikir sebentar, rada aneh memang permintaan sejun, tapi ia tahu lelaki itu bersungguh-sungguh. akhirnya tangannya bergulir ke aplikasi lagu untuk mencari lagu yang cocok untuk sejun.
"ini aja gimana?"
seungsik memutar lagunya, dan sejun mendengarkannya dengan mata yang tertutup, sejujurnya seungsik asal pilih aja karena dia sendiri pun bingung mau milih lagu apa, tapi kenapa pas di putar lagunya tuh kayak… mewakili seungsik banget ya.
"boleh deh, lo juga yang rekamin gue ya, sik."
"bilang aja lo mau ngebabu-in gue kan?"
"pinter banget sih pembantuku."
setelahnya hanya terdengar ringisan kesakitan sejun saat pinggangnya dicubit keras oleh seungsik.
—
seungsik lagi makan di kantin bareng byungchan dan hanse saat ada cewek mungil berwajah judes menghampiri meja seungsik. dalam hati seungsik berdecak kagum saat melihat dari atas kepala sampai ujung kaki semua yang dikenakan perempuan itu barang bermerk semua, seungsik seketika ciut.
"siapa ya?" ucap seungsik heran, karena orang itu tidak ngomong apa-apa tetapi tatapannya kayak meremehkan seungsik.
"lo pacar barunya sejun?" ucap perempuan itu, siapapun tahu kalau nada bicaranya sangat tidak bersahabat, seungsik menatap perempuan itu dengan tatapan heran.
"gila, ternyata selera sejun tuh turun drastis ya?"
seungsik mengernyitkan dahinya, "maksud lo?"
perempuan itu cuma ketawa kecil menjawabnya, tapi itu sukses memicu emosi byungchan yang saat itu juga berdiri menantang perempuan yang lebih pendek darinya itu.
"lo kalo kesini cuma mau cari ribut, mending pergi deh kak." ucap byungchan.
perempuan itu masih menunjukkan senyum sinisnya, lalu pergi setelah mengatakan, "inget ya, lo tuh cuma pelarian sejun dari gue, kang seungsik."
seungsik membeku, dia tidak pernah tahu wujud pacar sejun yang sebelumnya, salahnya sendiri tidak pernah bertanya apakah pacar sejun itu perempuan atau laki-laki, dan sebenarnya ia sudah mewanti-wanti jika nantinya akan dilabrak seperti ini jika ia menyetujui permintaan sejun tempo hari itu.
tapi melihat penampilan mantan pacar sejun yang seperti itu membuat seungsik sedikit menyesali keputusannya, perempuan itu terlampau sempurna, jauh sekali jika dibandingkan dengan dirinya.
"udah lo gak usah dipikirin sik, dia tuh mentang-mentang kakak tingkat jadi suka seenaknya!" ucap byungchan.
seungsik hanya mengangguk, tanpa disadari moodnya yang hari ini sudah jelek, menjadi semakin jelek.
—
biasanya saat sejun masuk ke apartement akan ada seungsik di sofa depan tv yang sedang santai menonton tv atau sibuk mengerjakan tugasnya, tapi hari ini apartementnya terasa sepi.
padahal seungsik bilang dia udah pulang duluan saat sejun mengajaknya pulang bersama.
sejun melangkahkan kakinya menuju kamar seungsik yang ada di sebelah kamarnya. dikunci.
tumben.
"sik? lo di dalem?"
tidak ada jawaban.
sejun mengecek sepatu seungsik di rak sepatu, dan sudah ada sepatu seungsik disitu yang tandanya seungsik memang ada di dalam kamarnya
"sik? kenapa sih? tumben di kunci?"
"apa sih? gue butuh privasi!"
sejun kaget tiba-tiba di jutekkin padahal gak salah apa-apa, di dengar dari nada bicaranya pasti lelaki itu sedang dalam mood yang jelek.
"mau ngobrol bentar."
"gue gak mau."
"gue dobrak ya?"
sejun tersenyum kecil saat mendengar gerutuan beserta langkah kaki yang dihentak-hentakkan mendekat. pintu terbuka, tapi seungsik langsung masuk ke kamarnya lagi dan menutup tubuhnya dengan selimut, meninggalkan sejun yang menatapnya heran dari pintu kamar.
"kenapa sih?"
seungsik gak jawab, sejun ngerti jadi dia ikutan tiduran di samping seungsik yang memunggunginya itu, terus tangannya bergerak untuk usap-usap punggung seungsik, gak tau untuk apa, sejun cuma mau nenangin seungsik aja.
terus gak lama ada suara isakan pelan, sejun langsung duduk panik, maksa narik badan seungsik buat ngadep dia.
"kok nangis? hey, kenapa?"
ditanya begitu makin kejer lah tangisan seungsik, sejun juga makin bingung mau ngapain, jadinya dia balik rebahan lagi tapi bedanya dia sambil meluk seungsik terus di tepuk-tepuk punggungnya buat nenangin.
pas tangisannya udah berhenti, sejun masih betah sama posisinya, dia lebih milih nunggu seungsik buat cerita sendiri ke dia, karena dia tau lelaki ini pasti ujungnya tuh cerita juga.
"gue kesel banget tau gak, seharian ini gak ada yang jalan dengan beres, gue di rendahin sama dosen, di bego-begoin, terus tugas kelompok dapetnya manusia-manusia menyebalkan! pokoknya hari ini tuh semuanya kacau, gue kesel!"
sejun cuma angguk-angguk, tangannya masih betah nepuk-nepuk kepala seungsik.
"terus pas gue mau makan siang dengan tenang, eh mantan lo malah nyamperin, ngerendahin gue juga, iya gue tau gue gak ada apa-apanya sama dia, tapi tatapan dia tuh—"
"lo disamperin?"
"iya! sakit hati gue digituin, keselnya gue gak bisa ngelawan karena kayaknya yang diomongin dia tuh bener."
"emang dia ngomong apa?"
seungsik diam, tatapannya berusaha ia alihkan supaya gak natap sejun yang sekarang jauhin badannya buat natap seungsik.
“lupain aja.”
“kang seungsik.”
“ck, iya! dia bilang selera lo turun, terus gue dibilang dijadiin pelarian aja buat lo, padahal gak tau aja tuh cewek kalo kita gak beneran pacaran.” ucap seungsik lagi.
seungsik tidak sadar bagaimana rahang sejun mengeras karena sejun langsung memeluknya lagi dalam diam.
“gak usah didengerin.”
“maunya juga gitu, tapi kalau dipikir-pikir ya bener juga, gue gak ada apa-apanya dibanding dia.”
“lo beda, seungsik. jangan mikir kayak gitu. gue gak suka.”
seungsik diam. nada bicara sejun mendadak tuh serius walaupun santai, akhirnya dia diam aja di pelukan sejun, ngebiarin tangan sejun nepuk-nepuk kepalanya lembut dan sesekali rambut pirangnya dimainin sama lelaki itu.
gak lama sejun mendengar dengkuran halus, dan pas dilihat ternyata seungsik udah pulas tertidur di dekapannya, sejun tersenyum kecil melihat hidung seungsik memerah karena menangis tadi.
tangannya bergerak untuk mengusap pipi seungsik lembut, takut membuat lelaki itu terbangun.
“maaf ya, harusnya gue ketemu lo lebih cepet.”
—
“lo pake lipbalm gak sih? kering banget.”
sejun menggeleng, lalu dengan cekatan seungsik mengambil lipbalm di tasnya dan memberikannya pada sejun.
hari ini H-3 ulang tahun sejun, seungsik yang udah janji memberi kado alias merekam sejun sudah sibuk sejak pagi, nyiapin tempat, kamera, nyiapin outfit buat sejun, bangunin sejun, ngasih makan...
ya… semuanya disiapkan oleh seungsik yang kata sejun ini tuh kado buat dia, padahal ulang tahunnya masih tiga hari lagi.
semuanya udah siap, seungsik udah stand by sama kameranya, siap buat ngerekam sejun.
“rekam nya yang bener, anglenya yang bagus biar gue keliatan ganteng.”
“bawel.”
“padahal lo angle apa aja juga tetep cakep anjir.”
"gimana?"
"hah?"
seungsik panik, gak sadar kalau apa yang dipikirannya malah di lisankan keras-keras dan bikin sejun tertawa kencang.
"iya iya gue tau gue cakep, bangga kan lo punya pacar cakep?"
seungsik mendengus, lalu dirinya langsung mengarahkan sejun agar segera mengambil video, sejun akhirnya menurut, walaupun kuluman senyumnya tidak hilang karena melihat wajah seungsik yang memerah.
mereka menghabiskan waktu beberapa jam untuk mengambil beberapa video yang nantinya akan di edit oleh seungsik, sesekali mengoreksi hasilnya dan sejun mencoba menambahkan improvisasi yang disarankan seungsik.
"kebiasaan deh, gak liat kamera."
"yaudah sih, kan yang penting emosinya dapet?"
"yaiya.. tapi itu liat kemana coba? gak jelas matanya, kali aja fans lo juga pengen kontak mata."
sejun tersenyum mendengar celotehan seungsik, sedangkan lelaki itu masih sibuk mengomentari sembari matanya masih fokus ke video yang diputar.
"liatnya ke lo, seungsik."
seungsik mengangkat kepalanya, kedua mata mereka bertemu, tatapan seungsik menyiratkan kebingungan terbukti dari dahinya yang mengernyit dalam, sedangkan sejun masih betah menunjukkan senyum teduhnya.
"ngapain liatin gue?"
"karena lagunya cocok buat lo."
seungsik diam sebentar. lalu setelahnya mengangguk paham, "oh, vibes lagunya ya?"
seungsik mengaduh kesakitan saat jidatnya disentil oleh sejun.
"bego banget."
"sakit!"
sejun tertawa, walaupun jauh didalam lubuk hatinya ia sedikit merasa kecewa.
hari ini ulang tahun sejun, seungsik yang pertama kali mengucapkan di jam dua belas malam dengan menggedor-gedor pintu kamar sejun brutal.
"sejun!"
"masuk aja, gak dikunci."
seungsik langsung masuk, tangannya memegang laptop yang masih menyala. iya, laptop. bukan kue hehe.
"jun, bangun dulu, udah kelar nih rendernya."
sejun bangun dengan malas, matanya masih setengah terbuka dan sudah harus dipaksa melihat laptop yang brightness- nya itu bikin sakit mata.
"sik, bisa ntar pagiiiii.. gua masih ngantuk!"
seungsik nyengir, dia singkirkan laptop di pangkuannya dan narik sejun buat duduk.
" happy birthday , sejun! kado gue selesai pas di jam dua belas malam tanggal empat mei! keren gak?!"
sejun tersenyum, tangannya bergerak mengusap kantung mata seungsik yang menghitam.
"lo belom tidur?"
"belum, gue gak sempet ngerjain kemarin-kemarin jadi dikebut aja tadi."
tangannya beralih menggenggam tangan seungsik dan mengelusnya perlahan.
"makasih ya, tapi lain kali jangan ngorbanin jam tidur lo dong."
seungsik hanya mengangguk pelan, lalu kembali mengambil laptopnya untuk menunjukkan hasil editannya yang ia kerjakan semalaman.
"bagus gak?"
"bagus, gue suka."
seungsik tersenyum senang mendengarnya, "syukur deh."
"tapi gue mau kado lain, boleh gak?"
seungsik mengernyitkan dahinya bingung, "apa?"
tanpa menjawab apapun sejun mengambil alih laptop yang ada di pangkuan seungsik, lalu mulai mengotak-atik laptop tersebut.
seungsik ingin mengintip, tapi secepat itu juga sejun menyembunyikan apa yang sedang ia kerjakan, dan itu sukses membuat seungsik jengkel.
"ngapain sih?"
"tunggu aja."
setelah sekitar hampir satu jam menunggu, seungsik bahkan hampir saja tertidur kalau saja sejun tidak menepuk pelan pipinya, akhirnya yang dikerjakan sejun selesai.
sejun lalu menunjukkan layar laptopnya, disana terdapat video yang tadi ia edit, yang sudah berhasil diupload di channel youtube sejun, beserta caption tentunya.
seungsik tidak paham awalnya karena caption yang tercantum memang seperti biasanya, tidak ada yang spesial sampai sejun scroll down layarnya dan menunjukkan credit dari video tersebut.
take video and edited by mine @k.seungsik ❤️
"sejun.."
seungsik mengangkat kepalanya ragu dan menatap sejun yang saat ini masih mengunci tatapannya pada seungsik.
sejun selama ini tidak pernah secara gamblang memberitahu orang-orang kalau mereka berpacaran, karena memang aslinya mereka tidak pacaran kan? hanya saja orang-orang yang berasumsi seperti itu karena dimana ada seungsik, disitu pula ada sejun. yang membuat anak-anak satu fakultas percaya kalau mereka pacaran yaitu karena tidak satupun dari mereka yang membantah soal gosip tersebut.
namun sekarang, sejun dengan lantangnya mengumumkan kalau seungsik adalah miliknya, yang mana memvalidasi gosip-gosip yang beredar di sekitar mereka, dan mungkin orang-orang yang mengganggu seungsik dan mengejeknya berhalusinasi bisa berpacaran dengan sejun akan bungkam sepenuhnya berkat postingan sejun.
"kenapa..?"
sejun ketawa liat muka seungsik yang masih kaget, di mata sejun tuh itu lucu, "kok kenapa? kan kita pacaran?"
"tapi kan—"
"sik, iya gue tau, please jangan dilanjut, gue gak bakal suka sama kalimat yang keluar dari mulut lo setelah ini."
seungsik mengatupkan bibirnya, nada bicara sejun berubah menjadi serius dan jujur itu membuat jantung seungsik berdetak tidak karuan.
"emang bego banget sih ajakan gue dulu yang ngajak lo pura-pura pacaran, tapi sik, lo emang gak sadar selama ini kalau perlakuan gue ke lo itu… beda?"
seungsik terdiam, jujur saja dia sadar. seungsik tidak sebodoh itu, perjanjian mereka hanya akan melakukan skinship saat di depan banyak orang, tapi yang selama ini mereka lakukan bahkan terlihat seperti sepasang kekasih yang sudah menjalani hubungan selama bertahun-tahun.
seungsik yang selama ini mencoba menutup mata, seberapa meletup hatinya karena setiap perlakuan sejun, ia kubur semua itu, karena seungsik pikir sejun hanya butuh pelarian untuk patah hatinya.
awalnya seungsik juga tidak sanggup harus mengorbankan perasaannya, tetapi melihat sejun bisa tersenyum lebar saat bersamanya membuat rasa senangnya mengalahkan rasa sakitnya.
"sadar.. sebenernya sih.." ucap seungsik ragu.
"terus?"
"gue takut, sejun.. takut salah."
seungsik menggigit bibir bawahnya, degupan di jantungnya masih sama berisiknya, apalagi sekarang dirinya sedang ditatap lurus-lurus oleh sejun.
"kalau ini cuma perasaan sesaat lo gimana? kalau lo cuma butuh pelarian buat ngilangin rasa sakit itu gimana? gak ada satupun orang yang mau ngerasain sakit, jun."
sejun menggenggam tangan seungsik makin erat, berusaha menenangkan lelaki dihadapannya yang kelihatan gelisah.
"maaf bikin lo mikir kayak gitu, sik. gue emang gak bisa ngejanjiin kalau gue gak bakal bikin lo sakit, tapi satu hal yang gue yakin, perasaan gue ke lo tuh gak secetek itu."
seungsik menatap mata sejun dalam, berusaha mencari kebohongan di mata lelaki itu, namun hasilnya nihil, hanya ada ketulusan disana.
"lo pernah denger kan kalau cinta pertama tuh susah dilupain?" ucpa sejun lagi.
"gimana?"
sejun tersenyum lebar sampai menunjukkan lubang di kedua pipinya, "gue beruntung banget bisa ketemu sama cinta pertama gue lagi."
seungsik melongo mendengarnya, dan itu sukses membuat sejun kembali tertawa menyebalkan.
"jadi… lo tuh… dari dulu—"
"iya, sejak dulu, sejak anak-anak dulu heboh ngejekkin kita pacaran."
seungsik makin shock, bahkan gak bisa mengontrol ekspresi wajahnya.
"KENAPA DULU LO GAK NEMBAK GUE?!" ucap seungsik histeris sembari memukul bantal disebelahnya, gregetan dia tuh.
"ya gue takut lo tolak lah?" ucap sejun.
"sinting! siapa yang mau nolak lo?! terus lo malah jadian sama anak kelas sebelah!"
sejun nyengir sembari menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, "hehe.. kalau itu gak tau juga sih? gue lupa."
seungsik mendengus keras, tapi tidak dipungkiri wajahnya memerah, siapa yang sangka kalau ternyata selama ini dirinya tidak mengalami cinta bertepuk sebelah tangan?
"intinya, be mine ya, seungsik?"
seungsik tersenyum malu, lalu mengangguk setelahnya.
tidak ada yang lebih membuatnya lega selain jawaban seungsik, jadi dirinya langsung menarik seungsik ke pelukannya dan mengecup puncak kepala kekasihnya.
"you're the best gift ever, kang seungsik ."
—
fin.
