Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Ruang Hati
Stats:
Published:
2021-06-30
Words:
867
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
49
Bookmarks:
4
Hits:
437

yakin (kita menyatu)

Summary:

"Gue suka banget ama lo," ujar Jaemin, tidak lagi tahan untuk mengekang segala hal yang bergejolak dalam dirinya. "Gue kepikiran pengen megang tangan lo terus dan kebayang tinggal di desa kecil gitu ama lo."

"Endingnya rada serem," jawab Donghyuck santai. 

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"UDAH DIBILANG ARAH JAM SEMBILAN KOK LU GA NGERTI-NGERTI SIH," teriak Donghyuck, menggapai salah satu lengan Jaemin dan menariknya ke depan untuk menyamakan langkah kaki mereka.

Sekawanan mayat hidup mengejar mereka dari belakang—berlendir dan berdarah dan mungkin dapat lolos casting untuk The Walking Dead, seandainya TV kabel masih beroperasi. 

Seluruh perjanjian mereka mengenai menjaga volume telah pupus, jadi Jaemin berteriak balik.

"GUE GA BISA BACA JAM."

Donghyuck meringis dan menarik Jaemin agar berlari lebih cepat. 

Jaemin yang dulu, di kampus, mungkin akan gemetar apabila Donghyuck bahkan menyapanya. Melihat bagaimana mereka bisa disini sekarang, walau bahagia ia bisa menghabiskan waktu bersama Donghyuck—ia tidak yakin mengorbankan seluruh dunia merupakan harga yang sesuai. 

Rasanya seperti berjam-jam telah berlalu hingga mereka mencapai tempat yang dapat dibilang aman, kerumunan mayat hidup tertinggal beberapa blok di belakang mereka. Satu hal yang membuat Jaemin senantiasa bersyukur adalah betapa lambatnya gerak mereka.

Saat mereka menerobos masuk ke minimarket tempat mereka berkemah beberapa hari ini—Kosong, tentu saja, pikir Jaemin sedih. Semua makanan dan keperluan sudah dijarah habis-habisan saat semua ini mulai—Donghyuck menyibukkan diri memastikan pintu dan jendela tertutup dengan benar, sementara Jaemin masih berfokus mengatur pernapasannya. 

Ia sedikit menyesal tidak pernah mengindahkan perintah ibunya untuk sering berolahraga dulu. 

Jaemin menggeleng, ia tidak mau memikirkan keluarganya lagi. 

"Mau muntah." Jaemin beranjak ke toilet, tidak lagi memperhatikan Dongyuck.

Tidak lama, ia mendengar suara jejak kaki yang familiar.  Donghyuck duduk di belakangnya sementara Jaemin mengeluarkan seluruh isi perutnya. 

Ini bukan pertama kali hal ini terjadi. Mau berapa kali pun mereka berhadapan dengan mayat hidup, Jaemin tetap tidak tahan dengan mereka—bau mayat membusuk, mata kosong dan hampa mereka; bunyi menjijikkan setiap mereka dihantam—

"Gapapa," kata Donghyuck lembut, dan Jaemin seperti dapat bernafas lagi. "Keluarin aja. Gue disini."

Sebelumnya, Donghyuck sempat bercanda bahwa apabila rambut Jaemin sedikit saja lebih panjang, ia akan menahannya dengan tangannya sendiri agar tidak jatuh ke wajah Jaemin. 

Jaemin masih memiliki cukup malu untuk tidak mengakui bahwa pernyataan tersebut membuatnya berharap seandainya saja rambutnya lebih panjang. 

"Udah?" Tanya Donghyuck.

Jaemin mengangguk. Ia mendengar Donghyuck bergerak dan menengadah untuk melihatnya. Donghyuck sedang memakai kacamata dengan lensa biru muda, Jaemin tidak tahu kapan ia mendapatkan benda tersebut, mungkin di bagian minimarket yang tidak pernah Jaemin cek.

"Cakep," sebut Jaemin, otaknya masih berputar. 

Donghyuck menyeringai. "Mau cari satu buat lo juga ga?"

"Bentar bos, masih lemes." 

"Iya biar gue yang cariin."

"Okedeh."

Lima menit kemudian, di tangan Jaemin terdapat sebuah kacamata berbingkai hati, lengkap dengan lensa berwarna merah muda.

"Hehe." Saat Donghyuck tertawa, matanya seperti menghilang. Lagi-lagi, Jaemin merasa dadanya sesak saat melihatnya, ia begitu menyukai bocah ini dan Donghyuck bahkan tidak menyadarinya. "Sini, gue pakein."

Donghyuck menyambar kacamata tersebut dari tangan Jaemin dan perlahan bergerak mendekat. Matanya hanya fokus terhadap posisi kacamata tersebut, sama sekali tidak menghiraukan jantung Jaemin yang seakan-akan bakal melompat dari dadanya dan jatuh ke jalan.

Jaemin tidak sadar dia menahan nafasnya hingga Donghyuck akhirnya menjauh dan Jaemin dapat menghela nafasnya. 

"Lucu ya," ujar Donghyuck. "Gue milih ini karena gue pikir warnanya mirip rambut lo. Ternyata bener."

Jaemin tersenyum.

Pengakuan isi hati sebenarnya dapat dilakukan di momen yang lebih baik, tapi terkadang Donghyuck membuat Jaemin merasa seperti afeksi yang hidup di dalam hatinya ini adalah bom waktu, beberapa detik sebelum meledak.

Mereka sedang berkeliling untuk mencari makanan, saat sebuah mayat hidup menyergap Jaemin dari belakang. Sebuah kesalahan kecil, ketidaktelitian yang dapat menjadi fatal apabila tidak segera ditangani, dan Donghyuck, dia—Jaemin tidak pernah melihat Donghyuck semarah dan setakut itu.  

("Jangan mati, goblok," tangis Donghyuck setelah berhasil menyelamatkan Jaemin, memeluknya erat. "Gue ga pernah sesayang ini sama orang, gue ga tau bakal ngapain kalo lo mati." 

Saat itu, Jaemin hanya bisa terdiam, terkejut.)

Melihat Donghyuck sekarang, kalem dan keren, tidak mungkin ada yang bisa menebak bahwa dia baru saja menangis sesenggukan. 

Tapi Jaemin melihatnya.

"Gue suka banget ama lo," ujar Jaemin, tidak lagi tahan untuk mengekang segala hal yang bergejolak dalam dirinya. "Gue kepikiran pengen megang tangan lo terus dan kebayang tinggal di desa kecil gitu ama lo."

"Endingnya rada serem," jawab Donghyuck santai. 

Lega sesaat yang didapatnya dari mengakui perasaannya seketika pupus, hati Jaemin serasa pecah berkeping-keping, jatuh ke aspal seperti zombie yang barusan mereka hantam.

Kemudian, Donghyuck berbunyi lagi. "Bikinin gue taman ya, yang banyak bunganya."

"Kalo gitu, Hyuck sukanya bunga apa?" Jaemin tersenyum, panggilan tersebut meluncur dari mulutnya semudah bernapas. 

Segala hal ini membuatnya terpikir akan sebuah sentimen yang begitu sering menjadi inti dari film-film romansa remaja yang dulu sering ia tonton. Sang protagonis akan senantiasa menyatakan: Buat kamu, apa yang nggak sih?  

Sekarang Jaemin mengerti kenapa mereka berani berkata demikian. Karena bukankah itu dirinya saat ini?

Adakah hal yang tidak akan Jaemin lakukan untuknya? Ia hanya perlu meminta.

Donghyuck tidak bergerak dari tempatnya, mata dan kepala masih berfokus pada ruangan yang terlalu sunyi di hadapan mereka. 

"Bunga matahari," bisiknya, terdapat bayangan sebuah senyuman di wajahnya. "Hyuck suka bunga matahari."

Dengan demikian, Jaemin mulai merencanakan bagaimana ia akan menanam dan merawat bunga matahari. Baik itu akan memerlukan satu ataupun seribu usaha, akan ia lakukan semuanya hingga usahanya dapat membuahkan hasil yang memuaskan. 

Buat Donghyuck, apa yang nggak?

Dan Jaemin tahu, Donghyuck juga akan rela melakukan apapun untuknya.

Baik itu memerlukan satu maupun seribu tahun, mereka akan melalui ini bersama. 

Notes:

Judul dari lagu Tulus, Labirin. Moga receiver suka ehehe