Work Text:
Jika harus menyebutkan satu hal yang tak disukai Sejun dari tempat kelahirannya ini, sudah pasti itu adalah rentetan musimnya; terlebih musim gugur.
Selain jalanan yang mendadak berdebu dan dipenuhi daun kering, suhu juga menjadi tidak konsisten. Bisa menyentuh 25 selsius saat matahari berada di puncaknya dan menjadi sedikit dingin saat matahari mulai pulang ke peraduannya.
Sebenarnya ini terhitung masih awal september dan musim gugur baru dimulai. Tetapi justru menurut Sejun itu bagian terburuknya, awal september seperti ini selalu masih membawa hawa panas dari musim sebelumnya.
Jadi tak jarang pagi-pagi ia mengenakan coat lalu malamnya sibuk mengatur suhu serendah mungkin pada pendingin ruangan.
Sama seperti sekarang, ia sudah mengupayakan segalanya. Memasang suhu 17 derajat pada air conditioner dan berulang kali mengarahkan sirkulasi pemisah pada dirinya yang sudah berbaring tanpa atasan.
Bahkan ia juga sempat mandi, berharap air akan menyejukkan tubuhnya. Namun tetap saja, Sejun bisa merasakan kelenjar keringat dalam tubuh sedang dalam proses mencair.
Sayangnya, tanpa Sejun sadari, bunyi ‘bip’ yang terus terdengar dari AC tersebut juga mengganggu sosok lain di sebelahnya.
Sosok itu sudah setengah terpejam saat sebelumnya ia berhasil memasang angka 23 selsius pada remote AC lalu bergelung hangat di dalam selimut karena menurutnya cuaca sangat dingin.
“Ini terlalu dingin.” Komentarnya—Hanse—dengan mata yang masih tertutup dan berusaha menutup lehernya dengan selimut.
Sedangkan Sejun yang menggunakan lengan kirinya sebagai bantalan tambahan tak sependapat. “Ini udara sedang sangat panas, Se.” Sejun kembali mengusahakan memasang suhu lebih rendah lagi.
Hal itu mau tidak mau membuat Hanse membuka matanya, memandang langit-langit kamar yang gelap karena hanya mengandalkan pantulan sinar-sinar lain dari luar jendela. Ia menoleh pada sosok di sampingnya dengan dahi mengerut untuk membantu matanya menyesuaikan sinar yang masuk.
Setelah beberapa detik, Hanse sudah bisa menyesuaikan cahaya remang-remang yang masuk ke matanya. Membuatnya menyadari bahwa Sejun tengah berbaring bertelanjang dada, sibuk mengutak-atik remote AC menuju suhu rendah walau menurutnya ini sudah sangat dingin.
“Apa kau gila!” Hanse menggerakkan selimut polkadot tersebut untuk menutupi perut kekasihnya. “Ini dingin sekali, Sejun.”
Namun Sejun tak berpikir demikian, ia membuka lagi selimut itu yang hanya menampakkan celana tidurnya yang longgar. “Keringatku sudah berkumpul.” Sejun beranjak dari tempat tidur. Berdiri dengan sisa penglihatan yang minim mengingat ini sudah pukul sebelas lebih lima belas malam.
Ia berjinjit dan meletakkan punggung tangannya pada permukaan garis-garis tempat angin bersirkulasi. Menduga mungkin kompresornya cukup kotor karena tak menghasilkan suhu yang ia inginkan.
Hanse di tempat tidurnya terduduk. Memandang tak mengerti pada tubuh yang sibuk berjinjit untuk mengintip bagian dalam pendingin ruangan. “Kau baru lari marathon atau apa?” Hanse merasakan semilir angin pada lehernya yang telanjang. Ia merapatkan piyama berwarna biru langit itu dan kembali berkata, “Jelas-jelas ini dingin sekali.”
Sejun menggeleng, “tubuhku tidak merasakan seperti itu.”
Akhirnya Sejun menemukan apa yang ia inginkan. Setelah mengintip bagian dalam AC dan meraih kembali remote-nya, kipas dan suhu sudah di titik enam belas derajat. Maka ia turut berbaring lagi di samping Hanse. Mengangkat kedua tangannya hingga membuat pinggangnya terlihat jauh lebih ramping dan menutup mata.
“Sejun,” Hanse berkata pelan, mengondisikan matanya yang menyipit dan sensasi menggelitik di hidungnya. “Ini terlalu di—,” namun perkataan Hanse tak pernah selesai, karena detik berikutnya ia bersin cukup keras.
“Demi Tuhan,” Hanse kembali masuk pada selimutnya dan meringkuk hingga hanya wajahnya saja yang terlihat. Semakin merutuki suhu yang tak masuk akal karena kini rasa dingin itu juga merambati tindik perak di bibirnya. “Naikkan suhunya, Lim Sejun.”
Hanse menggosok hidungnya yang terasa menggelitik kembali. Berharap kekasihnya itu mau menurutinya walau sayangnya Sejun masih terpejam. “Tidak. Ini suhu yang tepat.”
Hanse menahan amarahnya, “hidungku tidak mengatakan seperti itu. Ini terlalu dingin.”
Sejun tak membuka matanya, ia malah membalikkan badan menjadi berhadapan dengan Hanse dan menikmati punggungnya yang kini merasakan semilir angin dingin. “Tidak, Hanse. Ini suhu yang tepat.”
Sekali lagi, Hanse merasakan sesuatu yang aneh di hidungnya. Ia bersin untuk yang kedua kali. Lantas dirinya membuka selimut, meraih tisu di atas meja yang diletakkan di samping tempat tidur. Membersihkan hidungnya dengan alis yang kini bersungut-sungut.
“Naikkan-nya.” Hanse mengultimatum. Jika tidak, sudah pasti besok ia akan mengalami hidung merah seharian.
Lagi-lagi Sejun tak merespon. Pria itu tetap menutup matanya dan memposisikan bantalnya dengan nyaman. Berpura-pura tidak merespon pada Hanse yang emosinya sudah diujung tanduk—tidak ada orang yang suka tidurnya diganggu tentu saja.
Hanse sekali lagi memberikan kesempatan terakhir. “Sejun,” lirihnya serius.
Tetap, Sejun tidak merespon.
“Baiklah.” Hanse mengangkat selimut dan bantalnya dengan kesal. “Terserah kau.”
Lalu ia membuka pintu dengan gerakan kasar, menutupnya keras-keras hingga membuat Sejun membuka matanya dan terduduk. “Hanse, kau mau kemana!”
Dua detik ia menunggu, tak ada jawaban. Sejun mengusap wajahnya kasar, “sial.” Merasakan kepanikan sendiri karena ia tahu itu bukan pertanda baik.
Memang air conditioner menjadi masalah, tadinya. Tetapi sesungguhnya tidur tanpa pria Do itu, adalah masalah yang sesungguhnya.
.
.
.
Hanse menghentakkan kasar bantal dan selimut polkadot itu di sebuah sofa. Ia mendengus marah dan memposisikan bantalnya dengan pukulan kasar lalu masuk ke dalam selimut dengan gerakan tergesa-gesa.
Membuatnya bisa memandangi langit-langit dengan temaram karena mengandalkan sinar dari luar. Tidak nyaman, lirih Hanse dalam hati dengan berulang kali memposisikan punggungnya pada busa sofa yang seolah menekuk ke tengah dan membuat punggungnya melengkung.
Hanse membalikkan badannya, menarik selimut sebatas leher cepat-cepat. Kali ini matanya menangkap pemandangan kursi dan komputernya yang pagi tadi ia gunakan. Lebih baik, Hanse setidaknya sedikit merasa hangat di dalam studionya kali ini, walau punggungnya seperti tetap menghadirkan protes.
Akhirnya senyap yang merambati. Hanya detik jam yang menemani Hanse memandang kosong studio kecil yang ia bangun untuk bekerja dari rumah, membuat pria berbalut piyama biru langit dan awan-awan kecil sebagai corak tengah berusaha tertidur.
Ia berusaha mengondisikan pikirannya, membuatnya rileks kembali dan menutup matanya. Membayangkan banyak kenangan masa kecil seperti membangun istana pasir di pantai atau berlari di halaman rumah neneknya yang tak terlalu besar—sesuatu yang ia lakukan saat berusaha tertidur.
Seharusnya berhasil. Namun pada menit kesekian Hanse kembali membuka matanya.
Ia tidak bisa tidur lagi.
Tak ada yang bisa membohongi punggungnya jika ia membutuhkan kasur. Oh tentu saja ia sangat ingin, tetapi tetap saja Sejun dan suhu ruangan yang ia inginkan akan membuat Hanse bersin seharian besok.
Juga, sebenarnya ini kali pertama Hanse tidur sendiri setelah sekian tahun tinggal bersama … jadi mungkin ia merasa wajar insomnia mendadak ini terjadi.
Ya, mungkin.
.
.
.
Entah apa yang membuat Sejun berpikiran begitu lama. Masih dengan penerangan ruang tengah yang gelap, ia mondar-mandir di depan sebuah pintu putih, berulang kali memasang tangan hendak mengetuk yang akhirnya ia tarik kembali karena ragu; ia tidak pernah terbiasa dengan kemarahan Hanse sejujurnya.
Maka Sejun terus berjalan tanpa arah, menjambak kasar surai hitamnya yang telah mencapai alis. Sekali lagi berpikiran untuk mengetuk pintu studio mini milik kekasihnya.
Ia menarik nafas, membuat dadanya yang telanjang naik turun gugup dan akhirnya memutuskan memberi tiga ketukan.
“Sese.” Sejun menggigit bibir dalamnya, “aku masuk, ya?”
Tak ada jawaban. Baik, itu menakutkan. “Aku tahu kau marah padaku, teta—,”
“Masuk.”
Dan ini dua kali lebih menakutkan. “A-Aku masuk.” Dengan jantungnya yang berdetak kencang, Sejun membuka gagang pintu dalam sekali dorongan. Pertama kali disambut oleh aroma kopi yang memang terbentuk karena Hanse selalu membuat kopi panas selama bekerja di studionya hingga membuat biji-biji hitam itu menjadi aroma tetap ruangan.
Lalu matanya disambut oleh pemandangan Hanse yang tidur menyamping dan melirik padanya, samar-samar ia melihat ekspresi keras itu dari keremangan ruangan.
“Kau lebih baik kembali ke kamar.” Sejun menelan berat salivanya, “biar aku yang tidur di sini.”
Kalimat terakhir itu sukses membuat Hanse menoleh, menghadap padanya yang masih berdiri dengan dahi berkerut. “Kau tidur di mana?”
Sejun menunjuk tempat Hanse tidur, “di sofa itu.” Ia ragu-ragu melanjutkan, “jika kau yang tidur di sana, punggungmu bisa sakit.” Lalu Sejun kembali menunduk. Tak mengerti mengapa ia sendiri memasang ekspresi memelas seperti bocah yang dimarahi ibunya.
Beberapa detik Hanse terdiam, “dan jika kau tidur di sini, punggungmu yang akan sakit.” Hanse menarik lagi selimutnya, “aku juga kedinginan di kamar.”
Lalu hening tercipta. Menyisakan Hanse yang kini menutup matanya dan Sejun yang semakin bingung harus berbuat apa.
“Hanse—,”
“Apa lagi?” pria itu menjawab tidak senang.
Sedangkan Sejun kembali memutar otak, memikirkan alasan sebenarnya yang masih belum ia ucapkan karena pipinya yang menghangat.
“Tidak, tidak jadi.” Lalu Sejun melangkah keluar. Tanpa kata-kata apapun lagi dan menutup pintu begitu saja.
Menyisakan Hanse yang mendadak diam dengan mata berkedip cepat. Tak memahami ada apa dengan kekasihnya dan mencoba tidur kembali; walau tentu saja itu kerja yang mustahil.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit yang artinya sudah hampir mencapai tengah malam, dan Hanse masih terbaring dengan kaki menekuk memandang langit-langit melalui tatapannya yang kosong.
Ia sudah tak lagi menggunakan selimut karena memang studionya tidak memakai pendingin ruangan. Maka ia menggunakan gumpalan selimut itu sebagai alas untuk kakinya yang menekuk.
Apa aku tadi terlalu kasar ya? Hanse bermonolog dalam hati. Mengingat-ingat lagi wajah polos Sejun yang terlihat sangat memilih kata-katanya untuk berbicara dengan Hanse. Sebaiknya minta maaf saja? Hanse merenung.
Sebenarnya itu adalah pilihan yang bagus. Memotong perseteruan mereka, kembali bergelung di kasur yang nyaman dan yang lebih penting … berbaring di sebelah Sejun, seperti biasanya.
Namun entah mengapa ada sesuatu yang menghalangi kaki Hanse untuk berdiri. Sesuatu tak kasat mata seperti ego—ia terlalu malu hanya untuk berbaikan.
Maka yang ia lakukan sekarang adalah tetap diam. Mempertimbangkan untuk kembali mencoba tidur atau terus berdebat dengan diri sendiri untuk meminta maaf.
Iya, sebaiknya coba minta maaf saja. Hanse kembali mendengarkan sisi lain kepalanya, tetapi bukankah itu terlalu mudah?
Rumit memang.
Maka ia mencoba mengubah posisi kembali karena kini kakinya terasa tak nyaman, merubah posisi dengan meluruskan kaki walau kembali mendesah sebal karena telapak kakinya yang menggantung.
Tidur lebih—bisikan dalam hati itu mendadak terhenti. Karena kini Hanse mendengar suara pintu yang dibuka tanpa kunci, suara yang ia hafal benar karena berada tepat di samping studionya; pintu balkon.
Apa itu?
.
.
.
Sejun sendiri tak paham, apa yang ia lakukan ini merupakan ide bagus atau malah mengacau. Ia menghabiskan bermenit-menit di dalam kamarnya untuk mencari cara memperbaiki semuanya. Masih dengan bayangan betapa bodohnya ia karena sengaja mengabaikan Hanse tadi dan kini malah berujung dengan Sejun tak yakin dengan apa yang ia lakukan.
Ia mundur beberapa langkah setelah memastikan semuanya tepat di tempatnya. Merasakan semilir angin yang kini menyapa bagian tubuh atasnya yang telanjang. Sebenarnya terlihat bagus, Sejun menyentuh dagunya dan berpikir, tetapi juga terlihat seperti sarang.
Apa boleh buat ini jalan tengahnya, setidaknya ia harus mencoba.
Maka Sejun kembali masuk ke dalam, mencuri dengar pada pintu untuk memastikan studio mini kekasihnya masih sunyi, lalu kakinya menuju rak televisi dengan pandangan buram.
Sebenarnya menyalakan lampu adalah hal mudah, tetapi entah mengapa Pria Lim itu memilih berjalan dengan sulit. Meraba-raba sekitar dan beberapa kali tersandung kaki kursi dan meja.
Hingga akhirnya tangannya yang meraba dalam gelap itu menemukan permukaan yang keras dengan gagang kecil lain; laci kayu.
Sejun membukanya, masih mengandalkan indera peraba dan berhasil menemukan kotak yang ia cari.
Ketemu, lalu ia kembali berdiri dan menuju balkon yang masih setengah jadi. Tak memperhatikan jalan hingga tak menyadari bahwa lampu hias sepanjang lima meter itu langsung jatuh menjuntai saat ia membukanya.
Hingga membuatnya jatuh terpeleset dengan tidak keren.
Menghasilkan bunyi debum keras dan dadanya yang membentur lantai. Hendak merutuki kebodohannya sebelum sebuah pintu mendadak terbuka.
Memuat Hanse yang tengah memandangnya di muka pintu. Sama-sama mematung dengan ia yang masih tergeletak tengkurap di atas lantai.
“Kau …” Hanse memandangi lama kekasihnya, “Sedang apa?”
Sejun segera berdiri. Cepat-cepat merapikan lagi tubuhnya dengan menepuk-nepuk dadanya mengusir rasa sakit yang masih terasa. “Aku … sedang mencari angin.”
“Lalu itu?” Hanse menunjuk pada lampu hias yang Sejun genggam berantakan.
“Ah ini,” Sejun mendadak gugup, ia membuang muka kea rah balkon sebelum memasang senyum, “Aku-aku …”
Ia berpandangan lama dengan Hanse. memperhatikan pria yang hanya setinggi telinganya itu sedang menunggu jawabannya, yang sialnya semakin membuat Sejun kehilangan alasan.
“Aku ….” Sejun akhirnya menyerah, ia menurunkan tangannya yang memegang lampu dan mengusak rambutnya kasar. “Sedang mencoba membuat tempat tidur di balkon.”
Hening kembali menyapa keduanya. Kali ini membiarkan Sejun merutuki diri sendiri dan Hanse yang masih mengerjap tanda mencerna apa yang Sejun katakan.
“Aku tidak bisa tidur jika tanpa kau.” Sejun bisa merasakan semburat merah dari sensasi hangat yang mengalir di pipinya. “Jadi aku berniat membuat tempat tidur yang menyenangkan di balkon. Setelah jadi aku akan memanggilmu sebenarnya, tetapi aku—,”
Hanse tak menunggu kekasihnya selesai berbicara. Ia mengambil kotak lampu di genggaman yang lebih tinggi dan beranjak keluar ke balkon.
Meninggalkan Sejun yang mematung beberapa saat dan mengikuti langkah Hanse keluar.
Berdiri berdampingan di sebelah pria manis itu untuk memperhatikan matras protector yang digelar sebagai alas dan selimut bermotif sulur tanaman yang dilebarkan begitu saja.
“Awalnya aku berniat memindahkan kasur kita ke sini, tetapi tidak cukup. Aku juga merasa itu terlalu sederhana, jadi aku berniat memasang lampu-lampu sebagai suasana baru.” Jelas Sejun tanpa diminta.
Mendengar hal tersebut Hanse tertawa kecil, membuat lubang-lubang dangkal di pipinya terlihat dan membuat Sejun bertanya-tanya.
Namun sebelum Sejun sempat bertanya, Hanse beranjak mendekati pagar balkon, melihat pada hiruk pikuk kota yang perlahan mulai sunyi dan langit malam dengan bulan yang bulat sempurna.
Ia menghirup nafas sebentar lalu melilitkan lampu hias tersebut pada balkon. Masih membuat Sejun mematung tak berani bergerak karena takut Hanse masih dalam amarahnya.
Hingga akhirnya lampu bertenaga baterai itu terlilit sempurna dan Hanse menyalakannya. Memberikan penerangan hangat dan bayang-bayang samar pada alas tidur yang Sejun gelar seadanya.
“Jadi ....” Hanse kini berdiri di atas alas tersebut, membuka selimutnya dan membaringkan tubuh, “Kita akan tidur di sini malam ini?” Ekspresi Hanse hangat. Dengan senyum lebarnya dan tindik yang memantulkan cahaya dari pagar balkon, ia menepuk tempat kosong di sebelahnya. “Tunggu apa lagi?”
Ia mengkode Sejun untuk bergabung. “Kau tidak marah lagi?” tanya Pria Lim memastikan.
Hanse memutar matanya masih dengan senyum yang dipasang. “Tidur, Lim Sejun.”
Sejun menurut. Dengan senyum yang kini terpasang lebar-lebar dan lubang sebelah pipi yang mengintip, ia bergabung masuk ke dalam selimut. Menikmati lagi aroma tubuh Hanse yang khas.
“Maafkan aku terlalu keras padamu tadi.” Ujar Hanse kini meletakkan kepalanya di atas bantal, menyamping menghadap Sejun yang juga memiringkan tubuhnya.
“Maafkan aku juga karena bersikap menjengkelkan.” Sejun mengulas senyum lebih lebar.
“Kenapa kau tidak bilang punya ide yang cemerlang seperti ini.” Hanse menaikkan selimutnya karena angin yang sedikit menyapa, “aku suka tidur sambil melihat langit malam.”
Sejun beringsut mendekat, menempelkan dahi mereka mereka berdua dan mencuri satu kecupan kecil dari bibir yang lebih muda. “Syukurlah jika kau menyukainya.” Lalu ia meraih pinggang berbalut piyama itu untuk menghilangkan jarak, kembali menghirup dalam-dalam aroma khas kekasihnya, “Karena musim gugur selalu menyebalkan, tetapi saat bersama kau musim ini jadi menyenangkan.”
“Jadi …” Sejun memberikan pandangan menggoda, hendak memajukan wajahnya lagi yang segera ditahan oleh Hanse.
“Tidur, Lim Sejun.”
Kali ini giliran Sejun yang memasang wajah masam, gagal mencuri kecupan lagi hingga akhirnya membuat Hanse tertawa renyah.
Ia bangkit sedikit dan mengandalkan sikunya sebagai tumpuan, memandang Sejun yang terlihat kesal sebelum menempelkan bibir mereka berdua. Tak menghadirkan hisapan kasar, melainkan hanya lumatan lembut seolah benda merah jambu itu jeli dengan warna yang menarik, melakukan cumbuan kecil sebelum akhirnya ia menyudahi karena pegal yang merayapi tangan.
“Sebenarnya aku juga tidak bisa tidur tanpamu,” ucap Hanse dengan suara kecil dan semburat merah yang mengiringi.
.
.
.
END
