Work Text:
1. Shinonome Akito ➝ Shiraishi An: Hilangnya rasa percaya pada kemanusiaan
Sekarang sudah lewat jam pulang sekolah, lingkungan SMA Kamiyama terlihat mulai sepi siswa kecuali mereka yang punya kegiatan klub. Shinonome Akito yang baru saja selesai membantu klub sepak bola berdiri memandang langit abu-abu, menunggu hujan deras yang sama sekali tidak menunjukkan tanda untuk berhenti. Touya sudah pulang duluan dan teman-temannya tidak ada yang bisa meminjamkannya payung. Hari ini adalah hari sial Akito, begitu pikirnya dalam hati.
"Loh, Akito? Ga bawa payung?" Teman satu timnya, An, muncul tiba-tiba di sampingnya. Sepertinya dia juga baru selesai membantu klub olahraga.
"Kagak. Apa lo? Mau ngeledek gue?"
"Santai kali! Sewot amat!" An menepuk punggungnya keras, sakit, lalu menyodorkan payung birunya sambil tertawa santai tanpa rasa bersalah sudah menyiksa anak orang. "Nih, gue pinjemin payung! Gue baik, kan? Iya lah, emangnya elo."
"Terus lo gimana? Ga pake payung bareng aja? Gue juga mau mampir ke kafe bapak lo dulu."
Ini ajakan realistis, bukan modus. Akito meyakinkan dirinya sendiri dalam hati.
"Gausah, gue pulangnya sama Mizuki kok. Mau jalan dulu soalnya."
"Owh," ujarnya singkat. Tidak ada nada kecewa sama sekali, beneran. "Yaudah gue pinjem, besok gue balikin ke kelas lo."
"Sip. Daah, Akito~"
Sambil melambaikan tangannya, An berlari meninggalkan Akito (yang diam-diam menghela napas kecewa) bersama sebuah payung biru di tangan. Gapeka banget jadi cewek, heran, rutuknya jengkel. Yah, mungkin memang belum rezeki. Pasrah gagal mengambil kesempatan dalam kesempitan, Akito akhirnya memilih langsung pulang saja dengan payung yang dia dapat.
(Oalah, ternyata yang katanya tadi mau mampir ke mampir ke kafe bapaknya dulu emang mau modus doang.)
Perjalanan pulang terasa damai diiringi suara rintik hujan di permukaan payung, menemani Akito yang berjalan sendirian tanpa seseorang untuk berbagi payung. Sebentar, ada yang janggal. Entah kenapa hampir semua orang yang berjalan di dekatnya menutup mulut mereka seperti menahan tawa.
Firasat Akito memburuk.
"Mas, jangan sedih ya. Nilai bukan segalanya kok di dunia ini. Semangat, Mas!"
"Hah?"
Seorang pejalan kaki tiba-tiba menepuk bahunyanya dengan wajah penuh iba, lalu menunjuk ke arah payung yang dibawanya setelah melihat wajah bingung Akito. Dengan cepat Akito menurunkan payungnya tanpa peduli hujan yang masih lumayan deras.
Mata Akito berkedut.
Sebuah kalimat tertulis besar di salah satu sisi payung,
" NILAI ULANGANNYA HARI INI 3/100 ↓ TOLONG DIHIBUR :( "
Payung malang itu dengan naasnya terlempar ke tanah.
"Bisa-bisanya gue naksir titisan dakjal."
Memang budak cinta adalah ras terlemah dari yang terlemah. Setelah melempar berbagai macam sumpah serapah ke arah payung tak berdosa, Akito tetap membawa payung itu pulang.
"Kelakuan lo bikin emosi naik ke ubun-ubun, tapi lo nya lucu jadi gue maafin."
—Shinonome Akito, 16 tahun, mendadak berubah menjadi maha pemaaf karena sedang kasmaran.
2. Kamishiro Rui ➝ Kusanagi Nene: Tolong modusnya ingat tempat ya
Hari ini Wonderlands x Showtime mendapatkan kabar kalau Tsukasa sakit, Rui dan Nene berniat membeli buah tangan di perjalanan pulang mereka dari Kamiyama sebelum menjemput Emu untuk kemudian bersama-sama pergi menjenguk Tsukasa.
Paling tidak, niatnya sih begitu.
"Bukannya mendingan buah ini ya?"
"Enggak dong, bukannya mendingan yang ini?"
"Rui, coba pilih buahnya gausah sambil tangannya silaturahmi sembarangan."
Hehe, cengenges si pemuda yang langsung melepaskan tangannya dari bertengger santai di bahu si gadis setelah mendapat teguran.
Nene menghela napas panjang, sudah sejak 5 menit lalu mereka berdiri di supermarket ini tanpa memutuskan apa yang mau dibeli. Mungkin pergi berdua saja bukan ide yang baik, terutama jika ditemani teman masa kecil bongsor yang terus membuat kontak tidak penting dengan memanfaatkan suasana (modus). Nene kasihan dengan Emu yang harus menunggu lama.
"Kamu ga biasanya ngeyel begini," Nene melipat tangannya di depan dadanya, memberi gestur dengan dagunya ke arah buah semangka yang masih dipegang Rui. "Jeruk lebih gampang dibawa dan dimakan, kita kan mau jenguk orang sakit bukannya pesta pantai."
"Hm? Aku masih mikir kita pilih semangka aja, sih~?"
Jengkel, akhirnya Nene memilih mengalah. "Oke, ayo kita beli semangka."
"Setelah dipikir-pikir lagi mungkin pepaya lebih baik."
"Baiklah, kalau begitu kita beli pepa-"
"Oh, nggak, nggak. Pisang! Warnanya sama dengan Tsukasa-kun, pasti bisa membuatnya lebih baik."
Nene menatap penuh kesal, buku jarinya memutih karena mengepalkan tangan terlalu erat.
"Apaan sih, Rui!?" tanyanya meledak. "Kok hari ini jadi plin-plan banget? Sengaja ya lama-lamain disini!?"
"Ah, Nene pintar~"
Semakin lama memilih, semakin lama kita kita bisa berduaan, senyumnya seolah mewakilkan isi hatinya.
Sumpah.
Muak dengan aksi modus yang tidak kenal waktu dan tempat, Nene akhirnya pergi membawa buah yang sudah dia pilih dari awal, sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari orang di belakangnya.
"Neng, itu pacarnya nangis di belakang dicuekin terus."
"Cuekin aja, Mas. Saya lagi ketempelan buto ungu hari ini."
"Jepang aja bisa membuka diri setelah 200 tahun, kamu kapan buka hati buat aku?"
—Kamishiro Rui, 17 tahun, tetap maju meski gebetan mundur.
3. Aoyagi Touya x Azusawa Kohane: Unik di luar nalar
"Akhir minggu ini aku mau jalan dengan Azusawa."
Sekilas kabar dari tuan muda Aoyagi mendapatkan pandangan sinis dari dua remaja berambut kuning dan oranye yang sedang menemaninya minum kopi di Kafe rese Crase milik Mbak Meiko.
"Touya, di luar dugaan lo tukang pamer juga ya," Akito menghentikan kegiatan minum asiknya untuk bertopang dagu. "Kita juga tau lo sama Kohane tuh baru jadian. Gausah dipamerin juga."
"Benar! Kamu gak kasian sama jomblo kayak Akito?"
"Gaperlu nyebut nama gue bisa kali."
Gue juga lagi berusaha tau, Akito merengut kesal, sementara si pelaku yang dituduh pamer pacar hanya memiringkan kepalanya bingung.
"Bukan gitu, aku mau minta saran ke kalian soal ini. Bukan pamer loh. Akito, cuma karena Shiraishi ga peka-peka harusnya kamu gaboleh jadi sensian gini."
"Benar! Masa udah jomblo sensian pula!"
"BERISIK." Berlawanan dengan ucapan Touya, Akito justru semakin emosi, "Lo juga bisanya ngomong benar-bener doang daritadi, Len! Lo disini cuma mau jadi provokator kan?"
"Nggak tuh!"
"Udah, udah. Jadi gini... Aku dan Azusawa biasa jalan ke game center, tapi kalau kesana terus apa Azusawa ga bosan? Menurut kalian apa aku harus cari perubahan suasana?"
Len dan Akito mencoba berpikir serius untuk membantu Touya meski dengan pengalaman percintaan mereka yang sebenarnya nol besar. "Game center itu bukannya kesukaanmu aja, Touya? Ajak Kohane ke tempat yang dia suka coba!" ujar Len memberi saran.
"Iya tuh. Emangnya setiap kalian jalan lo terus yang nentuin tempatnya?"
"Azusawa selalu bilang boleh kemana saja yang aku suka," remaja berwarna rambut nanggung sebelah-sebelah itu mengrnyitkan dahinya. "Aku gapunya tempat kesukaan lain selain game center."
"Si pendek itu... Oke, oke. Sekarang mulai lo pikirin kesukaannya Kohane setiap ngajak dia jalan. Gausah lo telen omongannya bulet-bulet, lo kan tau dia emang gitu anaknya. Lo coba pikir tempat apa yang kira-kira bakal bikin Kohane seneng terus ajak dia ke sana."
Touya mengangguk-angguk sambil mencerna saran dari Akito.
"Jadi, aku harus ajak Azusawa ke mana?"
"Ya mana gue tau jir kan pacar lo."
"Baiklah, akan kucoba pikirkan dari sekarang. Terima kasih sarannya, Akito, Len."
Akito dan Len mengacungkan jempol sebagai dukungan. Kedua remaja jomblo tersebut diam-diam merasa sangat keren saat itu karena bisa memberi saran untuk orang pacaran.
.
.
.
.
.
"Akhirnya lo ajak jalan Kohane kemana minggu kemarin? Tempat romantis bukan?"
"Oh itu... Kami ke kandang reptil. Terima kasih sarannya kemarin, Akito. Azusawa suka sekali tempatnya."
"Sebentar, ke mana tadi?"
"Kandang reptil."
"Ngapain?"
"Lihat ular."
"Terus gimana?"
"Lucu."
"Ularnya?"
"Azusawanya."
Dua sejoli yang baru saja bersatu ini punya selera unik di luar nalar Akito, hal itulah yang baru dia pelajari sekarang.
"Azusawa imut."
—Aoyagi Touya, 16 tahun, tipikal bucin baru jadian yang membuat jomblo emosi tanpa disengaja.
4. Tenma Tsukasa x Ootori Emu: Five Times is the charm
Ketika Tsukasa marah, Emu berkata dengan panik, "Iya, iya, Tsukasa-kun! Selfie close-up Tsukasa-kun yang kelihatan bulu hidungnya gaakan kusebar ke siapa-siapa kok! Jangan marah lagi, ya? Janji!"
Ketika Tsukasa sedih, Emu duduk di sampingnya sambil menatapnya khawatir, "Tsukasa-kun sedih? Butuh dadaku nggak buat nangis? Ayo, sini kupeluk. Cep, cep, jangan sedih lagi ya."
Ketika Tsukasa senang, Emu ikut tersenyum lebar dengannya, "Tsukasa-kun hebat! Omong-omong, mau lihat ulat yang kutemuin tadi nggak?"
Dalam segala suasana hati, sepertinya sekarang Emu selalu ada bersamanya. Momen-momen yang dia lewati bersama Emu, baik yang menyenangkan maupun meresahkan (mayoritas meresahkan), Tsukasa menikmati semuanya.
Seiring waktu berjalan, perasaan ini berkembang sampai rasanya hampir meledak. Tsukasa Tenma memang bukan tipe yang terbiasa menyimpan perasaannya di dalam hati. Jangan salah, dia sudah coba menyatakan perasaannya, berkali-kali malah. Namun, memang naas meski sudah empat kali pernyataan cinta (satunya digagalkan oleh Rui dan satunya lagi digagalkan oleh bodyguard-nya) masih belum ada kemajuan sama sekali dari perjuangannya.
"Emu, kalau kamu adalah wajan maka aku adalah menteganya! Kamu membuatku meleleh, Emu!"
"Eh, Tsukasa-kun segitu kegerahannya? Mau aku kipas-kipas?"
Itu percobaan yang pertama.
"Emu, kamu tau nggak berapa kali kamu ke pikiranku? Cuma seka li, habisnya kamu ga pergi-pergi sih! Gimana kalo kamu sekalian aja jadi penghuni tetap?"
"Boleh! Harus bayar sewa nggak nih, Tsukasa-kun??"
Itu percobaan yang kedua. Jawabannya positif, tapi sepertinya maksudnya tidak tersampaikan.
"Emu, kamu tau nggak kenapa Menara Pisa miring? Soalnya ketarik dengan senyumanmu~!"
"Wahh, beneran~!?"
"Salah. Menara Pisa mulai miring pada tahun 1178 karena pembangunannya dilakukan di atas tanah yang tidak padat. Sampai saat ini Menara Pisa tidak roboh karena pusat gravitasinya yang masih dijaga dengan baik, dimana pusat gravitasi adalah—"
"RUI, BISA DIEM KAGAK? NGUPING KOK NYAMBER."
Itu percobaannya yang ketiga.
"Emu, bapak kamu barongsai ya? Soalnya kamu selalu mentaraktaktakdungdungceskan hatiku, Emu!"
Itu percobaannya yang keempat dan yang terakhir, tapi Tsukasa belum sempat mendengar jawaban Emu karena sudah dikejar bodyguard yang tersinggung tidak terima tuan besar Ootori dibilang barongsai.
Tsukasa sang bintang masa depan menghela napasnya lelah setelah mengingat usaha-usahanya yang selalu berujung nihil. Mungkin dia memang belum diberikan kesempatan untuk menyampaikan perasaannya kepada Emu. Apa menyerah saja ya? Tsukasa langsung menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran pesimis yang sekilas lewat. Jangan meyerah Tenma Tsukasa!
"Tsukasa-kun, kenapa? Kok lesu gitu?"
"Ini loh, aku mau bilang aku suka Emu tapi gagal terus. Kapan ya kita bisa pacaran?"
"Mulai dari sekarang boleh kok."
"Hah? Ngomong kok sembarang— E-EMU????"
Percobaan kelimanya ternyata sukses tanpa rencana.
"Memang bintang terhebat itu pasti selalu berhasil hahaha!"
—Tsukasa Tenma, 17 tahun, sukses lolos dari status jomblo karena keceplosan.
Bonus Omake 1: Shinonome Akito x Shiraishi An
"Kalian pasti gapercaya yang gue alamin kemaren sore."
Shinonome Akito yang baru saja sampai di sekai jalanan ikut nimbrung dengan tidak santai di tengah-tengah Len, Touya, dan Kaito yang tadinya sedang asik mengobrol tentang alat DJ di kafe Meiko. Len menaikkan alisnya penasaran, "Wah, kenapa nih?"
"An. Shiraishi An. Si bebal itu. Si cewek bebal itu anjrit! "
"Akito-kun, ayo atur napasmu. Ceritain pelan-pelan."
"Gue sama dia, sekarang jadian."
Ketiganya tidak bereaksi dan malah lanjut berdiskusi.
"KASIH SELAMAT KEK???"
"Maaf, maaf. Saking lamanya Akito naksir An diem-diem kita jadi gabisa bedain lagi mana yang beneran dan mana yang halu nih," Len meminta maaf (tidak tulus).
"Akito, apa tidurmu nyenyak tadi? Kalau mau cuci muka toiletnya ada di sebelah sana," Touya menatap iba sambil memberi gestur ke arah toilet di belakang kafe (tulus).
"Congrats, Akito-kun! Boleh tau ngga nih habis pake susuk apa? Mau minta rekomendasi dong~" Kaito memberi selamat sambil bertepuk tangan (setengah tulus, setengah tidak).
"Lo semua..."
Hari itu, Meiko yang sedang keluar untuk membeli biji kopi bersama Miku dapat mendengar amukan bahasa kebun binatang yang terdiri dari berbagai kelas dan ordo sampai di ujung sekai.
.
.
.
.
.
"Gue capek banget begini terus anjing, lo kenapa jadi cewek bebal banget sih, An? Udah sejelas ini masih belom sadar juga lo hah?????"
"Apaansih anjing? tau-tau ngechat terus marah-marah??"
"Jadi telmi juga ada batasnya kali... Pas lo nulis pesan gajelas di payung yang lo pinjemin ke gue? Gue ga marah. Pas lo lupa bawa buku pelajaran? Gue yang pinjemin lo buku meski kelas kita ada pelajaran yang sama di jam yang sama. Pas lo kecebur got gara-gara keasikan chat sama Kohane? Gue cuma ketawain lo 1 (satu) menit. Satu menit doang coba padahal itu bego banget asli??? Demi lo gue ketawain itu cuma satu menit. Sumpah.
Lo sadar gak gue begitu kenapa hah? Itu kode udah segitu jelasnya masih gasadar juga sianjing???? Gue suka sama lo goblok. Gue mau lo jadi pacar gue, lo mau kagak??? Gamau?? Kalo gamau ya jangan lucu-lucu lah anjing. Bikin baper doang, giliran tanggung jawab kagak mau."
"Bahasa lo kasar banget goblok ama pacar sendiri."
"Sejak kapan gue punya pacar anjir????"
"Sejak 3 menit lalu kan."
".... HAAAAHHHHHHHH???????????"
Bonus Omake 2: Kamishiro Rui x Kusanagi Nene
"Rui, lain kali jangan begitu lagi."
Rui yang baru kembali setelah mendapatkan silent treatment seharian akhirnya hanya mengedikan bahu sambil tertawa pasrah. "Iya, iya. Maaf, Nene."
Pemuda itu sebenarnya sudah mencoba berbagai cara untuk menaikkan statusnya dari teman masa kecil menjadi teman hidup tapi masih belum ada hasil yang nyata dari sang pujaan hati. Setengah alasannya karena dia hanya mengirimkan pernyataan yang meskipun sudah terlewat jelas, tetap saja masih berupa kode-kode.
Jangan pake kode dong, emangnya si Nene pembina pramuka kamu ngomongnya pake kode-kode?
Rui teringat ucapan Tsukasa yang membuatnya agak kesal karena Tsukasa sendiri biasanya cuma gombal alih-alih menyatakan perasaan. Memang hidup tuh ada masanya kadang di atas dan kadang di bawah ya (tidak bermaksud ambigu).
Ya, mau gimana lagi. Mereka sudah dekat sejak sama-sama masih ngedot empeng, dan sempat berbagi pengalaman khilaf minum es siang bolong di bulan puasa, tapi justru karena itu lah rasanya jadi sulit untuk mengambil langkah yang lebih berani.
Mungkin Rui harus mengubah gaya rambutnya, mungkin ubah poninya jadi belah tengah lalu ubah nama menjadi Rui Van Houten, mungkin dengan perubahan image yang wah nanti Nene mau tidak mau akan berhenti melihatnya hanya sekedar teman masa kecil lagi.
Ketika sedang asik tenggelam dalam ide-ide anehnya, suara gadis di sampingnya menariknya kembali ke kenyataan.
"Kalau mau punya waktu bareng kan bisa tinggal ngomong aja. Mau jalan berdua Sabtu besok?"
Rui melebarkan matanya.
Bahkan di tubuh mungil itu Nene punya nyali yang lebih besar daripada dia.
Rui 0 : 1 Nene
