Work Text:
Sesuatu menjalar pada ulu hati Chanyeol, hal yang mampu memerantakan persepsi yang sudah diyakini sejak bersama pacarnya. Momen itu, Chanyeol bersama dengan sahabat-sahabatnya mencari referensi tugas di perpustakaan. Di tengah bisikan-bisikan jahil dan keluhan menyindir mengenai pekerjaan rumah mereka, dia mengalami batuk-batuk nyaring. Terdengar salakan keras yang langsung diikuti suara batuk berat dan menggetarkan yang bisa saja bersumber dari paru-paru perokok berat yang sudah tua.
"Hyung, kecilkan suaramu kita di perpustakaan!"
"Jongin, sejak kapan kau pikir Chanyeol merokok?"
"Aku," kata Chanyeol dengan suara parau usai terbatuk, "tidak pernah merokok, tolol. Memangnya aku itu kau?"
Detik selanjutnya dia membungkuk dan merapatkan mulutnya dengan telapak tangan, meredam suara batuk yang bergetar dan mendesing dibawah tekanan tatapan sinis dari mahasiswa lainnya. Jongin dan Kyungsoo sibuk membisikan serangkaian maaf sembari menggiring dirinya ke tempat yang lebih sepi. Dia masih belum berhenti batuk dan Chanyeol merasakan ada sesuatu yang tidak beres begitu merasakan sesuatu yang mengganjal pada pangkal tenggorokannya.
"Hyung kau mau kubelikan obat batuk mungkin? Sepertinya itu terdengar parah."
Perkataan Chanyeol rontok begitu merasakan benda asing mendarat pada telapak tangannya. Sesuatu yang tipis, halus, dan sedikit basah keluar dari mulutnya.
"Aku tidak apa-apa Jongin, trims." Sahut Chanyeol setelah batuk-batuk kecil dan berdehem. "Sori sepertinya aku kena alergi."
Chanyeol tidak menjelaskan lebih jauh atau membantah perkataan sejoli itu mengenai alerginya. Ketegangan berdebar di ulu hatinya. Perhatian Chanyeol terfokus pada kelopak bunga halus yang berada pada telapak tangannya yang lebar, merah dengan corak putih di ujungnya dan dipenuhi dengan bercak darah.
"Chanyeol kau menghayalkan apa lagi? Ayolah kita tidak akan mendapatkan diktat itu dan sebentar lagi mata kuliah akan dimulai."
Chanyeol menyusul mereka kembali masuk setelah menyisipkan temuannya pada kantong celana, bersyukur kedua sahabatnya tidak melihat kelopak yang tadi ada di tangannya.
Dia tersenyum tapi tidak menggambarkan kebahagiaan.
Ah, seharusnya Chanyeol sadar sejak lama.
——————-
Bisa dibilang pertemuan Chanyeol dan Byun Baekhyun adalah sesuatu yang konyol tapi spesial baginya. Waktu itu dia masih menduduki kelas tiga SMP dan menemukan anak asing yang asik menghabiskan es krim stroberi simpanannya begitu dia pulang sekolah.
"Kau siapa? Berani-beraninya mengambil es krim milik orang!"
Chanyeol tidak memberikan celah untuk Baekhyun menjelaskan atau menghindari kepalan tangannya. Dia menyeretnya ke lantai, mengabaikan es krim yang tumpah, dan keduanya bertukar pukulan yang dipenuhi teriakan. Untung saja perkelahian tidak berlangsung lama begitu Yoora dan perempuan lain yang tidak dikenalnya melerai mereka.
"Ya Tuhan, CHANYEOL APA YANG KAU LAKUKAN!"
Butuh waktu bagi Chanyeol agar penjelasan kakaknya meresap dalam kepala yang dipenuhi kegusaran dan dia langsung membungkuk meminta maaf begitu memahami kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
"Maaf, aku tidak tahu."
"Lain kali jangan bawa kebiasaan premanmu ke rumah dong."
Es krim itu ternyata bukan miliknya. Baekhyun dan perempuan asing itu membawanya bersama snack lain sebagai buah tangan untuk bertamu di rumah keluarga Park.
"Namaku Byomi, Byun Byomi. Aku teman kelas Yoora, dan ini adik sepupuku. Maaf ya, aku membawanya karena aku harus menjaganya selama orang tuanya pergi menjenguk nenek kami."
Semburat merah Chanyeol begitu nampak dan dia tidak tahu harus memamerkan wajahnya kemana. Dari tadi dia sibuk menunduk dan bolak-balik menghitung buku-buku jemari tangannya.
"Ya sudah, kenapa tidak memperkenalkan dirimu dulu, tuan preman."
"Hei jangan panggil begitu dong!" Hardiknya tapi langsung salah tingkah begitu pandangannya beradu dengan Baekhyun. Dengan segenap harga dirinya, dia memperkenalkan diri.
"Namaku Park Chanyeol, maaf tadi aku sudah memukulmu."
Respon yang datang bukanlah sesuatu yang layak pada kondisi canggung itu. Baekhyun tertawa keras dan membuatnya bingung.
"Untuk seorang preman sekolah, tidakkah kau pikir pukulanmu itu terlalu lembek?"
"Apa—?!"
"Namaku Byun Baekhyun. Daripada sibuk memukuli anak orang mendingan kau bermain Play Stasion . Aku punya loh di rumah, lain kali kita bisa main Guitar Heroes ."
Tidak ada kejengkelan ataupun dengki kendati Chanyeol sudah memukul dagunya beberapa menit yang lalu. Anak itu menyeringai lebar, menanti jawaban Chanyeol. Anak yang aneh tapi menarik.
"Heh, tentu. Aku tidak akan kalah."
Ini pertama kalinya seseorang meninggalkan kesan mendalam pada hatinya.
—————
"Baekhyun, bisa bicara sebentar."
Mungkin Chanyeol seharusnya tidak terdengar tegang saat berdua dengan pacarnya, yang sudah berjanji berduaan di kamar untuk menonton maraton film-film.
"Ya, kenapa?"
Baekhyun berkedip padanya begitu Chanyeol duduk di samping.
"Apa kau mencintaiku?" Kata Chanyeol, "jawablah dengan jujur."
"Eh apa aku harus memberimu Lamborgini agar kau mau percaya?" Kata Baekhyun, setengah jahil. Tapi respon Chanyeol meluruhkan niatnya untuk bermain lebih jauh.
"Kenapa tiba-tiba begini?"
"Jawab saja, kumohon."
Mereka beradu tatap untuk sejenak dan akhirnya Baekhyun mengalah. Dia mendesah pelan, menyisihkan sebungkus doritos dari pangkuannya lalu meraih tengkuk Chanyeol agar mendekat di dadanya.
"Kau mendengarnya?" Bisiknya pelan, jemarinya bergerak pelan memijat belakang leher Chanyeol. "Ritme jantungku."
Chanyeol diam saja. Deru nafasnya stabil.
"Tentu saja aku mencintaimu. Aku merasa tenang kalau bersamamu. Kau sendiri yang bilang kalau kita pasangan yang unik dengan ritme jantung yang selaras, seperti kita ini sepasang belahan jiwa."
Chanyeol masih enggan menjawab tapi dia mengalungkan lengannya ke punggung kekasih mungilnya. tidak ingin melepaskan.
"Oh dasar raksasaku yang manja. Malam ini kita nonton film sedih seperti titanic saja, yah?"
Malam itu dihabiskan dengan Chanyeol yang tidak berhenti memeluk Baekhyun sementara kekasihnya akan menonton tv sembari sesekali mengelus dan mengecup kepalanya. Ritme jantung mereka mungkin seirama, tapi apakah hal yang dirasakan Chanyeol juga terjadi pada Baekhyun?
Dia tahu bunga yang ada dalam tubuhnya sudah menjadi bukti. Tapi dia menentangnya, menolak realita yang sudah menggoyang pendiriannya.
Chanyeol sangat mencintai Baekhyun dan begitu pula sebaliknya.
———————
Byun Baekhyun adalah anak yang ceria, supel, dan mudah mencairkan suasana. Tetapi dia juga dulu pernah mengalami perubahan yang signifikan akibat trauma emosional. Chanyeol masih mengingat perubahan sahabatnya saat keduanya menduduki bangku kelas dua SMA. Anak yang periang dan tak pernah berhenti bercanda sekarang lebih banyak diam dan sering menghindar dari teman-temannya entah kemana. Chanyeol sering menjemput Baekhyun saat mereka akan berangkat ke sekolah, tapi akhir-akhir ini anak itu selalu pergi lebih dulu tanpa memberitahu sahabatnya.
Ketakutan-ketakutan yang perlahan saling menggesek dalam hati akhirnya menjadi mimpi buruk Chanyeol.
Baekhyun absen dari sekolah selama dua hari, tanpa kabar untuk sekolah ataupun untuk Chanyeol. Dia tidak mengabari siapapun, bahkan Chanyeol tidak bisa menghubungi nomor ponselnya.
Sore seusai sekolah, Chanyeol berinisiatif datang ke rumah sahabatnya.
Dia bertemu dengan tuan Byun yang baru saja keluar rumah. Guratan-guratan kelelahan tuan Byun begitu kentara saat diterpa sinar matahari senja, dan Chanyeol tidak tahu mau berkata apa.
"Ah, nak Chanyeol. Mau mencari Baekhyun yah?"
Chanyeol mengangguk. Seketika teringat dia datang tanpa membawa buah tangan dan merasa salah tingkah.
"Aku akan pergi sebentar tapi bisakah kau melakukan sesuatu untukku? Aku mau minta tolong."
Tuan Byun hanya menjelaskan seadanya mengenai keadaan Baekhyun tapi entah bagaimana Chanyeol bisa mendapatkan gambaran yang jelas. Sesuatu terjadi pada keluar Byun, yang fatal dan memunculkan retakan besar bagi setiap anggota keluarganya. Dia sampai di depan kamar Baekhyun, mengetuk pelan tanpa mengucapkan apapun.
"Keluar! Aku tidak mau melihatmu!"
Hati Chanyeol ngilu setelah mendengarnya.
"Baekhyun ini aku, Chanyeol. Plis biarkan aku masuk."
Tidak ada jawaban tapi dia mendengar gemersik selimut. Dia berdiam sejenak dan Baekhyun sepertinya tidak beranjak membuka pintu.
"Baekhyun tolonglah."
Masih tidak ada jawaban. Akhirnya Chanyeol memberanikan diri untuk masuk, menutup kembali pintu yang tidak terkunci. Kamar itu hampir tidak dikenalnya dengan sampah dan perabotan-perabotan yang berserakan di lantai. Pandangan Chanyeol kembali pada sosok sahabatnya yang terbungkus selimut, punggungnya terus bergetar dan sayup-sayup ada isakan.
"Baekhyu—"
Dia tidak menyangka kalau Baekhyun akan melemparkan novel kepadanya dan untung saja bisa dia hindari. Tanpa sengaja kakinya menendang sesuatu, berbunyi nyaring dan menggelinding menjauh dari kakinya. Itu adalah sekaleng bir kosong.
Dadanya berdebar akan amarah.
"Baekhyun apa yang sudah kau lakukan!"
Chanyeol tidak peduli lagi. Dia menghempas selimut dari tubuh sahabatnya dan memaksanya agar menatap dirinya walau Chanyeol dihujani tamparan dan pukulan.
"Apa pedulimu!? KELUAR DARI SINI!"
Teriakan itu penuh ironi. Sesuatu yang menyakitkan. Panggilan untuk meminta tolong.
Air mata adalah hal yang asing untuk berada di wajah Sahabatnya. Byun Baekhyun dengan senyum riangnya, seringai usil, dan tawa kerasnya adalah hal-hal yang dicintainya Chanyeol. Sesuatu yang berharga seperti ini dapat dihancurkan dengan mudah, dan Chanyeol tidak dapat memaafkan dirinya jika melihat ini terus.
"Aku tahu kau sedih. Marah . Tapi bukankah tidak baik kalau mengurung semuanya di ruangan ini?"
"Keluar! Kau memangnya tahu apa!?" Di tengah isakannya, tatapan Baekhyun bergetar pada Chanyeol. "Kau tahu apa dengan kondisi keluargaku yang hancur!"
Chanyeol meringis, menatap dengan getir pada anak lelaki yang mencurahkan semua isi hatinya dalam tangisan dan ratapan. Kedua tangannya masih menahan bahu Baekhyun, bergetar menahan diri.
"Wanita itu membawa Byeom hyung! Meninggalkan aku dan ayah demi pria lain, padahal dia sudah berjanji! Dia selalu bilang dia menyayangiku—"
Tentu saja Chanyeol tidak tahu, tidak mengerti , apapun. Apa yang dia rasakan sekarang hanyalah simpati akan keadaan Baekhyun dan keluarganya. Dia tidak tahu apa yang sudah dilalui Baekhyun. Mungkin dia merasakan amarah dari penghianatan ibunya atau kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan dua anggota keluarganya. Walaupun mereka adalah keluarga yang penuh kasih sayang, ternyata tidak luput dari retakan.
Chanyeol tidak dapat menahan diri lagi. Dia mendekap tubuh yang lebih mungil, meredam isakan Baekhyun ke dalam dadanya kendati mendapat penolakan dari dorongan lemah di sana.
"Baekhyun aku minta maaf karena kau harus melalui ini semua. Mungkin ibumu pergi meninggalkanmu dan ayahmu, tapi aku tidak akan seperti itu. Aku menyukaimu Byun Baekhyun dan aku tidak akan meninggalkan dirimu."
Tapi perkataan Chanyeol tidak sampai pada Baekhyun. Tangisan itu makin menjadi-jadi, komentar Baekhyun padanya bahwa dia adalah orang sinting.
"Baekhyun, ambil nafas dalam-dalam. Tenangkan dirimu dan dengarkan baik-baik." Chanyeol melonggarkan pelukannya, menyandarkan telapak tangannya pada punggung Baekhyun. "Aku juga sangat marah begitu tahu ibumu pergi begitu saja tapi ketahuilah aku sangat menyayangimu."
Isakan Baekhyun mereda perlahan. Chanyeol kembali berkata.
"Kau dengar ritme jantung kita? Lucu bukan bagaimana detakan mereka seirama?"
Dalam pelukannya, Baekhyun mengangguk pelan.
"Dengan ini aku bersumpah akan membuatmu bahagia, aku tidak akan menghianati hatimu. Jadi kumohon jangan seperti ini lagi, Baekhyun."
Butuh waktu untuk menenangkan Baekhyun. Mereka tetap seperti itu walau dadanya harus basah akan air mata.
"Aku tahu kau berboho—"
"Aku tidak berbohong!"
Hening, lalu perlahan Baekhyun berkata lagi. "Apa kau serius?"
Chanyeol melirik padanya, menatap ubun-ubun Baekhyun. "Tentu saja. Kenapa aku harus berbohong?"
Baekhyun membalas pelukannya dan mereka berbaring sementara waktu di atas kasur.
"Berjanjilah kau tidak akan mengkhianati hatiku."
"Pasti. Aku sudah bersumpah bukan?"
Dia menghubungi ibunya dan berkata dia akan menginap selama semalam di sana dan akan pulang saat fajar. Malamnya Chanyeol menghabiskan waktu untuk menenangkan Baekhyun, terus memeluknya dan membisikan kata-kata agar Baekhyun tidak bersedih hati lagi.
Chanyeol bersumpah untuk membahagiakan Baekhyun dan membuat hidupnya lebih baik. Dia tidak akan menyakiti atau membuatnya berlinang air mata lagi.
——————
Pada tahun kedua dia menjejaki universitas, Chanyeol memberanikan diri untuk menyatakan perasaan kepada sahabatnya, Baekhyun. Awalnya dia takut, perkataannya tersendat-sendat dan dia siap memutar badannya kalau Baekhyun akan mengajukan penolakan. Tapi dia malah dihadiahi dengan pelukan erat dan tawa riang dari sahabat mungilnya. Dia sangat bahagia ketika sahabatnya menerimanya, dan mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
Tapi setelah semua yang terjadi, Chanyeol berpikir apakah sumpahnya malah menjadi percuma dengan bunga anemone merah yang tumbuh dalam saluran pernafasannya.
——————
Makin lama Chanyeol membutuhkan usaha lebih untuk menyembunyikan kondisinya. Dia akan sering membawa sarung tangan agar dapat menyembunyikan kelopak bunga yang terus menyembur keluar ketika dia terbatuk. Bercak darah yang melekat pada kelopak bunga juga semakin banyak. Saat ini Chanyeol memerlukan tenaga banyak untuk bernafas dengan normal, melawan rasa sesak yang berhimpun pada tenggorokannya. Rasa sakit itu terselimuti dengan baik dengan senyuman dan candaan. Tidak ada yang menyadari, bahkan Baekhyun sendiri.
" Happy one year anniversary , Yeoli sayang!"
Saat itu Baekhyun datang tanpa pemberitahuan membawa cake stroberi, lengkap dengan lilin yang menyala dan ornamen lainnya yang begitu norak pada kue putih yang polos.
"Baekhyun, haruskah kau membawa kue itu saat aku sedang di kantin?"
Tentu saja Baekhyun mengabaikan perkataannya dan memilih duduk di samping setelah menyingkirkan Sehun dengan paksa.
"Ini spesial untukmu—kenapa mukamu malah murung sih?"
Chanyeol tertegun, tanpa sadar menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Hoo... sepertinya Chanyeol hyung kehabisan kata-kata dengan kue norak yang dibawa Baekhyun hyung."
"Hush, orang jomblo enggak boleh komentar."
Sahutan Baekhyun membawa gelak tawa untuk mereka semua, terkecuali Chanyeol sendiri. Dia malah meraih sapu tangan, meredam desing batuk dan semburan-semburan kelopak bunga. Dadanya seakan habis terbakar.
"Ah, alergi Chanyeol hyung sepertinya makin parah."
"Sepertinya iya. Chanyeol kau harus ke dokter."
Perkataan Jongin dan Kyungsoo tak didengarnya eagitu dia sibuk melipat sapu tangan, menyembunyikan kelopak bunga berdarah agar tak terlihat, secepat mungkin kembali masuk ke dalam saku celana.
"Yeoli kau sakit? Kau sakit apa?"
"Eh cuma alergi biasa. Mungkin seafood," katanya, tersenyum lalu mengusap ubun-ubun Baekhyun. " Happy anniversary sayang. Suap dong kalau kau sayang padaku."
Tidak ada yang lebih menyakitkan melihat senyum riang Baekhyun saat dia menyuapinya, merasakan keraguan yang perlahan menggerogoti hatinya—hal buruk yang bisa dirasakannya merambat seperti bunga anemone yang terus tumbuh dan mekar.
Chanyeol pikir dia bisa bertahan. Ini tidak seberapa. Dia bisa pria yang kuat.
Sampai akhirnya tubuhnya sendiri menyerah lebih dulu dari hatinya.
Saat itu hari yang cerah di bulan September, suasana yang pas untuk para sarjana yang baru menerima diploma. Mereka berdua lulus bersama, melewati saat-saat yang melelahkan sebagai mahasiswa akhirnya bisa terbayar juga.
Baekhyun memeluk Chanyeol walau keduanya masih mengenakan toga, saling memberikan selamat satu sama lain. Begitu melihat keluarga mereka menanti, Baekhyun melepaskan pelukan dan menarik tangan Chanyeol agar bergegas berkumpul bersama mereka. Chanyeol tersenyum, menyuruh pacarnya pergi terlebih dahulu.
Saat Baekhyun memberinya jarak, Chanyeol tahu keadaannya terpuruk dengan dada yang makin berat dan sesak setiap harinya. Lututnya bergetar, nafasnya makin memendek hanya untuk mengambil langkah lebih jauh. Deru nafasnya bergetar saat dia menatap kedua orang tuanya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat raut wajah ibunya yang khawatir dan kakaknya yang berjalan mendekat ke arahnya.
Jangan ke sini , pikirnya. Jangan menarik perhatian .
Sangat sulit melawan gumpalan pada tenggorokannya. Dia memaksa dirinya untuk bertemu tatapan dengan Baekhyun yang juga mulai menunjukan rasa khawatir.
Tapi semua itu terlambat. Dia terbatuk-batuk dengan keras, berat, dan penuh akan kelopak-kelopak merah. Bunga-bunga itu terlihat buruk, layaknya darah yang jatuh berserakan di lantai. Dan Chanyeol sangat membencinya saat hal itu menjadi ingatan terakhirnya sebelum dia kehilangan kesadaran.
———————-
Setidaknya Chanyeol mulai mengerti seluruh keadaannya saat mendengar bunyi bip mesin dan merasakan jeratan kabel yang melingkari tubuhnya. Dia mengenakan pakaian rumah sakit alih-alih toga yang dia ingat terakhir dia pakai.
"Chanyeol..."
Chanyeol bergidik ketika mendengar derit bangku plastik dari samping kasurnya. Dia sedikit menoleh, jantungnya berdetak keras pada kakak perempuannya yang duduk. Matanya bengkak, wajahnya memerah, dan rasa bersalah begitu kuat dalam ekspresinya.
"Mereka—dokter bilang—tidak bukan. Seharusnya aku tidak membicarakan itu dulu."
Kakaknya adalah orang yang jujur, transparan, bagai buku yang terbuka untuk Chanyeol. Dia tidak butuh penjelasan saat melihat air mata kakaknya kembali membuncah begitu dia berusaha meraih tangannya. Air mata yang memelas ampunan.
"Seharusnya aku tahu dari awal. Maafkan aku Chanyeol, ini semua salahku. Maafkan aku."
Ini bukan salahmu. Ini bukan salah siapapun kecuali aku.
Dengan masker oksigen yang tersambung pada mulutnya, hanya sedikit membantunya untuk menarik nafas, dia tahu kalau dirinya selangkah lebih dekat dengan maut. Ini bukan salah siapapun. Chanyeol yang mengundang kematian ini akan semakin mendekat, dan saat itu terjadi dia belum siap memikirkan resiko yang akan datang pada keluarganya.
Dia terlalu mencintai Baekhyun sampai mengabaikan semuanya, terlalu terpaku pada sumpah sepihaknya. Resiko ini selalu ada. Retakan halus dalam hubungan yang seakan sempurna. Chanyeol tidak pernah memperhatikan lebih jauh sampai bibit penyakit hanahaki tumbuh dalam dadanya.
Rasa sakit itu makin kentara. Yang dia rasakan dari awal, sengaja dilupakan dan diabaikan, terakumulasi dalam dirinya yang teronggok tidak berguna di atas ranjang rumah sakit. Rasa sesak itu semakin nyata, dengan akar bunga yang makin merambat dalam paru-parunya dan bunga bermekaran mulai menutup saluran pernafasannya.
Penyesalan memang selalu datang di akhir, Chanyeol mengetahui itu tapi tetap saja dia tidak bisa melawannya.
Bersama dengan kakaknya, dia juga meminta maaf. Mungkin dia seharusnya menceritakan kondisinya pada Yoora. Mungkin dia seharusnya menolak saran Yoora untuk menyatakan cinta pada Baekhyun. Mungkin dia seharusnya mengabaikan perasaan suka ini waktu masih smp.
Semuanya sudah sangat terlambat. Hanya ada air mata yang tersisa.
"Ini bukan salahmu, Nuuna."
Ini sepenuhnya salah Chanyeol.
———————
Baekhyun tidak datang menjenguknya sejak dia berada di rumah sakit. Dan Chanyeol makin pasrah dengan hari-hari yang dirasakannya mulai memendek.
Harapan yang ada dalam dirinya mulai meredup setelah mendengar penjelasan dari orang tuanya karena paksaannya. Dia harus melawan air mata lagi dan seruan dari orang tuanya, tapi Chanyeol bersikeras untuk tahu karena dia yakin hari-hari yang tersisa tidak cukup untuk bersama keluarganya lagi. Mereka akhirnya pasrah dan menceritakan semuanya.
Bunga yang tumbuh dalam dirinya sudah layu dan mulai layu dan membusuk, sudah terlambat untuk melakukan operasi yang bisa menyelamatkan Chanyeol. Pihak rumah sakit berusaha melakukan yang terbaik, tapi semuanya beresiko terhadap tubuhnya. Dengan kata lain dia akan mati bagaimanapun mereka berusaha.
Baekhyun tidak memberi kabar apapun, padahal Yoora sudah berusaha menghubungi tapi Baekhyun akan selalu menolaknya. Mungkin Baekhyun sakit hati karena Chanyeol tidak menceritakan padanya.
Dan sekarang Chanyeol tidak menginginkan atau mengharapkan apapun, pasrah menerima segalanya. Dia tetap akan tersenyum begitu teman-temannya datang menjenguk, menenangkan mereka dalam janji palsu kalau dia akan sembuh secepatnya. Yang dinantikan sekarang adalah kematian yang menjemput sedini mungkin.
Sampai akhirnya Baekhyun datang menjenguk di minggu pagi, mendadak dan tanpa kabar.
"Hai,"
Chanyeol masih tidak percaya kalau pacarnya akhirnya datang. Berdiri di ambang pintu, mengenakan sweater krem untuk menghalau hawa dingin di musin gugur ini. Dia sama sekali tidak berubah, senyum tipis masih terus tersungging di bibirnya.
Entah kenapa Chanyeol merasa kecewa.
"Maaf aku tiba-tiba menghilang, aku butuh waktu untuk sendiri."
Baekhyun memposisikan dirinya untuk duduk di samping ranjang setelah menarik kursi plastik. Binar pada mata Baekhyun sama sekali tidak redup, berlawanan dengan binar milik Chanyeol.
"Chanyeol, kenapa kau tidak cerita padaku? Apa selama ini kau merahasiakannya."
Chanyeol memejamkan mata. Seluruh tubuhnya bergetar walau dipenuhi rasa sakit. Dia tidak yakin dapat menahan diri.
"...ma—ma... af..."
Baekhyun terlihat kaku, mungkin tidak dapat menerima dengan baik atas keadaan pacarnya. Chanyeol merasakan sesuatu menjalar dalam ulu hatinya. Perasaan ngeri menderak-derak, mengancam untuk tertampang jelas, tapi dia menahan diri walau kesusahan.
"Kau jahat, Chanyeol."
Baekhyun tidak berkata lebih jauh tapi pandangannya tertuju pada selang oksigen yang berada di tubuhnya, memperhatikan udara yang masuk dan keluar, tidak bernyali untuk menatap mata Chanyeol.
Dalam keheningan yang sangat memuakkan itu, Chanyeol akhirnya menemukan kejujuran dibalik kerapuhan hubungannya dengan Baekhyun. Waktu-waktu yang sudah dia lalui bersamanya hancur berkeping-keping karena setitik kejujuran yang akhirnya mencuat atas keadaan yang tidak dikehendaki. Momen ini membuat semuanya menjadi transparan.
Tangan Chanyeol bergetar, berusaha meraih Baekhyun. Pria mungil itu menjemput tangannya di tengah perjalanan. Chanyeol menarik nafas dengan dada yang bergetar, matanya menyipit walau berkaca-kaca, dan sudut bibirnya sedikit tertekuk. Secara terpaksa tapi perlahan dia bertanya pada pacarnya:
"Ba... hyun... ap—apa ka—u ci... cin—ta a... ku."
Detik-detik membias pada setiap tarikan nafas Chanyeol, dan dia menghitungnya satu per satu saat Baekhyun mulai memahami ucapannya. Genggaman tangan itu dilepaskan dengan pelan, Baekhyun menarik diri bahkan membuang muka dari pacarnya. Dari samping Baekhyun mengedipkan mata dengan cepat, matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar dan dia sudah tidak tersenyum lagi.
Sejak lama, benang harapan itu sudah putus tapi mereka berdua masih menahannya, atau mungkin hanya Chanyeol yang masih berusaha untuk menyambungnya.
"Maaf, Chanyeol."
Dia sudah menduganya.
Perkataan itu memberikan efek langsung pada tarikan nafasnya—luar biasa sakit dan dia tidak bisa berpikir untuk sesaat, tapi semuanya langsung surut begitu dia menghela nafas dengan keras. Matanya terasa berat dan dia akhirnya memejamkan mata.
Hal terakhir yang diingatnya adalah bunga anemone merah yang mekar dengan utuh.
——————
Pemakaman itu dilakukan secara pribadi, hanya mengundang keluarga dan beberapa teman-teman Chanyeol saja. Baekhyun hadir di sana, membawa sebuket bunga krisan putih, duduk bersama teman-teman lainnya. Tidak ada lagi air mata yang keluar, entah bagaimana dia tidak dapat melakukannya. Tangannya tidak dapat berhenti bergetar dan sekujur tubuhnya dipenuhi keringat dalam hawa dingin musim gugur.
Dia sudah bertemu dengan orang tua Chanyeol dan meminta maaf pada mereka, tapi tidak ada yang marah atau kecewa padanya. Bahkan Yoora datang dan memeluknya dengan berlinang air mata.
"Ini bukan salah kalian. Kalian berdua hanya terlalu muda untuk mengerti, itu saja."
Begitulah yang dikatakannya tapi Baekhyun tidak cukup yakin. Karena Baekhyun tidak mampu melakukan apapun setelah selesai memberikan salam terakhir sebagai mantan pacar Chanyeol di pemakamannya. Dia hanya bisa duduk terdiam, tangan terasa berat dan terkepal erat.
Di dalam telapak tangannya terdapat tiga kelopak bunga berwarna merah dengan corak putih di ujungnya.
