Work Text:
Pria itu terbangun dengan nafas terengah. Dengan posisi telentang dan tidak nyaman, ia meraba-raba meja sebelah tempat tidur dan menggapai benda kesayangannya yang berbentuk persegi panjang. Pukul lima lewat tiga menit adalah waktu yang tertera di dalam benda persegi panjang itu. Byungchan hanya menghela nafas dan kembali menaruh handphone –benda persegi panjang itu ke tempat semula. Masih terlalu pagi pikir Byungchan. Jarak rumah dengan kantor hanya berkisar 15 menit dan kantornya pun baru beroperasi pukul 9. Byungchan memejamkan matanya untuk meminimalisir ingatan ia terhadap mimpi buruk yang kerap kali ia dapatkan akhir akhir ini. Alih-alih hilang, bayangan seram itu malah semakin nyata dan membuat byungchan semakin tidak bisa tidur lagi. Bukan salahnya kan? kalau Byungchan tumbuh menjadi seorang penakut akan hal-hal seperti itu. Sejak kecil, ibunya selalu bilang bahwa hantu itu menyeramkan dan suka mengejar manusia. Jadi, doktrin itu tertanam dalam dirinya sehingga membuat Byungchan amat sangat takut terhadap hal-hal mistis.
Sudah sekitar semingguan, Byungchan tidak tahu apa yang membuatnya kerap kali mendapatkan mimpi menyeramkan secara berturut-turut. kata Sejun, rekannya, Byungchan hanya kelelahan karena terlalu sibuk bekerja. Tetapi, ia tidak begitu setuju. Bukankah seharusnya ia tertidur lelap karena kelelahan? Bukan malah mendapatkan mimpi yang bahkan tidak ingin lagi ia ingat lagi? Dengan terpaksa, ia menyeret tubuhnya kedalam kamar mandi. Mungkin air segar dipagi hari bisa membuat byungchan lupa dengan bayangan menyeramkan tadi.
" Oh my god! itu mata panda?" Bukan sapaan selamat pagi yang Byungchan dapatkan malah ejekan Sejun yang terlontar dari mulut pria bermarga Lim itu.
"Ya. Selamat pagi juga, Lim Sejun." Byungchan membalas Sejun dengan nada penuh tekanan. Bagaimana tidak? Ia baru tidur sekitar pukul 2 dan harus terbangun pukul 5 karena bermimpi seram, dan Sejun sudah mengolok-oloknya pagi ini?
"Mimpi buruk lagi?" Tanya Sejun prihatin. Tangannya meletakkan segelas kopi hangat yang ia bawa dari coffee shop dekat kantor mereka diatas meja kerja Byungchan.
Byungchan hanya menghela nafas lelah dan menyeruput kopi paginya. Tidak lupa menggumamkan terima kasih kepada Sejun.
"Kepalaku berat banget. Dan itu sakit. ah aku butuh tidur" Byungchan hampir saja menjedukkan kepalanya ke meja kerja kalau saja Sejun tidak dengan sigap menahan kepala Byungchan yang amat terlihat sangat frustasi.
"Hoi! Jangan aneh-aneh kalo rusak mejanya gimana"
Byungchan menatap Sejun dengan malas. "Kalo masih mau ngolok-olok aku, mending kamu keluar deh! kepalaku tambah pusing!" Memang sleepless membuat Byungchan gampang terpancing emosi.
Sejun mengusap dadanya sabar sebelum bertanya,
"Udah baca doa sebelum tidur?"
Byungchan mengangguk.
"Cuci kaki, cuci tangan, cuci muka?"
Byungchan kembali menangguk.
"Pasang penangkal mimpi yang aku kasih kemarin? Terus bayangin yang indah-indah sebelum tidur?"
"Udah semua. Yang kamu saranin kemarin-marin, udah semua aku lakuin tapi hasilnya nggak ada!" Berbagai saran dari Sejun sudah Byungchan lakukan tetapi tetap saja mimpi itu datang. Bahkan ia memasang dream catchers pemberian Sejun tepat diatas kepalanya, tetapi itu tidak memengaruhi apapun.
Sejun menggaruk pelipisnya. Pasalnya, semua saran yang kekasihnya berikan sudah ia sampaikan kepada Byungchan.
"Yaudah. Nanti aku tanya lagi sama cewekku gimana cara menangkal mimpi buruk," Sejun menatap Byungchan prihatin. "Nanti jam istirahat kamu pake buat tidur aja." Sambung Sejun.
"Yaudah. Gih sana kamu pergi. Aku mau kerja" dengan seenaknya Byungchan mengusir Sejun yang ditanggapi dramatis oleh lelaki itu, 'ini balasan kamu terhadap kebaikan aku?' Yang tentu saja Byungchan abaikan, tetapi kalimat Sejun selanjutnya membuat Byungchan terdiam
'Pokoknya aku mau minta bayaran sama Ka Seungwoo pas dia pulang nanti'
Byungchan buru-buru mengecek kalender. Sudah satu minggu ia bermimpi buruk dan sudah satu minggu juga kekasihnya pergi berdinas keluar kota meninggalkan dirinya sendiri. Tentu saja Byungchan tidak mengatakan pada Seungwoo perihal mimpinya. Ia tidak mau repot menjelaskan kepada Seungwoo. Kekasihnya itu sangat mendetail dan Byungchan tidak punya tenaga lagi kalau harus menghadapi pertanyaan mendetail Seungwoo. Jadi, ia putuskan untuk bercerita nanti saja saat kekasihnya itu pulang.
Jumat yang sangat melelahkan. Seingat Byungchan, sesampainya ia di rumah, Byungchan langsung bersih-bersih, dan merebahkan dirinya di tempat tidur hingga terlelap. tidak lupa berdoa agar ia diberikan tidur yang nyenyak. Tetapi sepertinya doa Byungchan tidak di dengar. Lagi-lagi ia mendapatkan mimpi buruk. Dengan masih gemetaran Byungchan menghidupkan handphone nya. Ia mengumpat pelan. Masih pukul 3 dini hari dan ini adalah hari sabtu. Teramat sangat pagi untuknya, Tidak mungkin Byungchan menunggu pagi datang untuk beraktifitas guna melupakan mimpinya itu barusan. Byungchan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Pertahanan ia hampir runtuh. Byungchan sendirian dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tapi penampakan koper di tengah tengah kamar tidurnya menghentikan mata Byungchan yang hampir mengeluarkan air mata itu.
"Hei!" Seungwoo yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan setelan piyamanya langsung terburu-buru menghampiri Byungchan dan mendekap lelaki itu. Benar saja. Kekasihnya gemetaran. Seungwoo mengusap pundak Byungchan yang tidak tertutupi apa-apa yang membuat Byungchan semakin melesakkan wajahnya ke ceruk leher Seungwoo, tak lupa sebelah tangannya menggenggam piyama Seungwoo dengan sangat kuat. Bisikan menenangkan Seungwoo lontarkan ke kuping Byungchan, usapannya juga tidak berhenti sebelum lelaki yang ada didekapannya ini terlihat lebih tenang.
"Byungchan, sayang? Lepas dulu yuk? Nanti kamu sesak" Sekarang posisi mereka sudah berganti, kini keduanya merebahkan diri mereka di kasur dengan posisi Seungwoo masih mendekap Byungchan. Sedari tadi kekasihnya itu tidak mau untuk menjauhkan dirinya barang sejengkalpun dari Seungwoo.
"Enggak mau!" Suara Byungchan terpendam. Seungwoo terkekeh.
"Kalo gamau nanti set–" Byungchan buru-buru menutup mulut Seungwoo dengan kedua tangannya.
"Kamu jangan sembarangan nyebut-nyebut gituan ya!! Kalo tiba-tiba nongol gimana?!!" Byungchan panik tentu saja, bahkan dirinya selalu menyensor itu saat bercerita dengan Sejun. Dan sekarang dengan mudah Seungwoo menyebut kata tersebut? Enak saja!
Seungwoo pecah dalam tawa. Kekasihnya ini! Seungwoo sangat merindukannya. Semua pesan singkat dan video call rutin mereka rasanya tidak mampu mengobati rasa rindu Seungwoo terhadap Byungchan.
"Lagian ko kamu bisa tau, si? Aku ga pernah cerita kan" kini Byungchan menyamankan dirinya didalam dekapan Seungwoo. Dan juga terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
"Oh jelas, informan aku banyak" jawaban Seungwoo hanya dibalas dengusan Byungchan. Tidak susah menebak siapa yang memberitahu Seungwoo. Siapa lagi kalau bukan sejun?
" Feeling Better?" Seungwoo menatap Byungchan yang sedang memainkan kancing piyama miliknya.
Byungchan tersenyum lembut kepadanya dan mengganguk pelan. Tampan , batin Seungwoo. Kekasihnya itu amat sangat tampan.
Ia memajukan wajahnya ke arah Byungchan dan mengecup seluruh wajah tampan kekasihnya itu dengan lembut. Tak lupa dengan kecupan panjang di bibir itu sebelum menyudahi kecupan dan mendekap Byungchan lebih erat. Seungwoo menghela nafas. Nyaman. Mereka tidak berbicara lagi sehabis itu dan hanya saling mendekap menyalurkan rasa rindu yang terbendung selama seminggu lebih.
Perlahan, tangannya naik mengusap rambut hitam legam Byungchan dan bibirnya menggumamkan lullaby dengan pelan.
Ah Byungchan merindukan ini juga, usapan lembut, dekapan hangat dan gumaman merdu Seungwoo di telinganya. Perlahan-lahan Byungchan menguap, matanya sayup sayup perlahan terpejam. Seungwoo masih memperhatikan kekasihnya dan memastikan agar Byungchan nyaman sehingga tidak akan terbangun lagi untuk beberapa jam kedepan.
Saat dirasa Byungchan sudah lelap dibuainnya, Seungwoo sekali lagi mengecup kedua mata Byungchan dan bibir itu pelan setelahnya ikut memejamkan mata dan menyusul Byungchan kedalam mimpi.
Hari itupun Byungchan berhasil tidak bermimpi seram dan jangan lupakan mereka baru terbangun pukul 11 keesokan harinya.
