Work Text:
R E D
“Kita-san, dulu, kau bilang, merah itu artinya hidup.
Tapi sekarang, saat merahnya tumpah mengotori salju, kenapa kau justru tak bernapas?”
Aneh, pikir Atsumu.
Ia tak tahu apa yang membuatnya hanya terpaku pada tempatnya berpijak saat ini.
Entah suhu rendah dipertengahan musim dingin.
Entah butiran kecil salju yang berguguran dan hinggap di tubuhnya.
Entah sensasi terkejut yang masih menyisa dalam benaknya sebab kilatan terang lampu truk yang disertai kerasnya bunyi klakson.
Entah sosok yang terbaring tak berdaya di hadapannya.
Yang manapun itu, Atsumu tak bisa memastikan.
Bahkan tatkala orang-orang di sekitarnya bergerumun, bertanya mengenai kenapa dan apa yang terjadi, siapa nama pemilik surai abu-abu kehitaman itu, kedua kakinya masih menancap pada tempatnya.
Sebab memorinya justru membawanya pada belasan tahun lalu, saat mereka masih belia. Atsumu berumur lima tahun, Shinsuke enam tahun.
Musim dingin ialah musim yang paling dibenci Atsumu. Berbeda dengan kembarannya, kulitnya lebih sensitif terhadap hawa membekukan ini. Sulit menutupinya meskipun sudah memakai berlapis mantel tebal, sarung tangan yang dirajutkan neneknya, syal putih hadiah Natal dari sang ayah, serta topi kupluk marun berian ibunya. Pipi tembam mulus itu tetap saja dihiasi rona kemerahan yang kadarnya sedikit berlebih dibanding anak lainnya.
Dan layaknya anak kecil pada umumnya, mereka sulit menerima perbedaan.
Mereka memanggil Atsumu tomat. Buah yang Atsumu tak sukai karena rasanya yang masam dan teksturnya yang seperti bubur.
Bukan kali pertama dirinya diasingkan seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Kesepian di rumah lebih buruk rasanya. Ia juga akan lebih kesal jika Osamu tak turut mengajaknya.
Jadi, ia membuat lahan bermainnya sendiri. Dengan setumpuk saljupun sudah cukup sebagai kawan berkhayal. Ia berencana membuat istana salju kecil dari tumpukkan yang ada.
Namun, tetap saja ia sendiri.
Meskipun ia tengah berada diantara teman sebayanya, dirinya tetap kesepian.
Hingga sepasang kaki berhenti tak jauh dari area yang akan dibangun pagar salju oleh Atsumu.
“Kenapa menyendiri di sini?”
Bocah itu tak lebih tinggi darinya. Bersurai perak dan hitam di ujung tiap helainya, memakai mantel tebal berwarna hijau toska serta celana training tebal abu-abu. Kedua tangan diselimuti sarung tangan ungu. Menatapnya dengan sepasang mata kecokelatan yang lebar itu.
“Mereka memanggilku tomat,” jawab Atsumu sekenanya, kembali berfokus pada bangunan istananya yang baru selesai sepertiganya.
“Kenapa?”
Bertanya ‘kenapa’ terus, Atsumu bingung dibuatnya.
“Karena wajahku.”
Atsumu dapat mendengarnya bergumam mengerti, sebelum kembali terdengar derap langkah berat di atas jalan berselimut salju, hingga pemilik kaki itu sampai tepat di depan garis batas pagar istananya.
“Bukannya itu bagus?”
Bagus dari mananya?
Kalau itu bagus, mana mungkin semua anak menjauhinya sekarang. Kalau itu bagus, teman-teman perempuannya pasti sudah membelanya. Kalau itu bagus, ia pasti bisa membuat istana salju yang lebih besar sebab mereka akan membangunnya bersama-sama.
Atsumu baru akan protes, jika tak disela omongan si helai perak.
“Merah itu artinya kau hidup.”
Hah?
“Oksigen yang mengalir ke seluruh tubuhmu membawa darah. Kau merah karena darah yang dibawa oleh oksigen, yang berarti kau masih bernapas, masih hidup.”
Atsumu tidak begitu paham omongannya. Lagipula, badannya lebih mungil tapi omongannya bisa seberat itu. Apa dia benar anak kecil?
“Tapi, harusnya tidak sebanyak ini, ‘kan? Kalau iya, kenapa yang lainnya tidak semerah aku?”
Atsumu tak sadar ia menghentikan aktivitasnya, membiarkan segumpal salju mencair dalam genggamannya, menunduk menatap pondasi istana yang belum sempurna.
“Mudah. Itu artinya kau lebih hidup daripada yang lain.”
Si perak kembali mengikis jarak di antara mereka, mengabaikan Atsumu yang tertegun.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Miya Atsumu,” jawab Atsumu ragu-ragu.
“Oh, jadi kau kembaran Osamu? Salam kenal. Aku Kita Shinsuke.”
Shinsuke tak menyunggingkan senyum lebar, hanya segaris tipis bibir yang melengkung, tapi untuk hari itu, garis tipis itulah yang pertama membawa kehangatan untuk hari Atsumu yang dingin.
“Ngomong-ngomong, pondasi istanamu aneh. Kalau begini, mudah sekali runtuh.”
Yah, ternyata tidak sehangat itu.
Namun pondasi hubungan Miya Atsumu dan Kita Shinsuke terbangun sejak itu.
Sejak itu, merah adalah warna kesukaan Atsumu.
Sebab itu menandakan ia hidup.
Tapi tidak kali ini.
Karena merah yang tertumpah di atas putihnya salju tidak bermakna kehidupan. Sebaliknya, itu pertanda akan sebuah kepergian.
Karena keesokan harinya, kemeja hitamnya dihujani oleh air mana Kita Yumie, sementara ia hanya berdiri kaku di hadapan sebuah peti mati.
Seperti kemarin, kakinya hanya mampu menopang tubuhnya. Sulit menggerakkannya, membawanya berjalan keluar dari rumah itu misalnya. Menghadiri pemakaman bukanlah hal yang biasa ia lakukan setiap hari―dan siapa pula yang mau hari-harinya dihiasi oleh kepergian orang tersayang?
Hanya dengan kata ‘kematian’ dan ‘pemakaman’ saja rasanya sudah begitu membebani, terlebih kini, kedua kata itu dihubungkan dengan Kita Shinsuke.
“Kita-san, dulu, kau bilang, semakin merah, semakin hidup pula kita.
Tapi mengapa saat merah padamu itu semakin pekat, kau malah semakin menjauh?”
“Atsumu! Atsumu!”
Si pemilik nama membuka kedua mata dengan berat, langsung mendapati tatapan cemas Shinsuke di atasnya, disertai perasaan sesak pada hidungnya.
“Kau mimisan lagi.”
Barulah Atsumu menyadari jika bagian philtrum-nya sudah berubah bak aliran kecil sungai darah, turut menodai bantal dan selimut. Shinsuke sudah menyiapkan banyak tisu dan kompres dingin.
“Kita-san,” panggil Atsumu saat situasi mulai membaik, meski ia masih harus mengompres hidungnya dengan es.
“Hm?”
“Kau bilang merah itu tanda kehidupan, bukan? Namun bagaimana jika sebaliknya?”
Shinsuke tak langsung menjawab.
“Bagaimana jika merah merupakan pertanda kepergian atau kehilangan?”
Yang ditanya tersenyum. Bukan segaris tipis bibirnya seperti yang didapat Atsumu diperjumpaan pertama mereka. Kali ini, Shinsuke benar-benar tersenyum.
Hangat, menyenangkan, candu.
Lama sekali Atsumu tak melihat Shinsuke dalam keadaan seperti itu.
“Jika itu yang terjadi, maka merah akan selalu menjadi pengingat untukmu,” jawab yang lebih tua akhirnya. “Pengingat untuk tetap bernapas, tetap hidup, dan jadi lebih hidup lagi dibanding orang lain, juga untuk orang lain.”
Kala itu, Atsumu tidak begitu mengerti.
Tapi, ia lega. Setidaknya pertanyaan yang menggantung di benaknya terjawab sudah,
meski hanya dalam mimpi.
Karena, keesokan paginya, sisi lain tempat tidurnya kosong, dingin, dan kelewat rapi.
Kedua matanya juga membengkak, terasa berat. Apa lagi jika tidak disebabkan oleh air matanya yang merembes keluar kalanya terlelap?
“Kita-san, dulu, kau bilang, merah itu warna keberuntungan, olehnyalah kita hidup.
Sebab, tanpa lampu merah, masih adakah kesempatan mengecap hari esok?”
“Atsumu-san! Atsumu-san!”
Tanpa suara setengah panik Hinata, Atsumu akan tetap menunduk di ruang ganti mereka. Membiarkan kesadarannya melayang entah kemana tuju.
“Pertandingannya sudah hampir dimulai. Kita harus bergegas.”
Tanpa menunggu lama, mereka sudah berlari menyusuri lorong menuju lapangan utama. Di tepinya, anggota Tim Nasional Jepang lainnya sudah menanti. Tengah membentuk lingkaran dengan Iwaizumi pada tengahnya, sedang mengarahkan sesuatu.
Pada momen ia bergabung dengan tim, barulah ia sadar, tubuhnya saat ini berbalut kostum Tim Voli Nasional negaranya. Berwarna merah.
Akirnya, dalam sesekali yang sangat jarang, ia merasa beruntung.
Meskipun banyak orang yang berhasil meraih cita-cita masa kecilnya, Atsumu senang dan bangga bisa menjadi salah satu dari orang itu.
Ya, merah memang warna keberuntungan.
Tapi tidak senantiasa menjaga kehidupan.
Sebab, tempo dulu, lampu merah yang dipercayanya akan selalu menjaga nyawa, justru merenggut kehidupan seseorang.
Oleh truk yang tetap melaju kencang, meski jalanan licin oleh salju yang mencair di permukaan aspal.
Oleh Atsumu yang terlambat menyadari kedatangan benda logam raksasa itu, meski sudah diiringi nyaringnya bunyi klakson dan terangnya cahaya lampu truk.
Oleh Shinsuke yang ingin melindunginya, meski ia tahu dirinya tak akan sempat.
Sebab dengan lampu merah, nyatanya, Kita Shinsuke kehilangan kesempatannya untuk melihat hari-hari esok.
Salah satunya adalah hari ini.
Shinsuke tak ada untuk menyaksikannya dalam balutan kostum voli kebanggaannya, dengan warna kesukaannya.
Warna yang memberi sinyal bahwa Shinsuke telah pergi jauh.
Juga warna yang memerintahnya untuk tetap hidup, demi dirinya sendiri, pun demi orang lain.
― F I N ―
