Work Text:
Stephen Strange sedang duduk menikmati teh di tengah malam. Kehidupan sebagai pelindung bumi dari bahaya multidimensional menjadi excusenya untuk minum teh bahkan di waktu yang tidak ortodoks. Tuntut dia kalau kamu mau.
Adalah ketika tehnya tinggal separuh cangkir ia mendengar ketukan yang halus dari pintu Sanctum. Ia membeku sesaat. Ia hanya memberi akses bebas mantra proteksi kepada sangat sedikit orang, dan jarang sekali ia menerima kunjungan. Lagipula rekan-rekan dunia mistiknya lebih suka menggunakan portal. Jadi, 'who the hell?’
Stephen meletakkan cangkirnya di atas piring kecil dan bangkit dari kursinya, Cloak dengan sigap menempel di bahunya. Dia terlalu lelah untuk mempertimbangkan apakah nightgown sutra berwarna navy cukup proper untuk menyambut tamu. Memangnya siapapun orang ini sudah cukup proper untuk bertamu jam segini? Tepat sekali, tidak.
Stephen sama sekali tidak menduga sosok yang ia sambut setelah ia membuka pintunya sambil menguap. Mobil yang harganya tak bisa Stephen bayar bahkan jika ia menjual organ-organnya terparkir dengan kasual di depan Sanctum.
"Tony?"
Ia ingat memang pernah meluruhkan mantra proteksi untuk pria yang matanya bak madu saat ditimpa sinar matahari yang berdiri di pintunya.
Mereka punya histori. Dengan histori maksud Stephen adalah kapanpun Tuan Amerika melukai hati Tony, kepada Stephen-lah ia akan berlari. Sudah lama sekali sejak terakhir hal itu terjadi.
"Hey, Stephen, kamu mau persilakan aku masuk atau aku akan membeku di luar?" Tony membiarkan dirinya sendiri masuk dengan riang. Ada yang aneh dari ayunan langkahnya yang tidak seimbang dan suaranya yang agak tak jelas. Dugaan Stephen terkonfirmasi saat Tony tersandung kaki meja dan Cloak menangkapnya sebelum memberi kecupan mesra pada lantai dengan wajahnya.
"Kamu mabuk?" Stephen bercangkung di hadapan pria yang sekarang menyandarkan punggung pada meja yang beberapa detik lalu ditendangnya. Stephen menatap lekat wajah Tony yang merona, matanya yang digelapkan alkohol, bibirnya.. oh, Vishanti, bibir kemerahan yang agak terbuka membentuk 'o' sempurna, nafas berat yang hangat dengan aroma vodka.
"Dia meninggalkanku, Stephen. Packed his things soldier-style, and left."
Untuk kedua kalinya malam itu, Stephen membeku.
"..Pernahkah ada yang bilang padamu kalau matamu sangat dingin dan indah? Mereka membuatku menggigil," Tony berbisik begitu pelan tapi Stephen mendengar setiap kata dan dadanya berdesir. Ia dapat merasakan tangannya lebih gemetaran dari biasanya.
'Pernahkah ada yang bilang padamu kalau Sorcerer Supreme ini mencintaimu?' Stephen melawan godaan untuk jatuh ke jurang perasaannya dan membiarkan jawaban itu cukup terpenjara dalam benak. Sekarang lebih baik memainkan peran dokter dan merawat 'pasien' di depannya ini. Maka ia mengulurkan tangannya. "Kamu butuh istirahat, Tony, biarkan aku menolongmu."
Stephen menggiring Tony ke kamar pribadinya, dengan bantuan Cloak tentu saja. Ia membukakan pintu, "kamu bisa tidur di sini," dan menoleh. Dalam redup cahaya lampu dan sinar rembulan yang menembus kaca jendela, ia dapat melihat sungai yang mengaliri pipi kemerahan pria yang lebih pendek di depannya itu. Air terjun yang percikannya membasahi kemeja Tony dan lantai kamar Stephen. Runtuhlah segala presisi dan pengendalian diri yang terasah bertahun-tahun menjadi dokter bedah. Mana mungkin ia tega. Stephen meraih wajah Tony dan menghapus air matanya dengan jari bergetar.
Stephen tahu Tony sedang mabuk tapi, Tuhan, tolong izinkan dia memiliki ini dan sumpah ia tak akan menginginkan apapun lagi.
Tony hanya memberi Stephen sebuah senyuman pahit sebelum berjinjit dan mencium bibirnya dengan gairah yang hampa, bulir-bulir bening masih turun bagai hujan dari matanya yang sekarang tertutup. Stephen melingkarkan lengannya di pinggang Tony, dan menghabiskan sisa malamnya mendengar Tony memanggil lirih sebuah nama yang bukan ‘Stephen’ sementara sang penyihir menandai setiap inci kulit kecokelatan yang indah itu. Keduanya terjebak bersama dalam kutukan cinta bertepuk sebelah tangan.
Pagi harinya, Tony terbangun dengan sakit kepala luar biasa dan melihat ada segelas air serta sebuah pil di atas meja di sampingnya. Ia menoleh ke sisi lain dari kasur dan tak menemukan siapapun di sana. Bagaimana ia bisa sampai di kamarnya? Ia tidak ingat pergi ke mana setelah diusir dari bar semalam....
Ada secarik kertas yang tergeletak di atas mejanya. Sambil menelan aspirin dan meneguk airnya, Tony membaca tulisan berantakan yang sangat ia kenal:
Wish you were sober.
***
this bullshit fic © Brooseweyn 1:21 AM/Monday March 23rd 2020
Inspired by Wish You Were Sober © Conan Gray
Tony Stark, Stephen Strange, Steve Rogers, Cloak of Levitation © Marvel
