Actions

Work Header

Love me, Ken!

Summary:

Situs apa ini? Ketahuilah siapa soulmate-mu? Enggak masuk akal! Eh, tapi ... tidak ada salahnya dicoba, bukan? (NanaHai.)

Notes:

Jujutsu punya Akutagami sedangkan fanfic ini punya saya. Terus di sini murid Kyoto dan Tokyo dicampur jadi satu sekolah. DLDR!

Work Text:

Entah dari mana pak Masamichi menemukan anak berkulit cokelat, hiperaktif, dan banyak senyum seperti calon teman yang memilih kamar bersampingan Kento itu. Agak mirip Satoru perangainya menurut Kiyotaka. “Halo, namaku, Haibara Yu! Kalian berdua seumuran denganku?” perkenalan Yu diiringi lengkung busur yang biasa orang sebut senyum manis. Kento dan Kiyotaka sehabis misi bersama menemukan makhluk baru seangkatan mereka di samping pintu kamar Kento. Kiyotaka membalas perkataan Yu dengan anggukan malu-malu sedangkan Kento memperkenalan dirinya dan Kiyotaka ke Yu.

“Salam kenal,” Kento membungkukkan badan. “Saya Nanami Kento dan dia Ijichi Kiyotaka,” ucap Kento. Kento biasa memiliki teman pengertian sejenis Kiyotaka–saat itu ia belum dekat dengan Satoru–yang penurut dan paham jarak. Ketika Yu menjatuhkan kedua lengan ke Kento dan Kiyotaka; memeluk mereka berdua, dan melebarkan senyum; Kento mengalami kaget akan perbedaan budaya.

“Salam kenal juga! Hei, apa kalian berdua sudah makan siang? Jajan yuk. Aku yang traktir!”

Yu banyak omong, tapi dia tak banyak membicarakan dirinya sendiri. Anak itu masuk sekolah ini karena terpincut cara bertarung Geto Suguru. Sepanjang hari yang pemuda itu bicarakan Suguru, Suguru, dan Suguru. “Apa kautahu bagaimana cara dekat dengan Geto-san, Ken?” tanya Yu ketika ia dan Kento menyelesaikan misi bersama pertama kali.

Tujuan mereka adalah makan makanan praktis toko sebagai makan malam setelah misi. Kurang lebih itu yang Yu pikirkan. “Ken?” Bukannya menjawab Yu respon Kento malah pertanyaan lain. Ia jauhkan diri dari Yu. “Dan kamu, sehabis misi alangkah bagusnya mandi, bukan makan,” tegur Kento melihat Yu menyuapkan onigiri. “Jorok. Jangan dekat-dekat sama saya.”

Yu entah sejak kapan dekat semua orang. Bukan dekat yang dikatakan akrab, tapi dekat yang cukup membuat obrolan remeh panjang. Karena tadi Kento menyuruhnya jauh, Yu menyeret Kiyotaka berkeliling sekolah dan kenalan sama siapa saja lewat. Pertama Mei-mei. Yu berdecak kagum menatap gadis pemilik surai kristal biru. “Halo, aku Haibara Yu. Kau cantik sekali,” puji Yu.

Mei-mei berhenti sementara latih bela dirinya. Ia menghadap Yu kemudian senyum tipis. “Terima kasih,” ujar Mei-mei terlihat keletihan, tapi tetap anggun, karena napas yang ia keluarkan statis.

“Kau kelas berapa?” tanya Yu tak peduli sikutan kecil dari Kiyotaka. Senyum Yu mengembang karena sekolah barunya ternyata bukan sekolah khusus lelaki. Mengagumkan! Jika ia sekelas gadis secantik Mei-mei pasti misinya takkan membosankan!

“Berikan aku uang untuk minum dan makan baru aku mau berkenalan denganmu,” kata Mei-mei.

Kiyotaka membisikkan sesuatu ke Yu, “Jangan terlalu dekat dengan Mei-san, dia suka memeras,” peringatnya dibalas cekikikan oleh Yu.

“Santai saja, Kiyotaka. Asal dia tidak menggigit aku tidak akan menjauhinya hahaha,” Yu mengarah ke Mei-Mei. Ia membuka dompet dan memberikan beberapa lembar uang. “Maaf hanya ada segini. Ini uang misi pertamaku~ Aku keren bukan, Mei-san?” tanya Yu.

Mei-mei menerima uang Yu, “Kautahu, kau bisa bertanya identitasku ke Ijichi tanpa keluar sepeserpun.” Mei-mei mengajak Yu duduk di rerumputan.

“Tidak apa. Aku ingin mengajakmu berbincang, Mei-san!” ujar Yu dengan binar di kedua matanya.

“Namaku Mei-mei, kelas satu. Kamarku di sebelah Utahime, gadis kelas dua yang suka diisengin Gojo,” ucap Mei-Mei memulai perkenalan.

“Kiyo, kenapa kau berjauhan denganku dan Mei-san? Sini duduk bersama! Sekalian jelaskan siapa Utahime dan Gojo itu,” kata Yu menggesturkan tangan untuk duduk di sebelahnya ke Kiyotaka.

Kiyotaka mengangguk ke Mei-mei seolah minta izin kemudian menghampiri Yu. “Gojo-san dan Utahime-san itu satu angkatan dengan Geto-san,” sambung Kiyotaka.

“Ah, begitu. Jadi kelas satu di sini hanya Kento, Kiyotaka, Mei-mei, dan ... Aku? Sedikit sekali. Bagaimana dengan kelas dua? Sejauh yang kutahu ada Geto-san, Gojo-san, dan Utahime-san. Apakah kelas dua lebih banyak dari kelas satu?”

Mei-mei berdiri membersihkan sisa rerumputan di pakaian. “Bagaimana kalau kau cari tahu sendiri? Aku ingin lanjut latihan.” Mei-mei senyum ke Kiyotaka. “Sepertinya Ijichi tidak terlalu betah berbincang lama denganku, Haibara,” ucapnya seraya pergi. “Sampai jumpa.” Mei-mei melambaikan tangan ke Yu.

“Mei-san keren sekali,” ungkap Yu tambah kagum. Pemuda itu menggandeng lengan Kiyotaka. “Ayo kita lanjut jalan, Kiyo!” katanya bersenandung gembira.

Namun seseorang menepuk bahu Kiyotaka. “Yo, Ijichi,” Baik Kiyotaka maupun Yu menengok. Itu Ieri Shoko. Pemudi rambut Dora the Explorer. “Kamu dicariin Nanami,” ungkapnya. “Jangan main sama anak baru yang bau gitu katanya. Haha lucu juga lelucon si anak lesuan.”

“Aku tidak bau,” selak Yu menggembungkan pipi. “Kalau Kiyo mau bertemu Ken, aku ikut!” Lengannya menggengam erat Kiyotaka.

“Kalian sedang bertengkarkah?” tanya Shoko sedikit tertarik.

Yu menggeleng. “Enggak. Hanya saja aku tidak mau mandi setelah misi, lalu Ken bilang jangan dekat-dekat dengannya,” jelas Yu.

Ketertarikan Shoko menghilang begitu saja. “Hah, ternyata masalah anak-anak. Aku pergi.”

“Dia siapa sih? Dia sendiri masih anak-anak bukan? Bogel begitu,” komentar Yu setelah Shoko pergi dari pandangan Kiyotaka dan Yu.

“Ieri Shoko. Teman dekat Gojo-san dan Geto-san,” kata Kiyotaka membenarkan kacamata yang melorot dari pangkal hidung.

“Hm? Dia akrab dengan Geto-san? Tau gitu aku tanyakan bagaimana cara dekat dengan Geto-san,” Yu lunglai. “Oh! Atau bagaimana kau pergi sendirian menemui Kento lalu aku mengejar Ieiri-san untuk tanya-tanya perihal Geto-san?''

“Tidak Haibara-kun, lebih baik kau mandi,” Kiyotaka final memutuskan sepihak.

Yu merengut diseret Kiyotaka ke kamar mandi dan dipaksa mandi. Ia keluar dari kamar mandi bersama handuk tersampir dan bibir manyun mengeluh kelakuan rese Kiyotaka. Semua karena Kento! Kenapa Kiyotaka nurut saja celoteh Kento! Memang pemuda kacamata itu pegawai Kento apa! 'Kan bukan!

Yu ke kamar Kento buat laporan. “Aku sudah mandi,” Ia melihat Kento duduk di kasur bersandaran tembok, lalu mampir. “Ken, paha,” ujar Yu naik ke kasur Kento.

“Untuk apa?” tanya Kento tanpa melirik Yu.

“Bantalan. Kiyotaka kasar sekali menarikku ke kamar mandi. Aku butuh hangat tubuh orang lain untuk mengembalikkan emosi baikku.”

Kento tidak melempar verbal sebagai balasan karena dia sedang tenggelam di dunia buku, tetapi kaki yang awal ditekuk itu diluruskan agar Yu bisa baring di sana. “Kau baik ya kalau sedang baca buku,” komentar Yu seraya menggosokkan pipinya ke paha berbalut celana kain milik Kento. Kento menggumam sambil mengusap lembut rambut Yu. Rasa capek misi, segar air mandi, dan tekstur sedikit kasar tangan Kento membikin kelopak mata Yu berat.

Yu bangun tidur di kamarnya dengan kaos dan celana pendek kemarin ia kenakan. Yu bangkit dari kasur guna mencuci wajah, sikat gigi, dan cukur kumis-janggut tipis yang mulai tumbuh. Ia mengecek ponsel melihat sekarang sudah pukul 07.00 pagi. Lalu ke kamar mandi asrama lelaki.

“Selamat pagi,” sapa Kento yang baru bangun.

Yu sedang sikat gigi. “Phaghi,” balas Yu. Lelaki pirang di sampingnya setengah mengantuk. Yu usil menyentil jidat Kento.

“Tai, bangsat, sakit bego,” umpatan Kento mengucur deras seperti haid hari pertama Mei-mei.

Yu membuang sisa busa di mulut, kumur-kumur, kemudian watados nyengir lima jari. “Kemarin kamu yang menyeretku kembali ke kamar ya? Terima kasih loh,” cerocos Yu sambil kabur takut dipukul balik Kento.

“Kemarin bukan seret ... Tapi gendong ... Badanmu berat, bangsat,” keluh Kento meskipun Yu sudah menghilang. Ia mulai mencuci muka. “Tch, untung kamu manis jadi saya maafkan telah memperlakukan saya begini.”

Hari ini Yu pergi misi sendirian. Bersama nadir sih, tapi kalau bukan bersama Kento atau Kiyotaka, Yu tak menghitungnya sebagai misi bersama. Misi solo dari pak Masamichi tergolong ringan–atau Yu bertambah kuat? Jika kemungkinan yang ini, Yu bisa menyeringai sepanjang hari–para kutukan mudah musnah. Yu berkeliling memindai puing bangunan mencari kutukan lain.

Derap langkah pemuda penyandang nama keluarga Haibara ringan. Ia berjalan seraya menggumamkan lagu acak sebelum mendapat surel dari kawan beda sekolahnya.

From: [email protected]

Haibara-kun, pernah main situs claimyoursoulmate.com?

Yu membuka ponsel dan membacanya–”Heh, menarik,” monolog Yu.–Ia membalas belum ke Nitta kemudian menelpon nadir untuk menjemputnya, Yu antusias pulang mencoba tautan yang Nitta berikan.

Kento tiba di asrama bersama Kiyotaka. Seperti biasa ia hendak mandi jika Yu tidak pulang dengan riang tanpa menyapanya. Seorang Haibara Yu tidak menyapanya–Kenapa? Ada apa? Bagaimana bisa?–Kento membuka mulut untuk menyapa duluan, tapi Yu keburu ke kamar dan menutup pintu.

Yu menjatuhkan badan ke ranjang tanpa sepatu. Pertama, “Ah, aku belum mandi!” Yu teringat hal penting. “Badanku bau.” Ia menggantung handuk ke bahu. Pintu kamarnya terbuka sendiri.

“Eh?”

“Ehem Haibara ....”

“Ya, ada apa, Ken?”

Yu bertanya dengan ponsel masih di tangan. “Ken, kamu pernah coba situs claimyoursoulmate?” Ia menghampiri Kento menyuruh pemuda itu duduk di kasurnya.

“Oh...?” Kento yang spontan ke kamar Yu tanpa persiapan topik obrolan diam-diam menghela napas lega kecanggungan tidak membentengi mereka berdua. “Um, belum pernah.” Dia menggeleng.

“Tanggal bulan lahir kamu kapan, Ken?” Mereka berdua duduk berdampingan.

“3 Juli 1990.” Kento tidak percaya soulmate, tapi melihat Yu antusias merupakan hiburan tersendiri baginya.

“Tinggi badan? Golongan darah? Berat badan?” tanya Yu bertubi-tubi, tapi Kento hanya jawab Enggak tahu. “E-eh? Beneran?” Ada kekecewaan di ekspresi Yu.

“Hasilnya enggak bakal akurat karena kamu enggak isi lengkap, tapi kata Nitta kalau pacaran sama ciri-ciri yang disebutin situs ini bakal langgeng. Woah, menarik,” celoteh Yu.

“Saya enggak percaya hal gak logis begini,” balas Kento.

“Oh ayolah buat senang-senang,” kata Yu memencet ok, result! di ponselnya. “Aku belum cek punyaku nih karena kamu dateng. Lihat, kurang istimewa apa kamu, Ken?”

“Kamu bau,” kata Kento tiba-tiba mendapat geplakan di paha dari Yu.

“Nih pegang hapeku. Aku mandi dulu. Ken nyebelin,” umpat Yu pergi ke kamar mandi.

Kento menahan tawa seraya memindai hasil tes situs di ponsel Yu. Dia tidak mau membaca hasilnya bersama Yu. Takut dia sama Yu berjodoh.

Canda, jodoh.

Eh, kalau beneran bagaimana?

Canda beneran.

A young man with short dark hair, thin eyebrows and wide passionate eyes. an optimistic and cheerful young man who was willing to prove himself to everyone. A simple person who doesn't think too hard on things, he found pride and joyful to something he likes.

'Jangan bercanda,' pikir Kento segera menekan tombol kembali sebelum Yu balik.

Kento membuka suara melihat Yu kembali dengan kaos dan handur melilit pinggang. “Kamu kenapa enggak langsung pakai celana di kamar mandi?” Bukannya menyerahkan ponsel, hal pertama yang Kento tanyakan malah itu.

Yu menaikkan alis kemudian cekikikan. “Pakai kok!” Ia membuka handuk. “Tapi ketutupan kaos, makanya aku lilit handuk biar panjangan,” jelasnya biar tidak ada salah paham.

'Sempaknya ketat ya....' batin Kento.

“Gimana?” tanya Yu duduk di kasur tanpa ada keinginan mengenakan celana pendek atau apa. Pahanya bergesekkan dengan celana Kento.

“Kamu tes nanti saya kasih tahu hasil saya,” kata Kento mengalihkan pandangan dari Yu sembari memberi ponsel Yu ke sang Pemilik.

“Hmm...” Yu menerima ponsel tanpa curiga. Pemuda berkulit coklat itu langsung memasukkan data diri di situs sambil menyandarkan punggung ke lengan Kento. Kento mengeluh beratnya Yu, tapi Yu abai. “Oh! Tebak Kento aku dapet apa?!”

Kento menghela napas. “Saya dukun, tapi saya bukan cenayang.”

“Katanya jodohku Cancer berambut pirang. Enggak ada spesifikasi jenis kelamin, tapi hei bukannya itu kamu, Ken? Menarik sekali,” cerocos Yu mendapat sumpalan permen dari saku celana Kento.

“Katanya kamu enggak percaya beginian?” protes Kento akan plin-plan Yu Haibara.

“Eh? Kento gak mau berjodoh denganku? Apa aku kepribadianku kurang bagus sebagai pasangan?” Haibara sedikit sedih ketika berkata-kata, tapi permen dari Kento tetap ia kulum. “Atau karena aku jele–”

Tangan Kento menangkup pipi Yu. Kedua netra malam Yu dia tatap dalam. “Berisik,” Kento menyesap kedua belah bibir lalu merebut permen dari mulut Yu. “Baik permen ini maupun kamu bagi saya keduanya manis.”

Tamat.


published with write.as