Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Ruang Hati
Stats:
Published:
2021-05-16
Words:
2,828
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
32
Bookmarks:
3
Hits:
411

Krisan

Summary:

Mark dengan kepercayaan diri yang tidak tinggi baru saja merasakan patah hati yang paling parah di hidupnya. Atau mungkin tidak?

Notes:

Work Text:

Mark mengeratkan apron biru tuanya di pinggangnya. Hari ini adalah hari Rabu dan Mark sudah bekerja part time di toko bunga pak Kim selama empat bulan.

Awalnya Mark tidak ingin bekerja part time karena dia ingin fokus denga kuliahnya, tetapi empat bulan yang lalu dia tidak sengaja menjatuhkan handphone Donghyuck dari lantai lima kampus mereka yang menyebabkan handphone Donghyuck rusak sampai tidak bisa digunakan lagi.

Sebenarnya itu juga bukan sepenuhnya kesalahan Mark karena awalnya Donghyuck mengambil fotonya diam-diam. Dia tidak suka dengan itu dan mencoba merebut handphone Donghyuck untuk menghapusnya tetapi Donghyuck tidak mau. Akhirnya mereka rebutan handphone itu dan akhirnya kejadian tragis itu terjadi.

Sebagai teman yang baik dan mau bertanggung jawab Mark bersedia mengganti handphone Donghyuck, daripada dihantui rengekan temannya dari kecil itu yang meminta pertanggung jawaban selama 24 jam seminggu. Mark sebenarnya sedikit tidak rela membelikannya handphone baru karena handphone milik Donghyuck sudah cukup lama dan layarnya juga sudah retak parah (Mark tidak paham kenapa temannya bisa tahan memakai handphone tidak layak pakai itu). Jadi terkesan keenakan Donghyuck bisa mendapatkan handphone baru secara cuma-cuma.

Karena itu Mark akhirnya mencari kerja part time demi mendapat uang untuk membeli handphone baru Donghyuck. Mark sudah mencoba melamar kerja dari toko ayam goreng sampai mini market tapi sayangnya dia tidak lolos, hanya toko bunga pak Kim yang akhirnya mau menerimanya.

Mark sendiri juga khawatir karena dia tidak pernah mengurus bunga sama sekali dan dia sendiri tahu kalau dia orang yang ceroboh. Alasan dia melamar di toko bunga pak Kim karena gaji perjamnya lumayan besar dan tidak jauh dari tempat tinggal Mark.

Awalnya Mark masih setengah kesal dengan Donghyuck karena telah membuatnya mau tidak mau harus bekerja. Tapi sekarang tidak.

“Dek Mark kenapa? Kok lihat ke luar terus?”

Suara pak Kim mengagetkan Mark yang dari tadi melihat ke arah pintu bening toko seolah sedang menunggu kedatangan seseorang. “Hehe nggak kok pak.”

“Saya ke minimarket mau beli makan dulu untuk kita, kamu tunggu di toko bentar ya.”

Mark mengangguk “Iya pak hati-hati ya.”

Pak Kim sangat baik pada. Meskipun Mark sama sekali tidak ada pengalaman dalam mengurus bunga, pak Kim selalu mengajarinya dengan sabar. Terkadang pak Kim sering membelikan Mark makan siang. Hal itu yang membuat Mark masih betah bekerja di toko bunga tersebut.

Tentu ada alasan lain selain itu.

Kring

Tiba-tiba suara bel pintu yang menandakan seseorang masuk. Mark yang tadinya sibuk mengelap meja menoleh ke arah pintu “Selamat da—“.

“Hai Mark, boleh minta yang kayak biasa?”

Itu dia alasan terbesar mengapa Mark sangat menyukai bekerja di toko pak Kim meskipun dia selalu diliputi rasa khawatir karena kemampuannya dengan bunga.

“E-eh kak Johnny, bunga krisan kuning sama putih kan ya? Tunggu sebentar ya kak.”

Mark kemudian mulai mengerjakan karangan bunga sesuai dengan pesanan Johnny. Hatinya berdetak kencang seperti telah berlari satu kilometer, dia pun merasa pipinya mulai memanas. Mark menoleh ke belakang ke arah Johnny yang sepertinya sibuk melihat bunga yang ada di dalam toko.

Mark jadi mengingat-ingat hari saat dia dan Johnny pertama kali bertemu.

Johnny bekerja di studio foto yang ada tidak jauh dari toko bunga pak Kim. Saat itu Mark baru bekerja di toko bunga selama seminggu dan Johnny datang ke toko bunga untuk membeli karangan bunga. Katanya bunganya akan dipakai untuk sebuah photoshoot.

Awalnya Johnny sudah memesan karangan di toko lain tetapi karena ada suatu hal yang membuat toko tersebut tidak bisa mengirim bunganya, akhirnya Johnny terburu-buru membeli bunga ke toko pak Kim.

Waktu itu pak Kim sedang pergi mengantarkan bunga ke suatu tempat dan hanya Mark yang ada di toko. Mau tidak mau Mark membuat karangan bunga pesanan Johnny dengan kemampuan yang seadanya. Mark sangat khawatir sampai hampir ingin menangis saat memberikan bunga ke Johnny. Tetapi saat itu Johnny tidak menunjukkan ekspresi tidak suka, dia hanya menerima dan membayar seperti biasa.

Ketika itu Mark masih belum menaruh perasaan apa-apa pada Johnny.

Suatu hari Mark dimarahi oleh pelanggan karena melakukan kesalahan pada pesanan. Pak Kim tentu saja menghibur Mark karena itu bukan kesalahan Mark sepenuhnya dan pak Kim memintanya untuk tidak memikirkannya. Tapi bukan Mark namanya kalau tidak memikirkan sesuatu berlebihan.

Mark mengatakan dia tidak akan memikirkannya karena tidak mau membuat pak Kim khawatir tetapi nyatanya dia menangis selama perjalanan pulang. Saking terisak-isaknya menangis dia sampai tidak menyadari ada yang memanggil namanya.

“Mark.. kan?”

Mark menoleh ke belakang melihat seseorang bertubuh tinggi dengan rambut cokelat tuanya. Meskipun hari sudah gelap dia Mark masih bisa melihat wajah tampan orang itu.

“Oh— pelanggan waktu itu ya? Kok tahu nama saya?”

“Waktu saya lihat name tag kamu. Kamu nggak apa-apa? Kok nangis?”

Bukannya menjawab pertanyaan Johnny, lelaki manis berambut pirang itu justru menangis lebih kencang. Mereka baru saja bertemu dua kali tetapi entah kenapa Mark bisa menceritakan semua keluh kesahnya pada orang asing, dan anehnya semua kekhawatirannya keluar dari mulutnya dengan lancar dan dia tidak merasa aneh atau curiga satu pun. Justru rasa nyaman meliputinya.

Setelah menceritakan semuanya Mark merasa lebih lega. Dia berterima kasih pada Johnny dan juga meminta maaf karena telah membuatnya mendengarkan curhatan panjangnya.

Johnny kemudian menghiburnya sambil menepuk-nepuk kepalanya pelan. Dia mengatakan Mark sudah berusaha keras dan Mark harus bangga dengan usahanya sendiri. Perkataan tersebut membuat hati Mark menghangat.

“Oh iya aku Johnny, salam kenal ya.”

Angin malam bulan Oktober yang dingin berhembus tetapi Mark justru merasa pipinya semakin panas.

Saat itulah Mark menyadari bahwa dirinya mulai menaruh rasa pada Johnny.

Suara bel pintu toko menyadarkan Mark dari lamunannya. Pak Kim kembali ke toko dengan membawa dua kotak makanan dari mini market. Pak Kim mengangguk menyapa Johnny yang tadinya asyik memandangi bunga-bunga sambil sesekali melihat handphonenya.

“Ini kak bunganya, maaf agak lama hehe.” Mark menyerahkan bunganya pada Johnny sambil tersenyum manis malu-malu.

“Iya nggak apa-apa kok Mark. Kamu apa kabar Mark? Kuliah lancar?” kata Johnny sambil menyerahkan uang kepada Mark tanpa perlu menanyakan harga lagi.

“Iya kok kak lancar. Kak Johnny gimana kerjaannya?”

“Mulai sibuk sih sekarang.” Jawab Johnny sambil menerima resi dari Mark. “Makasih ya Mark, jangan lupa makan ya.” Ujar Johnny sambil melambaikan tangannya sebelum meninggalkan meninggalkan toko.

‘Ya ampun kak Johnny hari ini ganteng banget…’

“Wah dek Mark udah punya pelanggan setia ya.” Ujar pak Kim dengan nada menggoda. Mark hanya bisa menyengir manis sambil menggaruh pipinya yang tidak gatal.

“Tapi bapak seneng deh dek Mark makin bagus kerjanya, jujur saja saya khawatir awal-awal tapi sekarang sudah bisa agak tenang kalau mau serahin pekerjaan.”

Mendengarnya tentu saja membuat hati Mark berbunga-bunga. Jujur saja Mark bukan tipe orang seperti Donghyuck yang selalu positif dan penuh percaya diri setiap saat. Dia selalu mengkhawatirkan sesuatu berlebihan dan sering meragukan dirinya sendiri.

Dia senang sekali ternyata usaha dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Tetapi Mark yakin dia tidak bisa sampai sejauh ini tanpa bantuan pak Kim dan Johnny.

.
.
.

Biasanya Johnny datang untuk membeli bunga tiga kali seminggu, hari Senin, Rabu dan Jumat. Johnny selalu membeli bunga yang sama yaitu bunga krisan kuning dan putih. Katanya dia beli untuk pajangan di studio foto tempat dia bekerja.

Hari ini hari Jumat dan hari sudah semakin sore, mendekati jam tutup toko tetapi Johnny belum datang sama sekali. Mark sedikit khawatir dan sedih karena Johnny sama sekali tidak pernah absen datang ke toko selama empat bulan ini.

‘Apa kak Johnny sibuk ya sampai tidak sempat ke toko?’

Mark kemudian beranjak untuk membuat karangan bunga krisan kuning dan putih yang selalu dipesan oleh Johnny. Dia berniat untuk mengantar bunganya ke kantor Johnny, dan dia ingin memberikannya tanpa memungut biaya apapun. Johnny telah membantunya banyak, karangan bunga tersebut bukanlah apa-apa.

Studio foto tempat Johnny bekerja terletak tidak jauh dari toko bunga pak Kim. Setelah sampai di depan pintu masuk studio keberanian Mark tiba-tiba menciut, dia tidak berani untuk masuk ke dalam. Tetapi membayangkan ekspresi Johnny yang kaget dan senang ketika menerima bunga membuat Mark yakin dan mendorong pintu masuk tersebut.

“Permisi, maaf apa kak Johnny ada?”

Pria yang kira-kira berumur empat puluh tahun dengan kemeja biru muda berjalan cepat ke arah Mark “Cari Johnny? Wah maaf dek Johnnynya lagi ada kerjaan di luar. Kenapa ya?”

“Oh gitu.. ini pak saya mau mengantar bunga buat kak Johnny. Kak Johnny sering beli bunga di tempat saya. Buat hias kantor katanya.”

Mendengar perkataan Mark membuat pegawai studio tersebut bingung sambil menoleh ke arah pegawai lain yang ada di dalam studio. Pegawai tersebut sepertinya juga kebingungan mendengar perkataan Mark.

“Maaf dek memang benar di kantor kami ada yang namanya Johnny, tapi dia nggak pernah bawa bunga buat hias ke kantor.”

Mark tidak bisa menyembunyikan ekspresi kebingungannya juga. Kalau ucapan bapak pegawai tersebut benar terus kemana perginya bunga itu?

“Mungkin dia beli bunganya buat pacarnya kali pak.” Kata pegawai yang ada di dalam studio.

“Oh iya ya! Si Johnny juga sering pulang cepet katanya mau ketemu pacarnya kan? Wah bisa jadi itu.”

“Iya itu pak, biasa anak muda. Tapi kenapa dia bohong segala beli buat kantor ya?”

“Malu kali dia hahaha. Dia aja nggak pernah kasih liat foto pacarnya.”

Kedua pegawai studio bercanda dengan asiknya sampai melupakan keberadaan Mark yang masih berdiri membawa bunganya.

‘Oh.’

Detik itu juga Mark merasa sangat bodoh dengan kelakuannya sendiri.

‘Iyalah kak Johnny punya pacar, gimana sih Mark. Dia pasti juga baik bukan cuma ke kamu.’

Mark melangkahkan kakinya linglung tanpa mengucapkan apapun.

“Lho dek? Mau pulang? Bunganya gimana?”

.
.
.

Bunga krisan tadi akhirnya berakhir di tempat sampah stasiun. Selama perjalanan pulang ke rumah Mark mendengarkan lagu-lagu sedih yang cocok dengan suasanya hatinya.

Mark baru menyadari ternyata mendengarkan lagu tentang patah hati lebih menyakitkan saat dia mengalaminya sendiri. Pantas saja waktu Donghyuck putus dengan pacarnya dia mendengarkan lagu galau terus. Pernah Mark mengejek Donghyuck dan berakhir dengan perang dingin selama satu minggu.

Mark merasa malu menganggap Johnny juga menyukainya karena kenapa juga dia datang ke toko bunganya setiap minggu padahal ada toko bunga lain di dekat studio tempat Johnny bekerja.

Perasaan yang sedih membuat pikiran-pikiran jahat kembali muncul di kepalanya. Mana mungkin juga Johnny menyukai dirinya yang masih sangat bocah. Mungkin Johnny kasihan dengan dirinya karena dulu dia pernah menangis seperti orang bodoh di hadapannya.

Yang paling sakit bagi Mark adalah ternyata semua bunga yang Mark buat berakhir di tangan pacar Johnny. Tapi tidak apa, Mark senang jika dia Johnny juga bahagia Kata orang-orang cinta tidak harus memiliki, mungkin Mark mulai mengerti maksud dari kalimat itu.

Selama dua minggu Mark tidak masuk kerja, dan tentu saja hal itu membuat pak Kim khawatir dengannya. Apalagi saat Mark pulang dari studio Johnny kemarin dia terlihat sangat lesu dengan tatapan yang kosong.

Bahkan sebenarnya Mark berniat untuk berhenti kerja saja, toh uang untuk membeli handphone Donghyuck sudah terkumpul. Sepertinya Mark tidak sanggup dan tidak tahu harus memasang wajah seperti apa ketika bertemu Johnny lagi nanti.

Selama dua minggu itu juga Mark menghabiskan waktunya dengan menangis sambil mendengarkan lagu sedih. Ini bukan pertama kalinya dia merasakan patah hati, tapi mungkin ini menjadi yang paling parah.

Mark sama sekali tidak memiliki tenaga untuk keluar, akhirnya dia membeli handphone untuk Donghyuck secara online dan memintanya datang sendiri ke tempat Mark untuk mengambilnya.

Melihat keadaan temannya yang menyedihkan membuat Donghyuck tidak tega juga. Saat itu juga Donghyuck membuat nasi goreng kimchi andalannya untuk makan malam mereka berdua. Dia juga membuatkan playlist berisi lagu yang ceria agar Mark tidak terus-terusan bersedih mendengarkan lagu galau.

Walaupun kadang menyebalkan Donghyuck memang teman Mark yang baik dan bisa diandalkan.

Dua minggu telah berlalu. Mark memutuskan untuk pergi ke toko pak Kim untuk menyampaikan niatnya berhenti kerja. Dia sendiri merasa tidak enak dengan pak Kim karena sudah mengajarkannya dengan sabar dari nol.

Mendengar keinginan Mark yang ingin berhenti tentu saja sangat disayangkn oleh pak Kim. Tetapi pria berumur empat puluhan itu tidak bisa menghentikan Mark juga. Dia berkata Mark bisa kembali kapan saja jika dia berubah pikiran.

Toko bunga pak Kim akan menjadi tempat yang spesial baginya. Mungkin Mark tidak bisa bertemu lagi dengan Johnny, tetapi dia berharap orang yang disukainya itu bisa bahagia selalu.

Terlalu sibuk dengan pikirannya sampai Mark tidak fokus dan tersandung oleh batu di jalanan. Untung saja matahari sudah tenggelam dan tidak banyak orang yang lewat di sekitar situ.

Mark tidak tahu apakah dia menangis karena kesakitan atau karena memikirkan Johnny. Dia sudah tidak peduli bila orang-orang mengatainya terlalu berlebihan saat patah hati.

“Mark?”

Mendengar suara yang sangat ingin dia dengar selama ini membuat Mark langsung mengangkat kepalanya.

“..kak Johnny?”

“Kamu nggak apa-apa? Sakit banget?”

Dengan perlahan Johnny membantu Mark berdiri. Mark merasa déjà vu. Dia masih ingat dia juga menangis di hari dimana dia mulai menyukai Johnny. Kali ini dia juga menangis dihadapan orang yang masih dia sukai di saat Mark ingin melupakannya.

“Kak Johnny kenapa disini? Ini Jumat malam, nggak pergi sama pacarnya?” Kata Mark sambil menyedot ingusnya yang keluar.

‘Aduh Mark Lee kamu kok ngomong gini sih.’

“Hah? Kamu ngomong apa sih?”

“Iya katanya orang kantornya kak Johnny, kak Johnny pulang cepet terus soalnya mau ketemu sama pacarnya. Iy akan? Makanya kak Johnny beli bunga terus di pak Kim buat pacar kakak kan? Tapi maaf ya kak aku udah berhenti, jadi besok-besok minta pak Kim saja buat buatin bunganya.” Ujar Mark panjang dalam sekali nafas. Dia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia jadi uring-uringan seperti itu.

Mendengar ocehan Mark, Johnny hanya melongo mencoba mencerna perkataannya sampai kemudian dia tertawa terbahak-bahak sampai menangis.

“Ya ampun Mark, aku bilang itu ke orang kantor soalnya aku males diajak nongkrong bareng habis kerja. Soalnya bapak-bapak sukanya kepo nanyain udah punya pacar apa belum.”

“..hah?”

“Iya, itu cuma alasan, untung saja mereka percaya sih. Tapi sama saja sih mereka masih kepo mau lihat foto ‘pacar’ku.”

“Jadi kakak nggak ada pacar?”

“Haha ya gitu deh.”

Sekarang gantian Mark yang melongo mendengar ucapan Johnny. Tapi masih ada satu misteri yang tersisa.

“T—terus kak Johnny kenapa beli bunga terus kalau bukan buat pacar? Katanya juga kak Johnny nggak pernah bawa bunganya ke kantor juga?”

Lampu di sekitar jalanan terlalu redup tetapi Mark yakin dia melihat semburat merah sekilas di pipi Johnny yang melihat ke arah lain sambil menggaruk pipinya dengan jarinya.

“Kamu masih ingat waktu kamu nangis karena dimarahin pelanggan malam-malam? Jujur kamu waktu nangis lucu banget tapi aku juga khawatir sama kamu, makanya aku awalnya ke toko bunga buat lihat keadaan kamu. Aku masih ingat kamu dulu takut sama khawatir terus waktu serahin karangan bunga buatanmu. Tapi aku senang lama-lama kamu mulai percaya diri.”

Kini Mark justru berterima kasih pada penerangan jalan yang kurang sehingga dapat menyembunyikan wajahnya yang sekarang sangat memerah.

“..terus bunganya ada dimana kak?”

“Ada di rumahku kok.”

Mark masih terdiam karena dia bingung bagaimana harus memproses semua informasi yang berlebihan ini. Tiba-tiba Mark merasakan ibu jari seseorang menghapus air matanya.

“Udah jangan nangis lagi.”

“Kak aku—“

“Nanti aku tambah suka.”

‘Hah?’

“Haha udah yuk pulang, udah malam juga.”

‘Ayo bilang sekarang aja Mark Lee. Sekarang atau tidak sama sekali.”

“K—kak Johnny, sebenarnya aku bisa percaya diri juga berkat kakak. Kakak selalu datang beli bunga padahal hasil kerjaku masih payah tapi kakak selalu memuji hasil kerjaku, selalu tanya aku udah makan atau belum, selalu tanya kabarku bagaimana. Aku bisa sampai sekarang semua berkat kak Johnny. A-aku suka kakak..”

Sekitar tiga puluh detik tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Jika tidak ada suara mobil lalu lalang mungkin Johnny bisa mendengar suara jantung mark yang berdetak sangat kencang.

Keheningan itu akhirnya dikahiri dengan Johnny yang mengusap pelan rambut pirang Mark.

“Kalau gitu kita sama dong.” Ucapnya sambil tersenyum yang membuat Mark tambah menyukai lelaki yang ada di depannya sekarang.

Mark masih tidak percaya hal ini terjadi. Kalau ini mimpi dia berharap supaya tidak bangun selamanya. Tetapi saat dia mencubit kakinya dia merasa sakit yang menandakan dia tidak sedang bermimpi.

“Kamu udah makan Mark? Ada restoran gukbap enak di dekat sini, mau makan bareng?”

Tidak ada alasan bagi Mark untuk menolak ajakan tersebut. Dia mengangguk berkali-kali sampai membuat Johnny terkikik geli.

Memang mereka berdua tidak ada yang mengatakan untuk meminta menjadi pacar, dan Mark tidak mempermasalahkannya. Dia ingin menikmati sebuah momen kejaiban. Mungkin nanti dia akan mengatakannya pada Johnny (atau mungkin Johnny duluan yang akan mengatakannya).

Mark harus mengingatkan dirinya untuk menghubungi pak Kim kalau dia masih ingin bekerja di toko bunga. Mungkin dia harus mentraktir Donghyuck samgyupsal karena walaupun dia menyebalkan, tetapi Mark bisa bertemu dengan Johnny berkat Donghyuck juga.

“Eh Mark, jangan-jangan kamu bolos kerja dua minggu karena itu? Kamu cemburu?”

Wajah Mark otomatis langsung memerah malu. “H-hah ngomong apa sih kak? Yuk ah ke restoran gukbap udah laper aku.” Kata Mark sambil berjalan cepat meninggalkan Johnny.

“Mark kamu salah jalan, bukan ke situ. Ke sini arahnya.”

Mark mengubah arah jalannya dengan cepat diikuti Johnny yang berjalan di belakangnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Udara di bulan Oktober semakin dingin tetapi sepertinya sama sekali tidak menjadi masalah bagi Johnny dan Mark yang berjalan menuju restoran bersama.

Anggap saja itu menjadi kencan pertama mereka.

“Oh iya kak, kakak kenapa beli bunga krisan warna kuning sama putih terus?”

“Hmm karna aku suka krisan. Terus warna kuning itu kayak warna rambut kamu, warna putih karena kalau waktu kerja kamu pakai baju putih terus.”

Sekali lagi Johnny berhasil membuat pipi Mark menjadi merah seperti tomat. Mark memukul pelan lengan Johnny, dan yang dipukul hanya pura-pura kesakitan sambil tertawa.