Work Text:
“Kamu yakin bisa pulang sendiri? Kamu agak mabuk, Tooru.”
Tooru terkekeh sembari sesekali terceguk akibat efek dari sake yang ditenggaknya. “Nah, nah, nah. Aku nggak apa-apa, Takahiro-kun. Sungguh nggak apa-apa—hik. Aku masih ingat rumahku di mana, kok. Sudah ya? Sampai bertemu lagi—hik.”
Tooru menepuk bahu Takahiro bebeberapa kali sebelum lenggang kangkung dari restoran tempat mereka reuni. Issei dan Takahiro membantu beberapa teman mereka yang sudah teler untuk pulang. Issei memesankan taksi dan membantu beberapa dari mereka untuk masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan. Pun begitu pula dengan sahabat mereka, Tooru. Namun, yang bersangkutan menolak untuk naik taksi, bersikeras berjalan sendiri ke arah halte bus yang memang terletak tidak jauh dari restoran. Takahiro yang khawatir tentu saja menyusul, tapi Tooru terus menyuruhnya kembali. Akhirnya setelah memastikan sang sahabat benar-benar tiba di halte bus dengan selamat, Takahiro pun kembali ke restoran.
Tooru mengembuskan napasnya. Menyandarkan kepala pada sandaran halte saat sedang sedikit teler sepert ini memang agak meringankan rasa pusing yang mendera. Salahkan saja kebodohannya sendiri. Sudah tahu tidak kuat minum, tapi masih saja memaksa. Rencana awalnya memang tidak demikian, hanya saja melihat orang itu membuat Tooru nekat memaksakan diri untuk menenggak nyaris tiga botol sake sendirian. Gila? Tentu saja. Biasanya ia hanya sanggup menghabiskan sebotol. Ia cukup suka minum sake, tapi tidak sebanyak itu. Satu botol adalah batas toleransinya.
Tooru kini agaknya mulai menyesali keputusan gilanya. Meski ia masih cukup sadar, tapi efek alkohol itu membuatnya merasa pusing dan juga bergairah sekaligus. Tooru menggeram tertahan. Ya, ampun. Sepertinya ia harus cepat-cepat pulang dan mandi air dingin.
Dan begitulah yang ia lakukan setibanya ia di apartemennya. Mandi dengan air dingin, minum obat pereda mabuk, lalu tidur sebelum otaknya memunculkan ide gila lainnya. Setidaknya malam ini, Tooru bisa mengatasi perasaannya yang bercampur aduk akibat kemunculan tak terduga dari sosok itu. Cinta pertama dan terakhir bagi Tooru.
…..
Paginya Tooru harus berjibaku dengan efek hangover-nya. Perutnya melilit dan lambungnya yang protes menyebabkan Tooru nyaris terkapar di lantai kamar mandi. Ini sungguh tidak benar.
Selesai dengan acara muntah-muntahnya, Tooru berusaha keras bangun dan berdiri. Berpegangan sekuatnya pada dinding dan sekitarnya, menekan tombol siram pada toilet dan menurunkan penutup toilet agar ia bisa duduk sebentar di sana. Mengumpulkan tenaga supaya ia bisa menuju ke wastafel dan menggosok giginya.
Sedikit menyalahkan diri karena sok-sokan kuat. Ternyata memang tidak mudah melepas pergi cinta pertamanya. Dia yang Tooru klaim sebagai pelabuhan hati ternyata tidak bisa memenuhi janji dan membuatnya tenggelam dalam patah hati. Tooru belajar menerima, belajar merelakan, belajar juga untuk move on. Belajar menata hati supaya saat itu tiba, ia dapat tersenyum dan menjadi kuat. Supaya si dia itu tahu, bahwa Tooru jauh lebih tegar, tidak rapuh maupun lemah. Tooru berhasil bersandiwara paling tidak. Berpura-pura kuat, berpura-pura tegar.
Namun, ternyata luka lama yang masih membekas malah kembali terbuka.
Tooru tertawa lemah saat berhasil menuju wastafel dan meraih sikat beserta pasta giginya. Mulai menyikat giginya untuk mengenyahkan rasa tak enak dari sisa cairan lambung yang keluar sebelumnya. Ia mengulanginya hingga dua kali, berkumur dengan obat kumur lalu mencuci mukanya. Tooru menyeka wajah basahnya dengan handuk sebelum mengerang sebal saat bel apartemennya berbunyi.
Dengan handuk yang terkalung di lehernya, Tooru berjalan sambil memegangi dinding untuk menu pintu. “Sialan sekali, kalau itu Takahiro biar kutendang pantatnya nanti!” omelnya dengan segenap hati.
Bel kembali berbunyi membuat Tooru semakin merasa pening. “Iya, sebentar!!”
Tooru berhasil sampai di pintu dan membukanya. “Siapa yang—Huh? Ngapain kamu ke sini?”
Wakatoshi tersenyum tipis sebelum mengangkat kantung kertas di tangannya. “Aku bawa bubur, ini bagus buat pencernaanmu setelah kamu mabuk berat. Kudengar dari Matsukawa kamu hampir tumbang semalam. Apa masih pusing?”
Sungguh, Wakatoshi adalah orang terakhir yang ingin Tooru temui hari ini. Kenapa malah dia yang berada di depan apartemennya pagi ini? Kenapa tidak orang—uh, tidak lagi. Tooru memijat pangkal hidungnya pelan. Memaki di dalam benaknya karena otaknya lagi-lagi mengkhianati dirinya dengan memikirkan yang bukan-bukan.
Mendesah, Tooru mengangkat wajahnya. “Pergilah, Ushiwaka-chan. Aku sedang nggak ingin melihatmu sekarang.”
Wakatoshi mengangguk. “Tentu. Aku hanya akan memberimu ini—” Wakatoshi menarik sebelah tangan Tooru dengan hati-hati dan menggenggamkan kantung kertas yang dibawanya kepada Tooru, “—dan pergi ke kantor. Makan yang banyak. Aku membelikanmu obat pereda mabuk juga ada honey banana smooties untukmu di dalam sini. Minum ya? Biar nggak pusing lagi. Sampai nanti, Oikawa.”
Lalu Wakatoshi berbalik untuk beranjak pergi. Namun, Tooru melepaskan kantung kertas itu hingga terjatuh di depan pintu dan menderap ke arah Wakatoshi dan memeluknya dari belakang.
“Bodoh! Seharusnya kamu berjuang lebih keras lagi! Seharusnya kamu memaksa masuk! Aku ini sedang patah hati, bodoh! Ushiwaka-chan, bodoh! Aku benci kamu!”
Wakatoshi berbalik dan membalas pelukan Tooru. Menuntunnya kembali ke dalam apartemen, mengambil kantung kertas yang terjatuh dan membawanya serta ke dalam bersama Tooru di dalam pelukannya. Menutup pintu apartemen Tooru dan lanjut menuntun Tooru ke meja makan. Mendudukkan Tooru di salah satu kursi di sana, Wakatoshi berlutut di depan Tooru.
Tangannya terulur untuk menghapus jejak air mata di pipi Tooru. Tooru benar-benar terlihat kacau. Sedikit menyalahkan diri tidak segera datang untuk menghampiri orang kesayangannya itu. Tahu benar bahwa Tooru terluka sejak Issei memberinya pesan tadi malam. Keraguan merasukinya karena tahu Tooru masih menyayangi sosok itu. Tak sekali pun memberinya tempat spesial di hatinya meski yang bersangkutan tahu jelas perjuangan Wakatoshi untuk dirinya. Wakatoshi mencoba memberi waktu untuk Tooru.
Namun, bila Tooru malah terluka, mungkin sebaiknya ia yang memaksa memasuki kehidupan Tooru lebih keras lagi.
“Aku pikir kamu butuh waktu untuk sendiri. Makanya waktu Issei memberitahu, aku menahan diriku untuk tidak segera menghampirimu, Oikawa. Tapi kalau kamu yang meminta, tentu aku pastikan aku akan menemanimu sepanjang kamu mengizinkan aku. Maafkan aku?”
Tooru tidak mengerti bagian mana dari penjelasan Wakatoshi yang membuatnya begitu emosi hingga ia malah mengucurkan air mata. Tooru tidak mengerti kenapa rasa haru begitu membuncah dari dalam hatinya. Tooru juga tidak paham, mengapa saat ini dia menangis tersedu dalam pelukan Wakatoshi. Tooru tidak tahu.
Wakatoshi membiarkan Tooru meluapkan emosinya. Sesekali menepuk punggung Tooru, sesekali mengusapnya pelan. Membiarkan Tooru tahu walau tanpa dikatakan bahwa ia akan selalu ada untuknya, apa pun yang terjadi. Hingga sedu sedan Tooru mereda dan kini hanya tinggal isakan kecilnya saja.
…..
Tooru kembali berbaring setelah menandaskan semangkuk bubur, segelas besar honey banana smooties dan dua tablet pereda mabuk yang diminum setengah jam setelahnya. Wakatoshi membelai helai-helai rambut cokelat Tooru, sementara Tooru menyamankan diri di pangkuan Wakatoshi di sofa. Ya, Tooru berbaring di sofa dengan pangkuan Wakatoshi yang dijadikannya bantal.
“Mau cerita?”
Tooru menggelengkan kepalanya. Wakatoshi mengangguk. “Baiklah. Istirahat kalau begitu.”
Entah mengapa, bisikan Wakatoshi seperti mantra, karena dalam sekejap saja Tooru sudah berlayar mengarungi mimpinya.
Dan Wakatoshi membiarkannya seperti itu. “Kamu bisa kurengkuh tapi tetap tak tergapai, Tooru. Kadang rasanya ingin menyerah saja, tapi kamu harus tahu, hal itu tidak akan terjadi bahkan jika kamu yang memintanya. Aku ingin menjagamu, meski bagimu aku hanyalah orang lain.”
…..
Sang surya telah tergelincir ke ufuk barat ketika Tooru bangun dengan perasaan yang lebih baik. Tidak lagi merasakan pening. Perutnya pun tidak bertingkah seperti tadi pagi. Tooru mendongak untuk melihat Wakatoshi yang tengah tidur dengan kacamata bertengger di hidung bangirnya. Tooru menggeliat, seraya menguap lebar lalu merenggangkan kedua tangannya, sebelum beranjak dari posisi berbaringnya. Tidur di sofa tidak pernah terasa senyaman ini.
Seperti merasakan ada yang hilang, beranjaknya Tooru dari pangkuan membuat Wakatoshi ikut terbangun. Saat menoleh ke sebelahnya, Wakatoshi mendapati Tooru tengah merenggangkan seluruh bagian tubuhnya sambil sesekali menguap lebar. Refleks ia juga ikut merenggangkan dirinya, tidur dalam posisi duduk ditambah memangku Tooru membuat beberapa bagian otot tubuh Wakatoshi menjadi kaku.
Tooru menoleh dan mendapati Wakatoshi telah bangun. “Apa aku membuatmu terbangun?”
Wakatoshi bergeleng. “Tidak juga, kurasa aku pun sudah terlalu lama tidur. Mungkin juga karena ini sudah waktunya untuk makan? Aku lapar.” Seakan mengkonfirmasi keadaan, perut Wakatoshi berbunyi. Tooru tergelak karenanya.
Wakatoshi tersenyum. Tooru merasa perutnya kembali melilit, melilit dalam artian yang bagus sebetulnya. Namun, Tooru tak berani menyimpulkannya demikian. Untuk Tooru, cinta itu sebatas kesemuan belaka. Permainan kehidupan yang melibatkan dua orang yang bodoh dan Tooru tidak akan pernah memainkan permainan itu lagi. Hei semesta, Tooru sedang tidak jatuh cinta kan?
Sentuhan tangan Wakatoshi di kedua pipinya membuat Tooru mengerjapkan mata. “Kamu melamun lagi. Aku lebih suka kamu tersenyum atau tertawa seperti tadi.”
Otak Tooru sepertinya korslet atau apa, mendadak saja mengirim sinyal hingga pembuluh darah di wajahnya merespon begitu cepat dan membuat efek panas terbakar di wajahnya. Tooru menonjok bahu Wakatoshi sekuat tenaga. “A—apa sih?! Sudah ah, aku mau mandi dulu.”
Dan Tooru beranjak berdiri dan segera ambil langkah seribu menuju kamarnya. Meninggalkan Wakatoshi yang tercenung saat sesaat tadi ingatannya merekam wajah Tooru yang memerah tapi meninggalkan kesan indah. Tampan dan indah. Gawat. Wakatoshi mengusap wajahnya lalu menghela napas panjang. Ia akan selalu terjerat dalam pesona Tooru.
“Gawat, aku sepertinya malah semakin cinta,” gumamnya dalam desah lelah.
…..
Tooru menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit lebih untuk mandi. Ia perlu menenangkan pikirannya, itu tadi terlalu berbahaya. Hatinya berdenyut dan detak jantungnya menggila. Tooru bimbang. Setelah selama ini ia menolah eksistensi Wakatoshi, mengapa… mengapa malah sekarang perasaan itu muncul?
Bahkan saat bercermin yang Tooru lihat bukanlah bayangan dirinya, melainkan paras tampan mantan rivalnya dan orang yang terdekat dengannya saat ini, Ushijima Wakatoshi. Ini tidak bisa begini kan? Jujur, rasa pusing akan perdebatan dalam dirinya sendiri jauh terasa lebih berat ketimbang acara pusing akibat hangover seperti tadi pagi. Mengapa baru sekarang? Dan mengapa lainnya yang membuat Tooru enggan keluar dari kamar.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang, Tooru memberanikan diri keluar dari kamarnya. Wakatoshi tak terlihat di mana pun, tidak di sofa, bahkan di dapur.
Tooru terhenyak. Terduduk di sofa dengan tremor yang kembali merajai seluruh tubuhnya. Tooru menarik kedua kakinya untuk ditekuk dan dipeluk. Wajahnya terbenam di antara lutut yang dipeluknya. Hatinya sakit, ini bahkan jauh lebih sakit daripada saat melihat kebahagiaan terpancar di wajah sang mantan pujaan tadi malam.
Apa ini artinya ia ditinggalkan lagi?
“Oikawa?”
Tooru terlalu tenggelam dalam pemikirannya sendiri hingga tak mendengar panggilan Wakatoshi. Wakatoshi mendekati tubuh Tooru yang terlihat gemetaran hebat. Wakatoshi melepas plastik belanjaannya dan menarik Tooru agar masuk dalam dekapannya.
“Oikawa, ini aku. Tenanglah, nggak apa-apa. Tenanglah.”
Wakatoshi terus membisikkan kata-kata penenang untuk Tooru, hingga gemetar di tubuh Tooru mereda. Seharusnya ia benar-benar mencegah Tooru tadi malam, tapi Wakatoshi tak kuasa. Ia sudah berjanji menjaga Tooru dari jauh, tidak terlalu aktif mencampuri urusan Tooru kecuali yang bersangkutan yang memintanya. Namun, jika semua itu membuat Tooru kembali trauma hingga mengalami serangan anxiety seperti ini, Wakatoshi tidak bisa tidak menyalahkan dirinya.
“Ka-kamu per-gi….”
“Hmm?”
“A-aku ki-ra, kamu per-gi dan be-benci aku.”
Wakatoshi melonggarkan pelukan dan menatap Tooru tepat di mata. Sebelah tangannya meraih tangan Tooru untuk ditempelkannya di pipinya. Jari jempolnya mengusap-usap sekitaran punggung telapak tangan Tooru yang kini berada di pipinya. “Aku di sini, Oikawa. Maaf nggak bilang dulu, aku ke mini market sebentar untuk membeli bahan sup. Aku sempat memeriksa kulkasmu, ada ayam. Sup ayam hangat bagus untuk perutmu. Jadi, saat kamu mandi aku bergegas ke mini market sebentar untuk membeli bahan lainnya. Maafkan aku, Oikawa.”
“Jangan pergi,” ujar Tooru dengan lirih seperti memohon.
Wakatoshi mengembangkan senyum dan mengangguk. “Iya, aku nggak akan pergi.”
“Maaf, aku egois.”
“Aku nggak keberatan. Kamu mengizinkan aku menemanimu seperti ini saja aku sudah senang.”
Pandangan keduanya bersirobok sekali lagi. “Apa aku boleh egois sekali lagi, Ushiwaka-chan?”
“Untukmu segalanya, Oikawa.” Jemari Wakatoshi mengusap pelan pipi Tooru.
Tooru mengerjapkan mata. Dari kedua bola mata dengan iris berwarna cokelat itu Wakatoshi melihat kesungguhan. “Panggil aku ‘Tooru’ dan miliki aku?”
Sudut bibir Wakatoshi kembali tertarik membentuk kurva lebar. Seolah meyakinkan Tooru bahwa keputusan yang Tooru ambil adalah benar. Pun misalkan Tooru masih bimbang, Wakatoshi akan tetap terus berusaha memperjuangkannya lagi dan lagi. Seperti biasanya. Maka, kembali ditariknya Tooru ke dalam pelukan. Berbisik dengan suara yang lembut tapi tegas. “Tentu. Tentu, Tooru.”
“Tapi… aku belum memiliki perasaan untukmu, Ushiwaka-chan.”
“Aku bisa menunggu.”
“Aku akan sangat menyebalkan.”
“Aku sudah kebal dengan itu.”
"Aku plin-plan."
"Aku nggak masalah."
“Aku bisa menjadi sangat manja tiba-tiba.”
Wakatoshi melepaskan pelukannya sejenak. “Aku sudah bilang aku nggak akan menyerah untukmu.”
Tooru membenamkan diri dalam pelukan Wakatoshi. “Aku… nggak ngerti sama kamu. Kenapa kamu seperti ini, padahal aku selalu menolakmu.”
“Tooru, kamu bilang kamu egois kan? Kalau aku bilang, ini adalah salah satu bentuk keegoisanku, apa kamu akan percaya?”
“Jadi, kita berdua sama-sama egois?”
“Bisa dibilang begitu?”
Tooru menarik diri dari pelukan Wakatoshi, memperlihatkan wajahnya yang kini cemberut. “Ih kok begitu?”
“Ya, nggak masalah kan? Kita boleh sesekali egois, Tooru. Kita juga belajar untuk bisa memperbaiki sikap jelek kita bersama. Berubah untuk menjadi lebih baik bersama-sama. Kalau belum bisa, nggak apa-apa. Kita hanya harus terus belajar lagi dan lagi.”
Tooru terkekeh. “Kamu terlalu optimis, Ushiwaka-chan.”
“Aku belajar dari seseorang,” pungkas Wakatoshi diplomatis.
“Dan seseorang itu?”
“Kamu.”
Tooru terbelalak. “Huh? Aku?”
“Kamu kan memang orang yang optimis, Tooru.”
Tooru menunduk. “Itu dulu, sebelum aku—” Wakatoshi menempelkan telunjuknya pada bibir Tooru, menghentikannya dari apa pun yang ingin diucapkan olehnya.
“Sudah, jangan khawatirkan itu. Yang berlalu biarkan berlalu, ya? Sekarang ada aku. Aku akan berusaha terus mendukung dan menguatkanmu, agar kamu bisa menjadi apa pun yang kamu mau.”
“Kamu benar-benar memanjakan aku, ya?”
“Hmm, hmm.”
“Wakatoshi? Bolehkan aku panggil kamu begitu sekarang?”
Wakatoshi mengangguk. “Boleh.”
“Itu… aku lapar. Jadi bikin sup ayam?”
Wakatoshi mengacak sayang rambut cokelat Tooru. “Oke. Ayo, kita masak supnya!”
Tooru mengangguk antusias. Wakatoshi membantunya berdiri dan meraih plastik belanjaan yang tadi sempat terlupakan di lantai. Lalu menggenggam tangan Tooru untuk kemudian keduanya menuju ke dapur. Sibuk berkutat dengan bahan-bahan makanan dan mengolahnya bersama-sama.
Seperti membuka lembaran buku kehidupan bersama-sama. Meski Wakatoshi dan Tooru tidak akan pernah tahu apa yang kelak akan terjadi di hari-hari ke depan, setidaknya mereka mulai mencoba untuk melangkah bersama.
End
