Actions

Work Header

JackNaib Oneshoot!

Summary:

Kumpulan cerita JackNaib yang iseng lewat di kepala saya tanpa ada kelanjutannya. Saya putuskan untuk diubah menjadi tulisan.

Selamat membaca!

Notes:

College!Naib x Officer!Jack

Naib Subedar adalah seorang pekerja keras. Semua orang tahu itu.

Chapter 1: Call

Chapter Text

Naib Subedar adalah seorang pekerja keras. Semua orang tahu itu.

Dalam kehidupannya sebagai mahasiswa, pemuda riang satu ini dikenal ramah dan baik hati oleh semua orang. Ia bekerja di sebuah cafe kopi milik kampusnya yang mempersilahkan mahasiswanya bekerja disana. Dengan syarat tidak menganggu jadwal kuliah tentunya. Buat nambah uang jajan gitu maksudnya. Naib bekerja disana sebagai Barista.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, Naib sangat sibuk dengan segala macam hal dan tugas yang diberikan, belum lagi berbagai macam laporan yang harus diserahkan ke dosen. Hadeh cape. Sampai-sampai ia harus mengambil cuti sementara dari pekerjaannya di cafe kampus. Ia tidak boleh menganggu jadwal belajarnya dengan pekerjaan.

"Haaaah..." Naib menghela nafas panjang. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela dan melihat matahari mulai tidak lagi nampak, langit berubah menjadi gradasi biru gelap, dirinya masih berada di perpustakaan kampus. Kenapa masih dibuka? Masih ada beberapa kelas yang melakukan jam malam, jadi ia tidak perlu khawatir belajar sampai larut sekalipun.

Naib merenggangkan tubuhnya, merasa pegal kerena duduk terlalu lama. Mungkin ini sudah waktunya untuk ia pulang. Lagipula tidak baik berlama-lama di luar rumah sendirian ketika hari mulai gelap. Naib mulai merapihkan buku dan alat tulisnya yang berserakan diatas meja. Baru saja Naib ingin menutup risleting tempat pensilnya, jika saja ponsel miliknya tidak berdering. Naib mengalihkan pandangannya ke benda persegi panjang itu, nama familiar terpampang di layar ponselnya, membuat Naib tersenyum melihatnya.

Naib menekan tombol berwarna hijau lalu berbicara dengan nada riang yang dibuatnya.

"Haloo? Ada apa Jack?"
"Halo sayang, selamat malam. Tidak ada apa-apa kok, aku hanya ingin bertanya apa yang sedang kekasihku lakukan saat ini." Jack bertanya dengan suara lembut dan terkekeh pelan setelahnya. Membuat siapapun yang mendengarnya merasa nyaman. Tapi Naib juga bisa mendengar bahwa itu adalah suara lelah. Mungkin Jack baru pulang dari pekerjaannya di kantor.

Naib tersenyum, "Malam juga, Jack. Aku habis belajar, masih di kampus, ini baru aja mau pulang."
"Ya ampun Naib? Kau masih di kampus?!"
"I-iya.. tapi ini mau pulang kok—"
"Di jam segini? Aku jemput ya?”

Suara Jack terdengar kaget dan khawatir di saat bersamaan. Naib sampai menjauhkan ponselnya dari telinga karna Jack berteriak terlalu keras. Bahkan Naib tidak dibiarkan menyelesaikan kalimatnya. Sepertinya Jack benar-benar khawatir. Tentu saja, jam 9 seharusnya Naib sudah selesai makan malam, tapi saat ini ia masih berada di kampus.

"Tidak usah Jack, aku tidak apa-apa. Kamu cape juga kan habis pulang kerja. Aku habis nyelesain tugas tambahan tadi. Udah kamu istirahat aja ya dirumah." Naib berucap sembari merapihkan kembali buku-buku miliknya sebelum akhirnya ia masukkan ke dalam tas.

"Tapi sayang.. kalo kamu kenapa-kenapa gimana?" Nada Jack terdengar khawatir dan sedih diseberang sana. Maka dari itu Naib dengan suara lembut andalannya mencoba untuk menenangkan kekasihnya itu.

"Jack, love, aku baik-baik saja. Aku bisa pulang sendiri. Lagian juga masih jam segini, masih ada orang pulang ngantor."
"Tapi kan.... :( "
"Kamu percaya sama aku kan Jack?" Nadanya terlampau lembut, berhasil membuat Jack luluh.

"....."
"....Jack?"
"..Iya deh... tapi jika sesuatu terjadi padamu langsung telpon saja ya, aku siap datang."
"Iya iya"

"Kalau begitu hati-hati dijalan ya. Kalau sudah sampai rumah langsung telpon ❤️~"
"Iyaaa."

Setelahnya mereka berdua tertawa bersama sampai akhirnya mengucapkan salam perpisahan sekali lagi sebelum Naib mematikan panggilan itu duluan.

×××××××

Naib sampai ke rumah sekitar jam 10 malam. Saat selesai makan malam, Naib kembali ke meja belajarnya untuk mengerjakan sedikit exercise yang belum sempat ia kerjakan tadi siang. Ia mengerjakannya sambil melakukan video call dengan Jack. Jack mem-pout kan bibirnya karena ia kira sesuatu yang buruk telah terjadi kepada Naib. Naib sengaja tidak langsung menelpon Jack ketika selesai mandi. Ia ingin makan dengan tenang barulah diinterogasi oleh kekasihnya satu ini.

Mereka menghabiskan waktu mereka di depan pekerjaan mereka sambil bercanda dan tertawa. Walaupun hanya lewat video call, hal ini sudah cukup untuk menghibur Naib yang stress karena banyaknya tugas. Waktu terus berjalan dan hari semakin larut. Jam mulai menunjukkan waktu sudah lewat tengah malam. Jack bisa melihat Naib yang mulai mengangguk-anggukkan kepalanya akibat menahan kantuk. Yah... Jack sendiri melakukan video call di laptop sambil mengerjakan kerjaan kantornya yang ia bawa pulang ke rumah.

Jack tidak ingin mengganggu sesi 'menahan ngantuk' Naib, jadi Jack hanya meliriknya saja sambil terus mengerjakan pekerjaannya. Sampai akhirnya Jack memilih ke dapur untuk membuat segelas cappuccino hangat. Ia tidak mengantuk, hanya ingin mencari penghangat tenggorokan untuk menemani malamnya yang dingin.

Ketika Jack kembali ke depan laptopnya, ia memperhatikan layar video call. Naib sudah tertidur diatas bukunya. Posisi Handphone yang Naib letakkan cukup baik, jadi Jack bisa melihat Naib tertidur dengan jelas. Jack tersenyum dan melakukan screenshot di layar laptopnya. Wajah Naib yang satu ini sangat berharga. Biasanya Naib akan marah dan meminta menghapus fotonya ketika Jack dengan iseng memotretnya yang sedang tidur, tetapi hal itu selalu gagal akibat kelakuan Jack. Walaupun sudah dua tahun berpacaran dengan mahasiswa satu ini, tetap saja wajahnya yang tertidur selalu manis di mata Jack.

Bagaimana bulu mata yang lentik itu bersatu untuk menutup indahnya netra biru. Bagaimana rambut yang tidak diikat terurai begitu saja dan jatuh ke atas buku. Bagaimana bibir merah yang ranum itu terbuka sedikit untuk membiarkan udara keluar dari sana.

"Aahh..” Jack menutup mukanya sendiri dengan kedua telapak tangannya.
“Kenapa dirimu sangat manis Naib." Merasa terkena Diabetes dadakan akibat kemanisan pacarnya. Ia menghela napas dan kembali menyeruput cappuccino hangat. Ia rasa ia juga harus tidur setelah menyelesaikan pekerjaannya yang sudah setengah jalan ini. Lagipula ini sudah larut.

 

Jack tersenyum hangat menatap layar laptopnya,
"Selamat tidur Naib. Sweet dream."

 

Call Ended
03.11.26