Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-05-28
Words:
5,082
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
36
Bookmarks:
2
Hits:
231

Little By Little

Summary:

“Hoseok, kayanya gue mulai bosen deh manggil lo, Seok.”

“…………???” Hoseok menatap Seokjin penuh kebingungan. Apakah Hoseok salah bicara dan membuat Seokjin kesal?

“Boleh nggak mulai sekarang gue panggilnya, Sayang?”

Hoseok terkejut. Lalu mengangguk. Matanya membulat dan sebuah senyum lebar terbentuk di wajahnya. Sambil meraih jemari Seokjin dan menggenggam tangannya, Hoseok berbisik di telinga Seokjin.

“As your wish, Jin.”

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“BANGSAT!”

“WOW! Titisan dewa mana nih yang abis nolak lo?”

“Dewa Adonis.” Kata itu diucapkan Hoseok tanpa sadar. Sepersekian detik kemudian, ia menggelengkan kepala, mengumpulkan kembali fokusnya. “Ganteng sih, tapi bangsat.”

“Did I miss something?” Jimin menatap Hoseok dengan tatapan bingung yang bercampur rasa penasaran.

“Seokjin. Gue ajak dia ngopi abis briefing ama Yoongi barusan. Dia gak mau.”

“Lo ditolak? Seorang Hoseok ditolak? THE JUNG HOSEOK???” Terdenger euforia dalam nada suara Jimin. Diikuti dengan seringai kecil dari bibirnya. Jimin terlihat bersemangat. “WELL… CONGRATULATIONS!”

“Maksud lo, Nyet?” Hoseok menjawab ketus. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil memberi Jimin tatapan kesal. Demi Tuhan! Di antara jutaan kata yang ada di bumi, bisa-bisanya Jimin memilih ucapan selamat saat dirinya ditolak.

Congratulations. Selamat! I I told you, Seok. There’s always the first time in everything we do. Selamat karena akhirnya, lo bisa ngerasain yang namanya ditolak.”

“Gue bukan ditolak ya!”

“Well… but you just said, HE SAID NO.” Jimin tersenyum simpul sambil menatap jahil.

“It’s a different kind of NO. Ini cuma ajakan ngopi bareng. Bukan nyatain perasaan. It’s a decline. Not rejection. Harap dibedakan ya, Saudara Park!” Hoseok semakin kesal.

“Ya tetep aja, ditolak. Potato, Potahto!” Jimin memberikan senyum kemenangan.

“Serah lo aja deh, Nyet” Hoseok meninggalkan Jimin. Berjalan menuju kulkas mengambil soda favoritnya. Ia butuh sesuatu untuk mendinginkan hatinya, yang entah kenapa, rasanya seperti terbakar. Hoseok kesal bercampur bingung, kenapa ia harus semarah itu? Ia marah karena Seokjin tidak mau minum kopi bersamanya, atau fakta bahwa apa yang diucapkan Jimin ternyata benar? Bahwa ini adalah pertama kalinya dia ditolak?

 

Ada ya orang yang bisa menolak Jung Hoseok?

DARN! It’s just a fuckin coffee, Seok! You have people lining at your door to happily accompany you drink coffee.

 

*******

 

Di dalam kantor agensi di bilangan Jakarta, sebuah rapat akan dilangsungkan. Ini adalah pertemuan awal untuk membahas campaign yang akan dilakukan oleh perusahaan rokok terkemuka di Indonesia. Sebagai bentuk CSR katanya. Sebuah project untuk meningkatkan literasi anak-anak di Pulau Rote. Sebetulnya kalau dipikir lagi, masyarakat di kepulauan terpencil bukan kekurangan minat baca. Mereka kekurangan akses untuk membaca. Tidak banyak ditemukan perpustakaan umum di sana. Sehingga kurang tepat jika dibilang mereka kekurangan minat baca. Karena apa yang mau dibaca, kalau bahan bacaannya saja sulit didapatkan.

“Seok, udah deh, gak usah overthinking. Yang penting lo siapin aja pose foto yang bagus. Urusan caption, biar gue yang urus.”

“Tapi bener kan, Jim? Kalo targetnya adalah ningkatin minat baca, ya di Jakarta aja. Akses terhadap buku di sini tuh nggak terbatas. Mereka aja yang males. Doyannya main gadget mulu. Lagian lo kan emang dibayar sebagai copywriter. Ya wajar lah lo urus itu semua. Itu kerjaan lo!”

“Tapi Seok, kalo foto-fotonya di Jakarta, kita nggak bisa sekalian liburan. Ini Rote, cuy! Pantai di sana cakep-cakep. Kita bisa sekalian refereshing. Ngetrip colongan gitu. Apa perlu sekalian kita bawa diving gear? Kalo lo mau, gue bisa siapin.” Jimin sangat antusias pada project kali ini.

“Gue selalu kagum sih sama jiwa oportunis lo. Bisa-bisanya udah mikirin diving. Kick off aja belom nih project. Kita bahkan belom tau, tim fotografer mana yang bakal kerja bareng kita.”

“Santai aja, project ini budgetnya gede banget. Jadi mereka pasti hire tim foto yang oke punya. Bahkan kalo perlu, mereka hire tuh fotografer yang pernah menang Pulitzer.”

“Lebay! Eh tapi serius. Lo belum dapet bocoran kita bakal kerja bareng siapa?”

Jimin menggelengkan kepalanya. Dia terlihat tidak peduli.

 

*******

 

“Oke, guys! Jadi udah jelas ya target yang pengen dicapai klien kita di project ini. Job desc kalian udah clear ya. Seokjin, semua hal terkait foto dan propsnya lo yang handle. Jimin, gue mau caption yang gak cuma bagus. Tapi harus ngena di hati. Touch their heart. Gue udah pastiin Taehyung dapet budget yang berlebih untuk ngatur semua jadwal dan akomodasi kalian. Jadi kalo akomodasinya busuk, lo komplein aja langsung ke dia. Dan Hoseok… well… you know what to do lah” Ujar Yoongi penuh antusias. Seorang Project Manager bertangan dingin yang memimpin rapat ini. “Kalian berangkat tiga minggu lagi ya.”

 

*******

 

“Jim, lo tau Seokjin? Kok bisa ada fotografer ganteng gitu yang gak gue tau? Apa jangan-jangan dia baru ya jadi fotografer? Sebelumnya dia model kali ya?”

“Sembarangan deh mulutnya! Dia tuh salah satu fotografer andalannya NatGeo yah asal lo tau. Tapi biasanya dia motret human interest, jarang motret buat project beginian. Bayarannya gede banget kayanya, makanya dia mau.”

“Kok lo julit sih?”

“Jangan bilang lo naksir dia?”

“Ya belom sampe naksir sih. Cuman mubazir gak sih kalo cowo ganteng gitu gak digebet? Flirting dikit mah gak dosa kali, Jim?”

“Dia tuh kaku abis. Pemalu. Good luck on that.”

“But I’m Jung Hoseok?” Kemudian ia memberikan Jimin senyum tiga jari andalannya. Sebuah senyum yang membuat siapapun tidak mungkin berkata tidak.

 

*******

 

Hoseok memasuki pantry kantor tempat ia melangsungkan meeting. Sebuah pantry berdesain modern minimalist dengan tema warna monokrom, dan pemandangan jembatan Semanggi sebagai latarnya. Kantor ini berada di lantai 17. Jadi dari ketinggian tersebut, setiap karyawan yang butuh istirahat sejenak di pantry bisa menikmati pemandangan andalan kota Jakarta. Kemacetan.

Seokjin sudah terlebih dahulu berada di pantry sebelum Hoseok. Ia sedang menikmati pemandangan Simpang Susun Semanggi sambil sesekali menangkap momen menggunakan kamera ponselnya. Ia tidak menyadari kehadiran Hoseok di ruangan yang sama. Pun demikian dengan Hoseok. Tidak memedulikan keadaan sekitar. Tujuan utamanya ke pantry adalah untuk membuat kopi di mesin Nespresso. Saat hendak menyesap kopinya, tiba-tiba pintu pantry terbuka dan memunculkan seorang park Jimin. Ia masuk sambil setengah teriak.

“SEOK!!!” Langkah Jimin mendadak terhenti. Ia melihat ke arah Seokjin dan Hoseok secara bergantian. Raut muka Jimin berubah, dari bingung menjadi jahil.

“Nah loh, kok dua-duanya bisa pas ada di sini? Nengok barengan pula? Project kita belom mulai. Lo berdua jangan bikin jadwal ngedate dulu ya. Eh, pas banget sih tapinya lo berdua ada di sini. Yoongi bilang, seminggu sebelum kita cabut ke Rote, dia mau final briefing ama kalian berdua. Untuk mastiin kalo konsep fotonya bisa on point sesuai kemauan klien.” Jimin menutup kalimatnya dengan seringai jahil dari bibirnya. Lalu keluar dari pantry. Meninggalkan Hoseok dan Seokjin yang sama-sama mengerutkan dahi. Sama-sama bingung dengan maksud dari ekspresi yang diberikan Jimin.

 

“Kok lo nengok sih pas Jimin manggil Seok?” Hoseok menghampiri Seokjin sambil menyesap kopinya.

“Nama gue kan… Seokjin???” Balasnya dengan nada bingung.

“Ya gue tau. Maksudnya, kenapa dipanggilnya Seok. Kan bisa dipanggil Jin.”

“Gak bisa. Cuma pacar gue yang boleh manggil gue, Jin!”

“Lo ngefans ya ama gue? Kok nyama-nyamin gitu sih panggilannya? Ikut-ikutan aja.”

“Apa perlu kita tukeran KTP untuk tau siapa yang lahir duluan? Jadi bisa tau nih, siapa yang ngikutin siapa.”

“Ya nggak gitu juga sih cara mainnya.”

“Kenapa lo nggak dipanggil Hose aja? Nama lo kan Hoseok.”

“Najis! Kaya om-om”

“Ya terus?”

“Panggil gue Seok aja. Ya kalo mau panggil Sayang juga gak papa sih. Mana aja lah yang bikin lo nyaman.” Hoseok kembali menyesap kopinya tanpa memperhatikan raut muka Seokjin yang tersipu disertai warna kemerahan yang mendadak muncul di kedua kupingnya.

 

*******

 

“Kim Taehyung.”

“Astaga, gue bikin dosa apaan lagi sih, kak? Vinyl Morning Glory lo udah gue balikin ke tempat semula. Gue cuma pinjem buat props foto doang. Lagian hari gini semua orang udah dengerin lagu di spotify. Lo masih aja dengerin lewat vinyl. Ribet ya hidup lo, kak.”

“Gue kan cuma manggil nama lo. Napa mendadak jadi ngaku dosa gitu deh? Lagian ya, kualitas audio di spotify itu beda jauh ama vinyl. Kalo lagu lain, ya cukuplah gue denger di spotify. Khusus Oasis, wajib banget dengerin di vinyl. Lo harus dengerin Champagne Supernova di situ. Anjing! Eargasm banget.”

“Jadi tujuan lo manggil nama lengkap gue barusan apa?” Taehyung bertanya malas. Ia bosan mendengar ocehan kakaknya tentang band favoritnya. Oasis. Taehyung sangat berharap semesta cukup berbaik hati dan memberikan kakaknya seorang pacar. Sehingga topik pembicaraan mereka berdua bisa sedikit berkembang. Tidak hanya seputar fotografi dan Oasis. Padahal kalau dipikir-pikir, kakaknya tidak memiliki kekurangan apapun dari segi visual. Dia hanya sedikit pemalu. Banyak. Seokjin sangat ahli dalam menangkap momen menggunakan kamera. Tapi sangat payah dalam berkomunikasi secara verbal. Sehingga, foto adalah medium terbaik baginya untuk berkomunikasi dengan orang lain.

“Lo tau Jung Hoseok?”

“Ya tau lah. Dia kan salah satu influencer kategori A-list di Indonesia. Napa? Dia gak ngeribetin lo kan? Kalo dia rese, lo bilang gue ya.”

“Kenapa lo bisa mikir gitu? Dia keliatan baik banget lho. Mana cakep banget pula.” Kalimat terakhir diucapkan Seokjin dengan sangat pelan sehingga hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

“Ya kan mana tau aslinya mah beda ama di sosmed. Kan banyak tuh yang cuma pencitraan doang di Instagram.”

“Tae, serius deh. Lo harus berenti follow akun lambe-lambean di IG. Kesehatan mentalmu itu lho, Dek.”

“Jangan bilang kalo lo naksir dia, kak?” Taehyung menatap kakaknya penuh selidik. Seokjin langsung mengalihkan pandangan, mencari objek lain sebagai distraksi. “Kenapa-lo-jadi-salting-gitu, kak?”

Seokjin tidak menjawab pertanyaan adiknya. Dia pergi berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan sang adik di belakang yang berdiri mematung, masih dengan raut kebingungan.

 

*******

 

“Okey. Konsepnya udah jelas ya. Gue percaya kalian bisa eksekusi ini dengan baik. Seokjin, lo udah 4 tahun jadi in house fotografernya Nikon. Jadi kualitas foto lo gak perlu gue raguin lagi. Hoseok, lo itu salah satu Key Opinion Leader terbaik di Indonesia. Gue mau siapapun yang liat foto lo nanti, bisa tergerak hatinya untuk bantu anak-anak bisa dapetin akses membaca dengan mudah. Dengan cara mereka sendiri tentunya. Karena tujuan gue bikin project ini bukan cuma untuk one shot aja. Gue berharap project ini bisa ngasih awareness ke banyak orang bahwa peningkatan minat baca harus dibarengi dengan kemudahan mendapatkan akses membaca.” Yoongi menutup briefing ini dengan penuh antusias. Dia sangat ingin project kali ini bisa sukses dan mendapat atensi dari banyak pihak.

Selesai briefing, Hoseok dan Seokjin keluar dari ruang meeting. Karena pembahasan kali ini hanya berfokus pada konsep foto, maka Taehyung dan Jimin tidak ikut dalam briefing ini. Mereka diajak sih, tapi tentu mereka tolak. Ngapain ikut meeting kalo cuma dengerin sesuatu yang gak berhubungan ama job desc kita?

Mereka berdiri di depan pintu lift dalam keadaan canggung. Lebih banyak Hoseok yang melempar pertanyaan, namun hanya dijawab sekenanya oleh Seokjin. Dan sialnya, Seokjin tidak melempar pertanyaan balik. Sehingga membuat Hoseok kehabisan topik pembicaraan.

Ting. Suara pintu lift terbuka. Tidak ada siapa-siapa di sana. Jadi di dalam lift hanya mereka berdua saja.

Demi Neptunus! Gue harus diem-dieman sepanjang 17 lantai nih ama dia? Semoga nih lift gak berenti di tiap lantai ya. Jadi bisa buru-buru nyampe lantai lobby. Gue gak tahan ama awkward moment kelamaan gini. Semoga lift ini bisa segera tiba di lantai dasar.

 

Namun tentu, manusia hanya bisa berencana. Dan terkadang, Semesta memang suka mengajak kita bercanda.

 

JEBRET! Lift berhenti mendadak. Lampu padam. Keadaan lift menjadi gelap gulita. Beberapa detik kemudian lampu emergency di dalam lift menyala. Tidak terlalu terang, namun memberikan pencahayaan yang cukup untuk melihat keadaan di ruang sempit tersebut.

“WHAT THE FUCK IS THIS?” Seokjin kaget lalu refleks memencet tombol intercom di dinding lift. Ia berbicara dengan operatornya. “Selamat malam, Pak. Kami terjebak di lift lantai 11. Boleh tolong segera dibantu?”

“Selamat malam, Mas. Mohon maaf atas kejadian ini. Kami segera cari tahu problemnya, dan akan kami selesaikan secepat mungkin ya. Mohon bersabar dan sekali lagi kami mohon maaf atas kejaadian ini.”

Seokjin mendengus kesal. Bisa-bisanya Gedung perkantoran elit begini, liftnya mendadak berhenti gini. Sial.

 

“Seokjin, kenapa lo jadi fotografer?”

“Hah?”

“Ada saran gak, tipe kamera yang cocok untuk pemula?”
“HAH???”

“Lo udah lama jadi kontributornya NatGeo? Paling jauh pernah ditugasin kemana aja?”

“...…….”

“Gue pernah liat portfolio lo di web. Fotonya keren-keren abis! Lo pasti sering ya dapet penghargaan gitu.” Hoseok terus meracau tanpa henti sambil menatap lantai, meskipun tidak mendapatkan balasan dari Seokjin. Ia tidak memedulikan raut Seokjin yang mulai kesal karena rentetan pertanyaan acaknya. “Seokjin, lo kalo makan bubur ayam diaduk apa enggak? Kalo makan soto ayam, nasinya campur apa pisah?”

“BISA DIEM GAK! BERISIK, LO!!!” Seokjin sudah tidak tahan. Ia melepaskan emosinya dengan berteriak. “Seok, kita lagi kejebak di dalem lift. Belom tau kapan ini bakalan kelar. Gimana kalo kita menghemat oksigen dengan diem dulu. Ngobrolnya bisa kapan-kapan aja kalo pasokan oksigennya udah balik normal. Oke?”

Hoseok tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan sambil mundur hingga badannya menyentuh dinding lift. Perlahan ia menurunkan badannya hingga terduduk. Memeluk kedua kakinya, sambil meletakkan dahi di atas kedua lututnya. Pelan, namun terdengar cukup jelas ada gumaman di sana.

 

Someday you will find me

Caught beneath the landslide

In a champagne supernova in the sky

Someday you will find me

Caught beneath the landslide

In a champagne supernova

A champagne supernova in the sky

 

Seokjin masih berdiri di tempatnya. Bingung. Menatap sosok Hoseok yang meringkuk di sudut sambil bernyanyi pelan. “Seok, are you okay?”
Hoseok menggeleng. Melalui pencahayaan yang minim, Seokjin dapat melihat bulir keringat di pelipis serta wajah pucat saat Hoseok mengangkat kepalanya perlahan. “Gue claustrophobic.”

SHIT! Seokjin buru-buru menghampiri Hoseok dan duduk disampingnya. Meraih kepala Hoseok dan menyandarkan di bahunya. Satu tangannya ia gunakan untuk membelai lembut punggung Hoseok demi memberi ketenangan.

Tidak ada pembicaraan dua pihak. Hoseok hanya terdiam sambil mengatur napas. Hanya suara Seokjin saja yang terdengar di dalam ruangan sempit minim cahaya tersebut.

 

How many special people change?

How many lives are livin’ strange?

Where were you while we were getting high?

Slowly walkin’ down the hall

Faster than a canon ball

Where were you while we were getting high?

Someday you will find me

Caught beneath the landslide

In a champagne supernova in the sky

Someday you will find me

Caught beneath the landslide

In a champagne supernova

A champagne supernova in the sky

 

JEBRET! Lampu lift kembali menyala. Terdengar suara dari intercom “Selamat malam, Mas. Perbaikan sudah selesai dilakukan. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Lift sudah bisa digunakan kembali. Silakan menekan kembali tombil lantai tujuannya ya, Mas. Terima kasih. Selamat malam.”

“THANK GOD!” Terdengar suara lega dari keduanya. Lift kembali normal dan mereka bisa buru-buru keluar dari tempat ini. Tapi anehnya, kenapa ada sedikit kekecewaan dalam nada suara mereka? Kenapa mereka terdengar seperti berharap bisa terjebak di dalam lift ini, sedikit lebih lama.

Seokjin dan Hoseok sudah tiba di lantai dasar. Mereka berjalan bersama menuju pintu keluar untuk mencari taksi. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Seokjin sibuk dengan ponselnya. Entah sedang berbalas pesan dengan siapa. Mereka hanya berjalan beriringan, dalam diam. Hingga akhirnya mereka tiba di pintu keluar.

“Seokjin, ngopi yuk? Gue butuh kafein nih untuk nenangin diri dari kejadian barusan.”

“Ngopi di mana?”

“Sabang-16. Belakangnya Sarinah. Deket kok dari sini.”

“Ama siapa aja?” Seokjin menjawab tanpa melihat Hoseok. Ia sibuk membalas pesan masuk di ponselnya

“Ya kita aja, berdua.” Hoseok terdengar sangat antusias. Wajah pucatnya sudah hilang sedari tadi. Berganti dengan wajah ceria dengan senyum memesona seperti biasanya.

“Yoongi gak diajak?” Lagi, Seokjin menjawab sambil tetap mengetik pesan di ponselnya.

“Yoongi tuh kalo ngopi minimal di Pison, atau Titik Temu. Dia tuh kalo ngopi harus di tempat artsy kekinian. Lo sibuk amat sih ama HP lo? Lagi minta ijin pacar cuma untuk ngopi bareng gue? Posesif juga yah pacar lo.”

“GUE SINGLE!” Seokjin langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel untuk menatap Hoseok. “Gue gak punya pacar.”

“Ya udah ayo. Ngopi bareng.”

Seokjin masih menatap Hoseok dengan tatapan kosong. Tidak menampilkan raut apapun. Wajahnya terlihat datar. “Uuummm… Enggak deh. Gue mau balik aja. Tae udah nungguin gue di rumah” Ucap Seokjin sambil menggeleng. “Gue cabut duluan ya. Sampe ketemu minggu depan di Soeta.” Ia melambaikan tangan ke Hoseok sambil berjalan ke depan untuk menyetop taksi. Lalu pergi tanpa melihat ekspresi apapun yang dihasilkan dari ucapan yang baru saja ia lontarkan terhadap lawan bicaranya.

Hoseok masih terdiam di tempatnya berdiri semula. Berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi.

What the fuck was that? Did he just reject me?

 

*******

 

Kim Seokjin

Taehyung. HELP!

Taehyung 

Kak, lo kenapa? Bukannya abis briefing ama Yoongi?

Konsep lo dimentahin ama dia? Minta revisi?

Brengsek juga tuh manusia!

Udah mepet gini timelinenya. Masih aja direcokin.


Bukan Yoongi, Tae. Hoseok!

Dia suka Oasis. Mampus gue!!!

Oh, gue kira dia cuma bisa minum Evian.

Atau paling enggak Aqua lah ya.

Dia minta Oasis di list ridernya?

Gampang. Ntar gue siapin.

Bukan aer minum, goblok! BAND!

Dia suka Oasis juga Tae.

Gimana gue gak makin naksir sama dia?

Lagian kenapa harus Oasis? Coldplay kan keren juga

Ya udah kalo gitu. Lo pepet lah.

Mumpung kita ada project bareng kan.

Boro-boro mau mepet.

Dia ngajak ngopi aja gue deg-degan.

Ya tinggal lo iya-in aja apa susahnya sih?

Gak usah kaya ABG yang tengil yang bertingkah hard to get yah!

Lo emang ganteng, Kak! Tapi ini tuh Jung Hoseok. Yang suka ama dia tuh banyak.

Gue bukan bertingkah ya, Nyet!

Gue malu.

BANGSAT…!!!

Ini dia ngajakin ngopi di Sabang-16 pula.

Kenapa harus di situ sih? ANJING!!!

Ya bagus lah.

Bukannya itu tempat favorit lo?

Kaya Toast Butternya kan menu favorit lo banget.

Justru itu! Gue gak bisa.

Gue mau balik aja.

Udah gue tolak ajakannya barusan.

Gue otw balik rumah ya.


Kim Seokjin… keparat juga ya, Anda.

 

*******

 

“CONGRATS GUYS! WELL DONE!!! Gila, campaign ini sampe dinotis ama Kemdikbud. Klien happy banget. Gak salah gue pilih kalian di tim ini. Kalian emang terbaik sih. Party kita? Gue traktir! Kalian pilih tempat aja. Budget unlimited.” ucap Yoongi penuh semangat.

“Pisa Kafe”

“Monty’s”

“Social House!”

“PISA KAFE!”

Seokjin, Tahyung, Jimin, dan Hoseok kompak menjawab secara bersamaan.

“Gila ya kalian. Baru sebulan ada di pulau, balik ke Jakarta langsung gragas gini. Lagian, kirain Jimin ama Taehyung yang cinlok di sana. Kenapa malah Seokjin ama Hoseok yang kompakan milih tempat yang sama? Jangan-jangan kalian pernah ngedate di sana ya?” Yoongi tidak dapat menyembunyikan senyum jahilnya.

“Social House, please… I need Pinot Noir. Or at least Chardonnay.” Jimin memohon sambil merajuk.

“Kalo hari Jum’at gini, tema home band di Pisa Kafe tuh Friday’s Rockin’ Nite. Kali aja malem ini mereka bikin tribute buat Oasis.”

“Yaelah, Kak. Bosen tau Oasis mulu. Kuylah Social House!”

“Oh My God, Kim Taehyung! Sekali lagi lo ngomong “kuy”, I swear to God i’m not gonna fuck you for a month!”

Ledak tawa seketika terdengar di ruangan itu.

“Emang lo bisa tahan puasa segitu lama, Jim? Biasanya juga ngajakin duluan.” Taehyung menyeringai dengan tatapan nakal.

“Oke. Lo berdua. Cukup TMI-nya. Kita ke Social House aja. Dan kalo masih mau denger Oasis, nanti gue bilang ke manajernya untuk muterin playlist mereka di sana. Deal?”

 

*******

 

Setibanya di Social House, mereka memilih duduk di area indoor. Jimin tidak tahan dengan udara panas jika harus duduk di luar. Mereka menikmati menu yang dihidangkan sambil membicarakan hal-hal trivial seputar project di Pulau Rote. Pembicaraan didominasi oleh Jimin dan Taehyung. Secara tidak sadar banyak hal TMI yang mereka ucapkan. Meskipun masih dalam taraf wajar, kadar alkohol sudah mulai memainkan peran dalam tubuh mereka nampaknya.

Hoseok berdiri dari tempatnya, ia ijin pindah sebentar ke area outdoor untuk merokok. Seokjin ikut berdiri untuk mengikuti Hoseok pindah ke area luar. Mereka duduk di meja yang menghadap ke bundaran HI.

 

“Lo ngerokok juga, Seok?”

“Nggak sih. Cuma daripada gue di dalem dengerin Taehyung ngoceh, mending gue di luar aja lah. Dia kalo tipsy mulutnya bocor banget. Suka kebanyakan ngasih TMI.”

Hoseok tidak terlalu memedulikan Seokjin. Ia fokus menghisap rokoknya sambil menikmati lampu-lampu mobil yang berjejer rapi di seputar Bundaran HI. Ya, Jum’at malam dan kemacetan adalah dua sejoli yang sulit dipisahkan di kawasan megapolitan ini.

Satu menit. Dua menit. Tanpa sadar sudah lima menit dilalui dalam diam.

“Gue gak punya alasan spesifik sih kenapa pengen jadi fotografer.” Sebenarnya Hoseok tidak bertanya apapun. Tapi karena Seokjin tidak betah dengan kecanggunan ini, ia berinisiatif memulai percakapan. Sesuatu yang jarang dilakukan Seokjin dalam keadaan normal. Dia hanya butuh sedikit bantuan alkohol untuk mengeluarkan sisi lain dalam dirinya. Sisi menyenangkan yang banyak bicara.

“…………?????”

“Waktu kita kejebak di lift kan gue pernah bilang, lanjut ngobrolnya kalo pasokan oksiden udah normal aja.”

“Oke. Terus?” Hoseok menatap Seokjin sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Gue tuh dulu suka banget nonton X-Men. Pengen banget punya kekuatan telekinetik kaya Jean Grey. Bisa bikin waktu berhenti. Pas gedean dikit, gue baru ngeuh kalo gue bisa dapetin kekuatan itu melalui fotografi. We can capture the moment we want to freeze. Jadi dengan foto, secara nggak langsung kita bisa berhentiin waktu. Dan kalo kita lagi kangen ama momen tertentu, tinggal liat fotonya aja lagi.”

“True.” Hoseok bergumam pelan. “No one ever takes a photograph of something they want to forget.”

“Lo nonton One Hour Photo juga?” Suaranya terdengar sangat antusias.

“I’m a big fan of Robin Williams. Gue nonton semua filmya dia sih.”

“Tapi please… Lo jangan mati bunuh diri kaya dia ya. Kalo lo ada masalah, kasih tau gue aja. Kalo lo butuh gue kapanpun, I’m just one call away, okay?”

“………..”

ALKOHOL KEPARAT!!!

“Anyway, sebenernya nggak ada tuh yang namanya kamera untuk pemula. Itu sih trik marketing mereka aja. Supaya orang awam pada beli. Kalo mereka udah suka, abis itu mereka upgrade deh. Beli printilan ini itu. Makanya, kalo lo mau beli kamera, saran gue adalah, beli kamera paling mahal yang masuk budget lo. Abis itu lo pelajarin deh semua fitur-fiturnya. Tapi kalo lo tanya gue soal kamera terbaik? Gue bakal bilang, kamera terbaik adalah kamera yang lo punya saat ini. Jadi kalo yang lo punya adalah kamera HP, ya pake aja. Lo maksimalin. Toh HP sekarang kan udah bagus banget fitur kameranya.” Seokjin menjeda sejenak. Meneguk kembali gelas berisi Smirnoff yang ia bawa. “Oh… gue paling jauh pernah ditugasin ke Murmansk. Gila. Seru abis! Motret aurora tuh cuma butuh 10% skill. 90% yang lo butuhin adalah keberuntungan. Asli, dua hari pertama zonk! Gak dapet apa-apa. Bos gue sampe bilang, kalo hari ketiga masih zonk, balik aja. Ternyata alam semesta nggak jahat-jahat amat ke gue. Di hari ketiga, gue dapet foto aurora yang cakep mampus.”

Hoseok hanya diam. Tidak lagi menghisap rokoknya. Ia menikmati momen langka seorang Kim Seokjin bisa bicara sebanyak ini dengan lepas dan santai. Ia tidak tahu, mana yang lebih ia sukai. Seokjin yang mendadak jadi bawel, atau pencahayaan ruangan ini yang membuat wajahnya terlihat 100 kali lebih menawan? Meskipun alkohol bukan hal baru baginya, tapi kali ini, Hoseok harus mengucapkan terima kasih pada benda itu. The right amount of alcohol could lead you into an unexpected event, they said.

“SEOK!! Iyah, Lo berdua. Ayo masuk sini. Yoongi minta kita ngumpul dulu sebelum dia cabut.”

Seokjin berdiri dari kursinya. Melaksanakan perintah Jimin untuk masuk ke dalam. Berkumpul dengan yang lain. Baru satu Langkah, ia terhenti. Kemudian membalikan badan mengahadap Hoseok yang masih duduk di kursinya. Hoseok kenapa sih? Ngeliatinnya gitu amat?  “Seok, gue kalo makan bubur ayam nggak diaduk. Tapi kalo makan soto, nasinya dicampur. Kapan-kapan lo gue ajak makan bubur Barito ya. Enak banget loh itu. Lo suka bubur ayam kan?”

Hoseok mengangguk sambil memberikan senyumnya yang paling ceria.

 

Unfortunately, that bubur ayam date never happened. Or at least, not gonna happen anytime soon.

 

*******

 

“Kak, ini banyak banget tawaran kerjaan yang masuk di email? Udah gue sortir sih. Lo tinggal pilih.”

“Kasih gue yang oke punya, Tae”

“Definisi oke punya tuh yang kaya mana kak? Project Rote? Yang bayarannya gede, minim revisi, trus partner kerjanya seganteng Hoseok, gitu? Eh, lo sama sekali gak pernah kontekan sama dia lagi kak sejak kejadian di Social House waktu itu?”

“Gue gak berani Tae. Masih belom punya nyali gue buat mulai chat dia. Malu banget, anjing”

“Udah lewat tiga bulan, Kak. Dia juga udah lupa kali, lo pernah muntah di bajunya. Lagian lo pake gegayaan sih minum tequila. Jackpot kan lo jadinya.”

“Ya abis, liat Hoseok minum itu keliatannya enak banget. Gue kan jadi penasaran”

“Lo gak mau WA dia? Minta maaf? Basa-basi apa kek gitu.”

“Waktu abis kejadian itu, dia udah chat gue duluan sih, Tae.”

“Lo yang muntahin bajunya dia, tapi dia duluan yang watsap lo? WOW! Trus lo bales apa?”

“Gue gak bales. Gak berani.”

“ANJING! Yodahlah. Gue nyerah ama lo. Gue pikir lo bakalan jadian ama dia. Abis dia keliatan kaya naksir gitu sama lo, Kak. Tapi yaudahlah ya. Kakak gue kan emang udah gak ketolong lagi tololnya. Gue pasrah aja lah. Selama lo gak recokin hubungan gue ama Jimin, bodo amat lah.”

“Ayo buru, kasih gue project yang bagus. Gue butuh kerjaan nih.”

“Campaign rokok, mau gak? Offeringnya oke banget. Satu setengah kali dari project Rote. Gila ya perusahaan rokok nih. Cuannya gak abis-abis!”

“Ogah. Gue ambil project Rote karena itu untuk CSR. Visi misinya jelas. Kalo campaign untuk ngajak orang-orang buat ngerokok, gue gak mau. Skip!”

“Iya, iya. Oke. Campaign brand skincare baru mau gak? Cuannya gak terlalu banyak sih tapinya.”

“Gak ah. Capeknya sama, tapi cuannya dikit sih buat apa. Cariin yang bagusan dikit bisa gak sih.”

“Bentar… Nih ada campaign Penggalangan Dana untuk bikin panti jompo di Tasikmalaya. Lo mau join?”

“Join?”

“Iya. Ini project pro bono. Jadi ada konglomerat yang hibahin tanahnya ke Pemda. Tapi sama dia udah disebutin kalo tanahnya cuma boleh dibangun untuk keperluan publik. Akhirnya sepakat mau dibangun panti jompo di sana. Cuma dana APBD terbatas, makanya dibuat campaign buat minta dana CSR dari perusahaan-perusahaan besar. So far yang confirm ikut project ini gak kaleng-kaleng sih. Gue rasa lo diajak karena nama lo udah tenar banget.”

“Emang siapa aja yang udah confirm ikut?”

“Kim Namjoon. Kontraktor andalannya APL. Projectnya Namjoon mana ada yang failed sih. Jeon Jungkook dari Arkonin. Dia yang bakal gambarin desainnya. Trus ada… Bentar… Siapa lagi ya… Hah? Kok ada Jung Hoseok?”

“Lah, kok bisa ada dia? Sebagai apaan?”

“Kayanya dia yang bakalan jadi spoke person di project ini deh. Lo tau kan, dia charming banget. Pasti banyak perusahaan yang rela keluarin dana CSR mereka kalo Hoseok udah cuap-cuap.”

“Oke, gue ikut projectnya.”

“Hah? Serius? Yang brand skincare lo tolak karena cuannya dikit. Sekarang lo mau ambil project ini yang notabene gak ada bayarannya sama sekali?”

“Jangan mikirin duit terus, Tae. Sekali-sekali kita perlu ikutan project kaya gini. Charity kan gak melulu harus dalam bentuk uang. Kalo kita bisa nyumbang tenaga dan keahlian, ya kenapa enggak? Tenang aja. Dana darurat gue udah aman untuk tigapuluh bulan ke depan. Dan gaji lo udah gue alokasiin di sana. Jadi kalo sekali doang gak dapet cuan, kita masih aman sih. Lagian kalo sampe dana darurat gue abis kepake semua, ya berarti kerja lo gak becus sih. Tugas lo kan cariin job buat gue”

“Terserah lo deh. Tapi satu hal ya, kak. Kalo sampe project ini kelar dan lo nggak juga jadian ama Hoseok, gue minta kita pisah KK. Gak sudi gue berbagi KK sama lo.”

“Kalo gitu doain gue ya, adik bangsat!” Seokjin tertawa sambil mengacak rambut adiknya.

 

*******

 

Mereka berkumpul di sebuah co working space di area SCBD. Ini pertama kali mereka berkumpul untuk melakukan brainstorming Project Panti Jompo itu. Namjoon, Jungkook, Seokjin, dan Hoseok. Sebenarnya masih ada beberapa orang lagi yang diajak, namun mereka berhalangan hadir. Toh ini baru sesi brainstorming saja. Dan keempat orang ini sudah cukup mewakili bagian penting dari project ini. Jadi mereka memutuskan untuk tetap melakukan meeting ini.

Brainstroming bersama orang-orang kreatif dan hebat seperti mereka adalah kegiatan yang menyenangkan. Saling bertukar ide dan pemikiran untuk mencapai tujuan yang sama. Sesekali terjadi perdebatan. Namun justru hal itulah yang membuat diskusi ini menjadi menarik. Namjoon dan Jungkook adalah orang yang paling sering berdebat pada diskusi ini. Katanya, kontraktor dan arsitek adalah bentuk nyata dari Tom & Jerry. Susah akurnya. Jungkook bersikeras dengan idealismenya. Desain eco friendly. Yang tentu saja akan langsung ditolak Namjoon dengan kata “MAHAL!!! Budget gue bisa bengkak!” Dan Jungkook akan dengan senang hati menimpali, “Kalo soal budget, tenang. Ada Hoseok. Dia jago minta duit CSR. Kalo butuh foto kakek nenek supaya big company itu nggak tega nolak, ada Seokjin yang jago motret. Aman lah.” Di sisi lain, Hoseok dan Seokjin pun saling bertukar pendapat mengenai proposal yang dibuat Hoseok. Karena ia yang akan melakukan presentasi, Hoseok bersikeras dialah yang harus membuat materinya. Tidak ada kecanggungan di antara mereka berdua. Hoseok tidak terlihat masih menyimpan kesal karena Seokjin pernah muntah di atas kemeja favoritnya. Dan Seokjin, dia mulai bisa berbicara lancar di depan Hoseok, tanpa perlu bantuan alkohol.

Diskusi mereka selesai saat jam di dinding menunjukkan pukul 7 malam. Mereka mengemas barang untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. Saat tiba di lobby, Namjoon dan Jungkook pamit untuk berpisah. Mereka menuju basement untuk mengambil mobil. Sementara Hoseok dan Seokjin menuju pintu keluar untuk mencari taksi.

 

“Seok, ngopi yuk?”

“Gue cuma mau di Sabang-16 tapinya.”

“As your wish.” Jawab Seokjin sambil tersenyum. “Kenapa Sabang-16 mulu sih? Suka banget ama tempat itu?”

Hoseok mengalihkan kepalanya menghadap Seokjin sambil memperlihatkan senyum lebarnya. “Itu café patungan gue ama kakak gue. Gue naro modal, trus dia yang jalanin operasionalnya. Menu andalan kita tuh Kaya Toast Butter. Rotinya sih beli di supplier. Tapi selai kayanya, itu gue yang bikin. Resep andalan oma gue. Awalnya iseng doang bikin buat orang rumah ama buat temen. Tapi kata Jimin enak banget dan wajib dijual. Ya udah, gue coba aja. Dan ternyata malah jadi menu andalan café gue.” Hoseok sangat antusias berbagi kisahnya. Kalau dipikir-pikir, ini adalah kali pertama Hosoeok berbagi cerita tentang Sabang-16 dengan orang lain. Dia tidak pernah memposting apapun soal café itu di akun sosmednya. Ia tidak ingin orang datang ke sana karena latar belakang namanya yang cukup tenar. Ia ingin cafenya ramai dikunjungi orang karena mereka memang suka dengan menu yang disajikan di sana.

“Lo bukannya sibuk, Seok? Emang ada waktu bikin selai kaya?”

“Ahahaha… bikin selai kaya tuh semacam me time buat gue. Gue bisa bikin sekaligus banyak untuk stok. Kalo disimpen dengan benar, bisa tahan sampe 3 bulan lho di suhu ruangan. Asli, lo harus cobain sih kaya toastnya.”

Seokjin hanya diam. Tidak menyangka bahwa Jung Hoseok adalah sosok manusia dibalik makanan favoritnya. Kaya Toast Butter. Sejenak ia berpikir bahwa Semesta sedang memberinya kesempatan kedua. Dan ucapan dari Taehyung soal pisah KK adalah pendorong bagi Seokjin untuk mengucapkan kalimat berikutnya.

“Hoseok, kayanya gue mulai bosen deh manggil lo, Seok.”

“………..…???” Hoseok menatap Seokjin penuh kebingungan. Apakah Hoseok salah bicara dan membuat Seokjin kesal?

“Boleh nggak mulai sekarang gue panggilnya, Sayang?”

Hoseok terkejut. Lalu mengangguk. Matanya membulat dan sebuah senyum lebar terbentuk di wajahnya. Sambil meraih jemari Seokjin dan menggenggam tangannya, Hoseok berbisik di telinga Seokjin.

“As your wish, Jin.”

 

We the people fight for our existence

We don't claim to be perfect but we're free

We dream our dreams alone with no resistance

Fading like the stars we wish to be

You know I didn't mean what I just said

But my God woke up on the wrong side of his bed

And it just don't matter now

As little by little we gave you everything you ever dreamed of

Little by little the wheels of your life have slowly fallen off

Little by little you have to give it all in all your life

And all the time I just ask myself why you're really here?

 

 

-fin-

Notes:

Ini tulisan pertama aku. Promptnya dapet dari Kak Ay. Gak tau kenapa rasanya pengen banget untuk nyoba nulis.
Terima kasih banget ya, kak. Udah ngijinin aku buat make prompt kamu. I'm so honored to have you as my first reader.
Thank you for encouraging me to upload it on this platform.

Buat temen-temen yang mampir ke sini dan baca sampai selesai, terima kasih atas waktunya.
Semoga kalian suka ya :)