Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
NAMGI CUDDLE FEST
Stats:
Published:
2021-06-03
Words:
2,003
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
54
Bookmarks:
2
Hits:
422

Candy

Summary:

Hanya sebuah cerita manis dari pasangan Kim Namjoon dan Min Yoongi serta malaikat kecil mereka, Jungkook

Notes:

Prompt:

 

 

Married Namjoon and Yoongi with baby Jungkook. Namgi LDM karena Namjoon ditugaskan di kantor cabang luar kota. Tiap hari Namgi video call biar Namjoon tetep bisa ngobrol sama Jungkook kecil.

Based on Home by A Great Big World.

Dw: yang penting ada scene cuddle bertiga, sisanya bebas
Dnw: yang melanggar rules

Work Text:

“Papa ... good morning.”

Suara lengkingan dan pintu yang dibuka dengan kencang menarik Yoongi dari mimpi indahnya.

Yoongi langsung bangun dari tidurnya. Segera didapatinya seorang bocah kecil dengan mata yang masih sedikit sayu dan rambut kusut berlari ke arah tempat tidurnya. Bocah laki-laki itu tampak kesulitan saat akan naik ke kasur Yoongi. Ia dengan cepat menyelipkan tangannya di ketiak bocah itu dan membawanya ke pangkuannya.

Good morning little prince. Ini masih jam 6 pagi tapi kenapa sayangnya papa sudah bangun?” Tanya Yoongi sambil merapikan rambut bocah itu dengan jarinya.

Let’s call ayah. Kookie kangen ayah. Kemarin malam kita belum jadi call ayah,” ujar bocah yang menyebut dirinya kookie itu.

Kim Jungkook, putra angkat kesayangan Kim Namjoon dan Min Yoongi itu memang selalu memanggil dirinya seperti itu. Ia tidak pernah menyebut “aku” untuk kata ganti dirinya sendiri. Sebenarnya, itu ajaran Yoongi. Karena ia merasa kata ganti “aku” sedikit kurang sopan untuk bocah seumuran Jungkook.

“Ayah mungkin belum bangun sayang. Ayah tadi malam kirim pesan ke Papa hampir jam satu pagi. Mungkin ayah akan bangun jam delapan.”

Sebuah rengutan muncul dari bibir Jungkook. Matanya meredup dan ia menundukkan kepalanya.

“Masih lama? Kookie kangen ayah.”

Yoongi menarik tubuh Jungkook ke dalam pelukannya dan mengelus punggung bocah itu.

“Papa juga kangen ayah,” ujarnya lirih sambil berusaha mencari akal untuk membuat Jungkook bersemangat lagi.

“Bagaimana kalau Kookie bantu papa bikin sarapan hari ini? Kita bikin pancake kesukaan ayah. Biar ayah iri dan cepat pulang?”

Dan benar saja. Mata bulat itu terlihat membesar dan bersinar dengan penuh semangat.

Let’s go papa. Kita bikin pancake biar ayah cepat pulang.”

Tawa terbit dari bibir Yoongi mendengar betapa semangatnya Jungkook untuk mengejek ayahnya. Ia langsung menggendong bocah tampan itu menuju dapur rumah mereka.

Setibanya di dapur, Yoongi meletakkan Jungkook di kursi tingginya. Bocah itu kini sibuk bermain dengan robot mainannya. Semetara Yoongi menyiapkan bahan pancake mereka.

“Papa, Kookie bisa bantu apa?” tanyanya sambil menatap Yoongi penuh harap.

Tidak ingin mengecewakan putra tampannya, ia segera meraih campuran adonan yang telah diaduknya sebentar.

“Kookie aduk ini ya. Pelan-pelan saja. Papa mau potong-potong buahnya dulu.”

Jungkook mengangguk dengan penuh semangat dan mulai mengaduk adonan itu. Karena tangannya yang tidak begitu mahir, bukannya bercampur jadi satu, justru tepung beterbangan kemana-mana.

“Papa tolong,” cicitnya lirih yang membuat Yoongi langsung menatapnya. Tawanya meledak melihat bagaimana penampilan Jungkook sekarang.

Rambut dan wajahnya sudah penuh dengan tepung. Dan jangan lupakan adonan yang sudah tidak jelas bentuknya.

“Ayo kita mandi dulu,” ujar Yoongi sambil menggendong Jungkook menuju kamar mandi mereka.

“Pancakenya?” Tanya bocah itu sambil menatap mangkok adonan yang mereka tinggalkan di meja dapur.

“Habis Kookie mandi, papa akan buatkan pancakenya. Kookie nonton tv aja ya,” ujarnya yang mendapat anggukan semangat dari bocah dalam gendongannya itu.

Selesai dengan ritual mandi, Yoongi segera mengganti baju Jungkook dan mendudukkan anak itu di ruang tv. Jungkook langsung memasang acara kesukaannya.

Sementara Jungkook sibuk dengan tontonannya, Yoongi bergegas kembali ke dapur dan membereskan kekacauan yang dibuat oleh malaikatnya.

Hingga dering ponselnya yang berada di ruang tv serta teriakan Jungkook membuatnya kembali mendatangi putranya itu.

Yoongi langsung meraih ponsel yang terletak di meja dan menggeser tombol terima di ponselnya. Wajah Namjoon langsung terlihat. Pria itu terlihat habis mandi. Bahkan rambutnya masih basah.

“Pagi babe. Mana Kookie?” Selalu begitu. Tiap kali Namjoon melakukan sambungan video dengannya, Jungkooklah yang dicari nya. Terkadang bahkan Yoongi tidak kebagian berbicara dengan suaminya itu.

Yoongi segera memangku Jungkook agar mereka berdua bisa terlihat di layar ponsel itu.

“Hai, Ayah. Tadi Kookie mau telepon Ayah tapi kata papa, Ayah belum bangun,” adu Jungkook begitu ia bisa melihat wajah Namjoon di layar ponsel papanya.

“Oh ya? Ayah memang tidur terlalu malam. Makanya, papa kira Ayah belum bangun.”

“Ayah pulang kapan?” Tanya Jungkook yang membuat Namjoon mengulas senyum simpulnya.

“Belum tahu, sayang. Pekerjaan Ayah masih banyak disini,” ujar Namjoon berusaha menjelaskan.

“Masih lama ya,” sahut Jungkook lirih. Bahunya turun dan pandangannya menunduk.

“Hei, jagoan jangan sedih begitu dong. Kookie mau dibawakan apa? Mainan robot atau makanan?” Bujuk Namjoon yang melihat wajah murung putranya.

Wajah Jungkook kembali bersemangat. “Semua. Mau semua ya,” sahutnya ribut sambil menatap Namjoon penuh harap.

Tawa Namjoon dan Yoongi pecah melihat tingkah menggemaskan Jungkook. “Iya, nanti Ayah belikan. Sekarang, Kookie nonton tv lagi ya. Ayah mau bicara sama papa.”

Jungkook memasang pose hormat pada ayahnya. “Siap Kapten.” Dan ia segera beranjak dari pangkuan Yoongi untuk duduk kembali di tempatnya semula.

“Mau bicara apa sih sampai Jungkook gak boleh dengar?” Tanya Yoongi saat dirinya hanya berdua dengan Namjoon. Ia memilih pindah ke dapur agar pembicaraan mereka tidak didengarkan oleh Jungkook.

Bukannya menjawab, Namjoon justru hanya tersenyum sambil menatapnya. “Apa sih? Mau bicara nggak? Kalau nggak mau, aku matikan ya. Mau lanjutin bikin pancake.”

“Sebentar dong. Kan masih kangen ini. Sama suami sendiri kok gitu,” rajuk Namjoon sok imut.

“Dasar. Udah tua juga masih merajuk kayak Jungkook,” sahut Yoongi. Tapi tak dipungkiri, ia merindukan Namjoon yang suka bermanja padanya.

“Gimana jadinya? Masih lama ya proyeknya?” Tanya Yoongi yang membuat Namjoon mengulas senyum simpul.

“Begitulah. Aku berusaha menyelesaikannya secepat mungkin. Tapi selalu ada halangan. Doakan saja semuanya lancar. Kalau lancar, kurasa dua minggu lagi aku bisa ambil cuti tiga hari.”

Yoongi mengulas senyum simpul dan menganggukkan kepalanya. “Iya Ayah. Papa dan Kookie akan selalu tunggu ayah pulang.”

“Tolong, jangan terlalu manis. Aku nggak mau tiba-tiba kabur dari kantor pakai penerbangan pertama cuma buat peluk kalian,” gerutu Namjoon. Yoongi yang mendengarnya hanya tertawa lebar.

“Semangat ayah. Udah dulu ya. Papa mau bikin pancake buat Kookie dulu.” Dan panggilan video itu terputus bersamaan dengan teriakan Jungkook yang menanyakan keadaan pancakenya.

 

Tak terasa 2 minggu telah berlalu sejak janji Namjoon untuk pulang. Dan Jungkook terus menerus menanyakan perihal janji itu. Bahkan Yoongi dan Namjoon harus membuat seribu satu alasan agar putra tampan mereka tidak menanyakan lagi dan lagi perihal kepulangan sang ayah.

Yoongi tengah menyuapi Jungkook sarapan ketika panggilan video rutin pagi Namjoon memanggil.

“Nah, ayah telepon ini. Kookie mau bicara?” Tanya Yoongi sambil menerima panggilan itu.

Jungkook menggeleng pelan. “Kookie nggak mau bicara kalau ayah belum pulang,” sahutnya lirih sambil memainkan robot di tangannya.

Yoongi melirik ponselnya yang menampilkan wajah sedih Namjoon. “Sudah dengar? Sekarang, ayah bicara sama Jungkook ya. Papa mau bikin susu buat Anak Ganteng ini,” ujar Yoongi sambil meletakkan ponselnya yang masih tersambung di hadapan Jungkook.

“Hai jagoan. Marah ya sama Ayah?” tanya Namjoon begitu ia bisa melihat wajah Jungkook.

Jungkook menggeleng pelan. “Kalau nggak marah, lihat Ayah dong.”

Jungkook akhirnya mengangkat kepalanya dan dilihatnya sang ayah tengah memegang sebuah boneka kelinci dan robot mainan yang sudah lama diimpikannya.

Mata Jungkook langsung membesar melihatnya. Namjoon tersenyum melihatnya. “Suka?” Tanyanya dan dijawab anggukan semangat oleh Jungkook.

“Kalau Kookie jadi anak baik dan jaga papa sampai Ayah pulang, semua ini boleh buat Kookie. Jadi, mau janji sama Ayah? Jadi anak baik dan jaga papa sampai Ayah pulang?” Tanya Namjoon sambil menjulurkan jari kelingkingnya ke arah kamera.

“Kookie janji jadi anak baik dan jaga papa,” sahutnya semangat sambil ikut menjulurkan kelingkingnya.

“Tapi Ayah harus cepat pulang,” tambahnya lirih sambil mengepalkan tangannya yang masih terulur di depan kamera.

Namjoon tersenyum menatap putranya. “Ayah janji. Kalau Kookie jadi anak baik, Ayah akan segera pulang.”

 

Hari masih sangat gelap ketika Jungkook merasa tubuhnya diangkat dari tempat tidurnya.

“Papa? Kita mau kemana?” tanyanya ketika merasa piyama yang digunakannya diganti dengan baju keluar oleh sang papa. Ia bahkan dipakaikan baju hangat.

Tidak ada jawaban. Sang papa justru kembali mendudukkan tubuhnya di sofa ruang televisi dan meninggalkannya ke dapur. Tidak mau ambil pusing, Jungkook kembali masuk ke alam mimpinya.

Ia merasa mereka berkendara entah kemana. Tapi, rasa kantuk yang menderanya membuat pertanyaan hanya berhenti di bibirnya. Ia memilih melanjutkan tidurnya yang terganggu.

Hingga cahaya matahari menembus jendela mobil dan membuatnya membuka mata. Begitu ia melihat sekitar, mereka berada di sebuah tempat yang sangat luas dan banyak orang hilir mudik kesana kemari. Langkah mereka juga sangat cepat, seperti dikejar sesuatu. Jangan lupakan ributnya suasana.

“Papa, ini dimana? Kenapa kita kesini?” Tanyanya pada Yoongi yang sibuk dengan ponselnya.

“Oh, Kookie sudah bangun? Mau minum susu dulu?” Bukannya menjawab pertanyaan Jungkook, Yoongi justru menawari bocah tampan itu sarapan.

Menyadari bahwa perutnya memang sedikit lapar, bocah itu menganggukkan kepalanya. Segera diterimanya sebotol susu hangat kesukaannya. Sambil menghabiskan susunya, ia kembali melihat pemandangan diluar mobil mereka.

Tidak lama, dilihatnya seorang pria tinggi tegap yang berjalan keluar dari pintu kedatangan. Menyadari siapa yang datang, Jungkook langsung melepas botol yang sedang ia sesap dan berteriak sekuat yang ia bisa.

“AYAAAHHHH!” Teriak Jungkook hingga membuat Yoongi terkejut dibuatnya.

Segera ia turun dari mobil dan membuka pintu penumpang dan menggendong Jungkook. Anak itu sibuk meminta turun dan berlari ke arah sang ayah. Tapi karena situasi bandara yang sangat ramai pagi ini, Yoongi berusaha sekuat tenaga menggendong Jungkook.

Ia hampir saja menjatuhkan Jungkook jika saja tangan Namjoon tidak menangkap anak itu terlebih dahulu. Jungkook sibuk mengencangkan pelukannya pada leher sang ayah. Melupakan bagaimana dirinya hampir saja jatuh menghantam lantai bandara.

“Ayah pulang. Kookie senang sekali,” bisiknya di telinga Namjoon yang membuat pria itu tersenyum dan memeluk Jungkook erat.

“Ayah juga senang bisa peluk Kookie lagi,” sahutnya sambil turut memeluk Yoongi yang berdiri menatap mereka berdua.

“Ayo udah dulu peluknya. Ayah masih capek lho,” bujuk Yoongi pada Jungkook yang masih menempel seperti koala pada Namjoon. Bahkan ia tidak mau melepas pelukannya eratnya ketika Yoongi akan menggendongnya.

Namjoon tertawa melihat tingkah Jungkook. “Nggak papa, biar aku yang gendong,” sahut Namjoon berusaha membujuk Yoongi. 

Yoongi akhirnya hanya menghela napas dan membantu membawakan tas Namjoon sementara Namjoon telah meninggalkannya bersama dengan Jungkook yang masih terus menempeli ayahnya.

Di perjalanan pulang menuju ke rumah mereka pun begitu. Bocah itu tetap menempel pada Namjoon. Bahkan ketika ia sudah tertidur lelap, matanya akan terbuka bila akan dipindahkan ke kursi bayinya.

Namjoon akhirnya memangku Jungkook hingga mereka tiba di rumah. Jungkook akan diletakkan ke tempat tidurnya ketika bocah tampan itu membuka matanya.

“Ayah mau kemana? Bobok sama Kookie aja,” ujarnya sambil sesekali mengucek matanya.

Namjoon tersenyum menatapnya. “Ayah mau ganti baju. Nanti, kita tidur sama-sama ya,” bujuknya yang mendapat anggukan lemah dari Jungkook. Bocah itu kembali memeluk guling bergambar Iron Man miliknya.

Setelah memastikan bila Jungkook sudah tertidur, Namjoon perlahan mulai meninggalkan kamar putranya itu. Begitu ia keluar, telah berdiri Yoongi di depan kamar Jungkook.

“Hai Papa,” sapanya dan mendapat pelukan hangat dari Yoongi.

“Bukan cuma Jungkook yang kangen. Aku juga kangen,” bisiknya lirih. Pelukan Namjoon di tubuhnya semakin erat.

“Iya Papa. Ayah juga kangen berat kok. Sebentar ya, Ayah ganti baju dulu. Nanti kita tidur sama-sama Kookie.”

Pelukan dilepaskan oleh Yoongi. Ia memilih masuk ke dalam kamar Jungkook dan mulai bergabung di kasur putranya.

Walaupun Jungkook masih kecil, tetapi kasur miliknya bisa ditiduri oleh 3 orang dewasa. Bocah itu suka sekali berguling kesana kemari bila tidur dan membuat orang tuanya memutuskan memberikannya kasur yang besar. Mereka takut putra tampannya jatuh dari tempat tidur.

Yoongi hampir saja tertidur ketika merasakan sepasang lengan melingkari pinggangnya. Entah saking panjangnya tangan orang itu, ia bahkan bisa memeluk Jungkook yang tengah tidur di depan Yoongi.

“Aku kira udah tidur,” bisik Namjoon yang menyadari punggung tangannya diusap halus oleh Yoongi.

Yoongi hanya menggeleng pelan. “Masih mau cuddle manja dulu. Mumpung Jungkook udah tidur,” bisiknya lirih. 

Namjoon hanya tersenyum mendengarnya. Pelukannya di pinggang Yoongi kini berubah menjadi elusan di bagian perutnya.

Tiba-tiba saja Jungkook terbangun dan mulai merengek mencari sang ayah. Namjoon secara sigap langsung berpindah tempat ke sisi sebelah Jungkook yang satunya.

Begitu merasakan keberadaan sang ayah di sebelahnya, ia kembali memeluk pria itu erat. Ia juga menenggelamkan kepalanya pada dada Namjoon yang membuat sang ayah tersenyum menatap kelakuan bayi kecilnya.

“Dia mirip kamu. Suka banget kayak gini kalo lagi manja.” Dan Namjoon langsung mendapat pukulan manja di lengannya. Jangan lupakan wajah Yoongi yang memerah karena diledek seperti itu oleh suaminya.

“Udah ih, gak usah ledekin aku lagi. Tidur aja. Kamu nggak capek apa habis penerbangan dari Gwangju begitu?” tanya Yoongi berusaha mengalihkan perhatian.

“Lihat kalian berdua bikin lelahku hilang seketika,” sahut Namjoon yang membuat Yoongi menaha tawa sepenuh tenaga.

“Gombal,” sahutnya sebelum ikut memeluk Jungkook dan memejamkan matanya. Ia merasakan pelukan kembali melingkari pinggangnya.

 

Mari kita tinggalkan keluarga kecil yang sedang tertidur dengan indah itu :D