Actions

Work Header

Arrival

Summary:

When the next plane landed, Baekhyun make sure to hold into Chanyeol’s hand tighter this time.

Notes:

Kode dan Isi Prompt: Self Prompt ㅡ “I promise to meet you by the plane that never made it past the thunderstorm. And by then, we will have nothing left to lose..”

Disclaimer: Cerita ini murni karya fiksi; merupakan hasil kreativitas dari penulis, tidak berhubungan dengan orang, lokasi, dan kejadian nyata. Semua nama dan gambaran karakter yang digunakan hanya dipinjam dan tidak mewakili pemilik di dunia nyata. Ide dan alur cerita seutuhnya milik penulis, tidak untuk ditulis ulang dan/atau disebarkan tanpa sepengetahuan penulis.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tepat pada pukul 12:30:00 sebuah pesawat mendarat. 

Semua penumpang turun dengan paras kebingungan sembari berjalan menuju terminal besar yang dipenuhi dengan lampu putih berkilau. Seorang pria dengan dengan rambut brunette berpikir apakah ia turun di terminal yang tepat. Pria itu melihat sekelilingnya seraya menelusuri terminal tersebut. Banyak penumpang bertemu dengan orang lain yang sudah menunggu. Mereka berpelukan seakan sudah tidak bertemu sekian abad. Dia menebak keluarga, atau mungkin kekasih. Beberapa orang terlihat menangis namun semuanya tersenyum. 

Penumpang yang tidak memiliki orang yang menyambut mereka terlihat kebingungan dan mencari sekeliling, sebelum akhirnya mereka mengangkat bahu seperti menyerah dalam mencari. Mereka memutuskan untuk duduk di salah satu deretan kursi alumunium panjang untuk mendengarkan lagu, membaca buku, mencoba menelepon atau hanya menatap ke kejauhan untuk menghabiskan waktu. 

Terdapat satu penumpang dari penerbangan yang sama, seorang anak kecil yang terlihat terlalu muda untuk berpergian sendiri. Ia mencoba untuk memanjat gerbang tempat ia turun untuk kembali ke pesawat. Dua penjaga tinggi berseragam yang berdiri di depan gerbang menahan anak kecil itu dengan lembut. 

Dari kejauhan pun terdengar salah satu dari penjaga tinggi itu berkata, 

“Kamu tidak bisa kembali.”

Seorang pria dengan mantel panjang yang sedari tadi duduk sendirian di kursi alumunium telah melihat semuanya sebelumnya, namun ia tidak keberatan menunggu.

Nyatanya, dia cukup handal dalam hal itu. 

Pada terminal itu tepatnya terdapat 614 kursi berbahan alumunium yang tersusun rapih membentuk baris, 1992 ubin granit berwarna hitam dan putih yang dipasang menyilang seakan terminal ini merupakan papan permainan catur yang sangat besar. Pesawat mendarat setiap jam 12, menit 30, dan detik 00. Pria itu memiliki cukup waktu untuk menghitung dan mengingat segala hal kecil yang terjadi pada terminal tempat ia menunggu.

Setiap hari ia selalu membaca koran yang sama. Namun, selama 5 tahun, selalu ada cerita berbeda tentang seseorang yang tidak ia kenali di halaman depan. Terkadang cerita-cerita itu menjadi satu topik utama dalam pikirannya, mengapa wanita ini meninggalkan anaknya? Apakah seorang astronot bisa mencuci rambut mereka di luar angkasa? Atau bahkan sampai sebuah pertanyaan sepele yang kerap kali dilupakan orang seperti, apakah mereka menikmati hidupnya?

Tepat pada pukul 12:30:00 sebuah pesawat mendarat. 

Pria itu masih asik menggeluti pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah membaca cerita baru di halaman depan. Suara penyiar pengumuman dari pengeras suara terminal menutupi suara langkah kaki yang mendekatinya. Ekor mata pria itu menangkap sepasang sepatu sneakers yang sangat familiar. 

“Chanyeol.” 

Mendengar namanya dipanggil, pria bernama Chanyeol itu pun mendongakkan kepalanya dari koran yang sedang ia baca. Chanyeol melihat seorang laki-laki berparas kecil yang sedang tersenyum lebar berdiri di depannya. 

“Apa aku mengenalmu?” Chanyeol menggigit bibir bawahnya menahan tawa setelah membalas panggilan pria itu. 

Klasik, Chanyeol dan kebiasaan menggodanya yang tak pernah luntur. 

“Baekhyun, just in case you ever foolishly forget ,” kekehan pelan terdengar dari kedua pria itu.

Chanyeol bergeser sedikit ke kanan untuk memberikan ruang kosong di kursi alumunium panjang itu. 

Seperti bergerak secara otomatis, Chanyeol melepas mantel yang ia gunakan dan melipatnya untuk membuat sebuah bantalan di kursi sebelah. Kebiasaan lain yang selalu dilakukan untuk membuat Baekhyun nyaman duduk di sampingnya. Kebiasaan ini telah ia lakukan secara terus-menerus hingga saat ini. 

Baekhyun memainkan jemari indahnya sembari berpikir untuk memulai pembicaraan. 

Terlalu banyak hal yang ingin ia sampaikan, namun kadang rasa takut menghantuinya jika ia berbicara terlalu banyak maka pria di sampingnya akan menghilang, lagi. 

But what’s there to lose

Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk berbicara tentang apapun.

“Kamu pernah menukar vas antik kesayangan ibumu dengan sepeda, lalu mengendarai sepeda itu selama dua jam untuk menemuiku.” Memori itu seakan seperti masih segar di dalam ingatan Chanyeol.

 

-oOo-

 

Libur musim panas di tahun 2005 merupakan satu memori yang tak terlupakan bagi kedua pria itu. 

Baekhyun berhasil lulus seleksi untuk mengikuti lomba di kota Seoul. Ajang menyanyi tahunan nasional yang hanya bisa diikuti oleh siswa sekolah menengah pertama dan Baekhyun merupakan salah satu pesertanya. 

Malam sebelum keberangkatan Baekhyun, ia bertemu dengan Chanyeol, kekasihnya di tempat rahasia pertemuan mereka; di bawah pohon oak tua yang rimbun jauh dari kerumunan manusia. 

Senang, marah, dan kecewa merupakan gambaran emosi Chanyeol pada saat itu. Senang karena Baekhyun mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lomba nasional, marah karena ia tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar transportasi ke kota, dan kecewa kepada dirinya karena ia tidak bisa menonton dan memberikan dukungan secara langsung untuk kekasihnya.

Setiap manusia pasti memiliki masa dimana mereka menjadi satu pribadi yang pemberontak. Chanyeol pada masa itu terkenal dengan status anak keras kepala yang sering memberontak ucapan ibunya. Masa itu tidak berlangsung lama, mungkin dua tahun. 

Namun masa inilah yang membuat mengapa memori musim panas 2005 akan selalu ia kenang. 

Pagi dimana Baekhyun berangkat menuju Seoul, Chanyeol tidak mendapatkan izin maupun sepeser uang dari kedua orang tuanya. Namun demi mempertahankan status anak keras kepala, Chanyeol tidak kehabisan akal untuk mencuri vas bunga antik milik ibunya untuk ditukarkan dengan sepeda bekas. 

Siang itu di bawah teriknya sinar matahari musim panas, Chanyeol mengayuh pedal sepedanya sembari sesekali melihat jam tangan. Rasa lelah tidak membuatnya berhenti, dia bertekad untuk sampai di Seoul sebelum kekasihnya tampil. Setelah dua jam Chanyeol sampai di perlombaan itu tepat sebelum Baekhyun naik ke atas panggung.

Bukankah itu lucu bagaimana kehadiran seseorang memicu serpihan memori yang telah ia kubur jauh di ingatan demi meredam kesepiannya selama ini?

Chanyeol masih bisa merasakan jelas betapa teriknya matahari kala itu, indahnya alunan musik yang mengiringi suara merdu sang kekasih, atau sakitnya sandal karet milik ibunya yang terlempar tepat di kepalanya, keesokan hari setelah ibu Park sadar salah satu vas antik koleksinya hilang. 

Well, he deserved it anyway

In my defense , aku tidak memiliki banyak uang saat sekolah menegah pertama.”

Mereka berdua tertawa lepas mengingat kejenakaan Chanyeol dan masa pemberontakannya di sekolah. Tawa mereka menarik perhatian penumpang lain untuk sekedar melihat dan memberikan tatapan menghakimi. Menyadari hal itu tawa lepas mereka berubah menjadi kekehan kecil. Namun Chanyeol tidak berhenti untuk menceritakan memori nya semasa sekolah dan bagaimana ia selalu berhasil mencuri buah persik milik teacher Zhang yang diberikan secara diam-diam oleh sahabatnya Kris di loker guru. 

I think we ran a small café together . Aku ingat nama jalannya, si keluarga Oh tetangga kita dan anak-anak mereka yang selalu membawa kartu nama ayahnya.”

 

-oOo-

 

Jika harus memilih satu memori dari beberapa yang bisa Chanyeol ingat, ‘ Happiness Delight ’ merupakan memori yang akan ia pilih. 

Café itu berdiri tiga tahun setelah mereka mengucap sumpah sakral sehidup semati. Saat itu Baekhyun masih menjadi seorang trainee di satu agensi yang sangat terkenal. Baekhyun belum dapat membantu secara finansial demi kelangsungan hidup mereka. Sebagai satu-satunya orang yang menjadi tulang punggung keluarga kecil ini, Chanyeol bekerja dengan keringat, tangis dan darah demi berdirinya Happiness Delight .

Ada waktu dimana Baekhyun merasa bersalah setiap melihat suaminya pulang setelah bekerja berjam-jam. Tatap matanya terlihat lelah namun ia selalu tersenyum. Setiap malam, Baekhyun selalu menunggunya di meja makan dengan setangkup sandwich atau semangkuk ramen instant kesukaan sang suami. Di ruang tengah dengan cahaya yang redup, Baekhyun tidak pernah lupa untuk menanyakan bagaimana hari nya. Ia selalu mendengarkan keluh kesah suaminya tentang pekerjaan di hari itu. 

Chanyeol paham bagaimana Baekhyun merasa bersalah untuk mengambil keputusan sebagai seorang trainee, sehingga ia tidak pernah lupa untuk mengingatkan Baekhyun,  

“Aku telah berjanji untuk terus berada di sampingmu, for better and for worse, in good times and in bad, in sickness and health . Aku akan terus mendukung mimpimu sampai saat terakhirku nanti. I love you till death- no, I will love you even in my death .” 

Kadang setelah Chanyeol tertidur pulas, Baekhyun tidak dapat menahan air matanya. Saat jam menunjukan tengah malam, Baekhyun membiarkan dirinya tenggelam dalam renungan tentang betapa beruntungnya ia memiliki Chanyeol dalam hidupnya.

Songnidan-Gil Blok 27 tepat di sebelah condominium atas kepemilikan keluarga Oh, terdapat toko permen yang sudah lama tidak beroperasi. Dari informasi yang Chanyeol dapat, toko permen ini dulunya adalah milik sepasang suami istri yang juga tinggal di lantai dua toko tersebut. Toko itu berdiri pada tahun 1992 berdasar dari hobi sang istri untuk membuat permen dan menjualnya. Orang-orang yang sedari kecil tinggal di daerah itu tidak akan pernah melupakan manisnya kenangan yang mereka miliki dengan toko permen itu.

“Bagaimana pendapatmu tentang tempat ini?” 

Seorang lelaki dengan jas rapi membuka pembicaraan, membuyarkan Chanyeol dari lamunannya.

“Aku suka tempat ini…” Chanyeol berhenti berbicara sejenak saat irisnya menangkap figur pada foto tua yang masih tertempel di dinding, terlihat sepasang kekasih paruh baya berdiri di depan toko ini dengan senyuman lebar. 

Chanyeol mengalihkan fokusnya kembali ke lelaki itu dan melanjutkan, 

“Apa yang terjadi kepada mereka Sehun?” 

“Setelah sepuluh tahun tempat ini berdiri, bibi Kim tiba-tiba meninggal dalam tidurnya. No sickness, No pain . Mungkin karena sudah berumur, tidak ada yang tahu pasti tentang itu. Paman Kim akhirnya menutup toko ini dan menjualnya ke orang tuaku. Anyway , ini kartu namaku. Jika kamu membutuhkan bantuan, aku tinggal di sebelah. It’s nice to do business with you , Chanyeol.”

Sebelum ia kembali ke kediaman lamanya, Chanyeol menghabiskan beberapa menit waktunya untuk sekali lagi mengitari toko permen itu setelah Sehun memberikan kunci menandakan kepemilikan yang sudah dipindah tangan. Setelah mendengarkan sejarah dari toko ini, terbesit di pikiran Chanyeol,

How could a sad love story happened within such a happy place?

 

“Aku berpikir… Mungkin hitam untuk Industial atau Warehouse ?”

 “No, Chanyeol. Seperti yang ku bilang sebelumnya. Putih untuk Modern Minimalist .” 

Penjaga toko cat itu hanya bisa menggelengkan kepala sembari mendengar pertengkaran pasangan ini. Tidak hanya di luar rumah, pertengkaran kecil ini sering terjadi semenjak Baekhyun dan Chanyeol pindah ke lantai dua toko permen itu. Mulai dari tema café, warna kursi, meja, tembok, hingga hal kecil seperti tanaman apa yang akan mereka taruh di sebelah pintu. 

Baekhyun selalu memenangkan pertengkaran itu. Mereka selalu berakhir dengan membeli apa yang Baekhyun sarankan. Namun, satu hal yang tidak ia menangkan adalah pada saat pemilihan nama café ini. “ Happiness Delight ” muncul dari dari tekad Chanyeol untuk mengubah tempat ini menjadi satu tempat pelarian yang menyenangkan bagi para tamunya. Ia ingin menyediakan ruang untuk orang-orang agar merasa aman dan bahagia. 

Musim semi itu , Happiness Delight resmi dibuka. Chanyeol menemukan hal-hal baru yang menjadi kebiasaannya seperti bangun dua jam lebih cepat untuk menggiling biji kopi, memanaskan coffee maker , merapikan tatanan kue yang akan dijual untuk hari itu atau sekedar memperhatikan suaminya yang sedang membersihkan meja, dari balik kasir sembari menyesap cangkir kopi pertamanya pada hari itu. 

 

Banyak cerita manis tentang café ini. 

Cerita tentang si kembar Oh Jinseol dan Oh Janhae yang selalu singgah sepulang sekolah untuk sekedar mewarnai buku gambar mereka. Chanyeol sering memanfaatkan dua malaikat kecil ini untuk membantunya menulis pesanan pengunjung yang datang dengan bayaran secangkir cokelat panas. Sebagai anak kembar yang sedikit lebih pintar, Jinseol sering merajuk kepada Chanyeol untuk menambah bayarannya dengan kukis cokelat. Terkadang Jinseol mengancam akan memberitahu ayahnya untuk menuntut Chanyeol jika keinginannya tidak terpenuhi. Di penghujung hari, Jinseol selalu mendapatkan kukis hangat yang ia inginkan dan Chanyeol menjadi korban utama omelan Oh Junmyeon saat melihat si kembar menjadi hiperaktif akibat terlalu banyak mengkonsumsi gula,

Namun itu bukan salah Chanyeol, who woulnd’t be afraid when Oh Sehun is one hell of a lawyer

Cerita tentang seseorang yang selalu Baekhyun panggil, ‘ The Nerd Kid ’. Chanyeol ingat akan pengunjung yang selalu datang ke kafenya. Salah satunya adalah Do Kyungsoo. Kyungsoo merupakan siswa yang bersekolah di Sekolah Menengah Atas Suwon yang berada di ujung jalan Songnidan. Setiap hari Selasa dan Kamis ia selalu datang lengkap dengan seragam, tas ransel hitam dan kacamata tebalnya. Sepulang sekolah Kyungsoo pasti akan datang dan memesan secangkir iced Americano . Selang beberapa jam, Kyungsoo akan kembali ke kasir dan memesan iced latte dengan tambahan gula. 

Awalnya Chanyeol tidak merasa ada yang aneh akan hal ini sampai beberapa bulan kemudian setiap Kyungsoo datang, Chanyeol selalu menemukan segelas iced latte yang masih terisi penuh di meja tempat Kyungsoo duduk. Ia sadar bahwa gelas kedua pesanan Kyungsoo bukanlah untuk dirinya sendiri. Di pertengahan Januari, beberapa menit setelah Chanyeol mengantarkan iced latte pesanan Kyungsoo, datang seorang remaja dengan jersey basket yang bertuliskan angka 88 di pungung nya. Malam itu saat café sudah tutup, Chanyeol menemukan dua gelas kosong di meja Kyungsoo. 

Cerita tentang paman Kim, pemilik toko permen, yang selalu datang di akhir pekan setelah menyambangi makam istrinya. Kedatangan pertama paman Kim ke Happiness Delight membuat Chanyeol sedikit terkejut. 

Orang yang selama ini hanya ia lihat di foto, berdiri di depannya dengan tongkat penompa badan dan wajah yang terlihat 20 tahun lebih tua. Sebagai orang yang paling tua di lingkungannya, Paman Kim menjadi salah satu orang yang dicari saat mereka membutuhkan nasihat. Bahkan seorang dokter seperti Junmyeon, mendatangi Paman Kim untuk menanyakan cara mengelak pernyataan suaminya yang merupakan seorang pengacara. Terkadang di sela sesi curahan hati Junmyeon kepada Paman Kim, Chanyeol dapat mendengar sumpah serapah Junmyeon kepada Oh Sehun.

Bahkan Jinseol dan Janhae pun menyukai Paman Kim. Lelaki tua itu tidak pernah lupa untuk menceritakan dongeng kepada si kembar sebelum ia pulang. Ada satu fabel yang berulangkali diceritakan oleh paman Kim dimana seekor anak serigala yang jatuh dari tebing dan terpisah dari kawanannya. Anak serigala itu bertemu dengan seekor anak kambing yang menolongnya kembali memanjat tebing, namun setelah sampai di atas kawanan serigala itu hampir menerkam si kambing. Anak serigala memohon kawanannya untuk tidak memakan anak kambing itu dan membiarkan ia bebas. Setelah berpisah, setiap malam anak serigala itu selalu melolong ke arah bulan, dengan harapan bulan dapat menyampaikan rasa terima kasihnya terhadap anak kambing yang menolongnya saat itu.

 

-oOo-




Tepat pada pukul 12:30:00 sebuah pesawat mendarat. 

Keduanya tengah sibuk berdiam sebelum akhirnya Chanyeol bertanya, 

“Bagaimana penerbanganmu?”

It was good , ada sedikit turbulensi saat kita hampir mendarat, selebihnya baik-baik saja.” 

Ada perasaan familiar yang menggelitik perutnya saat Baekhyun bersender pada bahu lebar Chanyeol. Ia tahu itu tidak sehangat yang dulu tapi ia akan terbiasa dengan dinginnya. 

“Baekhyun, apa kamu menyelesaikan semua yang perlu kamu lakukan?” 

I supposed so. Standing on the stage was nice, hearing them cheer for me was the best feeling ever .” 

“Bagus kalau begitu.” 

Kedua pupil saling bertubrukan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman seolah berusaha meniru satu sama lain. Adegan ini terlihat seperti sebuah telenovela romansa dimana kedua lakon utama akan menghapuskan jarak antara kedua bibir mereka. Waktu seketika berhenti, semua suara dalam ruangan pun terselimuti oleh alunan lagu cinta. Namun kali ini, yang terdengar hanyalah suara pengumuman tentang pesawat yang baru saja mendarat saat bibir mereka bertemu.

 

-oOo-

 

Lahir dan tinggal dalam keluarga konglomerat membuat Baekhyun merasa bahwa itu semua adalah kutukan. Kelarga Byun selalu mengharapkan anak Byun yang paling muda untuk menjadi seorang dokter. Namun di tengah kesibukan klub matematika dan tutor yang sangat intens, Baekhyun menemukan pelarian dengan menyanyi. Tentu kedua orang tua nya tidak pernah menyetujui visi karirnya untuk bernyanyi. 

Baekhyun pernah hampir menyerah untuk menggapai cita-citanya sebagai penyanyi, setidaknya sampai ia bertemu dengan Chanyeol. Si Park yang berjiwa optimis dan keras kepala, siapa sangka ia menjadi orang yang paling mendukung mimpinya. 

Mungkin itu awal bagaimana Baekhyun jatuh cinta. 

Keyakinannya untuk menjadi seorang penyanyi semakin matang setelah ia memenangkan lomba pertama tingkat nasional yang ia ikuti tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Namun hal itu tidak berlangsung lama sampai beritanya terdengar oleh orangtua Byun. 

“Pilih satu, a doctor or a disgrace to our family .” Itu adalah kata-kata ayah Byun yang paling ia ingat hingga saat ini. 

Situasi di keluarga Byun semakin memburuk ketika Baekhyun tertangkap basah sedang berkencan dengan Chanyeol di malam kelulusan mereka. Kedua belah pihak keluarga tidak bisa menerima hubungan yang mereka miliki. 

So they ran away .

Untuk beberapa saat, Baekhyun merasa hidupnya seperti di cerita dongeng. Tinggal bersama lelaki yang ia cintai, tidak ada tekanan dari keluarga, dan hal paling ia sukai adalah saat Baekhyun dapat menyanyi dengan bebas di ruangan kecil yang mereka sewa bersama. Namun hal itu tidak berlangsung lama, no love can pay your bills .  Untuk mengambil langkah besar dengan hidup bersama tidak pernah mudah untuk anak yang baru lulus dari sekolah. Terlebih lagi tanpa adanya dukungan secara finansial dari keluarga.

They’re stuck in a loop of working part time at night, chasing their dreams, and paying rent.

Hari itu, Baekhyun mendapat e-mail bahwa ia di terima menjadi trainee di salah satu agensi talent ternama. Chanyeol dan Baekhyun mengerti akan konsekuensi dalam mengambil keputusan untuk menjadi trainee. Chanyeol harus merelakan impiannya menjadi seorang gitaris. Ia selalu menyukai gitar, menjadi gitaris merupakan impiannya sejak kecil. Namun, menjadi seorang gitaris tidak menghasilkan banyak uang. Sehingga Chanyeol menetapkan untuk mengambil tiga pekerjaan paruh waktu selagi Baekhyun mengejar mimpinya sebagai penyanyi.

Menjadi seorang trainee tidaklah mudah, ia harus berlatih vokal dan menari setiap hari. Ia harus selalu menjaga penampilan serta perilakunya demi menjadi trainee terbaik di antara yang lain. Kompetisi ketat, pengkhianatan dan kelicikan adalah hal-hal lumrah yang terjadi dalam kompetisi antar trainee. 

Selama beberapa tahun, living as a trainee feels like a survival for the fittest . Bagi Baekhyun itu cukup melelahkan tapi Chanyeol selalu menjadi secercah harapan untuk terus berusaha dalam meraih mimpinya. 

Setelah genap enam tahun Baekhyun menjadi seorang trainee, ia mendapatkan kabar bahwa agensi sepakat untuk mendebutkan Baekhyun sebagai seorang solois. Baekhyun seperti berada di atas awan saat mendengar kabar itu, ia berpikir untuk pertama kalinya alam semesta berpihak kepadanya. 

Dugaan Baekhyun salah, beberapa minggu setelah pengumuman itu Chanyeol jatuh sakit. 

Menjadi seorang dokter, Junmyeon benci untuk menyampaikan suatu kabar buruk kepada pasien dan keluarganya. Terlebih lagi kali ini ia harus menyampaikan berita itu kepada teman dekat yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Saat itu Chanyeol masih terbaring tidak sadarkan diri di kasur rumah sakit dan pada waktu yang sama di lorong rumah sakit terdengar isak tangis Baekhyun yang sedang berlutut di hadapan Junmyeon memintanya untuk menyembuhkan suaminya. 

Baekhyun terpaksa menjual Hapiness Delight untuk menutupi biaya tagihan dari rumah sakit. Rutinitas Baekhyun menjadi berubah, sejak dini hari ia selalu berlatih di agensi untuk persiapan panggung debut nya, dan sepulang dari itu ia pergi ke rumah sakit untuk menemani Chanyeol bermalam. 

Semua orang tahu mereka terlambat untuk mendeteksi kanker itu, and that damned cell already spreading all over his organs

Hal itu terkadang membuat Chanyeol masuk pada stase koma yang tidak terprediksi.

Di malam sebelum Baekhyun debut, Chanyeol tersadar dari tidurnya. Tangannya berusaha mengelus surai coklat suaminya yang sedang terlelap berpaku tangan di samping kasurnya. Merasakan adanya pergerakan di sekitar nya, Baekhyun pun terbangun dan menangkap iris mata Chanyeol yang sedang menatapnya. 

“Baekhyun.”  

Suara baritone Chanyeol terdengar beberapa oktaf lebih rendah dari biasanya, hal ini mengirim sinyal aneh ke tubuh Baekhyun. Seperti tubuhnya dihembus angin sejuk kala musim panas. Mendengar suara Chanyeol membuatnya merasa lega. 

Chanyeol berdeham dan menggengam jemari Baekhyun dengan sekuat tenaga yang ia punya.

“Baekhyun.” 

Chanyeol memangil nama belahan jiwanya, sekali lagi, sebelum ia menarik nafas panjang dan memulai pembicaraan,

“Aku berhutang maaf padamu.” 

Lelaki yang sedaritadi duduk disampingnya pun mengerutkan kening mendengar pernyataan Chanyeol.

In this life we had given up so much and had lost too much. I’m sorry if our live was never a smooth sail. But Baekhyun, I promised you that you will meet me by the plane that never made it past the thunderstorm. I will wait for you and everything will shine bright like the sun. by then, we will have nothing left to lose

Siang itu Baekhyun terkejut melihat banyaknya orang yang datang ke acara musik untuk mendukungnya. Ini adalah mimpinya sejak dulu, untuk berdiri di atas panggung di bawah sinar lampu studio dengan sorakan penuh semangat dari penggemarnya. It’s like a jolt of electricity run through his body saat mendengar penonton ikut menyanyikan lagunya. 

Sebelum alunan outro dari lagu Baekhyun berhenti, saat itu juga alat elektrokardiograf Chanyeol berubah menjadi statis.




-oOo-

 

Tepat pada pukul 12:30:00 sebuah pesawat mendarat. 

Baekhyun mengenggam erat tangan Chanyeol seraya mereka berjalan menyusuri lorong terminal menuju ke sebuah gerbang di ujung yang bertanda “EXIT”. 

Mereka tidak sengaja mendengar obrolan seorang anak bersama ibunya yang sedang menunggu di pinggir lorong. 

“Ibu, apa yang terjadi setelah kita berjalan melewati itu?”

 anak kecil itu bertanya sembari menunjuk gerbang tersebut.

“Saat mereka berjalan melewati gerbang itu, they will turn into millions of pretty butterfly. They might be out of your reach but the history of their love, happiness, and pain stays in the memories of those who remember them.

Keduanya tersenyum dan saling bertukar pandang sebelum secara bersamaan menapakan kaki melewati batas terminal dan menuju keabadian. 

 

THE END

Notes:

hi everyone, you have Arrived at the end of the story! This is my first time joining a ficfest and writing in Bahasa Indonesia. I hope you enjoyed reading the whole story and i hope I *sucsessfully* convey the feelings they have for each other hehe. Lastly, I would also like to thank my beta reader who’s been nothing but helpful throughout the whole writing process. I love you guys <3