Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Sope Radio 93.94 FM
Stats:
Published:
2021-05-20
Words:
2,714
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
12
Bookmarks:
1
Hits:
105

Keep Each Other Company

Summary:

Mau dunia terbalik. Bintang berjatuhan. Bulan tidak bersinar lagi. Aku akan ada di sisimu.

Work Text:

Sudah tengah malam. Kediamannya sepi. Papa dan Mama-nya sudah pasti tertidur pulas di kamar mereka. Para pelayan rumahnya pun sudah tidak lagi berlalu-lalang mengitari tiap ruangan rumahnya. Beberapa sepupunya yang menginap juga tak lagi terdengar suaranya. Hoseok mengunci pintu kamar, merekayasa tempat tidurnya seperti ada dirinya di dalam selimut lalu dengan perlahan membuka kunci jendela kamarnya. Pelan sekali.

Hoseok mengenakan jaketnya terburu, angin nampak berhembus dingin malam ini, ia membuka lebar jendelanya, menyelinap turun dengan memijak kakinya pada lekukan bata di permukaan dinding rumahnya yang tidak rata. Papanya sudah mengeluhkan hal ini dan meminta tukang untuk segera datang merenovasi bagian rumahnya yang sudah terlalu tua. Namun Hoseok mendapatkan keuntungan sendiri dari cacatnya rumah itu. Ia dengan hati-hati meluncur turun dari jendela kamarnya, cukup tinggi namun tidak akan mematahkan tulangnya apabila ia terjatuh.

Hoseok berlari tanpa suara setelah ia akhirnya memijak tanah. Tubuh langsingnya melesat melewati pepohonan, ia menghindari jalan utama. Cahaya bulan menyinari tiap langkahnya, Gemersik daun yang tersapu angin menemani Hoseok yang terus berlari membelah pepohonan tinggi di samping kanan-kirinya.

 

Sebentar lagi.

 

Sedikit lagi.

 

Aku sangat rindu.

 

Rindu sekali seperti hampir mati.

 

Melihat persimpangan jalan, Hoseok berbelok ke kiri, meloncati lembah kecil dengan bunyi riak air yang menenangkan lalu mendaki bukit tinggi. Setelah sampai di puncaknya nafas Hoseok terengah. Ia tersenyum, perlahan menuruni bukit lalu berjalan santai menuju sebuah rumah sederhana yang terlindung di balik bukit tersebut.

Ada Min Yoongi di sana.

Ia duduk di bangku kecilnya tepat di tengah balkon rumahnya yang tidak terlalu luas. Asik membaca buku ditemani cahaya lampu yang temaram dan sinar bulan yang benderang.

“Victor Hugo?”

Yoongi terkesiap. Ia nampak terkejut. Tidak sama sekali mendengar langkah kaki Hoseok yang sekarang tengah berdiri di depan balkon rumahnya dengan senyuman menawan. Bulir keringat turun dari dahinya. Rambutnya lepek. Napasnya masih terengah. Namun, senyumannya masih secerah matahari.

Tersenyum, Yoongi melipat ujung halaman buku yang sedang ia baca sebagai penanda. Membalas senyuman Hoseok tidak kalah manis.

“Yap. Kesukaanku.” Yoongi menjawab. Menutup bukunya lalu menaruhnya di pangkuannya.

“Apa yang membuatmu menyukai syair Victor Hugo?” Hoseok bertanya, menaiki tiga undakan tangga di balkon rumah Yoongi lalu menarik kursi kecil di sudut balkon dan duduk di samping Yoongi. “Theresa Requin dari Emile Zola lebih menarik dari Hugo.” Lanjut Hoseok.

“Meh,” Yoongi mencibir. “Penyair dari Prancis. Klasik. Tipemu sekali.” Yoongi memastikan diri melirik Hoseok setalah berucap.

Hadiahnya adalah deru tawa Hoseok. Manis dan menyenangkan sekali untuk didengar.

“Victor Hugo menciptakan novel pertamanya; Han d’Islande, sebagai hadiah pernikahannya bersama Adele Foucher. Terdengar begitu menyentuh hati. Karya dengan cerita di baliknya nampak jauh lebih berarti dari yang lainnya.” Yoongi menjelaskan, Jarinya meremas singkat sampul buku dalam pangkuannya. Matanya menatap bulan.

Hoseok terkesima. Bukan pada bulan yang bersinar terang. Bukan pada hamparan bintang yang menghiasi langit malam. Matanya tertuju pada Yoongi. Lekukan hidungnya. Bentuk bibirnya. Untai rambut cokelatnya yang halus, serta kedipan matanya yang lembut.

Hoseok tidak berkedip. Ia barharap bisa menghabiskan malamnya seumur hidup seperti ini. Memandangi Yoongi membaca. Mengagumi bagaimana Yoongi bercerita. Menatap indahnya Yoongi yang bahkan menandingi bulan. Hoseok berharap ia bisa dilahirkan kembali. Dalam kehidupan di mana ia tidak perlu diam-diam menemui Yoongi. Di kehidupan di mana Hoseok tidak perlu takut untuk berteriak pada dunia bahwa ia menyukai Min Yoongi.

“Mau membacanya?” Yoongi menoleh. Mata mereka bertemu.

Hamparan bintang dan gelap malam menjadi saksi bagaimana cinta tumbuh di antara kedua bola mata mereka yang bersitatap. Degupan jantung mereka terdengar bising. Mengalahkan segalanya.

Pipi Yoongi memerah. Buru-buru menghindari mata Hoseok lalu berdeham gugup.

“Aku tidak terlalu suka membaca,” jawab Hoseok, matanya turun, menatap jari-jari mungil Yoongi yang pucat dan gemas sekali ingin menangkapnya dalam dekapan.

“Kau keluar diam-diam lagi?” Yoongi bertanya, “Oh, aku belum menawarimu minum. Aku akan buatkan susu cokelat hangat. Tunggu sebentar di sini, oke?”

“—Yoongi tidak perlu, aku—“

Min Yoongi sudah terlanjur bangkit berdiri, menaruh bukunya di atas bangku tempat tadi ia duduk lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya. Hoseok menarik nafas. Mengambil buku di atas bangku lalu membuka halaman demi halamannya tidak tertarik. Tidak sampai lima menit, Yoongi keluar dari rumahnya dengan nampan berisi dua gelas cokelat panas. Aromanya manis sekali. Menggaruk tenggorokan Hoseok untuk segera mencicipinya.

Hoseok menerika gelas miliknya lalu meminumnya sampai setengah. Aroma manisnya yang menusuk sesaat menyamarkan aroma tubuh Yoongi dalam sekejap.

“Aku tidak bisa lama,” Hoseok berkata setelah hening lama, gelas cokelat di tangan Yoongi masih sisa banyak. Ia menyesapnya pelan-pelan sekali sembari sesekali ditiup pelan. “Besok aku harus bangun pagi untuk latihan berkuda.” Hoseok menjelaskan.

“Lalu?” Yoongi bertanya.

“Aku ada les matematika setelahnya, lalu latihan biola dan sore hari belajar memanah.” Hoseok menjelaskan, menandaskan cokelat hangat di tangannya.

“Padat sekali,” gumam Yoongi.

“Aku akan berusaha menemuimu saat malam hari setelah makan malam keluarga selesai. Oh, aku rasa aku bisa mengundangmu.” Hoseok memberitahu dengan mata berbinar.

“Mengundangku apa?”

“Besok ada acara makan bersama dengan keluarga besar. Seluruh sanak saudara datang ke rumahku. Aku rasa aku bisa mulai mengenalkanmu dengan mereka.” Hoseok menjelaskan dengan semangat. “Mama dan Papa pasti setuju.”

“…aku tidak tahu,” bisik Yoongi sebagai jawaban. “Aku rasa aku tidak bisa menyesuaikan diri dengan keluargamu. Maksudku … kau dan keluargamu itu benar-benar di luar kendaliku.”

“Kenapa berbicara seperti itu?” Hoseok membantah. “Aku sudah membicarakan hal tentangmu dengaan papa dan mama. Mereka bilang ingin menemuimu. Ini waktu yang sangat tepat, bukan?”

“Entahlah,” Yoongi menjawab.

“Ada aku di sana, oke?” Hoseok meletakkan gelas di tangannya di lantai, kini beralih menggapai jemari Yoongi lalu meremasnya lembut. Usapannya hangat sekali menyapa kulit Yoongi. “Aku akan ada di sisimu sepanjang waktu.”

Diyakinkan seperti itu membuat Yoongi terenyuh. Dia menyunggingkan senyuman tipis lalu mengangguk.

“Baiklah akan aku coba,”

Hoseok tersenyum bahagia. “Aku harus kembali,” ucapnya setelahnya.

“Oke,” Nada Yoongi tidak setuju. Berlainan. Ia tidak ingin Hoseok pergi. Ia ingin Hoseok terus ada di sampingnya; menggenggam tangannya, mengusap pundaknya, mengecup pipinya, berbaring di sampingnya.

Namun Yoongi tahu bahwa hubungan mereka belum diretui secara langsung oleh kedua orang tua Hoseok. Mereka harus diam-diam bertemu seperti ini. Mereka berkencan ke tempat jauh demi tidak diganggu oleh keluarga Hoseok. Yoongi lelah, namun ia begitu menyayangi Hoseok ditahap ia akan lakukan apapun asalkan ia bisa menghabiskan waktunya dengan Hoseok selama mungkin. Sebelum dunia kembali memisahkan mereka dan Yoongi harus kembali sendirian. Seorang diri.

“Aku akan menjemputmu pukul lima sore,” Hoseok berjanji. Ia berdiri, menaruh buku yang sedari tadi ia pegang ke bangku yang tadi ia gunakan. Yoongi ikut bangkit berdiri, menaruh gelas berisi cokelat panasnya yang masih tersisa banyak ke lantai.

“Baik,” Yoongi merepon. Ia meremas jemari Hoseok kala pemuda itu menarik Yoongi mendekat.

Hoseok memberikan kecupan di kening Yoongi. Lama. Begitu hangat. Hembus nafasnya menimpa pipi Yoongi yang kemudian dikecup lambat oleh Hoseok begitu mesra. Ada setitik aroma cokelat yang tertinggal di tubuh Yoongi. Memenuhi paru-paru Hoseok begitu ia mendekap Yoongi begitu erat.

Satu kecupan terakhir dan itu berlabuh di bibir Yoongi. Lembut. Hangat. Dadanya berdebar kencang. Kakinya melemas, akan jatuh bila Hoseok tidak mendekapnya begitu erat. Mereka berbagi ciuman cukup lama. Hoseok mengakhirinya dengan mengecup sudut bibir Yoongi lambat. Ia menghirup aroma Yoongi dalam-dalam, menyimpannya dalam ingatan agar ia tidak gila saat ia merindukan Yoongi.

“Jaga dirimu baik-baik,” bisik Hoseok.

“Kau juga,” balas Yoongi.

Hoseok mencium punggung tangan Yoongi kemudian melepas jemarinya dan berjalan menjauh. Punggung Hoseok terasa berat meninggalkan Yoongi. Langkahnya hampa. Hatinya Kosong. Ia ingin menemai Yoongi namun keadaan tidak bisa ia hindari.

Hoseok tetap melangkah. Terus melangkah. Lagi. Lagi.

Akan ada waktu di mana ia tidak perlu bersembunyi menemui Yoongi. Hoseok yakin waktu itu akan datang.

Ia hanya perlu bersabar.

 

Sedikit lagi.

Lagi.

 

Sedikit lagi, Hoseok-ah.

 

.

.

.

 

Berada di tengah-tengah hiruk pikuk keluarga Hoseok membuat Yoongi mati kutu. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia canggung sekali. Yoongi ditinggalkan seorang diri di tengah taman tempat keluarga Hoseok tengah berbaur satu sama lain. Saling menanyakan kabar dan mengobrol berisik. Yoongi hanya berani menyapa beberapa sanak saudaranya yang menyapanya duluan. Ada Kim Namjoon, serta Kim Taehyung yang begitu ramah menyambut Yoongi dan berbincang sebentar sebelum mereka pergi untuk menyapa sanak keluarga mereka yang lainnya.

“Yoongi-ah,” Hoseok datang, membawa dua gelas tinggi berisi sampanye, ia menyerahkannya satu ke Yoongi. “Sebentar lagi jam minum teh,” ucap Hoseok, jarinya menarik siku Yoongi mendekat. “Ayo ke ruang makan.”

Yoongi menuruti. Membawa langkahnya membuntuti kaki Hoseok. Mereka memasuki kediaman Hoseok yang megah. Atapnya tinggi dengan gorden bercorak yang mewah. Beberapa sepupu kecil Hoseok berlarian riang, menabrak kaki Hoseok yang ikut tertawa sembari mengelus kepala mereka dengan sayang. Seorang pelayan membukakan pintu besar nan tinggi untuk mereka berdua dan Yoongi terkesima ketika kakinya menapak di ruang makan keluarga Hoseok.

Ornamennya menarik. Dengan warna kalem yang nyaman sekali dipandang. Hoseok membawanya menuju ujung meja, tempat di mana kedua orang tua Hoseok duduk di ujung meja. Nampak begitu berkuasa. Aura kedua orang tua Hoseok membuat Yoongi tergugu ketika ia berjalan menghampirinya.

“Oh, Min Yoongi.” Wanita itu menyapanya, mengulas senyuman. “Hoseok banyak berbicara tentangmu.” Yoongi dengan sopan menjabat uluran tangan Nyonya Jung yang rupawan. Senyumannya begitu mirip dengan Hoseok.

“Senang bertemu denganmu, Mam.” Yoongi berucap, lalu melirik pada Tuan Jung yang nampak memperhatikannya dengan seksama.

“Kuharap kau menikmati pestanya, Tuan Min.” Tuan Jung berucap sopan.

“Sangat. Terima kasih sudah mengundangku.” Ujar Yoongi,

Tuan Jung membalasnya dengan senyuman.

“Duduk di sini, Nak. Perjamuan akan mulai sebentar lagi.”

Hoseok menarik kursi untuk Yoongi. Ia duduk dengan tenang, walau jantungnya terasa berdetak tak karuan.

“Kan sudah kubilang,” bisik Hoseok. “Orang tuaku pasti menyukaimu.”

Yoongi menusuk rusuk Hoseok main-main. Ia masih tidak yakin dengan reaksi kedua orang tua Hoseok. Mana mungkin keluarga dengan harta melimpah dan rumah semegah ini mau menerima Yoongi yang hanya berasa dari keluarga biasa?

Ia masih meragukannya.

Acara perjamuan tehnya berjalan menyenangkan. Satu keluarga besar dikumpulkan dalam satu meja makan, saling bercanda gurau, tertawa dan bercerita mengenai perkembangan bisnis masing-masing. Beberapa perbincangan membuat Yoongi terdiam tanpa kata, bagaimana mereka saling meninggikan pendidikan putra dan putri mereka, bagaimana mereka melakukan apa saja agar predikat terbaik ada di pundak masing-masing keluarga. Yoongi benar-benar merasa berada di tempat yang bukan seharusnya.

“Oxford, atau mungkin Imperial College,” Nyonya Jung tiba-tiba berucap, menghadap Yoongi yang tengah menyesap tehnya.

“Yes, Mam?”

“Antara Oxford atau Imperial College, musim semi ini dia akan mulai berkuliah sana.” Nyonya Jung menjelaskan. “Hoseok sudah belajar mati-matian agar ia bisa masuk ke universitas itu. Dia hanya tinggal menunggu kabar baiknya.”

“Oh,” Yoongi terkejut. Ia mengerjapkan matanya cepat.

“Ma,” Hoseok memperingati, ia mencengkram jari Yoongi di bawah meja makan.

“Hoseok belum memberitamu tentang ini?”

Yoongi menggeleng pelan. “Aku yakin Hoseok menyiapkan waktu yang tepat untuk memberitahuku.”

Nyonya Jung nampak tertawa kecil, “atau mungkin Hoseok tidak ingin memberitamu sama sekali?”

“Mama!” Nada Hoseok naik.

“Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan pada putraku hingga ia berani berbuat seperti ini.”

“Berbuat apa?” Yoongi bertanya tidak mengerti.

“Kau pikir aku tidak tahu?” Nyonya Jung melirik Hoseok tajam, “setiap malam ia diam-diam pergi dari kamarnya untuk menemuimu. Ia membolos pelajaran memanahnya dua minggu lalu, dan kemarin dan bahkan melewatkan kelas matematikanya demi bertemu denganmu.”

Jemari Yoongi terasa dingin. Ini yang ia takutkan. Ini yang selama ini ia hindari. Ini yang selalu membuat tidur Yoongi tidak tenang. Kenyataan jika dunia Yoongi dan Hoseok begitu berbeda. Yoongi tidak memiliki jadwal sepadat Hoseok. Ia menyibukkan dirinya dengan melukis dan membaca, sesekali menulis puisi dan berkebun bersama ayahnya. Dia tidak harus belajar memanah, tidak harus bisa mengendarai kuda, tidak harus pintar dalam akademinya. Keluarganya begitu biasa. Sarapan dengan panekuk dan madu serta segelas susu. Makan malam hanya dengan pasta dan potongan daging saja sudah menyenangkan bagi mereka.

Hoseok berbeda. Dia hidup dalam gelimang harta dan pelayan yang siap melayaninya kapanpun. Menyiapkan pakaiannya. Sarapan dengan makanan berkelas dan koran sebagai peneman. Hoseok hampir tidak bisa beristirahat dan melakukan apa yang ia suka karna jadwalnya yang begitu padat. Semua tentang akademi, semua menjunjung tinggi tata karma, dan Hoseok seakan muak lehernya dipasang rantai tanpa bisa ia bernafas lega.

“Yoongi tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan ini,” Hoseok membelanya. “Aku melakukannya karna aku ingin, bukan karna Yoongi.”

Nyonya Jung mengela nafas tidak percaya. Matanya menatap Yoongi tajam.

“Inilah kami, Yoongi.” Ucapnya. “Ini tradisi kami. Ini keluarga kami. Ini harta kekayaaan kami. Turun-temurun kita melakukan ini. Kau bisa menyesuaikannya?”

“Berhenti,” Hoseok menyela sebal. Nafasnya penuh amarah. “Mama mengundangnya untuk ini?”

“Kau pikir untuk apa lagi?” sahut Nyonya Jung. “Harus berapa kali aku katakan jika dia tidak setara. Dia tidak pantas. Dia tidak bisa bergabung dengan tradisi kita. Buka matamu, Jung Hoseok!”

Suara Nyonya Jung naik. Membuat sekeliling mereka seketika hening.

“Sampai kapan kau akan menyembukan fakta itu dari dia? Sampai dia merasa dia pantas berada di sini? Di tengah-tengah kita? Kau pikir dia pantas?”

Yoongi meremat jarinya sendiri. Pusing. Dia tidak tahu harus bersikap apa. Bibirnya kelu. Semua tatapan di sekelilingnya membuat Yoongi tidak bisa bernafas.

“Aku sudah katakan padamu,” desis Hoseok. “Aku menyayanginya.” Lanjut Hoseok. “Apa itu tidak cukup? Anakmu mencintai seseorang dan ingin dia bertahan di sisinya. Apa itu alasan yang kurang untukmu?”

“Kurang! Sangat kurang!” Nyonya Jung semakin naik pitam. “Lihat posisinya! Liat dia?! Dia tidak pantas! Dia tidak bisa masuk ke dalam keluarga kita! Dia sangat tidak pantas!”

Tidak sanggup lagi. Yoongi bangkit berdiri. Kakinya gemetar tapi ia paksakan untuk melangkah. Dadanya sakit. Sakit sekali. Ia menggigit bibirnya keras. Ia menghiraukan panggilan Hoseok. Ia hanya ingin pergi.

Ia ingin pergi.

 

.

.

.

 

“Yoongi-ah!”

Hoseok berlari mengejarnya. Yoongi tidak memperlambat langkah kakinya. Ia memacunya semakin cepat. Ia berjalan menuju garasi keluarga Jung yang luas, mengeluarkan serangkaian serangkaian kunci mobilnya sembari menuju Chevrolet tuanya yang nampak aneh bersanding dengan kendaraan mewah milik sanak-saudara Hoseok.

“Yoongi! Min Yoongi!”

Hoseok menahan pintu mobilnya kala Yoongi sudah berniat menarik kenop pintu mobilnya. Matanya panas. Nafasnya membara. Yoongi sulit bernafas. Ada jemari yang mencekik lehernya. Sakit. Sakit sekali. Segalanya memburam. Suara Nyonya Jung berdentang tak mau henti di dalam kepalanya.

“Dia tidak pantas.”

Yoongi menyeka air matanya dengan telapak tangan, mencoba menghindari Hoseok yang sedari tadi menahan tubuh Yoongi agar menghadapnya.

“Yoongi-ya,” suara Hoseok melembut, ia menangkup kedua sisi pipi Yoongi dengan telapak tangannya. Jarinya halus mengelus urai air mata Yoongi yang tidak berhenti. Terlihat sangat kacau.

“B-benar,” gumam Yoongi. “Ucapan mamamu benar. Aku tidak pantas. Kita sangat berbeda jauh. Dunia kita tidak bisa bersanding satu sama lain. Kita tidak bisa bersama.” Yoongi meracau. Menahan air matanya untuk tidak keluar namun malah semakin tidak tertahankan.

“Hei,” Hoseok menggeleng, tatapannya manis. Ia mengelus pipi Yoongi tidak berhenti. “Sayangku. Jangan berkata seperti itu.” Gumamnya sedih.

“Itu benar, Hoseok-ah,” Yoongi kembali membela diri. “Tidak ada yang baik dari hubungan kita. Tidak ada yang perlu dilanjut—“

“Min Yoongi,” Hoseok memanggilnya dengan nada kecewa. “Aku mencintaimu.”

Mendengarnya membuat hati Yoongi mencelos. Mata Hoseok penuh kesungguhan. Tidak ada kebohongan. Alisnya berkerut menahan tangis. Hoseok menggigit bibirnya sendiri agar tidak ikut terisak seperti Yoongi. Ia ingin tegar untuknya. Ia ingin menjadi tempat bersandar bagi Yoongi. Ia ingin Min Yoongi.

“Kau memberi hidupku yang kelabu ini menjadi warna, sayangku.” Ungkap Hoseok lebih dalam. “Old Fashioned Lover Boy, ingat?” Hoseok tersenyum lemah, “kau bilang lagu itu membuatmu ingin jatuh cinta, ingat? Pertemuan pertama kita di roller rink? Saat kau membiarkanku mendengarkan lagunya karna melihatku sedih sendirian?” Hoseok mendekatkan wajahnya, menyatukan dahi mereka hingga deru napas satu sama lain tersapu lirih. “Saat itu juga, di detik itu juga, saat aku menatap wajahnya, saat aku melihat matamu, saat aku tergugu melihat senyumanmu, saat itu juga aku menyukaimu, Yoongi-ya,” lanjut Hoseok.

“Kau luar biasa. Kau bisa membuat puisi romantis lalu berubah menjadi syair patah hati di detik selanjutnya. Kau luar biasa, Min Yoongi. Kau membuat orang-orang disekelilingmu penuh warna. Kau membuat hidupku jadi jauh lebih indah. Kau membawaku keluar dari kehidupanku yang membosankan. Jangan.” Hoseok mengecup keningnya lambat. “Jangan pernah berkata hal buruk tentang dirimu sendiri. Kau lebih dari itu. Kau jauh lebih baik dari semua sanak keluargaku di dalam sana. Kau jauh lebih baik, sayangku.”

Yoongi dibawa ke pelukan Hoseok setelahnya. Hatinya menghangat. Ia merasa begitu nyaman dalam pelukan Hoseok. Didekap segigih ini membuat Yoongi tidak takut lagi pada apapun. Seperti jahatnya dunia tidak akan lagi membuatnya goyah apabila ada pelukan Hoseok bisa ia dapatkan setelahnya.

 

“Kita akan jalanin ini bersama-sama, oke?” Hoseok mengucap janji. “Mau dunia terbalik. Bintang berjatuhan. Bulan tidak bersinar lagi. Aku akan ada di sisimu. Tidak ada satupun yang bisa memisahkan kita; terutama keluargaku. Tidak akan bisa. Semestapun tidak akan bisa melakukannya. Mereka tidak akan berani melakukannya.”

 

Itu adalah janji yang diucapkan Hoseok, dan digenggam Yoongi begitu erat.

Mereka akan melawan dunia,

Melawan keluarga Hoseok,

Melawan semesta,

Asalkan mereka ada satu sama lain, tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka.