Work Text:
Suasana berkabung hari itu sangat terasa di udara. Seolah langit ikut merasakan kesedihan mereka yang ditinggalkan, rintikan hujan terus berjatuhan membasahi bumi. Suara tangisan saling bersahutan, menumpahkan kesedihan yang tidak bisa terbendung. Menangisi takdir yang tega merenggut sang terkasih.
Diantara lautan kesedihan, Pria cantik itu hanya menatap kosong lauatan biru di depannya dimana abu orang yang dia cintai di hanyutkan, sesuai dengan permintaan terakhir suaminya.
Rona kehidupan seolah hilang dari raut wajahnya, merasa dunianya runtuh ketika sore itu suaminya meninggalkan dirinya untuk selamanya karena penyakit yang dia derita setelah hampir setengah tahun suaminya berjuang.
'Aku janji kita akan bersama lagi. Berjanjilah untuk selalu menungguku, hmm?'
Adalah kata-kata terakhir suaminya sebelum suara EKG berbunyi nyaring tak lama setelah suaminya meminta izin untuk tidur sambil memeluknya.
Keadaan ini menampar dirinya sekaligus membawanya jatuh dalam lubang kesedihan tak berujung. Suara orang-orang disekitarnya tidak dapat dia dengar ketika bibirnya menangis pilu mengatahui apa yang terjadi.
Dengan tangisan pilu yang tak henti keluar dari bibir mungilnya ketika pria cantik itu mencoba menggapai tubuh suami nya yang kaku ketika para perawat membawanya menjauh dari jangkauannya.
Semuanya terjadi begitu cepat seolah takdir tidak ingin melihat dirinya bahagia bersama seseorang yang dia cintai.
"Baek.."
Netra bulan sabit itu melirik kearah tangan yang berada di pundaknya, lekas mengalihkan pandangannya ketika tahu siapa pemilik tangan tersebut.
"Ayo kita pulang, nak. Hujannya semakin deras."
Kerabat yang datang bersama mereka mulai meninggalkan tempat dimana mereka menghayutkan jiwa suaminya untuk berkelana menuju keabadian.
Baekhyun bergeming hanya menatap lautan biru sejauh mata memandang. Baekhyun bisa mendengar helaan napas dari wanita paruh baya disampingnya. Kehenigan sempat menyelimuti mereka dengan segala pemikiran yang berkecamuk, ketika suara Ibunya kembali terdengar.
"Kau ingin Chanyeol bahagia di sana, kan?"
Wanita cantik itu mencoba menguatkan pertahanan dirinya saat melihat iris bulan sabit putranya yang selalu memancarkan kemilau indah, sekarang hanya seperti cangkang tak berisi. Gelap, kosong.
Seolah jiwa raganya runtuh bersamaan rintik hujan yang mengguyur keduanya.
"A-apa Chanyeol akan bahagia disana?"
"T-tentu."
"K-kalau begitu biarkan aku pergi bersama chanyeol!"
Wanita paruh baya itu tersenyum manis melihat kilauan itu kembali walaupun samar di kedua netra sang putra. Ketika apa yang selanjutnya Baekhyun ucapkan membuat senyuman manis itu hilang.
"B-baek.. Apa yang kau—"
"Ibu, aku akan menyusul Chanyeol. Aku ingin menemani Chanyeol di sana, bu. A-aku– Chanyeol pasti akan lebih bahagia jika bersamaku. Kan, bu?"
"Baek! Baekhyun!"
Pertahanan wanita itu runtuh melihat betapa hancurnya sang putra. Hatinya seperti di remas oleh tangan tak kasat mata bagaimana Baekhyun berlutut di depannya dengan wajahnya berurai air mata, tangisan tersedunya terdengar, mengalahkan suara rintik hujan yang berjatuhan.
"Ibu, aku tidak bisa hidup tanpa Chanyeol. Biarkan aku pergi, bu. Aku janji ini terakhir kalinya aku meminta kepada ibu."
"Hanya biarkan aku pergi."
Nyonya Byun dengan segera memeluk putra semata wayang nya ketika pria itu menangis tersedu. Air matanya yang dia coba tahan sedari tadi, berjatuhan tanpa bisa wanita itu cegah.
"Baekhyun! Dengar Ibu!"
Isakan menyedihkan berasal dari bibir mungil putra nya membuat dirinya tersayat. Seumur hidupnya mengenal Baekhyun, tidak pernah sekalipun dirinya melihat Baekyun sehancur ini.
Kedua tangan hangat wanita itu terjulur, mengusap lembut tetesan air mata di sekitar pipi putranya yang bercampur air hujan. Menatap lembut netra yang persis seperti dirinya.
"Baekhyun, ini sangat menyakitkan bagimu, Ibu tahu. Tapi, apa dengan kau seperti ini Chanyeol akan tenang di sana?"
Tak ada suara yang keluar dari bibir Baekhyun, pria cantik itu hanya menatap wanita yang sudah melahirkannya dengan raut tak terbaca.
"Cobalah untuk menguatkan dirimu walau sulit. Setidaknya demi Chanyeol."
Tangisan itu kembali terdengar ketika nama suami nya terucap oleh Ibunya. Kedua tangannya semakin memeluk Ibunya erat mencoba menumpahkan segala kesakitan dan kesedihan yang dia rasakan.
“T-tapi aku ingin Chanyeol, bu. A-aku ingin bersama Chanyeol. Aku-”
Baekhyun tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, ketika pandangan matanya berubah gelap dan teriakan Ibunya memanggil namanya samar terdengar.
🍁
Waktu berlalu sangat cepat, bak hanya dalam satu kedipan mata lima tahun berlalu sejak di mana suaminya pergi.
Tidak ada yang berubah banyak, semunya masih terasa menyakitkan ketika setiap membuka mata, Baekhyun diingatkan kembali oleh kenyataan bahwa Chanyeol tidak ada di sisinya.
Mata bulan sabit itu menatap langit-langit kamar tempat dia menghabiskan masa remaja nya dulu. Mengingat lima tahun lalu, Ibunya meminta dia untuk tinggal bersama wanita paruh baya itu. Ibunya berdalih jika dia ingin Baekhyun lepas dari bayang-bayang Chanyeol di apartement tempat mereka dulu tinggal.
Walaupun Baekhyun tahu alasan sebenarnya bukan itu. Baekhyun tahu Ibunya khawatir terhadap dirinya akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
Getaran yang berasal dari telepon genggamnya menyadarkan Baekhyun dari lamunan. Melirik sedikit ke arah layar ponselnya yang menunjukkan waktu tepat di angka tujuh.
Tubuh mungilnya beranjak dari tempat tidur sebelum melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi. Tidak menghabiskan banyak waktu, Baekhyun sudah bersiap dan bergegas menuruni tangga untuk membantu Ibunya menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, Bu."
"Pagi, nak. Apa tidurmu nyenyak?"
Baekhyun yang mendapat pertanyaan itu hanya mengangguk sambil mencium pipi Ibunya. Kedua tangannya bersiap membantu Ibunya, ketika suara wanita paruh baya itu menginterupsi kegiatan Baekhyun.
"Oh, tidak usah, Baek. Kau duduk saja."
"Tapi, Bu—"
"Tidak apa. Lagian Ibu tidak memasak banyak kali ini."
Baekhyun yang tahu bagaimana sifat Ibunya, hanya menghela napas. Lalu tanpa suara membawa tubuhnya ke arah meja makan kecil di dapur mereka.
Mata sabitnya mengamati bagaimana Ibunya bergerak kesana kemari menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Tanpa Baekhyun bisa cegah, alam bawah sadarnya membawa memorinya ke waktu dimana Chanyeol lah yang membuatkan dirinya sarapan. Sedangkan dirinya hanya melihat suaminya dengan bergelayut manja di lengan Chanyeol.
"Baek.."
Pria mungil itu tersentak dari lamunan saat mendengar suara Ibunya. Baekhyun menatap Ibunya dengan bingung melihat raut khawatir bercampur sedih dari sang Ibu.
"Kau menangis."
Ah.
Jemari lentik itu mengusap cepat pipinya yang basah. Lagi, tanpa dia sadari air mata itu akan jatuh setiap kali dirinya mengingat Chanyeol.
Membuktikan dengan jelas, bahkan setelah lima tahun berlalu sekalipun, Baekhyun belum bisa berdamai dengan kenyataan.
Kenyataan dimana Chanyeol sudah pergi meninggalkannya.
Tidak ada yang berbicara setelah itu. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil mencoba menghabiskan sarapan mereka.
Sejak lima tahun lalu, Baekhyun berusaha menyembunyikan kehancurannya dengan menangis diam-diam agar Ibunya tidak perlu khawatir. Ini pertama kalinya setelah terakhir kali Baekhyun tidak bisa mengontrol emosinya dan berakhir menangis di hadapan sang Ibu.
Pria mungil itu tersentak dari lamunan ketika mendengar dentingan alat makan yang diletakkan diatas piring serta helaan napas Ibunya. Bahkan tanpa mengangkat kepalanya, Baekhyun bisa merasakan tatapan khawatir yang Ibunya lempar sesekali ke arahnya.
"Baek, apa kau akan ke sana?"
Baekhyun tahu maksud pernyataan dari wanita yang sudah melahirkannya itu. Yang ditanya menganggukkan kepalanya pelan, mengiyakan pertanyaan Ibunya.
"Mau sampai kapan kau terus seperti ini?"
Baekhyun yang sempat ingin beranjak dan membereskan bekas perlatan makannya terhenti. Menatap Ibunya tidak mengerti.
"Mau sampai kapan kau akan terus berharap Chanyeol akan kembali jika kau pergi ke sana tiap hari?"
"Ibu—"
Suara Baekhyun tercekat mendengar penuturan sang Ibu.
Keheningan menyelimuti kedua orang disana. Yang lebih tua diantara mereka menghela napas, tahu yang lebih muda tidak akan pernah mendengar perkataannya mengenai hal ini.
"Sudah saatnya kau menjalani hidupmu, Baek. Chanyeol akan sedih jika melihat kau seperti ini."
"A-apa Ibu menyuruhku melupakan Chanyeol?"
"Bukan maksud Ibu—"
"Dengan Ibu menyuruhku berhenti mengunjungi Chanyeol sama saja dengan Ibu menyuruhku melupakan Chanyeol!"
Baekhyun terengah-engah setelah mengucapkan kalimat itu, menahan air mata di pelupuk matanya yang siap tumpah lagi kapan saja setiap mereka membicarakan mendiang suaminya.
"Tidak ada yang bisa dirubah bahkan jika aku melakukan itu, bu. Tidak ada yang kembali. Maupun diriku atau Chanyeol, tidak ada yang kembali seperti sedia kala." Ucapnya sendu, iris bulan sabit itu menatap iris serupa dengannya milik sang Ibu dengan segala pesakitan yang dia rasakan selama ini.
Kata-kata telak Baekhyun itu membungkam wanita paruh baya di sana. Dia tidak mencegah Baekhyun ketika pria itu beranjak keluar dari rumah mereka. Nyonya Byun menatap miris punggung Baekhyun yang semakin menjauhi teras rumah dari jendela rumah mereka. Pria itu memang terlihat tegar walaupun terpuruk selama lima tahun setelah mengetahui suaminya diambil paksa darinya.
Tapi siapa yang Baekhyun coba bohongi? Semua orang tahu, sejak Chanyeol pergi meninggalkan mereka semua. Cahaya di kedua mata Baekhyun tidak ada lagi. Baekhyun hidup, tapi jiwanya sudah mati sejak saat itu.
Bohong jika Baekhyun berkata jika dia sudah melupakan Chanyeol, dan melanjutkan kehidupan seperti tidak terjadi apa-apa. Dia hanya mencoba untuk hidup, setidaknya sampai waktu membuatnya bertemu dengan Chanyeol.
Baekhyun tidak mau Chanyeol marah ketika mereka bertemu nanti dalam keadaan dirinya yang memaksa takdirnya. Chanyeol pasti akan membencinya jika dia melakukan itu.
Larut dalam lamunannya, pria itu tidak sadar bahwa lampu lalu lintas di jalan yang dia sebrangi berubah menjadi warna merah. Dia baru tersadar ketika orang-orang disekelilingnya berteriak meminta dia untuk beranjak dari tengah jalan. Seperti dipaku oleh pasak, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Menatap sebuah mobil yang sedang melaju kencang kearahnya, Baekhyun merasa dia sangat pasrah saat itu. Apapun yang akan menimpa dirinya merupakan apa yang sudah tertulis. Mungkin takdir berbaik hati mempercepat mempertemukan dirinya dengan mendiang suami nya.
Entah bagaimana alam semesta bekerja saat itu. Satu hal yang Baekhyun tahu, dirinya merasa ada dorongan kuat yang seolah membuatnya terhempas dalam lubang gelap tak berdasar. Semuanya terjadi sangat cepat, Baekhyun memejamkan matanya erat-erat. Tak dipungkiri, rasa ketakutan merasuki dirinya. Apalagi telinganya tidak mendengar suara apapun setelah itu, hanya keheningan yang dia rasakan.
Dengan dada berdegup kencang, pria mungil itu mencoba membuka kedua matanya. Ingin memastikan apa yang terjadi padanya setelah dia tertabrak mobil tadi. Apakah dia masih selamat atau tidak. Walaupun kemungkinan dirinya tidak selamat jauh lebih besar.
Langit-langit kamar adalah hal pertama yang tertangkap oleh netranya.
Ah! Jadi dia masih diberi kesempatan hidup dan sekarang berada di rumah sakit, pikirnya.
Anehnya, Baekhyun merasa dirinya terbaring di atas sesuatu yang empuk dan nyaman, tidak seperti ranjang rumah sakit. Bahkan saat seharusnya dia merasakan sakit luar biasa–Dia baru saja tertabrak mobil, kan?–dia tidak merasakan kesakitan itu.
Netra sipitnya mengerjap sesekali dan mencoba memperhatikan sekelilingnya lebih baik. Baekhyun yakin dirinya berada di rumah sakit, tapi tidak ada satupun petunjuk yang menunjukkan sebuah kamar di rumah sakit. Malah lebih terlihat seperti sebuah kamar pribadinya dulu—
Seketika tubuh Baekhyun yang ditutupi selimut tebal bangkit ketika pemikiran itu datang di kepalanya. Matanya membelalak saat dia melihat lebih baik kamar yang sedang dia tempati sekarang.
Ini kamarnya dulu di apartemen yang dia tinggalkan. Mengapa sekarang dia bisa berada disini? Apa yang terjadi padanya?
Pria mungil itu tersentak dari lamunan ketika pintu kamar terbuka. Dia memaku tatapannya kearah pintu tersebut, mengira Ibunya yang akan muncul dari daun pintu berwarna coklat itu.
Tapi, seseorang yang muncul di sana semakin membuat Baekhyun membelakakan mata sipitnya denga tubuhnya yang sedikit bergetar melihat siapa yang muncul dari sana.
Di hadapannya Chanyeol berdiri nyata dan terlihat hidup. Akal rasionalnya mengatakan bahwa ini semua mimpi atau bahkan dirinya sudah berada di surga tempat dimana mendiang suaminya berada. Dia melihat keseliling lalu kearah Chanyeol yang masih melihat kearahnya dengan raut wajah khawatirnya.
“Baekhyun, kau sudah bangun? Apa kau bermimpi buruk?”
Mendengar suara berat yang sangat dia rindukan, pertahanan Baekhyun saat itu runtuh. Dengan segera menerjang tubuh jangkung suaminya dengan pelukan erat dan menangis tersedu di pundak tegap Chanyeol. Bibir mungilnya tanpa henti memantra kata jangan pergi lagi, aku mencintaimu kepada sang suami.
Chanyeol yang tidak tahu mengapa suami mungilnya menangis dan bersikap seperti ini sesaat suaminya bangun tidur hanya membalas pelukan suami cantiknya sama eratnya. Mengelus punggung suaminya menenangkan, memberitahu Baekhyun dia tidak akan pergi kemanapun dan dirinya sama mencintai pria mungil itu.
“C-chanyeol, i-ni benar dirimu, kan? A-apa aku berhasil menyusulmu?”
Tangan berjemari lentik itu terangkat, mengelus hati-hati wajah rupawan sang suami. Dengan tangan yang bergetar, jemari lentik itu mengelus pipi sang suami hati-hati. Takut jika dia terlalu kasar, suaminya akan menghilang lagi dari sisinya.
Chanyeol terkekeh mendengar penuturan aneh Baekhyun. Pikirnya suaminya itu pasti bermimpi buruk sampai berbicara melantur seperti ini.
“Apa yang kau bicarakan, Baek? Menyusul apa? Kau ada di rumah kita sayang."
Baekhyun hanya menatap bingung suami jangkungnya, bukankah dia tadi akan menyebrangi jalan ketika sebuah mobil menabrak dirinya lalu tiba-tiba dia di sini. Mengapa suaminya mengatakan seolah dirinya dan Chanyeol memang sudah berada di sini sejak tadi.
"A-apa maksudmu?"
"Ini kamar kita. Kau baru saja bangun dari tidurmu, sayang."
Tidak mungkin.
"Apa kau bermimpi buruk? Kau terlihat tidak baik-baik saja."
Baekhyun tidak menghiraukan perkataan Chanyeol, pria mungil itu hanya terpaku mengetahui apa yang baru saja dia lalui. Pria itu bahkan masih ingat dengan jelas bagaimana mobil itu menabraknya dan orang-orang berteriak dan hal tidak masuk akal itu terjadi.
Baekhyun hanya diam saja saat Chanyeol menggenggam tangannya dan membawanya keluar dari kamar itu. Chanyeol terus menggengam tangan mungil suaminya sesekali mengelus punggung tangan itu dengan Ibu jari.
Baekhyun baru sadar dari segala pemikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya ketika mereka berdua tiba di dapur yang sangat dia hapal. Suasanya masih terasa sama seperti terakhir kali dia ingat, hangat. Suami tingginya mendudukan tubuhnya di salah satu kursi disana. Chanyeol masih menggenggam tangan Baekhyun, karena pria mungil itu tidak mau melepas tautan tangan mereka.
"Sayang, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita. Kau tunggu disini ya."
Kemudian pria jangkung itu membubuhkan kecupan pada pucuk kepala Baekhyun sebelum beranjak menuju konter dapur.
Baekhyun masih mentap punggung lebar suaminya dengan perasaan membuncah, masih tidak menyangka hal ini benar-benar terjadi padanya. Entah keajaiban apa yang membuat Baekhyun berada di lini masa ini dan entah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Sesuatu dari dalam hatinya berkata, selama Chanyeol berada di sisinya, dia akan baik-baik saja. Dan pria mungil itu mencoba untuk meyakini dan berpegang teguh oleh hal itu,
Dia akan baik-baik saja.
Tempat ini, tempat yang dimana dalam setiap sudutnnya terdapat jejak cinta mereka. Dan Baekhyun merasa bahwa disini lah seharusnya dia berada, bersama Chanyeol.
Baekhyun rela menukar apa saja untuk dirinya bisa menikmati kebahagiaan ini lebih lama.
Chanyeol merasa Baekhyun hari ini berbeda dari hari biasanya. Baekhyun memang manja jika bersamanya, suami cantiknya selalu meminta pelukan atau bahkan mencuri kecupan manis di bibirnya.
Hari ini pun masih sama, hanya lebih intens dan suaminya bahkan tidak mau berjauhan barang sedikitpun darinya. Bukannya Chanyeol protes, pria jangkung itu malah dengan senang hati menerima sifat manja Baekhyun. Tapi tidak dapat dipungkiri ada yang berbeda dari Baekhyun.
Chanyeol bahkan mendapati Baekhyun melamun sambil menatapnya dalam. Entah apa yang suami mungilnya pikirkan, katakan Chanyeol terlalu peka. Dia bahkan bisa melihat iris cantik suaminya berkaca-kaca saat menatapnya.
Dia khawatir, tentu saja. Hanya Chanyeol tidak mau memaksa Baekhyun untuk bercerita jika bukan Baekhyun sendiri yang memulai. Dia akan menunggu sampai Baekhyun siap.
Kehidupannya berubah begitu saja setelah kejadian aneh itu. Baekhyun tidak mau mempertanyakan banyak hal tentang sebenarnya apa yang terjadi padanya. Fakta Chanyeol kembali disisinya saja sudah cukup membuat Baekhyun menutup mata. Dia akan mengganggap ini sebagai hadiah untuknya sebagai balasan atas kesedihan yang sudah dia lalui.
Pria mungil itu sangat menikmati setiap hal-hal yang dia lalui dan lakukan dalam kesehariannya bersama Chanyeol.
🍁
Kicauan burung menandakan lembaran baru dimulai. Iris cantik itu terbuka, tersenyum menyapa sinar matahari yang menelusup dari celah-celah jendela kamar. Tubuhnya dia balikan, lengannya menjulur merengkuh erat tubuh jangkung yang semalaman mendekapnya.
Perasaannya tergelitik mengetahui rutnitas baru yang beberapa hari ini akan dia lakukan pertama kali saat membuka mata setelah sekian lama. Pria mungil itu terlalu tenggelam memandamgi wajah tanpa suaminya ketika kedua iris almond itu terbuka dan menangkap basah apa yang dia lakukan.
Tidak membuang banyak waktu, pria jangkung itu membubuhkan kecupan pada bibir mungil suami manisnya lalu tersenyum manis melihat bagaimana Baekhyun membeku di tempatnya.
"Selamat pagi."
"Apa kau pura-pura tertidur?"
Pertanyaan itu hanya dibalas kekehan serak Chanyeol melihat wajah Baekhyun memerah dipagi hari merupakan sebuah pemandangan yang wajib dilihat.
"Aku tidak."
Baekhyun hanya mendengus mendengar jawaban dari suami tampannya. Lekas menyibak selimut dan beranjak menuju kamar mandi ketika lengan nya ditahan dan tubuhnya diangkat bridal style oleh Chanyeol.
"Yak! Turunkan aku!"
"Kau mau mandi kan? Kita mandi bersama."
"Apa— Yak, Park Chanyeol!"
Bibir mungil itu tanpa henti mengerucut menatap suami tingginya datar. Chanyeol yang dipandangi seperti itu oleh Baekhyun hanya terkekeh gemas sambil melanjutkan menyantap sarapan yang dia siapkan.
"Habiskan sarapanmu, sayang."
"Jangan bicara. Aku marah."
"Hmm, padahal aku mau mengajakmu ke suatu tempat."
Mendengar itu pria mungil yang sedari tadi merajuk merubah ekspresi wajahnya penasaran. Ah, sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka seperti ini. Berbincang saat sarapan, merencanakan kencan setiap minggunya. Baekhyun sangat merindukan melakukan hal itu dengan suaminya. Ini juga merupakan pertama kalinya, suami tampannya mengajak dirinya pergi kesuatu tempat setelah dia berada disini. Suaminya sibuk dengan pekerjaannya akhir-akhir ini dan Baekhyun tidak mau menganggu.
"Kita mau kemana?"
"Habiskan sarapanmu dulu."
Baekhyun tahu suami jangkungnya termasuk kategori yang akan membuatmu berbunga-bunga dengan segala tingkah laku manisnya. Tapi, sekalipun tidak pernah dia terpikirkan Chanyeol akan sejauh ini mempersiapkan semua ini.
"Apa— Kenapa kau melakukan ini?"
"Kau lupa sayang? Hari ini ulang tahun pernikahan kita. Aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari untuk ini."
Di depannya terdapat tenda yang menghadap pantai lengkap dengan segala kebutuhan yang di perlukan. Iris hazel itu berkaca-kaca memikirkan usaha Chanyeol untuk semua ini. Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk tubuh tinggi suaminya.
"Kenapa kau menangis? Apa kau tidak suka?"
"B-bodoh! Aku menangis karena aku suka sekali." Ucap Baekhyun tersendat-sendat, sedang Chanyeol hanya terkekeh geli sebagai jawaban atas tingkah gemas suami mungilnya.
Dengan perlahan pria jangkung itu melepas pelukan keduanya, menghapus jejak air mata yang menuruni wajah cantik Baekhyun. Setelahnya menarik pergelangan Baekhyun pelan dan mendudukkannya di dalam tenda yang menghadap ke laut.
Pemandangan didepannya sangat indah, air laut yang jernih dipadu padankan dengan langit biru yang indah, kombinasi yang sangat menawan. Suaminya dengan telaten menyiapakan bekal yang –tanpa Baekhyun sadari- sedari tadi dia bawa.
Sehabis menghabiskan makan siang sempurna buatan suami tampannya, Baekhyun beringsut memeluk Chanyeol dengan erat. Angin yang berhembus memberi ketenangan bagi keduanya. Meninggalkan perasaan hangat yang tidak terdefinisikan.
"Maaf aku lupa tentang hari ulang tahun pernikahan kita."
"Tidak apa sayang. Lagipula kau terlihat punya banyak hal yang dipikirkan. Mau berbagi denganku?"
Baekhyun tidak langsung menjawab, dia hanya menatap Chanyeol dalam, membuat Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah Baekhyun.
"Jangan tinggalkan aku, Yeol."
"Aku selalu berada di hatimu, Baek. Maka dari itu, mulailah hidup dengan baik
dan lupakan aku."
Baekhyun terpaku mendengar perkataan Chanyeol. Bola matanya bergerak tidak beraturan menatap iris almond di depannya. Berharap dia hanya salah dengar, berharap perkataan Chanyeol hanya bualan angannya semata.
"A-apa yang kau katakan—"
"Kau tahu aku sangat mencintaimu, Baek. Tapi seberapapun aku ingin kau tetap disini bersamaku, aku tidak bisa membiarkan itu.
Tempatmu bukan disini, Baek. Kau harus kembali."
Baekhyun menggelengkan kepalanya mendengar Chanyeol, pria itu melepaskan pelukan mereka sepenuhnya lalu beranjak berdiri, menatap tidak percaya pria jangkung dihadapan nya seolah pria itu makhluk asing.
"Baek—"
"Hentikan! Hentikan omong kosongmu itu! Aku tidak akan kemana-mana, aku akan berada disini bersamamu!"
Chanyeol tidak membuang waktu bergegas membawa Baekhyun kedalam pelukannya, tubuh mungil itu bergetar dengan tangisan yang terdengar memilukan.
"A-aku tidak mau pergi, Yeol. A-aku ingin bersamamu."
Baekhyun terus memantra kata-kata itu dalam tangisnya, membuat siapapun yang mendengarnya terenyuh, tak terkecuali pria jangkung di sana.
"Bukankah sudah kubilang, aku selalu berada disisi mu, didalam hatimu."
Pelukan itu dilepas oleh yang lebih tinggi, tangannya terulur menghapus jejak air mata yang kembali menuruni wajah cantik Baekhyun untuk alasan lain, setelahnya mengecup sayang dahi suaminya dalam. Chanyeol tatap lamat-lamat wajah cantik suaminya. Tak dapat dipungkiri, melepas Baekhyun merupakan hal yang sukar dia lakukan.
Tapi, Baekhyun harus pergi. Tempatnya bukan disini.
"Tolong selalu ingat aku sangat mencintaimu, Baek. Maaf aku belum menjadi sosok suami yang sempurna untukmu."
Pria mungil itu menggelengkan kepalanya, air matanya kembali jatuh saat tubuh suaminya samar-samar berubah menjadi transparan di hadapannya.
"Tidak, tidak. Hentikan itu, hentikan! Jangan pergi!"
"Jangan menangis lagi, kau lebih terlihat cantik saat tersenyum. Hiduplah dengan baik, Baek. Cari kebahagiaanmu."
"Cukup Chanyeol! Jangan katakatan apapun!"
"Sampaikan salamku untuk Ibu."
Aku mencintaimu.
"CHANYEOL!"
Tangan mungil itu berusaha menggapai tubuh Chanyeol yang perlahan menghilang setelah kata-kata terakhir terucap. Pria mungil itu menangis tersedu hingga tubuhnya membungkuk dalam di sana.
Tiba-tiba pria mungil merasa tanah yang dia pijak berputar di sekelilingnya. Baekhyun tidak tahu apa yang sedang terjadi lagi padanya ketika pandangannya menggelap.
Kedua mata itu terbuka perlahan, sesekali berkedip menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina. Matanya dia arahkan ke langit-langit kamar yang berwarna putih lalu dia alihkan ketika samar-samar dia melihat wajah khawatir seseorang wanita, Ibunya?
"Baek? Baekhyun? Kau sudah sadar, nak? Ya Tuhan, kau sudah sadar. Sebentar Ibu panggilkan dokter."
Wanita paruh baya itu dengan terburu memencet tombol yang ada di sisi ranjang Baekhyun untuk memberitahukan putranya sudah sadar dari koma karena kecelakaan dua hari lalu yang menimpanya.
"C-cha-n..y-yo-l"
"Iya Baek? Kau mengatakan sesuatu?"
"C-cha-n-y-ol"
"S-sebaiknya jangan memaksakan dirimu terlabih dahulu, Baek. Tunggu dokter datang ya."
Nyonya Byun berucap dengan raut khawatir yang kentara, jemarinya tidak sedikitpun melepas tautan tangannya dengan Baekhyun. Berusaha memberi kekuatan untuk Baekhyun dan dirinya sendiri lewat itu.
Tak lama kemudian, seorang dokter paruh baya dan dua orang suster muncul di hadapan Baekhyun yang terbaring lemah di sana. Pria mungil itu tidak tahu apa yang sedang Ibunya dan dokter itu bicarakan, bahkan kedua suster yang sedang memeriksa keadaannya tidak dia hiraukan.
"Baekhyun-ah, Ibu sangat bersyukur kau sudah sadar, dokter bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. I-ibu kira kau juga akan meninggalkan Ibu." Lalu Ibunya menangis disana, Baekhyun hanya bisa terdiam melihat Ibunya karena seluruh tubuhnya terasa remuk. Tapi, pelupuk matanya tidak henti meneteskan air mata melihat Ibunya seperti itu.
"I-ibu sangat ketakutan saat pihak rumah sakit menelpon Ibu dan mengatakan kau terlibat kecelakaan. Ibu merasa bersalah, karena pasti gara-gara perkataan Ibu waktu itu. Maafkan Ibu, Baekhyun."
Suara wanita paruh baya itu tercekat mengingat hari buruk itu, dia hampir saja kehilangan seseorang berharga di hidupnya lagi, dia tidak akan memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu dengan Baekhyun.
Sedangkan pria mungil itu melayangkan pikirannya kembali pada mimpinya yang terasa sangat nyata. Yang dimana dia kira dia kembali mengulang waktu dan bersama dengan Chanyeol, semuanya hanya mimpi.
Genggamannya pada jemari Ibunya mengerat, merasakan sesak di dadanya saat dia berpikir takdir berbaik hati dengannya, memberinya kesempatan untuk mengulang waktu dengan suaminya, Chanyeol. Dan ketika dirinya membuka mata, kenyataan menampar dirinya, mengingatkannya takdir tidak akan sebaik itu, dan bahwa Chanyeol sudah jauh disana. Di tempat yang tidak bisa dia jangkau, setidaknya untuk saat ini.
I want to go, I want to see you, I want to find you
But you're still there.
