Work Text:
Katsuki benci orang lemah.
Orang yang lemah itu seperti parasit, hanya akan menjadi beban dan Katsuki tidak suka menjadi orang yang tidak bisa berbuat apapun.
Dan Shouto tidak lemah. Katsuki tahu sejak pertama kali mereka bertemu; sejak anak itu pertama kali menunjukkan es dan api di kedua tangannya. Senyum Shouto memperlihatkan suatu kebanggaan, membuat Katsuki berpikir jika suatu hari nanti ia bisa menjadikan anak itu sebagai salah satu anggota di agensi masa depannya.
Shouto tidak lemah, namun mengapa ia hanya diam saat orang itu memukulnya?
Harusnya hari ini Katsuki membuatnya melongo dengan kehebatan quirk miliknya. Harusnya ia bisa membuat senyuman itu mengembang di bibirnya, namun paman besar itu merusaknya. Paman itu mengganti wajah ceria Shouto menjadi suram, serta mengubah senyumannya menjadi isak tangis.
Katsuki mengintip dari balik semak-semak. Paman itu terus menarik Shouto, namun Shouto enggan beranjak.
"Sudah kubilang jika kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai, bukan? Kau harus lebih banyak berlatih agar bisa melampaui dia, Shouto!"
Ia menggeleng, menatap paman itu takut.
"S-Sebentar lagi," Suaranya terputus-putus. "Sebentar lagi... Temanku—d-dia... Dia akan—"
"Cukup!" Katsuki melotot. Paman itu memukul perut Shouto, kemudian menghempasnya ke tanah. "Jangan mencoba menguji kesabaranku, Shouto. Berdiri!"
Shouto terbatuk. Tangannya gemetar. Samar-samar Katsuki bisa mendengar suara tangis—yang ia yakini pasti keluar dari anak itu.
"Berdiri, Shouto! Pukulan seperti itu tidak ada apa-apanya untuk seorang calon pahlawan nomor satu!"
"A-Ayah—"
Lengannya kembali ditarik secara paksa. Shouto meringis kesakitan, masih enggan bangun. Tepat sebelum satu pukulan kembali mengenai perutnya, Katsuki lebih dulu menghambur keluar menyerang paman tersebut.
"DASAR BRENGSEEEEK!"
Shouto tercekat.
"Katsu!"
Paman itu refleks mundur akibat efek dari ledakan miliknya. Katsuki menyeringai bangga, kemudian memposisikan dirinya di hadapan Shouto.
"Kau tidak boleh memukulinya!" sahut Katsuki, membalas tatapan seram milik paman tersebut dengan berani. "Ayah tidak pernah memukuliku, tapi kenapa kau malah melakukannya?! Memukul adalah perbuatan seseorang yang jahat! Kau harus dihukum!"
Tunggu. Katsuki kenal orang ini. Dia Endeavor, bukan? Pahlawan payah di bawah All Might, sekaligus ayah dari anak di belakangnya.
Anak? Katsuki menyadari sesuatu. Jadi Shouto—
"Dia siapa, Shouto?!" tanyanya dengan nada menuntut.
"Dia... Dia—"
"Kau mau apakan dia, hah?!" protes Katsuki.
"Shouto?!" desak Endeavor sekali lagi.
Shouto mendekat, menarik ujung kaos Katsuki seraya berujar pelan, "T-Teman. Teman Shouto—"
"Dari sekian banyak anak dan kau lebih memilih berteman dengan anak badung ini?!"
"Hah? Anak badung?!" Alis Katsuki bertaut, tersulut emosi. "Siapa yang kau bilang anak badung?!"
Tangan Katsuki terangkat, hendak melesatkan kepalan tangannya ke kepala orang tua di depannya—namun Endeavor menahannya dengan mudah. Katsuki mencoba menggunakan satu tangannya yang lain, namun sebuah tinju lebih dulu mengenai perutnya, membuat pertahanannya oleng dan Katsuki terjatuh; susah payah bangkit.
"Katsu!" jerit Shouto panik. "Hentikan!"
"Aku tidak ingin melakukan ini, Shouto." Suara Endeavor menggema, menatap Katsuki dengan wajah menyesal. "Namun aku harus melakukannya supaya anak ini bisa lebih sadar dengan posisinya dan tidak banyak ikut campur."
Menyebalkan. Sakit sekali. Inikah yang Shouto rasakan? Katsuki ingin kembali berdiri, namun seluruh tubuhnya terasa remuk.
"Katsu...," Katsuki terdiam. Shouto kembali menangis. "Ayah, tolong jangan melukainya lagi! Katsu anak baik! T-Tolong jangan memukulinya lagi. Aku akan menjadi anak yang baik—aku—hiks—aku janji...,"
Shouto menangis, dan Katsuki tidak suka.
"Lepaskan tangannya! Ayo pulang!"
Kurangajar. Katsuki tidak lemah!
Ia memaksakan diri untuk bangkit—lagi-lagi mencoba menyerang Endeavor, namun kembali, pria itu menahannya dengan cepat. Shouto mencoba menarik Katsuki, namun Katsuki tidak mau. Ia tidak akan mau mundur sebelum bisa melesatkan pukulan pada wajahnya.
"Aaaarghhh! Dasar jeleeek!"
Katsuki terlempar. Shouto memekik panik, dan tangisannya semakin menjadi.
"Anak ini benar-benar keras kepala! Shouto, minggir. Ayah harus memberinya sedikit pelajaran."
"Jangan!"
Sialan. Ini tidak sakit! Katsuki masih ingin berkelahi, namun tubuhnya tidak bisa menahannya lagi. Apa-apaan ini—dia ingin menangis. Dasar bodoh! Hanya begini saja! Katsuki tidak lemah!
Sekali lagi, Katsuki mencoba bangkit. Ia sudah siap berlari menyerang pria besar tersebut, namun Shouto menghadangnya. Ia berdiri berhadapan dengan Endeavor, menjadikan dirinya sebagai tameng. Sesaat Katsuki bisa melihat kedua tangannya yang masih bergetar, serta napasnya yang tersengal karena terlalu banyak menangis.
"J-Jangan," lirihnya. "Aku akan ikut ayah. A-Aku akan menuruti semua kemauan ayah, jadi tolong biarkan Katsu pergi... Aku akan latihan dengan sungguh-sungguh, aku janji! Kumohon."
Menurutinya? Yang benar saja!
Ada jeda cukup lama dari Endeavor yang menatap mereka berdua lekat, sebelum akhirnya ia menghela napas.
"Ayo, Shouto."
Shouto menurut, dan Katsuki tidak bisa membiarkannya.
"Shouto?!"
Sebelum jemari Shouto menerima uluran sang ayah, Katsuki lebih dulu menariknya—membawanya menjauh.
"Shoooutooooo!"
Meringis. Katsuki terus berlari. Jemarinya menggenggam jemari milik Shouto erat, tidak ingin melepaskannya. Mereka melangkah cepat di balik semak, menyalip pepohonan, bersembunyi.
"K-Kat—"
Katsuki berpura-pura tidak mendengarnya.
"—Katsu!"
Jantungnya berpacu dengan cepat.
Harus.
Mereka terus berlari menyusuri hutan.
Harus kulindungi.
*
"Hah.... Hah...."
Orang tua itu pasti tidak akan menemukan mereka kalau disini. Katsuki mengintip untuk memastikan, 100% yakin jika Endeavor tidak akan mencari mereka sampai ke bawah jembatan.
Katsuki menghela napas, kemudian beralih pada Shouto.
"—af,"
"Eh?"
Shouto menunduk. Katsuki kebingungan. Surai dwi-warnanya berjatuhan, bahunya bergetar sembari mencengkram kain celananya kuat-kuat.
"Kenapa kau menangis?" Katsuki kesal, "Kita bebas dari kejaran ayah anehmu, harusnya kau senang! Sekarang kau tidak menangisi karenanya lagi, jadi—"
"Maaf. Maaf, Katsu. M-Maaf—"
Katsuki terkesiap. Shouto mengusap air matanya yang tidak mau berhenti.
"Katsu dipukul ayah—hiks—aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku minta maaf!" Tangisnya semakin keras. "Karena aku lemah—karena aku lemah jadi aku tidak bisa menolong—"
"Ck, kau tidak begitu!"
Katsuki mengerang, "Kau itu keren, oke? Apanya yang tidak melakukan apa-apa, kau menolongku! Kalau kau tidak berdiri menghadangku darinya, pasti aku akan kembali dipukuli! Lagipula yang dilakukan ayahmu itu tidak apa-apa, berhenti menangis! Serius! Kau itu bukan Deku!"
Bohong sekali. Katsuki meringis mengusap perutnya yang nyeri.
Shouto terus menangis, dan Katsuki semakin bingung.
Apa yang harus kulakukan?
Katsuki tetap duduk diam, berusaha menghibur dengan kata-kata seadanya. Hal itu terus berlangsung selama beberapa menit, hingga isakan anak itu berangsur-angsur mengecil dan kini Shouto menatapnya dengan mata berair.
"Sudah tidak menangis lagi?"
Shouto mengangguk—namun Katsuki tahu jika ia pasti akan menangis lagi nanti. Katsuki menghela napas, mencoba bersabar.
Dia jelas lebih merepotkan daripada Deku. Terus menangis, lemah sekali. Katsuki benci orang yang lemah, namun untuk Shouto—
Dia sendiri juga tidak mengerti.
"Hei."
Shouto mengusap hidungnya, kembali menatap Katsuki.
"Aku lemah, Katsu."
"Jangan memotong kata-kataku!" hardik Katsuki marah. "Kuulangi lagi, kau itu tidak lemah! Kau sangat kuat, bahkan lebih kuat dariku!"
"Tapi kau tetap dipukuli ayah. Aku tidak bisa menolongmu karena aku lemah."
"Kalau kau lemah, bagaimana denganku?!"
Shouto terdiam. Katsuki menunjuk perutnya. "Aku hanya dipukul sekali, tapi rasanya sakit sekali sampai aku tidak bisa bangun lagi. Bagaimana denganmu? Aku yakin ini pasti bukan yang pertama kali, tapi kau tidak sepertiku, ya kan?"
"... Maaf."
"Jangan terus-terusan minta maaf!"
Bibir Shouto terkatup rapat.
"Kalau orang itu macam-macam lagi padamu, lawan dia! Balas pukul! Kau tidak bisa hanya diam saja dan membiarkannya menyakitimu! Orang seperti itu jika dibiarkan akan semakin parah, bodoh! Memangnya kau mau dipukul?!"
Shouto menggeleng pelan, kedua matanya kembali berair.
"Kenapa?"
"Takut." cicitnya.
"Kenapa takut? Kau kan tidak salah. Selama kita tidak melakukan suatu kesalahan, jangan takut! Pahlawan tidak pernah merasa takut saat menyelamatkan banyak orang, jadi kau tidak bisa terus begitu!"
Katsuki melihatnya. Shouto menggigit bibir—meremas buku-buku jarinya kuat.
"Maaf... Maaf...,"
"Shouto."
Yang dipanggil mengusap wajahnya kasar, berusaha untuk berhenti menangis. Ia mendongak—suara napasnya masih tidak teratur, serta jejak air mata masih terlihat jelas di pipi tembamnya.
Katsuki mengulurkan kelingking.
"Ke—hik—lingking?" tanya Shouto, kebingungan. "Tapi untuk apa, Katsu?"
"Ini sebuah pernyataan," jawab Katsuki, masih mengulurkan kelingking. "Saat aku besar nanti, aku akan memukulnya untukmu."
"Memukul ayah? Tapi Katsu akan terluka. Aku tidak mau Katsu sakit karenaku."
"Aku tidak apa-apa! Aku kan kuat, jadi aku tidak akan sakit!"
"Tapi tadi kau kesakitan."
"Kan sudah kubilang tidak, bodoh!"
"Lagipula kenapa kau mau memukuli ayah untukku? Ayah kan tidak ada hubungannya denganmu, Katsu."
"Tentu saja ada! Karena—"
Karena?
Shouto memiringkan kepala, menunggu jawaban.
Karena... Karena apa?
Katsuki diam. Lidahnya mendadak kelu.
"Karena?"
"Aku...,"
Manik merahnya beralih ke bawah, enggan membalas sepasang manik abu dan turquoise yang tertuju lurus padanya. Ia menggaruk tengkuk, kemudian bersuara dengan cepat, "Karena aku—ingin jadi pahlawan!"
"Lalu?"
"Lalu...," Apa-apaan ini? Katsuki tiba-tiba merasa malu. "Lalu... Aku akan... Aku akan—"
Shouto memandanginya penasaran.
"Melindungimu."
Katsuki sedikit melirik, menemukan Shouto yang tertunduk dengan semburat merah muda yang menghiasi wajahnya. Ia meremas jari-jarinya kikuk, kemudian berujar pelan.
"M-Melindungiku? T-Tapi Katsu tidak bisa."
"Aku bisa, kok!" Pipi Katsuki sedikit menggembung, tidak diterima dengan pernyataan sepihak dari Shouto. "Aku bisa melakukannya! Aku ini Bakugou Katsuki! Aku ini kuat, kau tahu itu, bukan?!" protesnya seraya mengepalkan kedua tangan. "Jadi aku pasti bisa melindungimu!"
"Tapi ayahku kuat sekali."
"Aku tidak peduli! Mau ayahmu sekuat Hulk atau Iron Man, aku akan mengalahkannya! Aku akan menendangnya sampai ke luar angkasa! Jika dia memukulmu lagi, aku akan melakukannya!"
Shouto jelas meremehkannya. Apa-apaan dia?! Tidak mendapat respon apapun, Katsuki semakin yakin jika Shouto benar-benar tidak mempercayainya. Alisnya tertekuk, hampir melayangkan ledakan di telapak tangannya ke kepala dua warna tersebut—namun sebuah gelak halus menahannya.
Shouto tertawa, dan ini adalah pertama kali baginya.
Pertama kalinya, membuat Katsuki ingin mendengarnya lagi dan lagi.
"Terimakasih," katanya pelan, menggunakan tangannya untuk menutupi senyumannya. "Aku akan menunggunya, Katsu."
Katsuki memiliki impian—dan mulai hari ini, ia akan berusaha membuat impiannya tersebut menjadi nyata.
Satu kelingking kembali berulur.
"Aku akan menjadi pahlawan terkuat di seluruh dunia, lalu aku akan melindungimu."
Shouto mengangguk, kemudian mengaitkan kelingking mungilnya pada milik Katsuki.
"Janji ya, Katsu?"
"Iya." Katsuki mengangguk mantap. "Aku janji."
Bibir Shouto membentuk senyuman manis, bersama dengan senyum Katsuki yang melebar.
*
"Kau yakin, Katsu? Tapi bagaimana jika ayah marah?"
"Aku yakin 100% kalau ayahmu itu tidak akan berani macam-macam kalau Deku ikut mengantarmu pulang nanti. Kalau perlu akan kubawa ibunya sekalian dengan ibuku, biar dia diam."
"Maaf, ya."
"Kan sudah kubilang untuk berhenti meminta maaf!"
"Tapi Katsu jadi kesusahan."
"Aku seperti ini untuk melindungimu, kan?"
Shouto terdiam, memperhatikan jemari Katsuki yang membungkus jemarinya.
"Untuk menjadi pahlawanmu."
Daun telinga Katsuki tampak memerah, dan hal tersebut menyebabkan Shouto tersenyum geli.
"Hmmm." gumam yang lebih muda, berujar semangat, "Nanti apa aku boleh bermain dengan Deku?"
"Tentu saja! Aku jamin Deku pasti akan sangat antusias melihat quirkmu."
"Woah, benarkah? Yeay!"
Genggamannya pada telapak tangan Shouto mengerat, seiring dengan langkah kaki mereka yang berirama menyusuri jalan setapak. Katsuki menoleh, menemukan Shouto yang bersenandung seraya menyapukan tangannya yang bebas pada rerumputan.
Dia terlihat begitu gembira—dan diam-diam, tanpa sepengetahuan anak itu, Katsuki berjanji satu hal lagi.
Ia tidak akan membiarkan gurat bahagia di wajah tersebut hilang.
"Hei Halfie, ayo main."
"Main?"
"Yap, kita lomba lari. Kau dan aku akan berlari dari sini sampai ke rumah Deku. Yang sampai duluan ke rumahnya, dia akan dapat jatah cookies lebih banyak. Bagaimana?"
"Ayo! Aku mau ikut!"
"Heh, mau ya? Baiklah, kita lihat siapa diantara kau dan aku yang paling hebat."
Katsuki bersiap, melirik Shouto yang juga melakukan hal yang sama.
"Siap?"
"Siap."
"Satu."
"Dua—"
Kaki Katsuki lebih dulu bergerak, meninggalkan Shouto yang mengerang tidak terima.
"Katsuuuu! Dasar curang! Jangan lari duluaaan!"
"Heh-heh, loser!"
"Kaaatsuuu!"
