Actions

Work Header

bertaut

Summary:

"Nyawaku nyala karena denganmu."

Tentang Hoseok yang melihat betapa besar cinta Yoongi untuk Bunda, serta betapa siap dirinya untuk menjadi penyangga bagi mereka berdua.

Notes:

MY VERY FIRST SOPE IS HERE.
Terima kasih atas waktu luang yang diberikan, duhai teman-teman kerjaku, sehingga aku dapat menyelesaikan tulisan ini tepat waktu.

Work Text:

bertaut

 

 

song by nadin amizah

 

 

 

Author’s note:

same-sex relationship is normal in this universe.

 

 


 

Nyawaku nyala karena denganmu.

 


 

 

“Mas. Pertama kali lo mutusin buat ngelamar Mbak Jiwoo, hal-hal apa aja sih yang jadi pertimbangan lo?”

Seokjin meletakkan cangkir kopinya di atas meja, memandang pada Hoseok yang baru saja melempar tanya. Wajahnya yang biasa penuh tawa, sore itu tampak serius. Mungkin karena tanya yang dilempar adik iparnya tidak memberi celah bagi Seokjin untuk melempar canda.

“Kenapa? Lo mau ngelamar Yoongi?” Seokjin balas bertanya. “Bukannya udah tunangan?”

Hoseok menghela napas. “Udah setahun gue tunangan sama dia, dan gue mulai mikir kalau hubungan ini harus jalan, Mas.”

“Emangnya lo selama ini diem di tempat? Nggak juga, ‘kan?”

“Emang nggak, sih,” tukas Hoseok, terdengar keberatan. “Gue cuma ngerasa, gue pengen bangun liat wajah dia. Pengen tidur setelah curhat panjang sama dia. Gue pengen dia masakin bekal gue setiap hari, pengen bantuin dia cuci piring tiap habis makan, pengen dia jadi orang yang nutup dan ngebuka hari gue.”

“Dangdut banget lo, Setan,” Seokjin memaki.

“Ada batas-batas yang nggak bisa gue sebrangin sebagai tunangan, Mas. Batas-batas yang pengen gue hapus. Gue udah sampe di titik gue nggak bisa kalau nggak sama Yoongi.”

Seokjin bergumam, memutuskan untuk berdamai pada sisi melodramatis adik iparnya. “Pertimbangan gue ya paling... gue siap nggak kalau harus bertanggung jawab atas hidup Kakak lo. Menikah tuh berarti gue punya komitmen untuk menjamin hidupnya dia, Hos. Senengnya Kakak lo, sedihnya, marahnya, bahagianya... gue akan menjadi bagian dari emosi-emosi itu. Gue akan dimintai pertanggung jawaban bukan cuma sama Nyokap Bokap lo, tapi juga sama Tuhan. Hal pertama yang gue pikirin ya itu, gue siap atau nggak sama komitmen sebesar itu?”

“Terus gimana?” Hoseok bertanya lagi. “Gimana caranya lo yakin kalau lo siap? Mengesampingkan keingin-keinginan egois kayak yang tadi gue jabarin?”

“Gue datangin Nyokap sama Bokap lo, lah. Gue kasih tau mereka niat gue buat serius sama Jiwoo. Gue kasih tau gue masih banyak kurangnya, dan masih harus banyak belajar. Tapi di samping semua ketidakmampuan gue, gue janji sama Bokap lo untuk selalu berusaha jadi pasangan yang baik buat Kakak lo. Lo tau nggak, Hos, apa yang Bokap lo bilang saat itu?”

Hoseok mengangkat alis.

“Dia bilang gue nggak usah janji, karena dia tau gue selalu ngusahain yang terbaik buat Jiwoo. Tapi kalau nanti Jiwoo udah nggak bisa lagi memenuhi kewajibannya sebagai pasangan gue, dia minta gue kembalikan Jiwoo baik-baik ke keluarga kalian, sebagaimana gue minta izin ngebawa dia ke keluarga gue.”

Hoseok bergeming di tempatnya duduk. Bohong kalau ia bilang hatinya tidak tersentuh mendengar penuturan Bapak, yang datang dari mulut Seokjin.

“Kalau sama Yoongi, tanggung jawab lo akan lebih berat, Hos. Yoongi itu kepala keluarga, anak lelaki sulung dari keluarga yang udah nggak punya Bapak. Nikah sama Yoongi berarti setuju untuk jadi pelindung keluarganya juga,” Seokjin menatap Hoseok lurus-lurus. “Pertanyaannya, lo siap, nggak?”

 

 


 

 

Cik atuh, balik maneh teh. Eta si Bunda unggal poe nitah urang nelepon, ceunah ‘Piraku Yoongi lebaran ayeuna moal balik deui wae’. Kangen sugan, ka maneh*.”

(* Tolong dong, pulang lo tuh. Itu Bunda tiap hari nyuruh gue telpon, katanya ‘Masa iya Yoongi lebaran tahun ini nggak pulang lagi aja’. Kangen kayaknya, sama lo.)

(** Aa adalah panggilan pada lelaki yang lebih tua dalam Bahasa Sunda)

Suara Jeongguk di ujung sambungan menjadi dengung yang mengganggu hari Yoongi. Karawang terasa panas di puncak kepala, dan pekerjaannya tidak pernah terasa lebih mudah belakangan ini. Mr. Mitsuba, ekspatriat yang jadi atasan langsung Yoongi sudah tiga hari berada dalam mood yang buruk. Ia dua kali meneriaki Yoongi lantaran jadwal produksi yang lelaki itu buat molor sehari, dan terlihat berdebat dengan seseorang lewat telepon di waktu makan siang. Namjoon bilang bos mereka sedang menghadapi perkara rumah tangga, tapi Yoongi tidak peduli. Rasa-rasanya tidak ada hal yang berjalan lancar selain kesialan yang terus datang bertubi-tubi.

“Mas, buat PO* dari Katsuo yang empat belas ton itu prosesnya udah sampai mana?” Jimin, salah seorang member divisi Marketing datang ke kursi Yoongi dengan wajah terlipat. Lelaki yang dua tahun lebih muda darinya itu pasti habis dimarahi customer. Yoongi bisa menebak.

(* PO = purchase order)

Yoongi melirik malas. “Baru masuk ERW*. Sore ini beres, gue transfer langsung ke cutting**.”

(* ERW = electric resistance welding. Proses menggulung dan mengelas logam menjadi pipa)

(** Cutting = proses pemotongan pipa)

Jimin mengangguk malas. “Ya udah. Besok siang pokoknya harus udah sampe ke Katsuo, ya. Kalau nggak nanti mereka bisa stop line*.”

(* Stop line = istilah untuk proses pemberhentian produksi. Biasanya terjadi karena kekurangan material)

“Iya, iya,” Yoongi mendengus. “Lo bilang deh tuh sana sama Hoseok, biar pas ERW selesai, bisa langsung potong aja.”

“Lo aja deh yang ngomong. Laki lo kalau lagi kelimpahan banyak order gini suka mendadak jadi macan. Takut, gue.”

Yoongi menghela napas untuk yang kelima kalinya hari ini. Ia memutuskan untuk berpura-pura tuli dan kembali bekerja, meninggalkan Jimin mencak-mencak sendirian di samping kursinya sebelum berlalu ke meja Hoseok. 

Seperti yang Jimin bilang, Hoseok selalu menyeramkan sewaktu berada di bawah tekanan. Hampir delapan puluh persen pesanan yang masuk harus melalui proses cutting, dan Hoseok adalah penanggung jawab produksinya. Adegan dimana Jimin merajuk padanya untuk mengubah jadwal produksi, atau Taehyung yang datang mengeluh lantaran banyaknya hasil produksi dengan status NG* adalah hal-hal yang lazim Hoseok temukan di akhir bulan. Alasan-alasan sempurna baginya untuk kehilangan kesabaran.

(* NG = not good. Hasil produksi tidak lolos quality check karena ada kecacatan.)

“Makanya kalau PO udah masuk tuh langsung e-mail, Park Jimin!” Hoseok terdengar membentak. “Lo tau nggak sih kalau customer perusahaan ini tuh bukan cuma punya lo doang? Sekarang gue nggak bisa janji ubah schedule, ya. Pipa lo tetep gue potong Sabtu ini!”

Yoongi menghela napas lagi. Enam kali, hitungnya dalam hati. Penat Yoongi rasanya sudah hampir membuncah keluar dari ujung kepala, mengguyur rasa panas yang mulai tidak tertahan lagi. Disambarnya helm kuning yang tergantung di bawah meja, digantinya sepatu Adidas hadiah dari Hoseok dengan safety shoes berwarna hitam. Ia putuskan untuk kabur dari hiruk pikuk kantor ke bising mesin dalam pabrik.

Lagi-lagi hari ini akan terasa panjang bukan kepalang. Yoongi pikir ia betul-betul butuh pulang.

 

 


 

 

Kampung Sarjambe, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut adalah kampung masa kecil Yoongi yang damai dan asri. Sewaktu Hoseok menginjakkan kaki keluar dari mobil, ia disambut oleh hamparan sawah dan hijau perbukitan di seberang kampung. Beberapa delman terlihat berlalu-lalang membawa penumpang, meninggalkan kotoran kuda berwarna hijau di permukaan aspal. Udara di sini terasa segar, membuat Hoseok sejenak rindu pada kampung halamannya di Lebak, Banten.

Eleuh, si Ujang. Kamana wae tara katingali, Gi*?” Seorang lelaki paruh baya dengan kaos hitam lusuh dan celana sedikit kotor menepuk bahu Yoongi dari belakang. Iket hitam terpasang rapi di kepalanya. Senyum yang ia lempar untuk Yoongi tampak ramah dan kebapak-an.

(* Aduh, si Ujang. Kemana aja ga pernah keliatan, Gi?)

(** Ujang adalah panggilan yang biasa digunakan pada lelaki yang lebih muda)

(*** Iket adalah penutup kepala khas Sunda)

“Biasa, Mang. Mamang kumaha, damang*?”

(* Biasa, Mang. Mamang gimana, sehat?)

(** Mamang = Paman.)

Lelaki paruh baya yang Yoongi panggil ‘Mamang’ itu bicara sebentar soal kondisi kesehatannya, soal panen raya bulan April lalu yang menguras energinya, juga soal Jeongguk—adik Yoongi—yang membantunya memasarkan cabai besar lewat Instagram. Yoongi pamit sewaktu obrolan mereka habis dimakan waktu. Tangannya yang pucat dan kurus menarik Hoseok yang sejak tadi diam sambil tersenyum maklum, membawanya menyeberang jalan dan mulai memasuki gang yang sempit.

“Siapa itu, Yang?” Hoseok bertanya, membiarkan tangannya beristirahat dalam genggaman Yoongi.

“Tetanggaku. Temen sekolah Bunda dulu. Istrinya meninggal udah lama, dan anak-anaknya semua tinggal di kota. Jeongguk suka bantu-bantu di lahan punya dia kalau lagi musim panen.”

Hoseok menoleh lagi, memperhatikan sewaktu punggung lelaki paruh baya itu semakin mengecil seiring bertambahnya langkah yang ia ambil. Lelaki itu tidak datang ke prosesi pertunangan mereka tahun lalu, sebab wajahnya bukan tipe yang bisa begitu saja Hoseok lupakan setelah bertemu.

“Kamu beneran nggak ngabarin Bunda kalau pulang hari ini, Yoongs?” Hoseok bertanya sewaktu Yoongi memandunya berbelok di ujung jalan.

Bangunan-bangunan berdiri rapat, menyisakan hanya setengah meter jalan kecil untuk Hoseok dan Yoongi lalui. Rumah-rumah di tempat ini kebanyakan dibangun dengan model sederhana. Atapnya pendek, catnya didominasi warna palem-paleman dengan halaman depan yang luas. Ini adalah kali kedua Hoseok datang ke kampung kelahiran Yoongi, dan ia tidak pernah berhenti berpikir kalau hidup lama di lingkungan seperti ini nampaknya adalah pilihan yang sempurna.

“Nggak. Aku aneh aja bulan lalu Bunda kekeuh banget nyuruh pulang, tapi minggu lalu tiba-tiba telfon ke aku supaya nggak usah pulang,” Yoongi membalas. Suaranya terdengar resah, barangkali lantaran cemas. “Aku takut ada apa-apa sama Bunda. Nanya sama Jeongguk juga nggak guna, anak itu pasti disuruh Bunda buat diem aja.”

Hoseok tidak membalas. Yoongi yang berjalan di depannya adalah Yoongi yang baru Hoseok kenali. Yoongi yang mengalah pada rasa cemas dan menempuh ratusan kilometer untuk bertemu Bunda. Dua tahun berkencan dan satu tahun menyandang titel sebagai tunangan, Hoseok belum pernah melihat Yoongi kehilangan ketenangannya. Yoongi di depannya adalah pengecualian pertama. Barangkali ini adalah kali pertama semesta memberi Hoseok kesempatan untuk menggali Yoongi lebih dalam lagi. Mengintip sisi kekanakan yang ia timbun jauh di bawah persona dewasa yang kerap ia tunjukkan.

Rumah Yoongi adalah sebuah bangunan dengan cat coklat muda, dua ratus meter dari belokan tadi. Halaman depannya penuh oleh tanaman hias dalam pot, serumpun tanaman serai, beberapa pohon cabai rawit yang sudah berbuah, dengan jalan setapak ditutupi tanaman anggur hijau yang dibentuk mirip gazebo kecil. Seorang lelaki duduk di kursi depan rumah dengan hoodie hitam dan ponsel dalam genggaman. Rambutnya diikat ke belakang membentuk man bun kecil, dengan beberapa helai jatuh di sisi wajah. Hoseok mengenali lelaki itu sebagai Jeongguk, adik Yoongi.

Assalamualaikum,” Yoongi menyapa. Gerbang berdecit terbuka sewaktu lelaki itu membuka tuasnya. Hoseok mengekor di belakangnya. Tiap langkah yang Hoseok bawa memasuki halaman rumah Yoongi mengirim gelenyar magis dalam nadi-nadinya. Seperti pulang ke rumah. Sensasi yang aneh, mengingat ia dapatkan dari tempat yang jarang Hoseok kunjungi.

Jeongguk mengangkat wajah. Ada rambut-rambut halus di dagu dan bagian atas bibirnya. Indikasi bahwa lelaki itu belum bercukur selama beberapa hari. Matanya yang tidak pernah gagal mengingatkan Hoseok pada sepasang mata kelinci terlihat melebar.

“Anjing, A. Maneh balik?” Jeongguk memaki. “Naha teu mere nyaho heula, sih?!

(* Anjing, A. Lo pulang? Kenapa nggak ngasih tau dulu, sih?!)

Urang liat-liat, makin ke sini mulut maneh makin nggak tau tata krama ya, Gguk.” Suara bariton Yoongi terdengar menimpal. “Bantuin bawain koper ini, lah. Beurat.”

(* Urang adalah ‘saya’ atau ‘aku’ dalam bahasa sunda kasar. Tidak dianjurkan untuk dipakai pada orang tua. Bahasa Sunda yang lebih halus lagi adalah ‘abdi’)

(** Maneh adalah ‘kamu’ dalam Bahasa Sunda kasar. Tidak dianjurkan untuk dipakai pada orang tua. Bahasa Sunda yang lebih halus lagi adalah ‘anjeun’)

Jeongguk mencebik, tapi tetap menurut. Diambilnya koper yang sejak tadi diseret Hoseok masuk ke dalam rumah sambil berteriak, “Bunda, ini A Yoongi pulang sama A Hose!”

Ada bau tembakau yang kental di udara sewaktu Hoseok melangkah melewati pintu. Bau yang tinggal pada fabrik pakaian Yoongi. Bau dari rokok kretek yang biasa dihisap Bunda. Bunda senang menambahkan cengkeh ke dalam lintingan rokoknya, memberi aroma yang kuat yang tinggal lama di udara. Hoseok mendengar itu dari Yoongi. Ia belum pernah menyaksikan Bunda melinting rokok dengan mata kepalanya sendiri.

“Bunda dimana, Dek?” Yoongi bertanya. Ia letakkan tas ranselnya di atas sofa merah di ruang tengah. Jeongguk mengedikkan dagu, menunjuk pada pintu kamar Bunda yang tertutup rapat.

“Hos, itu tas ransel kasih ke si Jeongguk aja. Biar ada guna dia,” Yoongi berujar lagi, memicu decakan sebal dari bibir adik semata wayangnya. “Kamu sama aku ke Bunda dulu.”

Dengan wajah yang nampak jelas tak terima, Jeongguk mengambil ransel dari tangan Hoseok, lantas menyimpannya di kamar tamu. Hoseok terkekeh, memilih untuk tidak memosisikan diri di tengah perdebatan kedua kakak beradik yang kerap tidak akur itu. Yoongi menariknya mendekat ke arah pintu coklat tua dengan tirai tipis di bagian depannya. Jemari Yoongi memberi ketukan pada daun pintu, diikuti salam dengan suara rendah. “Assalamu’alaikum, Bunda.”

Aa?” suara halus Bunda terdengar menyahut dari dalam kamar, diikuti langkah terburu wanita paruh baya itu meraih pintu.

Yoongi menarik kedua sudut bibirnya naik sewaktu pintu mengayun terbuka, memperlihatkan Bunda dalam setelan daster berwarna dasar coklat. Rambutnya yang panjang dan bergelombang diikat kuda, memutih di bagian depan. Kerut-kerut halus di wajahnya sudah sedikit bertambah sejak terakhir kali Hoseok bertemu. Wanita itu tampak segar dan bahagia.

Aa pulang, Bun,” tukas Yoongi, sebelum memberi Bunda sebuah pelukan panjang yang hangat. “Bunda kumaha, damang?”

Alhamdulillah damang, A,” Bunda menjawab, mengusap punggung anak sulungnya sambil tersenyum. “Hose gimana kabarnya, Sayang? Sehat?”

Hoseok menyalami Bunda, mencium punggung tangannya dengan hormat. “Hose sehat, Bun. Paling sempet flu-flu aja pas pancaroba.”

“Aduh, kasian anak ganteng Bunda. Istirahat dulu ya, Nak? Bunda buatin teh manis hangat dulu. Kamu pasti capek udah nyetir dari Karawang.”

Hoseok hendak mencegah, tapi langkah Bunda lebih gesit dari gerak lidahnya. Kalimat penolakan itu menggantung di udara, memaksa Hoseok telan lagi dengan rasa tak enak hati. Yoongi terkekeh, berbisik padanya ‘tidak apa-apa’ sembari menuntun Hoseok duduk pada sofa di ruang tengah.

 

 


 

 

Sejak kepergian Ayah, Bunda adalah orang yang paling Yoongi hormati di dunia ini. Begitu kira-kira kata Yoongi sewaktu Hoseok dengarkan ceritanya. Yoongi masih delapan belas tahun sewaktu Ayah menghembuskan napas terakhirnya jauh dari rumah, di sebuah masjid di Cicalengka. Bunda menunggu sampai Yoongi pulang dari sekolah untuk mengabari. Barangkali tidak mau anaknya itu dimakan duka sepanjang jalan sebab terlalu berisiko, katanya. Ambulans tiba di rumah bersama wajah Bunda yang sembab dan jenazah Ayah yang sudah membujur kaku.

Yoongi tidak betul-betul ingat bagaimana ia berhasil melewati satu minggu pertama tanpa Ayah di sisi mereka. Bagaimana Bunda mengurus pengajian Ayah selama tujuh malam penuh, atau bagaimana Jeongguk tidak pernah absen berangkat ke makam Ayah untuk mengaji sambil berurai air mata. Yang Yoongi sadari adalah Ayah tidak lagi duduk di meja makan berteman kopi dan koran. Ayah tidak lagi menyelipkan uang jajan tambahan di tas Yoongi diam-diam di belakang Bunda. Ayah tidak ada sewaktu Yoongi mengurusi berkas-berkas kuliah sendirian ke Jatinangor. Lalu tanpa terasa, tahun demi tahun berlalu tanpa keberadaan Ayah di sisi mereka.

“Bunda.” Pagi pecah oleh suara merajuk Yoongi sewaktu ia membuka pintu kamar. Pukul delapan pagi sewaktu Hoseok melirik pada jam di dinding. Jeongguk duduk bersila di depan TV menonton siaran entah apa yang tidak begitu ia perhatikan. “Bundaaaaa,” Yoongi memanggil lagi.

Gandeng pisan ih, A*. Bunda lagi di dapur. Sono samperin aja,” Jeongguk protes, melirik galak ke arah kakaknya yang membalas tak kalah sengit.

(* Berisik banget ih, Kak.)

Hoseok terkekeh. “Sayang, sini dulu,” panggilnya, memberi isyarat agar Yoongi mendekat.

Yang dipanggil melangkah malas memangkas jarak. Masih ada kotoran di sekitar matanya yang sayu, yang dibersihkan Hoseok dengan telaten. Ia sisir pelan rambut Yoongi yang masih berantakan, lantas mengusap bekas liur kering di sudut bibir tunangannya dengan sabar. “Nah, udah. Cuci muka dulu nanti baru samperin Bunda, ya?”

Yoongi mengangguk, lalu berjalan cepat ke arah kamar mandi untuk membasuh wajah. Jeongguk menoleh ke arah Hoseok, memasang tampang jijik di wajahnya yang masih sedikit sembab lepas menghabiskan dua bungkus mi tengah malam tadi.

“Mau-mauan aja lo bersihin mukanya A Yoongi, A.”

Hoseok terkekeh. “Biar Aa lo itu ada yang manjain, niatnya.”

Jeongguk mendengus. “Lo gak usah manjain dia juga, anaknya udah dimanja Bunda.”

“Makanya gue kaget pas pertama kali liat Yoongi gimana ke Bunda,” Hoseok berucap jujur. “Gue pikir, karena dia anak sulung dan tulang punggung keluarga, dia bakal lebih strict. Like how he used to be at work. Gue pikir lo bakal jadi anak yang dimanja Bunda, malah. Ternyata malah kebalik. Manja banget anaknya kalau di rumah.”

Jeongguk beranjak bangun. “A Yoongi sebenernya strict juga kok, A Hos. Kalau manja-manjaan sama Bunda, tandanya dia kangen banget, itu teh.”

Hoseok mengangguk mengamini. Belum sempat ia menimpal, suara Yoongi terdengar merajuk dari arah dapur. “Bundaaa, bikinin tumis kangkung pakai terasi, atuh, buat buka puasa. Aa pengen makan tumis kangkung buatan Bunda.”

“Malu atuh, Aa, sama Hose. Manja banget gini anaknya Bunda.”

Hoseok terkekeh gemas.

“Biarin aja, atuh. Hose juga suka manjain Aa, kok.”

Too much information, A!” Jeongguk membalas sedikit kesal. “Kasihanin adiknya yang masih jomblo ini, atuh!”

Bongan saha* dijodohin sama temen urang malah nggak mau.”

(* Salah siapa)

“Males, ah. Temen Aa tua-tua semua.”

“Sembarangan ya, bocah. Secara nggak langsung maneh ngatain urang tua juga, tau!”

 

 


 

 

Assalamualaikum warahmatullah.” Salam menutup shalat berjamaah Hoseok bersama keluarga Yoongi sore itu. Jantung Hoseok masih berdebar bertalu-talu. Memimpin shalat di keluarga Yoongi tidak pernah terasa tidak istimewa. Terkadang Yoongi akan memimpin shalat, atau Jeongguk. Tapi Hoseok selalu menyukai sensasi yang ia dapat setelah selesai mengucap salam. Juga sewaktu Yoongi dan Jeongguk menyalaminya selepas berdoa. Hoseok merasa ia betul-betul sudah jadi bagian dari keluarga kecil lelaki yang ia cintai, dan itu membuatnya bahagia.

Aa jangan makan sambil tiduran gitu, atuh,” Bunda mengeluh, menepuk halus lengan Yoongi sewaktu lelaki itu merebahkan kepalanya di pangkuan sang Ibu. “Duduk, geura. Nggak boleh sambil tiduran, ah.”

Yoongi mengerucutkan bibir. Ekspresi lucu yang kerap Hoseok dapat kalau ia menolak membelikan Yoongi kopi (sebab kebiasaan ngopi Yoongi benar-benar mengkhawatirkan) atau membuatkannya bubur ayam. “Pengen tiduran di pangku Bunda,” kata Yoongi setengah merajuk.

“Malu anjir, A, sama umur. Eta tunangan maneh ningalikeun, cik atuh boga kaera.*”

(* Itu tunangan lo ngeliatin, punya malu dong.)

“Biarin aja, sih,” Yoongi membalas sewot. “Ngiri mah, bilang aja.”

Jeongguk mencibir, tidak memperpanjang perdebatan sebab ia sudah berlari ke arah kamar. Yoongi mengangkat kepalanya dengan wajah tidak rela, memancing kekehan pelan dari Bunda. Hoseok memilih untuk menyibukkan diri dengan makan malam yang Bunda siapkan. Tumis kangkung terasi yang Bunda buat selalu jadi favorit Yoongi. Hoseok ingat betul betapa kesal kekasihnya itu sewaktu gagal membuat masakan serupa. Beda dengan buatan Bunda, katanya.

“Ini tumis kangkung buatan Bunda dimakan dulu, Sayang,” Hoseok berujar, menyodorkan satu piring kosong ke depan Yoongi. “Request kamu, jadi harus diabisin.”

Bunda melirik ke arah Hoseok. Tatapannya teduh dan menenangkan, seperti seorang Ibu. Tanpa bisa dikontrol, Hoseok mendadak merasa rindu pada rumah. Pada Mama dan Papa, pada Jiwoo, bahkan pada kakak iparnya Seokjin yang juga merangkap sebagai sahabat sejak kecilnya.

“Maaf ya, Hose. Anak Bunda seringnya manja begini,” kata Bunda, kembali menatap pada Yoongi yang kini sudah menyerahkan kembali piringnya ke arah Hoseok—minta diambilkan nasi.

Hoseok terkekeh, menerima piring kosong dari Yoongi dan mengambilkan sesendok nasi tanpa protes. “Nggak apa-apa, Bun. Hose udah terlatih, kok,” tukasnya ringan.

“Hoseok juga suka manja tau, Bunda,” Yoongi membalas tak terima. “Simbiosis mutualisme kita tuh, jadinya.”

Hoseok tergelak mendengar penuturan itu. Simbiosis mutualisme, ulangnya dalam kepala.

Aa ngomongnya, ih,” Bunda berdecak pelan.

“Yoongi bener kok, Bun. Hose juga kadang manja sama Yoongi. Alhamdulillah Yoonginya juga ngerti, kok. Hose juga nggak keberatan manjain Yoongi kalau Yoonginya lagi jauh dari Bunda.”

“Makasih ya, Hose,” Bunda berujar tiba-tiba. “Karena udah jadi sosok yang bisa jagain Yoongi. Nanti kalau Bunda udah nggak ada, jadinya Yoongi nggak apa-apa selalu sendiri. Ada Hose yang temenin ya, nanti?”

“Bunda ngomongnya jangan sedih gitu,” Yoongi protes lagi. Rautnya tampak sedih.

Hoseok terkekeh, mengerti dari mana datangnya rasa terima kasih yang Bunda tuturkan. Diambilnya tumis kangkung terasi yang sudah diminta Yoongi sejak pagi, diletakkannya dekat dengan nasi. “Udah, udah. Kamu mending makan dulu, ini. Nanti kita ke masjid bareng sama Jeongguk sama Bunda juga.”

 

 


 

 

Hoseok sedang melipat sajadah pukul lima kurang sepuluh menit dini hari sewaktu Bunda duduk di sisinya, masih dalam balutan mukena putih gading miliknya. Yoongi sudah pamit untuk kembali tidur, disusul Jeongguk yang masih tampak belum sepenuhnya sadar sejak sahur dimulai. Suhu dini hari di Leles, Garut memang tidak pernah terasa bersahabat, tapi pagi itu tatap hangat Bunda membuat rasa beku di permukaan kulit Hoseok terasa melumer perlahan-lahan.

“Maaf ya, Hose, Bunda cuma bisa jamu segini aja,” Bunda memulai. Mata coklat hangatnya menangkap iris abu-abu milik Hoseok di bawah temaram lampu. “Makasih banget udah mau jagain anak Bunda.”

“Bunda jangan ngomong gitu,” Hoseok menyela. Tangannya menggapai jemari kurus Bunda, membawanya dalam genggaman. “Hose justru seneng karena Bunda percayain Yoongi ke Hose.”

Bunda balas menggenggam tangan Hoseok. Senyum tipis terbit di wajahnya yang penuh oleh gurat-gurat lelah. “Dari sejak Ayahnya meninggal, Bunda liat Aa selalu keras sama dirinya sendiri. Mungkin karena Ayah pulang tiba-tiba, dan kita semua nggak ada yang siap buat ditinggal. Apalagi Jeongguk waktu itu masih remaja. Bunda sedih banget waktu Aa bilang siap buat lepasin kuliahnya, biar uangnya untuk sekolah Jeongguk aja.”

Hoseok tidak menyela. Ia biarkan Bunda menghela napas berat sewaktu ceritanya terjeda.

“Bunda bilang, Bunda masih bisa biayain Jeongguk. Uang untuk kuliah Aa udah disiapkan Ayah, meski nggak banyak. Bunda inget banget, Aa harus sampingan jadi Tutor dan mati-matian nyari beasiswa supaya nggak putus kuliah,” Bunda tersenyum pilu, lantas kembali memandang pada Hoseok. “Bunda seneng sekali sewaktu Aa bawa Hose ke rumah. Bunda ngerasa akhirnya Aa punya tempat bersandar, peran yang nggak bisa Bunda lakoni dengan baik selama ini.”

“Bunda,” Hoseok memotong. “Bunda itu motivasi Yoongi. Bukannya Yoongi nggak mau bersandar sama Bunda, tapi Yoongi mau jadi tempat bersandar buat Bunda. Ada sisi-sisi Yoongi yang cuma bisa Yoongi tunjukin di depan Bunda, dan Hose nggak bisa gantiin itu.”

Mata coklat Bunda yang hangat sedikit berkilau diselimuti air mata. “Bunda lega banget, karena Aa ketemu Hose.”

“Justru Hose yang makasih, karena Yoongi jadi kayak sekarang itu semua berkat Bunda,” Hoseok menimpal. “Bunda, Hose mau minta izin Bunda...”

 

 


 

 

Para tetangga datang silih berganti sejak shalat selesai di hari raya. Yoongi bertemu teman-temannya semasa sekolah, bibi-bibi baik hati yang kerap memberinya uang jajan, atau para lansia yang masih cukup segar untuk berkeliling ke rumah-rumah. Bunda meletakkan banyak toples kue kering di atas meja, disusul permen-permen, coklat dan air mineral dalam gelas yang tertata rapi. Jeongguk selalu jadi petugas kebersihan di hari raya, dan Yoongi serta Hoseok bertugas sebagai penerima tamu.

Ya Allah Yoongi. Asa tos lami tara ningali. Sehat, bageur?*

(* Perasaan udah lama nggak ngeliat. Sehat, Nak?)

(** Bageur dalam bahasa Sunda diartikan ‘baik’. Tapi di sini digunakan sebagai pengganti ‘Nak’)

Alhamdulillah sehat, Uwa*. Kenalin, ini Hoseok.”

(* Uwa = Paman yang lebih tua dari orang tua)

Pinter milarian calonna, geuning*? Jadi kapan ini teh mau nyusul Jieun?”

(* Pinter nyari calonnya, ternyata?)

“Doain aja secepatnya, Wa.”

Pertanyaan itu datang terus-menerus, dan Hoseok bisa melihat raut jenuh di wajah Yoongi sewaktu ia mengeja jawaban yang sama. Jemari Hoseok mengusap punggung Yoongi dengan sabar, sesekali memberinya senyuman tipis sebagai bentuk dukungan moral. Jeongguk menyelamatkan kakaknya sewaktu Yoongi hendak menjawab pertanyaan yang sama untuk ketujuh kalinya.

“Palingan bentar lagi, Wa,” anak lelaki itu menyahut dengan nada tengilnya yang biasa. “Itu udah ada cincin di jari manis juga masih aja pada nanyain wae.”

Bunda memelototi anak bungsunya itu sewaktu raut wajah pria paruh baya yang Jeongguk timpali tampak mengeruh, tapi Yoongi membalas budi dengan meminta adiknya mengambil sepiring ketupat dari dapur; yang diikuti Jeongguk dengan senang hati. Tamu-tamu berhenti datang pada pukul sepuluh, dan Bunda langsung menyeret mereka semua untuk berangkat ke makam Ayah. Buru-buru Bunda mengunci pintu rumah, barangkali takut didatangi tamu lagi. ‘Keburu panas,’ kata Bunda sewaktu Jeongguk protes.

“Nanti pas ziarah, Aa yang pimpin doa ya?” Yoongi berujar. Tangannya mengalung di lengan Bunda, bergelayut manja di sana. Hoseok berjalan bersisian dengan Jeongguk yang asyik menyapa para tetangga.

“Boleh,” Bunda membalas, tersenyum sembari mengelus tangan Yoongi. “Oh iya, Adek. Kemarin Bibi Song nanyain Adek, lho.”

“Bunda kapan ketemu Bibi Song?” Jeongguk mengangkat alis.

“Waktu reunian temen-temen SMP, lho, Dek. Pas Adek anter Bunda ke kota. Inget gak?”

Jeongguk hanya mengangguk-anggukan kepala, sekalipun Hoseok berani bertaruh anak lelaki itu tak sungguhan mengingat.

“Kata Bibi Song, anaknya ada yang baru lulus Kebidanan. Kamu mau nggak, ketemu dulu sama anaknya Bibi Song?”

Jeongguk mengerang pendek. “Bundaaa. Adek masih muda, lho. Baru juga dua puluh tiga. Masa iya Bunda udah mau jodohin Adek segala?”

“Bunda ‘kan maksudnya baik, Dek. Kasian liat Adek kalau pusing sendirian terus. Cerita juga paling sama Yugyeom, Eunwoo, atau sama Mingyu. Mereka juga ‘kan punya urusan sendiri. Maunya Bunda tuh, Adek punya temen berbagi.”

“Adek nggak apa-apa kok, berbagi sama Bunda,” Jeongguk mengelak. “Nggak harus sama pacar, ‘kan?”

“Nggak mau, ah. Masalah Adek mah pusing, Bunda nggak mau dengerin.”

Jeongguk mengerang lagi. “Bundaaaa!”

Urang bilang juga, urang comblangin sini sama Taehyung,” Yoongi menyela. “Dia tuh udah gak keitung berapa kali nanyain maneh kalau muka maneh nongol di story urang.”

“Males, ah. Udah tua.” Nada suara Jeongguk terdengar malas.

Hoseok terkekeh. “Beda sama gue juga cuma setahun, Gguk. Cobain aja dulu? Anaknya asik, kok. Cocok kayaknya sama lo.”

Jeongguk tidak membalas, sibuk mendaki satu demi satu anak tangga sembari menawari Bunda bantuan lewat uluran tangannya. Hoseok dan Yoongi bertukar pandang, melempar senyuman usil pada satu sama lain sebagai bentuk ejekan bagi penolakan yang Jeongguk berikan. Komplek astana sedikit ramai sewaktu mereka mencapai puncak. Beberapa keluarga duduk di depan pusara kerabatnya, khusuk merapal doa. Pusara Ayah adalah sebuah makam dengan keramik hijau lumut yang tampak bersih dari rumput liar, pertanda bahwa makam itu dirawat secara teratur.

Assalamu’alaikum, Ayah,” Bunda menyapa, duduk pada hamparan tikar yang Jeongguk buka di sisi makam ayahnya.

Yoongi dan Jeongguk mengikuti. Raut jenaka yang semula bersarang di wajah mereka terhapus oleh rindu dan duka yang jadi satu. Barangkali dalam hati, kedua kakak beradik itu tak pernah berhenti menghitung berapa banyak hari raya yang tak lagi dihadiri ayah mereka. Hoseok memilih untuk ikut membisu, menghormati kesedihan yang Bunda serta kedua anaknya bagi hanya di antara mereka. Ia tidak pernah mengenal Ayah, tidak pernah mendengar suaranya, tidak pernah bicara bersamanya dengan secangkir teh dan obrolan sore. Tapi Hoseok tahu bahwa lelaki yang membesarkan Yoongi adalah lelaki hebat, dan ia tak boleh mengecewakan lelaki itu sekalipun Ayah tak lagi ada di sini untuk mengawasinya.

Yoongi mulai merapal doa, diikuti Bunda dan Jeongguk yang tertunduk khusuk. Hoseok ikut menyapa Ayah dalam hatinya. Sepenuh hati ini sampaikan rasa terima kasih, sebab tanpa Ayah, lelaki yang dicintainya tak mungkin ada di sini.

Ayah, saya mau minta izin untuk ngebawa Yoongi dan ngebangun keluarga berdua. Saya nggak bisa janji untuk selalu sama, tapi saya bisa janji kalau saya akan terus berusaha. Biar mulai saat ini, saya bantu Yoongi untuk nyangga Jeongguk dan Bunda. Saya minta izin Ayah, insya Allah keluarga kecil Ayah akan saya jaga sepenuh hati saya.

 

 


 

 

Empat puluh kilometer sudah mereka tempuh tapi tangis Yoongi masih belum mereda. Jemari Hoseok dengan setia mengirim dukungan pada jari-jari Yoongi yang tidak henti bergetar. Barangkali bayang-bayang Bunda masih mengiringi putaran roda mobil yang mereka kendarai sejak tadi. Siang hampir usai sewaktu mereka sampai di ujung Nagreg, bersama isakan kecil Yoongi yang masih samar terdengar.

“Udah dong, Sayang,” Hoseok berusaha menghibur, meski matanya tidak jua meninggalkan adimarga.

“Sedih...” Yoongi merajuk. “Masih mau lama-lama sama Bunda.”

“Gantian, dong. Ketemu Bapak sama Ibu dulu, ya? Nanti dua minggu lagi, kita pulang ke Garut lagi. Aku temenin.”

Yoongi mengangguk lucu, membiarkan Hoseok mengeratkan genggamannya. “Makasih ya, Hoseok. Karena udah mau pulang sama aku.”

Hoseok terkekeh. “Sama-sama, Sayang. Rumah kamu ‘kan rumah aku juga. Bunda kamu, ya Bunda aku juga.”

 


pagi itu, sewaktu Bunda dan Hoseok bicara...

“Hose mau minta izin Bunda...” Hoseok menelan ludah, berusaha memilih kata yang tepat untuk mewakili niatnya. “Hoseok mau ngajak Yoongi nikah, Bun.”

Ada hening menggantung di udara. Hening yang diisi oleh suara shalawat dari masjid dekat rumah. Hening yang tidak mampu menelan debar jantung Hoseok yang kian berpacu kencang. “Hose udah matang, mau menikah sama anak Bunda?”

Anggukan pasti Hoseok berikan sebagai jawaban. “Udah matang, Bunda.”

“Kalau Hose memang berniat baik sama Aa, Bunda insya Allah ngasih restu. Tapi jawaban dari lamaran Hose tetep harus datang dari Aa sendiri.”

Hoseok menarik tangan Bunda, mencium punggung tangan wanita itu penuh haru. Sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata Bunda sewaktu punggung tangannya basah oleh isakan pelan Hoseok di pagi hari yang dingin dan sepi.

“Bunda nggak bisa ngomong apapun selain titip Yoongi, ya, Hose?”

Hoseok menjawab dengan suara bergetar, “Pasti, Bunda. Hose pasti jagain Yoongi.”


 

“Yoongs?” Hoseok memanggil. Mobilnya sampai pada jalanan ramai Rancaekek sewaktu senja pamit dari langit. “Nikah, yuk?”

 

 

 

 


fin.