Work Text:
“Jadi hari ini aku bakal nyeritain gimana aku pertama kali ketemu kak pacar eh udah kak suami sekarang.” Seluruh tamu undangan tertawa mendengar ucapan Hoseok yang tengah tertawa kecil di depan panggung. Tepat di sebelahnya berdiri Yoongi yang tengah menahan malu mendengar ucapan Hoseok barusan. Padahal mantan pacarnya –karena sekarang sudah menjadi suami berarti otomatis mantan pacar dong– bekerja sebagai ilmuwan, tapi kenapa rasa stand up comedy begini?
“Aku pertama kali liat kak Yoongi di pameran lukis pusat kota. Waktu itu aku masih pakai baju SMA dan menurutku kak Yoongi hari itu keren banget. Pake celemek lukisnya yang ada bekas cat dimana-mana sambil pakai kaos kuning. Kayak liat taman bunga.” Ucap Hoseok lantang dengan pandangan yang berkelana ke setiap sudut ruangan hanya untuk meyakinkan para penonton bahwa yang ia ucapkan adalah sebuah fakta. Senyumnya jelas tercetak di bibir berbentuk hati itu sama seperti hari-hari dimana ia membicarakan Min Yoongi pada semua orang yang ia kenal. Ia tersenyum lebar jika itu perihal Min Yoongi.
“Habis itu aku mulai daftar di kursus melukisnya Kak Yoongi. Trus hehe ngerecokin kak Yoongi di galeri lukis hampir tiap hari.” Yoongi tersenyum ketika mendengar ucapan Hoseok yang 100% benar. Kembali ke masa lalu dimana laki-laki di sebelahnya ini selalu mencari perhatian di galeri lukis miliknya hampir tiap hari. Yoongi tidak pernah berpikir bahwa anak SMA yang ia latih melukis kala itu akan berdiri bersama dengannya di depan altar untuk menjadi pasangan hidupnya. Hidup itu lucu.
“Kalau diinget lagi, dulu aku pdkt ke kak Yoongi khas anak SMA gitu. Deketin gak tau malu, buru-buru banget, trus ya kalau diinget-inget sedikit cringe si tapi mah namanya juga cinta kan ya, first love juga. Jadi mari menormalkan Hoseok masa muda!” Seisi ruangan kembali tertawa mendengar Hoseok yang tengah menahan malu dengan wajah total merah. Keadaan Yoongi tidak jauh berbeda, ia merasa senang karena Hoseok yang sangat lucu di panggung mereka hari ini dan juga senang karena fakta bahwa ia adalah first love seorang Jung Hoseok.
“PDKT-ku waktu itu gak berjalan mulus pokoknya. Kak Yoongi suka marah-marah kalau aku mulai ngeluarin jurus PDKT khas anak SMA eh lama-lama luluh juga. Gila si, pesona seorang Jung Hoseok.” Jika yang Hoseok maksud pesona adalah lawakan garing miliknya, maka Yoongi akan menyetujui hal itu.
“Trus ajakanku pacaran diterima sama kak Yoongi habis pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Kalian gak bisa bayangin deh pokoknya seseneng apa aku dulu pas kak Yoongi mau jadi pacarku. Bahkan sampe sekarang masih kerasa senengnya. Rasanya lebih seneng daripada proposal penelitianku diterima.” Hoseok menatap Yoongi dengan senyum lebar miliknya yang hanya dibalas senyum tipis milik Yoongi. Ya, Yoongi sangat paham betapa Hoseok menyukainya sedari dulu. Laki-laki itu yang pertama jatuh, dan Yoongi bersyukur tentang itu.
“Pacaran juga gak selancar atau semulus itu. Gak banyak berantemnya si sebenernya, paling gegara cat kuning yang aku habisin di galeri lukis aja. Itu aja udah diajak putus, jahat banget gak si?” Yoongi langsung tertawa keras ketika mengingat ia pernah mutusin Hoseok perkara cat kuning di galeri lukisnya. Ia tertawa keras hingga badannya sedikit terhuyung ke belakang dan langsung ditangkap oleh Hoseok.
“Caelah Kak Yoongi, baru juga nikah udah pengen kayak drama-drama india aja.” Ujar Hoseok yang disambut tawa seisi ruangan dan pukulan malu dari Yoongi. Hoseok apaan si.
“Bercanda kak, aku lanjut cerita lagi ya?” Hoseok membantu Yoongi berdiri dengan benar sebelum kembali fokus pada ceritanya, meninggalkan Yoongi yang masih sedikit jengkel perihal ucapan Hoseok barusan.
“Tapi, akhirnya aku sama kak Yoongi sampe di titik ini. Makasih?” Hoseok menatap Yoongi dengan senyum manis. Tangan hangat milik Hoseok meraih tangan Yoongi dalam genggamannya dan tersenyum lebih lebar dari yang pernah Yoongi liat. Yoongi jelas paham dan mengerti bagaimana senangnya Hoseok karena hari ini akhirnya tiba, hari yang sama-sama mereka tunggu.
“Terima kasih kembali.” Jawab Yoongi singkat yang membuat seisi ruangan sama-sama mengulum senyum melihat pasangan yang berbahagia ini tengah berbagi rasa di atas panggung.
“Karena biasanya di pernikahan tuh, bakal ada moment pasangan nari bareng tapi karena di sini kak Yoongi gak mau nari bareng aku, jadi aku bakal nyanyi 1 lagu yang menurutku udah paling tepat buat gambarin hubungan kami.” Riuh dari seluruh tamu undangan langsung memenuhi ruangan kala mendengar Hoseok yang akan bernyanyi khusus untuk seorang Min Yoongi.
“Kamu gak bilang mau nyanyi?” Bisik Yoongi pada Hoseok yang sedang mempersiapkan diri. Hoseok hanya terkekeh mendengar ucapan Yoongi sebelum ikut mendekat dan membisikan kata spesial pada Yoongi yang dilanjutkan dengan kekehan tidak jelas. Yoongi total tidak paham kenapa dia bisa jatuh hati pada laki-laki serandom Jung Hoseok. Spesial spesial, dikira martabak.
“Judul lagunya can’t help falling in love, soalnya cintaku dah mentok buat kak Yoongi.” Seisi ruangan kembali tertawa mendengar omongan konyol dari Hoseok pun Yoongi yang sibuk menahan malu dan rasa senangnya. Gak tau, kalau bareng Hoseok rasanya semua bercampur aduk.
Yoongi mendudukkan diri di salah satu kursi yang ada di pinggiran panggung, ia butuh tempat yang tenang untuk memperhatikan Hoseok yang akan menyanyi karena suaminya itu sangat tampan ketika bernyanyi.
“Aku mulai ya, tolong direkam, sekali seumur hidup doang ni seorang Jung Hoseok nyanyi.” Hoseok menarik sebuah kursi lain yang disodorkan oleh teman-temannya dan memposisikannya tepat di hadapan Yoongi yang tengah mendudukkan diri. Jelas Yoongi panik, ia tidak berpikir Hoseok akan bernyanyi berhadap-hadapan dengannya seperti sekarang. Hoseok pasti hilang akal!
“Hoseok kamu ngapain si!” Bisik Yoongi yang benar-benar semerah tomat ketika seisi ruangan menyoraki mereka berdua. Iya, ini hari pernikahan mereka dan sudah sepantasnya seluruh atensi hanya untuk mereka berdua tapi tidak seperti ini! Yoongi malu!
“Kenapa? Aku cuma mau nyanyi aja kok, Kak.”
“Ya tapi bisa sambil berdiri aja di tengah panggung gak usah hadap-hadapan gini, malu tau gak?”
“Tapi aku mau nyanyi buat Kak Yoongi, bukan buat tamu undangan. Boleh ya?” Duh, kalau kata-kata Hoseok udah kayak gini Yoongi mana bisa bilang enggak. Yoongi hanya mengangguk dan membiarkan Hoseok bertindak sesuka hati sama seperti hari-hari lalu. Toh Hoseok tidak pernah melewati batas.
“Makasih kak Yoongi.” Alunan musik mulai mengalun lembut menyapa gendang telinga para tamu undangan pun Hoseok dan Yoongi yang tengah sibuk saling menatap satu sama lain. Yoongi dengan tatapan pasrah miliknya dan Hoseok dengan senyuman lebar khas miliknya.
Yoongi baru sadar jika Hoseok benar-benar tampan dengan setelan hitam yang ia pilihkan tempo hari lalu. Sangat cocok dengan tubuh tegas Hoseok yang sedikit lebih besar darinya. Tanpa sadar, Yoongi menyusuri lengan Hoseok untuk mengamati betapa waktu berjalan dengan cepat. Hoseok dulu tidak sebesar sekarang, bahkan masih mengenakan seragam SMA yang Yoongi akui sangat lucu itu. Matanya beralih pada wajah Hoseok yang tersenyum lembut ke arahnya, tatapan paling teduh yang selalu Yoongi cari di hari-hari buruk miliknya. Yoongi baru sadar wajah Hoseok semakin tegas dibanding hari pertama mereka bertemu. Sangat tampan.
“Wise men say only fools rush in, but I can't help falling in love with you~” Hoseok ingat hari dimana ia bertemu Yoongi untuk pertama kalinya. Hal yang tidak ia ceritakan adalah fakta bahwa ia langsung berlari pada Yoongi untuk mengajaknya berkenalan dan menyebutnya sebagai calon kak pacar di hari pertama mereka berkenalan. Jung Hoseok yang terburu-buru untuk segala hal yang berkaitan dengan Min Yoongi tanpa ada kata ragu. Hoseok tau bahwa terburu-buru adalah hal yang kurang baik untuk dilakukan, tapi demi apapun ia tidak pernah menyesal untuk berlari terburu-buru pada Yoongi hari itu.
“Shall I stay? Would it be a sin? If I can't help falling in love with you~” Yoongi ingat hari dimana ia ragu untuk memilih jatuh hati pada Hoseok ataupun mengiyakan laki-laki di hadapannya untuk memberikan sebuah kesempatan. Ia bersyukur hari itu ia membiarkan dirinya jatuh untuk Hoseok, hingga detik ini. Karena apapun itu, tidak ada yang perlu disesali. Yoongi hanya menemukan kata bahagia.
“Like a river flows surely to the sea. Darling, so it goes, some things are meant to be.”
“So take my hand– ” Hoseok meraih tangan Yoongi untuk ia genggam dan menempatkannya di atas pangkuan.
“Take my whole life too. For I can't help falling in love with you” dan itu kali pertama Yoongi menangis perkara kata paling konyol yang ada di muka bumi ini, cinta. Tapi nyatanya, ia sangat mencintai laki-laki di hadapannya. Teramat sangat.
“Kata orang, buru-buru itu gak baik. Tapi kalau buru-buruku bakal bawa aku ke Kak Yoongi kayak sekarang ini, di kehidupan selanjutnya juga aku bakal buru-buru lari ke Kak Yoongi.”
♫ ♫ ♫ ♫
“Aku aja deh yang nyetir, kakak kan habis nangis.”
“Haha, lucu banget Jung Hoseok.” Hoseok tertawa keras mendengar respon Yoongi yang langsung melangkah meninggalkannya jauh di belakang. Memang menggoda Yoongi akan selalu menjadi hal terbaik untuk dilakukan.
“Lagian kenapa si pake acara nangis, lagu biasa doang.”
“Lagunya biasa. Orangnya spesial, bodoh.” Gerutu Yoongi dalam hati yang langsung mendudukkan dirinya di kursi pengemudi. Ia tidak bodoh untuk mengatakan itu secara gamblang pada Hoseok saat ini. Yang ada ia bakal menjadi bahan tertawaan Hoseok lebih lama lagi.
“Berisik deh, cepet masuk.”
“Ayolah kak, aku aja yang nyetir ya?”
“Gak aman, mending aku aja yang nyetir.”
“Tuh kan! Kak Yoongi udah janji lho gak memperlakukan aku kayak anak SMA lagi! Ingkar janji nih!” Hoseok buru-buru mengeluarkan SIM yang ia miliki dari dalam dompet dan mensejajarkannya tepat di hadapan wajah Yoongi.
“Nih, aku udah berhasil dapet SIM. Pak polisi aja ngakuin aku bisa naik mobil, masa kak Yoongi enggak?” Yoongi hanya mengabaikan Hoseok dan mulai menyalakan mesin, kembali menyuruh Hoseok untuk duduk saja di kursi penumpang.
“Kak suami, biar aku yang nyetir ya? Sekali aja?” Yoongi langsung menatap horor Hoseok sebelum memukul bahu yang lebih muda. Panggilannya aneh banget.
“Gak usah aneh-aneh deh, kak pacar udah cukup aneh.”
“Ya udah. Yoongi, boleh aku nyetirin kamu?” Yoongi hanya menatap kaget Hoseok yang tengah terkekeh pelan di hadapannya. Ini kali pertama Hoseok memanggilnya tanpa sebutan kak dan Yoongi menyukainya.
“Panggil Yoongi terus, jangan pake kak.”
“Hah?”
“Aku suka dipanggil Yoongi aja.”
“Gak mau, aku sukanya manggil pake kak.” Hoseok memaksakan dirinya duduk berhimpitan dengan Yoongi di kursi pengemudi sebelum mematikan mesin mobil. Laki-laki yang lebih muda itu mulai menyenderkan kepalanya pada bahu lebar milik Yoongi sebelum memainkan ujung kaos panjang yang tengah ia kenakan.
“Sekali ini aja please? Biarin aku yang nyetirin Kak Yoongi? Percaya sama aku sekali ini aja, please?” Rasa bersalah mulai menelisip dalam hari Yoongi ketika mendengar ucapan Hoseok. Ia bukannya tidak percaya, tapi... entahlah.
“Aku bukannya gak percaya sama ka–
“Berarti aku boleh nyetir?”
“Jung–
“Asiiik, kak Yoongi baik banget.” Yoongi menghela nafasnya panjang ketika Hoseok memeluk tubuhnya heboh. Rasanya jadi pacar atau suami gak ada bedanya.
“Kamu baru pulang dari laboratorium itu 2 jam sebelum pernikahan kita. Kamu pasti capek, jadi biar aku aja yang nyetir. Kamu tiduran aja di belakang ya?”
“Gak mau, aku mau nyetirin Kak Yoongi.”
“Kamu kenapa si keras kepala banget?”
“Sama kayak kakak peduli sama aku, aku juga peduli sama kakak. Biarin aku yang nyetir ya?” Yoongi kembali menghela nafas mendengar ucapan Hoseok. Hari ini ia sudah kalah 2 kali dari Hoseok, menyebalkan.
“Minggir.”
“Eh? Beneran boleh nyetirin kak Yoongi?”
“Kalau kamu gak minggir dalam hitungan k– ”
“Ayo ayo!” Dengan bersemangat Hoseok turun dan berlari untuk membukakan pintu penumpang dan membuat Yoongi hanya menggelengkan kepalanya. Gemas.
“Makasih udah percaya sama aku, Kak.” Yoongi hanya menganggukkan kepalanya asal ketika mendudukkan diri di kursi penumpang, tanda bahwa ia mengiyakan segala perkataan Hoseok.
Hoseok melajukan mobil mereka meninggalkan gedung pernikahan. Laki-laki itu tidak berhenti tersenyum dan bersenandung selama menyetir yang membuat Yoongi terus memandanginya dengan senyum. Kalau dipikir-pikir, Yoongi tidak pernah menemukan Hoseok tidak tersenyum ketika mereka bersama. Apa eksistensinya begitu berharga untuk Hoseok?
“Kakak tadi kenapa nangis si?” Yoongi hanya mengangkat bahunya tak acuh untuk menjawab pertanyaan Hoseok. Kenapa Hoseok begitu clueless?
“Apa gara-gara suaraku jelek?” Yoongi tertawa kecil mendengar perkataan Hoseok. Tidak mungkin suara Hoseok jelek. Bahkan laki-lakinya ini sempat jadi vokalis di band universitasnya dulu dan digandrungi mahasiswa sampai mahasiswi setiap harinya yang berakhir dengan Yoongi merasakan rasa konyol bernama cemburu. Lucu juga, kenapa dulu Yoongi bisa cemburu-cemburu gak jelas gitu padahal laki-laki ini jelas-jelas bucin akut untuk dirinya.
“Bukan itu. Ngerasa emosional aja mungkin? Gak tau kenapa deh. Lagian kenapa kamu nanyain itu terus si?”
“Aku baru pertama liat kak Yoongi nangis. Jadi aku ngerasa bingung aja. Aku takutnya kakak gak suka sama nyanyianku gitu. Aku khawatir.”
“Aku suka kok, makasih.” Hoseok tersenyum bangga di tengah kegiatannya menyetir mobil. Kak Yoongi suka.
“Tau gak sih kak kenapa air mata tuh warnanya bening?”
“Gak usah mulai deh Hoseok.”
“Soalnya kalau warna hijau namanya bakal air matcha HAHAHAHA” Yoongi memutar bola matanya malas mendengar lawakan bapak-bapak milik Hoseok. Satu yang tidak berubah adalah fakta kalau laki-lakinya masih suka ngejokes gak jelas.
“Terserah kamu.”
“Ketawa dong kak~” Yoongi hanya menanggapinya dengan tawa hampa yang makin membuat Hoseok tertawa keras. Dasar aneh.
“Kakak tidur aja, istirahat. Nanti kalau udah sampe, aku bangunin ya.”
“Kamu kenapa si?”
“Ha? Aku gak kenapa-kenapa tuh.”
“Kamu jadi sweet banget, nanti diabetes lho dek.” Hoseok bergidik ngeri ketika mendengar omongan Yoongi barusan. Apa nih? Hoseok salah apa? Perasaan tadi belokan kirinya lancar-lancar aja kok.
“Aku nyetirnya lancar lho, kak. Kenapa tiba-tiba dipanggil dek?”
“Emang gak boleh aku manggil dek? Kamu aja manggil aku kak lho.”
“Ih tapi kan kakak biasanya manggil dek kalau aku buat salah.”
“Ya itu kan dulu pas masa pacaran.”
“Emang sekarang apa?” Yoongi hanya tersenyum lembut sebelum mendekatkan dirinya pada Hoseok yang tengah fokus pada jalanan.
“Suamiku~”
“HAAAAA KAK YOONGI DIEM DEH! MENDING TIDUR SANA!” Yoongi tertawa puas melihat Hoseok yang mukanya semerah tomat.
“Sinting, untung aku nyetirnya masih stabil!”
“Makanya kan aku udah bilang, mending aku aja yang nyetir.”
“Lebih mending kalau kak Yoongi tidur aja, deh. Ku jamin kita gak bakal kecelakaan kok, aku masih mau honeymoon.” Yoongi hanya tertawa mendengar omongan tidak jelas Hoseok. Terserah ilmuwan kecilnya ini mau apa.
“Hati-hati ya, kamu masih punya banyak hutang cat kuning ke aku.”
“Demi Allah ya Kak, udah suami juga masih ditagih ih!”
“Hahaha aku tidur dulu ya~”
“Mimpi Hoseok, kak Yoongi.”
♫ ♫ ♫ ♫
Yoongi terbangun dan merasa bingung ketika menyadari bahwa mobil mereka sudah terparkir dengan manis di hadapan sebuah rumah. Hoseok tidak ada di sebelahnya. Laki-laki yang lebih muda darinya itu malah duduk di kursi yang terletak di pelataran rumah asing di hadapannya. Oh, mungkin Hoseok perlu mengambil beberapa barang terkait penelitian di rumah rekan kerjanya. Yoongi melangkahkan kaki keluar dari mobil untuk mendekat pada Hoseok yang terlihat sedikit kaget melihat eksistensi dirinya.
Rumah ini tampak sangat menarik bagi Yoongi. Sangat tenang dan seperti selera Yoongi. Mungkin ia dan Hoseok perlu merencanakan membeli rumah yang seperti ini, mungkin yang dekat dengan tempat kerja Hoseok supaya laki-lakinya itu tidak lupa pulang ke rumah.
“Kita mampir ngapain? Ini rumah rekanmu ya? Keren banget rumahnya, asri gitu.” Bukannya menerima jawaban, Yoongi hanya mendapati Hoseok yang sibuk memandangi wajahnya.
“Hei? Jung Hoseok?”
“Kakak suka rumahnya?”
“Suka. Rumahnya bagus.” Yoongi tersenyum lembut sebelum berganti dengan tatapan terkejut ketika Hoseok menyerahkan kunci ke dalam tangannya. Hoseok berdiri gugup di hadapannya sama seperti saat laki-laki itu melamarnya.
“Ini kunci apa?”
“Kak Yoongi, dulu apa-apa selalu kakak yang beliin. Kak Yoongi selalu jadi yang ngurusin aku. Aku cuma pernah sekali traktir kak Yoongi di McD pas kakak ngadain pameran. Sekarang, kakak udah bisa percaya sama aku. Aku bukan anak SMA lagi, udah jadi suami kakak. Keren kan? Bersedia gak tinggal di rumah ini bareng aku sampai tua nanti?” Wow. Ini baru hari pertama Yoongi jadi suami Hoseok tapi kenapa semua udah semanis ini? Kalau hidup sampai tua bareng Hoseok, apakah Yoongi bakal kena diabetes?
“Kamu kebanyakan nonton sinetron tau gak si?”
“Kok jadi sinetron! Kan aku nyoba romantis-romantis.”
“Gak usah sok-sokan romantis. Langsung bilang aja udah beli rumah, kalau kayak gini aku dari dulu gak usah susah-susah nabung buat beli rumah sama kamu.” Hoseok memutar bola matanya malas. Emang Yoongi mah gak asik kalau diajak romantis gini, pasti gak bisa.
Mengabaikan rasa jengkelnya karena Yoongi yang merusak suasana, Hoseok memeluk pinggang Yoongi sebelum menenggelamkan kepalanya di sela-sela leher Yoongi. Menghirupnya dalam-dalam karena ia sangat menyukai aroma Yoongi.
“Tapi mau kan tinggal di sini? Deket dari tempat kerjaku sama galeri kakak kok.”
“Mau. Kita berarti kapan pindah-pindah barangnya?”
“Aku udah sewa jasa kok buat pindahan, jadi kita berdua nunggu di rumah aja.”
“Ih buang-buang duit banget, padahal kan kita bis–”
“Aku mau ngabisin waktu sama Kak Yoongi, masa cuti 1 minggu malah ngurusin pindahan aja?” Yoongi tertawa kecil sebelum menganggukkan kepalanya tak acuh.
Yang Yoongi rasakan setelahnya adalah Hoseok yang memandu dirinya mengelilingi rumah mereka. Ya, rumah mereka. Rumah ini tidak terlalu besar tapi lebih dari cukup untuk mereka berdua. Didesain sesuai kemauan Yoongi yang pernah Yoongi racaukan pada Hoseok ketika mereka masih muda.
“Nah yang ini, bisa kakak pakai buat tempat kakak melukis. Ruang kerja kakak mungkin ya?” Perfect. Yoongi hanya bisa mengulum senyum dan memuji suaminya dalam hati. Ia masih tidak percaya laki-laki konyol yang ia pacari dulu menjadi perfect husband seperti saat ini.
“Makasih.”
“Sama-sama kak!” Hoseok mengangguk bangga sebelum menarik tangan Yoongi –lagi– menuju ruang tengah dan mendudukkan Yoongi di salah satu sofa yang ada. Rumah ini tidak sepenuhnya kosong seperti yang Yoongi pikirkan, sudah ada beberapa furniture yang berdiri rapih di tempatnya masing-masing. Yoongi ingin tahu bagaimana Hoseok menyiapkan ini semua ketika laki-laki itu sibuk di laboratorium dan bahkan tidak sempat membantu Yoongi mengurus printilan pernikahan mereka.
“Kapan nyiapin ini semua?”
“Nyiapin apa?” Hoseok bergerak duduk di lantai dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Yoongi. Sebuah kebiasaan kecil ketika Hoseok mulai merasa capek dan butuh istirahat.
“Rumah.”
“Hehehe aku gak mau bohong tapi aku gak nyiapin semuanya sendirian. Dibantu Jungkook sama Jimin. Dikerjainnya juga jauh sebelum kita nikah. Pas deket-deket hari pernikahan, Jungkook sama Jimin yang mulai nata-nata gitu.”
“Furniturenya kamu pilih sendiri?”
“Iya, aku pilih sendiri. Aku inget dulu kakak pernah cerita masalah rumah, jadi aku milih beberapa yang sekiranya mirip sama cerita kakak. Tapi sisanya sesuai seleraku. Kalau kakak gak suka, kita bisa ganti kok!”
“Gak perlu, aku suka semuanya. Suka kamu juga.” Hoseok mulai senyum-senyum tidak jelas mendengar omongan Yoongi barusan. Tangannya bergerak menyampirkan rambut miliknya ke belakang telinga walaupun sebenarnya rambut Hoseok tidak sepanjang itu untuk disampirkan. Yoongi terkekeh tidak jelas sebelum mengacak rambut Hoseok berantakan. Gemas.
“Aku– ”
“Ya kak?”
“Aku mau dengerin lagu yang tadi kamu nyanyiin.”
“Oh! Sebentar, tadi kayaknya Jimin ngirimin aku videonya deh. Bentar aku scroll dulu.”
“Lewat spotify aja, suaramu jelek.” Hoseok menatap tidak percaya pada Yoongi yang tengah terkekeh tidak jelas saat ini. Dengan wajah penuh dramanya, ia memasang wajah tersakiti sembari memegang dadanya seakan Yoongi baru menusuk pisau di sana.
“Aku sakit hati, kamu tega Roma! Bisa-bisanya kamu mengatakan hal seperti itu!” Yoongi memukul lengan Hoseok yang masih memainkan mini drama miliknya sembari tertawa kencang. Hoseok tukang drama.
“Udah buru mainin lagunya.”
“Untung aku sayang sama kakak.” Hoseok pura-pura mendengus kesal sebelum membuka layar ponsel miliknya dan melakukan sesuai kemauan Yoongi. Yoongi mengelus lembut rambut Hoseok yang masih setia duduk di lantai. Ia gemas, benar-benar gemas pada Hoseok.
Ketika lagu mulai mengalun lembut di antara keduanya, Hoseok kembali menumpukan dagunya pada kaki Yoongi sebelum menutup mata menikmati alunan musik yang ada pun Yoongi yang diam-diam menyanyikan lagu ini dalam hati.
“Habis ini tidur dulu ya bentar? Aku capek banget.” Yoongi hanya bergumam untuk menjawab pertanyaan Hoseok. Rekaan kejadian dalam hidupnya berputar dengan cepat di kepalanya di setiap alunan nada yang ada. Yoongi pikir semua lebih dari cukup. Yoongi tidak butuh hal lain kecuali Hoseok.
But I can't help falling in love with you
“Hoseok,”
“Ya?”
“Makasih.”
“Terima kasih kembali.”
♫ ♫ ♫ ♫
Hoseok mendudukkan dirinya tidak nyaman di kursi ruang tamu. Tatapannya tidak sekalipun lepas dari gawai yang ia genggam dari beberapa jam yang lalu. Ia sudah beberapa kali mengirim pesan pada Yoongi tapi tidak ada satupun jawaban yang diterima oleh Hoseok. Tidak ada yang penting dari pesannya memang, hanya racauan tidak jelas tentang Hoseok yang tengah merindukan Yoongi. Sekalipun mereka sudah menikah hampir 10 tahun, tapi kebiasaan Hoseok ketika merindukan Yoongi masih sama.
Dia sangat merindukan suaminya.
Ketika Hoseok akan kembali membuka room chatnya dengan Yoongi, ia mendengar suara mobil yang masuk ke dalam parkiran mobil mereka. Dengan tidak sabar dan senyum lebar, Hoseok segera berlari menuju pintu rumah untuk menyapa Yoongi.
“Kak Yoongi, aku kangen.” Yoongi hanya mengangguk mendengarkan ucapan Hoseok barusan. Meletakkan sembarang tas miliknya di atas sofa sebelum berjalan lebih dalam ke dapur mereka. Membuka kulkas dan menegak habis air minum yang selalu tersedia di dalamnya.
“Kangen banget sama kak Yoongi hehe. Kak Yoongi udah makan?” Yoongi hanya diam dan hal itu membuat Hoseok mulai berpikir jika ada sesuatu yang salah. Yoongi tidak pernah seperti ini.
“Hoseok.”
“Ya kak?”
“Kamu bisa diem gak?” Hoseok menutup rapat-rapat mulutnya ketika mendengar ucapan Yoongi barusan. Laki-laki itu tengah menatapnya kesal saat ini. Hoseok salah apa?
“Kamu sendiri yang bilang kalau kamu bukan anak SMA lagi. Kita juga udah nikah lama banget. Tapi kenapa masing spamming kayak gitu? Berisik banget. Aku juga bakal pulang ke rumah kok, gak usah spamming kayak gitu lagi. Ngeganggu. Aku udah cukup capek sama stress ngurusin galeri, bisa jangan ditambah-tambahin lagi gak?” Ah. Hoseok menganggukkan kepalanya paham.
“Dewasa dikit, Jung.”
“Aku minta maaf kak.” Yoongi hanya memalingkan wajahnya sebelum berjalan meninggalkan Hoseok sendirian di dapur. Hoseok seharusnya tau ia tidak suka diganggu seperti itu setelah lama hidup bersama, tapi tidak! Hoseok masih sama menjengkelkannya sekalipun Yoongi pernah berkeluh tentang ini.
Yoongi benar-benar engabaikan total keberadaan Hoseok hari itu, ia tidak ingin memperbaiki keadaan mereka sedikitpun. Ia terlalu lelah dan memikirkan Hoseok terlalu menghabiskan banyak tenaga.
♫ ♫ ♫ ♫
“Biar aku bantu!” Ini hari ketiga persiapan pameran Yoongi. Semua berjalan lancar kecuali Hoseok selalu berada di galeri untuk membantu mempersiapkan semuanya. Yoongi tidak tau apakah Hoseok libur, kabur, ataupun cuti dari pekerjaannya. Ia tidak peduli. Ia masih kesal perihal sikap Hoseok beberapa hari yang lalu.
Hoseok sudah beberapa kali mengajaknya berbicara tapi Yoongi tidak memiliki niatan untuk menyelesaikan semuanya. Ia– entahlah. Hanya merasa benar-benar kesal pada suaminya. Bahkan ketika di galeri, ketika jelas-jelas Hoseok mengajaknya berbicara panjang lebar ia hanya meninggalkan laki-laki itu begitu saja.
“Kak Yoongi, yang ini mau ditaruh mana?” Termasuk kali ini. Ketika Hoseok mendekat dengan box yang terlihat berat, Yoongi hanya menunjuk ke tempat dimana Hoseok harus meletakkan box itu tanpa sepatah katapun. Hoseok tidak mengeluh, ia hanya mengangguk antusias dan tersenyum lebar seperti biasanya.
Bahkan kala Yoongi dan beberapa mahasiswa yang ikut dalam project ini duduk bersama dan melakukan evaluasi, Hoseok tetap duduk tidak jauh dari Yoongi dengan senyum yang masih sama lebarnya dan mata yang memandang Yoongi penuh binar.
“Pak Hoseok dari tadi ngeliatin Pak Yoongi terus, bucin banget ya?” Salah satu mahasiswa mulai menggoda Hoseok dan Yoongi yang disambut tawa oleh mahasiswa lainnya. Yoongi tidak menanggapi sama sekali, lagi pula Hoseok yang akan menanggapinya sama seperti yang sudah-sudah.
“Hooo kalau gak bucin, mana bakal diterima jadi suaminya kak Yoongi.” Jawab Hoseok yang langsung mendapatkan berbagai macam cuitan dari para mahasiswa.
“Pak Hoseok kok manggilnya masih pakai kak si?”
“Anggap aja panggilan sayang, ya gak kak?” Bukannya membalas perkataan Hoseok, Yoongi lebih memilih membuka lembaran kertas yang ada di genggaman tangannya dan mulai mengintruksikan mahasiswa yang ada di sana untuk melakukan tugas selanjutnya.
Hoseok tidak keberatan, ia mengerti kalau Yoongi mungkin masih marah padnya. Tidak menunggu lama, Hoseok kembali berdiri dan kembali membantu persiapan pameran Yoongi
♫ ♫ ♫ ♫
Hari ini adalah hari terakhir persiapan pameran Yoongi dan Yoongi sudah meninggalkan rumah dari pagi. Bukan untuk mempersiapkan semuanya lebih awal, tapi ia ingin menghindar dari Hoseok. Ia tidak ingin berangkat bersama pria itu hari ini. Sama sekali tidak mau.
Maka dari itu di sinilah Yoongi berada. Di salah satu cafe yang terletak tepat di depan gedung pameran Yoongi. Segelas ice americano berada di mejanya yang terletak tepat menghadap ke jalan. Tangannya mulai mensketsa gedung di hadapannya untuk sekedar mengisi waktu. Beberapa tamu cafe terus bergantian keluar masuk bangunan kecil ini dengan berbagai macam obrolan mereka. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah sepasang suami suami yang baru saja memasuki cafe dan memilih pesanan mereka. Mereka tampak sama seperti dirinya dan Hoseok. Ya, sama persis bahkan ketika salah satunya memandang yang lain adalah tatapan yang sama yang Hoseok selalu berikan kepadanya.
Ia merindukan Hoseok.
Baru saja berpikir seperti itu, ponsel Yoongi berdering dan menunjukkan nama Hoseok di layarnya. Walau merindu, masih ada sisa jengkel dalam hatinya. Yoongi tidak menjawab telpon dari Hoseok dan malah mendengarkan lagu yang menjadi nada deringnya saat ini. Can’t help falling in love.
Ini adalah kali ketiga Yoongi mendengarkan lagu itu terputar yang berarti Hoseok sudah menelponnya sebanyak tiga kali. Rasa bersalah jelas terbesit dalam hatinya tapi ia juga perlu untuk memikirkan dirinya sendirikan?
Setelah dering ketiga berbunyi, Yoongi tidak menerima telpon lagi dari Hoseok. Mungkin laki-laki itu menyerah untuk menghubunginya. Yoongi enggan memikirkan itu, ia hanya membalik layar ponselnya dan melanjutkan sketsa miliknya.
Beberapa menit berlalu dan Yoongi terkejut ketika menangkap sosok Hoseok yang berlari menuju gedung pameran yang ia gunakan. Tangannya memegang rangkaian bunga yang cukup besar untuk menutup pandangan laki-laki itu. Saat Hoseok berdiri tepat di depan gedung, Yoongi bisa melihat dengan jelas bagaimana Hoseok tampak ragu. Laki-laki itu menggerakkan kakinya gusar.
Yoongi sedikit terkejut ketika Hoseok malah berjalan ke arah penjaga bangunan itu dan menitipkan bunga yang ia bawa kepada laki-laki itu sebelum berjalan pergi meninggalkan gedung. Seperti bukan Hoseok. Hoseok tidak pernah menitipkan barang untuknya kepada orang lain. Sesibuk apapun Hoseok, ia akan menyerahkan sendiri.
Bingung dengan yang terjadi, Yoongi menyudahi sketsa dan merapihkan seluruh barangnya dan berjalan menuju gedung pamerannya. Yoongi segera berjalan dan mengambil barang yang dititipkan Hoseok pada penjaga gedung.
Yoongi tersenyum manis. Buket tulip putih yang Hoseok berikan padanya benar-benar cantik. Tiba-tiba rasa bersalah semakin melingkupi hatinya. Mungkin Yoongi yang salah di sini. Dari awal ia paham bahwa Hoseok terbiasa spam pesan ketika merindukannya dan Hoseok sudah mencoba segala cara untuk mendapatkan maaf darinya.
Ia merasa– sangat berlebihan.
Pada akhirnya, Yoongi menitipkan pesan pada tim miliknya bahwa ia akan kembali nanti setelah makan siang. Ia ingin bertemu Hoseok saat ini. Baru saja Yoongi akan melajukan mobilnya menuju rumah, notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
Kak Yoongi, maaf kalau aku tadi ngehubungin terus-terusan. Semoga hari ini persiapannya lancar ya, semangat.
Tubuh Yoongi rasanya melemas. Bahkan Hoseok meminta maaf untuk menghubunginya. Min Yoongi, kamu benar-benar keterlaluan.
♫ ♫ ♫ ♫
Yoongi membuka pintu rumah mereka dan mendapati bahwa Hoseok duduk di kursi ruang tengah mereka. Sama sekali tidak menyadari Yoongi yang baru saja memasuki rumah. Kala Yoongi akan bergerak untuk mengejutkan Hoseok, ia terdiam ketika melihat Hoseok menonton video pernikahan mereka. Video yang masih sering Hoseok tonton walau waktu sudah lewat 10 tahun lamanya.
Dan ini adalah adegan dimana Hoseok menyanyikan lagu yang menjadi nada dering ponsel Yoongi. Dari sini, Yoongi bisa melihat bagaimana lembutnya tatapan Hoseok untuk dirinya bahkan hingga hari ini. Bahkan ketika ia mendiamkan laki-laki itu lebih dari 1 minggu, Hoseok masih menatapnya lembut dan memuja.
Ia–
“Kak Yoongi?” Hoseok buru-buru berdiri dari duduknya ketika menangkap pantulan Yoongi dari televisi yang tengah ia tonton. Ia segera berjalan untuk mendekati Yoongi yang masih berdiri di balik sofa. Tidak terlalu dekat, karena Hoseok masih ingat Yoongi marah padanya.
“Kok pulang cepet? Ada yang ketinggalan ya? Biar aku ambilin, di ruang melukis?”
“Hoseok..” Hoseok membulatkan matanya ketika mendengar ucapan Yoongi. Akhirnya Yoongi mau berbicara dengannya! Tanpa sadar, Hoseok segera memeluk Yoongi dengan senyum paling lebar miliknya. Mengucapkan terima kasih berkali-kali karena Yoongi sudah sudi bicara dengannya.
“Hoseok, aku minta maaf.” Hoseok melepaskan pelukan mereka sebelum menggelengkan kepalanya.
“Yang salah kan aku kak. Aku minta maaf ya, jangan marah lagi tolong.” Yoongi menganggukkan kepalanya. Ia mengusap lembut rambut
“Aku minta maaf karena marahin kamu malam itu.”
“Aku emang salah kok, jadi kakak gak usah minta maaf.”
“Aku waktu itu lagi capek banget tapi aku malah ngelampiasin ke kamu.”
“Aku gak keberatan, aku juga salah kok karena kekanak-kanakan.”
“Tapi aku diemin kamu seminggu.”
“Kakak boleh marah seberapa lama pun itu kalau emang kakak masih marah sama aku. Aku gak keberatan.”
“Hoseok tapi–”
“Aku gak masalah. Makasih udah maafin aku.” Yoongi melembut kala Hoseok mencium keningnya dengan penuh rasa. Ia tau laki-laki ini mencintainya dan Yoongi rasa ia terlalu egois untuk mendapatkan Hoseok yang begitu mengutamakannya. Ya, ia merasa jahat.
“Kak Yoongi mau dianter ke gedung lagi? Aku anterin boleh?” Semudah anggukan Yoongi, Hoseok mengantarkannya menuju gedung pameran dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Beberapa ucapan konyol tak jarang terlontar dari bibir Hoseok dan Yoongi menyukainya.
Untuk kali kesekian, Yoongi jatuh cinta pada laki-laki ini.
♫ ♫ ♫ ♫
Tahun ini pernikahan mereka akan menginjak angka 20 dan Yoongi rasa pernikahan mereka benar-benar sempurna. Mereka sama-sama membuat pernikahan mereka sesempurna mungkin untuk mereka jalani bersama. Waktu berjalan dan tidak ada yang merubah di antaranya. Hoseok dan Yoongi masih mencintai satu sama lain sama besarnya seperti sebelumnya. Tapi itu sebelum Yoongi pulang ke rumah dan mendapati Hoseok berdiri dalam diam di tengah dapur mereka.
“Hoseok?” Hoseok mengedipkan matanya bingung ketika mendengar panggilan Yoongi. Ia memiringkan kepalanya ketika menyadari bahwa ia berdiri tepat di tengah dapur. Sedikit bingung dengan kegiatan yang ia ingin lakukan sebelumnya.
“Oh iya, aku mau minum.” Hoseok tertawa kecil sebelum mengisi ulang gelas yang ia pegang. Yoongi mendekatinya dengan khawatir. Tangannya bergerak ke dahi Hoseok untuk memastikan bahwa suaminya tidak kelelahan bekerja dan berujung sakit. Tapi tidak, suhu badan Hoseok sangat normal.
“Aku gak demam kok.”
“Kamu berdiri lama banget tadi di sini? Kamu yakin gak kenapa-kenapa?”
“Aman kok, aku cuma sering space out akhir-akhir ini. Mungkin capek kerja?”
“Istirahat. Jangan kerja terus.”
“Gak bisa, proyek-ku lagi mau finalisasi. Nanti kalau udah selesai aku istirahat 1 minggu deh.”
“Gak gitu caranya istirahat! Isti–” Hoseok memeluk tubuh Yoongi dan menempatkan dagunya di bahu Yoongi sembari menggumamkan kata terima kasih. Yoongi tidak suka jika Hoseok seperti ini, memotong pembicaraannya dengan memeluk atau hal-hal lain. Dia ini khawatir!
“Hoseok, dengerin aku dulu.”
“Iya, aku tau kok kak Yoongi mau bilang apa. Udah hafal.”
“Ya terus kenapa gak dilakuin?”
“1 minggu lagi aku lakuin, janji.”
Tapi itu kali pertama Hoseok tidak menepati janjinya pada Yoongi. Waktu berjalan dan yang Yoongi temukan hanyalah Hoseok yang semakin parah setiap harinya. Ia sering melupakan beberapa hal bahkan untuk berbicarapun sering terjeda tanpa ada alasan yang jelas. Yoongi total khawatir, tapi kala ia mengajak suaminya itu untuk menemui dokter ia pasti mengatakan sebentar, masih ada yang harus aku urus. Kala Hoseok luang, yang Yoongi dapati hanya laki-laki itu ingin bermalas-malasan dengannya. Hoseok tidak pernah mendengarkannya perihal rumah sakit dan rasanya Yoongi benar-benar ingin murka pada laki-laki itu.
Lambat ia sadari, bahwa tempat yang Hoseok tidak sukai adalah rumah sakit. Yoongi ingat bahwa Hoseok pernah mengatakan bahwa setiap ia berkunjung ke gedung itu ia pasti akan mengucapkan selamat tinggal yang terakhir kali untuk orang yang ia sayang dan Hoseok tidak nyaman dengan semua itu. Tapi keadaan Hoseok tidak membaik setiap harinya, ia bahkan mulai melupakan beberapa orang yang sama-sama mereka kenal dan itu membuat Yoongi jelas khawatir.
Seribu satu bujukan Yoongi minta pada Hoseok sampai pada akhirnya mereka di dalam ruangan ini, ruangan dr. Kim. Yoongi tidak paham dengan apa yang dokter lakukan pada Hoseok hingga mereka cukup memakan waktu lama di rumah sakit. Ia pikir Hoseok hanya kelelahan bekerja, tapi kenapa kasus Hoseok tampak begitu serius?
“Alzheimer.” Ucap dokter itu final yang sama sekali tidak Yoongi pahami. Apa itu?
“Hoseok sakit alzheimer?” Tanya Yoongi memastikan sedangkan Hoseok yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum tipis.
“Iya, tuan M–”
“Alzheimer sembuhnya gimana dok? Ada obat khusus yang harus dibeli? Itu penyakit apa?” Yoongi kali ini kembali bingung ketika dokter membuka dan kembali menutup mulutnya seperti kehilangan kata. Hoseok segera menggenggam tangan Yoongi dan menepuk-nepuknya pelan.
“Aku gak bisa sembuh kak.” Dunia Yoongi runtuh begitu saja kala melihat Hoseok tersenyum sambil mengucapkan kata-kata itu. Selanjutnya, yang ia dengar dari dokter hanya lewat begitu saja.
Yoongi tidak pernah berpikir bahwa waktu yang mereka miliki itu terbatas.
♫ ♫ ♫ ♫
Hoseok membukakan pintu rumah untuk Yoongi yang hanya dibalas dengan gumaman terima kasih yang sangat pelan darinya. Keduanya hanya duduk di kursi ruang tengah dalam bisu mereka masing-masing dengan suara televisi yang menjadi pengisi sunyi malam ini.
“Kak, mau tidur?”
“Enggak, aku mau di sini dulu.”
“Kalau gitu, aku tidur duluan ya kak.” Hoseok mencium kening Yoongi lembut sebelum melangkahkan kakinya menuju kamar mereka sedangkan Yoongi masih setia dengan dirinya yang duduk di atas kursi.
Pikirannya melayang entah kemana. Ia tidak mengerti Hoseok sakit apa dan ia tidak tau harus apa. Tapi satu yang jelas-jelas ia bisa tangkap dari perkataan dokter Kim bahwa waktu mereka terbatas. Hoseok tidak akan hidup selama yang ia mimpikan setiap malamnya. Dokter bilan–
Yoongi menggelengkan kepalanya. Ia tidak tau, semuanya terasa tiba-tiba. Bahkan ia tidak tau harus berekspresi seperti apa saat ini. Dengan langkah tergesa ia berjalan menuju kamar mereka. Ia dan Hoseok harus bicara tentang ini.
“Hoseok kita perlu bi–” Yoongi berhenti ketika melihat Hoseok sudah terlelap di kasur mereka. Dengan langkah gontai ia mendudukkan dirinya di dekat Hoseok sebelum mengerutkan keningnya melihat Hoseok belum berganti pakaian sama sekali. Seperti bukan Hoseok.
Sampai mata Yoongi bisa menemukan jejak bekas air mata di pipi Hoseok. Laki-lakinya menangis dan hal itu membuat Yoongi merutuk dalam hatinya. Sudah sangat jelas seharusnya Hoseok yang paling bersedih dengan berita ini tapi Yoongi tidak menyadarinya lebih cepat.
Bodoh bodoh bodoh.
20 tahun hidup bersama dan Yoongi masih sama bodohnya jika itu perihal Hoseok.
Dengan rasa menyesal, Yoongi menidurkan dirinya di sisi Hoseok sebelum merengkuh tubuh suaminya dalam pelukan dan mengucapkan maaf dan love you berkali-kali. Hoseok mungkin tidak mendengarnya, tapi semesta perlu tau bahwa ia sangat mencintai laki-laki ini dan ia tidak mau Hoseok diambil darinya seperti ini.
Hari itu adalah hari yang akan Yoongi ingat sebagai hari yang paling ia benci.
♫ ♫ ♫ ♫
Yoongi terbangun karena cahaya matahari yang masuk dari tirai jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Ia menggerakkan badannya sedikit sebelum meraih sisi kasur lain tempat dimana Hoseok tertidur. Tidak ada. Yoongi dengan panik mendudukkan dirinya di kasur ketika tangannya tidak menyentuh satupun bagian tubuh Hoseok. Tidak ada, Hoseok tidak ada di kasurnya.
“Hoseok?” Tidak ada jawaban sama sekali. Yoongi buru-buru melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengecek keberadaan suaminya tapi nihil. Hoseok tidak ada di sana.
Tenang Yoongi, mungkin Hoseok tengah menonton tv? Tenang oke tenang. Yoongi mencoba menstabilkan emosinya dan berjalan menuju ruang tengah tapi nyatanya langkahnya terhenti melihat ratusan atau mungkin ribuan sticky notes menempel di dinding kamar mereka.
Sticky notes itu menempel dengan rapih dan sejajar dengan pandangan matanya. Dari tulisannya, Yoongi tau ini adalah tulisan Hoseok. Di setiap lembaran tertulis bahwa Yoongi adalah suaminya, betapa Hoseok mencintai Yoongi, dan hal-hal serupa. Seluruh sticky notes itu membentuk garis hingga ke luar kamar mereka. Apa ini?
Yoongi mengambil salah satunya dan berjalan keluar kamar mereka dan yang ia temukan hanya sticky notes dengan warna lain yang memenuhi dinding rumah mereka. Kedua tungkai kakinya melangkah menuju bunyi ribut di dapur sebelum menemukan Hoseok yang tengah sibuk dengan sesuatu di atas meja makan mereka.
“Hoseok?”
“Oh! Kak Yoongi! Lihat~” Hoseok menggeser tubuhnya sedikit untuk menunjukkan hasil karya yang baru saja dibuat Hoseok. Laki-laki itu mengukir ‘I love you, Min Yoongi’ pada sisi meja makan yang biasa Yoongi gunakan. Yoongi juga bisa melihat sisi meja makan mereka yang lain dengan beberapa notes kuning yang Yoongi temukan di sepanjang dinding kamar mereka. Isinya sama, tentang Hoseok yang mencintai Yoongi.
“Buat apa?”
“Aku takut kalau nanti aku makin parah dan mungkin mulai lupa banyak hal. Aku takut kalau salah satu yang aku lupa itu kak Yoongi. Jadi aku nulis ini semua supaya aku inget lagi, jadi kak Yoongi gak perlu sed–” Yoongi memeluk tubuh Hoseok erat-erat. Hoseok sialan. Yang harusnya dipikirkan Hoseok itu dirinya sendiri, bukan Yoongi.
Yoongi menangis sejadi-jadinya. Kenapa langit begitu jahat bahkan pada Hoseok yang begitu–
“Kita bakal baik-baik aja kan kak?” Yoongi menganggukkan kepalanya kuat-kuat. Mereka akan baik-baik saja apapun yang terjadi di antara keduanya.
“Kita bakal baik-baik aja kok, janji.” Hoseok tersenyum lembut sebelum membalas pelukan Yoongi dan mendudukkan dirinya di atas meja makan dan mulai membisikkan kata-kata manis untuk menghentikan tangisan Yoongi.
Hoseok paham mereka tidak akan baik-baik saja. Hoseok akan mulai melupakan banyak hal termasuk Yoongi, orang yang selalu menjadi favoritnya. Ia mungkin akan melakukan banyak hal yang bukan dirinya dan menyusahkan Yoongi. Hoseok juga mungkin tidak bisa membantu meringankan beban Yoongi di hari-hari terberatnya. Mungkin ia tidak akan menemukan kata yang tepat lagi untuk mengucapkan bagaimana berartinya seorang Min Yoongi bagi Jung Hoseok atau mungkin Hoseok akan melupakan bagaimana ia begitu mencintai laki-laki yang sudah menghabiskan lebih dari separuh hidup dengan dirinya ini.
Semua tidak akan baik-baik saja dan Yoongi masih bisa mengatakan mereka akan baik-baik saja.
“Wise men say only fools rush in, but I can't help falling in love with you~” Kening.
“Shall I stay? Would it be a sin?, if I can't help falling in love with you~” Pipi.
“Like a river flows surely to the sea. Darling, so it goes, some things are meant to be~” Hidung.
“Take my hand, take my whole life too, for I can't help falling in love with you~” dan terakhir Hoseok mencium bibir Yoongi dengan lembut sebelum tersenyum lebar dan menghapus sisa air mata di pipi Yoongi.
“Kalau aku pernah lupa kalau aku secinta ini sama kakak, dengerin lagu ini ya? Sayang kak Yoongi.” Yoongi menganggukkan kepalanya dalam diam. Ya, Hoseok akan mencintainya seumur hidup dan Hoseok tidak akan ingkar janji. Yoongi paham itu. Mungkin mereka tidak akan baik-baik saja di sisa perjalanan mereka tapi tidak masalah. Asalkan Hoseok masih di sisinya.
“Di kehidupan yang lain, aku mau ketemu Kak Yoongi lagi. Kalau boleh.”
“Kenapa jadi ngomongin after life gini si.”
“Gak papa, kepikiran aja.”
“Nanti di kehidupan yang lain, biar aku aja yang lari ke kamu.”
“Astaga, kehidupan yang lain kak Yoongi mau jadi yang agresif? Sexy.” Yoongi akhirnya tertawa mendengar racauan Hoseok dan hal itu jelas membuat Hoseok merasa lega. Air mata adalah hal yang paling tidak cocok untuk bersanding dengan Yoongi. Tangannya bergerak untuk menyentuh hidung mancung milik suaminya itu sebelum kembali mengucapkan i love you berkali-kali. Menggantikan waktu mereka yang akan direnggut paksa.
♫ ♫ ♫ ♫
Sudah 8 tahun berlalu dari pertama kali Yoongi dan Hoseok menemukan fakta bahwa Hoseok harus mengidap alzheimer di sisa hidupnya dan sepanjang itu pula Yoongi membantu Hoseok dalam setiap bagian hidupnya. Yoongi tidak akan mengatakan bahwa semua mudah karena nyatanya semua terlalu menyesakkan. Kala Yoongi ingin berkeluh, ia berhenti ketika melihat tatapan bingung Hoseok yang terasa sangat menyakitkan untuk dirinya.
Hoseok sudah tidak mengingat Yoongi lagi saat ini dan Yoongi sudah lama tidak mendengar Hoseok berkelakar tentang banyak hal. Semuanya terasa semakin sunyi dan Yoongi tidak menyukai itu. Ia kadang kehilangan Hoseok ketika ia lengah dan ia pasti menemukan laki-laki itu di depan gedung lama galeri miliknya. Galeri D yang dulu menjadi tempat mereka berbagi cerita. Satu-satunya yang Hoseok ingat dari ingatannya yang terus memudar hanya tempat itu.
Ada hari dimana Yoongi ingin menyerah tapi nyatanya ia ingat bagaimana Hoseok selalu mengusahakan semuanya untuk Yoongi dulu. Dan ia merasa menjadi pasangan paling buruk untuk laki-laki ini.
Semua semakin memburuk ketika beberapa bulan yang lalu Hoseok mulai harus tinggal di tempat yang paling Yoongi benci, rumah sakit. Mereka berbagi sisa waktu yang lain di bangunan putih ini. Tidak banyak yang mereka lakukan selain Yoongi yang memperhatikan Hoseok tertidur lelap atau bangun dengan tatapan bingung. Tidak apa-apa, selama ia masih bisa melihat mata yang paling teduh yang pernah ia temui.
Yoongi baru saja membuka matanya setelah mengambil beberapa waktu untuk beristirahat dan ketika ia mengecek suaminya itu ia menyadari bahwa Hoseok tengah mengamatinya. Mungkin bingung tentang Yoongi ini siapa sama seperti hari-hari yang lalu.
“Udah bangun? Haus? Tunggu sebentar, aku beli minuman dulu di luar. Tahan sebentar ya?” Ucap Yoongi dengan senyum lembutnya sebelum mengusap pergelangan tangan Hoseok. Tangannya meraih jaket yang ia sandarkan pada punggung kursi dan dompet pemberian Hoseok yang berada di atas meja. Menghitung lembaran uang di dalamnya hanya sekedar memastikan bahwa nominalnya cukup.
“Min Yoongi..” Seperti aliran listrik yang tiba-tiba menyengat tubuhnya, Yoongi tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia menatap Hoseok yang tengah tersenyum lembut ke arahnya.
“Maaf. Capek?” Hoseok mengingatnya dan hal itu membuat Yoongi bernafas lega dengan beberapa tetes air mata yang begitu saja mengalir di pipinya yang mulai meirus. Rasanya sangat-sangat bahagia. Hoseok tidak banyak mengeluarkan kata tapi Yoongi paham bahwa laki-lakinya itu khawatir. Kenapa Hoseok selalu menanyakan kondisinya? Apa dia sepenting itu?
“Enggak capek kok.”
“Tangan.” Yoongi kembali duduk di kursi yang persis di sebelah kasur Hoseok sebelum menggenggam tangan suaminya. Ibu jari Hoseok dengan lembut mengusap punggung tangan Yoongi dan membuatnya sedikit tertawa.
“Maaf..”
“Kenapa minta maaf? Kan gak salah apa-apa. Kamu juga pasti gak mau sakit kayak gini kan.”
“Maaf.”
“Berhenti minta maaf.” Yoongi mengecup lembut kening Hoseok yang membuat laki-laki itu tersenyum. Senyum yang sangat Yoongi rindukan setiap harinya.
Keduanya berbagi waktu dengan senyum dan sedikit cerita dari Yoongi. Yoongi dengan hati-hati menyurai rambut Hoseok yang tidak beraturan dan dibalas dengan ucapan terima kasih dari yang lebih muda. Rasanya nyaman, rasanya Yoongi ingin memohon pada Tuhan untuk membiarkannya terjebak pada momen ini.
“Nyanyi.” Yoongi sedikit memiringkan kepalanya, ia tidak banyak mengenal lagu-lagu yang sering didengar oleh Hoseok karena perbedaan selera musik mereka. Oh, atau mungkin Hoseok ingin ia menyanyikan lagu pernikahan mereka? Yoongi masih sering memainkan lagu yang Hoseok maksud. Lagu favoritnya setelah menjadi suami seorang Jung Hoseok.
“Kenapa tiba-tiba mau nyanyi?”
“Buat– kakak. Yoongi paham kala perasaan mengganggu menelisik dalam hatinya. Mungkin hari ini. Jadi ia hanya menganggukkan kepalanya mendengar permintaan Hoseok. Ia pikir masih banyak waktu tersisa untuk keduanya sekedar bercakap ringan seperti hari-hari lalu.
“Kalau gitu nyanyi bareng aja?”
“Ya.” Yoongi menumpukan dagunya pada genggaman tangan mereka berdua. Menatap wajah Hoseok yang masih sama tampannya ketika mereka berdua masih muda dulu.
“Wise men say only fools rush in, but i can’t help–” di tengah nyanyiannya yang terputus, Hoseok berhenti untuk mengambil nafas. Yoongi hanya bisa mengusap lembut pipi Hoseok seakan berkata bahwa mereka masih punya cukup waktu di dunia.
“Falling in love with Jung.” Lanjut Yoongi dengan sedikit tawa yang dibalas dengan tawa lain oleh Hoseok.
“Shall I stay~ Would it be a sin~ If i can’t help falling in love with you.”
“Like a river flows surely to the sea. Darling, so it goes, some things are meant to be.”
“Take my hand, take my whole life too. For i can’t help falling in love with you.” Hoseok tersenyum tipis kala mereka sama-sama menyelesaikan nyanyian mereka, membuat Yoongi sedikit mengerutkan keningnya.
“Kenapa?”
“Sayang–” Hoseok menghentikan omongannya sebelum menunjuk ke arah Yoongi dan rasanya luar biasa sesak. Jika waktu boleh mengizinkan keduanya untuk terus sama-sama jatuh.
“Cerita.”
“Cerita apa?”
“Bebas.
“Aku sayang sama kamu, sayang banget.” Hoseok tertawa pelan mendengar ucapan Yoongi yang tiba-tiba. Tangannya menyusur lemah surai Yoongi yang mulai memutih. Seingatnya surai ini berwarna hitam legam, terkadang berwarna. Hoseok tidak pernah berpikir bahwa ia bisa menua bersama pelukis favoritnya yang paling ia cintai ini.
“More..”
“Aku tau mau cerita apa. Kamu inget dulu pas selesai pameran? Pas kamu masih kuliah? Pas kamu bawain aku bubur, aku lagi cerita tapi kamu terus tidur?” Hoseok mencoba mengingat momen yang Yoongi maksud sebelum tersenyum cerah ketika mengingatnya.
“Inget.”
“Aku mau lanjutin ceritaku hari itu, boleh?”
“Boleh.”
“Kali ini janji jangan ketiduran ya?” Hoseok tertawa sebelum menyamankan kepalanya didekat genggaman tangan mereka. Pipinya ia gerakan untuk mengusap genggaman tangan mereka sebelum mengecup lembut punggung tangan Yoongi.
Hoseok menggelengkan kepalanya pelan dan hal itu adalah patah hati Yoongi paling besar selama hidupnya. Hoseok selalu menjadi kali pertama untuk Yoongi, dan ini adalah kali pertama Hoseok tidak bisa berjanji pada dirinya. Perasaan takut jelas menyelimuti hati Yoongi yang ia coba tepis dengan mengecup kening Hoseok dalam-dalam.
“Dulu kamu datang pakai syal biru hadiah dari aku. Kamu keliatan ganteng pakai syal itu, dan aku gak nyangka kalau bakal ngeliat kamu masih pakai syal itu pas kita udah jadi pasangan suami. Kamu ngerawat semua hadiah dari aku baik-baik.”
“Spesial.” Yoongi tersenyum mendengar ucapan Hoseok barusan. Ya, Hoseok selalu memperlakukannya sebagai yang paling spesial.
“Hari itu aku ngerasa bersalah karena aku malah nyuruh kamu beli bubur dan dateng pagi-pagi ke apartemenku. Padahal kamu capek habis organisasi sama nugas-nugas tapi kamu selalu dateng kalau aku minta. Hari itu juga pertama kamu nyium aku, di pipi. Rasanya seneng banget hari itu. Aku selalu ngerasa beruntung punya kamu. Kayak aku gak tau aku berbuat baik apa trus tiba-tiba dapet rejeki anak SMA lari ke aku ngajak kenalan pake modus mau daftar kursus lukis. Aku beruntung banget, makasih udah jadi keberuntunganku Jung.” Yoongi menahan isakannya kuat-kuat ketika Hoseok mulai terlelap mendengar ceritanya.
“A– aku kehabisan bahan cerita, Jung. Aku gak tau mau cerita apa lagi. Gantian mau gak?” Hoseok membisu dalam tidurnya yang juga membawa nafasnya pergi. Yoongi melihat sendiri bagaimana genggaman tangan mereka mulai mengendur. Bunyi alat-alat medis yang menempel di tubuh Hoseok menjadi satu-satunya yang bisa Yoongi dengar saat ini.
Yoongi hanya mengedipkan matanya perlahan dengan lelehan air mata yang bergerak mengikuti arah gravitasi bumi. Matanya menatap lekat wajah Hoseok yang damai dalam tidurnya. Yoongi mencium lembut tangan dan wajah Hoseok yang sudah berubah karena dimakan usia. Menciumnya untuk terakhir kali karena Hoseok perlu tau bahwa Yoongi mencintainya teramat sangat.
“Makasih buat semuanya, Hoseok. Tunggu aku ya.”
Tubuhnya ditarik perlahan menjauh dari Hoseok oleh para suster yang tiba-tiba memasuki ruangan sempit ini. Ia hanya memandang dari ujung ruangan ketika dokter dan suster mengitari tubuh Hoseok yang tidak lagi bergerak.
Yoongi ingat kalau Hoseok pernah berjanji untuk mencintainya seumur hidup dan hal itu selalu membuat hatinya senang bukan main. Tapi Yoongi lupa bertanya pada Hoseok, tentang seumur hidup yang mana? tentang seumur hidup siapa?
Karena Yoongi ingin memaki langit bahwa ia adalah satu-satunya yang tidak tau jika janji Hoseok adalah seumur hidup Hoseok bukan seumur hidup miliknya. Tapi bagaimanapun Yoongi akan memaki atau berdoa, tidak ada yang akan berubah.
Pada akhirnya, Hoseok benar-benar menepati janjinya sampai akhir. Bahwa laki-laki itu benar-benar mencintai Yoongi seumur hidup. Seumur hidup sebelum waktu berhenti untuk Hoseok beberapa menit yang lalu. Meninggalkan Yoongi yang membiarkan air mata mengaburkan pandangannya.
Mereka berdua sama-sama menepati janji mereka masing-masing. Untuk menjadi yang pertama dan yang terakhir untuk satu sama lain seperti kelakar mereka di depan altar. Hingga kematian menjadi pembatas mereka, hingga duka menjadi cinta yang tidak lagi punya tujuan.
♫ ♫ ♫ ♫
“Saya, Jung Hoseok, membawa Anda, Min Yoongi, untuk menjadi suami saya. Saya berjanji untuk mencintai dan menghormati Anda sejak hari ini, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin, sakit, dan sehat dalam kehidupan yang akan kita jalani bersama, selalu menempatkan Anda menjadi yang pertama dan terutama, sampai kematian memisahkan kita.”
“Saya, Min Yoongi, membawa kamu, Jung Hoseok, untuk menjadi suami saya. Saya berjanji untuk mencintai dan menghormati Kamu sejak hari ini, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin, sakit, dan sehat dalam kehidupan yang akan kita jalani bersama, selalu menemani kamu sampai akhir, sampai kematian yang memisahkan kita.”
♫ ♫ ♫ ♫
Hai, ilmuwan hebat kesayanganku, Jung Hoseok.
Baik di sana? Gak ngerasa bingung lagi ya? Aku seneng banget kalau kamu udah baik-baik aja sekarang. Aku juga bersyukur kamu yang pergi duluan. Coba bayangin deh, kalau aku yang pergi duluan. Kamu pasti hidupnya bakal berantakan banget, apa-apa gak bisa sendiri dan apa-apa butuh ‘Kak Yoongi’. Kamu pasti cuma diem aja bengong semisal aku yang pergi duluan, nangis berhari-hari, dan kegiatan lainnya yang kamu banget si tukang drama.
Aku juga bersyukur kamu gak perlu ngerasa kesepian kayak aku sekarang. Gak perlu ngerasain sakitnya kangen sama orang yang udah gak bisa kita temuin lagi. Aku seneng kamu bisa istirahat yang nyaman, gak perlu bangun trus ngerasa bingung lagi.
Aku kangen kamu, Jung. Hari ini aku nyelesaiin lukisan wajahmu. Iya, aku ngelukis lagi setelah lama gak ngelukis. Rasanya sekarang beda banget. Gak ada kamu yang bakal muji-muji lukisanku kayak dulu. Padahal kita udah nikah lebih dari 20 tahun gak si? Tapi responmu selalu sama setiap aku tunjukin hasil lukisanku yang terbaru.
Aku gak pernah sempet bilang ke kamu kalau lukisan favoritku itu lukisan wajahmu yang aku buat waktu kamu masih kuliah semester 3. Aku inget kamu dateng ke pameran seni pertamaku di hari kedua. Pakai pakaian yang semuanya hadiah dari aku walaupun gak cocok warnanya sama sekali. Kamu beliin aku makanan waktu itu, hasil dari kerja part timemu. Gaji pertama buat kak pacar katamu. Gemes banget.
Oh ya, tadi aku belum selesai cerita. Hari ini aku ngelukis wajahmu. Lucu banget aku masih inget detail wajahmu sampai sekarang, padahal kita udah gak ketemu 3 tahun. Aku juga masih inget harummu gimana. Kayaknya aku bener-bener kangen? Haha, rasanya lucu. Biasanya kamu yang bakal ngeluh kangen, tapi sekarang aku dah gak bisa denger keluhan kangenmu lagi.
Ini kamu, waktu kita pertama ketemu. Waktu kamu masih pakai baju SMA dan datengin pameran lukisanku. Kamu masih lebih pendek dari aku waktu itu. Kamu ganteng. Aku inget kamu waktu belajar di galeri lukisku dan kamu suka curi-curi pandang. Pernah juga ditarik pulang sama mama karena bukannya belajar untuk ujian akhir tapi malah ngabisin cat kuningku di galeri. Dasar konyol. Dek pacar konyol.
Aku bener-bener kangen kamu. Aku gak tau lagi mau ngobrol sama kamu kayak gimana. Biasanya aku cuma perlu dengerin kamu ngomong seharian tapi sekarang dah gak bisa. Kamu diem doang dan aku gak pandai cerita.
Hoseok, kamu baik-baik aja kan di sana? Nanti kalau udah waktunya, aku nyusul ya. Nanti juga di kehidupan selanjutnya, aku mau jadi kak pacarmu lagi, jadi kak suamimu lagi, mau jadi pasangan hidupmu lagi. Di kehidupan selanjutnya, kamu jadi stand up comedy aja ya jangan jadi ilmuwan. Lebih cocok stand up comedy.
Aku sayang kamu, Jung. Sayang banget. Aku selesaiin suratnya di sini ya? Nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi ya? Nanti kita ngobrol lebih panjang lagi.
Selamat istirahat, Jung.
Dari pelukis favoritmu, Min Yoongi.
Tepat ketika Yoongi meletakkan pulpen dan melipat rapi kertas suratnya, seorang laki-laki kecil masuk ke dalam ruang melukisnya.
“Kakek, nonton film hantu yuk? Mumpung papi lagi gak ada.” Namanya Kai, anak tetangga yang sudah Yoongi dan Hoseok anggap seperti cucu mereka sendiri. Yoongi jadi ingat betapa sayangnya Hoseok pada Kai dulu. Suka diam-diam membelikan cokelat dan permen untuk laki-laki kecil ini walau ia dan orang tua Kai sudah melarang. Dasar Hoseok.
“Boleh.” Angguk Yoongi sambil mengikuti langkah kaki Kai yang berjalan menuju ruang tengah rumah ini. Sudah 3 tahun berlalu dan rumah ini terasa sangat-sangat luas dan kosong sepeninggalan Hoseok. Hanya terisi penuh oleh kenangan manis milik mereka dan udara dingin karena yang hangatnya sama seperti matahari sudah lama meninggalkan rumah.
Sudah 3 tahun berlalu dan yang Yoongi bisa pikirkan hanya Hoseok.
“Kakek, boleh nonton yang ini gak?” Yoongi hanya mengagukkan kepalanya pada Kai yang menunjuk pada layar televisi yang tengah menayangkan film Conjuring 2 di sana. Film yang tidak pernah ia nikmati bersama Hoseok sepanjang hidup mereka. Hoseok terlalu penakut untuk film seperti ini pun si kesayangan Hoseok satu ini. Selama film terputar, Kai hanya terus menempel pada Yoongi dan sesekali menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Yoongi.
Di kala adegan demi adegan terus berputar, sebuah musik terdengar sebagai back sound dari film yang tengah mereka tonton. Lagu yang pernah Hoseok nyanyikan di hari pernikahan keduanya.
Wise men say only fools rush in
But I can't help falling in love with you
Shall I stay? Would it be a sin?
If I can't help falling in love with you
Like a river flows surely to the sea
Darling, so it goes, some things are meant to be
Take my hand, take my whole life too
For I can't help falling in love with you
Yoongi lupa jika di sebelahnya masih ada Kai, tapi yang ia tau sekarang adalah air mata terus mengalir untuk mengutarakan rasa yang tidak pernah Yoongi mampu ucapkan dalam frasa apapun. Tidak ada frasa yang bisa mewakilkan semuanya. Karena ia sangat merindukan Hoseoknya saat ini. Rasa hampa yang ia tutup-tutupi selama ini hanya membawanya pada rasa menyiksa yang memenuhi setiap relung hatinya. Dalam setiap isakannya, Yoongi hanya terus memutar momen ketika mereka masih bersama. Mungkin momen Hoseok mendekapnya untuk meredakan setiap isakannya, Momen yang tidak akan pernah kembali terulang berapa kalipun Yoongi terbangun dari tidurnya.
Gawat, Jung. Aku sesayang itu sama kamu sampai rasanya gak kuat lagi hidup di sini sendirian. Aku rindu kamu, Jung Hoseok. Sangat.
♫ ♫ ♫ ♫
Dan itulah akhir dari kisah mereka. Kala mereka selesai melukis dalam kanvas baru mereka, jatuh hati pada setiap warna yang mereka goreskan bersama, dan memenuhi setiap sudut dari kanvas menjadi tentang mereka.
♫ THE END ♫
