Work Text:
Anting yang dipakai pada sebelah kiri telinga Mistuya Takashi saat ini, ialah barang yang kuhadiahkan ketika aku berada ditahun kedua, sekolah menengah atas.
Cintaku bersemi padanya sejak masa sekolah itu.
Ia dan diriku bertemu, saat-saat aku yang bobrok ini tengah bimbang akan esktrakurikuler apa yang aku minati, atau setidaknya yang mana yang akan aku ikuti.
Saat itu, jam kosong mengisi kelas kami. Aku saat itu sedang berjoget asik di depan pintu kelas bersama dua teman kelasku.
Tanpa adanya angin tanpa adanya hujan, Mitsuya Takashi melengok masuk ke dalam kelas.
Aku terkejut, begitupun dua yang lain. Batinku, "Oh, bukannya itu Mitsuya Takashi? Siswa tahun ketiga, kan. Senior dong?"
Entah mengapa aku sedikit kesal, mungkin karena dia tiba-tiba muncul bikik kaget, atau karena dia seenaknya masuk ke kelas orang lain.
Namun, aku segera menghalangnya sebelum dia masuk lebih jauh. Meskipun dia tahun ketiga, akanku sok dia sedikit. "Sekalipun dia senior kami."
Langkahnya pun terhenti, dia tatap diriku, alisnya terangkat sebelah, mempertanyakan aksiku ini. Aku berasumsi atas tanggapannya akan hal ini. Tapi, tak disangka, dia malah tersenyum sopan, dan berucap, "Permisi ya."
Aku terkejut yang kedua kalinya. Tubuhku bergerak dengan sendirinya seakan menuruti permintaan si senior itu untuk lewat. Dengan tampilan kedua alisnya yang dicukur, dan mata sayunya itu, sulit bagiku untuk membayangkan ekspresinya yang bisa seramah itu. Pada benak ku, dia orangnya berandalan dan suka menindas orang lain.
Tapi setelah dipikir-pikir, semua gambaran itu hanya berdasarkan dari rumor yang beredar. Aku mungkin sudah salah menilainya.
Mitsuya Takashi berhenti di tengah papan tulis berada. Tangan di saku celana, pengukur badan tergantung di leher jenjangnya, rambutnya lavender cepak, gayanya santai begitu juga dengan wajahnya. Ketika dia mengambil napas, bulu mata lentik yang bertengger di matanya itu pun ikut bergetar.
Waktu itu, aku belum jatuh cinta.
Suaranya bergemah ke seluruh sisi kelas ketika dia bertanya siapa yang ingin bergabung dengan klub entrepreneur.
Aku tertegun, "Ada juga ya klub seperti itu, baru dengar."
Selama menuju 15 detik kemudian, Ia hanya mengobservasi dekorasi kelas seolah-olah hanya benda yang menarik perhatiannya. 15 detik berlalu, tidak ada tanggapan dari teman-teman kelasku, dia pun bergumam, "Makasih." dan keluar dari kelas.
Diriku jadi tiba-tiba tegang ketika tahu dia akan berpapasan denganku lagi. Entah mengapa jauh dalam hatiku berharap, ada ketidaksengajaan untuk bersentuhan dengannya, yang mana hampir saja reseptorku bergerak mengikuti ide tersebut. Beruntungnya dia sudah lewat terlebih dahulu sebelum impulsivitasku menjadi-jadi.
Semilir angin seketika menerpa diriku, membawa sebuah bau yang harum, sangat harum ketika masuk dalam indera penciumanku. Bukan bau harum yang membuat jenuh, namun semakin candu.
Detik itu aku langsung tahu, itu berasal darinya, Mitsuya Takashi, siswa tahun ketiga, senior kami, ketua klub kerajinan.
Sungguh, wanginya amat harum.
Aku tak dapat menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan harumnya, sebab diriku pun tak dapat mengenali apa itu. "Mungkinkah parfum yang kemasannya itu terbuat dari kaca? Tapi, sepertinya aku familiar dengan wangi itu, serasa pernahku cium harumnya... mungkinkah Downy merah muda? Nggak mungkin, pasti parfum mahal." batinku.
Ya... saat itu aku memang tumpu akan wewangiang, namun setelah aku mencari tahu lebih dalam, asumsiku tepat sasaran. Aroma itu tak salah lagi dari pengharum baju, Downy merah muda.
Tanpa kusadari, ternyata aku terbengong beberapa menit, dan Mitsuya Takashi telah lenyap dari pandanganku.
Sepersekian detik berikutnya hati dan pikiranku sudah sepakat, "Kita kejar si senior itu!". Aku pun melesat lari mencari di mana klub kerajinan berada.
Aku ingin menawarkan diri untuk bergabung dengan klub tersebut, yang mana langsung disambut dengan rambut cepak ungu itu lagi, dan baru kuketahui ternyata dia yang memimpin klub kerajinan.
Dia tanya apa motivasiku untuk bergabung, tapi sebelum menjawab terlebih dahulu aku menenangkan hati dan pikiran agar supaya dapat berpikir kritis untuk jawaban yang sekiranya cukup logis, meskipun alasan yang mendorong diriku kemari adalah wanginya yang harum.
Siap untuk menjawabnya dengan penuh percaya diri, lagi-lagi aroma itu menyerbak. Sialnya harum itu lebih pekat. Bisa tebak apa yang terjadi? Kepalaku pusing, lidahku keseleo.
“Motivasi saya ialah-mmh ya ampun betapa wanginya kakak ini-eh astaga, maksud saya agar supaya bisa lebih dekat dari ini-heh, nggak! Itu biar bisa membantu kakek di kebun-aduh, nggak maksud saya-” system error. Mati lampu, gelap gulita pikiranku.
Cengo saja yang bisa kutampakkan. "Tolong ini malu-maluin sekali."
Di sisi lain Mitsuya Takashi yang jelas terlihat tidak terkesan, menghembus napas. “Dek, ada cabai tuh di gigimu.”
Sekejap mata tanpa perintah tubuhku kabur lari. Tolong jangan tanya seberapa malu diriku. Sepanjang hari itu yang hanya kurasakan adalah mati rasa.
Itu memang jumpa pertama yang sungguh memalukan, namun tak bisa terlupakan.
+++
Kali ini tempo hadiah yang kuartikan sebagai kenangan dengannya-anting cincin bermotif salib yang berhasil kuberikan.
Hari itu adalah hari yang dirancang untuk perayaan perpisahan klub yang aku ikuti selama hampir setahun dengan para senior klub, termasuk dirinya.
Aku masih ingat, di bawah langit malam musim panas, di atap gedung restoran yang kami sewa. Petasan yang telah disetel teman-teman klub, minuman kaleng ringan yang digenggam semua orang, aroma ikan bakar yang masih hangat tercium, bahana musik galau dari speaker, juga kilauan penuh kegembiraan dari iris matanya.
Antingnya ada di saku celanaku. Entah sudah berapakali aku menyentuh benda tersebut, ini artinya diriku lagi grogi. Bagaimana kalau dia nggak suka?
Sebenarnya cukup menyedihkan. Setahun ini aku yakin sudah memantapkan hati pada dirinya, yakin banget malah, suka yang bukan hanya sekedar ingin melihatnya terus menerus, namun sudah merambah ke, "mau bareng dia terus-terusan". Bakalan suka nggak ya? Kasih aja dulu nggak sih? Belakangan aja suka apa nggaknya.
Mengingat kerja keras yang aku lakukan tanpa sepengetahuan mama demi hadiah kecil ini, oh ada juga si sialan yang memergok aksiku yang menyebabkan diriku harus menutup mulut dowernya itu, ah juga tawar-menawar dengan tukang jual. Aku menghela napas, menggelengkan kepala. What a day.
“Ada apa?”
Tanyanya tiba-tiba membuatku terjungkit. "Ah sial aku lupa daratan."
Kubalas dengan senyuman. “Nggak ada, aman kok hehe.”
Cukup lama dia mentapaku seolah-olah dia mengobservasi pikiranku melalui pandangan mata. Napasku tertahan, pundakku menegang, lalu dia menarik iris matanya, kembali mengawasi petasan yang akan segera meluncur.
Beberapa detik berlalu diisi dengan kesunyian yang entah mengapa tak canggung, malah nyaman. Now or never.
Ketika petasan mulai naik ke langit malam, aku memberanikan diri memanggilnya.
Dia menoleh, dengan gestur tanda tanya yang terhias jelas di wajahnya yang rupawan. Alisnya yang tipis, bibir yang terlihat lembut, rahang tegas namun kalem, bahunya rileks, leher jenjangnya, bulu matanya lentik bagian yang kufavoritkan, serta iris mata penuh binar lembut. Elok, dia begitu elok.
Napasku tertahan, Ya Tuhanku, dia sangat menawan.
Meraih anting dari saku, kubawa di hadapannya. “Err nih.”
“Apa ini?”
“Permen dari Swiss.”
Dia menghabiskan 5 detik menatap ke arah tanganku, lalu berucap, “Oh.”
Fuck my life.
Tertawa canggung, aku berkata, “Bercanda lah hehe, ini anting loh.”
Akhirnya dia mengambil anting yang sedari tadi menganggur di telapak tanganku, lalu dia membawanya lebih dekat ke pandangannya, tersenyum. Binar matanya terlihat seperti lebih bersinar dari sebelumnya, mungkin ini hanya khayalanku saja.
“Dalam rangka apa?” tanyanya kembali, tanpa memalingkan muka.
“Yah, hadiah kecil doang, buat kenang-kenangan begitu?” Senyumku lima jari, sampai gigi tungkakku kelihatan.
“Thanks,” ujarnya lembut, masih tersenyum. “Aku-”
Petas! Petas! Petas!
“Kurang ajar!!!”
Kalimatnya terpotong tiba-tiba oleh suara petasan yang berasal dari bawah kakiku, benar, kawan-kawan sialanku itu melemparkan petasan di bawah kakiku. Kampret!
Hampir saja diriku tewas, jantungku mau copot rasanya. Dasar bedebah!
Saat aku menanyakan kalimatnya yang tak terselesaikan, dia malah tergelak dan berkata, “Jangan lupa ikan bakarnya bakalan hangus.” Seketika aku teringat lalu pamit undur diri, panik.
Ya, malam yang sungguh keren.
Berakhirlah misiku dengan status cukup sukses, yah kalau saja petasan malam itu ditiadakan bakal jadi kemenangan untukku. Setidaknya hadiahku sudah mencampai tujuannya.
Tetapi setelah perayaan dan penyerahan hadiah itu, belum pernah sekali aku melihat dia memakai anting yang kuberi. I wonder why.
+++
Kemudian, hari penamatan tahun ketiga datang.
Upacara penamatan dilaksanakan secara tertutup di ballroom sekolah. Orang tua dan siswa tahun ketiga yang hanya diperkenankan untuk hadir.
Tentu saja para siswa tingkat bawah tetap disuruh untuk datang sekolah walaupun seharian merupakan jam kosong. Malahan kami diperintahkan membersihkan kelas sekaligus koridor.
Padahal aku pengen banget lihat upacara penamatan. Murungku. Pengen lihat Mitsuya terakhir kalinya di sekolah.
“Kenapa ngab? Desah mulu daritadi.” Takemichi, yang bersama-sama denganku kebagian menyapu koridor menatapku dengan bingung.
Sekali lagi aku menghela napas. “Pengen datang ke acara penamatan sob, tapi gak bisa ya kan.”
Raut wajah Takemichi mendatangkan keprihatinan, tersenyum simpul. “Oh gitu ... sabar ya ngab.”
Sekali lagi aku menghembus napas.
Ah!
“Takemichi!” seruku tiba-tiba membuat Takemichi terjungkit. “Pegang sapunya.”
“Heh? Mo kemana emang?”
“Nggak bisa aku biarin, aku nggak tahan!” Alis Takemichi berkedut. “Aku nggak tahan nggak lihat Mitsuya! Aku mesti ke sana secepatnya!”
“Tapi kan kita dilarang!”
“Ketidakpatuhanku sedang berlibur sekarang. Amankan tasku ya Takemichi! Dah!” Lalu aku tancap cabut.
Mitsuya tunggu aku!
Sesampai di ballroom sekolah, aku bisa melihat acaranya masih berjalan walaupun pintu utama yang besar itu tertutup rapat.
Brengsek!
“Tidak ada pilihan lain selain menunggu.” Aku menunggu lumayan lama bersama pak satpam yang kebetulan tetangga sekompleks rumahku. Setidaknya aku menghabiskan waktuku untuk bercakap-cakap.
Sekian lama menunggu, pintu ballroom akhirnya dibuka, para orang tua dan siswa yang akhirnya tak punya status lagi di sekolah berhamburan keluar. Lalu aku mendapati diriku menyusup masuk ke dalam, mulai mencari keberadaannya.
Mitsuya, Mitsuya, Mitsuya, ungu, ungu, ungu, ung--ah! Ketemu!
Aku melihatnya.
Berbalut seragam tradisi penamatan yang kelihatan agak besar pada ukuran tubuhnya yang mungil, seperti dirinya agak sedikit tenggelam. Astaga gemes! Fuck, pengen peluk. Topi kotak di atas surai lavender miliknya, bibirnya terangkat membentuk senyuman bahagia, dan tak lupa bulu mata yang selalu membuat pikiranku terista.
Aku bisa melihat senior Draken, Mikey dan Baji bersamping-sampingan bersamanya, tertawa tergelak bersama-sama, mengambil momen akhir-akhir di sekolah melalui lensa kamera. Para orang tua mereka juga tak jauh dari mereka berbincang sesama perwalian.
Entah mengapa aku ikut merasakan suka cita, kententraman, dan kelegaan yang meliputi diriku hanya karena menatapnya berseri bahagia.
Aku menatapnya sekali lagi, lalu aku menyadari sesuatu. Anting yang ia pakai berbeda dari biasanya, itu seperti anting yang kuberikan, dan itu benar. Aku tak salah melihatnya.
Holy shit.
Dia memakai anting yangku berikan. Perasaan bahagia memuncak dalam diriku, aku tak tahu harus berkata apa. Aku pikir ini cukup, lebih dari cukup. Beberapa menit terlawati denganku yang hanya memantau dirinya dari jauh. Tujuanku sudah terpenuhi dan sialnya lagi aku dapat bonus, sekiranya aku selesai dan aku bahagia. Mungkin aku harus kembali dan pergi.
Memutar badan, aku mengambil satu tapakan kaki lalu aku mendengar namaku dipanggil.
Aku terkejut, lalu menengok dan mendapati dirinya melambaikan tangan padaku, gesturnya memanggil diriku untuk datang padanya.
Diriku kikuk dan ragu, namun aku tetap pergi datang kepadanya, karena aku rela melakukan apa saja untuknya. Semakin diriku mendekat, mereka satu persatu melirik diriku datang.
“Oh, bukannya tingkat bawah gak boleh datang? Punya nyali juga kawan,” celutuk senior Baji mengobservasi diriku. Aku hanya tertawa canggung.
“Kamu datang karena mau lihat Mitsuya kan?” ujar senior Mikey menyeringai. Aku rasa wajahku memerah.
“Emang nggak boleh?” ucap Mitsuya sekilas bertatapan denganku.
“Cie dibela Mitsuya, senang gak? Senang gak?” goda Baji menyikutku.
Semakin malu, aku bercicit, “I-iya.”
Gelak tawa pecah keluar dari bibir mereka, senior Baji menepak-nepak pundakku, sedangkan diriku hanya bisa berusaha menahan wajahku agar tak semakin memerah tomat.
“Jangan digoda lah 'Ji, kasihan anak orang.” Akhirnya senior Draken angkat suara.
“Santai dong, santai. Kasihan malah dianya tegang kayak mau ospek. Lemesin bray.”
“Aha lo juga ketagihan godain orang 'Ji, awas keseringan nanti si Chifuyu anggap lo bercanda doang.”
“Eits, lain hal itu saudaraku. Asmaraku itu serius.”
“Siap bang jago.”
“By the way, mumpung dia dengan beraninya datang kemari, kita ajak sekalian makan bareng deh, mau nggak?”
Tiba-tiba ditanya, aku terkikuk, menatap para senior tercengang, lalu mataku bertemu dengan iris marshmallownya yang berbinar, seperti memberikan keberanian untukku.
“Heh? Oh, oh, boleh banget!” jawabku sangat pasti.
Kesempatan tidak datang dua kali!
“Jawaban yang tepat! ditambah bakalan ada Chifuyu, Hakkai, kembar keriting, sama Emma juga ya kan, asik, asik rame!” seru senior Baji yang sangat antusias.
Wow, great. New friends I guess? Well doesn't matter.
“Skuy kita cabut.”
Aku tak menyangka yang tadinya kukira hanya akan memandang dari jauh lalu berlalu malah berkahir ditawar untuk ikut pesta bersama. Tidak masalah, ini pertanda baik buatku.
“Thanks.”
Terkejut, aku menoleh ke samping. Mitsuya menatapku dengan senyuman yang sangat berseri membuat hatiku berpacu semakin ekstrem.
Holy fuck.
Tak pernah aku lebih antusias dari sebelumnya.
