Work Text:
Wednesday, 13 April 2020 10.47 PM
♪ Way Back Into Love by Hugh G & Haley Bennett
“Apa kalian masih ingat kutipan terkenal dari film 'Star Wars'?”
”'Fear is the path to the dark side. Fear leads to anger. Anger leads to hate. Hate leads to suffering'. Lo, gue, semuanya pasti pernah ngerasain ketakutan. Terutama ketakutan dalam ngejalanin kehidupan setiap harinya. Takut salah dalam mengambil keputusan, takut gak memenuhi ekspektasi orang ke kalian, takut mengalami kegagalan.. Lalu berujung menyalahkan keadaan dan yang lebih buruk lagi menyalahkan diri sendiri sampai akhirnya memutuskan untuk menyerah.”
“Berfikiran seperti itu hal yang wajar banget, kok. Pasti akan datang saatnya di mana lo mulai ngerasa capek ketika perasaan takut itu makin nyelimutin pikiran lo sendiri.”
“Buat lo yang masih bangun sambil dengerin Late Night Show di Framerock Radio 99.21 FM malam ini.. Gue, Dj Masa, mau rekomendasiin satu lagu biar lo yakin bahwa suatu saat nanti lo pasti bisa nemuin sumber kekuatan untuk ngebuang ketakutan yang ada dan bangkit dari rasa keputusasaan di hidup lo. It's okay if you failed, it's okay if you didn't reach their expectation. Life is about moving on, accepting what has already occured and looking forward to what makes you stronger and complete'.”
“So here we go, 'Way Back Into Love' by Hugh Grant & Halley Bennett. Let's check out the song and cheer up, Groovers!”
one year later
Friday, 9 Februari 2021 05.39 PM
Berulang kali Masaya membenarkan letak tali tas yang melorot sembari menunggu lift tiba di lantai dasar sebuah gedung stasiun televisi swasta. Lelaki berkaus jingga tersebut berdecak kesal, merutuki kecerobohannya sendiri karena telah meninggalkan pouch berisikan softlens miliknya di lokasi pemotretan majalah hari ini.
“Shoya, sorry gue nyuruh lo balik lagi ke lokasi,” sesal Masaya saat sambungan telepon tersambung dengan ponsel manajer, “pouchnya ada di atas meja rias kalau gak salah, yang kulit warna item. Thanks banget ya, Ya.”
“Iya, gue tau. Btw, Kak Rino tadi hubungin gue katanya udah nunggu di ruang siaran.”
“Tumben ibu produser udah siap-siap. Biasanya selow.”
“Panik dia, kan guest star hari ini spesyel pakai y. Jadi mau briefing lo dulu sebelum airing.”
“Oh..” terdengar dentingan pintu lift yang terbuka, lantas Masaya pun bergegas masuk lalu menekan angka 10, “bahas Clocks.”
“Tanggapannya gitu amat, susah loh dapetin jadwal kosong mereka abis hiatus lama,” ujar Shoya tertawa dari seberang, “Excited dikit lah.”
“Iyaaa bawel,” dengus Masaya berpura-pura jengah, “Eh, gue matiin dulu teleponnya. Lo juga cepetan balik deh, butuh softlens banget sama orang buat dibabuin.”
“Sialan,” gelak tawa Shoya kembali terdengar bersama dengan sebuah umpatan, “Gue sepupu ngerangkap manajer lo ya, bukan pembantu rumah tangga!”
“Sama aja... Udah, ah. See you!” dan sambungan pun akhirnya terputus, bertepatan dengan berhentinya lift di lantai yang Masaya tuju.
Satu tarikan nafas panjang dihembuskan perlahan oleh Masaya ketika berjalan menuju pintu kantor divisi radio. Tidak bisa dipungkiri, jantungnya kini berdegup sangat cepat. Sebentar lagi, ia akan berada dalam satu ruangan bersama band papan atas beraliran pop-rock yang dilabeli nama Clocks. Diam-diam Masaya memiliki kesan tersendiri terhadap mereka beberapa waktu silam, selain tentang popularitas skala besar serta prestasi gemilang di bidang musik yang telah Clocks kantongi selama hampir sewindu terakhir.
Seketika pikirannya melayang pada ingatan di bulan Oktober. Kurang lebih 3 tahun yang lalu, hari di mana mimpi Masaya terwujud menjadi salah satu freelance model yang paling disorot pada sebuah acara bergengsi yaitu Tokyo Fashion Week 2018, setelah sebelumnya ia berulang kali gugur dalam seleksi untuk sekedar dapat berdiri di sana.
Modeling adalah mimpi lain Masaya selain menjadi seorang penyiar radio. Dua hal yang jauh berbeda namun sangat berarti bagi pemuda tampan bertubuh tegap tersebut. Sebagaimana Masaya mencintai segala hal yang berhubungan tentang dunia penyiaran, Masaya pun menyukai sisi lain dirinya di dunia modeling. Masaya menyukai bagaimana busana indah karya para desainer ternama melekat di tubuhnya, bagaimana ia berjalan penuh percaya diri di atas catwalk, serta bagaimana ia mencuri atensi dari banyak pasang mata yang tengah duduk memperhatikan setiap detail peraga busana yang berlalu lalang.
22 Oktober 2018, Masaya sangat ingat betul hari di mana dirinya yang tengah merasakan gugup luar biasa bertemu Clocks untuk pertama kalinya. Kala itu, lelaki berkulit bersih tersebut mendadak terserang demam panggung yang tidak bisa lagi disembunyikan. Sepasang tangan tremor tak henti-hentinya bergetar sementara kedua tungkai jenjangnya terasa seperti agar-agar. Ia membutuhkan distraksi, pikir Masaya dalam hati mencoba meredakan kegugupan di dalam dirinya.
Tepat pada saat Masaya memfokuskan titik ke busana yang tengah dibenahi oleh seorang asisten desainer di tubuhnya, lantunan suara itu, tiba-tiba terdengar begitu jelas dari sebuah TV flat besar yang menarik perhatian Masaya beserta seisi ruangan backstage. Acara megah yang diselenggarakan setiap satu tahun sekali tersebut resmi dibuka oleh sebuah penampilan menakjubkan dari permainan alat musik Clocks.
Tak lepas dari ritme drum setelah lagu dimulai dengan intro permainan gitar dan bass, terdengar suara sang vokalis menghayati lirik demi lirik yang ia lantunkan. Presensi kuat memenuhi ruang di sekitarnya, sangat mempesona seperti nyala api dan salju yang turun. Kerutan samar di kedua sudut mata ketika ia tersenyum sengaja disorot kameramen dari jarak dekat sehingga wajah tampan nan sempurnanya muncul memenuhi layar TV tersebut. Seolah tersihir, seketika Masaya melupakan semua kegugupannya. Namun sebagai gantinya, Masaya harus siap merelakan hati yang tercuri.
Percaya atau tidak, bahwa cinta pada pandangan pertama itu bisa benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Faktanya, Masaya sedang mengalaminya sendiri sampai detik ini. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan benar-benar terjatuh pada pria bersuara berar yang khas ketika bernyanyi tersebut. Masaya tidak menyangka dengan mudahnya ia bisa menyukai seseorang hanya karena tak sengaja menangkap figur Shogo, vokalis band Clocks, pada sebuah TV flat besar 3 tahun yang lalu.
It feels like listening to unknown song then strangely becoming your favorite.
“Kak Masa!” seorang perempuan berperawakan mungil menghampirinya dengan teriakan tertahan, membuyarkan lamunan Masaya yang berdiri di depan pintu masuk kantor divisi radio.
“Apa? Kenapa?” tanya Masaya penasaran melihat tingkah Nako, si penulis naskah, berjalan penuh hati-hati seolah satu pijakan kaki saja dapat mengganggu seluruh penghuni lantai 10 tersebut.
“Sssst! Jangan kenceng-kenceng ngomongnya..”
“Kenapa emang?”
“Di dalam ada Clocks!”
“Loh, mereka udah sampai?” Oke, sekarang Masaya mulai terpancing.
“Manajernya aja hehe”
Dengusan sebal terlontar dari bibir Masaya sembari menyentil pelan kening Nako yang tertawa puas karena telah berhasil mengerjai penyiar radio kesayangannya. “Ngagetin aja.”
“Cieee udah gak sabar ya?”
“Yee, gue mah santai. Anak kecil jangan sok tau, deh.”
“Enak aja, umur 23 tahun bukan anak kecil lagi tau,” sergah Nako tidak terima, “Lagian emang bener kan kak Masa udah gak sabar mau ketemu mereka?”
“Kesimpulan dari mana itu?”
“Ngelak mulu, ih” Nako menunjuk ponsel Masaya di genggamannya dengan semangat, “Kak Masa sering kepoin berita sama IG kak Shogo, kan? Gak sengaja keliatan beberapa kali pas gue jalan di belakang lo hehe”
Masaya menepuk kening dengan pelan menyadari ia telah kecolongan. Habis sudah citra pria yang bulan ini menginjak usia kepala tiga tersebut ketika salah satu workmate sekaligus si bungsu divisi radio memergoki kegiatannya di sela-sela waktu istirahat.
Sebenarnya, bukan maksud Masaya mencoba mencari tahu tentang segala hal yang dilakukan oleh vokalis band terkenal tersebut. Terkadang saat ia merasa lelah, otaknya secara tak sadar selalu memerintah jemari Masaya untuk berselancar mencari video penampilan Shogo ketika bernyanyi. Because he can hear the smile in Shogo's voice, always mesmerizing him and washing away his tiredness. Shogo's voice is his remedy. Oleh sebab itu, Masaya sangat bersyukur ketika band favoritnya telah mengakhiri masa hiatus selama satu setengah tahun di bulan September lalu. Lelaki tampan tersebut sempat berfikir ia takkan bisa mendengar suara Shogo kembali.
“Emang harus dikasih pelajaran,” satu gerakan memiting diberikan oleh Masaya dari arah belakang leher Nako sementara yang lebih muda meronta memohon ampun, “buat anak kecil kayak lo yang suka sembarangan ngintip-ngintip.”
“Ampun kak, ampun,” ucap Nako dengan melas namun tak kuasa untuk tidak terbahak keras, “kan gak sengajaaa. Lagian kalau ngefans ya ngefans aja sih. Emang dosa banget apa kalau ketauan?”
“Ngga gitu juga sih tp nanti gue bisa abis diledekin kak Ken tau. Ntar pasti dikatain 'dih, kayak ABG aja lo demen sama idol-idol'. Awas kalo ember!”
“Iyaaa, aman kok aman,” cengiran tanpa dosa melekat di wajah Nako setelah lengan tangan Masaya terlepas dari lehernya, “btw masuk yuk, kak. Udah ditunggu kak Rino, jadi lupa kan.”
Nako menarik pelan lengan Masaya menuju ruang siaran di mana produser acara dan manajer Clocks telah menunggu. Alih-alih disambut oleh sapaan dari dua orang di dalam ruang tersebut, harum pewangi ruangan lebih dulu tercium oleh indranya membuat Masaya sedikit mual ketika pintu terbuka. Damn, stell-a jeruk, rutuk Masaya dalam hati. Tolong ingatkan dia untuk menyuruh OB mengganti aroma memuakkan ini paling tidak dengan lavender atau kayu cendana secepatnya.
“Don't say anything, gue tau lo mau ngomel apa,” derai tawa dari Rino, sang produser acara, terdengar nyaring mengingat salah satu penyiar program radionya tidak menyukai pewangi ruangan yang baru diganti pagi ini, “tapi simpen dulu komplain lo, sini gue kenalin sama manajer Clocks.”
Mengetahui Masaya telah datang, sang Manajer bergegas bangkit dari kursinya untuk mengulurkan tangan di hadapan lelaki tinggi tersebut, “Hello!”
“Hello Miss,” Masaya tersenyum menatap perempuan yang dikatakan sebagai manajer dari band favoritnya, “saya Masaya, penyiar di acara Friday Fun Radio bareng Clocks nanti. Nice to meet you.”
“Nice to meet you too! Gue Thelma,” dengan ramah Thelma menjabat tangan Masaya penuh antusias, “Ga usah formal banget sama gue, santai aja.”
Lantas, sang penyiar menyambut hangat keramahan yang diberikan oleh Thelma. Diam-diam Masaya menghembuskan nafas pelan, ia menyadari bahwa sebesit kegugupan melandanya tadi. Tidak biasanya Masaya seperti ini ketika menghadapi bintang tamu acara radio Sabtu malamnya. Masata gusar, baru bertemu manajernya saja ia sudah begini apalagi ia bertatapan langsung dengan vokalis Clocks?
Tidak ingin berfikir jauh, lelaki berparas indah tersebut memutuskan untuk fokus pada kertas script yang diberikan Nako kepadanya meski harus mengernyit pada teks karena tidak memakai kontak lens. Ia dan ketiga orang di ruangan tersebut mulai memeriksa isi konten hari ini dan mempertimbangkan pendapat Thelma tentang bagian mana yang harusnya boleh dan tidak boleh ditanyakan kepada Clocks.
Untungnya, Nako sangat memahami bidang yang ia geluti meski ia terhitung masih baru di dunia siaran radio ini sehingga tidak banyak yang perlu Thelma keluhkan. Bahkan Thelma malah menyukai script yang diberikan. Masaya turut tersenyum senang mengetahui wajah juniornya terlihat bahagia setiap kali ia dipuji oleh orang lain.
“Kayaknya udah cukup briefing naskahnya, ya? Thelma, oke?”
Suara ketukan setumpuk kertas yang dirapihkan terdengar dari jemari tangan Rino. Ia menatap Thelma yang beranjak dari kursinya dan tersenyum memamerkan sebaris gigi yang rapih. “Oke, kok. Kebetulan anak-anak udah dateng dan lagi nunggu di bawah. Gue jemput dulu ya terus langsung giring ke sini.”
“Sipp. Kita juga mau siap-siap.”
Sepeninggal sang manajer dari ruangan siaran, Masaya meneguk habis air mineral yang tersisa dari botol kecil yang disajikan. Ia mulai merasakan debaran itu kembali hinggap di hatinya mengingat ia akan bertemu dengan pria yang ia kagumi secara rahasia selama hampir tiga tahun. Terkadang Masaya menganggap tingkahnya yang seperti ini sungguh sangat menggelikan. Bagaimana bisa pria dewasa berusia 29 tahun masih saja berkelakuan layaknya remaja SMA yang sedang kasmaran? Bagaimana bisa ia begitu menyukai seseorang yang bahkan bertatap muka secara langsung saja belum pernah sekalipun? Sial, Masaya merasa mual kembali.
“Heh, mau kemana lo?” tanya Rino begitu ia melihat sang penyiar bertubuh semampai tersebut berjalan keluar dengan cepat setelah sebelumnya menggapai pengharum ruangan yang tergantung, alih-alih menyiapkan diri untuk melakukan siaran radio.
“Buang ini. Mau muntah gue, ga tahan.” ucap Masaya beralasan, padahal ia tahu betul bahwa sebenarnya ia sedang menenangkan diri sejenak karena terlalu gugup untuk menghadapi Shogo dalam waktu dekat.
Sebuah keajaiban, separuh waktu acara yang dipandu Masaya berjalan lancar tanpa adanya sikap berlebihan yang terjadi. Ia sudah tidak merasa mual karena tidak ada lagi aroma jeruk sialan itu di ruangan ini serta Shoya yang berhasil membawa kembali lensa kontak miliknya sehingga ia tidak perlu menyipitkan kedua matanya untuk membaca tulisan pada script. Masaya telah berhasil mengendalikan diri sampai saat ini, meskipun jiwanya sudah menjerit tak karuan di dalam hati semenjak Clocks datang dan duduk melingkari meja siaran untuk bergabung bersama dirinya.
Tidak bisa dipungkiri jika Masaya terpesona akan presensi Clocks di ruangan ini. Meskipun mereka rata-rata berusia 3 tahun di bawah Masaya, ia bisa menilai bahwa mereka memang musisi berbakat. Tanpa persiapan apapun, mereka dapat memainkan lagu secara acapella dengan begitu indah saat salah satu penggemar meminta Clocks untuk bernyanyi di sesi fan's tweets corner.
“Wow, you guys are really amazing. It's such a honor to hear it live from our studio,” puji Masaya takjub tidak melebih-lebihkan, “Ga heran kalo Clocks banyak penggemarnya. Self-produced music, talented, good manners.. what else?“
Masaya tertawa saat ia menggulir kursor mouse pada monitor untuk membaca beberapa tweet yang menangkap perhatiannya, “what else?... oh, they said you guys are good-looking! Oke, gue akuin Clocks cakep di atas gue tapi dikiiiit doang, ya. Beda dikit doang, loh?!”
Seisi ruang siaran tertawa bersama mendengar candaan dari sang penyiar acara yang tak mau mengalah. Jika Clocks ahlinya di bidang musik, maka Masaya adalah ahlinya dalam membawa suasana di setiap acara radio yang ia pandu agar terdengar hidup dan hangat.
“Fan's tweets cornernya cukup sampai sini dulu. Nanti boleh spam tweet pas Clocks dateng lagi lain waktu,” ungkap Masaya riang sembari mendekatkan bibir pada mikrofon, “Nah, sekarang lanjutin obrolan kita sambil request lagu terakhir. Siapa yang mau request dari Clocks?”
Secara tidak sengaja tatapan milik Masaya bertabrakan dengan milik Shogo. Hei, tunggu sebentar. Masaya yakin sekali ini disengaja, hanya saja ia baru menyadari bahwa Shogo sering kali mencuri pandang ke arahnya ketika ia tengah bercengkrama dan menanggapi obrolan anggota Clocks yang lain. Masaya benar-benar tidak menyadari hal tersebut karena sedari tadi dirinya berusaha mati-matian hanya menatap Shogo seperlunya agar ia bisa mengkondisikan hati dan akal sehatnya.
“Gue boleh?” ujar Shogo tanpa memutuskan tatapan ke seberang tempat duduknya.
“Boleh dong,” dehaman kecil keluar dari tenggorokan Masaya yang tak gatal, ia sebisa mungkin membalas tatapan Shogo dengan senyuman profesional untuk menutupi kegugupannya, “Keep dulu yah lagunya buat nanti, sekarang gue mau kasih satu pertanyaan terakhir buat kalian, nih. Pertanyaan ini mewakili fansclub yang udah penasaran banget-bangeeet dari lama. Tenang Clocks, bukan ditanyain 'nomor WA mu berapa', kok.”
“Waduh. Apa nih yang lebih nakutin dari pertanyaan itu? Please, jangan ditanya kapan nikah. Gue masih muda dan belum punya pacar..” kekehan renyah dari Naoki sukses membawa tawa kembali.
“Lo nyindir gue ya, Ki?!” ungkap Masaya berpura-pura tersinggung kemudian tertawa kecil, “Bukan, bukan. Ini pertanyaannya seputar karir Clocks di tahun 2019-2020..”
Ada sedikit keraguan melanda Masaya saat ingin membacakan pertanyaan ini. Namun ia kembali memantapkan diri ketika sadar bahwa script di tangannya sudah diluluskan oleh manajer Clocks sendiri. Akhirnya Masaya kembali meneruskan ucapan yang tertunda, “Boleh tau kenapa Clocks milih hiatus panjang saat itu dan baru balik September lalu? If it's too hard to answer, it's okay to leave it unanswered. Yang penting; no pressure.“
Para Anggota Clocks saling berpandangan satu sama lain, tampaknya mereka pun seperti sudah siap untuk mengungkapkan hal tersebut, “Noprob, we will gonna answer it,” Renta menjawab dengan tenang, “yang jelasin Kak Shogo ya..”
“Well..” Masaya kembali melirik Shogo di seberang kursinya. Terlihat pemuda tersebut kini menyatukan jemari dari kedua tangannya kemudian ia tempatkan ke atas meja, wajah tegasnya tampak sedang serius memilih ucapan yang akan ia lontarkan, “Apa yang terjadi pas itu, Shogo?”
“Fearness,” Shogo menjawab dengan segera setelah cukup berfikir panjang, “saat itu, Clocks udah jalan selama 5 tahun. Banyak orang bilang 5 tahun itu udah cukup menjadi titik balik untuk berkarir di dunia musik. Mungkin dari beberapa orang yang lihat Clocks dari luar merasa kita adalah musisi sukses yang udah terbentuk semenjak kita masih remaja. Kemudian lambat laun banyak yang menggantungkan harapan mereka ke Clocks.. dan di sini kita mulai merasa khawatir setiap hari dan terus berlanjut sampai di mana kalimat what if terus muncul di benak kita. Terutama bagi gue sendiri karena istilahnya gue yang turut andil paling besar dalam produksi lagu Clocks.. What if... we can't fulfill their expectations? What if... we made them feel disappointed?“
Pendingin ruangan berhembus melewati belakang leher Masaya, rasa sejuk yang datang tiba-tiba seketika menyadarkan keheningan di ruang siaran tersebut saat pertama kali Shogo mulai berbicara tentang waktu yang bisa disebut masa kelam dari Clocks, Masaya tanpa sadar menggenggam tangan yang terkepal di hadapannya meski hanya sebentar, “Life seemed pretty tough, didn't it?“
“Lumayan,” Shogo mengulas senyum kecil sementara kedua matanya bergulir menatap satu persatu personil dari band yang membesarkan namanya, “gue hampir menyerah sama rasa ketakutan gue sampai anggota lain pun ikut frustasi, jadi akhirnya kita milih untuk hiatus sementara tanpa kepastian waktu.”
“Ya, ampun.. Terus gimana kalian ngatasin ini semua?” Masaya tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya sekarang, ada sedikit genangan air di pelupuk mata indahnya yang menyuarakan kelegaan tak terbendung, “but firstly, gue bersyukur kalian bisa overcome semua ketakutan itu dan balik berkarya lagi sekarang. Well done, guys. I'm so proud of you.“
“Thanks.. Truthfully, semua karena Shogo balikin mood kita semua, kak!” tutur Shunsei dengan tawa tengil yang khas, “Dia bilang 'It's okay if you failed, it's okay if you didn't reach their expectation'. Maksimalin aja sama effort yang kita keluarin, kalau ga memenuhi ekspetasi orang lain ya mau gimana lagi karena ga semua punya penilaian sama dan kita ga tau sampai mana batesan itu. Asal kita udah maksimal dan kita ga kecewa sama usaha kita sendiri, we think that it's enough.“
“Pas saat itu gue terus keinget kutipan kalimat dari film 'Star Wars',” timpal Shogo menghadap lurus ke wajah Masaya.
Tunggu, ini terasa sangat familiar..
“'Fear is the path to the dark side. Fear leads to anger. Anger leads to hate. Hate leads to suffering. Setiap orang pasti merasa takut. Bisa jadi rasa takut itu dalam bentuk takut ga memenuhi ekspektasi orang kayak yang kita rasain atau takut mengalami kegagalan yang berujung untuk menyerah,” ada sebuah senyum cerah terkembang pada paras tampan milik Shogo yang terlihat seribu kali lebih menawan dari terakhir kali Masaya menontonnya di layar TV tiga tahun lalu, “thanks to someone yang udah ngasih kutipan itu. Also thanks to that person yang sekalian rekomendasiin satu laguㅡwait, lagu ini yang mau gue request juga sekarang...”
All I want to do is way back into love.
I can't make a through without a way back into love.
And if I'm open my heart to you,
I'm hoping you'll show me what to do.
And if you help me to start again,
You know that I'll be there for you in the end.
Beberapa penggal lirik lagu terputar di benak Masaya begitu saja. Lirik dari sebuah lagu favorit lelaki tersebut yang sering ia rekomendasikan di acara radio larut malamnya setiap hari Senin sampai Kamis. Jangan katakan bahwa Shogo.. pernah mendengar siaran dari penyiar radio tersebut? Jangan katakan bahwa Shogo mengetahui bahwa ada seseorang bernama Masaya hidup di dunia ini? Jangan katakan bahwa...
”...yang udah bikin gue tenang, yang bikin gue percaya bahwa Clocks bakal baik-baik aja, yang bikin gue nemuin kekuatan untuk bangkit dari masa kelam itu; thanks to that person who introduced this lovely song to me...“
”...Way Back into Love by Hugh H & Haley Bennett.”
three months later
Saturday, 30 May 2021 09.07 AM
Tea? Coffee? Juice? Salad? French Toast? Cereals?
Tak ada yang lebih indah dari menikmati pagi hari di akhir pekan tanpa memikirkan beban pekerjaan yang seolah menghilang layaknya benda kasat mata. Dengan malas, Masaya menarik selimut sampai setengah dada telanjangnya sementara tangan kiri menggapai ponsel pintar di nakas sebelah tempat tidur. Lelaki tersebut tersenyum sembari membuka kunci layar, saatnya ia memulai ritual Sabtu pagi dengan menggerakkan jemarinya secara lihai untuk menekan aplikasi online berisikan unggahan berbagai macam video dari penggunanya. Kalau sudah begini, Masaya pasti seketika lupa untuk menyiapkan sarapan yang sebelumnya ia pikirkan sesaat setelah ia bangun tidur tadi.
“S..HO...GO..CLO..CK..S..” susah payah ibu jari kiri Masaya menekan huruf pada keyboard karena tangan kanannya tertahan beban berat di sebelah, namun ia tetap berusaha sampai kata kunci yang dicari berhasil diketikkan pada layar, “...enter. Yeay!”
Masaya tampak sangat bahagia menonton acara musik minggu lalu di mana band favoritnya sedang tampil menawan membawakan single terbaru yang berjudul 'The Smile in Your Voice'. Kamar tidur bernuansa cokelat tersebut kini terisi oleh suara nyaring speaker portable, melantunkan lirik lagu yang dinyanyikan dengan indah oleh sang vokalis Clocks. Sampai tak terasa sudah satu jam lebih Masaya tidak berpaling dari ponsel pintarnya tersebut.
Bugh!!ㅡ “AAAWW!” Masaya meringis kesakitan tertimpa ponsel yang terpeleset jatuh mengenai wajahnya. Penyiar radio sekaligus model tersebut hampir menangis kalau saja ia tidak menyadari siapa yang sedang berpura-pura tidur sembari menahan tawa di sampingnya. Ternyata, dialah si pelaku yang menyenggol lengan Masaya sehingga ponsel pintar tersebut jatuh menimpa hidungnya yang lancip.
“Dasar bocah,” amarah Masaya memuncak ketika paginya yang damai dirusak akibat ulah pemuda tersebut, dengan membabi buta Masaya mendaratkan bantal ke wajah tampan si pemuda, “Rasain nih bantal bau iler!”
“Aw, sakit! Ampun, Sa. Ampuuun.” kekehan nakal terus saja keluar dari mulut pemuda itu, sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda penyesalan. Oleh sebab itu, Masaya semakin keras mendaratkan bantal tidur ke tubuh pemuda tersebut karena sudah dibuat geram oleh kelakuannya.
“Heh, enak aja manggil sa sa. Panggil pake KAK, ya!”
“Aduh, iyaaa KAK Masayaa,” Pemuda itu, Shogo, sepenuhnya terbangun dari kantuknya sekarang. Dengan kesadaran maksimal akhirnya Shogo menghentikan amukan sang kekasih dengan pelukan erat dari belakang tubuhnya, “Iya ampuuun. Cukup ya bercandanya, sayang. Hm?”
“Huh. Siapa yang bercanda? Sakit tau kepentok hape. Awas diulangin lagi.”
“Iyaa maaf, janji ga diulangin,” ucap Shogo sembari mengecupi punggung hingga bahu telanjang Masaya, “Lagian pagi-pagi udah nge-fanboy aja. Ada yang asli kenapa pilih yang ada di layar kotak, sih?”
“Kalau nge-fanboy enak dari hape tau. Kalau sama yang asli namanya nge-bucin.”
Masaya menelengkan kepala dengan bingung, “Bedanya apa?”
“Ya pokoknya beda.”
“Dih, aneh banget sih kamu, KAK Masaya.”
“Bisa diem ga? Btw, kamu yang aneh, bukan aku.”
“Iya gapapa aku aneh yang penting kamu bucin sama aku since three years ago and forever.”
Masaya menengok ke belakang seraya menatap sebal wajah cengengesan milik Shogo. Ingin rasanya Masaya kabur dari pelukan pemuda menyebalkan tersebut namun apa daya, yang dikatakan Shogo memang benar adanya. Masaya terlanjur bucin, that's the fact.
“Sotoy” Masaya mendengus keras namun dalam diam ia memperat eratan lengan Shogo di tubuhnya.
“Gemes banget, sih,” Shogo mencium gemas bibir manis lelaki di dekapannya, “Ayo marah lagi, nanti aku kecup 100 kali per menit.”
“STOP.“
CUPㅡ “Gemes.”
“Shoooo!”
CUP CUP CUPㅡ “Terusin. Biar aku tambah bucin juga sama penyiar radio hits ini.”
“Udahan, dong,” tubuh Masaya berbalik menatap Shogo dengan melas, kemudian wajahnya ia tenggelamkan di dada telanjang lelaki yang lebih muda, “...aku malu.”
Shogo menatap uap air dari aroma diffuser yang bergerumul pelan menyebarkan semerbak harum kayu cendana favorit Masaya ke seluruh penjuru kamar tidur yang di tempati oleh mereka. Speaker portable yang terhubung dengan ponsel pintar kekasihnya masih memutar lagu Clocks dari aplikasi yang terakhir dibuka Masaya.
Dari dua fakta tersebutㅡoh tidak, kini sudah ada tiga dengan Masaya yang berada di pelukannya sekarang (dan mungkin masih banyak lagi yang Shogo tidak ingat), terkadang Shogo masih saja tidak percaya bahwa sang penyiar radio yang setahun belakangan ini ia kagumi karena suaranya dapat menentramkan kegundahan Shogo di masa-masa terpuruk tersebut telah resmi menjadi bagian di hidupnya sekarang.
Sedikit cerita dari hari-hari penuh keputusasaannya di sepanjang tahun 2019, entah bagaimana Shogo merasa hal yang sedang ia lakukan saat itu tidak memiliki tujuan yang pasti. Dalam sekejap otak brilian yang melahirkan banyak lagu populer selama setengah dekade terhenti tidak berfungsi. Sebenarnya, Shogo tidak merasa terbebani sama sekali oleh harapan semua orang di pundaknya, hanya saja ia terlalu mengkhawatirkan apa yang seharusnya tidak ia takuti sampai akhirnya rasa takut itu menggerogoti rasa percaya diri di dalam hatinya. Ia tidak percaya diri untuk bisa mempertahankan kualitas musik Clocks yang sudah sangat diakui secara luas. Ia tidak percaya diri akan ekspektasi orang terhadap setiap lagu yang ia rilis.
Ia khawatir, ia tidak percaya diri, ia takut. Dan pilihan tepat saat itu adalah berhenti sejenak dan pergi mengasingkan diri dari bingar ibu kota metropolitan.
Selama setengah tahun Shogo pergi ke kampung halaman neneknya di pedesaan terpencil. Sulitnya sinyal yang didapat di sana, mau tak mau hiburan yang bisa Shogo konsumsi hanyalah tayangan televisi dan siaran radio nasional. Dan di malam ketika Shogo sedang risau akan pikirannya yang kalut, ia memilih menyalakan radio secara asal untuk menemani tidurnya.
Alih-alih tertidur, Shogo malah sepenuhnya terjaga dari rasa kantuk karena ia tidak bisa berpaling dari suara sang penyiar acara radio tersebut. Berapi-api namun menentramkan, pesan-pesan yang disampaikan dari sang penyiar malam itu sungguh menggugah jiwanya. Entah karena topik yang ia bawa kebetulan mirip seperti kisah hidup Shogo saat itu, yang sudah pasti jelas bahwa sang penyiar beserta acara yang ia pandu menolongnya dari kegelapan di setiap malam ketika ia merasa gusar dan bersedih.
Perlahan, Shogo dapat memulai kembali coretan lirik yang ia senandungkan ketika mendengar suara sang penyiar radio tersebut. I can hear the smile in his voice. Slowly.. Tenderly.. and what's his name again?... Oh, Masaya. Kimura Masaya.
“Sho?” Sapaan halus dari kekasihnya membuyarkan lamunan sang vokalis di masa sekarang, “Malah bengong. Lagi mikirin apa?”
Shogo menggeleng pelan seraya mengusap pipi Masaya dengan sayang, “Ga ada yang penting selain mikirin gimana caranya aku bisa bikin kamu tambah bucin sama aku.”
“Emang sekarang kurang bucin?!”
“Kurang banyak. Kurang... ciumnya. Kurang... peluknya. Kurang... lama make lovenyㅡ AWWW! PERUTKU KOK DIPELINTIR SIH?”
“RASAIN.”
fin.
plis maap ini aneh. bye.
