Work Text:
Ponsel Mas Indonesia berdering, nada yang berdering menandakan bahwa ada sms yang masuk.
Mas Indonesia meliriknya sebentar lalu mengerutkan kening dan meletakkan kembali benda persegi panjang itu ke atas meja, kembali sibuk dengan korannya sambil mendengarkan televisi yang sibuk mengoceh keadaan sekarang ini.
Philippines yang tadi sibuk menyapu dan tak sengaja melihat tingkah si Mas pun memiringkan kepalanya. Lalu ia kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Selang berapa menit ponsel Mas Indonesia kembali berdering, kali ini Mas Indonesia tak menghiraukan karena pertandingan bola tengah ditayangkan dan Mas Indonesia sibuk berkomentar sepanjang siaran. Philippines yang membawakan camilan sore dan teh manis beserta kopi manis pun cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah si Mas.
"Kiri, kiri, kiri dodooollll!!! Itu temenmu di kiri kosong, aduuuhh!!! Asuuuuuuuuuu!!!"
"Mas, omongannya ih!"
"Hehehe lupa. Maaf ya?"
Philippines pun tersenyum. "Iya dimaafin. Tuh kopinya diminum dulu."
"Makasih Philiiiiii." Indonesia menyosor pipi Philippines sebentar sebelum meraih cangkir kopi dan menyeruputnya pelan-pelan. Mendesah nikmat setelah menyeruput kopi lalu meraih pinggang Philippines supaya bisa dipeluk.
Nikmat mana lagi yang kaudustai???
Kecuali ya itu, ponsel Indonesia yang tak segan-segan mengganggu dengan deringnya yang sebetulnya biasa saja, hanya kelewat sering berdering sajalah membuat keduanya menjadi dipenuhi seribu tanya.
Indonesia menghela napas sebelum meraih ponselnya dan mulai menelaah satu persatu sms dari negeri seberang.... Iya, siapa lagi yang isengnya kelewatan mengirim sms bejibun hanya untuk bertanya kabar selain si pirang jabrik? Memangnya dia bandar pulsa apa bagaimana sih? Tidak tahu apa kalau sms internasional itu mahalnya naujubilah? Lagian kudet amat sih hari gini masih pakai sms?
Tapi ya mending masih tahu sms ya, ketimbang pakai surat yang diselipin di kaki burung dara? Mau berapa tahun baru sampai? Iya kalo si burung tidak terkena peluru nyasar terus jadi menu makan malam. Kan berabe jadinya.
Eh sebentar, kenapa Indonesia jadi nostalgia begini sih?
Sementara Indonesia berkutat dengan ponselnya, Philippines memandang dengan sejuta perasaan yang mungkin sedikit menggebu. Penasaran iya, kesel iya, mau marah iya, mau cuek juga iya. Tapi dong kepo. Lalu Philippines berusaha mengintip ponselnya Indonesia.
Wajah Philippines berubah menjadi sedatar talenan begitu tahu siapa yang membuat kegaduhan kecil itu.
"Mas...."
"Hmm...."
"Siapa itu?"
"Ha?"
"Itu smsnya siapa?"
"Oh dari si Holland."
"Kok pake sayang-sayang?!"
Indonesia mengerjapkan mata sebelum melirik Philippines yang mirip dengan seekor kucing yang mendapati teritorinya diganggu kucing lain. Menggeram seram.
"Eh? Ga kok, Phili...."
"Ga apanya?"
"Ya itu .... Ga pake sayang-sayang...."
"Coba sini lihat, mana?!"
Indonesia menyerahkan ponselnya pada Philippines. Philippines mengambilnya dan segera memelototi balon sms dari Netherlands. Sebetulnya tidak ada yang aneh apalagi menjurus sayang-sayang, karena percakapan Netherlands dan Indonesia hanya sekadar tanya jawab soal sate, harga sate, bahan baku sate, lalu gado-gado, urap, soto ayam dan nasi goreng, tapi Philippines terlanjur kesal.
Jadi, dia membalas pesan Netherlands dengan singkat.
"Harganya beda karena sudah beda masa. Jangan ganggu Mas Indonesia, ini Ponselnya saya yang pegang.
Tertanda, Phili"
.
.
.
.
.
.
.
End
