Actions

Work Header

Unexpected Destiny

Summary:

Krystal Jung seorang gadis berusia sebelas tahun yang lahir dan besar di London. Ia selalu beranggapan bahwa dunia 'lain' hanya ada di film-film, namun setelah surat aneh datang ke rumahnya disertai seseorang yang aneh mengatakan bahwa ia adalah seorang penyihir, sejak itulah Krystal menyadari bahwa semua itu nyata dan dirinya juga menjadi bagian darinya.

Notes:

Disclaimer: Latar Dunia Sihir dan karakter-karakternya milik JK Rowling. Saya tidak mengenal tokoh-tokoh dalam fanfiksi ini secara pribadi. Saya sama sekali tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini (kecuali kepuasan hati saya).

Dunia Sihir sudah aman, Voldemort dan para Pelahap Maut sudah musnah. Dumbledore dan Snape meninggal (mengikuti kisah di buku HP). Saya kurang tahu Profesor Sprout akhirnya gimana, jadi saya ceritakan di sini sudah pensiun, digantikan oleh Neville Longbottom menjadi Kepala Asrama Hufflepuff dan guru Herbologi. Hermione Granger menjadi Kepala Asrama Gryffindor sekaligus guru Transfigurasi menggantikan McGonagall. Saya juga kurang tahu Profesor Slughorn kembali ke masa pensiunnya atau tidak, jadi saya ceritakan dia masih tetap mengajar sebagai guru Ramuan.

Chapter 1: Hana (One)

Chapter Text

BAB 1

Krystal Jung atau dengan nama Korea Jung Soojung. Gadis berusia sebelas tahun yang lahir dan besar di London, Ayahnya orang Korea dan Ibunya adalah campuran Inggris-Korea. Ayahnya bernama Jung Yunho merupakan seorang dokter bedah di Great Ormond Street Hospital, sedangkan Ibunya bernama Jung Boa adalah seorang ibu rumah tangga . Ia mempunyai seorang kakak perempuan berusia enam belas tahun bernama Jessica Jung atau Jung Sooyeon. Mereka tinggal di Bedford Place nomor enam belas di sebuah rumah besar yang indah dan rindang. Keluarga mereka hidup rukun dan damai.

“Pagi, Eomma,” kata Krystal turun ke meja makan. Mereka terbiasa memakai bahasa Korea jika sedang di rumah.

“Pagi, Soojung-ah,” kata Ibu dan Ayahnya bersamaan.

Krystal melirik ke jendela sebelum menduduki kursinya. Ada yang aneh pagi ini. Seekor burung hantu berwarna abu-abu hinggap di tiang lampu dekat rumahnya. Bukankah burung hantu hanya berkeliaran di malam hari?

“Eomma, apakah burung hantu itu sering hinggap di sana?” tanya Krystal keheranan.

“Hm? Burung hantu?” kata Ibunya berjalan menuju jendela. “Kok bisa ada burung hantu di sana?”

Ayahnya yang sedang membaca koran berdiri dari kursinya, penasaran dengan burung hantu yang dibicarakan istri dan putri bungsunya itu.

“Aneh,” kata Ayahnya. “Biarkanlah. Asal tak mengganggu saja.”

“Mana Eonnimu?” kata Ibunya seraya melirik ke arah tangga, mencari Jessica. “Mengapa belum turun?”

“Katanya dia mandi dulu,” jawab Krystal.

Setelah Krystal memakan setengah sandwichnya, Jessica turun dengan handuk menutupi rambutnya yang basah hingga airnya menetes-netes ke lantai.

“Ambilkan surat dulu di depan, Soyeon-ah,” kata Ibunya. Jessica langsung berbalik lagi menuju kotak surat di depan rumah mereka.

Tak lama kemudian, Jessica kembali membawa beberapa surat. Ia memeriksanya, lalu berkata, “Ada surat untukmu, Soojungie-ya.”

“Untukku?” kata Krystal. Jessica menyerahkan surat yang dimaksud. Tertera dengan jelas, ditulis dengan tinta hijau:

Miss K. Jung
Ruang Makan
Bedford Place no. 16
Bloomsburry, Camden

Kok, dia bisa tahu aku ada di ruang makan? –pikirnya heran.

Amplop surat itu tebal dan berat, terbuat dari perkamen–kulit yang digunakan sebagai pengganti kertas. Tak ada perangkonya. Ia membalik amplop itu, segel ungu bergambar lambang huruf ‘H’ besar yang dikelilingi singa, ular, musang, dan elang.

“Surat apa itu, Soojungie-ya?” tanya Jessica. Krystal mengangkat bahu. Krystal menarik keluar suratnya dan membacanya.

Kepala Sekolah: Minerva McGonagall
(Order of Merlin, Kelas Pertama)

Miss Jung yang baik,

Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan. Tahun ajaran baru mulai 1 September. Kami menuggu burung hantu Anda paling lambat 31 Juli.

Hormat saya,

Filius Flitwick
Wakil Kepala Sekolah

Mwo? Sekolah sihir? –pikirnya.

Krystal menaikkan sebelah alisnya. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di kepalanya hingga ia tak bisa memutuskan mana yang ia tanyakan lebih dulu. Selewat beberapa menit, Jessica bertanya dengan keheranan padanya.

“Waeyo, Soojungie-ya? Itu surat apa?”

“A-aku juga tak mengerti, Eonni,” jawabnya agak tergagap. Ayahnya mengambil alih surat itu, lalu membacanya. Dahinya mengerenyit.

“Apakah ini lelucon yang temanmu buat?” kata Ayahnya pada Krystal.

“Aku juga tak mengerti, Appa,” jawabnya. Ibunya mengambil surat itu dari tangan suaminya, lalu membacanya.

Beberapa menit kemudian, Ibunya berkata, “S-sepertinya ini sungguhan.”

Jessica merebut surat itu dari tangan Ibunya, membacanya cepat karena saking penasarannya. Kemudian ia berkomentar, “Wow, ini sungguhan?”

“Sepertinya begitu,” kata Ibunya. “Saat Eomma berumur sebelas tahun, Eomma punya seorang tetangga yang sekaligus teman bermain Eomma juga dan ia pernah mendapat surat seperti itu, ia berkata kalau ia adalah seorang penyihir, dan ia juga benar-benar pergi ke sekolah itu.”

“Jadi, aku seorang penyihir?” kata Krystal tak percaya.

“Jinjjayo?” kata Jessica.

“Kau jangan mengada-ngada, yeobo. Ini sungguh tak lucu,” kata Ayahnya tegas.

“Bukan, ini bukan lelucon, sungguh,” tukas Ibunya. “Tunggulah sebentar lagi, nanti akan ada seseorang yang datang ke rumah kita.”

“Nugu?” tanya Krystal.

“Molla,” jawab Ibunya enteng. “Yang pasti seseorang yang diutus dari sekolah itu.”

Maka mereka semua menunggu di ruang tamu. Ketegangan menyelimuti ruangan itu. Krystal yakin tidak hanya dirinya saja yang deg-degan, Ayah, Ibu, dan Jessica pasti merasakan hal yang sama dengannya. Setelah satu menit berlalu terdengar pintu diketuk. Ibunya melesat menuju pintu, melirik lewat jendela terlebih dahulu, namun Krystal merasa sepertinya Ibunya tak menemukan apa-apa di luar sana. Kemudian Ibunya membuka pintu dengan agak ragu. Terlihatlah seorang laki-laki pendek, setinggi sekitar seratus dua puluh senti memakai jubah hitam berdiri di ambang pintu rumahnya.

“Selamat pagi, Mrs. Jung,” katanya dengan suara mencicit. “Bolehkah saya dipersilakan masuk?”

Ibunya seperti baru tersadar dari lamunannya, menjawab dengan gagap, “O-oh y-ya, silakan.”

Laki-laki pendek itu berjalan dengan kaki kecilnya seraya mendongak meneliti rumahnya yang lumayan besar. Ibunya telah menyediakan sofa untuk didudukinya, namun laki-laki itu bukannya duduk di sana, ia malah mengeluarkan sesuatu –seperti tongkat, lalu menggoyangkannya sedikit dan muncul sebuah kursi pendek yang kelihatannya empuk. Krystal dan semua orang yang ada di sana terbelalak. Ini memang nyata, pikir Krystal.

“Ah, kurasa lebih enak jika sambil minum mead beraroma ek,” kata laki-laki pendek itu, lalu menggoyangkan tongkatnya kembali dan muncul lima buah gelas–piala yang berisi minuman yang disebutnya mead melayang di sekitar kepala mereka semua. Krystal hanya memandangnya takjub. Orang tua dan kakaknya pun sama takjubnya.

“Silakan diminum,” kata laki-laki pendek itu. Mereka semua mengambil piala itu ragu-ragu, tanpa diminum.

“Miss Krystal Jung, kurasa kau sudah membaca suratmu, bukan begitu?” katanya lagi. Krystal mengangguk. “Percayalah ini bukan lelucon dan kau juga tidak gila,” lanjutnya seraya tersenyum.

“Bisakah Anda menjelaskannya?” kata Ayahnya.

“Oh, tentu saja karena itu tujuan saya dikirim ke sini,” jawab laki-laki pendek itu. “Perkenalkan saya Filius Flitwick, Wakil Kepala Sekolah Sihir Hogwarts.”

Dan Flitwick menjelaskan panjang lebar segala tetek-bengek Hogwarts, Dunia Sihir, dan hukum tentang kerahasiaan Dunia Sihir ini. Sungguh Krystal tak menyangka sama sekali bahwa ia adalah seorang penyihir. Dalam keluarganya tak ada yang seorang pun yang penyihir yang –disebut-sebut Flitwick sebagai Muggle. Jadi bagaimana bisa ia seorang penyihir? Dan pertanyaan itu dijawab oleh Flitwick.

“Mungkin saja di antara nenek atau kakekmu adalah seorang Squib.”

Oh, Squib? Apalagi ini? –pikirnya.

“Squib adalah seseorang yang berasal dari keluarga penyihir, namun ia tak memiliki kemampuan sihir sehingga kebanyakan dari mereka memilih hidup di Dunia Muggle,” jawab Flitwick seakan mengetahui apa yang dipikirkannya. “Baiklah, kurasa kalian sudah cukup mengerti. Jadi, kalau begitu, sampai jumpa di Hogwarts.”

Keesokan paginya Krystal terbangun pagi-pagi. Ia masih tak memercayai apa yang terjadi kemarin. Ia menganggap itu hanya mimpi, mimpi yang aneh sekaligus menakjubkan. Ia meyakinkan diri sendiri bahwa itu merupakan kenyataan ketika Ibunya berkata bahwa hari ini mereka memutuskan membeli perlengkapan sekolah Krystal di Diagon Alley –begitu kata Flitwick.

Krystal jadi teringat ketika ia berusia tujuh tahun sesuatu yang tak lazim terjadi padanya. Ia sedang asyik memakan sereal kesukaannya, namun kakaknya menjahilinya dengan merebut mangkuk serealnya. Krystal mencoba menggapai mangkuk sereal yang diangkat tinggi-tinggi oleh kakaknya. Karena marah, maka terjadilah sesuatu yang aneh, mangkuk serealnya tiba-tiba saja terbelah hingga serealnya berhamburan di kepala Jessica. Peristiwa ini membuat Jessica jera menjahilinya.

Sekali lagi hal tak lazim terjadi padanya. Saat itu ketika ia berumur sepuluh tahun. Ia sedang terburu-buru karena hampir terlambat berangkat ke sekolah, namun sepatunya menghilang. Ibunya sedang sibuk membuat bekal kilat, Ayahnya sudah berangkat pagi-pagi sekali, dan kakaknya tengah sarapan sehingga tak ada yang bisa dimintai tolong. Tiba-tiba dengan ajaibnya sepatunya melayang di udara menuju kamarnya, Ibunya yang kebetulan berada di ambang pintu kamarnya sontak terkejut karena sepasang sepatu melayang di depan matanya. Mungkin dua kejadian itulah pertanda ia memiliki kemampuan sihir.

“Appa, aku boleh ikut tidak? Ini kan hari Minggu. Jebal,” kata Jessica sedikit merajuk pada Ayahnya.

“Ikutlah, lagipula Appa juga khawatir kalau kau ditinggal sendiri di rumah,” jawab Ayahnya.

“Yes! Gomawoyo, Appa,” kata Jessica girang. “Oh, aku tak sabar memasuki Diagon Alley itu. Tak disangka ternyata sihir itu memang ada.”

“Ya, aku juga tak menduga hal-hal semacam itu nyata dan tak menyangka bahwa aku termasuk ke dalam dunia itu,” kata Krystal dengan nada takjub.

“Pasti menyenangkan sekali Dunia Sihir itu,” kata Jessica.

“Flitwick bilang kita harus ke bank yang dia sebut Gringotts untuk menukar uang,” kata Ayahnya. “Penyihir punya bank juga ternyata. Benar-benar tak bisa dipercaya.”

“Ya, benar-benar tak bisa dipercaya,” kata Ibunya. “Baiklah, kita berangkat sekarang.”

Diperjalanan menuju Leaky Cauldron, Krystal membuka suratnya kembali untuk melihat daftar keperluan sekolahnya. Krystal membuka lipatan kertas satu lagi yang belum sempat dibacanya kemarin kebanyakan berpikir ini nyata atau hanya mimpi.

SEKOLAH SIHIR HOGWARTS

Seragam

Siswa kelas satu memerlukan:

Tiga setel jubah kerja sederhana (hitam)

Satu topi kerucut (hitam) untuk di pakai setiap hari

Sepasang sarung tangan pelindung (dari kulit naga atau sejenisnya)

Empat mantel musim dingin (hitam, kancing perak) tolong diperhatikan bahwa semua pakaian siswa harus ada label namanya.

Buku

Semua siswa harus memiliki buku-buku berikut :

Kitab Mantra Standar (Tingkat 1) oleh Miranda Goshawk

Sejarah Sihir oleh Bathilda Bagshot

Teori Gaib oleh Adalbert Wagging

Pengantar Transfigurasi bagi Pemula oleh Emeric Switch

Seribu Satu Tanaman Obat dan Jamur Gaib oleh Phyllida

Spore Cairan dan Ramuan Ajaib oleh Arsenius Jigger

Hewan-hewan Fantastis dan Di Mana Mereka bisa Ditemukan oleh Newt Scamander

Kekuatan Gelap : Penuntun perlindungan diri oleh Quentin Trimbel

Peralatan Lain

1 Tongkat sihir

1 Kuali (Bahan campuran timah putih-timah hitam ukuran standar)

1 Set tabung kaca atau kristal

1 Teleskop

1 Set timbangan kuningan

Siswa diizinkan membawa burung hantu ATAU kucing ATAU kodok

ORANGTUA DIINGATKAN BAHWA SISWA KELAS SATU BELUM BOLEH MEMILIKI SAPU SENDIRI!

“Wow, kau akan punya tongkat sihir, buku mantra dan sapu terbang?” kata Jessica. “Andaikan aku juga seorang penyihir.”

“Geokjeongmaseyo, Eonni. Aku akan dengan senang hati menceritakanmu semua hal tentang Hogwarts dan sihir, kok,” kata Krystal tersenyum. Jessica balas tersenyum.

“Uriga wasseo,” kata Ayahnya sambil keluar dari mobil. “Menurut penjelasan Flitwick kemarin, di sinilah tempatnya, Leaky Cauldron itu. Tapi Ayah masih tak mengerti.”

Tempat itu tempat minum kecil dan kotor. Jika Ayahnya tak menunjuknya, Krystal tak akan melihatnya. Nampaknya hanya Krystal yang bisa melihat tempat ini. Ayah, Ibu dan kakaknya maupun orang-orang di sekitar yang lalu lalang tak bisa melihatnya. Krystal tak tahu apa gambaran yang mereka lihat pada Leaky Cauldron ini. Krystal memberanikan diri masuk ke sana. Orang tua dan kakaknya mengikuti di belakangnya. Tempat ini sangat gelap dan kumuh. Beberapa wanita tua duduk di sudut, minum sherry dalam gelas-gelas kecil. Salah satu di antara mereka mengisap pipa panjang. Seorang pria yang memakai topi tinggi sedang bicara dengan pelayan bar yang sudah tua dan botak, dan kepalanya kelihatan seperti kenari dari permen karet.

“Mereka semua penyihir?” kata Jessica berbisik.

“Sepertinya iya,” jawab Krystal.

Kemudian pelayan bar itu mendatangi Krystal. Krystal mundur dua langkah, bersembunyi di belakang Ayahnya. Jujur saja ia agak takut dengan orang asing, terlebih yang terlihat agak menyeramkan seperti itu.

“Muggle?” tanya pelayan bar itu. Ayah dan Ibunya mengangguk pelan. “Mau ke Diagon Alley?” Orang tuanya mengangguk lagi.

“Oke, lewat sini,” katanya lagi seraya menunjuk jalan ke halaman kecil yang dikelilingi tembok. Tak ada apa-apa di halaman itu kecuali tempat sampah dan rumput ilalang.

“Tolong mundur,” katanya. Mereka mundur tiga langkah, takut sesuatu yang mengerikan terjadi.

Pelayan bar itu mengeluarkan tongkat yang disandarkan di tembok itu, lalu mengetuk tembok tiga kali dengan tongkat itu. Batu bata yang disentuhnya bergetar, meliuk malah di tengahnya, muncul lubang kecil, makin lama makin besar. Mereka memandang dengan takjub. Sedetik kemudian mereka sudah berhadapan dengan gerbang yang masuk ke jalan berbatu yang berkelok-kelok dan membelok lenyap dari pandangan.

“Selamat datang di Diagon Alley,” kata Pelayan bar itu. “Anda bisa menyusuri jalan ini untuk ke Gringotts,” lanjutnya. Ayahnya mengangguk.

“Nikmati perjalanan Anda,” Pelayan bar itu masuk kembali ke Leaky Cauldron, lalu gerbang terbuka itu menyusut kembali menjadi tembok padat.

Mereka berempat terdiam di sana selama beberapa menit, masih merasakan ketakjuban yang tak ada habisnya. Pemandangan yang Krystal lihat setelah melewati tembok bata Leaky Cauldron adalah setumpuk kuali di toko paling dekat. ‘Kuali Segala Ukuran: Tembaga, Kuningan, Timah putih-Timah hitam, Perak –Mengaduk-Sendiri– Dapat Dilipat’, begitu bunyi papan yang tergantung di atasnya.

“Baiklah. Kajja, kita ke Gringotts,” kata Ayahnya setelah selesai bertakjub-takjub ria.

Krystal menoleh ke segala jurusan ketika mereka menyusuri jalan itu, mencoba melihat segalanya sekaligus: toko-toko, barang-barang yang terpajang di depannya, orang-orang yang sedang berbelanja. Uhu-uhu pelan terdengar dari toko gelap dengan tulisan berbunyi Toko Burung Hantu Serba Ada Eeylops –Kuning-kecokelatan, Pekikan-keras, Burung Hantu Serak, Cokelat, dan Putih Bersih. Toko obat, toko sapu terbang, toko-toko yang menjual jubah, toko-toko yang menjual teleskop, dan peralatan perak aneh-aneh yang tak pernah dilihat Krystal sebelumnya, etalase yang memajang tong-tong berisi limpa kelelawar dan mata belut, tumpukan buku-buku mantra dan bergulung-gulung perkamen, botol-botol ramuan, globe bulan.

“Inikah, Gringotts?” kata Ayahnya.

Mereka telah tiba di depan bangunan putih-bersih yang menjulang di antara toko-toko kecil yang lain. Di sebelah pintu perunggu mengilap berdiri tegak makhluk berseragam merah dan emas. Berarti mereka Goblin, pikir Krystal.

Mereka mendaki undakan batu putih menuju ke tempatnya. Si Goblin kira-kira sekepala lebih rendah dari Krystal. Wajahnya yang hitam tampak cerdas, dengan janggut runcing dan, Krystal memperhatikan, jari-jari tangan dan kaki yang panjang. Dia membungkuk ketika mereka masuk. Sekarang mereka menghadapi sepasang pintu kedua, yang ini perak, dengan kata-kata berikut terpahat di atasnya:

Masuklah, orang asing, tetapi berhati-hatilah

Terhadap dosa yang di tanggung orang serakah,

Karena mereka yang mengambil apa saja yang bukan haknya,

Harus membayar semahal-mahalnya,

Jadi jika kau mencari di bawah lantai kami

Harta yang tak berhak kau miliki,

Pencuri, kau telah di peringatkan,

Bukan harta yang kau dapat, melainkan ganjaran.

Sepasang goblin membungkuk ketika mereka memasuki pintu perak,dan mereka berada di aula pualam besar.Kira-kira lebih dari seratus Goblin duduk di atas bangku tinggi di belakangmeja panjang, sibuk menulis di buku kas besar, menimbang koin di timbangankuningan, memeriksa batu-batu mulia dengan kaca pembesar. Ada terlalubanyak pintu keluar dari aula itu hingga tak bisa dihitung, tapi ada lebih banyaklagi Goblin yang mengantar orang-orang keluar masuk pintu-pintu ini. Mereka menuju meja.

“Se-selamat pagi,” kata Ayahnya ragu-ragu pada Goblin yang sedang kosong. “Kami datang untuk menukar uang.”

“Atas nama siapa?” kata si Goblin.

“Krystal Jung,” kata Ayahnya.

“Koin emas adalah Galleon, koin perak adalah Sickle, dan koin perunggu kecil adalah Knut,” kata Goblin. “Satu knut sama dengan lima pound, satu sickle sama dengan dua puluh sembilan knut dan satu galleon sama dengan tujuh belas sickle.”

“Saya ingin lima puluh… galleon,” kata Ayahnya dengan nada ragu ketika menyebut kata ‘galleon’.

“Seratus dua puluh tiga ribu dua ratus lima puluh pound, Pak.”

Wow, ternyata mereka pintar menghitung, pikir Krystal.

“Lebih baik beli seragammu dulu,” kata Ibunya setelah mereka berempat keluar dari Gringotts. “Itu, di sana ada toko baju,” lanjutnya seraya menunjuk ke arah Jubah untuk Segala Acara Kerasi Madam Malkin –begitu tulisannya.

Krystal masuk ke Toko Madam Malkin bersama kakaknya, Ayahnya dan Ibunya memutuskan membelikan kuali, buku-buku dan perlengkapan lainnya selagi Krystal mengepas jubah. Madam Malkin adalah penyihir bertubuh pendek gemuk, penuh senyum, berpakaian serba lembayung muda.

“Hogwarts, Nak?” katanya ketika Krystal hendak bicara. “Banyak yang ke sini, sekarang ada satu yang sedang ngepas.”

Di bagian belakang toko, seorang anak perempuan berwajah seperti orang Korea sedang berdiri di atas bangku pendek kecil, sementara ada penyihir kedua yang melipat jubah hitam panjangnya dan menyematnya dengan jarum pentul. Madam Malkin menyuruh Krystal berdiri di atas bangku di sebelahnya, memasukkan jubah panjang melewati kepalanya, dan mulai menyematnya sampai panjangnya pas.

“Hai,” sapa anak perempuan itu. “Hogwarts juga?”

“Ya,” jawab Krystal.

“Kenalkan, namaku Sulli Choi,” katanya seraya mengulurkan tangannya.

“Krystal Jung,” balas Krystal menyambut tangannya.

“Kau orang Korea juga?” katanya tersenyum antusias. Krystal mengangguk. “Kalau begitu, kita pakai bahasa Korea saja, ya. Biar lebih akrab.”

“Ini Eonnimu, Krystal-ssi?” tanya Sulli setelah melihat Jessica yang hanya berdiri terdiam. “Annyeonghaseyo,” katanya seraya membungkuk kecil pada Jessica.

“Iya, dia Jessica,” balas Krystal tersenyum. Jessica tersenyum tipis pada Sulli.

“Kau ke sini dengan Eonnimu saja?” kata Sulli.

“Tidak. Dengan Appa dan Eomma juga, mereka sedang membeli perlengkapanku yang lain, Eonniku menemaniku di sini,” jawab Krystal.

“Appaku sedang di sebelah membeli buku-buku dan Eomma membeli peralatan untuk ramuan,” katanya. “Oppaku sedang membeli sapu terbang karena ini sudah masuk tahun keduanya.”

“Oppamu penyihir juga, Sulli-ssi?” kata Krystal.

“Tentu saja. Keluarga kami semuanya penyihir,” jawabnya. “Memangnya kau Kelahiran Muggle?” Krystal mengangguk.

“Pantas saja kau dan Eonnimu terlihat aneh,” katanya. Aneh? –pikir Krystal. “Pakaianmu juga berbeda.”

Krystal segera melirik pakaian yang Jessica kenakan, lalu melirik pakaian penyihir yang sedang mengepas jubahnya. Memang berbeda. Pakaian penyihir terlihat kuno, seperti ketinggalan zaman.

“Di Hogwarts nanti, kau ingin masuk asrama mana?” tanya Sulli. “Kalau aku sih tak terlalu menargetkan, namun aku ingin masuk Gryffindor atau Ravenclaw. Aku tak mau masuk Slytherin karena kebanyakan penghuninya menyebalkan seperti Oppaku dan teman-temannya.”

Krystal belum memikirkan asrama sama sekali. Penjelasan yang Flitwick berikan kemarin juga tak terserap penuh ke otaknya. Jadi, ia lupa apa saja asrama yang ada di sana. Bingung menjawab apa, Krystal mengangkat bahu.

“Kau bareng denganku saja,” kata Sulli terseyum.

“Lihat saja nanti,” jawab Krystal seadanya.

Sulli terlihat ingin bicara lagi, tapi tak jadi karena Madam Malkin berkata, “Sudah selesai, Nak.”

“Sampai ketemu di Hogwarts, Krystal-ssi,” kata Sulli seraya melambai hingga ia menghilang di balik pintu toko.

“Sepertinya dia akan jadi teman pertamamu di Hogwarts, Soojungie-ya,” kata Jessica.

Setelah lima belas menit Krystal dan Jessica menunggu di depan Toko Madam Malkin, Ayah dan Ibunya telah kembali dengan masing-masing di tangannya membawa sebuah tas berukuran kecil serta burung hantu kuning-kecoklatan yang berada di dalam sangkar di tangan Ayahnya. Apakah mereka belum membeli peralatan sekolahnya?

“Appa, Eomma, kalian belum membeli perlengkapanku?” tanya Krystal.

“Sudah,” kata Ayahnya. “Semuanya ada di dalam sini.”

Ayah dan Ibunya mengangkat tas kecil itu dengan raut ketertarikan yang luar biasa.

“Benar-benar efisien para penyihir ini,” katanya takjub. “Tas ini bisa memuat banyak barang-barang tanpa batas dan tanpa keberatan sedikit pun. Lihatlah,”

Ia menggoyang-goyangkan tasnya dengan sesuka hati. Kemudian tangannya masuk ke dalam tas itu, mengambil buku tebal dari dalamnya. Krystal berdecak kagum. Tas sekecil itu dapat dimasuki buku-buku tebal nan berat tanpa keberatan sama sekali. Sepertinya ini hanya sebagian kecil dari keajaiban-keajaiban Dunia Sihir ini, mungkin di Hogwarts nanti banyak yang lebih menakjubkan lagi.

“Ayo, kita beli tongkat sihirmu,” kata Ibunya. Inilah yang paling ditunggu-tunggu Krystal sejak tadi.

Denting bel berbunyi ke dalam toko ketika mereka memasuki Toko Ollivander –begitu tulisan di pintunya. Tempat itu kecil sekali untuk mereka berempat, ditambah dengan adanya seorang anak perempuan yang sedang menggoyang-goyangkan tongkat sihir di udara yang ternyata adalah Sulli. Ia bersama seorang anak laki-laki jangkung berambut hitam yang sedang makan pisang.

“Selamat sore. Mohon tunggu sebentar, anak itu sebentar lagi selesai.” kata lelaki tua di hadapannya yang Krystal duga bernama Ollivander. Krystal terlonjak karena sedari tadi fokus memerhatikan anak laki-laki jangkung berambut hitam itu. Mr. Ollivander kini kembali melayani Sulli yang sepertinya telah menemukan tongkat yang cocok untuknya.

“Krystal-ssi! Kita bertemu lagi,” seru Sulli. “Mau beli tongkat, ya?” Krystal mengangguk.

“Aku dapat kayu Holly, dua puluh dua senti, dengan inti rambut unicorn,” katanya. Krystal tak mengerti apa yang dikatakannya, maka ia hanya tersenyum menanggapinya.

“Oh ya, Oppa, ini teman yang kuceritakan tadi,” kata Sulli seraya menarik tangan anak laki-laki itu yang Krystal yakini adalah kakak Sulli mendekat. “Krystal-ssi, ini Oppaku, Elias Choi. Oppa, ini Krystal Jung.”

Krystal terseyum canggung seraya membungkuk kecil padanya. Elias balas membungkuk kecil. Mereka bertatapan sejenak. Tampan, matanya hitam memesona. Krystal menggeleng pelan setelah sadar dengan apa yang dipikirkannya. Ya Tuhan, mikir apa aku ini? –katanya dalam hati.

“Annyeonghaseyo. Sulli Choi imnida. Anda pasti orang tua Krystal-ssi, kan?” kata Sulli membungkuk pada kedua orang tua Krystal.

“Annyeonghaseyo, Sulli-ya. Benar, kau masuk Hogwarts juga?” kata Ayahnya tersenyum. Sulli mengangguk. “Wah, kau sudah dapat teman yang begitu ramah Soojung-ah.”

“Baiklah, saya permisi Ahjussi, Ahjumma, Krystal-ssi, Jessica-ssi. Sampai jumpa,” kata Sulli tersenyum sambil lalu bersama kakak laki-lakinya.

“Kelahiran Muggle?” kata Mr. Ollivander setelah memerhatikan orang tua dan kakaknya. Krystal mengangguk. “Mari ke sini.”

Krystal berjalan menuju salah satu rak yang ditunjuk Mr. Ollivander.

“Hmm, baiklah. Coba kita lihat,” kata Mr. Ollivander sambil mengeluarkan meteran panjang. “Oh ya, siapa namamu, Nak?” tanyanya pada Krystal.

“Krystal Jung, Sir,” jawab Krystal.

“Baiklah, tangan mana untuk pemegang tongkatmu?” tanya Mr. Ollivander.

“Err –tangan kanan, Sir,” Krystal mengulurkan tangan kananya. Kemudian Mr. Ollivander mengukur dari bahu ke jari, pergelangan tangan ke siku, kemudian bahu ke lantai, lutut ke ketiak, dan lingkar kepalanya. Sambil mengukur, Mr. Ollivander berkata–

“Semua tongkat Ollivander punya intisari kegaiban, Miss Jung. Kami menggunakan rambut unicorn, bulu ekor burung phoenix, dan nadi jantung naga. Tak ada dua tongkat Ollivander yang sama. Seperti halnya tak ada dua unicorn, naga atau phoenix yang persis sama. Dan tentu saja kau tak akan mendapatkan hasil baik dengan tongkat penyihir lain.”

Krystal takjub memandang meteran yang mengukur sendiri itu. Ketika merasakan bahwa meteran sedang mengukur sendiri kedua lubang hidungnya, Krystal merasa ingin bersin.

“Sudah cukup.”

Seketika meteran itu berhenti mengukur dan tergeletak di lantai. “Ini, coba kau goyangkan. Beechwood dengan inti nadi jantung naga. Dua puluh dua setengah senti. Bagus dan fleksibel,” Mr. Ollivander menyerahkan sebuah tongkat pada Krystal. Kemudian Krystal menggoyangkannya perlahan– “Tidak, tidak. Coba yang ini. Kayu mapel dengan bulu phoenix,” Krystal merasa seperti orang bodoh, menggoyangkan tongkat itu. Kemudian–

“Ah, coba yang ini. Kayu Ivy dengan inti nadi jantung naga.”

Krystal mengambil tongkat itu Mendadak jarinya terasa hangat, diayunkannya ke bawah di udara. Percikan bunga api merah dan keemasan meluncur dari ujungnya.

“Oh, bravo!” Mr. Ollivander bertepuk tangan senang. Kemudian memasukannya ke dalam kotak dan membungkusnya dengan kertas coklat. “Tujuh galleon, Sir.”

Pada tanggal satu September, Krystal sudah mengepak semua barang-barangnya ke dalam koper. Sesekali ia memeriksa daftar Hogwarts-nya, kalau-kalau ada yang ketinggalan. Burung hantu betinanya, Yeonjung tengah beruhu-uhu riang dalam sangkarnya. Peristiwa penamaan burung hantunya berlangsung sengit saat itu. Hampir satu jam Krystal dan Jessica berdebat mengenai nama apa yang cocok untuk burung hantunya. Ketika Jessica mengusulkan memakai gabungan nama mereka berdua, Krystal menyebutnya ‘Jungyeon’, namun Jessica tak setuju karena dia yang lebih tua maka harusnya menjadi ‘Yeonjung’. Krystal yang sudah lelah membantah akhirnya sepakat menuruti kakaknya.

Mereka tiba di stasiun King’s Cross pukul setengah sebelas. Ayahnya menaruh koper beserta sangkar Yeonjung dalam troli, lalu mendorongnya ke dalam stasiun.

“Appa kira kau akan naik kuda terbang atau sapu terbang untuk menuju sekolah itu,” kata Ayahnya heran. “Ternyata pakai kereta.”

“Kita harus ke peron berapa?” tanya Ibunya. Krystal mengecek tiket keretanya, mendadak sebelah alisnya terangkat.

“Peron sembilan tiga perempat,” jawabnya agak ragu.

“Mworago?” kata Ayahnya kaget. Ibu dan Jessica terbelalak.

“Peron sembilan tiga perempat,” kata Krystal mempertegas.

“Mana ada?” kata Ayahnya. “Aish, jinjja…”

Akhirnya dengan kecemasan, mereka menelusuri peron-peron menuju peron ‘sembilan tiga perempat’ itu. Jika peron itu memang ada seharusnya peron itu berada di antara peron sembilan dan sepuluh, namun tak ada apa-apa di sana. Krystal frustrasi mendadak.

“Eotteohke, Appa, Eomma, Eonni?” kata Krystal putus asa.

“Kita harus tanya seseorang,” kata Ayahnya.

Ayahnya menghentikan petugas yang lewat, tetapi tak berani menyebut peron sembilan tiga perempat. Si petugas belum pernah mendengar tentang Hogwarts dan ketika Ayahnya bahkan tak bisa mengatakan di bagian mana Inggris sekolah ini berada, dia mulai jengkel, seakan Ayahnya sengaja berlagak bloon. Namun ketika mereka semakin putus asa, tiba-tiba seorang laki-laki agak tua berjubah coklat yang sangat usang dan agak kotor menghampiri mereka dengan gaya jalan aneh, seperti pincang sebelah.

“Permisi, apakah kalian mau ke Hogwarts Express?” kata laki-laki itu dengan suara serak yang mirip kambing.

“Anda tahu Hogwarts, Sir?” kata Krystal.

“Tentu saja, aku bertugas jaga di sini untuk membantu para Kelahiran Muggle yang kesulitan mencari peron untuk menaiki Hogwarts Express,” katanya. Krystal mendesah lega, orang tuanya pun terlihat lega.

“Kami mencari peron sembilan tiga perempat,” kata Jessica. “Apa Anda tahu di mana tepatnya?”

“Oh, kalian sudah dekat sekali dengan peron itu,” kata laki-laki itu. Ia berjalan dengan pincang menuju palang rintangan antara peron sembilan dan sepuluh. “Di sinilah peronnya.”

Krystal bingung, orang tua dan kakaknya juga sama bingungnya. Yang ia lihat hanyalah palang rintangan dan boks penjualan tiket.

“Oh, baiklah, mari sini,” kata laki-laki itu memberi isyarat kepada mereka untuk mendekat. “Yang harus kalian lakukan hanyalah berjalan saja, menembus palang rintangan ini. Jangan berhenti dan jangan takut kalian akan menabraknya. Lebih baik setengah berlari kalau kalian cemas,” katanya panjang lebar.

“Benarkah i-ini aman?” tanya Ibunya agak cemas.

“Seratus persen,” jawabnya mantap. “Ayo, masuklah. Jangan takut dan jangan berbarengan.”

“Err–oke,” kata Krystal.

“Kalian dulu, Soojung-ah, Sooyeon-ah,” kata Ayahnya.

Jessica sama cemasnya dengan Krystal. Krystal memandang palang itu, kelihatannya kokoh sekali. Dan dia mulai medorong trolinya, berjalan–setengah berlari ke arah palang bersamaan dengan Jessica di sampingnya. Sebentar lagi mereka akan menabrak boks penjualan tiket, semakin dekat, trolinya sudah di luar kendali, berlari semakin cepat, Krystal memejamkan matanya menunggu saat bertabrakan, namun ia tak bisa berhenti berlari.

Ketika ia membuka matanya, kereta api berwarna merah menunggu di sebelah peron yang penuh orang. Tulisan di atasnya berbunyi Hogwarts Express, pukul 11.00. Krystal menoleh ke belakang dan melihat gerbang melengkung di tempat yang tadinya tempat boks tiket, dengan tulisan Peron 93/4. Dia telah berhasil.

Ayah dan Ibunya menyusul di belakang. Dengan raut wajah takjub, mereka berjalan memasuki keramaian orang-orang. Asap lokomotif melayang di atas kepala orang-orang yang ramai mengobrol, sementara kucing-kucing dalam berbagai warna menyusup-nyusup di antara kaki mereka. Burung-burung hantu saling bersahutan, ditingkahi suara obrolan dan derit koper-koper berat yang diseret.

Rangkaian beberapa gerbong yang di depan sudah penuh anak-anak. Beberapa di antaranya menjulurkan tubuh ke luar jendela untuk mengobrol dengan keluarga mereka, yang lain berebut tempat duduk. Krystal berjalan di sepanjang peron mencari tempat kosong sekaligus berharap bertemu Sulli. Ia melewati anak laki-laki yang berwajah masam karena sedang dimarahi Ibunya, “Jenggot Merlin, kau ini perempuan, Amber. Berlakulah seperti perempuan jangan hanya Quidditch saja yang kau pikirkan.”

Oh, jadi dia perempuan? Kukira laki-laki, pikir Krystal.

Tiba-tiba terdengar seruang di belakangnya, “Krystal-ssi!”

Krystal menoleh. Yang diharapkannya akhirnya terkabul juga, Sulli datang.

“Annyeong,” sapa Krystal tersenyum.

“Appa, Eomma, kenalkan dia Krystal Jung yang kuceritakan waktu itu,” kata Sulli pada kedua orang tuanya.

“Annyeong, Krystal-ah. Senang rasanya Sulli dapat teman baru di Hogwarts,” kata Ayah Sulli. Kemudian ia berpaling pada orang tuanya, “Choi Siwon imnida dan ini istriku, Choi Yeonhee.”

“Jung Yunho imnida, ini istri dan anak sulungku, Jung Boa dan Jessica Jung,” jawab Ayahnya. Mereka saling berjabat tangan.

“Oh, aku jadi lupa pada anak sulung kami, ini–” kata Siwon Ahjussi, namun keburu dipotong Ayahnya ketika ia nyaris menarik Elias yang sedang mengobrol dengan teman-temannya, termasuk anak tomboy yang dilewati Krystal tadi.

“Tak usah, kami sudah kenal dia ketika bertemu di Toko Ollivander waktu itu,” kata Ayahnya.

“Ah, begitu rupanya,” jawab Siwon Ahjussi.

“Ayo, kita cari kompartemen. Nanti keburu penuh,” kata Sulli seraya menarik tangan Krystal memasuki kereta.

Mula-mula ia menaikan Yeonjung beserta sangkarnya, kemudian ia mengangkat dan mendorong kopernya melalui pintu kereta, sungguh berat dan sayangnya tak ada yang membantunya. Sulli masuk duluan mencari kompartemen, Ayah dan Ibunya sibuk mengobrol dengan Siwon Ahjussi dan istrinya. Dicobanya mengangkatnya melewati undakan, tetapi dia nyaris tak bisa mengangkat salah satu ujungnya dan koper itu nyaris menjatuhi kakinya. Namun sebelum itu terjadi, Elias telah menahan kopernya, lalu dengan cepat mendorongnya masuk.

“Gomapseumnida, Elias-ssi,” kata Krystal.

“Cheonmaneyo,” jawab Elias, lalu dia pergi menuju teman-temannya lagi.

“Krystal-ssi, aku sudah dapat tempat. Ayo, taruh barang-barangmu,” kata Sulli.

Setelah menaruh barang-barangnya, Krystal keluar lagi untuk berpamitan pada orang tua dan kakaknya. Sulli pun melakukan hal yang sama.

“Jangan merindukanku, ya,” kata Krystal setelah memeluk Jessica yang bercucuran air mata seperti Ibunya melepasnya ke Hogwarts.

“Aku pasti merindukanmu, bodoh,” kata Jessica sambil mengusap air matanya.

“Jaga dirimu, Soojung-ah. Jangan telat makan, istirahat yang cukup,” kata Ibunya terisak.

“Ya, Eomma, tenang saja,” jawab Krystal. “Sampai jumpa Natal nanti,” lanjutnya seraya melambai pada orang tua dan kakaknya agak lama hingga kereta Hogwarts Express pun melaju menjauhi tempat orang tuanya berdiri, menuju Hogwarts, memulai kisah barunya.