Work Text:
Chanyeol adalah Sang Phoenix yang menjadi pemimpin bagi seluruh penduduk di Kerajaan XOXO. Ia telah menduduki takhta raja selama ratusan tahun, menggantikan ayahnya yang telah tiada. Dalam lima ratus tahun sekali, purnama merah akan terjadi di kerajaannya. Pada malam itu, para raja-raja biasanya akan bercinta dengan soulmate mereka dan bayi yang lahir dari percintaan malam itu akan menjadi pemimpin yang hebat.
Masalahnya, purnama merah terjadi enam bulan lagi dan Chanyeol masih belum mendapat tanda-tanda akan bertemu dengan soulmate -nya. Dia telah mengerahkan seluruh usahanya tapi hasilnya nihil. Peramal terkenal di kerajaannya mengatakan jika soulmate -nya adalah seorang pengendali cahaya. Dalam penglihatannya, ia melihat sepasang mata sabit yang indah dengan bola mata cokelat tua, bibir tipis kemerahan yang menggoda, jari putih yang halus nan lentik, dan hidung mancung yang mungil. Sang peramal berani menyimpulkan jika sosok itu sungguh rupawan. Seluruh yang ia lihat telah disampaikannya pada Yang Mulia dan Chanyeol menyebar beberapa utusannya untuk mencari soulmate -nya berbekal petunjuk itu,
tanpa tahu jika beberapa tahun ini sosok yang dicari sengaja menyembunyikan keberadaannya.
***
Sosok itu adalah Byun Baekhyun. Semenjak hari dimana ia mengetahui jika dirinya adalah soulmate dari sang raja, pemuda itu memilih untuk menyembunyikan diri. Baekhyun hidup sebatang kara setelah kedua orang tuanya meninggal karena sakit. Ayahnya dipanggil terlebih dahulu ketika usianya masih enam tahun, sementara ibunya menyusul sembilan tahun kemudian. Semenjak itulah Baekhyun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Beruntung, dia memiliki Luhan sebagai sahabat yang baik.
Usianya kini dua puluh tahun dan ketika berulang tahun ke tujuh belas, tanda phoenix yang sangat familiar muncul di lengan atas sebelah kanannya. Tanda itu adalah tanda phoenix milik raja. Chanyeol sengaja menyebar bentuk tanda itu agar rakyatnya segera melapor pada perwakilan istana jika menemukan seseorang dengan tanda yang sama dengan miliknya. Baekhyun sendiri telah mengetahui tentang tanda itu sejak dirinya masih belia, namun tidak pernah menyangka jika ia memiliki tanda yang sama.
Sejak hari itu Baekhyun memilih untuk mengubah penampilannya dan selalu memakai baju berlengan bila keluar rumah. Satu-satunya orang yang tahu jika dia adalah soulmate dari raja adalah sahabatnya. Keduanya bersepakat untuk bersembunyi dari belahan jiwa mereka. Bukan tanpa alasan, sejak dahulu rumor bahwa kerajaan XOXO dipimpin oleh raja yang kejam dan pemarah telah menyebar. Rumor itu tidak sepenuhnya salah karena pemarah sesungguhnya adalah sifat alami dari pengendali api. Maka dari itu biasanya soulmate mereka adalah sosok pengendali yang tenang seperti air, es, atau cahaya. Baekhyun tidak bisa membayangkan jika seumur hidupnya ia harus menghabiskan waktu bersama pengendali api yang pemarah.
Luhan sendiri telah mengetahui siapa pasangannya sejak lima tahun silam. Alasannya menyembunyikan diri adalah belum siap untuk bertemu dengan Sehun yang merupakan Perdana Menteri XOXO yang dikenal akan sifat dinginnya. Selain itu, dia juga sosok berpendirian kuat dan juga diktator. Luhan sendiri adalah sosok yang mendambakan kebebasan, karena itulah ia sangat mengindari sosok dengan kepribadian seperti Sehun.
Keduanya tinggal bersama di sebuah kota yang tidak terlalu jauh ataupun dekat dari ibukota dimana istana berada. Mereka bekerja di sebuah kafe yang terletak di pusat kota. Kafe itu didatangi banyak pelanggan setiap harinya, oleh karena itu mereka telah bertemu dengan banyak orang. Keduanya akan bersikap waspada bila mengetahui ada seorang pejabat istana dan semacamnya yang berkunjung ke tempat kerja mereka. Kyungsoo yang merupakan pemilik kafe telah bertemu dengan soulmate -nya yang merupakan seorang pengusaha sukses di kota mereka.
Baekhyun memiliki sedikit masalah pada penglihatannya dan karenanya ia memiliki alasan untuk mengenakan kacamata. Sesungguhnya ia bisa menyembuhkan masalah itu, tapi ramuan penyembuhnya memiliki harga yang mahal. Harapannya, Baekhyun bisa sedikit mengaburkan ciri-ciri aslinya sehingga tidak ada yang mencurigai jika dirinya adalah pasangan dari sang raja. Selain itu, ia nyaris selalu menyisir rambut berwarna hitam kelam itu menutupi dahinya. Kini, sepintas Baekhyun tampak seperti sosok nerd yang tidak menarik.
***
Hari ini, Chanyeol datang ke Kota Putih untuk menerima laporan tahunan. Kota Putih adalah penghasil utama bahan bakar industri di Kerajaan XOXO, karena itu istana jelas menaruh perhatian lebih padanya. Tidak seperti biasanya, kali ini Chanyeol ingin memastikan keaslian laporan yang akan diterimanya beberapa hari lagi. Dari laporan bulanan, ia bisa membayangkan seberapa bagusnya laporan tahunan yang akan diterimanya. Hari ini, Chanyeol langsung mendatangi pabrik dan membuat warga kota terkejut.
Chanyeol memeriksa setiap sudut pabrik dan merasa puas kala laporan yang diterimanya sesuai dengan keadaan di lapangan. Sang pemilik pabrik itu segera menemui Chanyeol dan tak lupa membawa laporan tahunan perusahaannya. Pemilik perusahaan itu mengajaknya untuk bertemu sekaligus bersantap di restoran bintang lima.
"Yang Mulia, ini laporannya. Seseungguhnya sore ini saya berencana untuk mengirimnya ke istana, namun Yang Mulia justru datang kemari."
Chanyeol tersenyum. "Laporan yang bagus, Tuan Kim. Aku takjub akan perusahaanmu. Dari kunjunganku barusan, aku merasa harus berterima kasih padamu karena telah mengelola bisnis ini dengan sangat baik."
"Sama-sama, Yang Mulia. Itu sudah kewajiban saya untuk mengelola usaha vital ini dengan sebaik-baiknya."
"Ah ya, boleh aku tahu jadwalmu setelah ini?"
"Saya akan pulang ke rumah, sebelum itu saya akan menjemput soulmate saya terlebih dahulu di kafe miliknya."
"Kafe? Hmm .... Aku ingin melihatnya. Mungkin aku bisa menenangkan pikiran sejenak di sana. Apakah tempatnya jauh dari sini?"
"Tidak. Kafenya sangat dekat dari sini. Yang Mulia hanya perlu menyeberang dan belok kiri beberapa puluh meter."
Percakapan itu akhirnya membawa langkah Chanyeol ke kafe milik Kyungsoo. Kala itu Luhan sedang mengantarkan pesanan dan ia membolakan matanya begitu menyadari siapa sosok yang mengekor di belakang kekasih sang bos. Setelah mengantarkan pesanan, Luhan kembali ke dapur secepat yang ia bisa. Dia membuka pintu khusus karyawan dengan sedikit tergesa dan membuat Baekhyun terkaget.
Baekhyun kala itu hendak keluar dari pintu untuk mengantarkan pesanan, namun Luhan justru menyuruhnya untuk masuk ke ruang ganti pakaian karyawan dengan wajah panik.
"Ada apa, Lu?"
"Ssst! Jangan keluar, Baek. Tuan Kim dan Chanyeol baru saja datang."
"Apa maksudmu? Bagaimana bisa raja ada di sini?"
"Aku pun tidak tahu. Karena itulah aku menyuruhmu untuk tetap di dalam. Sementara waktu, kau akan berganti tugas dengan Taeyeong dan aku akan mengantar pesanan. Aku akan membujuk Taeyeong untukmu setelah aku mengantarkan beberapa pesanan yang menanti untuk diantarkan. Tetaplah di sini sampai aku kembali. Mengerti?"
Baekhyun mengangguk. Dia akhirnya mendudukkan diri di kursi yang ada. Duduk sendirian ditemani dengan ditemani debaran jantung yang begitu kuat membuatnya begitu gugup. Satu menit berselang pintu itu terbuka dan Taeyeong masuk dengan baju basahnya. Sekali melihat Baekhyun tahu jika pakaian remaja itu terkena tumpahan kopi.
"Eh, Baekhyun hyung? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku hanya beristirahat."
Remaja itu memicing sebentar sebelum akhirnya mengabaikan keberadaan Baekhyun dan mengganti kemejanya.
"Hyung? Apa kau gugup karena tahu raja mengunjungi kafe kita?"
"E-eh? T-tidak bukan begitu."
"Tapi bahasa tubuhmu mengatakan hal sebaliknya, hyung ."
Sial, Baekhyun lupa jika Taeyeong adalah sosok yang peka.
"Kau salah paham."
"Hm, jika begitu antarkan pesanan milik raja yang sedang dibuat oleh Jaemin."
"Ah, oke."
‘ Inilah saatnya ,’ Taeyeong membatin. Sejak minggu pertama dia bekerja di sini, dia sudah menyadari jika Baekhyun memiliki ciri-ciri yang sama dengan ciri-ciri soulmate raja. Awalnya ia biasa saja, sampai akhirnya beberapa kejadian membuat dirinya curiga. Baekhyun dan Luhan tampak menghindari pejabat istana dan sangat tertutup akan kehidupan percintaannya.
Baekhyun sedikit membantu Jaemin dan Taeyeong dapat melihat tangannya sedikit bergetar kala melakukan sesuatu. Baekhyun jelas sangat gugup. Setelah pesanan siap, Jaemin memberikan pesanan milik raja kepada Baekhyun untuk diantarkan kepada sang pemesan. Luhan memelototkan matanya kala melihat Baekhyun keluar dari ruangan karyawan dengan disusul oleh Taeyeong. Remaja itu melirik ke arah Luhan yang tampak panik. Baekhyun sadar jika Taeyeong mengawasi gerak-geriknya sedari tadi sehingga ia tak memiliki pilihan lain.
Taeyeong mengantarkan pesanan pada pelanggan yang duduk di dekat ruang VIP, sehingga ia bisa melihat dengan jelas jika Baekhyun masuk ke ruangan itu sembari membawa pesannanya. Udara dingin bercampur aroma parfum mahal menyambut indra penciumannya. Aroma mint yang segar namun lembut tercium olehnya di samping aroma kopi milik Kim Jongin yang telah ditemuinya cukup sering.
Kedua pria dominan di ruangan itu menatap intens ke arahnya sejak Baekhyun masuk ke ruangan itu. Sudut bibirnya berusaha menarik senyum manis, berusaha memberikan pelayanan yang baik untuk sang raja sekaligus kekasih bosnya.
"Satu americano dan satu latte ."
Baekhyun menarik napas dalam sebelum mengangkat gelas dari nampan dan meletakkannya di meja.
Baekhyun hendak menyentuh gagang pintu kala suara berat sang raja menginterupsi langkahnya.
"Tunggu, apa kalian punya menu snack ? Aku sudah melihat buku menu dan tidak melihatnya."
Baekhyun memutuskan untuk berbalik badan dan kembali menghampiri sang raja.
"Kami punya beberapa, Yang Mulia."
"Apa kalian punya roti bawang putih?"
"Maaf, menu itu sudah terjual habis tadi siang."
"Bagaimana dengan cookies dark chocolate ?"
"Kami memilikinya, Yang Mulia."
"Jika begitu bawakan aku cookies itu."
"Baik Yang Mulia."
Baekhyun akhirnya berhasil keluar dari ruangan. Ia pun bernapas lega. Ketika berjalan setengah jalan, ia mendengar pintu ruangan VIP terbuka dan Jongin keluar dari sana. Langkahnya sedikit tergesa dan mengarah ke toilet.
Rasa gugup mendadak menyerangnya. Jika ia mengantarkan cookies pesanan Chanyeol sekarang, itu berarti mereka akan berada di ruangan tertutup hanya berdua. Jadi, Baekhyun sengaja memperlambat dirinya sembari berharap jika Tuan Kim sudah kembali dari toilet kala ia mengantarkan pesanan.
Sementara itu, Chanyeol telah menyadari sesuatu. Pelayan lelaki berpostur mungil itu membuat dirinya merasakan sesuatu yang berbeda. Mata puppy menggemaskan, bibir tipis yang merah alami, hidung dan wajah yang murni, lekukan tubuh yang indah dan suara lembut itu berhasil membayangi pikirannya.
"Wait–"
"Yang Mulia, saya izin keluar sebentar."
"Ah, silakan."
Ketika Jongin keluar, di situlah Chanyeol menyadari jika pelayan itu memiliki ciri-ciri yang mirip dengan penggambaran soulmate -nya.
Jongin pergi cukup lama, sehingga Chanyeol dapat bertarung dengan pikirannya sendiri cukup lama. Di tengah lamunannya, sosok pelayan pria nan manis itu masuk ke ruangan membawakan pesanannya.
Tanpa pikir panjang, Chanyeol segera meraih tangannya dan menatap sosok itu. Baekhyun sangat terkejut.
"Maafkan aku," Chanyeol melirik name tag pelayan itu sejenak, "Tuan Byun. Tapi bolehkan aku melihat tandamu? Kupikir usiamu sudah lebih dari tujuh belas."
Deg.
Baekhyun terkejut. Bibirnya sedikit terbuka dan kemudian terkatup lagi. Dengan perlahan ia memperlihatkan tandanya. Tanda itu pun tampak sepenuhnya. Chanyeol terdiam di tempatnya, masih dengan rasa tak percaya, ia meraih lengan kurus itu dengan perlahan dan mengamatinya dengan teliti.
"Aku .... Kenapa kau menyembunyikannya ...?" Chanyeol bertanya dengan lirih.
Pemuda di hadapannya ini jelas tahu siapa soulmatenya namun ia menyembunyikannya. Dengan itu Chanyeol berpikir jika sosok dihadapannya tidak mau menjadi soulmate -nya. Dia menolaknya dan itu membuat hatinya berdenyut sakit. Bahkan ketika kedua orang tuanya meninggal, ia tak merasakan rasa sakit seperti ini.
Baekhyun mendengarnya dengan jelas. Suara itu ... rajanya terluka.
"Aku–"
"Kau membenciku? Kenapa? Apa aku pernah menyakitimu? Katakan."
"Aku tidak suka seseorang yang pemarah." Sabitnya ia beranikan untuk menatap tepat ke manik hitam sang raja.
"Membayangkan jika sepanjang hidupku harus berada disamping seorang pengendali yang pemarah membuat perasaanku campur aduk," sambungnya.
Bibir tipisnya menyunggingkan senyum kecil yang terpaksa. Biarlah jika setelah ini ia mati, setidaknya dirinya mati setelah mengeluarkan segala pikiran yang menghantuinya beberapa tahun belakangan yang membebaninya.
"Aku marah pada takdir. Kenapa seorang cahaya disatukan dengan api? Orang-orang di sekitarku yang merupakan cahaya dengan api tak memiliki hubungan baik. Kupikir itu semua hanyalah kebetulan sebelum akhirnya aku juga turut merasakannya."
"Tapi aku tidak akan marah tanpa sebab."
"Yap, ayahku juga mengatakan hal yang sama ketika aku kecil. Tapi apa? Dibelakangku, ia selalu meledak-ledak pada ibuku hanya karena hal remeh. Ibuku cahaya. Sepupuku adalah kakak beradik pengendali api dan cahaya yang bermusuhan. Teman cahayaku dan mantan kekasih apinya."
"Jadi kesimpulannya, kau menolakku. Begitu bukan, Baekhyun?"
"Tidak, aku hanya ragu sekaligus takut. Mungkin aku bisa menerimamu perlahan-lahan jika kau berhasil membuktikan asumsiku salah. Lagipula aku tidak ingin keegoisanku membawa masalah besar bagi kerajaan ini."
Chanyeol menarik napasnya. Sejujurnya harga dirinya terluka, namun ini adalah saat yang ua tunggu, bertemu soulmatenya. Namun sepertinya ia perlu menjinakkan pemuda mungil dihadapannya ini dan membuatnya berlutut patuh. Pertemuan pertama dan Chanyeol sudah bisa merasakan aura pembangkang serta keras kepala dari sang puppy kecil. Mungkin ia harus menekan emosinya lebih dalam agar tak meledak dan membuat soulmatenya kehilangan kepercayaan padanya dan gagal membuktikan jika tidak semua pengendali api seperti yang dipikirkannya.
Seharusnya Chanyeol memberi pelajaran pada pemuda di hadapannya ini karena ia jelas bersikap kurang ajar, namun karena telah menunggu sosoknya selama bertahun-tahun, ia mengurungkan niat tersebut. Mungkin lain kali, tapi tidak sekarang.
******
Chanyeol tidak menyerah, karena kini ia telah menemukan sosok yang ia cari, dirinya selalu datang ke tempat kerja Baekhyun sesering yang ia bisa. Seluruh pekerja di tempat itu telah mengetahui jika salah satu rekan mereka adalah calon ratu negeri ini. Walau begitu, Baekhyun meminta mereka untuk tidak memperlakukannya dengan berbeda.
Setiap akhir pekan, Chanyeol selalu datang untuk menjemputnya untuk berjalan keliling kota dan mengunjungi beberapa tempat wisata dengan harapan bisa meluluhkan hati sang soulmate. Perjuangannya berhasil. Kini Baekhyun tampak sudah sangat nyaman dan manja padanya, tidak seperti saat pertemuan pertana mereka. Jadi, malam ini Chanyeol mengutarakan sesuatu yang cukup serius.
"Baekhyun, apa kau mau ikut bersamaku?"
"Kemana?" Wajah kebingungannya tampak ketara dan tanpa sadar kepalanya terteleng sedikit.
"Ke istana. Aku mengajakmu untuk pindah ke istana bersamaku. Bagaimana, apa kau keberatan?"
"Aku pasti akan merindukan teman-temanku ...."
"Aku tidak akan melarangmu jika kau ingin mengunjungi mereka. Kau bisa berkunjung kapanpun kau mau."
"Hnggg ... aku mau kalau begitu." Senyum manisnya ia tunjukkan.
"Jadi, kau mau pindah mulai besok?"
Kepalanya menggeleng dengan cepat. "Tidak Chanyeol, besok terlalu cepat. Aku butuh beberapa hari."
******
Berita tentang sang raja yang akan membawa pasangannya ke istana telah menjadi perbincangan panas. Mereka semua menerka-nerka dalan ketidak pastikan. Kiranya, bagaimanakah wujud sosok yang dinantikan itu? Tapi untuk saat ini, yang bisa mereka lakukan hanyalah menyiapkan istana agar suasananya dapat membuat calon ratu mereka merasa nyaman karena sang raja telah memberitahu jika calon ratu mereka berasa dari rakyat biasa, bukan kalangan atas yang biasa hidup dalam kemewahan.
Hari itu akhirnya tiba. Barang-barang Baekhyun telah sampai di istana terlebih dahulu jadi sosok itu tak perlu repot-repot membawa barang bawaannya. Chanyeol tidak memberitahu detil dari pasangannya, namun dia berpesan untuk mendekor kamar sang soulmate dengan warna putih yang netral. Para pelayan pikir jika warna itu adalah warna yang disukai oleh calon ratu mereka karena dia adalah seorang pengendali cahaya.
“Chan, aku gugup,” adunya kala berada dalam perjalanan menuju istana.
“Adakah hal yang bisa kulakukan agar kau tidak lagi menjadi gugup?”
“Uhm, kupikir ada. Bagaimana jika aku berjalan tepat di belakangmu? Jadi aku tidak terlihat.”
Chanyeol memicing. “Kau tidak berbuat untuk kabur, bukan?”
Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu sembari menggeleng. “Tentu saja tidak.”
“Baiklah.”
Jadi, kenapa Baekhyun bisa dengan mudah mengubah sifatnya pada Chanyeol? Entahlah, dia sendiri pun tidak tahu pasti. Ketika sedang berdekatan dengan sang raja, dirinya mendadak ingin bermanjaan dengan sosok itu. Baekhyun tidak tahu jika bertemu dengan soulmate bisa mengubah kepribadiannya.
Selain itu, selama beberapa saat bertemu dengan Chanyeol, Baekhyun merasa sosok itu tidak seperti perkataan orang-orang. Chanyeol sendiri mengatakan padanya jika selama ini ia berusaha untuk menekan emosinya agar dia tidak mudah meledak-ledak ketika suatu hari nanti bertemu dengan belahan jiwanya. Dan yah, usahanya selama ini berhasil. Baekhyun melunak padanya dan kini ia sudah mau menerima kenyataan jika dirinya adalah pasangan dari sang raja.
***
Hanya saja, para pelayan itu tidak menyangka jika sosok yang mengekor di punggung sang raja adalah seorang pemuda kecil berwajah manis yang pemalu. Mereka kira, sosok calon ratu mereka adalah gadis atau wanita cantik. Tidak ada yang mengira jika sosok yang dinantikan itu adalah seorang pria carrier . Namun mereka tidak keberatan, selama sosok itu bisa melahirkan keturunan dan menyelamatkan kerajaan mereka. Lagipula, tampaknya sejoli itu tampak sangat mencintai satu sama lain. Bagi pelayan seperti mereka, kebahagiaan sang raja adalah nomor satu.
"Silakan perkenalkan dirimu, sayang."
"H-halo, namaku Byun Baekhyun dan usiaku dua puluh tahun."
Orang-orang itu terkejut, mereka menyangka jika Baekhyun adalah sosok dibawah umur atau paling tidak baru saja mendapatkan tandanya, namun ternyata dia lebih tua beberapa tahun dari dugaan.
Chanyeol tersenyum. "Hm, dia adalah pasanganku, jadi tolong perlakukan dia sama seperti kalian memperlakukanku. Aku tidak segan untuk bertindak jika ada yang berniat mencelakainya."
Setelah upacara perkenalan singkat itu, Chanyeol dan beberapa pelayan yang mengikuti mengantarkan Baekhyun ke kamarnya yang berhadapan dengan kamar utama milik raja.
"Bagaimana? Kau menyukainya?"
Baekhyun mengangguk cepat. "Aku sangat sangat menyukainya, Chanyeol. Siapapun yang menyiapkan ini semua, aku sangat berterima kasih."
"Itu adalah pekerjaan dari mereka semua yang kini berdiri di belakangmu."
Baekhyun memutar badannya. "Sungguh? Wah, terima kasih!"
Pelayan yang berada di baris terdepan menunduk, diikuti oleh mereka yang ada si belakang. "Terima kasih atas pujiannya, Tuan Byun."
Tur kamar berakhir, kini Baekhyun berkeliling istana dengan dipandu oleh Chanyeol sendiri. Mulai dari kamar sang raja, ruang santai, ruang kerja, ruang tamu, taman, ruang makan, dan masih banyak lagi. Sepanjang siang mereka habiskan untuk berkeliling istana. Ketika sore hari, keduanya memutuskan untuk menikmati sunset di halaman belakang istana. Sebelum jam makan malam tiba, Chanyeol dan Baekhyun mampir ke tempat pemandian terlebih dahulu.
Chanyeol membuka seluruh pakaiannya dan masuk ke kolam berisi air hangat dan wewangian yang menenangkan, sementara Baekhyun masih terdiam di pinggir kolam.
"Apa Chanyeol tidak punya kamar mandi yang lain?"
Sang raja tersenyum renyah. "Tentu saja ada, tapi aku sengaja untuk tidak meminta mereka mempersiapkannya karena hari ini aku ingin mandi bersama denganmu."
Pipi berisinya memerah, tatapannya ia buang ke arah lain dan jarinya terpilin. "Chanyeol~"
Siapa yang bisa tahan jika sosok menggemaskan itu mengerucutkan bibirnya? Chanyeol sungguh ingin memakannya. Yang lebih tinggi berjalan mendekati yang lebih pendek, namun tampaknya ia tak sadar jika seseorang dengan seringai jahil tengah mendekatinya.
Chanyeol menarik sebelah tangan Baekhyun dan ... BYURRR.
"AAAAAA CHANYEOLAAA!!" Jantungnya berdetak kencang karena ia begitu terkejut dan panik. Beruntung, ia jatuh mendarat di sebuah dada bidang yang tak terbungkus sehelai benang.
"Bajuku .... Chanyeol kenapa menarikku?!" Pemuda berusia dua puluh tahun itu mencebikkan bibirnya sembari mengeluh.
"Kau mungkin kabur dan mencari toilet pelayan terdekat dan mandi sendiri di sana."
Matanya mengerjap imut, ‘ Bagaimana dia bisa tahu?’
"Aku sudah merencanakannya sejak lama, aku ingin memakanmu malam ini."
Baekhyun awalnya tidak mengerti, namun seringai mesum itu membuat otaknya tersadar jika itu bukanlah pertanda bagus. Badannya segera berbalik dan berjalan dengan cepat ke pinggir kolam, namun berjalan di air terasa sangat berat. Belum dua langkah, ia merasakan pinggangnya ditarik ke belakang oleh sepasang lengan yang kuat.
Baekhyun berbalik badan dan bibir mengerucut kesal itu berada tepat di hadapan Chanyeol. "Chanyeoll~ jangan sekarang, aku tidak mau."
"Kau menolakku? Baiklah tidak apa-apa."
Chanyeol pun membuat raut sedih dan membalikkan badannya. Si mungil pun dilanda kepanikan. "Tidak, maksudku bukan begitu. Aku ... aku sudah lapar Chanyeol, jadi aku ingin bisa segera makan. Chanyeol boleh melakukan itu padaku setelah aku selesai makan nanti ...."
Raut wajahnya menjadi cerah. "Benarkah?"
Baekhyun mengangguk. Sesungguhnya dia sendiri masih ragu, namun perasaan itu segera ia tepis. 'Tidak apa-apa, Hyunnie. Chanyeol adalah pasangan takdirmu dan ia telah menunggu lama. Chanyeol juga tidak pernah membuatmu kesal, jadi ... kupikir itu tidak apa-apa.'
"Uhm, iya."
"Oke, aku akan menagihnya nanti. Sekarang, cepatlah buka pakaianmu agar kau bisa mandi dan segera mengisi perutmu."
Baekhyun mengangguk lagi. Ia berbalik badan dan mulai melepas pakaiannya satu-persatu. Mata bulat Chanyeol tak lepas dari sosok mungil itu. Dan ketika punggung mungil nan mulus itu mulai tampak, Chanyeol mengaguminya dalam hati.
***
Ketika waktu makan malam tiba, keduanya makan dengan tenang sembari duduk berhadapan di ruang makan mewah istana. Baekhyun berusaha untuk tidak menampakkan ekspresi yang berarti, namun Chanyeol tahu dengan pasti jika sosok mungil itu sedang gugup. Sepanjang acara makan itu, sang calon ratu berusaha menghindari tatapan dari pasangannya dan berusaha untuk fokus pada makanannya.
Baekhyun jelas menyadari tatapan sang raja yang menatapnya lekat sedari tadi, namun ia berusaha abai. Dalam hatinya ia berdebar, namun sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak menyesali keputusannya di kolam pemandian tadi.
‘Jika kau tak mengatakannya, mungkin kau sudah mati kelaparan sekarang. Baiklah, mari beri penghargaan atas kesabaran soulmate mesummu itu dalam hal menunda makan malamnya.’
Dia berusaha memperlambat makannya, namun gagal kala sang raja bertanya, “Apa kau tidak menyukai makanannya?”
Baekhyun menggeleng heboh dan membalas dengan terbata. Setelah itu ia berusaha menyelesaikan makanannya secepat yang ia bisa untuk menghargai baik Chanyeol maupun juru masak istana.
Chanyeol selesai terlebih dahulu, jadi ia hanya duduk diam di kursinya sembari menatap sosok mungil nan lucu yang masih berusaha menghabiskan makanannya. Dia baru mau menatap matanya kala telah berhasil menyelesaikan hidangan utama. Ketika hendak meraih minum, mata sabitnya menatap manik si tinggi yang dibalas dengan senyum kecil. Chanyeol jelas menangkap tingkah gugup pemuda manis itu setelah menangkap senyumannya.
Isi gelas itu telah dihabiskannya hingga tandas, dia bahkan telah menambah isinya hingga setengah dan kembali menghabiskannya. Gelas itu diletakkan ke tempat semula dan Baekhyun dengan perlahan menaikkan pandangannya dengan keraguan.
“Jadi, sudah selesai? Bagaimana makan malammu?”
Chanyeol tampak sangat senang, Baekhyun jadi tidak tega dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang janjinya tadi.
“A-aku sudah selesai, Chanyeol. Makanannya enak sekali dan sekarang aku sangat kenyang. Terima kasih.”
Chanyeol mengangguk. “Syukurlah. Sekarang tidurlah, kau pasti lelah.”
Baekhyun mengerjapkan matanya cepat. Apa dia tidak salah dengar? “Lalu bagaimana ....”
“Menurutku kau masih belum siap untuk melakukannya bersamaku. Lagipula, kita baru saja saling mengenal. Kupikir .... kau masih butuh waktu.”
Baekhyun menghela napas. Bahunya kini turun, pertanda ia lebih rileks dari sebelumnya. Hanya saja, ada rasa bersalah yang hinggap di hatinya.
“Ngg ... Chan? Aku punya penawaran. Tapi aku tidak terlalu yakin.”
“Katakan.”
“Bagaimana jika Chanyeol memelukku semalaman?”
Chanyeol memelototkan matanya. Senyumnya juga melebar. Pelayan yang berjaga dari jauh pun tahu jika sudah lama raja mereka tampak setertarik itu pada suatu hal.
“Kupikir itu tidak ap—CHANN!!”
Chanyeol langsung bangkit dari kursinya dan menggendong Baekhyun ala bridal style dan membuat sosok mungil itu reflek berteriak. Wajahnya menjadi merah padam akibat malu dan ia berusaha menyembunyikan wajah manisnya.
Sesampainya di kamar raja, Chanyeol meletakkan Baekhyun dengan hati-hati dan mengecup bibirnya sekilas dengan gemas. Sebentar lagi salah satu mimpinya akan terwujud, yaitu menatap pasangan hidupnya sebagai objek pertama yang dilihat ketika terbangun di pagi hari.
“Bersiaplah untuk tidur. Kau bisa gunakan kamar mandiku terlebih dahulu. Aku akan memanggil pelayan untuk membawa piyamamu kemari. Setelah itu aku akan turut membersihkan diri.”
Baekhyun mengangguk. Kaki kecilnya begerak langsung untuk menuju ke kamar mandi. Di sana, ia menemukan peralatan mandi yang masih terbungkus rapi di samping meja tempat meletakkan hiasan. Baekhyun tebak itu adalah peralatan yang sengaja Chanyeol siapkan mengenai rencananya malam ini.
Yang dilakukannya di sana adalah menggosok gigi, mencuci muka, dan melakukan beberapa rutinitas yang biasa dilakukannya sebelum tidur. Setelah itu ia keluar dan melihat sepasang piyama berbahan katun biru muda favoritnya terlipat rapi di atas ranjang. Baekhyun meraihnya dan berjalan menuju walk in closet dan mengganti bajunya.
Sementara Baekhyun membaringkan badannya di kasur paling nyaman yang pernah ia tiduri, Chanyeol masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia juga mengganti pakaiannya menjadi piyama sutra berwarna hitam yang nyaman.
Baekhyun sudah mengambil posisi dan bersiap kala mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Benar saja, tak berselang lama, ia merasakan pergerakan pada ranjang yang ditidurinya dan sepasang lengan kekar melingkari pinggang mungilnya. Awalnya, si mungil merasa tidak nyaman karena belum pernah mengalami hal seperti ini, namun lama-lama ia merasa lebih rileks karena dada Chanyeol terasa hangat dan nyaman. Terkadang ia bisa merasakan hidung mancung yang masuk ke celah-celah rambutnya dan menggesekkannya ke kulit kepala. Chanyeol pribadi menyukai aroma rambut Baekhyun.
Chanyeol rasanya ingin memeluk Baekhyun erat-erat kemudian menciumi seluruh wajahnya terutama mata dan hidungnya dengan gemas, mengacak-acak rambut halusnya, mencubit pipi mochinya, dan memakan bibir ceri itu. Ah ya, ia juga ingin mengecup dan menggigit gemas ujung hidung mancung si mungil.
Singkatnya, Chanyeol ingin memakan si cantik dan menyalurkan kegemasannya akan fitur wajah Baekhyun.
******
Hal pertama yang Chanyeol lihat ketika membuka mata adalah tengkuk mulus yang menggoda. Selain itu, sebelah bahu Baekhyun terekspos karena piyama yang dipakainya cukup longgar. Ia pun mengecupi bagian kulit yang terbuka itu hingga membuat si mungil terusik karena merasakan sensasi aneh.
“Hngg, Chan? Selamat pagi.”
“Pagi, sayang.” Chanyeol mengecup pipi kanan Baekhyun.
“Bangunlah. Hari ini, mari kita persiapkan kedatangan temanmu dan jemput ia kemari.”
Ah iya, Baekhyun ingat. Kepala mungilnya sontak mengangguk. Hal ini adalah perjanjian antara Baekhyun dan Luhan. Jika salah satu dari mereka bertemu dengan soulmate masing-masing, yang lainnya harus ikut serta. Berhubung Baekhyun telah ditemukan tanpa sengaja oleh Chanyeol, Luhan akhirnya melapor ke pihak berwajib jika ia memiliki tanda yang sama dengan Oh Sehun, perdana menteri kerajaan ini.
Singkatnya, setelah laporan itu diterima oleh Sehun sendiri, ia memutuskan untuk mencoba bertemu dengan sosok yang mengaku memiliki tanda yang sama dengan miliknya. Pertemuan pertama Sehun memastikan sendiri keaslian laporan itu dan menerimanya. Keadaan masih sangat canggung karena sosok yang disebut-sebut sebagai kulkas berjalan itu memang tidak banyak bicara dan hanya menjawab ketika ditanya dengan pertanyaan yang penting. Kedua kali, Sehun sudah berusaha untuk menanggapi topik tidak penting yang Luhan lontarkan. Ketiga kali, Sehun beberapa kali membuka percakapan, memulai topik, dan berusaha mengimbangi kecerewetan dari pada soulmate -nya. Pertemuan kesekian, Sehun sudah jauh lebih hangat dan terbuka, membuat Luhan jauh lebih betah dan mencabut gelar kulkas berjalannya. Selain itu ternyata Sehun tidak se-diktator seperti yang ada dalam bayangannya.
Dan hari ini, Sehun memutuskan untuk membawa Luhan tinggal di kediamannya. Baekhyun sendiri yang ingin turut menyambut kedatangan sang sahabat ke istana ini. Setelah mandi, sarapan, dan merias diri, yang ia lakukan adalah menunggu kedatangan sang sahabat sembari duduk santai di taman istana yang tak jauh dari pintu masuk. Ketika pengawal mengatakan bahwa perdana menteri dan pasangannya telah tiba, ia segera bergegas dan mengambil tempat. Luhan baru bertemu Sehun beberapa minggu, namun Baekhyun tahu jika sang sahabat tampak lebih bahagia ketika bertemu dengan sang soulmate .
******
Tak terasa purnama merah terjadi beberapa hari lagi. Belakangan ini istana sangat disibukkan dengan persiapan ritual. Walau sebenarnya sangat sederhana, mereka tidak ingin melakukannya dengan seadanya. Ritual langka ini mungkin hanya mereka ikuti sekali seumur hidup karena tak lama setelah ritual, ratu mereka akan mengandung penerus kerajaan.
Berhubung Baekhyun belum dinobatkan sebagai ratu Kerajaan XOXO, maka Chanyeol berencana melakukan kedua hal besar itu dalam satu hari. Acara penobatan Baekhyun sebagai ratu dilakukan ketika matahari sudah setengah naik, sedangkan ritual purnama merah dilakukan sehabis makan malam.
Baju yang akan dikenakan oleh keduanya kala acara penobatan sudah selesai dan mereka akan mencobanya sekarang. Begitu masuk ke ruangan yang ditentukan, Baekhyun sudah terperangah akan dua baju super mewah yang tergantung di tengah ruangan. Dia bahkan merasa pakaian itu tampak bagus di dirinya bahkan ketika ia belum mencobanya.
“Baek, cobalah.” Sebagai balasan, Baekhyun mengangguk patuh dengan senyum manisnya yang tampak imut.
Si mungil menghilang ke balik ruang ganti dan kembali beberapa menit kemudian. Chanyeol terperangah melihatnya. Baekhyun tampak sangat mengagumkan.
“Itu bagus sekali, Baekhyun. Tampak sangat cocok untukmu.”
Sekarang giliran Chanyeol yang mencoba pakaiannya dan seperti yang sudah ditebak, pakaian itu tampak sangat pas melekat di tubuhnya yang sempurna.
***
“Chanyeol aku sangat gugup,” ucap Baekhyun yang baru saja selesai dirias.
“Tarik napas. Aku yakin kau akan tampak sangat menakjubkan, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja.”
Dan benar saja, sesuai perkataan Chanyeol, acara itu berjalan dengan sangat mulus. Semua diawali dari kata sambutan dari Sehun selaku Perdana Menteri XOXO. Ah ya, acara ini diadakan di halaman depan istana sehingga siapapun yang hadir bisa menyaksikannya. Walah begitu, Chanyeol telah memberikan penjagaan yang ketat di hari besar sang soulmate.
Setelah itu dilanjutkan dengan memperkenalkan Baekhyun sebagai ratu XOXO dan pemuda manis itu memberikan sapaan singkat. Telinganya menangkap banyak pujian yang tertuju padanya dan itu membuatnya bahagia.
Acara itu dilanjutkan dengan pembacaan doa kepada dewa dewi agar kiranya Baekhyun bisa menjadi ratu yang baik bagi kerajaan mereka dan membawa keberuntungan. Rangkaian inti acara sudah selesai dan yang selanjutnya digelar adalah pesta, hal yang ditunggu-tunggu oleh mereka semua.
Baekhyun duduk di kursinya sembari melihat keadaan dan menyapa rakyatnya. Tampak lalu lalang orang mengantre untuk mengambil makanan, sisanya berdiri berkeliling untuk menyaksikan pertunjukan yang dibawakan oleh penari dan seniman dari seluruh negeri yang sebelumnya telah diundang secara khusus oleh istana.
Bosan berdiam di tempat, Baekhyun memutuskan untuk berkeliling untuk melihat keadaan dari dekat. Tak disangka ia melihat ada dua orang anak kecil berkelahi di salah satu sudut, jadi ia menghampirianya untuk mendamaikan mereka.
Ia berjalan mendekat dengan senyum imutnya dan berlutut agar bisa berbicara dengan lebih nyaman dengan mereka. Rupanya, mereka berkelahi karena memperbutkan sebuah makanan yang tersisa satu buah. Sebagai solusi, Baekhyun meminta pelayan untuk menyediakan kembali makanan yang habis tersebut dan memberikannya kepada mereka yang berkelahi dan menonton perkelahian itu. Konflik antara anak kecil itu selesai dan sebagai penutup, ia memberikan beberapa kalimat wejangan.
******
Malam pun tiba, Chanyeol dan Baekhyun telah bersiap untuk mengikuti upacara purnama merah. Yang satu ini sangat mendebarkan, terutama bagi Baekhyun karena kini semua orang berharap besar padanya. Upacara kali ini sebagian besar berisi doa. Tabib istana adalah orang yang berperan sebagai penggerak utama upacara malam ini. Dia menyerukan doa-doa permohonan dan harapan pada dewa dewi yang diaminkan oleh mereka semua. Upacara ini digelar tertutup dan hanya petinggi istana yang terlibat dengan raja dan ratu berada tepat dibelakang tabib yang menjadi pemimpin.
Ketika upacara doa selesai, Baekhyun dan Chanyeol dipisah untuk dimandikan dengan air yang terdiri dari bunga-bunga langka dan terbaik. Ada bunga edelweis yang dipetik dari puncak gunung tertinggi di Kerajaan XOXO, ada bunga mawar hitam yang sangat langka dan hanya tumbuh di negeri seberang, dan bunga anggrek shenzen yang berharga sangat mahal.
Acara mandi itu selesai dan setelahnya mereka dipertemukan di kamar raja untuk melakukan kegiatan inti. Ya, tentu saja itu adalah kegiatan bercinta yang biasanya dilakukan hingga matahari terbit di horizon. Hal itu mereka lakukan dengan harapan bisa segera mendapat keturunan sesuai yang kepercayaan XOXO selama ini.
“Apa kau sudah siap, Baekhyun?”
“Ya, aku sangat siap, Chanyeol.”
Dan ya, malam panjang itu dimulai dengan keduanya yang menghapus jarak dengan perlahan dan belahan bibir yang menempel.
