Work Text:
You're in a car with a beautiful boy,
and you're trying not to tell him that you love him, and you're trying to
choke down the feeling, and you're trembling, but he reaches over and
he touches you, like a prayer for which no words exist, and you feel your
heart taking root in your body, like you've discovered something you
don't even have a name for.
—You Are Jeff, Richard Siken
six months ago
Sepuluh menit sebelum tahun baru, Tooru menemukan dirinya sendiri tersaruk demi mencapai bilik toilet paling ujung di salah satu kelab malam paling eksklusif di jantung kota Buenos Aires.
Dan seketika, itu adalah hal yang paling sulit dilakukan di dunia, apabila iluminasi rendah lampu pesta kerap mengaburkan pandangannya dan dentuman musik tropical house yang memekakkan membuat kepalanya berdenyut makin hebat.
Lima menit sebelum tahun baru, Tooru mengeluarkan semua alkohol serta makan malamnya keluar dari sistem tubuh. Matanya mulai berair dan kerongkongannya seperti terbakar dan seakan ada rongga kosong yang tumbuh di dadanya.
Mateo, salah satu dari anggota timnya, juga satu yang berpikir adalah ide brilian untuk terbang dari San Juan ke ibu kota negara hanya untuk merayakan hari pertama di tahun yang baru, tiba di depan bilik toilet tak lama setelah itu.
Semasa ia menangkap Tooru duduk tak berdaya di lantai toilet dengan pipi yang nyaris menyentuh kloset, di sana akhirnya ia sampai pada realisasi bahwa Yah, mungkin ide ini tidak terlalu brilian . Tapi mau bilang apa lagi, kan.
“ Dude, are you okay ?” Sebuah antitesis yang Mateo tanyakan.
Tooru melihat Mateo dan Mateo melihatnya. Tapi dalam segelintir waktu, bukan sosok pemuda itu yang menyerbu pandangnya.
Melainkan seorang anak lelaki yang Tooru kenal dalam kebanyakan tahun di hidupnya, sembilan ribu kilometer lebih dan empat jam perbedaan zona waktu terbentang di antara mereka, kemungkinan besar sedang tidak memikirkannya sekarang.
Sepuluh detik menuju tahun baru, orang-orang mulai menghitung mundur. Tooru mengerjapkan kelopaknya dan bayangan Hajime lenyap. Mateo kembali, menjulang tinggi di hadapannya.
Tiga. Dua. Satu.
“ Shit ,” Tooru bergumam di antara nafasnya, “ I'm still in love with him .”
Selamat tahun baru.
today
Hajime masuk ke mobil hanya untuk mendapati jok belakang sedannya sudah diseraki bungkusan-bungkusan cemilan dan tumpukan cokelat batangan dan berkaleng-kaleng soda serta bir, cukup untuk persediaan tiga hari dua malam.
Mata Hajime memicing, penuh penghakiman. Apa? Ini bakal jadi perjalanan yang panjang , alasan Tooru.
“Cuma butuh empat jam sampai ke Las Vegas, Bodoh.” Satu alis Hajime terangkat, timpang. “Memangnya ahli gizimu setuju kalau pola dietmu sekacau ini?”
“Cuma tiga hari kok. Dan dia nggak perlu tahu.” Tooru mengerling jenaka. Sengaja, tahu betul gestur komikalnya bakal membuat Hajime meringis. “Oh, satu lagi.”
Hajime menoleh. Tangan-tangannya terkepal lebih keras di roda kemudi supaya tak perlu menghantam puncak kepala Tooru. “Apa?”
“Kalau-kalau aku ketiduran di tengah perjalanan: aku mendengkur.”
“Aku tahu.” Bola matanya berputar malas. “Kita sudah kenal satu sama lain sejak, entahlah, umur enam tahun.”
Di sana, Tooru tak bisa menyembunyikan senyumnya, buah dari sentimen kecil tersebut. Bahwa masih ada sebagian kecil dari kebiasaannya yang cukup penting disimpan Hajime dalam ingatan. Setelah bertahun-tahun, setelah selama ini.
Tapi, seperti natur pula, di tahun-tahun tersebut mereka telah terlatih untuk bermain peran dengan dinamika semacam ini—Tooru bakal menggoda Hajime, dan Hajime bakal mengomel kesal.
Makanya tidak aneh kalau reaksi Hajime terhadap senyumnya adalah “Berhenti tersenyum. Kau jelek sekali.”
“Apa?!”
“Dan nggak ada yang bilang kalau kau boleh tidur.”
“Apa?!”
Hajime hanya tertawa.
Tooru tak pernah mengatakan ini pada siapapun, tapi apabila mengucapkan apa dan apa , lagi dan lagi, bisa membuatnya mendengar tawa itu lebih lama, maka dia akan melakukannya.
Hajime menghidupkan mesin mobil dan Tooru memasang sabuk pengaman. Hajime menangkap satu pemandangan kota Irvine sekali lagi dari kaca spionnya sebelum menginjak gas. Tooru mengambil satu pemandangan siluet wajah Hajime sekali lagi sebelum memalingkan muka ke arah jendela, karena sulit untuk melihatnya tanpa mengungkapkan perasaan padanya.
Tiga hari dan dua malam, dan Tooru akan mengatakan kebenarannya.
yesterday
Awalnya seperti ini—semuanya adalah ide Tooru.
Tiga hari sebelum pesawatnya mendarat di California, Tooru membombardir Hajime lewat panggilan telepon dan teks pesan dan akun sosial medianya dengan Iwa-chan!!! Kau sibuk akhir pekan ini?
Yang, sudah pasti, dibalas dengan pertanyaan lain dari Hajime.
Kenapa?
Sehingga hal pertama yang Tooru lakukan setelah keluar dari bandara LAX adalah memesan taksi menuju apartemen Hajime dan mengetuk pintu unitnya dengan pola berirama. Tooru melakukannya setiap saat. Seolah-olah mereka punya kode rahasia, bahasa yang hanya dimengerti mereka berdua ( spoiler : hal itu tak pernah ada).
Hajime mengayun kenop pintu terbuka dan Tooru memulai.
“Kalau-kalau kau belum lihat berita, karena aku tahu berita gosip Argentina dan Amerika Serikat sangat berbeda—dan aku punya masalah dengan itu karena negara ini selalu berpikir kalau dunia berputar mengelilingi kalian. Duh. Jadi, aku ulangi lagi. Kalau-kalau kau belum lihat berita, aku sudah putus dengan model itu minggu lalu. Publisisnya dan PR Team CA San Juan bilang ke jurnalis kalau alasannya cuma perbedaan pendapat yang tak bisa dihindari. Bullshit . Dia tidur dengan seorang fotografer di belakangku! Yang benar saja?! Aku jelas-jelas jauh lebih tampan?! Lupakan si brengsek itu. Jadi, singkat cerita, aku harus menghadiri pernikahan Blanco di Las Vegas dua hari lagi dan aku tak punya orang di daftar pasangan yang bisa kubawa selain kau.“
Hajime, wajahnya masih belum mengindikasikan emosi apapun. “Sudah selesai bicaranya?”
“Ya.” Tooru menarik nafas panjang, kompensasi dari rentetan celotehannya. “Kau paham apa yang kubilang barusan?”
“Tentu saja tidak.” Hajime menggeleng, membukakan pintu sedikit lebih lebar. “Tapi masuklah lebih dulu.”
nineteen years ago
Adalah pertengahan libur musim panas, yang diberitakan prakiraan cuaca di televisi sebagai hari paling terik di Miyagi tahun ini, ketika Hajime bertemu Tooru untuk pertama kali.
Kebanyakan anak memilih untuk berkumpul di taman bermain sepanjang liburan, tapi Hajime lebih suka menembus semak-semak di balik perosotan dan berjalan lebih jauh. Sebab bila menelusuri pepohonan kurang lebih sepuluh menit dari sana, kau akan mendapatkan padang rumput dengan ilalang-ilalang tinggi tengah menunggu.
Di beberapa hari, ketika cuacanya hangat, jangkrik-jangkrik akan bersenandung lebih keras dari biasanya. Dan di hari-hari itulah Hajime akan membawa jaring perangkap dan kotak plastik transparan yang diberikan kakeknya untuk menangkap beberapa serangga—seperti hari ini.
Rencana Hajime untuk mencari satu dua jangkrik dan belalang dan kumbang sudah setengah jalan, kalau saja sebuah keributan di taman bermain tidak mengusik atensinya.
Seiring langkahnya mendekati kotak pasir yang dikerumuni anak-anak sepantarannya, Hajime pun paham apa yang sedang dipermasalahkan. Dua anak perempuan sedang memperebutkan seorang anak lelaki, menarik masing-masing tangannya dengan seluruh tenaga yang bisa disimpan tubuh seorang bocah enam tahun.
Beberapa anak yang mengelilingi mereka tak melakukan apa-apa selain berteriak antusias, dukungan yang kurang lebih cuma memperkeruh situasi. Hajime bersumpah jika adegan ini dibiarkan lebih lama lagi, badan anak laki-laki itu bisa-bisa terbelah dua. Jadi, Hajime pun maju sebagai interupsi, berteriak untuk menghentikan dua anak perempuan tersebut dan membungkam mulut anak-anak lain.
Tak disangka-sangka, usahanya berhasil.
Hening seketika. Sekarang, apa?
“Oke.” Hajime cepat-cepat memutar gerigi otaknya, mencari solusi. “Apa yang terjadi di sini?”
Satu dari gadis kecil itu bicara dengan volume terlalu kuat seakan-akan Hajime berjarak sepuluh meter di depannya, bukan satu. “Tooru berjanji bakal menikahiku hari ini tapi Micchan merebutnya dariku!”
Gadis lain yang Hajime duga bernama Micchan menyahut tak kalah semangat. “Bohong! Tooru nggak pernah berjanji buat menikahimu! Dia cuma mau menikahiku, makanya dia memberikanku mahkota bunga ini!”
Sebelum Hajime sempat membuka suara, adu mulut antara keduanya sudah lanjut ke ronde berikut. Merambat sebagai campuran kata-kata acak dan teriakan inkoheren yang menulikan telinga. Bagaimana bisa anak laki-laki bernama Tooru ini sanggup meladeni mereka berdua, Hajime tak habis pikir.
Hajime berteriak lagi, kali ini lebih lantang. “Hei, berhenti!”
Dalam sekejap, keduanya mengulum bibir dan berhenti bicara. Tapi bentakan Hajime tak menutup kemungkinan untuk salah seorang anak di antara keramaian berkelakar setengah suara pada temannya— Wow, dia kedengaran seperti ayahku.
Hajime ingin menyanggah, tapi yang satu itu bisa menunggu. Ada hal yang lebih penting untuk diurus, meskipun pada dasarnya dia tak pernah punya kewajiban jadi polisi moral untuk masalah tak penting dalam hidup bocah-bocah sekolah dasar ini.
Tapi, tetap saja. Ini Hajime yang kita bicarakan.
“Coba kita tanya Tooru,” Hajime mengedikkan dagunya ke arah anak lelaki yang berdiri dengan bahu gemetar di antara dua anak perempuan tersebut, “siapa yang ingin dia nikahi?”
Pertanyaan itu sejatinya bodoh. Tapi mereka cuma anak enam tahun. Semuanya memang bodoh di masa-masa tersebut.
“Benar!” Micchan berkacak pinggang menghadap Tooru.
“Siapa yang ingin kau nikahi?” Satu gadis lagi mendesak, suaranya penuh dengan tuntutan.
Bocah bernama Tooru itu memiliki rambut cokelat yang bergelombang dan iris cokelat yang memantulkan kilau emas di bawah sinar matahari. Dia mengenakan kaus biru muda bagaikan warna langit di musim panas. Dan dia melihat Hajime bagaikan pahlawan penyelamat bumi.
Anak itu, Tooru, benar-benar memaknainya. Sungguh. Makanya, dia menjawab pertanyaan skakmat tersebut dengan melepaskan telapaknya dari kedua anak perempuan itu dan meraih Hajime.
Tooru menggenggam tangan Hajime seakan hidupnya bergantung di sana. Sebuah permohonan agar ia cepat-cepat dibawa kabur.
Jadi mereka pun berlari, menembus semak menuju padang rumput, jauh dan semakin jauh ke dalam. Pada sebuah dunia yang kelak hanya dibagi oleh mereka berdua.
Dan sejak saat itu pula, Tooru adalah Hajime, dan Hajime adalah Tooru, dan—oh, apa ada bedanya?
yesterday
Tooru membawa Hajime ke sebuah pesta pernikahan karena dia tidak jatuh cinta padanya.
“Kenapa?” Hajime bertanya.
Tentang pernikahannya, tentu saja. Bukan bagian jatuh cintanya, karena Hajime tak pernah tahu.
Mereka duduk berseberangan di depan meja paling sudut pada sebuah restoran cepat saji, tak jauh dari gedung apartemen Hajime. Setengah jam setelah muncul di depan pintu, Tooru memaksa Hajime keluar untuk makan malam bersamanya.
Aku lapar, keluh Tooru.
Kau harusnya tidur, Hajime mengernyit dari balik majalah yang menutupi separuh wajahnya, bukannya kau baru saja naik pesawat enam belas jam?
Tooru, suaranya hampir-hampir merengek. Aku mau makan sesuatu yang mewah.
Hajime membawanya ke In-N-Out. Tooru tak bisa protes. Tidak setiap hari dia bisa memakan burgernya, lagipula.
“Karena kau temanku.” Jawab Tooru enteng, di antara kunyahan kentang goreng di mulut.
“Nggak ada yang membawa temannya ke pesta pernikahan.” Hajime selalu tiba dengan jawaban logis, ibarat tengah menjawab pertanyaan-pertanyaan Quora yang kerap ia lakukan di waktu senggangnya. “Yang mereka bawa itu pasangan kencannya.”
“Tiap kali aku datang ke pesta pernikahan, aku selalu membawa orang yang berbeda. Dan yang lain akan bertanya, Jadi kau sudah selesai dengan yang kau bawa di pesta sebelumnya itu? Dan pasangan kencanku yang sekarang jadi merasa nggak nyaman. Tapi kalau aku membawamu, nggak akan ada yang nggak nyaman kan?”
Hajime memandangnya seolah baru saja mendengar alasan paling konyol sedunia. Telunjuknya kini terproyeksi pada wajahnya sendiri. “Halo? Aku?”
“Iwa-chan—”
“Bilang saja kalau kau nggak mau datang sendirian dan kau sedang nggak punya pasangan kencan dan cuma aku satu-satunya manusia yang kau kenal di Amerika.”
Tooru memasang tampang sok kaget. Di bawah lampu fluoresen restoran yang terlalu nyalang, air mukanya nampak makin artifisial. “Iwa-chan, kamu peramal ya?”
Hajime melotot, bersiap-siap melempar kopinya ke muka Tooru dalam waktu dekat. Hajime adalah satu-satunya orang yang Tooru kenal memesan americano panas untuk disantap dengan burger keju sebagai makan malam. Laki-laki ini ekuivalen dengan kriminal. Tapi sekaligus pahlawan penyelamat bumi.
“ Please . Ini pesta pernikahan Blanco.” Itu, kartu terakhir Tooru. Setelahnya tak ada lagi dan besok pagi mau tak mau ia akan pergi ke Las Vegas seorang diri. “Hei, bayangkan kalau kau bisa memutar waktu dan memberitahu dirimu di masa lalu kalau kau bakal menghadiri pesta pernikahan kedua Jose Blanco suatu saat!”
Hajime menyipitkan matanya dan Tooru tak tahu apa yang sedang ia lakukan—menimbang tawaran Tooru atau mencoba membunuhnya dengan tatapan.
Tooru sudah mengambil ancang-ancang kalau-kalau Hajime memang hendak melemparkan kopi ke arahnya. Tapi pemuda itu cuma mendesah pelan.
Sebuah anggukan keluar. “Oke. Satu kali ini saja.”
Tooru tak percaya idenya berhasil.
fourteen years ago
Pertandingan ekshibisi Argentina melawan Jepang sudah berakhir lebih dari satu jam yang lalu. Area lapangan telah lama kosong, sekumpulan lelaki tua berseragam abu-abu telah mendorong alat-alat kebersihan mereka, sebuah tanda pengusiran halus. Namun masih ada beberapa penonton yang memilih untuk tinggal.
Begitu pula Tooru, yang masih betah duduk di barisan paling bawah tribun, merentangkan jockstrap miliknya dan menekuni tanda tangan yang tertera di sana dengan mata berkilat kagum.
Ini hari terbaik dalam hidupnya, Tooru pikir. Dia takkan pernah mencuci jockstrap ini. Dia akan tidur bersamanya setiap malam. Dia bakal memamerkannya pada wali kelasnya besok, dan besoknya lagi pada guru olah raganya, dan besoknya lagi pada kepala sekolah.
“Bisakah kau berhenti melihatnya seperti orang bodoh?” Sebuah suara mengeluh.
Seraya fokusnya berpindah dari jockstrap ke Hajime, berubah jugalah ekspresi wajah Tooru. “Nggak mau. Dasar pengkhianat.”
“Hei!” Hajime berdiri di hadapannya, melambai-lambaikan papan yang diisi goresan tanda tangan berbeda. “Kan ini dibeli pakai duitku juga.”
“Kau hutang lima puluh Yen padaku.” Tooru, anak itu menggerutu.
“Terserahlah.” Hajime menghela nafas. “Yang penting aku dapat tanda tangan Handa Kouji.”
Mulut Tooru mencibir. Sebagai balas dendam, dia bersikukuh untuk tetap duduk di bangkunya.
Di umur sebelas tahun, Hajime sudah paham kalau satu-satunya cara untuk menyeret Tooru pergi adalah lewat sedikit kekerasan—tarikan di bagian belakang kerah baju, atau jeweran di kedua telinga, tinggal pilih yang mana. Tapi berhubung hari ini terlalu indah untuk diisi hal konyol semacam itu, ujung-ujungnya Hajime menyerah dan menjatuhkan tubuhnya di sebelah Tooru.
“Keren sekali, kan?” Tooru masih belum mau berhenti mengangkat jockstrap putih itu, memandang dengan adorasi di mata. Kilau lampu sorot yang jatuh dari langit-langit stadium menyinarinya, hingga Hajime bisa melihat warna iris Tooru yang sebenar-benarnya—cokelat muda, nyaris keemasan.
“Ya,” Hajime bergumam, “kau benar.”
Lalu Tooru berputar padanya, seakan pikirannya baru saja disambar sebuah ide brilian. “Hei, aku akan jadi sekeren Jose Blanco kalau sudah dewasa nanti!”
Mereka umur sebelas tahun kala itu. Hajime masih bercita-cita menjadi dokter dan bekerja di rumah sakit khusus kanker di Tokyo seperti pamannya. Seminggu lalu, Tooru baru saja mendeklarasikan pada semua orang di kelas kalau dia akan jadi astronot dan bergabung dengan NASA suatu hari nanti.
Tapi semasa Tooru berkata dia akan menyerahkan sepanjang hidupnya untuk bermain bola voli, ada begitu banyak figmen kejadian masa depan yang berhamburan di belakang kepala Hajime.
Di memori yang belum terjadi itu, Tooru bukan lagi seorang anak sebelas tahun yang berjinjit dan melongokkan kepalanya hanya untuk bisa melihat Jose Blanco lebih nyata, tergugah kagum menonton pertandingan tersebut dengan sebuah mimpi di siang bolong yang melintas di benaknya kalau Aku juga ingin ada di sana .
Di imaji Hajime, kelak Tooru akan menggenapi semua mimpinya. Dia yang akan berada di lapangan itu, dengan nama yang akan dielu-elukan orang-orang, membawa bendera negaranya yang akan terpampang di dada kiri seragamnya, dan mungkin, mungkin saja, masih sempat melawan Jose Blanco suatu hari nanti.
Hajime bisa merasakannya, bahwa hidup Tooru takkan pernah jadi sama.
today
Berikan Hajime sebuah kasus tentang atlet cedera yang butuh rehabilitasi. Atau tanyakan dia mengenai daftar pertolongan pertama yang perlu disiapkan sebelum pertandingan berlangsung. Dia bisa mengurus semua itu.
Atau sesuatu yang lebih umum, karena Hajime adalah perwujudan dari mimpi basah semua orang tua yang menginginkan menantu lelaki sempurna. Memasang televisi yang baru dibeli? Gampang. Memperbaiki mobil mogok? Tentu saja bisa. Memasak hidangan khas Meksiko? Sudah jadi spesialisasinya sejak tinggal di California.
Namun, meskipun Tooru versi umur enam tahun dan versi dua puluh lima tahun sama-sama menganggap Hajime sebagai pahlawan penyelamat bumi, mereka setuju kalau ada satu hal yang tak bisa Hajime lakukan.
“Aku mohon!” Tooru sudah di ambang tangis. “Berhenti bernyanyi!”
“ No way .” Hajime berkata di sela-sela melodi sumbangnya. “ My car, my rule .”
Tooru melipat tangan, menghela nafas keras-keras. Tak lama, tahu-tahu saja ia menurunkan jendelanya. Mereka berada jalan tol saat itu. Ada sebuah SUV yang melintas di sebelahnya dalam kecepatan yang tak jauh beda.
Tooru menyembulkan sedikit wajahnya untuk berteriak pada penumpang di dalam mobil tersebut. “ Hey ! Listen to this guy's ugly voice —urgh!”
Kata-katanya terpotong sebersamaan dengan Hajime menaikkan jendelanya lagi, sengaja menubruk dagu Tooru. Tooru menoleh padanya, setengah kesal dan setengah kaget. Karena bagaimana bisa pemuda ini mampu menggunakan kekerasan tanpa menyentuhnya sama sekali.
“Diamlah!”
“Kau yang diam!”
Hajime menggeram, tapi akhirnya berhenti bernyanyi. Sebuah reaksi tipikal yang keluar—dahi berkerut kesal dan bibir yang mengerucut maju, bersungut-sungut.
Sebaliknya, senyum Tooru penuh kemenangan. Lantas dengan penuh percaya diri ia meraih iPod tua Hajime yang disambung ke pengeras suara dan menggulir daftar lagu di sana.
“Biar aku saja yang pilih lagunya. Telingaku bisa tuli kalau dengar album My Chemical Romance terus-terusan.”
“ Said the one who has no taste in music .” Hajime misuh-misuh. “Dan itu mode shuffle , ngomong-ngomong. Bukan cuma memutar satu album.”
“ Still sucks .” Lidahnya terjulur pada Hajime, selagi matanya masih terfiksasi pada layar iPod. Tooru nyaris memilih satu lagu dari Taylor Swift ketika sebuah lagu baru dimulai dan Hajime mencegatnya.
“Tunggu, jangan diganti,” pintanya, dan Tooru mencoba mengingat kapan kali terakhir Hajime meminta sesuatu padanya, “satu lagu ini saja.”
Tak butuh waktu lama untuk mengenali lagunya. Gitar akustik yang memulai muncul seperti personifikasi dari pelukan seorang teman lama. Bagaimana bisa sesuatu terasa begitu akrab namun juga begitu distan?
Tooru memandang Hajime dan menyaksikan bagaimana pendar matahari California jam sepuluh pagi merengkuh wajahnya, membawa sedikit magis yang membuat fitur-fitur kaku di wajah Hajime melembut dalam sekelebat waktu.
Atau mungkin magisnya tidak berasal dari sinar matahari. Mungkin itu karena irama yang menguar dari pengeras suara. Atau mungkin ini semua bukan tentang sesuatu yang magis. Melainkan sebuah memori yang datang membanjiri.
“Kau masih menyimpan kasetnya?” Sebuah pertanyaan tiba entah darimana, terselip keluar dari lidah Tooru. Cuma atas dasar penasaran.
“Tentu saja.” Hajime menjawab dalam lekuk senyum. Seolah-olah di telinganya pertanyaan itu lebih terdengar seperti Apakah kau masih menganggap ini album kesukaanmu? Lagu kesukaanmu? Dari gadis yang pernah jadi orang yang paling kausukai di dunia?
“Tentu saja.” Tooru membeo. Ada miris dalam intonasinya, tapi Hajime terlalu sibuk jatuh dalam pusaran nostalgia untuk sadar. “Kasetnya kado Valentine pertamamu dari seseorang, kan?”
“Mm-hmm.” Hajime bersenandung ringan, mengikuti notasi lagu. Ujung-ujung jemarinya mengetuk ritmis di roda kemudi.
Tooru tak mengatakan apa-apa lagi setelahnya. Dia menumpukan wajahnya di tangan dan menumpukan tangannya di sisi jendela.
Alunan gitar itu masih terus berlanjut, begitu familiar di telinga Tooru. Terdengar seperti suara hatinya yang pecah berkeping-keping.
eleven years ago
Di umur empat belas tahun, kebanyakan remaja masih berusaha mencari jati diri masing-masing. Potongan-potongan yang bisa disatukan hanya ketika kau tahu apa yang kau sukai, kau inginkan. Dan ketika kau tahu, dalam sekejap, dunia menjadi sebuah tempat yang lebih masuk akal. Tapi seringnya tidak seperti itu, kan. Klise, namun siapa yang bisa protes?
Di umur empat belas tahun, Oikawa Tooru sudah tahu apa yang ia inginkan di hari ia bertemu Jose Blanco tiga musim gugur lalu. Sejak saat itu pula, voli telah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Tapi untuk aspek lain, Tooru hanyalah remaja pada umumnya. Yang mana setelah liburan musim panas berakhir, akibat dorongan lingkaran sosial dan titel kakak kelas yang ia pegang, akhirnya ia pun datang ke sekolah dengan eksperimen gaya rambut yang ditata dengan gel dan tetap tidak berubah posisi setelah pertandingan yang panjang. Hal itu diikuti dengan menyatakan bahwa makanan kesukaannya sudah berganti dari chashu donburi menjadi roti susu. Yang pada dasarnya ditujukan buat gadis-gadis dari kelas sebelah supaya lebih mudah menyisipkan berlusin-lusin roti dari kantin daripada bento buatan sendiri ke dalam lokernya, apresiasi untuk gaya rambut barunya dan kemenangan yang ia bawa untuk tim voli sekolah.
“Tolol,” adalah yang Hajime katakan, selagi Takahiro dan Issei melahap roti susu pemberian Tooru di pinggir lapangan. “Oikawa tolol.”
Berhubung mulut Takahiro dan Issei masih sibuk mengunyah, dan lagipula roti gratis setiap hari kedengarannya tidak buruk-buruk amat, mereka pikir apa gunanya mengeluh seperti Hajime.
“Bodoh. Tukang pamer. Sok keren.”
Hajime belum berhenti menggerutu seraya terus melemparkan bola ke dinding keras-keras. Sedikit lagi dan ia akan menciptakan lubang di sana. Tooru masih menjumpai seorang anak kelas dua yang memberinya surat cinta di belakang gedung gimnasium.
“Kau cuma cemburu, kan?” adalah yang Tooru katakan kemudian, sekalipun ia tidak ada di sana semasa Hajime mengomel diam-diam. Telepati sahabat , dia pernah bilang, satu kali pada Issei, meskipun Issei tak ingat pernah bertanya. Apakah kau tahu jika berteman dengan seseorang lebih dari tujuh tahun, kemungkinan besar pertemanan kalian akan bertahan seumur hidup?
“Kenapa harus cemburu?” Mengesampingkan betapa banyaknya emosi yang tumpah dalam suaranya, Hajime sebenar-benarnya tidak cemburu. Sama sekali. Karena, “Aku nggak pernah ingin dikelilingi gadis-gadis, sepertimu.”
“Oh,” Tooru memiringkan kepala, “kau ingin laki-laki, kalau begitu?”
Tawa Takahiro pecah. Issei menyemburkan semua makanannya keluar. Dua anak kelas satu yang sedang latihan servis di dekat mereka—Tobio dan Akira—mendadak melempar bola ke area lapangan yang salah.
Bola di tangan Hajime turut melambung, namun kali ini mencapai kepala Tooru dengan suara bum yang keras. Dan yang Tooru ingat setelahnya adalah pandangannya kabur, berkunang-kunang, dan Hajime yang menggendongnya menuju klinik sekolah. Empat langkah di belakang, Issei dan Takahiro menyusul.
Kau harus istirahat sementara. Perawat sekolah berkata. Semua kelas sudah bubar satu jam yang lalu, dan keadaan Tooru tak terlalu memprihatinkan untuk membuatnya tetap tinggal.
Jadi hanya Hajime yang menemani Tooru di klinik sekolah, memutuskan tidak bergabung dalam latihan sore ini. Yang ada, dihabiskannya waktunya duduk di sebelah Tooru yang terjaga di tempat tidur.
“Maaf.” Lima belas menit setelah konversasi dengan perawat sekolah berakhir, Hajime akhirnya bersuara.
“Yah,” Oikawa menguarkan sepenggal tawa, namun masih menyembunyikan wajahnya dengan berbaring menghadap jendela, “nggak dipungkiri lagi kalau kau pemain terbaik di tim kita. Yang tadi itu… lumayan.”
“Maafkan aku.” Dia berbicara lagi.
“Kalau kau benar-benar menyesal, kau harus janji nggak akan melakukannya lagi.”
“Aku nggak bisa.”
Tooru melengos. Padahal takkan ada yang peduli kalau Hajime berbohong sekali saja, mengatakan Aku janji dan tetap menghajar Tooru di lain hari. Sebab apa lagi yang bisa mendeskripsikan pertemanan mereka, kalau bukan Tooru yang membuat masalah dan Hajime yang akan memberinya pelajaran.
“Kalau begitu bawakan aku roti dari lokerku. Dan air. Aku lapar setelah kau pukul.”
“Aku melempar, bukan memukul!”
Dalam arti lain: Kau kumaafkan dan Terima kasih. Tapi sejak usia enam tahun, Tooru dan Hajime tidak pernah paham cara berkomunikasi dalam bahasa sesantun itu, sejujur itu. Hanya ini yang mampu mereka ucapkan, translasi kata dan frasa yang cuma bisa dipahami keduanya.
Hajime keluar dari klinik beberapa menit demi dua bungkus roti dan sebotol air mineral dingin. Sewaktu ia kembali, Tooru sudah berbaring menghadap ke arahnya. Matanya masih terpejam.
“Hey.” Tooru memanggil, lebih terdengar layaknya bisikan. “Kau marah padaku?”
Hajime meletakkan roti dan air di nakas lalu duduk, sembari bertanya balik, “Kenapa?”
“Karena yang kukatakan tadi.” Ada hesitansi yang makin bertambah, semakin banyak kata yang ia ucapkan. “Kalau kau lebih ingin dikelilingi laki-laki?”
“Aku tidak marah.” Hajime mendesah pelan, memijat keningnya dengan tangan yang ditumpukan di lengan kursi. “Aku cuma tidak suka caramu bicara tanpa berpikir dulu. Kata-katamu bisa menyerangmu balik suatu saat, kau tahu.”
“Sudah terjadi,” katanya demikian. Tooru mengerjap kelopak matanya terbuka dan Hajime memandang.
Di balik punggung anak itu, jendela membiaskan berkas cahaya matahari jam empat sore. Rambut dan mata Tooru bersinar dalam kilau keemasan. Dan Hajime merasa seperti ditarik balik masa lalu, kembali pada umur enam tahun, berdiri di kotak pasir, menatap anak itu untuk yang pertama, sekali lagi.
“Hei, Hajime. Sepertinya aku suka laki-laki juga.”
Di umur empat belas tahun, kebanyakan remaja masih berusaha mencari jati diri masing-masing. Potongan-potongan yang bisa disatukan hanya ketika kau tahu apa yang kau sukai dan inginkan.
Maka bagaimana jika fragmen yang kau temukan tak sesuai dengan bentuk yang kau mau? Apa yang harus kau perbuat kalau potongan itu terasa janggal dengan skema yang sudah direncanakan?
Di umur empat belas tahun, Oikawa Tooru mengakui kalau voli adalah hal kesukaannya di dunia sepanjang masa. Namun di waktu yang sama, akhirnya paham kalau hal itu bukan satu-satunya yang ia sukai saat berada di lapangan. Mungkin, mungkin saja, orang-orang yang memainkannya juga. Tapi yang satu ini baiknya ditinggalkan dalam diam, karena mayoritas remaja Jepang belum bisa memutuskan apakah mereka bakal menerima fakta ini dengan baik atau tidak.
“Siapa?” Itu, reaksi pertama Hajime.
Tooru bergumam. “Pokoknya bukan anggota tim kita.”
Hajime menghela nafas, dan Tooru tak bisa memastikan apa implikasinya.
“Aku harap bukan Ushiwaka,” celetuk Hajime.
Tooru tergelak sampai-sampai kepalanya terasa nyeri kembali. “Tentu saja tidak.”
Hajime mengantarnya pulang setengah jam kemudian. Mereka tak pernah membahasnya lagi, sama sekali. Hingga mereka akhirnya berumur sembilan belas dan terbang ke kontinen lain, jauh dari rumah. Hingga akhirnya suatu hari dunia menjadi tempat yang lebih bersahabat untuk mengungkapkan rahasia seperti ini. Dan kelak, di sana, Tooru akhirnya cukup berani untuk berdiri tegak dan mengakui fakta tersebut.
Tapi untuk sore ini, semasa Hajime berjalan di sebelahnya menyusuri sisi jalan mengarah ke rumahnya, dengan ujung-ujung bahu yang mendadak berjarak lebih jauh daripada biasanya, Tooru menyimpan rasa itu untuk dirinya sendiri, dan Hajime menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana.
today
Hotel sekaligus resor itu jaraknya cuma lima belas menit dari pusat kota, tapi kelihatan jauh sekali dari segala sibuk dan hiruk-pikuk. Sebab apabila Tooru menyibakkan tirai dan mengintip dari balik jendela, mengisi satu sisi kamar hotel mereka di lantai kesepuluh, yang menyambut adalah pemandangan aerial dari jejeran pohon palem yang berbaris rapi dan sedikit banyak sentuhan warna biru dari langit musim panas dan kolam renang.
Dan tatkala Tooru memutar kepalanya ke belakang, yang ia temukan adalah Hajime, mendengkur keras di kasurnya.
“Iwa-chan.” Tooru memanggil. Suaranya manis, namun dibarengi dengan tendangan tak sabar yang diarahkan ke kaki tempat tidur Hajime, membuat tubuh pemuda itu ikut berguncang. “Sudah lewat jam makan siang dan kita belum makan apapun sejak berangkat. Kau nggak lapar?”
Hajime bahkan tak mau repot-repot membuka matanya. “Aku sudah kenyang gara-gara makan cemilanmu di jalan.”
“Kita bahkan belum menghabiskan setengahnya.”
Sisa bungkusan makanan yang belum disentuh diletakkan begitu saja, menumpuk di atas meja kopi.
Hajime mengerang, menimpa wajahnya di balik bantal. “Duh, bangunkan saja aku buat gladi makan malamnya.”
Dan ketika Hajime terbangun—bukan karena dibangunkan, melainkan akibat bunyi alarm yang dia pasang di ponselnya, karena mau jadi apa dia kalau mengharapkan Tooru—tak ada lagi cemilan yang tersisa di atas meja.
“Dasar monster,” desisnya pada Tooru.
Anak itu tengah duduk santai di kasurnya, dengan ponsel di tangan kanan dan cokelat di tangan kiri. “Kenapa? Cuma ini satu-satunya kesempatanku bisa makan apapun kecuali dada ayam dan sayur rebus—”
“Aku akan menelepon ahli gizimu.” Telunjuknya tertuju pada Tooru, selagi mengancam. “Lihat saja nanti.”
“Kau sudah berumur dua puluh lima tahun dan masih jadi tukang mengadu?! Aku nggak percaya—”
Kata-katanya datang terlambat. Pasalnya Hajime sudah masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
Perdebatan masih dilanjutkan bahkan setelah keduanya mengganti kaus dan celana jins mereka dengan setelan lebih formal. Tooru dengan jas yang tak dikancing dan kaus putih di dalamnya. Sementara Hajime mengenakan kemeja lengan pendek dan dasi garis-garis yang menurut Tooru, Kau terlihat seperti guru sekolah Amerika yang mengadakan razia di prom dan membuat pestanya membosankan aduh — jangan pukul aku! Aku benar, Iwa-chan! Ujung-ujungnya, Hajime membuang dasinya dan ikut mengenakan jas.
Untungnya, terima kasih untuk Tuhan dan dewa-dewi lain di atas sana, pertengkaran verbal itu berakhir di pemberhentian lantai kelima elevator yang mereka masuki. Tooru tengah menjelaskan kenapa dia berhak mendapatkan libur untuk dietnya sepanjang akhir pekan, setelah menghabiskan dua bulan terakhir makan makanan rebusan yang hambar.
Hajime bertanya Apa yang terjadi dua bulan ini? dan Tooru mengalihkan pandangnya ke sudut kotak besi tersebut. Mata Hajime terasa begitu jauh. Karena, karena —
“Oi, Toto!” Sebuah suara memotong. Baik Tooru dan Hajime menoleh ke arah pintu yang terbuka otomatis. Di depan sana, Mateo berdiri. Sosok Kaukasia seratus sembilan puluh senti itu semestinya mengintimidasi, namun kesan tersebut segera luntur bila senyum kepalang ramahnya keluar. “Ah, dan pacarnya Toto!”
Anehnya, Hajime nampak lebih tertarik akan nama panggilan Tooru yang disebut, bukannya panggilan yang ditujukan untuknya. “Toto? Orang-orang memanggilmu Toto?”
Tooru memberengut. “ No comment .”
“ Toto as in— ” Hajime mengulum tawanya dalam senyum “— toilet brand ?”
“Diamlah, Iwa-chan!”
Tumben-tumbennya, Hajime menurut patuh dan berhenti bicara. Tapi sebagai gantinya gelak tawanya yang keluar. Untungnya Mateo buru-buru bergabung dalam dialog untuk mendistraksinya dari nama panggilan tersebut, milik Tooru dan juga miliknya.
“Tooru bicara banyak tentangmu.” Mateo sekonyong-konyong mencetuskan fakta itu dalam perjalanan menyusuri lorong lantai dasar.
Gladi makan malam akan diadakan setengah jam lagi di taman yang ada di luar sayap timur gedung hotel. Di ujung lorong, sudah terlihat meja-meja bundar yang disusun rapi dengan taplak satin putih dan rangkaian bunga lili di atasnya. Lampu-lampu kecil yang digantung rendah perlahan dihidupkan, warna jingganya kini membaur dengan lembayung langit senja.
Hajime tersenyum tipis semasa memandang Mateo di sisi kirinya, kemudian berputar ke Tooru di sisi kanannya. Sama sekali tak punya ide kalau Mateo mencuri-curi kerlingan mata jenaka kepada Tooru saat ia tidak melihat.
“Benarkah?” Hajime bertanya.
“Dia bohong,” tandas Tooru. Ada kesan ketus yang tidak biasa tersisip di sana.
Mateo terkekeh pelan. “Aku nggak bohong! Aku tahu Iwa-chan karena kalian selalu menelepon satu sama lain apalagi saat Toto baru datang ke Argentina.”
Tooru harap Hajime tidak menangkap lega dalam hela nafas panjangnya saat itu.
Kemungkinan besarnya tidak, karena yang ia lakukan sebagai retaliasi adalah anggukan tipis. “Yah, itu masa-masa yang sulit buat Toto. ”
Tooru menaikkan sebelah alisnya, begitu juga satu sudut bibirnya. “Itu juga masa yang sulit buatmu. Jangan sok kuat. Dan jangan panggil aku Toto.”
Hajime tertawa, dan yang satu ini jauh berbeda daripada yang keluar beberapa menit sebelumnya. Ada impresi hangat di sana, sesuatu yang belum pernah Tooru dengar dari Hajime ketika topik pembicaraan mengungkit nama Tooru. Sesuatu yang mengindikasikan kalau Ya, itu masa-masa yang sulit buat kami berdua. Menjalani hidup yang baru di negara baru tanpa ada siapa-siapa. Tapi kami bertahan kan? Kami sudah melewatinya. Dan kami di sini sekarang. Berdiri. Bangga.
Sehingga Tooru tak bisa melakukan apapun kecuali bergabung dalam tawa. Dan Mateo akan melihat mereka berdua sebagaimana orang-orang melihat mereka berdua sepanjang delapan belas tahun belakangan. Terlalu segan untuk menginterupsi apapun kimia rasa yang ada di antara Tooru dan Hajime.
Mereka tiba sedikit lebih cepat daripada tamu-tamu lain. Bahkan belum ada sepuluh orang yang berkumpul di sana, kebanyakan hanya staf hotel masih sibuk berkutat dengan pengaturan mikrofon dan pengeras suara.
Hajime pergi ke kamar kecil untuk sementara, ketika Mateo menyikut Tooru tepat di siku, agaknya terlalu keras.
“ It’s him, isn’t it. ” Senyumnya komikal, inosen. Kontras dengan kata-kata yang ia muntahkan. Dosa yang selama ini dicoba Tooru untuk dikubur dan dibakar dan ditenggelamkan, sepanjang tahun-tahun remajanya.
“Dia sahabatku sejak umur, entahlah, enam tahun.” Tooru berkata. Sebuah penyanggahan untuk Mateo, meski sejatinya lebih pantas ditujukan untuk dirinya sendiri. Karena cuma itu yang bisa dilakukannya dalam sepuluh tahun terakhir—mengafirmasi bayangannya sendiri di depan cermin, kalimat yang selalu sama.
“Malam tahun baru kemarin, kau berbicara tentangnya.” Sebuah dorongan yang sebenarnya hendak menanyakan pertanyaan lain, karena memangnya kenapa kalau kalian sudah berteman sejak umur enam tahun? Apakah rasa platonis semacam itu tak bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih romantis? “Kau bilang, Shit, I’m still in love with him. ”
Dalam segelintir waktu, sebuah kenangan menghantam Tooru layaknya film yang diputar dalam kecepatan kilat, bergerak di belakang pikirannya. Satu malam penghujung tahun di Buenos Aires. Panel lampu yang membutakan dalam berbagai warna neon—biru, lalu magenta, lalu ungu. Hentakan bass yang tak bisa dibedakan lagi dengan denyut pembuluh darahnya, berdetak begitu keras di telinga. Aroma alkohol dan makan malam di lubang kloset. Sebuah pengakuan, datang entah dari mana. Sebuah rasa. Sebuah monster.
“Oh, ayolah. Aku tahu kalau Iwaizumi yang sedang kau bicarakan waktu itu.”
Dari sudut matanya, Tooru melihat Hajime berjalan kembali ke meja. Sebersamaan dengan itu, ada senyum tipis yang meretas tanpa alasan, bilamana mata mereka bersirobok dalam langkah-langkah Hajime mencapai Tooru. Dan detik itu ia berpikir, bernafas tak pernah jadi sesulit ini.
Seakan-akan segalanya nyaris terasa seperti tak nyata lagi. Bahwa untuk sekian detik, hidupnya terasa seperti potongan film hitam putih yang melambat dan mengabur. Kecuali untuk diri Hajime sendiri, berpendar dalam percikan warna yang tak pernah ia temui sebelumnya.
Di sana, Tooru paham kalau Mateo tak pernah menagih jawaban, melainkan kejujuran. Dari Tooru dan untuk diri Tooru sendiri.
“Oikawa, sejak kapan kau menyukai pemuda ini?”
ten years ago
Aoba Johsai tak ada miripnya dengan Kitagawa Daiichi, demikian komentar Hajime, pada musim panas tahun pertama mereka di sana.
Jadwal latihannya lebih intens. Senioritas yang lebih keras—terbukti dari mereka berdua yang statusnya masih lebih sering berdiri di pinggir lapangan tiap pertandingan. Pelatih yang lebih tegas. Dan air minum yang disediakan di antara latihan terasa lebih asin—buat yang ini Tooru tidak setuju, karena menurutnya semua air terasa sama.
Buat perihal lain, Tooru setuju dengan pendapat Hajime. Semuanya terasa berbeda, tapi tidak terasa janggal. Ada banyak hal yang anehnya terasa familiar. Aneh ya, bagaimana bisa mereka memiliki memori kolektif akan sesuatu yang tak benar-benar mirip.
Seperti gedung gimnasium yang bagaikan versi lebih besar dari yang mereka tinggalkan di Kitagawa Daiichi. Lantai kayunya yang berdecit tiap kali kaki mereka meluncur demi menerima bola. Jendela lebarnya nyaris meraih langit-langit, membiarkan matahari sore menembuskan sinarnya untuk menemani sesi-sesi latihan. Dan paling utama, seragam yang dikenakan saat pertandingan.
“Yang biru,” sahut Tooru semasa mereka beristirahat di pinggir lapangan. Tubuhnya dibaringkan datar di atas lantai, sementara Hajime duduk bersila di sebelahnya. Di atas sana, langit-langitnya cokelat, material kayu yang dipoles mengkilat. Namun apabila Tooru menutup mata, semuanya menjadi biru. “Aku paling suka seragam yang warna biru.”
“Karena itu kau lebih memilih masuk Seijoh daripada Shiratorizawa?”
Pertanyaan yang meretaliasi itu di luar ekspektasinya. Tooru mengintip lewat satu mata. Dari sana, Hajime terlihat biru. Kemungkinan karena kaus yang ia kenakan.
Tooru belum mengatakan apapun ketika mata Hajime bertemu dengan miliknya. “Atau kau menolak masuk ke sana karena kami semua gagal ujiannya?”
Tooru paham konteksnya, meski Hajime tak menjelaskan. Kami, mereka—Takahiro, Issei, Hajime sendiri. Mereka, yang tidak punya privilese untuk otomatis diterima akademi itu, mengesampingkan fakta akan seberapa besar kecintaan mereka bermain voli. Karena di penghujung hari rasa itu takkan mengubah kemampuan mereka menjadi setara dengan Wakatoshi atau Tooru. Mereka, tidak seperti Tooru.
“Bukan karena itu.” Tooru menjawab. “Aku cuma benci sekolah asrama.”
Hajime membalas dengan dengusan keras, terdengar sama menyakitkannya dengan Ya, ya. Omong kosong. Kau pikir aku bakal percaya itu? Menghanguskan kesempatan besarmu untuk lebih dipandang perekrut tim profesional hanya karena kau tak suka tidur sekamar dengan orang asing selama tiga tahun?
Jadi Tooru memutuskan untuk bangkit dari tidurnya dan duduk, terlalu mendadak hingga membuat Hajime sedikit berjengit. Tooru memandang Hajime, kemudian menunduk ke arah kakinya. “Mereka membatalkannya di hari-hari terakhir, sewaktu mereka tahu soal ini.”
Mata Hajime ikut bergulir turun pada penahan lutut berwarna putih yang melilit kaki Tooru. Dan bahkan hanya dari sudut matanya saja, Tooru bisa menyadari bagaimana ekspresi anak itu berubah lebih muram.
Kalau saja ia tahu bahwa rautnya jauh lebih sedih daripada semua orang di muka bumi sekarang.
“Yah,” Hajime mengangkat bahu, “setidaknya biru terlihat lebih cocok untukmu, daripada ungu.”
Tooru mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum tawanya menyembur. Terlalu keras untuk lelucon konyol yang dituturkan sebagai pengganti rasa sesal, meskipun itu jelas-jelas bukan salahnya.
Di waktu yang sama, penahan lutut tersebut memadang Hajime balik. Tak ada emosi, hanya fakta. Bahwa inilah dia. Beban yang tak bisa Tooru lepaskan dan akan selalu dipanggulnya ke mana pun ia melangkah dan tak ada yang bisa dilakukannya akan hal itu.
Jadi apa yang bisa ia lakukan dalam hidupnya, sebagai gantinya? Hajime ingin bertanya.
Di sebelah tiang net, pelatih meniup peluit sebagai tanda berkumpul. Waktu istirahat telah selesai. Tooru melompat untuk berdiri dengan mudahnya, dan Hajime mengingat bagaimana anak itu tak bisa melakukannya musim dingin lalu.
Ia melirik Hajime dengan seringai tipis di bibir, kekanakan dan berseri. “Iwa-chan, ayo!”
Di dalam imaji, Hajime membayangkan penahan lutut itu menjawab pertanyaannya. Kau hanya bisa melakukan hal paling manusiawi yang bisa dilakukan manusia. Begitu katanya, di dalam kesunyian. Bukankah ini makna dari menjadi manusia? Kau tetap bertahan. Kau tidak menyerah. Kau mencari cara lain, mencoba sekali lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Kau melanjutkan hidupmu, apapun yang terjadi.
eleven years ago
Di hari Valentine pada tahun terakhir mereka di Kitagawa Daiichi, Hajime akhirnya mendapat pengakuan cinta dari seorang perempuan.
“Spesies wanita?” Issei menjatuhkan Shonen Jump di tangannya ke atas meja.
“Spesies wanita???” Di sampingnya, Tooru merepetisi.
“Um, iya?” Takahiro tak menemukan hal yang aneh tentang itu.
“Aku pikir mereka takut padanya,” Issei menelengkan sedikit kepalanya, “kebanyakan anak perempuan di kelas kita menganggap dia mirip godzilla kan?”
“ Semua anak perempuan.” Tooru meralat.
Tetap saja, lima menit sebelum bel tanda istirahat selesai berbunyi, Hajime kembali ke kelas. Dan alih-alih menggenggam sekotak cokelat di tangannya, dia membawa sebuah benda persegi tipis berbahan plastik transparan. Yang ini baru—pengakuan cinta, hadiahnya, begitu pula teriakan penuh goda dari segerombol anak lelaki di barisan bangku belakang.
Sebagai respon dari pertanyaan mereka yang tak kunjung berhenti, yang sebenarnya bisa disimpulkan jadi satu— Kalau begitu, kau menerimanya atau tidak? Hajime mengepalkan tangannya dan hampir meninju semua orang yang merangkul lehernya dan mengacak-acak rambutnya. Tapi dia juga tersenyum, sesuatu yang tulus, dengan kekehan geli dan rona merah di ujung telinganya. Kalau begitu, bukankah jawaban semacam ini sudah cukup jelas?
Tooru merasakan sesuatu bergemuruh di dalamnya. Dia berpura-pura kalau itu akibat asam lambungnya, maka ia pun mengambil satu batang cokelat yang ditumpuk di laci meja.
Di hari Valentine pada tahun terakhir mereka di Kitagawa Daiichi, Tooru mematahkan hati nyaris setengah populasi perempuan di sekolah, dan juga nyaris mematahkan kakinya sendiri.
Pendaratan yang tidak mulus. Mereka tengah bertanding melawan sekolah lain siang itu, pada ronde kedua dengan tim mereka yang mengungguli poin. Seorang anak kelas dua bertabrakan dengannya semasa mereka turun dari lompatan. Itu kali pertama anak tersebut bermain setelah menghabiskan sekian lama waktu menonton di barisan pemain cadangan. Kemungkinan dia masih gugup. Tooru tak bisa menyalahkannya.
Yang ada, Tooru menyalahkan dirinya sendiri. Ada begitu banyak fragmen yang berputar di balik kelopak matanya saat ia terpejam, duduk di tepi lapangan, merintih kesakitan. Sebuah pengingat bahwa hal ini tidak terjadi dalam satu malam. Melainkan akumulasi dari banyak, terlalu banyak malam, yang kerap Tooru abaikan. Dan seperti bom yang terus menghitung mundur, sudah waktunya ia meledak.
Tooru masih menutup mata selagi kronologis kejadian terus berjalan di sekelilingnya. Ada suara peluit yang ditiup nyaring, tanda istirahat sejenak dari pihak Kitagawa Daiichi. Lalu suara langkah-langkah kaki yang datang menghampiri. Terlalu banyak orang menggumamkan Oikawa? dan Apakah kau baik-baik saja?
“Tentu saja dia nggak baik-baik saja.” Sebuah suara menjawab. Tooru tak perlu mengintip untuk mengenali Hajime. “Kau bisa berjalan?”
“Tidak.” Tooru, suaranya keluar setipis helaan nafas saja. Di sana, sewaktu matanya terbuka hingga segala fakta dan juga probabilitas menyerbu dirinya, dia tak bisa menahan air matanya lebih lama. “Aku bahkan nggak bisa berdiri.”
“Kita ke rumah sakit sekarang.” Hajime berkata. Dan itu bukan karena cita-citanya masih menjadi seorang dokter, atau karena pamannya yang paling dekat dengannya adalah dokter, bahkan bukan juga karena dia adalah pahlawan penyelamat bumi bagi Tooru.
Realitanya, karena dialah yang melihat Tooru dalam malam-malam tersebut, menyaksikan bagaimana ketak-ketik bom waktu berjalan mundur. Tooru yang selalu berjengit dalam sepersekian detik sehabis melompat tiap latihan servis atau tubuhnya yang membeku sejenak sewaktu mendarat setelah mengumpan bola. Matanya akan menyipit dan bibirnya juga berkedut, tapi tak pernah mengatakan apa-apa—sekalipun hanya erangan nyeri atau tarikan nafas yang berat.
Tapi hari ini, semasa ribut di sekitar bergerak dalam kecepatan yang tak bisa mereka ikuti temponya, Tooru mencengkram lutut dalam satu tangan dan menggenggam telapak Hajime di tangan yang lain. Sebuah sinyal yang selalu ia kirim untuk menyampaikan kata-kata bisu di antara dunia mereka yang riuh— Tolong aku.
Maka, dilakukannya.
“Kau nggak perlu ikut.” Yuuko, manajer klub mereka, memberitahu Hajime dalam perjalanan ke ambang pintu gimnasium. “Aku bisa pergi bersamanya dan wakil pelatih.”
“Tidak apa-apa, aku memang ingin ikut.” Hajime membenarkan posisi tangannya yang memapah tubuh Tooru.
“Tapi pertandingannya masih—”
“Anak kelas satu bisa menggantikanku,” Hajime berputar sedikit ke belakang. Di pinggir lapangan, Tobio dan Yutaro sudah bersiap-siap untuk ikut terjun dalam permainan. “Kita pergi ke rumah sakit pakai mobil wakil pelatih, kan?”
Yuuko sedikit terbelalak, tapi dia tak bertanya lebih lanjut. “Ah, iya...”
Mereka berjalan mencapai pintu keluar. Di antara langkah-langkah dan kalimat Yuuko tentang lokasi parkir mobil wakil pelatih, yang Tooru pedulikan hanyalah Hajime dan pandangannya yang diam-diam tertuju pada penonton di satu sisi gimnasium.
Fokusnya jatuh pada seorang siswi kelas dua yang memandang balik padanya. Gadis itu sedikit lebih tinggi daripada anak perempuan yang berdiri di dekatnya, rambutnya digerai seleher, dengan wristband olahraga di tangan kanannya, dan Tooru pikir— Ah, bukankah ini versi perempuan dari Hajime?
Ada cemas yang begitu nyata di raut muka anak perempuan tersebut. Dan Tooru harap itu cuma bayangannya saja, ketika ia menangkap basah Hajime tersenyum tipis pada gadis tersebut, mulutnya membentuk kata-kata tanpa suara. Sampai jumpa nanti —
Gemuruh itu datang lagi, menyulut di dalam diri Tooru. Dia tak bisa lagi berpura-pura kalau asalnya dari perutnya, ataupun dari lututnya—meskipun rasanya seperti ada beban ribuan ton yang baru saja menimpanya.
Karena Tooru bisa merasakannya dalam setiap tarikan nafas. Bagaimana di balik rongga parunya terasa terbakar sekarang, tak meninggalkan apapun kecuali lubang dan abu. Sumber dari segala rasa yang tak bisa lagi Tooru hiraukan.
Dan rasa itu juga bertingkah sama kekanakannya dengan pribadinya sendiri. Sebab beberapa saat kemudian, Tooru menemukan dirinya secara impulsif merebahkan kepalanya di bahu Hajime.
Hanya supaya anak lelaki itu meninggalkan gadis tersebut dalam abai, memutar wajah untuk Tooru, bertanya, “Sakit sekali, ya?”
Tepat seperti yang Tooru inginkan.
Sudah jelas kan, harusnya, nama apa yang cocok untuk variabel rasa yang kerap menyeruak di hatinya. Lantas apa lagi yang lebih egois dan pencemburu dari cinta? Tuntutan untuk merasa diinginkan, sebagaimana kau mengingini orang tersebut.
Meskipun hanya dalam segelintir waktu, meskipun di tengah-tengah linimasa hidupnya yang hampir runtuh, meskipun hanya di dalam imajinasi Tooru sendiri.
today
Tepat setelah melepaskan sepatu dan jasnya, Tooru segera menyerbu tempat tidur sesampainya mereka tiba di kamar hotel. Tak sampai semenit berselang, ia mendengar suara yang sama dari tempat tidur sebelah.
Yang diikuti dengan geraman teredam, serta sebuah komplain. “Seharusnya aku tidak datang saja. Serius.”
Tooru mengangkat wajahnya dari bantal dan melihat Hajime. Lelaki itu, wajahnya tertuju pada selimut yang mulai kusut. Kakinya menggantung di ujung tempat tidur, masih belum melepaskan sepatunya.
Hajime serta-merta menjelaskan inti yang ia permasalahkan. “Semua orang jadi terus-terusan bertanya apakah kita pacaran.”
“Tapi aku langsung menjawab tidak, kan?”
Kejadian di pesta barusan masih segar di memori keduanya. Bagaimana kebanyakan orang punya kelakar yang sama mengenai pemuda Jepang asing ini, yang memberikan impresi ramah terhadap orang-orang lain tapi selalu mengancam untuk membunuh Tooru tiap sepuluh menit sekali.
Sehingga dalam durasi pesta yang kurang lebih satu setengah jam itu, mendadak tak jadi asing untuk mendengar Oh, kau pasti pacar baru Tooru? dan Tooru punya pacar orang Jepang sekarang? lalu Aku pikir dia dari California? sampai di titik Hajime sudah muak dan Tooru tak bisa berbuat apa-apa sebagai damage control .
Ada decakan kesal dari Hajime. “Kau seharusnya pacaran lebih lama dengan dia dan baru memutuskannya setelah pesta ini selesai, supaya aku nggak perlu datang kemari.”
Tooru terkesiap dalam diam. Sebuah pemikiran berlari di benaknya dalam sekelebat karena Bukankah yang semacam itu tidak terlalu baik untuk diucap? Namun Hajime memang tak pernah tahu Xavier. Kendati pun tahu, ia hanya melihat lapisan superfisial yang dilaporkan di rubrik gosip selebriti saja—yang bahkan Tooru sendiri ragu kalau Hajime pernah membuka situs semacam itu.
Hajime sejatinya tak pernah tahu sisa sejarah yang tak diliput di depan kamera. Tentang bagaimana konversasi menjadi dingin dan sentuhan yang mulai direstriksi. Hingga satu dari mereka akhirnya punya keberanian untuk menyatakan Berhenti. Aku rasa ini sudah cukup . meski lewat cara yang paling menyedihkan untuk mengakhirinya—mencari sesuatu yang telah hilang dalam hubungan ini di tempat tidur orang lain.
“Tidak.”
Semasa Tooru keluar dari disorientasinya, ia menemukan wajah Hajime telah tertuju padanya. Apapun itu yang ia rasakan sewaktu di pesta setengah jam lalu, mendengarkan orang-orang memberondonginya dengan akusasi palsu tanpa punya kemampuan untuk bilang Tidak, kami tidak jatuh cinta, rasa itu telah lenyap di mata Hajime. Yang tersisa saat Tooru menatap irisnya—kuning kecoklatan seperti madu akibat diterpa sinar lampu di atas nakas—adalah sesuatu yang tulus, sedikit menyesal, dan sisanya belum mampu Tooru uraikan.
“Tarik kata-kataku kembali,” ujar Hajime. “Kau seharusnya nggak memacari dia dari awal. Semestinya kau mencari orang lain yang lebih baik. Apa yang kau lihat dari tukang cari perhatian dan cari sensasi seperti dia? God damnit, Oikawa. You always pick the wrong person to date. ”
Tooru mengerjap agak-agak kaget. Tak pernah sekali saja dalam imajinasinya kalau Hajime bakal peduli akan orang-orang yang pernah ia kencani. Selama bertahun-tahun, sejak masa sekolah mereka, Hajime tak pernah memberi opini. Setidaknya, sampai hari ini.
“Aku menyukainya karena dia lucu.” Hening sebentar, sampai Tooru datang dengan jawaban serius. Pesta masih berlanjut di lantai dasar. Ada derap kaki orang-orang yang berlari di lorong, ditimpali konversasi bernada tinggi dan tawa riuh rendah, merambat lemah masuk ke kamar. Tapi di dalam sini, ketika hanya ada mereka berdua yang berbaring di tempat tidur masing-masing, yang paling jelas mereka dengar adalah nafas satu sama lain. “Dan keren. Impulsif. Pemberontak.”
Makna lainnya, mereka sama sekali tak mirip denganmu. Yang artinya, tidakkah kau sadar? Kalau aku mencari setiap aspek yang kusukai darimu dan mencari kebalikannya dari orang-orang lain yang menginginkan aku. Supaya aku bisa meyakinkan diriku sendiri kalau aku tak membutuhkanmu, ataupun orang lain yang bisa saja terlihat seperti replikamu. Dan yang lebih layak untukku adalah orang-orang yang jauh berbeda darimu.
Sehingga ketika Hajime melihat foto Tooru di internet, dengan wajah yang tersenyum padanya lewat layar ponsel, seraya berjalan bersebelahan dengan orang asing yang kemungkinan besar takkan Hajime kenal sepanjang hidupnya, setidaknya di sana Tooru punya keberanian untuk menyampaikan bahwa— Lihat, lihat aku. Aku terlihat baik-baik saja tanpamu.
Betapa patetik, ya.
Hajime memandang ke arah lain sekarang. Tooru tak yakin apa. Sorotnya bergeser mendekati sinar yang terbersit dari lampu di nakas. Ada setitik muram di bola matanya, seraya ia berkata, “Dia bisa jadi segala yang kau inginkan dan tetap memperlakukanmu dengan cara yang pantas, kau tahu.”
Karena, di penghujung hari, apakah kau bahagia? Sungguh?
one year ago
Tiap kali Xavier mencium Tooru, di belakang pikirannya, Tooru membayangkan sebuah komet yang jatuh lepas landas menuju atmosfer bumi dalam kecepatan penuh. Berapi-api, tergesa-gesa, dengan intensi jelas kalau ia hendak menghancurkanmu.
Tooru membiarkan lelaki itu merangkak di atasnya di tempat tidur, meraih setiap titik sensitif di tubuhnya dengan mulutnya dan melemahkannya hingga ke ujung saraf. Tooru membawa tangan itu menelusuri tulang pipinya, merasakan kulit yang terlalu membakar di malam musim panas Argentina seperti sekarang.
Tapi dia, anak laki-laki itu, datang padanya seperti komet juga—dalam cara yang jauh berbeda.
Ponselnya berdering dalam notifikasi. Lalu, Xavier mengerang, karena dia tahu Tooru tak pernah menahan panggilan lebih dari satu menit. Lalu, nama yang tertera di layar dan semuanya perlahan rubuh. Satu erangan lagi, karena Xavier paham betul bagaimana Tooru akan berlari meninggalkan apa saja demi mendengar suara pemilik nama tersebut.
“Iwaizumi?”
Aneh, bagaimana kau bisa mendengar kekagetan lewat lini telepon. Hanya karena satu panggilan yang sejatinya sangat biasa untuk Hajime, tapi tak pernah ia ekspektasi untuk bergulir di lidah Tooru. “Oh. Aku mengganggu, ya?”
Tooru kini duduk di ujung tempat tidur. Di sebelahnya, Xavier belum berhenti menghirup aroma di ceruk lehernya lamat-lamat, sementara jari-jemari itu masih sibuk bermain di kancing kemeja satin birunya. “Sudah tengah malam di sini. Apa yang kau harapkan?” Tooru menyembunyikan desahannya dengan tawa, sedikit terlalu histeris. “Nggak apa-apa, sih. Jadi, apa yang terjadi? Pasti sesuatu yang penting.”
“Yeah.” Dia tertawa pelan. “Ada yang ingin kuberitahu.”
“Ugh.” Tooru mengerang, ditujukan lebih kepada Xavier—untuk menghentikan apapun yang tengah dilakukannya pada tubuh Tooru. Xavier mendengus keras sebelum menjatuhkan diri ke tempat tidur. Tapi tangannya masih menjalar di punggung Tooru. Sentuhan yang lembut, atentif. Di balik tirai balkon, dari unit apartemen lantai tujuh itu, bisa ia lihat petir yang berkelebat muncul. Tooru bisa merasakannya, badai akan datang. “Jadi, apa yang ingin kau beri tahu padaku?”
Dengungan konversasi dan dentuman bass dari musik di seberang sana menyeruak, menjadi yang paling keras semasa Hajime mengambil spasi sejenak.
Lalu, katanya. “Um, jadi. Ada seseorang yang aku sukai di tim risetku. Anak magang, sebenarnya. Dari New York. Dan ini agak lucu, karena kebanyakan dari mereka benci orang California. Tapi anak ini berbeda. Dia… tidak dingin, atau kaku. Cara jalannya tidak seperti dikejar beruang—kau mengerti apa maksudku?” Seutas tawa terselip di antara kalimat, walaupun Tooru tak menemukan apa yang lucu di sana. “Dan kami ternyata lumayan cocok, lebih daripada yang kubayangkan? Tapi malam ini pesta perpisahannya karena ia bakal kembali ke New York besok malam dan aku mungkin takkan melihatnya lagi. Jadi kupikir, persetan, kemudian aku menciumnya. Dan dia menciumku balik.”
“Oh.” Tooru kehabisan kata-kata untuk diucap.
“Dan, Oikawa,” Hajime berkata, “dia laki-laki.”
“Oh.” Tooru menangkap jelas bagaimana suaranya perlahan pecah. Begitu pula hatinya. Dalam cara yang sama layaknya bertahun-tahun lalu, di perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, satu sore setelah Tooru memberitahu Hajime rahasia yang sama seperti yang Hajime ceritakan padanya malam ini.
“Aku mulai merasakannya sejak tahun pertama kuliah, sebenarnya. Tapi ini pertama kali aku mengakuinya.” Hajime berbicara. Pemilihan katanya hati-hati. Sulit bagi Tooru untuk membedakan apakah karena ia malu-malu, atau merasa sedang mempermalukan dirinya sendiri.
“Mengakuinya pada dirimu sendiri atau pada orang lain?”
Ada terlalu banyak hening yang statis ketika dunia di sekitar mereka berputar secara dinamis. “Keduanya, aku pikir.”
Komet itu telah mencapai bumi. Dan lubang di dada Tooru terus menjadi besar dan membesar.
“Karena aku orang pertama yang kau beritahu, jadi aku pikir bakal adil kalau kau juga orang pertama yang kuberitahu.” Demikian alasan Hajime. “Dan aku sadar kalau responku terlalu dingin waktu itu. Maafkan aku. Aku masih terlalu kekanakan dulu.”
“Nggak apa-apa.” Tooru berbohong. “Aku bahkan nggak ingat lagi.”
Tooru memejamkan matanya, membayangkan Hajime mengambil jeda dalam pesta perpisahan tersebut, di antara konversasi panjang, atau bahkan di tengah-tengah ciuman—sama seperti Tooru kan, seharusnya—hanya untuk merogoh ponsel di saku, mengetik nama Tooru di daftar kontak, dan meneleponnya untuk mengabarkan ini, kalau Hei, Oikawa, aku jatuh cinta.
Di skenario yang Tooru ciptakan dalam pikirannya, musik masih menggelora di seberang sana. Lampu-lampu pesta yang berkelap-kelip dalam berbagai spektrum warna. Dan Hajime berdiri dengan punggung bersandar, di bagian belakang kelab malam itu, mata mendongak ke atas—membayangkan Tooru, sebagaimana Tooru membayangkannya malam ini.
“Jadi?” Tooru yang melanjutkan dialog. “Ada lagi yang ingin kau beritahu?”
“Itu saja.” Hajime menjawab. “Sungguh.”
Rinai hujan perlahan membentur dinding jendela kamarnya. Nafas Hajime tenang dan teduh, mengisi percakapan sunyi mereka. Telapak Xavier meraba dalam gelap, mencari tangan Tooru dan membawanya ke sisinya. Ia kecup, lembut dan pelan.
Sepanjang malam, Tooru hanya ingin menangis.
today
Terakhir kali Hajime bertemu Jose Blanco kemungkinan di tahun ketiganya di Aoba Johsai. Hanya sekedar figur yang terlalu mencolok untuk bisa membaur di tengah-tengah anak-anak Jepang, dengan tenang menyusuri lorong kelas. Di sebelahnya, turut berjalan pelatih tim voli mereka. Satu meter di belakang, Oikawa Tooru mengikut tanpa mengatakan apa-apa.
Hari ini, sembari menanti mempelai wanitanya melangkah menuju altar, Blanco terlihat seperti seseorang yang tak lagi bisa Hajime kenali. Tentu, sosoknya masih setinggi yang Hajime ingat. Tapi umur tak bisa bohong, bisa dilihat dari helai-helai putih di antara rambut cokelatnya dan sedikit kerutan di ujung mata apabila pendamping mempelai tengah membacakan pidato yang membuat semua tamu tertawa.
Tapi dia masih punya karisma yang Hajime ingat di kali pertama mereka bertemu—atau lebih tepatnya, kali pertama Hajime menemukannya—di antara lautan penonton di gedung gimnasium Sendai bertahun-tahun lalu: tangguh, percaya diri, hangat.
Blanco menggenggam erat tangan Hajime ketika bersalaman, di jeda antara sesi makan malam dan dansa pertama—atau dansa kedua, menurut Mateo, karena pernikahan kedua kan.
“ Ah, you! That Irvine kid!” Baritonnya menyapa. “Tooru bicara banyak tentangmu.”
Senyum Hajime merekah kaku di bibir kala mendengar nama panggilan tersebut, agak-agak terkejut. Lewat ekor matanya ia melihat Tooru. Anak laki-laki itu berpura-pura seakan tak ada yang aneh dalam kalimat tersebut.
Setidaknya sampai Hajime menyikut sikunya. Alisnya terangkat asimetris, bertanya, “Apa saja sih yang kau beritahu ke orang-orang tentangku?”
Mereka dalam perjalanan kembali ke meja. Blanco sudah berbicara dengan tamu lain yang turut mengucapkan selamat padanya. Dari posisi mereka, bisa terdengar tawa Mateo yang terlalu kuat di kursinya, padahal cuma mendengar komentar konyol yang dilontarkan lelaki di sebelahnya.
Di bawah kerlip lampu kekuningan yang digantung di atas mereka, berayun lambat akibat angin malam, binar Tooru bersinar keemasan. Dia mengangkat bahu, “Nggak terlalu penting. Aku cuma bilang pada mereka kalau kau mengambil sports science waktu kuliah dan bekerja di pusat orthopedi dan kedokteran olah raga di Irvine…”
“Huh.” Mata Hajime mendelik curiga. “Lalu?”
“Lalu apa?”
“Pasti ada yang lain lagi, kan.”
Tooru memutar bola matanya dan menghela nafas tanda menyerah. “Aku bilang kalau kau mengambil jurusan itu karena aku.”
Rahang Hajime menganga lebar seketika. Terminologi apa yang bisa mendeskripsikan raut kaget bercampur bingung, ia bertanya-tanya, karena itu yang tengah ia tampilkan sekarang. “Kau suka berhalusinasi ya?”
Tooru melihatnya nyaris dengan ekspresi yang sama, refleksi dari wajah Hajime sendiri. “Tidak! Aku ingat jelas-jelas! Kau mengatakannya waktu kita naik kelas tiga!”
Langkah Hajime terhenti sekejap sebelum menoleh kepada Tooru. Seakan benaknya baru saja dihantam sesuatu. Memori, mungkin. Satu yang terlalu malu untuk diakui. Pasalnya, sedetik kemudian ia menggeleng kuat-kuat. “Aku nggak pernah mengatakan apapun.”
Tooru tertawa. Tingkah aneh dari Hajime yang mendadak itu sejatinya mengkonfirmasi kalau Kau ingat kau mengatakannya, kan.
“Enggak.”
“Iya!”
“Enggak!”
“Iya! Dasar pembohong!”
“Tentu saja enggak.” Hajime lanjut berjalan kembali.
Dua langkah kemudian, sebagaimana biasanya, Tooru mengikuti—ke mana pun Hajime pergi. “Iwa-chan!”
eight years ago
Mereka menamainya kertas masa depan.
Di musim semi penghujung tahun kedua, wali kelas mereka membagikan selembar kertas yang perlu diisi mengenai prospek setelah kelulusan. Karir apa yang bakal kau pilih, fakultas apa di universitas mana, dan apakah orang tuamu setuju dengan keputusanmu atau tidak.
Hajime menghampiri meja Tooru selagi ia mencoret tulisan yang dilingkar merah oleh wali kelas mereka. Tinggal delapan orang lagi yang belum mengumpulkannya pada ketua kelas.
Apa yang kau inginkan di masa depan? Begitu pertanyaannya terbaca.
Tooru mengangkat wajah ke arah Hajime. Anak lelaki itu telah menatap duluan. Tooru hanya bisa cengengesan ketika menjawab, “Bu Yamada tidak menerima kalau jawabannya Aku ingin jadi orang yang bahagia. ”
“Tentu saja, Bodoh.” Hajime menggerutu. “Jadi apa yang kau tulis?”
“Atlet voli profesional.” Tooru berkata, sama entengnya seperti sedang menjawab pertanyaan tentang ilmu pasti, seakan-akan sudah semestinya diketahui semua orang. “Kemungkinan aku bakal mencoba tes masuk Panthers.”
“Kenapa ke tim itu?”
Tak butuh lebih dari satu detik untuknya berkontemplasi dan merespon, “Karena seragamnya biru.”
Hajime sudah mengenal Tooru dalam terlalu banyak tahun untuk sadar kalau anak itu, sebenar-benarnya, tidak sedang bercanda. Kalau ini memang intensi sejatinya, sebodoh apapun terdengar di telinga orang-orang. “Kau benar-benar… luar biasa.”
“Terima kasih.” Kerlingannya jenaka, satu yang selalu membuat Hajime meringis. “Kalau kau?”
“Nilaiku ternyata nggak cukup untuk kedokteran.” Hajime mengedikkan bahu, melirik sekilas pada kertas yang ada di tangannya, sudah sedikit kusut di sekitar jari-jarinya akibat terlalu erat digenggam. “Jadi aku pilih science sport .”
“Yah, aku memang nggak bisa melihatmu jadi dokter sih. Anak-anak bakal menangis tiap melihat wajahmu—aduh! Iwa-chan!” Tooru mengusap pelipisnya tepat di mana Hajime memukulnya.
Tapi baik Tooru dan Hajime sudah lama menganggap hal itu sebagai gestur kasual di hari-hari normal antara mereka berdua. Makanya, masalah tersebut tak dibahas lebih lanjut.
Yang ada, Tooru menghela nafas panjang, berkata padanya. “Kau tahu, kau lebih baik ikut tes bersamaku. Kau juga cukup kompeten bisa jadi pemain pro, kau tahu.”
Hajime diam sesaat dan duduk di ujung meja. Dipandangnya Tooru—lebih tepatnya, ke arah lutut Tooru, meski masih ditutupi oleh fabrik celana mereka, khaki kotak-kotak yang seragam. Wajahnya kaku seperti yang biasa Tooru jumpai, namun ada sesuatu yang beda di matanya. Mungkin, mungkin saja seperti nelangsa.
“Hanya karena kita menyukai hal yang sama, bukan berarti kita melihatnya dengan cara yang sama juga, kau tahu.” Hajime bergumam. “Aku menyukai voli, tapi aku juga masih ingin menolong orang-orang.”
Hajime tidak mengatakannya, tapi Tooru tahu dimana kata-katanya akan bermuara.
Orang-orang sepertimu, Tooru.
today
Tooru nyaris menangis di agenda dansa pertama. Hajime nyaris beringsut mundur dan pura-pura tidak kenal dengannya supaya tidak terjebak rasa malu.
Mereka menonton dari pinggir taman. Rendisi lagu Nat King Cole dimainkan dalam ketukan lambat oleh piano. Lampu sorot diarahkan pada kedua mempelai, masih berdansa di tengah-tengah kerumunan. Terasa seperti potongan film roman picisan yang terlalu sempurna untuk jadi nyata.
“Berhenti terlihat seperti kau mau menangis,” Hajime menyentak setengah suara. “Dia bahkan bukan anggota keluargamu.”
“Bisakah kau sekali saja nggak merusak momen indah hidupku?”
Hajime hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sudah kehabisan ide untuk berkomentar. Tapi tetap saja melakukan perangai kontradiksi, dalam caranya meraih sapu tangan dari saku jas dan menyelipkannya ke telapak Tooru.
Tooru tersenyum, menggenggam erat sapu tangan itu dalam genggaman. Meskipun air matanya tak pernah pecah.
Tapi senyum itu juga tak bisa bertahan cukup lama. Pasalnya di momen para tamu lain sudah bercampur dalam keramaian di lantai dansa, melingkarkan lengan mereka di leher pasangan masing-masing selagi direngkuh dalam pelukan, seorang wanita menghampiri Hajime dan menawarkannya berdansa.
Dia menolak, tapi dalam senyum. Sesuatu yang hangat, juga tidak familiar. Yang tak pernah Tooru saksikan di bibir Hajime sebelumnya, di antara sekolah dan jalan menuju rumah semasa di Miyagi dulu. Yang ini adalah sesuatu yang dipelajari dalam tahun-tahun yang hilang di Irvine, semasa Hajime bertumbuh menjadi versi yang tak pernah Tooru lihat secara utuh sebelumnya—hanya potongan yang mampu ia tunjukkan lewat telepon dan panggilan video di layar ponsel. Keramahan California yang belum benar-benar Tooru pahami.
Sewaktu wanita itu berlalu, dengan gaun jingga pekatnya yang bergelombang dihembus angin malam, Tooru akhirnya memberanikan diri bertanya, “Kenapa kau menolaknya?”
Butuh waktu lama hingga Hajime bergerak malas mendekatinya, berbisik tepat di sebelah telinga Tooru. “Aku tak bisa berdansa.”
Yang segera dibalas dengan tawa histerikal Tooru. Kalau saja sadar dirinya lebih rendah, mungkin tawa itu bakal terdengar menggelegar lebih lama. Tapi cepat-cepat komposurnya kembali. Karena Oikawa Tooru berumur delapan belas tahun dari Aoba Johsai boleh saja terbahak-bahak mendengar pengakuan konyol sahabatnya semacam itu. Tapi Oikawa Tooru berumur dua puluh lima dari CA San Juan harus mengkalkulasi pasang mata dan atensi yang bakal terproyeksi padanya.
“Aku bakal mempermalukan diriku sendiri.” Hajime menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kalau begitu berdansa bersamaku.” Tawarannya terlalu mendadak, entah berasal dari mana, sampai-sampai Tooru sendiri terlalu terkejut mendengar kalimat itu menyelinap dari mulutnya. “Bakal kuajari.”
Hajime melihatnya dengan tatapan ragu. “Tidak. Aku nggak menari.”
Satu detik setelahnya, Tooru memberengut kesal. Tambah tiga detik, wajahnya seketika menjadi satu tingkat lebih terang, sembari sorotnya menembus barisan pepohonan yang mengisi taman dan terhenti ke arah kolam renang yang bersembunyi di baliknya. Dia mengedikkan dagu. “Bagaimana kalau di sana?”
Tanpa aba-aba, Tooru menarik tangan Hajime dan membawanya lepas dari keramaian.
Setibanya di pinggir kolam renang, tak ada orang yang berlalu lalang di sana, kecuali satu-dua yang sesekali melintas dari jalan setapak taman, bercakap-cakap dalam suara halus dan langkah yang pelan.
Pencahayaannya rendah, hanya dibantu sinar bulan dan pendaran lampu pesta. Samar, suara orkestra membaur dengan bunyi jangkrik serta gemericik pelan air kolam renang.
Tooru meraih tangan Hajime dalam genggaman. Satu tangannya lagi yang menyentuh pinggang terasa hangat.
Pada awalnya, Hajime mengikuti ketukan melodi tiga per empat itu sesuai dengan instruksi Tooru. Satu langkah maju, satu langkah ke samping, satu langkah mundur. Namun setelah lagu berganti dan tempo waltz menjadi lebih cepat, Hajime semakin kehilangan jejak.
Tooru tak henti-hentinya mencibir pelan di antara sandungan dan tabrakan dan Hajime hanya bisa mendecakkan lidah sebagai tanda minta maaf. Di satu sekuens, Tooru akhirnya memutuskan untuk masa bodoh dengan lelucon ini; dansa dan lagu dan Hajime yang mungkin takkan pernah bisa mahir berdansa sampai hari pernikahannya datang.
Jadi ketika orkestra mengganti simfoni menjadi sesuatu yang bernuansa lebih ceria, segera dibawanya Hajime melompat-lompat dan berputar sambil berpegangan tangan.
Hajime melihatnya dengan takjub di kilat mata, namun tidak menolak. Persetan, pikirnya, selagi mereka berputar-putar. Tangannya mencengkeram erat milik Tooru, seperti kali pertama mereka bertemu delapan belas tahun yang lalu, seperti hari di mana Tooru nyaris mematahkan kakinya sepuluh tahun yang lalu.
Satu dua orang hanya bisa mengerutkan dahi dan mengulum senyum, tatkala tak sengaja menemukan dua anak berumur dua puluh lima tahun menari seperti tak ada yang melihat, mengitari pinggir kolam renang yang remang.
Dan di sepanjang langkah yang ringan, Hajime tertawa—lagi, lagi, dan lagi. Sementara Tooru jatuh cinta—lebih, lebih, dan lebih.
seven years ago
“Kenapa masih di sini?”
Sekolah sudah bubar berjam-jam yang lalu, semua orang telah pulang ke rumah masing-masing. Kendati begitu, semasa Hajime memutar punggungnya, ia menemukan Tooru berdiri di ambang pintu gimnasium.
“Cuma berpikir,” Hajime menjawab lambat, dalam ritme yang sama dengan langkah kaki Tooru yang menghampiri, “kalau aku ingin benar-benar mengingat kali terakhir aku bermain di sini.”
Tooru berhenti beberapa meter darinya. Cukup untuk melihat bagaimana surat ijasahnya mengintip dari balik tas yang dipanggul hanya di satu pundak, serta semua kancing di jas dan kemeja sekolahnya sudah menghilang—kemungkinan besar dirampas oleh gadis-gadis junior mereka.
Ada beberapa kuntum sakura menempel di antara helai rambut Tooru. Di luar sana, bunga-bunga melayang jatuh dari pohonnya seperti butiran hujan. Hajime ingin mengingat semuanya, mengambil segala potongan memori fotografis yang terjadi hari ini. Karena ini, ini yang terakhir.
Tooru, anak itu menyeringai jenaka. “Sejak kapan kau jadi melankolis seperti ini?”
“Diamlah.” Hajime mendesis, menggertak Tooru dengan ancang-ancang melemparkan bola ke kepalanya. Tapi mereka sudah lama belajar dari kesalahan. Dan lagipula, Hajime tertawa. Jadi Tooru mengerti ia takkan benar-benar melakukannya.
“Bermainlah bersamaku.” Tooru meminta. Ia melemparkan tas dan jasnya ke pinggir lapangan. “Untuk yang terakhir kali.”
Apabila Tooru datang padanya lagi, Hajime tak sanggup untuk menahan tangannya meraih rambut cokelat anak itu, membersihkannya dari kelopak-kelopak sakura. Seketika gerakannya terhenti di tengah jalan. Ada ragu yang menyambar saat bunga itu sudah di jari-jarinya. Sebuah dorongan, entah dari mana, untuk menyelipkan sakura di sebelah telinga Tooru.
Tapi tak pernah dilakukannya.
Yand ada, dia berkata “Baiklah.” dan memberikan bola pada Tooru.
Dan mereka bermain seperti dua orang yang berdansa, mengejar satu sama lain dalam tempo yang hanya bisa dipahami oleh keduanya. Sementara galaksi mikrokosmos disegel dalam hening di sekitar mereka, cuma mampu menyaksikan.
Itu hari terakhir di Aoba Johsai.
today
Selang lima belas menit yang diisi penuh dengan meloncat-loncat dan berputar-putar, Tooru meminta berhenti dalam cara melempar tubuhnya sendiri ke rerumputan taman tak jauh dari pinggir kolam renang. Hajime menertawainya dengan nafas tersengal-sengal, sudah sama lelahnya. Tapi alih-alih bergabung bersama Tooru, dia malah bilang Tunggu di sini.
Dan sewaktu Hajime kembali, tangannya tengah mengapit dua gelas anggur dan sebotol pinot noir. Tooru baru saja selesai menanggalkan sepatunya dan menggulung celana, memasukkan ujung kakinya ke dalam kolam renang.
“Sekarang kau akhirnya membiarkanku minum apapun, huh,” celetuk Tooru selagi Hajime menggeser salah satu gelas ke sisinya.
Hajime mendengus, tapi ia juga tersenyum. “Terserahlah.” Itu, kata favoritnya yang selalu dipakai apabila tahu kalau ia takkan pernah menang melawan Tooru, meskipun tak ada pertandingan sebelumnya.
Hajime menyesap anggur itu perlahan sebersamaan dengan Tooru yang memainkan jari-jari kakinya di air dengan gerakan lambat. Sehingga di sepanjang sisa pesta, mereka menghabiskan waktu dalam kesunyian. Dua anak berumur dua puluh lima tahun, duduk bersebelahan, dengan ujung kelingking sebagai batas-batas.
Sampai satu dari mereka memecah suara.
“Perempuan tadi… keponakan Blanco. Dia sekolah di UCLA.” Tooru memulai. Dicurinya satu lirikan pada Hajime. Di mata Tooru, air kolam renang memandikan bayangan biru di wajah Hajime. Siluet garis mukanya yang tajam diterpa warna paling hangat dan lembut yang pernah Tooru saksikan. “Kau harus mengajaknya kencan kapan-kapan.”
Hajime tertawa, tapi yang keluar lebih terdengar seperti dengusan. Ada pahit tercecap di sudut bibirnya kala tersenyum. “Sepertinya nggak akan pernah terjadi.”
“Kenapa?”
“Aku hanya nggak mau.”
“Jadi gadis macam apa yang kau mau?”
“Maksudku bukan seperti itu.”
“Yang imut? Anggun? Tangguh—seperti Taka-chan dari kelas 2 dulu?”
“Hey.”
“Tentu saja. Maaf. Aku lupa kalau kau tidur dengan laki-laki juga akhir-akhir ini. Jadi, mana yang lebih kau pilih? Aku bisa bantu carikan—”
“Oikawa. Berhenti.”
Di sana, rasanya seakan ada saklar yang ditekan di sistem tubuhnya. Dan dalam sekejap, ia juga terheran-heran kenapa baru saja menaruh terlalu banyak emosi untuk konversasi tak penting seperti yang barusan. Mungkin karena alkohol, Tooru menduga, dan cara substansi itu mengeluarkan sisi paling jujur dari dirimu. Dan apa itu bagian yang paling jujur, kalau bukan bagian yang paling egois dan paling buruk?
“Oikawa,” Hajime berbisik muram, “’Aku akan kembali ke Jepang bulan depan.”
Tooru tak pernah menoleh begitu cepat. “Tunggu—apa?”
“Salah seorang teman Utsui Takumi berencana melakukan penelitian di Tokyo. Dia memintaku menjadi asistennya.”
Kata demi kata yang mengalir dari mulut Hajime terdengar terlalu cepat, terlalu kasual, seakan-akan fakta itu takkan membuat nafasnya tercekat dan jantungnya mencelos. Tooru tak bisa memikirkan respon yang lebih daripada “Oh.”
“Dan mereka juga merekomendasikanku sebagai athletic trainer untuk tim nasional.”
“Oh?”
“Olimpiade. Dua tahun lagi? Di Tokyo?”
Butuh lebih banyak waktu daripada yang diekspektasi untuk Tooru mengulang kata itu lagi. “Oh.”
Hajime, kaki dan jari-jari tangannya bergetar gugup. Tooru baru menyadari kalau sedari tadi anak itu menggigit bibir, hanya ketika ia berhenti melakukannya, seraya ia mengeluh, “Bisakah kau mengatakan hal lain selain Oh ?”
Tiga hari dan dua malam.
Tooru menghitung, detik di mana Hajime menghidupkan mesin mobil dan dia mengenakan sabuk pengaman. Tiga hari dan dua malam, hingga Tooru mengatakan kebenarannya.
Tapi ini baru dua hari dan dua malam. Arloji yang melilit pergelangan tangan kirinya, jarum pendeknya mengarah ke angka sepuluh. Yang berarti masih ada empat belas jam lagi sebelum mereka kembali ke Irvine.
Sepanjang enam belas jam durasi perjalanan di dalam pesawat yang menerbangkannya ke California, Tooru sudah memilah skenario yang paling tepat untuk bisa dipraktikkan. Tapi tak ada satu pun di antaranya yang dimulai dengan cara begini.
Barangkali ini juga alasan yang mendorong Hajime untuk menerima tawarannya, demi menumpahkan kebenaran itu di antara mereka, sama mengejutkannya dengan satu yang masih Tooru simpan.
Jadi kalau begitu, apa bedanya mereka berdua?
Maka, dikatakannya.
“Iwaizumi,” Tooru bergumam. “Argentina menawarkanku kewarganegaraan.”
“Apa?”
Dia tersenyum, tapi suaranya terdengar putus asa. “Mereka memintaku bermain untuk tim nasional mereka.”
three years ago
Di tengah-tengah hidup dengan kenyataan yang biru, suatu malam, Tooru memimpikan warna merah.
Di mimpinya, dia berdiri di lapangan stadium dengan lampu sorot yang membutakan menyinarinya. Di sana ada ribuan orang duduk di tribun, rela capek-capek berkumpul untuk menontonnya. Menyerukan namanya— Oikawa Tooru! dan kemudian, Ryujin nippon! Kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian merah.
Begitu pula dirinya. Semasa ia menurunkan pandangannya sedikit, ada bendera Jepang yang dijahit di dada kiri seragamnya. Di bawah itu, tertuliskan kata JPN yang dibordir halus.
Di belakang punggungnya, berbaris pemain lain yang turut memakai seragam merah. Dan untuk sementara, di bawah gelombang bawah sadar otaknya, Tooru akhirnya lupa bagaimana rasanya mengenakan warna biru dalam sepanjang hidupnya.
Kemudian, alarmnya berbunyi nyaring. Semuanya biru, sekali lagi, setiap hari.
Biru, warna tembok gedung apartemennya yang baru dicat. Unit yang ditempatinya tidak terlalu besar, ada dua kamar untuk enam pemain cadangan. Tapi sewanya dibayar penuh oleh klub, jadi buat apa harus mengeluh?
Biru, warna seragam CA San Juan yang kerap mengisi lapangan bila Tooru melihatnya dari mana ia berdiri—bersebelahan dengan Mateo, jauh di luar garis, seraya bertanya-tanya kapan nama mereka akan dipanggil oleh pelatih.
Pada saat namanya berhasil menjadi salah satu pemain inti, Tooru membayangkan wartawan dan jurnalis Jepang akan meliput sosoknya lalu meminta sesi interview dengannya. Karena siapa laki-laki Jepang yang bermain untuk tim Argentina ini? dan kenapa permainannya sangat keren tapi Jepang tak pernah melihatnya sama sekali?
Karena Oikawa Tooru tak pernah lolos masuk Harukou. Alasannya, itulah. Sebab yang sama yang membuat situs berita tidak terlalu membicarakannya. Tapi Tooru tak terlalu masalah. Toh dia bermain voli karena benar-benar menyukainya. Popularitas tak pernah jadi prioritas. Dan orang-orang akan melihatnya pada waktu yang tepat. Sudah terbukti, karena alasan macam apa lagi yang membuatnya direkrut oleh Jose Blanco sendiri.
Waktu akan memberitahu, Tooru meyakinkan dirinya sendiri. Dan waktu akan menyembuhkanmu. Luka imajiner yang masih merembes setelah sekian lama dinomorduakan dalam hal nomor satu di hidupnya.
Tapi, alih-alih, dia melihat Kageyama Tobio dalam perjalanan pulang dari latihan. Dia mampir sejenak untuk membeli bahan makan malam di supermarket, semasa wajahnya mendongak ke arah televisi di atas meja kasir dan tercenung memandang anak laki-laki yang tengah disorot itu.
Dulu dia lebih kurus daripada yang sekarang. Anak itu, Kageyama Tobio. Dan dulu, dia lebih lemah, jauh lebih gugup. Tapi waktu telah memberitahu, ini semua masalah jam terbang yang dia habiskan untuk menyempurnakan servis yang ditujukan pada Prancis. Satu yang telah dilatihnya sejak hari-hari di Miyagi, yang dieksekusinya saat melawan Inarizaki.
Seakan-akan Kageyama Tobio, sembilan belas tahun, ingin memberitahumu dalam cara dia melempar bola yang bergulir di udara dan melompat untuk menghempaskannya ke sisi lain lapangan— Lihat. Lihat aku. Lihat bagaimana aku melesat dari bumi dan menghancurkan orbitmu. Lihat ini dan ingatlah ini. Karena beginilah caraku membawa kejayaan untuk negara ini, dengan tanganku sendiri. Di depan semua orang yang menyaksikan di Rio. Di hadapan seluruh dunia.
Kageyama Tobio berumur sembilan belas tahun dan mengenakan seragam merah semasa di lapangan. Dan Oikawa Tooru berumur dua puluh dua dan bertanya-tanya bagaimana rasanya mengenakan merah, alih-alih biru, seperti yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya.
today
Sudah lewat tengah malam, yang berarti sisa dua belas jam sebelum mereka meninggalkan hotel ini demi Irvine. Pesta pernikahan masih berlanjut di bawah sana, sebagaimana yang Tooru dengar semasa ia membuka pintu balkon dan suara samar riuh musik menyeruak di udara.
Tooru bersandar ke arah pagar pembatas untuk mengintip taman di bawah. Dari lantai kesepuluh itu, semua orang terlihat begitu kecil, bergerak dalam tempo menyenangkan yang tak mampu ia mengerti.
Tak lama, fokusnya berpindah ke arah sisi taman yang lebih sepi. Di dekat kolam renang, tak ada siapa-siapa lagi di sana. Tapi Tooru lebih suka membayangkan kalau ada dua anak berumur dua puluh lima yang duduk bersisian di pinggirnya, dengan kaki yang dicelupkan dalam air, menertawakan hal-hal nostalgia yang hanya diingat oleh mereka berdua, bercakap-cakap dalam bahasa yang hanya bisa fasih dituturkan oleh mereka berdua di antara tamu lainnya.
“Kau nggak ngantuk?” Sebuah suara datang dari balik punggung Tooru. Sebersamaan itu pula, dua anak di tepi kolam renang pun lenyap dari pandangannya.
Hajime berjalan menghampiri sebelum Tooru sempat menoleh ke belakang. “Nggak terlalu.”
Percakapan mereka dua jam lalu di bawah sana belum berakhir dengan kesimpulan. Setelah Hajime memberitahu Tooru kabar tersebut dan sebaliknya, mereka tidak mengatakan apa-apa lagi.
Yang mereka lakukan hanyalah memperhatikan bagaimana pasang kaki mereka berayun di dalam air. Nampak biru dan dingin dan entah bagaimana berubah menjadi warna yang paling Tooru benci.
Lima menit selanjutnya, Mateo memanggil mereka untuk bergabung lagi dalam pesta. Mereka tak pernah selesai membicarakannya. Tapi kalau dipikir-pikir, apa lagi yang harus dibicarakan? Toh ini bukan semacam rencana yang bisa mereka tolak, lagipula.
Rasanya seperti memori tentang kertas masa depan, diulang sekali lagi. Hajime yang akan meninggalkan Jepang satu tahun selanjutnya, sementara Tooru yang akan mencoba bermain voli lebih lama di Jepang. Tapi ujung-ujungnya, Jepang terlalu lama menghiraukannya hingga Argentina yang menemukannya lebih dulu.
Mereka tidak berbagi kata-kata selama beberapa menit. Lalu, Hajime berbicara. Yang dimulai dengan sikutan pelan di siku, paling lembut yang pernah Hajime berikan padanya hingga nyaris terasa seperti sentuhan saja.
“Kau tahu, biru terlihat lebih cocok untukmu daripada semua warna lain, lagipula.”
Tooru menahan nafasnya dan merasakan tiap nyeri yang berpulsasi di hatinya.
Kau selalu terlihat lebih cocok dalam warna biru.
“Ambil kesempatan itu dan jangan ragu-ragu lagi.”
“Tapi bukannya rasanya seperti jadi pengkhianat? Meninggalkan negaramu dan bermain demi kemenangan negara lain.” Tooru menyanggah, dirinya sendiri cukup terkejut mendapati seberapa terluka suaranya terdengar. “Dan lagipula, rasanya kesepian.”
Apakah kau tahu kalau biru adalah warna paling kesepian di dunia?
“Persetan dengan itu semua,” Hajime mengumpat sembari melihat ke bawah, seolah-olah kalimat itu ditujukan pada dunia yang berotasi dan bertranslasi tiga puluh meter di bawah mereka, enam ratus sepuluh meter di atas permukaan laut. “Mereka bahkan tak pernah menghargaimu, memberikanmu apa-apa. Kenapa kau malah merasa terbeban?”
“Iwaizumi—”
“Kau nggak mengkhianati siapapun atau apapun. Kau cuma ingin mewujudkan mimpimu. Apa yang salah dengan itu?” Hajime mengernyit. “Dan kau nggak sendirian. Aku juga bakal ada di sana, kau bisa melihatku di pinggir lapangan. Akan kutendang orang-orang yang memanggilmu dengan julukan pengkhianat.”
Gelak tawa Tooru pecah. Kendati begitu, di ujung utas tawanya, suaranya berubah serak dan bergetar. “Tapi kau kan berada di sisi lain lapangan. Itu berarti aku tetap sendirian.”
Hajime menoleh, hanya untuk menemukan Tooru telah melihatnya duluan. Emosi yang sama terpancar di mata lelaki itu sebagaimana yang terjadi sembilan belas tahun lalu, seakan mereka berumur enam tahun sekali lagi. Di sana, Tooru memandangnya seperti pahlawan penyelamat bumi.
Seringkali Hajime akan menyerah dan membiarkan Tooru memilihnya sebagai solusi. Tapi tidak untuk yang satu ini. Tak ada ragu di binernya, hanya afirmatif dan sedikit apologetik, semasa menyampaikan bahwa Tidak. Kali ini, kau harus menyelamatkan dirimu sendiri, Tooru.
“Ya. Kau akan kesepian. Tapi kau bakal membuktikan apa yang mereka lewatkan selama bertahun-tahun.” Hajime berkata. “Bukankah itu layak untuk dicoba?”
fifteen years ago
“Apakah kau tahu biru adalah warna paling kesepian di dunia?” Hajime bertanya padanya, suatu siang.
Itu adalah minggu terakhir musim panas. Mereka menghabiskan sepanjang hari di padang rumput, hanya berdua. Satu waktu mereka akan mencoba mencari jangkrik dan kumbang. Di waktu lain, semasa cuaca terlalu menyengat, mereka akan mampir ke kedai yang menjual es serut dan membuka pintu kulkas sedikit untuk merasakan semilir hawa dingin, selagi menunggu pesanan mereka disiapkan oleh nenek baik hati pemilik kedai. Sesekali Hajime bakal mengajari Tooru untuk memanjat pohon. Seringnya Tooru terjatuh dan menyerah, hingga di ujung hari mereka hanya berbaring di atas rerumputan, dengan Tooru yang bergosip tentang anak-anak lain di sekolah dan Hajime yang mencetuskan fakta-fakta aneh dari buku ensiklopedi yang dibacanya—seperti sekarang ini.
“Biru kan warna yang paling bagus,” Tooru beralasan, “bagaimana bisa kau menyebutnya warna paling kesepian di dunia?”
Ini alasannya, Hajime memberitahunya.
Dulu, pada tahun 1972, sekumpulan astronot dari Amerika Serikat meluncurkan diri mereka sendiri ke ruang angkasa dan mengambil foto utuh dari bumi untuk yang pertama kalinya. The blue marble, begitu fotonya disebut bertahun-tahun kemudian.
Dengan punggung yang membelakangi matahari, mereka melihat bumi. Planet itu begitu kecil dalam gerakan rotasi dan translasinya, terlihat dari balik jendela roket mereka. Hanya satu dari banyaknya partikel di jagad raya yang luas. Tapi di waktu yang sama, satu-satunya yang masih terbukti memiliki keberadaan penghuni, titik biru yang rapuh dan kesepian, mengambang di tengah kegelapan.
Apakah kau tahu tentang hewan paling kesepian di dunia? Itu adalah paus biru, yang subspesiesnya masih belum bisa diidentifikasi karena hanya ada satu di dunia. Akhir-akhir ini peneliti memanggilnya 52 hertz. Kenapa, itu pertanyaannya kan? Tidak seperti paus lain, paus ini hanya bisa bernyanyi dalam gelombang 52 hertz, sementara semua temannya berkomunikasi dalam rentang sepuluh hingga dua puluh. Betapa kesepian rasanya, ketika tak ada yang memahami frekuensinya. Tapi tetap, ia bertahan selama beberapa dekade hingga saat ini.
“Dan langit, dan laut.” Hajime menutup buku ensiklopedianya, dibiarkan abai di antara tubuh mereka yang berbaring bersebelahan. “Kau masih ingat alasan kenapa mereka biru?”
Tooru bersenandung. Dia melihat lurus ke arah langit. Di bawah pohon ginkgo rindang tempat mereka berteduh, warna biru nampak samar di antara helai-helai daun. Hajime memberitahunya tentang ini minggu lalu. “Matahari membiaskan tujuh warna cahaya. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu—warna pelangi. Tapi warna yang punya partikel paling besar dan gelombang paling pendek itu biru. Jadi dia yang paling mudah untuk terurai di langit, makanya semua orang melihat langit dengan warna biru. Kalau laut… karena mereka memantulkan cahaya langit, kan?”
“Iya,” Hajime meletakkan kedua tangannya di bawah kepala sebagai sandaran, “tapi ada alasan lain juga.”
Teorinya nyaris sama. Biru punya partikel paling besar di antara semua warna, jadi lebih gampang terurai. Yang membuatnya lebih gampang dilihat oleh mata manusia. Tapi di waktu yang sama, butuh waktu lebih lama untuknya diserap oleh air, ketika semua spektrum telah lenyap diserap.
“Semakin lama mereka diserap ketika matahari masih kelihatan, semakin lama mereka kembali ketika matahari sudah nggak ada, waktu hari jadi malam.” Hajime menjelaskan. “Dia sendirian waktu semua warna sudah kembali ke rumah.”
“Jadi, dimana rumahnya?”
“Di matahari.” Hajime menjawab dalam kesan apologetik, meskipun ini hanyalah fakta sains yang tak mampu ia ubah nasibnya. Warna biru yang malang, kemungkinan begitu ia berpikir. “Bukankah itu menyedihkan?”
“Yah.” Tooru mengangkat bahu. “Tapi biru itu juga indah.”
Hajime menghela nafas panjang sebagai balasannya. “Jadi, menurutmu, apakah itu semua layak?”
today
Mereka menyetir pulang ke California setelah menghabiskan sarapan yang sebenarnya terlalu terlambat. Mateo bergabung di meja mereka, tak berhenti mengeluh tentang sakit kepalanya akibat pengar.
Barangkali dia memang masih separuh mabuk, karena dia bertanya seperti ini selagi masih ada telur dan bacon di dalam mulutnya, “Jadi bagaimana hasil agenda memberitahu rahasianya? Apakah perjalanan ini berhasil?”
Yang diikuti dengan geraman kesakitan karena Tooru jelas-jelas menendang kaki Mateo di bawah meja. Tooru menyembunyikan wajah malunya di balik cangkir kopi yang terlalu besar, yang disediakan oleh restoran hotel.
Hajime tersenyum tipis. “Sepertinya berhasil,” dia bergumam, melirik ke arah Tooru yang duduk di sebelahnya.
Di detik itu, Tooru akhirnya menyadari bahwa apapun yang akan terjadi di antara mereka di masa depan, meskipun Hajime akan mengenakan bendera merah di dada kiri seragamnya, sementara Tooru tetap memakai biru dua tahun yang akan datang, mereka akan tetap baik-baik saja. Dan Tooru mungkin akan tetap jatuh cinta padanya. Tapi yang itu bisa menunggu, mereka tak butuh lebih banyak kejutan lagi dalam perjalanan ini.
Tooru tertidur sepanjang perjalanan. Kali ini, Hajime membiarkannya.
Sisa setengah jam lagi mencapai Irvine, GPS mobil Hajime berkumandang dalam suara mesin yang datar. Tooru terbangun untuk menemukan garis pantai menyambutnya. Dia menurunkan jendela, membiarkan angin musim panas menyisip ke dalam mobil dan bermain-main dengan rambutnya. Hajime memasang kaca mata hitam yang selama ini disimpannya di dasbor mobil.
Hajime menghentikan mobil di pinggir pantai. Mereka melepas sepatu masing-masing dan Tooru bisa merasakan hangatnya pasir yang terselip di antara jari-jari kakinya, ketika mereka mengejar satu sama lain menuju ombak, seperti di masa-masa sekolah, bertanding siapa yang lebih dulu akan tiba di sana.
Suatu saat, aku akan mengalahkanmu.
Hajime mendorongnya ke dalam air, dan Tooru membawa Hajime bersamanya.
Matahari bersinar terik di atas sana. Samudera berkilau di antara gelombangnya. Dan dalam sekelebat, biru langit dan laut tak terlalu terasa sepi seperti yang seharusnya.
“Hei.” Hajime memanggil semasa mereka duduk di ujung pantai. Jari-jarinya samar menyentuh kulit Tooru, terasa seperti sengatan listrik. “Ayo lakukan hal seperti ini lagi sewaktu kita bertemu di Jepang nanti.”
“Seperti apa?”
“Menyetir. Perjalanan seperti ini. Mungkin dari Tokyo ke Miyagi, atau ke manapun.” Dia menatap Tooru, dan Tooru bertanya-tanya mana yang lebih membutakan—sinar matahari sore pantai Irvine atau senyum anak lelaki ini. “Hanya kita berdua.”
Adalah bohong kalau Tooru tidak mengaku bagaimana hatinya berdegup lebih kencang saat kalimat itu disebut. Dan juga dari cara Hajime meraih telapaknya—akhirnya, untuk yang pertama kali, setelah selama ini selalu Tooru yang mencarinya lebih dulu—Tooru nyaris menganggap kalau itu halusinasinya belaka.
Tooru mencoba agar senyum yang ia rekahkan tidak terlalu lebar. Karena bukankah itu tujuan dari perjalanan tiga hari dan dua malam mereka? Tooru membawa Hajime ke sebuah pesta pernikahan karena ia tidak jatuh cinta padanya.
Atau begitulah, yang Tooru harapkan.
“Syaratnya, kau yang menyetir.” Tooru berkata.
Hajime tertawa kecil. “Oke.”
“Oke.”
To people who are lonely, and to people who complete them.
