Work Text:
.
oOo
.
Ramainya koridor memang selalu menyambut pagi di sekolah. Kebanyakan siswa mengobrol di depan kelas—menghadap jendela yang langsung mengarah ke luar.
Para gadis meributkan kosmetik yang baru saja rilis. Juga pacar-pacar mereka. Atau festival sekolah yang akan diselenggarakan tak lama lagi. Siswa laki-laki kebanyakan membicarakan game yang mereka mainkan semalam. Juga tempat-tempat nongkrong yang sedang beken. Atau acara komedi mingguan sebelum tertawa terbahak bersama-sama. Intinya, tidak ada yang berbeda dari pagi-pagi lainnya di sekolah.
Baekhyun baru datang. Pemandangan itu menjadi hal utama yang ia pilih untuk diamati. Ramai, berlatarkan koridor yang tidak bersih dan juga tidak kotor—sekolah mereka sekolah yang biasa-biasa saja, jadi tolong jangan bayangkan sekolah seperti di serial televisi dengan anak-anak orang kaya di dalamnya—yang disiram cahaya matahari pagi dari jendela.
Seru juga menyaksikan bagaimana anak-anak itu bercengkrama setiap pagi. Tampak asyik, tanpa tahu bahwa bisa saja pada tarikan napas mereka yang berikutnya, sesuatu menghantam bangunan sekolah ini dan meratakannya jadi debu.
Baekhyun menghela napas. Secepat mungkin ia singkirkan pikiran-pikiran tak perlu itu. Semakin hari dirinya semakin overthinking saja. Mungkin hanya dia yang memikirkan hal-hal demikian random di pagi yang normal seperti ini.
“Psstt!!”
Langkah Baekhyun melambat. Sesaat ia berpikir darimanakah suara itu berasal. Namun detik berikutnya, Baekhyun segera sadar bahwa sesaat yang ia gunakan untuk berpikir itu benar-benar hanya membuang-buang waktunya saja.
Abaikan, Baekhyun. Abaikan.
“Psstt!!”
Benar-benar tidak ada malunya. Orang itu pikir berapa umur mereka sampai main psstt-psstt begitu?
Baekhyun mempercepat gerak kaki. Walaupun tak terlalu panjang, gerak kakinya ini cukup lincah. Ia mengutuk letak kelasnya yang berada di ujung koridor. Kelas yang lebih mirip ruang terbengkalai, karena letaknya yang sungguh tidak strategis dan cukup lusuh alias sesungguhnya terlalu bobrok untuk bisa disebut kelas dibandingkan dengan yang lainnya.
Oke, masalah kelas yang Baekhyun sebut lusuh itu—Baekhyun bahkan masih berbaik hati untuk tidak menyebutnya sebagai tempat pembuangan—kita bahas nanti saja. Sekarang lebih baik cepat menghindar sebelum si idiot itu berhasil menyusulnya.
“Oi, Baek!”
Baekhyun pura-pura tuli.
Oh, tapi tentu saja, panjang kakinya benar-benar tidak seberapa dibanding milik si raksasa Park itu. Jadi, hanya butuh waktu tiga detik sebelum sosok itu akhirnya menyejajari langkahnya setelah sempat ber- psstt-psstt ria—maksudnya, mengapa si tolol ini perlu memanggil-manggil dengan cara seperti itu kalau kaki panjangnya bisa langsung ia gunakan untuk berjalan menyambangi orang lain yang berada tak jauh darinya? Benar-benar.
“Coba tebak, siapa orang di dunia ini yang tidak bisa makan kue beras di kedai Bibi Jung?”
Baekhyun masih pura-pura tidak dengar. Dijawab maupun tidak, lelaki itu akan terus bicara. Lebih baik tidak usah buang-buang tenaga.
“Jawabannya; orang yang tidak pesan kue beras.”
Chanyeol tertawa keras. Bertepuk tangan seperti seekor monyet sirkus. Helai poni rambut mangkuk berantakannya yang sewarna gulali bergetar. Dan tas ransel bergambar karakter Ultraman yang masih bertengger di punggungnya semakin memperburuk pemandangan.
Sudut bibir Baekhyun berkedut. Tentu saja bukan karena dia ingin tertawa, hanya saja ia sedang benar-benar menahan diri agar tidak menendang makhluk ini jauh-jauh. Chanyeol sedang bicara padanya di depan orang banyak, dan orang-orang tentu akan berpikir mereka berteman (yah, memang iya, sih, tapi bukan itu poinnya). Hanya saja kenyataan itu terasa seperti hal yang luar biasa memalukan karena—ya ampun, jokes macam apa itu?
“Baek, hey—“
“Siapa, ya?” Baekhyun melirik sekilas, memilih fokus melangkah menuju kelas tercinta nya yang tinggal beberapa meter lagi. Dalam hal mencari perhatian Baekhyun, Chanyeol seperti tidak pernah kenal kata menyerah. Baekhyun sudah khatam sekali.
Park Chanyeol memasang wajah tersakiti. Tangan terangkat ke tempat di mana jantungnya berada. Seolah-olah pertanyaan Baekhyun baru saja menorehkan luka lebar nan menganga di sana.
“Kata-katamu menyakitiku,” katanya.
“Terserah.” Bola mata merotasi. Baekhyun tak lagi berniat mengacuhkan lelaki tinggi yang betah mengekorinya itu. Ternyata mengenal perangai Chanyeol yang luar biasa lebay ini selama lebih dari dua tahun masih juga membuat hatinya dongkol.
Sesaat sebelum memasuki kelas, Baekhyun heran mengapa Chanyeol tiba-tiba diam. Setidaknya, si jangkung itu haruslah berceloteh lagi. Minimal melempar lebih banyak candaan yang tidak ada lucu-lucunya.
“Baekhyun,”
Mendengar itu, dorongan untuk berprasangka buruk pada Chanyeol pudar.
Si tinggi itu memanggil Baekhyun dengan namanya.
Maksudnya, ia benar-benar menyebutkan namanya dengan lengkap alih-alih huruf depannya saja seperti biasa. Nada penuh kelakar juga absen. Kontras dengan sebelumnya saat lelaki itu melontarkan lelucon garingnya.
Dan itu berarti sesuatu serius sedang berusaha disampaikan.
Baekhyun melirik. Kali ini penuh antisipasi karena diam-diam ia tahu pasti bukan lelucon konyol lagi yang akan disuarakan oleh si jangkung.
“Radarnya berbunyi. Pagi ini.”
Tepat di pintu kelas, Baekhyun berhenti. Lebih tepatnya, terpaksa berhenti. Mood berputar cepat. Sisa rasa jengkel lenyap. Sebab apa yang Chanyeol katakan dengan suara teramat pelan itu sungguhlah bukan pemberitahuan biasa.
Radar berbunyi.
Baekhyun sejenak tercenung. Riuh koridor terasa seperti teredam. Pikirannya berusaha mencerna dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan.
“Lokasinya?” tanya Baekhyun, masih tertunduk pada lantai di bawah sepatu mereka.
Jawab tak kunjung Baekhyun terima. Sebelum Baekhyun sempurna mendongak untuk menuntut Chanyeol agar segera menjawabnya, lelaki itu bersuaralagi.
“Sekolah ini.”
Baekhyun terdiam, menelan ludah. Satu yang tidak akan ia tunjukkan dan memang tak kentara namun benar terjadi; jantungnya mulai berdegup kencang.
Oh, ia hanya tidak menyangka suasana hatinya dibuat berubah begitu cepat pagi ini.
Karena sedikit-banyak tidak terima, ia mencari-cari gurat kebohongan di wajah Chanyeol. Bisa saja laki-laki ini membohonginya, kan? Meski tahun-tahun yang mereka lalui telah memberi catatan bahwa nada bicara Chanyeol yang ini selalu bermuara pada topik yang lebih dari serius, Baekhyun tetap ingin memastikan.
Sebab mengetahui Red Force terdeteksi di sekolah mereka sama sekali bukan berita bagus.
Tapi Chanyeol membalas tatapan matanya. Kilat jenaka dari dua mata bulat itu sirna tak bersisa. Seringai jahil yang biasanya tampak bersama deretan giginya juga ketika dicari. Chanyeol menatapnya lurus-lurus.
“Hey, Bung. Permisi, kami mau masuk.”
Keduanya menoleh. Beberapa laki-laki yang tercatat dalam peraturan tak tertulis masing-masing siswa di sekolah ini sebagai anggota geng berandal telah berdiri di dekat mereka. Baekhyun menjadi yang pertama untuk sadar bahwa ia dan Chanyeol menutup akses masuk ke kelas.
Maka ia beranjak. Sambil lalu memberi kode pada pada Chanyeol sebelum lebih dulu masuk ke kelas menuju tempat duduknya.
“Limabelas menit,” katanya.
Itu bukan sandi dengan arti khusus yang rumit atau semacamnya. Sejujurnya, itu hanyalah cara yang biasa mereka gunakan untuk menyebutkan berapa lama lagi mereka harus bertemu di titik tertentu tanpa boleh ketahuan siapapun. Dan karena ini adalah sekolah, titik kumpul adalah pohon besar di pinggir lapangan belakang. Mereka memiliki beberapa titik lain di seluruh kota, titik-titik yang mereka atur sehingga di manapun Red Force terdeteksi, mereka selalu punya tujuan yang terletak di lokasi terdekat di sekitarnya.
Tepat limabelas menit pelajaran pertama berjalan, Baekhyun meminta izin pada guru pengajar untuk pergi ke toilet. Alasan klasik. Tapi tentu saja itu selalu berhasil. Dia dengan mudah mencapai lapangan belakang sekolah di tengah jam pelajaran. Chanyeol tiba menyusul beberapa menit kemudian.
“Kau yakin sekolah ini titiknya?”
Sambil mengeluarkan alat serupa GPS dari sakunya, Chanyeol mengangguk pasti. Layar kecil di permukaan alat itu menunjukkan titik merah redup yang berkedip-kedip pada satu koordinat.
“Sinyalnya lemah karena sepertinya dia sedang merepresi kekuatannya. Tapi kau lihat sendiri, ini koordinat sekolah kita.”
Keduanya menunduk memandang layar. Baekhyun benci mengakuinya, tapi kesimpulan Chanyeol memang benar. Itu sekolah mereka. Sebuta-butanya ia pada alat seperti itu, Baekhyun mengerti apa arti ketika titik ditemukan di dekat perpotongan sumbu.
Baekhyun berdecak. Dia sedikit kesal karena pikiran isengnya pagi tadi mengenai Red Force yang bisa saja menyerang sekolah hingga hancur harus disambut dengan kenyataan ini—kenyataan bahwa Red Force benar-benar berada di sekolah mereka. Kenapa pula makhluk itu harus bebas dari segel kemudian muncul di tempat seperti ini?
Berdecak sekali lagi, Baekhyun menyugar poni mullet merahnya ke belakang.
Menyegel Red Force memanglah sulit. Sangat amat sulit. Bahkan semakin hari, makhluk itu semakin kuat setiap kali Chanyeol dan Baekhyun menemukannya berkeliaran karena bebas dari segel. Salahkan kekuatan mereka yang entah mengapa belum cukup kuat untuk menyegel permanen makhluk itu.
Di samping itu, Chanyeol dan Baekhyun tidak pernah sampai hati mencoba menghancurkannya karena Red Force selalu muncul dalam wujud manusia.
Ah, bukan. Ia memakai tubuh manusia.
Red Force tidaklah berwujud. Atau setidaknya, begitulah yang diketahui dua remaja SMA itu. Dan mungkin karena suatu alasan yang ia kira ampuh digunakan demi memperdaya makhluk setengah manusia seperti Chanyeol dan Baekhyun, ia selalu muncul dengan menempati raga seseorang. Menyerang satu titik yang selalu menjadi bagian terkuat sekaligus terlemah dari manusia; hati nurani .
“Jadi.. di mana tepatnya?” tanya Baekhyun, mengamati titik di layar yang masih berkedip redup. Ia tak pandai membaca koordinat secara tepat. Ia selalu bergantung pada Chanyeol, karena lelaki itu jauh lebih paham, selain pula karena alat itu memang ciptaannya.
Beberapa waktu lalu saat kerjasama mereka sudah berjalan satu tahun lamanya, Chanyeol memunculkan ide akan sebuah alat yang dapat mendeteksi Red Force. Lelaki tinggi itu belum benar-benar tahu bagaimana caranya, sampai suatu hari ia mencoba menggunakan DNA dari seorang yang tengah digunakan oleh Red Force.
Saat itu, beberapa bagian tubuh termasuk jari dari orang yang menjadi korban terpotong—oke, ini memang menjijikkan, tapi itu benar-benar terjadi. Pertarungan berlanjut meski tubuh orang itu benar-benar sudah di ambang batas. Berbekal pikiran bahwa potongan itu mungkin saja akan berguna, Chanyeol mengantonginya—maaf, ini memang benar-benar menjijikkan, tapi mana sempat Chanyeol berpikir soal jijik di pertempuran hidup dan mati seperti itu? Padahal kalau dalam keadaan biasa, tentu saja dia akan lari terbirit-birit begitu menemukan potongan jari buntung di dekatnya.
Jadi begitulah, Chanyeol berhasil menciptakan alat yang kemudian mereka sebut dengan radar saat ini. Menggunakan DNA yang didapatkannya sebelum raga manusia itu bebas dari pengaruh Red Force sebagai sampel deteksi. Dan sebagai pihak yang lebih suka menggunakan otot dibanding otak, Baekhyun tinggal terima jadi saja. Dia tidak mau pusing-pusing.
Lagian, bagaimana pula caranya menggabungkan konsep bagian dari tubuh makhluk hidup dengan alat elektronik? Maaf, otak Baekhyun nggak nyampe . Herannya, mengapa si tiang ini sering dapat nilai jelek sementara dia mampu melakukan hal semenakjubkan itu? Baekhyun masih tidak habis pikir. Anak ini mungkin punya sedikit kelainan dengan motivasi belajarnya di sekolah.
“Kau tidak akan percaya ini,” kata Chanyeol. Baekhyun mengernyit menatap lelaki tinggi itu, menanti kelanjutannya tak sabaran. “Ini kelas 2-1.”
Baekhyun mengerjap.
Kelas 2-1? Kelas yang isinya murid-murid unggulan itu?
Lagi-lagi Baekhyun berdecak. Gusar. Kali ini tidak hanya poni, seluruh rambut merahnya ia acak-acak dengan tangannya sendiri.
Hal ini berarti dua; raga salah satu siswa kelas 2-1 atau guru yang tengah mengajar di sanalah yang kali ini menjadi korban. Ini akan sedikit lebih mudah kalau yang benar adalah kemungkinan kedua; guru mereka. Karena, yeah , Baekhyun tidak bisa bohong kalau ia membenci guru-guru di sekolah. Selain karena ia tak suka belajar, para guru memang sangatlah menyebalkan dengan menjadi sosok pengajar yang yang-penting-aku-mengajar-paham-atau-tidak-itu-urusanmu . Jangan salahkan Baekhyun kalau ia jadi semakin malas belajar dan semakin benci pada sekolah ini.
Tapi lain lagi jika ternyata sebaliknya; salah satu siswa kelas 2-1 lah yang diperalat Red Force. Kalau sudah begitu, Baekhyun benar-benar tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya. Anak-anak 2-1 itu lugu-lugu sekali. Hanya berisi 20 orang, kelas itu sudah seperti kumpulan anak-anak polos yang mendedikasikan hidupnya pada dunia pendidikan. Baekhyun kasihan pada mereka yang seolah diperalat oleh sekolah untuk mempertahankan reputasi yang tak seberapa.
Ya, biar badung begini, Baekhyun masih punya belas kasihan. Dia tentu saja tidak pernah menghakimi murid-murid polos seperti itu. Ugh, apalagi Chanyeol. Lelaki itu bahkan menangis melihat seekor anak anjing yang duduk manis di luar kafe yang mereka datangi di suatu hari, mengatakan kalau anjing itu pasti tersesat, pasti kelaparan, pasti butuh kasih sayang—padahal, pemiliknya datang tak lama kemudian. Dan Chanyeol dikira seorang weirdo yang tengah berusaha menculik peliharaannya.
“Bagaimana?”
Pertanyaan Chanyeol menyadarkan Baekhyun. Astaga, dia melamun. Dan kenapa pula ada bayangan Chanyeol menangisi anak anjing dalam lamunannya?
“Bagaimana lagi, kita tunggu sampai waktu istirahat. Lima menit sebelum bel, standby di depan kelas 2-2,” ujar Baekhyun memberi komando. Chanyeol tiba-tiba saja kembali pada mode konyolnya dan memberi gestur hormat.
“ Okey dokey .”
Baekhyun mendengus, lantas berbalik hendak kembali lebih dulu ke kelas mereka.
“Hey, Baek,” panggil Chanyeol, dibarengi dengan gerakan tangannya menahan pergelangan tangan Baekhyun. “Kukira kita akan lanjut membolos pelajaran ini?”
Baekhyun mengangkat sebelah alis. “Apa nilaimu masih kurang jelek sampai mau membolos lagi?”
“Ayolah, bagaimana dengan sekaleng jus dingin baru kembali ke kelas?” Chanyeol memajukan bibirnya, membuat Baekhyun harus mengernyit jijik disajikan pemandangan lelaki jangkung puber yang ngambek seperti itu.
Dan anehnya Baekhyun malah kalah oleh aksi membujuk andalan Chanyeol itu.
Meski memutar bola mata seolah enggan, Baekhyun tak menolak saat lelaki tinggi itu menariknya ke kantin.
.
.
Seperti apa yang dikatakan Baekhyun, lima menit sebelum bel istirahat keduanya telah menyelinap meninggalkan pelajaran lebih dulu dan mengambil tempat di area kisaran kelas 2-2 dan 2-1.
Sementara Chanyeol mengambil tempat di depan tangga sebelum tikungan menuju koridor utama kelas 2-2 dan menyembunyikan tubuh tingginya di sana, Baekhyun bersandar santai di jendela yang tepat berseberangan dengan si jangkung—mengamati lapangan yang diisi oleh gerombolan anak kelas 1 dengan seragam olahraga mereka sambil menghitung mundur dalam hati.
Membaur. Sembunyikan auramu sebisa mungkin. Kau, tetap di sana sampai koridor sudah ramai oleh siswa lain.
Chanyeol memutar sekali lagi arahan Baekhyun dalam kepala. Sambil turut bersandar pada dinding di balik punggung, ia menoleh mengarahkan mata bulatnya mengamati sosok mungil dengan mullet merah itu. Santai, tenang. Sekilas hanya terlihat seperti siswa tukang bolos biasa yang iseng mengamati pemandangan di luar jendela.
Tetapi Chanyeol tahu, Baekhyun awas sepenuhnya. Seperti, kalau seujung jari saja kau mencoba mendekatinya dari belakang, ia akan dengan sigap menangkis bahkan menyerang balik. Jemari lentik tangan kiri yang tidak lelaki itu gunakan untuk menopang tubuh pada bingkai jendela mengetuk-ngetuk pelan di atas garis kain celananya. Presisi satu detik tiap ketukan.
Persis nada pertama bel istirahat berkumandang, Chanyeol bersiap. Baekhyun menghitung beberapa detik tambahan sebelum mengalihkan pandangannya ke arah kelas 2-1 tepat ketika isi kelas tersebut benar-benar telah menyelesaikan pelajaran.
Ia mengamati. Masih menunggu. Penghuni kelas 2-1 memang dikenal betah berlama-lama di kelas, jadi ketika isi kelas lain bahkan sudah berhamburan keluar, beberapa siswa kelas unggulan tersebut baru mulai menampakkan batang hidung di koridor.
Chanyeol telah membaur sejak beberapa detik lalu. Ia melakukannya dengan baik meski tubuh tingginya cukup menonjol. Lelaki itu sesekali menyapa siswa dari kelas lain. Sebelah tangan tersimpan dalam saku, diam-diam menggenggam radar pelacak. Pada satu-dua detik di mana tubuhnya persis terapit ramainya siswa kelas lain, ia mengeluarkan alat itu. Melirik dan membacanya cepat.
Ia menelan ludah. Memasukkan kembali benda itu ke saku. Saat menolehkan kepala dan mendapati Baekhyun tengah menunggu konfirmasinya, Chanyeol hanya mampu berkerut dahi lantas menggeleng. Itu jelas memancing gurat yang sama dari yang berambut merah.
Apa maksudmu?
Bahkan hingga Baekhyun menjamah kelas 2-1 secara langsung dengan alibi mencari seorang temannya, mereka tidak menangkap basah siapapun. Padahal, ciri fisik dari seorang yang tengah berada di bawah kendali Red Force tidaklah sulit untuk dikenali. Tetapi Baekhyun tidak menemukan satu pun murid dengan kulit putih pucat seperti mayat dan lingkar kemerahan di mata.
Titik merah pula justru menghilang dari layar radar tepat ketika bel istirahat berbunyi. Dan Chanyeol baru menyadarinya saat ia mengeluarkan benda itu di tengah keramaian tadi.
“Kau yakin alatnya tidak rusak?” tanya Baekhyun gusar. Mereka kembali ke lapangan belakang segera setelah menyadari tidak ada satu informasi pun didapat. Hampir seluruh jam istirahat mereka terpakai untuk berputar-putar di lantai yang sama.
“Tidak, Baek. Alat ini punya akurasi tinggi. Bukankah selama ini kita selalu berhasil menemukan dia dengan petunjuk dari alat ini?” Chanyeol membantah. Meski, rautnya sama bingungnya dengan si rambut merah.
“Tapi mungkin saja dia rusak, kan? Mungkin sejak awal Red Force memang tidak pernah ada di sekolah ini dan titik merah itu hanyalah sebuah kesalahan.”
“Baek, aku meninjau ulang sistem alat ini setiap malam demi memastikannya selalu bekerja dengan baik,” kata Chanyeol, membela.
“Begini, Park-jenius-Chanyeol. Alat atau mesin paling mutakhir pun punya kemungkinan menjadi rusak sewaktu-waktu. Bahkan ada yang dinamakan human error untuk manusia. Bagaimana kau bisa seyakin itu?” Baekhyun semakin memberi penekanan pada tiap katanya. Jemari sesekali menunjuk alat yang kini berada di genggaman Chanyeol. “Dan daripada memeriksa alat itu setiap malam, kenapa kau tidak belajar saja untuk memperbaiki nilaimu? Kau lebih dari mampu untuk menguasai seluruh pelajaran sekolah.”
“Baek, aku merasakannya. Dia ada di sini,” kata Chanyeol lagi, mengembalikan topik berusaha meyakinkan karena ia sungguh memiliki firasat itu.
Tetapi Baekhyun memiliki cara berpikir yang sama sekali berbeda. Dalam banyak hal, mereka memang begitu bertolak belakang.
Si rambut merah memutar bola mata jengah, berupaya mengendurkan urat yang sempat menegang karena kesal dengan si tinggi ini.
“Sudahlah. Bicara denganmu selalu saja menyebalkan,”
“Baek—“
“Kita kembali ke kelas.” Baekhyun memutar langkah lebih dulu. Enggan melanjutkan pembicaraan. Chanyeol mungkin terlalu bodoh untuk memahami apa yang ia coba sampaikan.
Di tempatnya, Chanyeol menghela napas kecewa. Ia sekali lagi memeriksa betul-betul alat di genggaman tangan.
“Kau membuatnya kesal lagi.” Chanyeol mengetuk-ngetuk kesal permukaan layar mungil itu. Menyalahkannya, sekaligus dirinya sendiri.
.
oOo
.
Siang hari di ruangan yang—seperti biasa—lebih suka Baekhyun sebut sebagai tempat terbengkalai daripada kelas, pelajaran berlangsung bersama separuh kelas yang terkantuk-kantuk. Sementara, guru di depan kelas terus melanjutkan materi dengan begitu lapang dada.
Baekhyun menopang dagu. Tangannya yang lain memutar-mutar satu-satunya bolpoin yang ia bawa di tengah apitan jari-jemarinya. Nah, benar ‘kan, guru di sekolah ini memang segitu tidak pedulinya tentang apakah anak-anak didiknya paham atau tidak. Padahal mereka punya wewenang untuk melakukan apapun itu demi memaksa seisi kelas memperhatikan penjelasannya.
Baekhyun melempar pandangannya ke luar jendela. Terik. Seperti biasa, lapangan utama selalu akan terisi oleh satu atau dua kelas yang mendapat jadwal pelajaran olahraga.
Melihat pemandangan itu, semakin membuat Baekhyun berpikir betapa bermain basket atau sepak bola jauh lebih menyenangkan dibanding belajar di kelas. Apalagi kelas 2-4; kelas paling ujung yang sialnya menjadi tempat ia bernaung selama tahun keduanya di SMA. Sial sekali karena selain kelas 2-1, kelas diacak entah dengan sistem apa. Dan Baekhyun menjadi salah satu tidak beruntung yang menerima kehormatan menempati kelas ini bersama berbagai jenis siswa yang unik ragamnya melebihi hewan langka.
Mungkinkah ia harus belajar lebih giat dan masuk ke kelas unggulan? Kelas 2-1 juga jadi satu-satunya kelas yang jendelanya terhubung langsung dengan lapangan utama seperti kelas 2-4, kan? Ia tak akan mati kebosanan jika seperti itu.
Baekhyun menggeleng. Saking pikiran tak berada di tempat yang seharusnya, ia mulai berpikir yang aneh-aneh. Tentu saja dia tidak akan mau masuk kelas itu dan menjadi budak sekolah. Lagian, sepertinya otaknya tidak akan memadai.
Sedang asyik-asyiknya Baekhyun melamun, suara derit dari kaki kursi yang digeser memecah hening di baris meja-meja murid. Guru di depan kelas menghentikan penjelasannya. Chanyeol berdiri dari kursinya menghampiri pria paruh baya itu. Meminta izin pergi ke toilet.
Baekhyun mengamati pergerakan lelaki tinggi itu. Dan ia melihatnya.
Bagi orang lain, Chanyeol mungkin hanya semata memasukkan kedua tangannya ke dalam saku seperti yang biasa siswa laki-laki lain lakukan. Tetapi Baekhyun hafal betul gestur itu.
Chanyeol menggenggam radar itu di balik kain saku celananya.
Baekhyun mengangkat sebelah alis. Jadi, si bodoh itu berniat bergerak sendiri tanpa dirinya? Karena, wow , ini adalah pertama kalinya.
Mendecih, Baekhyun lantas menggeleng singkat.
“Kalau memang Red Force ada di sini, kenapa tidak sekalian saja ia serang bangunan ini dan meratakan seisinya?” gumamnya, kembali membuang pandang ke luar jendela.
Kening Baekhyun berkerut kala beberapa menit kemudian, ia menemukan sosok Chanyeol di pinggir lapangan utama. Mengawasi keadaan kesana-kemari dengan pergerakan mulus.
“Byun Baekhyun.”
Baekhyun sedikit terperanjat. Terpaksa menoleh saat namanya disebut.
“Apa yang kau ketahui tentang DNA?” tanya sang guru pengajar dari depan kelas, membuat beberapa dari penghuni kelas turut menoleh kepadanya.
Putaran bolpoin di antara jemari berhenti. Pertanyaan itu cukup membuatnya mati kutu.
Sial, dari kecilnya kemungkinan guru sekolah ini menegur siswa yang tidak memperhatikan, kenapa harus dia yang harus jadi sasaran sekalinya itu terjadi?
Baekhyun menggaruk pipinya sekilas. DNA, ya? Chanyeol pernah mengatakan sesuatu tentang itu. Dan karena ini bab baru, tentu saja Baekhyun belum mempelajarinya.
“Dia.. terdapat di setiap potongan tubuh..?”
Jawaban Baekhyun mengundang asimetri pada alis sang guru. “ Well , itu tidak terlalu menjawab dan.. sedikit unik. Tapi juga tidak sepenuhnya salah.”
Setelah sebuah kalimat teguran kosong berisi perintah untuk tidak terlalu sering menatap ke luar jendela sambil melamun, pelajaran dilanjutkan. Seolah melupakan apa yang baru saja diperintahkan padanya, Baekhyun kembali menoleh ke luar. Kembali mencari-cari sesuatu untuk menghilangkan bosan.
Sayangnya objek yang ia cari sudah tidak berada di sana.
Hingga waktu istirahat tiba, Chanyeol tidak juga kembali ke kelas.
.
.
“Baekhyun!”
Si pemilik nama menoleh begitu mendengar namanya diserukan. Kegiatannya menyisir lapangan utama sekolah dan sekitarnya terpaksa terhenti. Seorang siswa dengan potongan rambut rapi dan seragam olahraga mendekat ke arahnya, berjalan kepayahan bersama tiga buah matras lebar di apitan kedua lengan.
“Junmyeon?”
“Hai.” Dengan dahi berpeluh, lelaki itu tersenyum ramah padanya.
Kim Junmyeon, si ketua OSIS sekaligus si paling unggul di antara yang unggul. Tidak ada yang tidak mengenalnya. Mungkin dari seluruh penghuni kelas 2-1, hanya Junmyeon yang masih tampak normal alias tidak benar-benar kelihatan seperti maniak belajar—setidaknya bagi Baekhyun. Junmyeon cukup menarik secara penampilan dan lumayan pintar bergaul dibanding siswa kelas 2-1 yang lain.
“Bisa kau bantu aku mengembalikan ini semua ke gedung olahraga? Guru Bong memaksa menggunakan alat-alat ini di lapangan tadi. Dan sekarang aku yang harus mengembalikan semuanya karena anak-anak sudah pergi ke ruang ganti,” katanya.
Melihat si ketua OSIS bahkan terengah saat menjelaskan semua itu padanya, Baekhyun cepat-cepat mengambil alih dua matras dari laki-laki itu.
“Tentu,” kata Baekhyun, mulai berjalan mendahului langkah Junmyeon menuju gedung olahraga sekolah mereka yang tak seberapa luas.
“Eh, satu pun tidak apa-apa—“
“Sudahlah. Aku ini lebih kuat darimu, tahu,” tukas Baekhyun.
Junmyeon mengekeh. Ia ia turut membenahi satu matras yang tersisa di apitan lengannya dan segera menyamakan langkah.
“Terima kasih. Beruntung sekali aku mengenalmu.”
Itu mungkin seharusnya sebuah pujian, tetapi rasa-rasanya, bagi Baekhyun terdengar seperti omong kosong. Berlebihan. Soalnya, mereka ini tidak seberapa dekat. Atau cuma dirinya saja yang terlalu berburuk sangka? Duh, Baekhyun tidak mengerti cara orang-orang pintar memuji. Sepertinya mereka punya cara-cara yang tidak akan bisa dipahami oleh rakyat rata-rata sepertinya.
“Kau berlebihan,” katanya kemudian.
Sementara keduanya berjalan beriringan, pintu gudang penyimpanan yang terletak berlawanan dari arah yang menjadi tujuan dua lelaki itu berguncang hebat. Suara benturan keras terus-menerus terdengar dari dalamnya. Tak beraturan. Gaduh.
Di ruang pengap di baliknya, Chanyeol berusaha menghancurkan pintu tersebut karena demi Tuhan, usahanya mendobrak pintu besi karatan itu selama setengah jam terakhir sama sekali tak berguna.
Sial , Chanyeol mengumpat dalam hati. Terengah. Menghentikan usahanya sejenak, ia menatap layar dari benda kecil yang sejak tadi bersembunyi di balik kepal tangan.
Dia menemukannya. Titik merah itu muncul sekitar setengah jam lalu pula. Red Force benar-benar ada di sekolah dan entah bagaimana caranya bersembunyi dengan begitu baik di hari kemarin.
Chanyeol mengacak rambutnya gusar. Titik itu terus bergerak menjauh dari gudang.
Sesungguhnya, ia belum tahu persis siapa—raga siapa yang kali ini ditempati makhluk itu. Belum genap dua puluh detik saat titik merah kembali muncul dan berkedip-kedip di permukaan layar dan Chanyeol berusaha mengikutinya, ia justru berakhir di gudang ini. Merasa nyaris menang. Titik itu sempurna mengarahkannya pada tempat pengap ini.
Sayangnya, pintu tiba-tiba terkunci dari luar. Entah oleh siapa. Atau—tidak, jelas-jelas itulah dia . Dan meninjau bagaimana pintu besi itu sungguh tidak bereaksi setelah berkali-kali didobrak dari dalam, Chanyeol menduga ada sebuah batang baja yang diletakkan di sisi satunya. Menahan bukaan pintu.
Kali ini terasa sama gawatnya. Sama seperti bagaimana situasi saat ia menemukan titik merah itu di sekolah untuk pertama kalinya kemarin. Kalau tipu daya seperti ini sampai dilakukan, itu mungkin menjadi pertanda adanya rencana yang jauh lebih besar dari sebuah penyerangan biasa. Red Force selalu muncul ke hadapannya tanpa basa-basi seperti ini.
Dan meski berusaha menyangkal atau malah sama sekali menolak, Chanyeol merasa sesuatu buruk bisa saja terjadi pada Baekhyun. Sebab hanya ia dan Baekhyun yang selalu berurusan dengan makhluk itu.
Pintu didobrak sekali lagi. Nihil lagi. Pintu besi terlalu kokoh.
Chanyeol berdecak. Alat di genggaman ia letakkan sejenak beberapa meter darinya, di lantai tepat di samping sebuah kardus besar penyimpanan. Ia lantas kembali mendekati pintu. Menatapnya lekat, berpikir.
Pintu di hadapannya pastilah terbuat dari besi campuran. Titik leburnya jelas berbeda dengan unsur besi murni dan Chanyeol kesulitan memperkirakan berapa suhu yang diperlukan untuk melunakkan pintu tersebut.
Semenit berpikir, Chanyeol berhenti. Setidaknya ia akan mencoba meski perhitungannya sama sekali belum jelas. Ugh , kalau saja pintu gudang terbuat dari kayu seperti pintu-pintu ruangan lainnya di sekolah ini, ia akan lebih mudah mengatasi situasi.
Tangan kanan diangkat. Telapak menengadah ke atas. Chanyeol memusatkan atensi dan banyak energi ke bagian tersebut. Berkonsentrasi. Kepul asap mulai muncul di atasnya. Semakin lama semakin pekat, sampai tercipta cahaya temaram oranye kemerahan. Api.
Semakin ia mengerahkan energinya, api yang muncul di permukaan telapak tangan semakin naik. Berkobar dari kecil hingga makin besar. Membumbung.
Telapak berselimut api diarahkan ke gagang pintu. Lama. Diikuti peningkatan suhu hingga warna api berubah biru yang kian membutuhkan banyak energi. Chanyeol berusaha menahan kobarnya lebih lama. Dahi semakin berpeluh. Upaya ini cukup banyak menguras tenaga. Selama itu, ia bisa mendengar bunyi bel. Tanda jam istirahat yang sudah berakhir.
Sampai ketika dirasanya cukup, Chanyeol membuat padam api. Gesit meraih patahan kaki kursi dengan sebelah tangannya yang bebas. Tongkat ia pakai untuk membuat celah dari bagian pintu besi yang telah melunak. Mencungkil, sesekali memukul.
Letak gudang yang begitu terpencil di area sekolah menyebabkan semua kebisingan yang Chanyeol ciptakan tak sama sekali menarik perhatian siapapun. Dia tidak tahu harus bersyukur ataukah mengumpat untuk itu.
Celah terbentuk dan cahaya mengintip masuk. Chanyeol mengulangi upayanya dari awal untuk menargetkan bagian lain agar celah yang mampu dibuat semakin besar, setidaknya sampai cukup lebar dan tinggi untuk tubuhnya menyelinap keluar.
Kemejanya sudah basah sepenuhnya saat itu berhasil. Radar diambil kembali dan Chanyeol keluar dari gudang dengan berpeluh. Meninggalkan pintu yang salah satu sisinya menganga dengan cara yang ganjil.
Chanyeol mengibas bagian bahu kemejanya. Debu-debu banyak menempel karena upaya mendobrak pintu itu berkali-kali. Ia menoleh sejenak pada pintu yang berhasil ia kacaukan bentuknya. Sekarang dibanding gudang penyimpanan, tempat itu terlihat lebih mirip kotak kardus bobrok yang dilubangi salah satu sisinya dengan cara yang sama sekali tidak rapi.
Ah, ia baru saja menciptakan kekacauan dengan membuat celah aneh di pintu salah satu fasilitas sekolah. Tetapi ia betul-betul tidak sempat kalau harus memikirkan dampak dari perbuatan itu. Yang terpikir hanya, berusaha secepat mungkin memastikan prasangkanya salah. Prasangka yang sungguh ingin ditampiknya mentah-mentah.
Jadi tanpa menunda lagi, ia berlari cepat kembali ke kelas. Ia gundah, sejujurnya.
Tetapi ketika sampai di depan pintu kelas yang sudah berada di tengah pelajaran dan mendapati Baekhyun duduk di tempatnya, bertemu tatap dengannya dan baik-baik saja, Chanyeol menghela napas lega. Soal hardikan dari guru pengajar tentang keterlambatannya, ia tidak peduli. Jika Baekhyun aman, berarti tidak apa-apa.
Mungkin si mungil berambut merah itu benar tentang dirinya yang mungkin saja salah. Perasaannya tentu saja tidak mungkin selalu akurat.
Siang itu, Chanyeol menjalani hukumannya untuk berdiri di depan kelas dengan kepala yang tak hentinya memikirkan kemungkinan-kemungkinan.
.
.
“Baek,” Chanyeol meraih pergelangan tangan seorang yang ia panggil, menghentikan langkah si empunya di tengah lalu-lalang siswa yang ingin meninggalkan sekolah.
Baekhyun menggumam, mengangkat alis bertanya.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Chanyeol.
Di hari-hari biasanya, pertanyaan itu seharusnya terdengar konyol. Sebab si jangkung ini seharusnya tinggal bicara saja. Tapi sejak kemarin, Baekhyun sendiri sampai merasakannya. Bahwa Chanyeol berubah sedikit diam dan tidak sama sekali penuh kelakar seperti biasanya. Kemarin itu, mereka bahkan tidak meninggalkan kelas di waktu yang sama karena Chanyeol pergi lebih dulu dengan terburu.
Setelah sempat beberapa lama menyipit menatap si tinggi, Baekhyun menggeleng kecil. “Kau aneh.”
Chanyeol nyengir. Tapi toh ia memperoleh apa yang dimau setelahnya. Lapangan belakang dilalui beberapa siswa saat akhirnya ia dan Baekhyun sampai di sana, tetapi ia pikir masih cukup kondusif bila hanya ingin menanyakan apa yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
“Apa?” Dengan kedua tangan di dalam saku celana, Baekhyun bertanya tepat setelah mereka sempurna berhadapan.
“Kau.. baik-baik saja?” tanya Chanyeol.
Di mata Baekhyun, si tinggi besar ini tiba-tiba terlihat seperti seekor marmut—tapi berukuran raksasa—saat bertanya takut-takut seperti itu. Sebelah alisnya kemudian terangkat, “Kau sungguh menanyakan itu saat jelas-jelas aku berdiri dan bicara di hadapanmu begini?”
“Ugh.. ya. Siapa tahu, kan.” Chanyeol mengusap tengkuknya.
Baekhyun mulai menyipitkan mata curiga lagi. Sesuatu haruslah terjadi—atau setidaknya dipikirkan laki-laki ini—sampai ia bertanya seperti itu. Dan lagi, semakin mencurigakan saat teringat bagaimana Chanyeol muncul di pintu kelas saat pelajaran sudah berjalan separuhnya, berkeringat terengah seperti habis dikejar anjing.
“Katakan,” pinta Baekhyun. Sebuah perintah mutlak versinya untuk memaksa siapapun mengatakan apa yang disembunyikan. Oh, maksudnya, memaksa Chanyeol.
Chanyeol yang sempat melarikan pandangan ke sembarang arah dipaksa kembali menatap balik dua sipit itu ketika pinta itu terdengar. Ia menghela napas. Bahu yang entah sejak kapan terasa sedikit tegang berangsur mengendur.
Berkedip dan diam-diam menimbang, Chanyeol hanya menjawab, “Tidak. Hanya.. kau tahu, feeling .”
Mata masih menyipit. Tubuh mulai condong ke depan. Baekhyun beralih bertolak pinggang. “Apa?”
Berkedip lagi. Karena tidak berniat mengatakan apa yang menimpanya di gudang tadi, Chanyeol membutuhkan lebih banyak waktu untuk memikirkan alasan. Menutup-nutupi hal di depan Baekhyun baginya adalah sebuah kesulitan besar.
“Yeah.. masih sama seperti kemarin,” kata Chanyeol pada akhirnya.
Baekhyun menarik diri. Kembali berdiri tegak. Hela napas diambil. “Dan kau masih juga berpikiran kalau Red Force benar-benar ada di sini di saat kita semua masih baik-baik saja sampai detik ini?”
Hanya memainkan bibirnya, Chanyeol tak menjawab.
Satu lagi helaan napas, sorot mata yang lebih pendek berubah lebih lembut.
“Tenanglah. Dia pasti sudah kita temukan kalau memang dia ada di sini,” katanya.
Lesung di pipi kiri terbentuk saat Chanyeol memasang tampang berpikirnya. Meski pikirannya tak sejalan— ia masih terngiang pada kejadian di gudang, demi Tuhan —ia mengangguk.
“Baek,” panggilnya lagi.
“Hm?”
Kali ini, Chanyeol mantap berusaha menanyakan satu saja kekhawatirannya. “Kau mungkin.. bertemu seseorang seharian ini?”
Baekhyun kembali mengernyit. Lagi-lagi menanggapi aneh pertanyaan itu.
“Kau bercanda? Tentu saja aku bertemu banyak orang di sekolah sebesar ini,” tukasnya.
“Tidak. Maksudku.. astaga, kenapa sulit sekali menjelaskannya.” Chanyeol mengusap wajah. “Baiklah. Bagaimana dengan sekitar jam istirahat?”
Dengan kerut dalam di dahinya, Baekhyun sudah siap memuntahkan sekian banyak kata sebagai wujud kekesalannya atas semua perkataan Chanyeol yang menurutnya kian aneh dan menyebalkan, tapi semua itu sempurna tertelan kembali saat sesuatu melintas di dalam kepalanya.
Chanyeol begitu buruk menjelaskan maksud pertanyaannya tapi, Baekhyun begitu saja teringat sesuatu yang entah mengapa terasa sesuai dengan apa yang berusaha digambarkan Chanyeol.
Jam istirahat di sekolah mereka tidak lama. Dan dalam waktu yang singkat itu, Baekhyun memang berpapasan dengan banyak orang. Yeah, ini sekolah dan tentu saja banyak siswa-siswi, guru, ataupun petugas kebersihan yang berlalu lalang. Tapi waktu singkat istirahat hanya ia habiskan bersama satu orang.
“Junmyeon,” katanya menyuarakan. “Maksudmu Junmyeon?”
“Junmyeon? Ketua OSIS kita?” Chanyeol berkerut dahi.
Baekhyun mengangguk. “Aku membantunya memindahkan matras ke gedung olahraga. Yah, dan rupanya dia cukup banyak bicara juga—“
“Kau bertemu Junmyeon di jam istirahat?” potong Chanyeol, membeo.
“Ya,” jawab Baekhyun heran. “Kau ini kenapa, sih?”
Chanyeol terdiam. Ia tahu apa yang terjadi hari kemarin seharusnya cukup menyadarkannya bahwa sebuah prasangka tidaklah cukup untuk membuktikan apapun, tapi Chanyeol pun tidak bisa menyangkal kalau dibanding prasangka, beberapa hal lebih terlihat seperti dot yang saling berhubungan.
“Gedung olahraga, ya,” gumamnya.
Mendengar itu Baekhyun berdecak. Kesal. “Apa yang sebenarnya kau pikirkan, idiot? Kenapa kau terus mengatakan hal yang tidak kumengerti?” tuntutnya.
“Baek, kau tidak akan suka mendengarnya,” kata Chanyeol. Memelas. Sungguh, ia tidak suka membuat Baekhyun kesal selain dengan guyonan bodohnya. Tidak dengan hal serius seperti ini. Jika ia mengatakan bahwa isi kepalanya telah merangkai probabilitas bahwa ia mencurigai Junmyeon sebagai sosok yang ‘membawa’ Red Force, Baekhyun mungkin akan lebih dari sekadar kesal padanya.
“Katakan.” Baekhyun meminta lagi.
Beberapa detik diam. Chanyeol sudah berusaha menahan tapi lagi, pinta Baekhyun sudahlah seperti sesuatu yang mutlak bagi motoriknya.
“Red Force mungkin, ada pada tubuh Junmyeon.” Chanyeol berkata pelan, pelan sekali setelah sebuah hela napas singkat.
Alis Baekhyun menukik. Membuat sesuatu dalam diri Chanyeol otomatis berkata dalam hati; tuh ‘kan, apa kubilang .
Baekhyun tampak akan menghujaninya dengan sumpah serapah. Tapi kemudian urung. Si mungil dengan mullet merah itu membuang napas sekaligus pandangnya. Lantas kembali lagi pada Chanyeol, tampak ingin marah besar, tapi kemudian urung lagi. Yang dilakukannya kemudian hanya menunduk memijat pelipisnya.
Beberapa detik, Baekhyun kembali mendongak menatap Chanyeol.
“Awalnya kupikir kau mungkin bisa menjadi ilmuwan suatu saat nanti, Chanyeol. Tapi kurasa lebih baik kau jadi cenayang saja,” katanya malas.
“Baek—“
“Tidak mungkin, kan?” tanya Baekhyun gusar dan penuh penekanan. Tapi sepertinya ia sudah berusaha cukup keras untuk tidak mengomeli Chanyeol.
“Aku tidak melihat apapun. Apapun . Tidak ada tanda-tanda apapun pada Junmyeon.” Baekhyun melanjutkan dengan penekanan lebih namun kian pelan. Sekolah menyepi. Sudah tidak tampak siswa yang melalui lapangan belakang itu seperti satu-dua yang sempat melintas tadi. Tapi cukup berisiko untuk mereka membicarakan hal seperti ini tanpa memelankan suara.
“Kau mungkin bisa mulai memeriksa radar buatanmu saja dan berhenti berspekulasi. Kau mempersulit dirimu sendiri,” lanjut Baekhyun menunjuk-nunjuk Chanyeol dengan ujung jarinya. Sesuatu yang biasa sekali ia lakukan di kala gusar, ingin menyumpah serapah tetapi berusaha ditahannya.
Chanyeol meringis. Perkataan Baekhyun ada benarnya. Sebagai seseorang yang jauh lebih penuh perhitungan, Baekhyun sering kali berperan banyak hal untuk keadaan seperti ini.
Minus sebuah fakta yang masih juga Chanyeol simpan sendiri, yaitu hal ganjil yang membuatnya terkunci di dalam gudang beberapa waktu sebelum jam istirahat tadi.
“Kau benar,” kata Chanyeol. “Maaf. Lupakan saja. Aku akan memeriksa radar kita malam ini.”
Baekhyun menarik napas panjang. Berusaha meredam kesalnya. Oh, ia memang cukup bersumbu pendek. Syukur ini Chanyeol. Kalau orang lain, sudah sejak tadi ia tarik kerahnya untuk bersiap menyadarkan dengan sebuah bogem mentah saking menyebalkannya.
“Bagus. Jangan lupa juga belajar untuk ulangan besok,” ujar Baekhyun sambil lalu. “Aku pulang duluan.”
Chanyeol mengangguk pelan dan Baekhyun berbalik. Pergi lebih dulu untuk kembali memutar menuju gerbang sekolah. Pintu belakang yang berada dekat lapangan sudah sejak lama tak digunakan.
Di sudut bangunan sekolah tepat sebelum ia berbelok, sekelebat bayangan terlihat. Baru saja terburu pergi.
Sejurus langkah Baekhyun ambil. Berbelok cepat mencari sesuatu yang menjadi sebab kelebat itu.
“Hoi!” panggilnya. Seorang siswa laki-laki. Berdiri membelakanginya, tampak baru saja terhenti setelah berusaha lari. “Sedang apa di situ?”
Dengan langkah patah-patah, siswa berambut pirang itu berbalik. Berdiri kikuk menghadapnya.
Baekhyun mendekatinya. Mengernyit. Orang ini benar-benar mencurigakan.
“H-hai, Baekhyun,” sapanya.
Heran, Baekhyun tak membalas sapaan itu. Samar-samar ia mengenali wajah kotak itu, sebab mereka mungkin beberapa kali berpapasan selama bersekolah di sekolah yang sama. Tapi selebihnya, ia tidak kenal. Ia pikir tetap mengejutkan mendapati siswa ini mengetahui namanya.
“Kau mengenalku?” tanya Baekhyun.
“Ya,” jawab lelaki kurus itu. “Uh.. k-kenalkan, aku Kim Jongdae. Murid kelas 2-2.” Ia mengulurkan tangan.
Skeptik menatap uluran itu, Baekhyun akhirnya menyambut. “Baekhyun.”
Kim Jongdae masih berdiri dengan canggung. Cengirannya bahkan kelihatan benar-benar aneh bagi Baekhyun.
“Aku pergi dulu, hehe. Dah, Baekhyun!”
Baekhyun terhenti di tempatnya mengamati bagaimana siswa itu melesat pergi. Terpikir betapa mencurigakan gelagatnya, juga kebetulan aneh melihat dia tampak akan kabur saat dirinya mendekat.
.
oOo
.
“Sekarang katakan padaku. Apa yang sedang kaucoba lakukan?”
Chanyeol berkedip-kedip. Membalas tatapan Baekhyun yang baru saja berbalik cepat, seolah menangkap basah gelagatnya yang mengikuti lelaki pendek itu sejak tadi—walaupun nyatanya, Chanyeol memang terang-terangan melakukan itu.
“..Menemanimu?”
Ini mungkin sudah terlalu sering terjadi belakangan tapi—alis Baekhyun menukik lagi.
“Menemaniku ke toilet ?!” Baekhyun berseru. Beberapa siswa yang melintasi koridor di jam istirahat itu menoleh ke arahnya, kaget sekaligus bingung untuk seruan barusan.
Chanyeol hanya menampakkan deretan giginya. Nyengir lagi. Makin-makin saja si tinggi itu membuat Baekhyun tak habis pikir dengan kekonyolan wajah juga tingkahnya.
Tampaknya Baekhyun sudah akan mengomel lagi, tapi panggilan alam sudah terlalu darurat. Jadi ia mendesis lantas berbalik. Melanjutkan niatnya menyambangi toilet. Tidak mempedulikan Chanyeol yang—astaga, orang itu benar-benar mengekorinya!
Selepas menyelesaikan urusannya, Baekhyun keluar dari bilik toilet. Mengelus perut yang akhirnya terasa lega karena bebas dari mulas.
Dan menemukan Chanyeol di luar bilik itu. Menunggu dengan sabarnya.
Baekhyun memutar bola mata. Bersedekap menatap malas pada kelakuan Chanyeol. Menghela napas, sembari lalu ia berkata, “Ikut aku.”
Lagi, mereka kembali ke lapangan belakang. Baekhyun tentu saja sadar bahwa ada sesuatu di balik sikap Chanyeol yang seharian ini benar-benar tidak membiarkannya sendiri.
“Kau ini sedang apa? Praktik jadi bodyguard ? Huh?” tanya Baekhyun, masih pula menyilang kedua lengannya dengan mata menyorot malas pada Chanyeol yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Um.. ya.”
Baekhyun memelotot. Kenapa pula si Chanyeol ini pakai mengiyakan?!
“Baiklah. Sekarang serius. Apa yang ingin kau katakan?”
Chanyeol berkedip. “Tidak ada.”
“Ck!” Lagi Baekhyun merasa matanya hampir saja keluar saking inginnya dia memelototi Chanyeol. “Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan dari kemarin, Chanyeol. Tapi kuharap kau tidak terlalu bodoh untuk menyembunyikan sesuatu dariku kalau memang itu sesuatu yang penting,” katanya, kali ini sepenuhnya serius.
Hela napas kecil meluncur dari mulut Chanyeol.
“Tidak ada, Baek. Anggaplah ini sesuatu yang kulakukan hanya untuk memastikanmu aman dari kecurigaanku sendiri.” Chanyeol menjawab, yang untungnya, cukup dipahami Baekhyun dengan segera.
Ini mungkin masih tentang masalah yang sama dengan kemarin. Dan karena Baekhyun masih berpegang pada pendapatnya bahwa Chanyeol sungguh hanya memiliki prasangka kosong, ia membiarkannya. Chanyeol terkadang memang perlu melakukan beberapa hal untuk menuntaskan rasa ingin tahunya sendiri.
“Karena kita sudah ada di sini jadi sekalian saja,” kata Baekhyun tiba-tiba.
“Apanya?” tanya Chanyeol.
“Kalau kau mau menaruh curiga, aku punya seseorang yang lebih cocok dibanding Kim Junmyeon.”
Chanyeol mengernyit. Tidak menyangka akan ada hal seperti ini dikatakan oleh Baekhyun.
“Kim Jongdae. Kelas 2-2.” Baekhyun berucap pelan. Masih bersedekap. Netranya sudah mulai menyorot serius. Sementara itu, Chanyeol dibuat terheran-heran oleh perkataan Baekhyun.
Kim Jongdae? Kenapa tiba-tiba dia?
“Ya, ya. Kau pasti mau bertanya kenapa , kan?” Baekhyun menyahut lebih dulu. Ia membasahi bibir. “Entahlah. Secara teknis, aku tidak mencurigainya sebagai inang . Tapi dia mencurigakan sekali.”
“Seperti apa?” Chanyeol bertanya lagi. Dia tahu Kim Jongdae. Walau cuma kenal nama saja, tapi ia tahu siapa yang Baekhyun maksud. Seorang siswa kurus berambut pirang yang tidak terlalu menonjol, namun dikenal Chanyeol sebagai salah satu anggota klub jurnalistik.
“Aku melihatnya kemarin. Setelah kita bicara di sini sepulang sekolah. Di sana.” Baekhyun menunjuk arah yang dimaksud dengan dagunya. “Dan pagi ini, aku beberapa kali menangkapnya memasang mata ke arah kita.”
Sempat berpikir sebentar, Chanyeol menimpali, “Itu saja?”
“Apa maksudmu itu saja?”
“Uh, ada lagi?”
“Tidak.”
Chanyeol diam. Menatap Baekhyun. Seakan masih menunggu kelanjutan meski jelas-jelas lawan bicaranya sudah berkata tidak.
Baekhyun memutar bola matanya malas. Lagi. “Mungkin ini sesuatu yang biasa kausebut.. apa itu? Feeling ?” Baekhyun mendecih. Menyadari di titik ini, ia tak ada bedanya dengan Chanyeol.
“Tapi tetap saja, menurutku, tidak ada yang perlu dicurigai dari Junmyeon—kalau-kalau kau masih memikirkan itu. Lebih masuk akal kalau kau menjadikan Kim Jongdae ini sebagai tersangka,” lanjut Baekhyun sambil lalu. Sesungguhnya ia sendiri merasa perkataannya sedikit konyol, tetapi tentu saja tidak lebih konyol dari ‘tuduhan’ Chanyeol pada Si Murid Teladan Junmyeon.
Terik siang sesekali diramaikan suara nyaring serangga tonggeret. Jam istirahat tetap tidak membuat pinggir lapangan belakang itu dilintasi siswa. Memang hanya jam pulang sekolah yang menjadikan tempat itu bisa dilalui siswa lain. Memberikan ruang bagi Baekhyun dan Chanyeol sehingga mereka bisa menjadikan tempat ini titik yang aman untuk membicarakan topik-topik tabu.
“Baek,”
Baekhyun mengangkat alis. Menanyakan maksud panggilan itu.
“Kupikir.. untuk sementara waktu.. jangan dekat-dekat dengan ketua OSIS itu dulu,” kata Chanyeol.
Baekhyun yang tadinya sudah tidak berminat menarik urat kini kembali tersulut. Ia kira sudah ada kesepakatan tersirat di antara mereka untuk tidak lagi-lagi menganggap serius prasangka sepihak dari Chanyeol itu.
“Dekat-dekat bagaimana? Bahkan kelas kita terpisah tiga ruangan dan satu koridor tangga dengan kelasnya, Park Chanyeol.” Baekhyun berujar gusar.
Menyahut cepat, Chanyeol telah sempurna berada dalam mode seriusnya. “Kau cukup lama berbincang dengannya tadi pagi.”
Baekhyun mengerutkan hidung. Baginya, cara Chanyeol mengatakan itu sudah seperti menangkap basah dirinya melakukan kesalahan saja. Dan itu benar-benar membuatnya kesal.
“Dia, hanya menanyakan pendapatku sebagai siswa biasa soal program OSIS yang akan datang, Tuan-jenius-Chanyeol. Dekat-dekat dari mananya?” jelas Baekhyun. Gemas akan kekeraskepalaan Chanyeol. Apalagi, permintaan agar ia tak lagi dekat-dekat dengan Junmyeon tadi itu sudah terdengar seperti ucapan posesif seseorang pada kekasihnya. Menyebalkan sekali.
Beruntung Chanyeol tidak lagi melanjutkan. Atau sempurnalah sudah kesalnya siang ini.
Chanyeol membiarkan ketika Baekhyun mengakhiri perbincangan dan pergi lebih dulu. Ada rasa kecewa—sedikit—darinya pada dirinya sendiri yang tidak mampu mengungkapkan dan menjelaskan dengan baik apa yang sesungguhnya ia maksudkan, dan membuat Baekhyun menerimanya.
Radar di dalam saku ditarik keluar. Digenggam di telapak tangan. Sebuah titik yang bersinar lemah muncul di sana. Hilang timbul. Tak jelas pula. Tepat di koridor kelas 2.
.
.
Pulang sekolah. Chanyeol tidak lagi melihat Baekhyun karena anak itu meninggalkan kelas lebih dulu. Sepertinya sikapnya tadi cukup membuat Baekhyun semakin malas terhadapnya.
Tipikal Baekhyun. Dia memang selalu seperti itu untuk sesuatu yang membuatnya kesal.
Koridor masih cukup ramai saat Chanyeol keluar. Khususnya kelas 2-1 yang bahkan baru saja membubarkan diri—itu sudah lewat lebih dari 10 menit sejak bel pulang berbunyi, omong-omong.
Seharusnya Chanyeol tidak perlu repot-repot menaruh atensi untuk itu. Adalah pemandangan biasa melihat kelas 2-1 baru berhamburan keluar lama setelah bel pulang. Tetapi bagaimana Chanyeol bisa mengabaikannya kali ini jika ia melihat Baekhyun menunggu di depan kelas itu?
Diikuti dengan kemunculan si ketua OSIS, yang rupanya langsung memulai obrolan hingga ia dan Baekhyun terlibat percakapan yang tampak cukup menyenangkan setelahnya.
Chanyeol sontak mengurungkan niat untuk meninggalkan sekolah. Tanpa benar-benar sadar telah memilih bersandar di depan kelasnya sendiri dan memandang jauh—tak suka—ke arah dua orang itu.
Apakah pendapat Baekhyun sebegitu pentingnya bagi keberlangsungan program OSIS?
Itupun kalau benar topik itu yang keduanya bicarakan.
Seketika teringat, Chanyeol meraba sakunya. Mengeluarkan benda yang beberapa hari belakangan semakin intens ia cek setiap beberapa waktu sekali.
Kosong.
Tidak ada apapun terdeteksi.
Ia menghela napas. Mungkinkah alat ini benar-benar rusak?
Tapi apapun itu, Chanyeol tetap tidak bisa begitu saja tenang melihat pemandangan itu. Ia tetap memancang mata ke sana, ke arah si pemilik mullet merah yang masih terlibat pembicaraan—sepertinya serius dan seru sekali—dengan si ketua OSIS teladan.
Ia risau, sungguh. Menaruh kecurigaan pada seseorang untuk sebuah perkara penting dan mendapati rekanmu semakin sering berkontak dengan orang tersebut tidak mungkin bisa membuatmu tenang-tenang saja. Maka begitu pula Chanyeol. Ia dan Baekhyun banyak berselisih pendapat belakangan ini. Di saat yang sama muncul interaksi tak biasa antara Baekhyun dengan seorang yang tak biasa pula.
Chanyeol tidak tahu kenapa hal itu terus-terusan memupuk kekhawatirannya. Juga—rasa tak suka yang lain.
Dua pasang mata bertemu. Chanyeol meneguk ludah yang terasa mengganjal tenggorokan saat dua mata sipit itu terarah padanya secara tiba-tiba. Tapi tidak juga dia mengalihkan pandangan. Memilih berdiam di tempat.
Secara mengejutkan apa yang diamati Chanyeol sejak tadi berakhir begitu saja. Mereka berpisah. Dan, Baekhyun berjalan ke arahnya.
“Sudah. Itu tadi mungkin yang terakhir. Puas?” Baekhyun berkata begitu ia sampai di hadapan Chanyeol. “Kenapa juga kau harus menatapku dengan semenyebalkan itu, huh?” sambungnya dengan nada menantang. “Kau lebih mirip seperti orang yang mau mengajak berkelahi.”
Tanpa menunggu respon Chanyeol, Baekhyun melengos. Membenahi letak ranselnya di punggung. Berjalan lebih dulu. Chanyeol tergopoh menyusul.
“Apa itu tadi sesuatu tentang program OSIS lagi?”
“Hm.”
Melipat bibir, Chanyeol melanjutkan langkah dengan menatap ujung sepatunya.
“Hey,”
Chanyeol menoleh. Mendapati Baekhyun menatap lurus ke depan meski baru saja menyuarakan panggilan.
“Ya?”
“Bagaimana dengan festival sekolah sebelah sebelum pulang?” tanya Baekhyun, hanya sekali sedikit melirik ke arah yang lebih tinggi.
Apakah itu sebuah ajakan?
“Yah!”
Chanyeol mengerjap saat seruan Baekhyun menyentaknya. Astaga, ia sampai melongo atas ajakan itu.
“Kita.. pergi bersama?” Chanyeol bertanya tak yakin.
“Oh, lupakan. Aku lupa dengan siapa aku bicara,” dengus Baekhyun.
“Kita pergi,” sahut Chanyeol cepat. “Benar. Kita pergi. Festival sekolah sebelah, kan? Ayo, kalau begitu.” Buru-buru, Chanyeol mengiyakan ajakan itu sebelum Baekhyun berubah pikiran. Itu tadi sudah menjadi tanda Baekhyun akan mengurungkan.
Satu lagi lirikan tak niat dari yang lebih pendek. Sebuah gumaman enggan terdengar tapi itu cukup mewakilkan pernyataan bahwa mereka akan benar-benar pergi bersama.
Chanyeol hampir saja membuat bola matanya sendiri melompat keluar akibat terkejut, ketika sebelah tangannya digenggam oleh jemari milik Baekhyun. Empunya tetap lurus menatap ke depan. Seolah tidak ada hal apapun yang baru saja dilakukannya. Nyatanya, ia baru saja membuat jantung seseorang meletup-letup dan melompat dalam rasa senang yang asing dengan tautan tangan yang ia buat.
SMA sebelah hanya berjarak beberapa blok dari sekolah. Tidak butuh waktu lama untuk keduanya sampai di sana. Memutuskan meninggalkan barang bawaan yang tak seberapa di loker sekolah mereka.
Chanyeol mendongak ke dekorasi gerbang sekolah yang mereka datangi. Sebuah festival tahunan. Selama beberapa hari, sekolah penyelenggara dibuka untuk umum dan tenda-tenda makanan dan permainan dibuka. Siswa-siswi sekolah lain banyak berdatangan. Bahkan keluarga dan sanak saudara. Festival itu memang dirancang agar didatangi sebanyak mungkin pengunjung.
“Kau mau ini?” tanya Baekhyun, ketika mereka berdiri di depan sebuah stand makanan untuk sebuah sosis kentang ukuran jumbo.
“Uh? Apa?”
Chanyeol memperoleh tatapan aneh dari Baekhyun, yang mungkin bingung mengapa Chanyeol seperti kehilangan fokusnya selama beberapa menit belakangan. Nyatanya, si jangkung ini hanya tidak bisa berhenti berbunga-bunga atas ajakan Baekhyun ke festival ini, juga sebelah tangan mereka yang masih saling tertaut. Ini menggelikan tapi, Chanyeol tidak bisa membohongi dirinya sendiri tentang itu.
“Aku.. pesan satu juga,” katanya kemudian. Tertawa kecil di akhirnya. Sesekali melirik ke makanan menggiurkan yang sedang dipanggang, tapi lebih banyak melirik pada Baekhyun persis seperti remaja SMP yang sedang kasmaran.
Kalau Baekhyun sampai menyadarinya, mungkin akan ada satu-dua pukulan mentah dihadiahkan untuk Chanyeol. Untungnya si rambut merah itu masih sibuk meneruskan pesanan Chanyeol kepada si penjual, dan mengamati dengan antusias beberapa sosis pesanan orang lain yang masih ada di dalam penggorengan. Hampir matang.
Angin musim panas berembus. Cukup kencang dari biasanya hingga bendera dekorasi festival berkibar semakin semarak.
Chanyeol kembali mencuri pandang. Baekhyun dengan sabar menunggu pesanan mereka sembari membenahi mullet merahnya yang sempat dibuat berantakan oleh embusan angin. Itu berhasil, namun tak sepenuhnya. Pada dasarnya Baekhyun memang terlalu cuek untuk sekadar merapikan rambut. Chanyeol sendiri, tidak begitu mengurusi rambutnya yang memang lebih sering kelihatan acak-acakan. Semakin mirip dengan gulali.
Berbekal inisiatif, Chanyeol mengangkat sebelah tangannya yang bebas. Merapikan sisa poni milik satu yang lebih pendek yang tangannya tengah ia genggam.
Astaga, sepertinya ia terlalu terbawa suasanya. Setelah ini Baekhyun mungkin akan mengatainya karena melakukan sesuatu yang tidak perlu seperti itu. Tapi Chanyeol tak dapat menahan dirinya.
Baekhyun bereaksi terhadap sentuhan Chanyeol. Melihat ke atas ke arah poninya yang tengah dibenahi oleh yang lebih tinggi, lantas melirik empunya.
Pandang bertemu. Pemandangan tubuh Chanyeol yang menjulang tinggi membelakangi sinar matahari dengan wajah berbingkai surai gulali yang tertiup-tiup angin tertangkap oleh kedua netra Baekhyun. Dan di sisi lain, wajah kecil yang tertimpa sinar matahari milik Baekhyun juga menjadi potret mengagumkan bagi Chanyeol.
Apa yang sempat disangka Chanyeol tidak terjadi. Alih-alih protes, Baekhyun tampak buru-buru mengalihkan pandangannya. Mengerjap cepat. Si mungil itu berdeham.
Hey, mereka tidak sedang berada dalam sebuah drama romansa murahan, kan?
Tidak ada kata terucap. Baekhyun kembali menyibukkan diri dengan kegiatannya menunggu pesanan mereka selesai dibuat. Tapi—meski Chanyeol sungguh tidak mau kepedean—ada semburat merah di pipi yang sedikit gembil itu.
Musim panas mungkin membuatnya berhalusinasi.
Tapi apapun itu, Chanyeol merasakan euforia aneh yang memancing sebuah senyum tipis di bibirnya. Juga genggaman yang ia eratkan, seperti hanya itu satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk mengungkapkan apa yang sedang terjadi di dalam hati.
Akan lebih bagus kalau ada kembang api yang ditembakkan ke langit. Supaya menyamai isi kepala Chanyeol yang sedang diramaikan letusan kembang api imajiner.
Chanyeol tertawa dengan pikiran konyol itu. Hanya saja—biarkan dia mengatakan ini di dalam hati, karena kalau sampai disuarakan, ia mungkin akan mendapat tendangan minimal di tulang keringnya—Baekhyun tampak begitu manis kali ini.
Waktu-waktu selanjutnya berlalu tanpa benar-benar terasa. Chanyeol menyaksikan cukup banyak sisi dari Baekhyun yang mengejutkan—hal-hal yang tidak ia sangka dimiliki Baekhyun pada kepribadiannya.
Chanyeol iseng menawarkan diri untuk mendapatkan sebuah boneka untuk Baekhyun di salah satu stand . Ah, tipikal anak remaja yang sedang berkencan. Ia benar-benar cuma iseng saat menyuarakan itu.
“Menangkan itu untukku.”
Lagi, respon itu mengejutkan Chanyeol. Baekhyun menatapnya dengan menantang, sekaligus sirat lain yang—lagi-lagi—membuatnya kelihatan puluhan kali lebih menarik.
Chanyeol kembali merasakan jantungnya berdetak dalam antusiasme. Ia tentu saja menyanggupi. Mencoba dengan sepenuh hati sekuat tenaga untuk merealisasikan kesombongannya atas permainan itu.
Tahunya kenyataan tidak berpihak. Chanyeol mendesis mendapati ia gagal memenangkan hadiahnya. Pikirnya Baekhyun pastilah mencebik dan semakin menganggapnya payah. Lalu pergi ke stand lain yang diinginkannya.
Lagian, sejak kapan permainan menembak jadi sesulit ini?
Untuk ke sekian kalinya hari ini Chanyeol tertegun. Bukannya berlalu, Baekhyun tertawa.
“Payah,” katanya, di tengah tawa yang membuat matanya membentuk sabit. Tampak puas sekali menertawai Chanyeol yang gagal memenangkan permainan. “Ayo. Kita coba yang lain.” Amitan lengan. Baekhyun menariknya meninggalkan stand .
Atas semua hal ini, Chanyeol ingin sekali berani menyatakan, bahwa ia dibuat semakin jatuh cinta pada sosok ini.
Bahkan sebelum ia pernah mengakui bahwa ia jatuh cinta.
Mereka berakhir ke stand makanan lagi. Baekhyun menginginkan beberapa fish cake .
“Berikan aku kuah yang lebih banyak,” pintanya pada si penjual.
Chanyeol terkekeh. Melihat betapa antuasiasnya Baekhyun untuk makanan itu.
“Tolong tambahkan satu tusuk lagi.” Chanyeol menambahkan.
Di satu waktu mata mereka bertemu. Melempar tatap yang entah apa artinya namun disertai percikan aneh yang membawa pada euforia yang kian membuat senang.
Baekhyun menerima mangkuk kertasnya dengan kedua tangan. Berusaha hati-hati karena panasnya.
Senyum terkembang. Kedua pipinya terangkat. Mungkin karena uap panas juga, dua bongkahan itu tampak sedikit memerah.
Dan Chanyeol harus menggigit bibir demi menahan ungkapan yang ingin keluar tentang betapa menggemaskannya itu semua.
Sesuatu terasa mengganjal. Jujur. Tetapi, Chanyeol berusaha mengabaikan. Ia tidak ingin prasangka kosongnya kembali merusak suasana, merusak semua euforia ini.
Mereka berbalik. Baru saja akan mencari-cari tempat untuk duduk beristirahat. Tapi upaya itu dikacaukan ketika sekelompok siswa laki-laki dengan seragam sekolah lain melintas berlari-larian.
“Ahk!”
Kuah panas tumpah ke lengan Baekhyun. Sekelompok siswa tadi menyenggol dan membuatnya terhuyung. Panas yang terasa turut mempengaruhi genggaman Baekhyun pada mangkuknya. Gemetar dan kaget. Mangkuk itu jatuh begitu saja.
“Baek! Oh—astaga.. Hey! Kembali kalian! Aish!” Chanyeol berseru panik. Kesal separuh marah pada segerombolan yang menyebabkan semua ini.
Baekhyun meringis. Merengek kecil. Tampak kesal tapi terlalu kesakitan untuk mengekspresikannya lebih jauh.
Refleks, Chanyeol menarik lengan Baekhyun. Merunduk. Membasahi bagian yang memerah dengan liurnya. Setelahnya ia melesat cepat. Menghampiri kedai minuman dan mendapatkan beberapa botol air dari sana. Lantas, menarik Baekhyun sesegera mungkin untuk duduk ke salah satu bangku yang tersedia.
Chanyeol turut jeri melihat Baekhyun meringis atas luka kemerahan di sepanjang lengan bawahnya. Dua botol air yang ia siramkan pada bagian yang luka sebagai pertolongan pertama tidak begitu berguna. Tapi setidaknya, ia tahu dan sudah cukup memperhitungkan bahwa itu cukup meredakan efeknya.
“Sakit sekali, ya?”
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Mengangguk. Masih meratapi lengan yang ia pangku sendiri. “Perih.”
Di sisi lain, pikiran Chanyeol bercabang dua. Masih. Sebagaimanapun Baekhyun sering mengingatkannya untuk tidak terlalu mengindahkan feeling yang besar kemungkinannya tidak terjadi, Chanyeol benar-benar kesulitan menampik apa yang muncul kali ini. Semakin intens meski sudah berusaha ia abaikan sebisa mungkin.
Mengapa intuisinya terus-terusan menyuruhnya untuk pergi ke suatu tempat?
Bahkan melihat Baekhyun kesakitan di sini, Chanyeol sungguh merasa tidak bisa berlama-lama berdiri di tempat alih-alih beranjak mengikuti ke mana intuisinya mengarahkan.
“Aku.. pergi beli minum sebentar,” kata Chanyeol, memutuskan mendistraksi pikirannya sendiri. Dibanding mengikuti apa yang belum tentu, seharusya ia lebih fokus pada apa yang ada di depan mata; Baekhyun yangs sedang kesakitan.
Dua buah kaleng berpindah dari mesin penjual otomatis ke tangan Chanyeol. Segera setelah itu ia kembali ke kursi di mana Baekhyun duduk.
Tapi pikirannya tidak bisa mengarah ke tempat yang sama. Seperti genting memberitahu bukan di sini seharusnya ia berada sekarang.
“I-ini.” Ia menyodorkan satu yang berwarna oranye pada Baekhyun, setelah lebih dulu membukakan tutupnya.
Sedikit linglung Chanyeol mengambil tempat di samping Baekhyun. Tanpa sadar, perhatiannya telah sepenuhnya tidak lagi terarah pada Baekhyun yang masih meringis perih. Pandangan jatuh ke tanah. Pikiran melanglang buana terambil alih oleh prasangkanya sendiri.
Sampai sebelum benar-benar memutuskan, Chanyeol telah berdiri kembali dari duduknya. Ia menyamping, menghadap Baekhyun.
“Aku perlu ke toilet. Tunggu sebentar, Baek,” katanya cepat.
“Aku ikut.”
Chanyeol mengernyit akan respon itu. Sedetik ia sempat merasa bersalah ketika dua mata kecil itu menatapnya. Memohon. Mendongak karena perbedaan tinggi yang terlalu jauh.
“Chanyeol..” panggil Baekhyun pelan. Rengekan amat samar menyirat darinya.
Tapi Chanyeol sudah tak kepalang menyadari itu. Ia melepas perlahan genggaman Baekhyun yang entah sejak kapan sudah menahan lengannya.
“Sebentar saja. Kau tunggu di sini. Ya?” kata Chanyeol, dan tanpa menunggu jawaban lagi, ia beranjak pergi. Mengarah lebih jauh ke dalam festival, memutar menuju gerbang untuk pergi dari sana.
Ia tidak tahu. Perasaan apa ini, ia tidak mengerti. Tapi begitu meninggalkan area festival, kakinya tidak lagi tahan untuk tidak berlari secepat yang ia bisa. Jika saja ia punya kekuatan untuk berlari nyaris secepat gelombang cahaya seperti Baekhyun, mungkin Chanyeol sudah melakukannya sejak tadi.
Saking intuisi kali ini terasa berbeda dari biasanya.
Berbekal itu ia berlari, mengarah ke suatu tempat. Yang begitu ia tiba di sana, tahunya adalah sebuah lahan proyek bangunan setengah jadi. Tanpa pekerja terlebih penghuni.
Chanyeol mengatur napasnya. Bahkan stamina yang selama ini bekerja cukup baik terasa cukup terkuras karena ia benar-benar memaksakan untuk berlari secepat mungkin.
DUM .
Suara debum keras menyentak. Khawatir bahkan takut seketika membumbung tinggi. Chanyeol tak perlu pikir dua kali untuk menendang salah satu sisi pagar seng yang mengelilingi lahan proyek itu hingga terpental dan membuka jalan masuk.
Chanyeol nyaris kehilangan napas. Menatap nanar pada apa yang tampak di hadapan. Kakinya bahkan hampir tak terasa lagi. Seperti sesuatu telah menarik paksa nyawanya hingga ke ujung.
“Baekhyun..” Semata lirihan kecil lolos dari mulutnya. Seluruh indera masih memproses apa yang tampak sampai anggota gerak tak ada merespon barang sedikit saja.
Tapi melihat Baekhyun yang baru saja terpelanting jauh, dan kini baru saja bangkit susah payah hanya bisa membuat semua kata terhenti di ujung bibir Chanyeol. Membuka tanpa benar-benar berucap, mengeluarkan jutaan ungkap keterkejutan juga kebingungan atas apa yang tengah terjadi.
Yang hampir selalu terjadi adalah pertarungan jarak jauh. Baekhyun di ujung yang satu, juga Junmyeon di ujung yang lain, berada di jarak aman sehingga setidaknya, ada ruang bagi Baekhyun untuk merespon kehadiran Chanyeol di sana.
Baekhyun mengernyit. Lebih dari kehadiran Chanyeol yang seharusnya menjadi alasannya berdiam di tempat alih-alih kembali melepaskan serangan balik untuk si Ketua OSIS yang sayangnya terbukti tengah berstatus sebagai inang Red Force saat ini, adalah kehadiran sesosok lain di belakang Chanyeol.
Laki-laki. Mengenakan seragam yang sama dengannya. Berambut merah seperti dia.
Karena memang itu lah wujudnya.
Siapa?
“Chanyeol..”
Dengan lebarnya jarak yang terbentang, Baekhyun masih bisa mendengar panggilan lemah itu disuarakan oleh seorang di belakang Chanyeol, yang sialnya, memiliki rupa sama persis dengan Baekhyun sendiri.
Baekhyun berdecih. Melihat bagaimana Chanyeol lantas menoleh, tampak kelimpungan dan terkejut luar biasa melihat kehadiran seseorang di belakangnya.
“Ini ulahmu juga, huh?” tanya Baekhyun, menatap lurus-lurus pada Junmyeon di depan sana. Ia meludah, membuang liur yang bercampur darah dari dalam mulut yang terasa begitu mengganggu.
Junmyeon yang kini tak tampak seperti dirinya yang biasa berdecak marah. Matanya yang kemerahan menatap nyalang ke arah Baekhyun yang berdiri di belakang Chanyeol yang tampak masih berusaha mencerna keadaan.
“Tidak berguna.”
Setelah sebuah geraman marah, Junmyeon dengan sebelah tangannya yang pucat pasi melepas gelombang tak kasat mata ke arah sosok di belakang Chanyeol. Dan seketika itu, Baekhyun di sana berubah menjadi boneka tanah. Luruh. Hancur. Chanyeol yang lengannya sempat ditahan oleh sosok itu turut menyaksikan bagaimana tangan itu berubah menjadi tanah dan berguguran.
DUM .
“Baek!”
Debuman berikutnya. Baekhyun lengah. Ia kini terpental ke kerangka bangunan. Terbentur keras tepat di bagian punggung.
Di antara kesadaran yang kini berubah tipis karena benturan yang terlampau keras tanpa sempat ia bersiap, Baekhyun merutuk. Ia benci mengakui tapi, ia tidak suka melihat bagaimana Chanyeol di sana sempat-sempatnya menoleh pada sosok yang entah siapa atau bagaimana bisa muncul di sini, saat ia, berdiri tertatih penuh luka setelah sebuah pertarungan sialan yang terjadi begitu tiba-tiba.
Chanyeol sialan .
Baekhyun memaki Chanyeol dalam hati. Sembari berusaha meredam sakit sebab sial, ia harus segera bangkit sebelum serangan berikutnya dirilis. Tapi seluruh saraf sakitnya terasa telak diserang.
Tidak. Ia tidak memaki Chanyeol. Sesungguhnya, ia hanya tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa marahnya atas semua ini. Atau perasaan tidak suka yang seharusnya tidak relevan ia rasakan di waktu genting seperti ini, kepada sebuah kejadian tidak berarti seperti kemunculan sosok dirinya yang lain.
Itu hanya tipu daya Red Force.
Dan Chanyeol tentu tidak tahu-menahu atas semua ini.
Tapi Baekhyun sungguh sama tidak tahunya, tentang mengapa semua itu benar-benar membuatnya marah.
Kesadaran sudah hampir sepenuhnya hilang saat Chanyeol tiba di hadapannya.
“Baek! Baekhyun!”
Junmyeon di tempatnya telah nyaris melepas pukulan jarak jauh berikutnya. Berjalan mendekat. Gusar. Tinggal sedikit lagi ia bisa menghancurkan pemegang kekuatan cahaya sampai gangguan datang.
“Tinggal sedikit lagi. Dan kau datang. Enyahlah, sialan.” Tangan terangkat. Pukulan akan dilepas.
Tapi sebuah kilat lebih dulu menyambar ke puncak bangunan. Meruntuhkan sebagiannya. Jatuh mengarah tepat ke tempat Junmyeon berdiri.
“Sial!”
Melompat. Berkelit. Tidak satu-dua kerangka yang rubuh. Setidaknya butuh dua detik bagi tubuh inang Red Force menghindari itu semua.
Tapi waktu sesingkat itu sudah cukup. Sosok lain keluar dari balik gedung. Bergerak gesit. Rambut pirangnya cukup mencolok. Kemeja putih serupa dengan yang dikenakan Baekhyun juga Chanyeol melekat di tubuh kurus sosok itu.
Dua tepukan diberikan masing-masing satu di bahu Baekhyun juga Chanyeol yang terduduk di atas tanah.
“Lari. Sekarang.”
Chanyeol tidak sempat memproses terlebih bereaksi apapun lagi. Saat dua kata itu dibisikkan oleh seseorang yang muncul secepat kilat, ia tentu tak terpikirkan akan hal lain selain melakukannya. Mengangkat tubuh Baekhyun. Pergi secepatnya. Menghindari beberapa kerangka bangunan yang kembali runtuh, susul-menyusul dengan bunyi sambaran petir yang tidak sempat ia cari tahu asalnya.
Persetan. Sekarang ia hanya perlu membawa lari Baekhyun terlebih dulu. Ia akan mencari tahu nanti. Tentang mengapa perlu Red Force membuat tiruan Baekhyun dan mengecohnya. Tentang dari mana semua kilat itu berasal.
Juga tentang mengapa Kim Jongdae muncul dan membantu mereka.
.
.
Nyaris sampai ke asrama pelajar tempat Baekhyun tinggal, si rambut merah itu tersadar. Cukup untuk membuatnya tahu bahwa Chanyeol tengah menggendongnya dan bergerak terburu.
“Turunkan aku.”
Chanyeol menunduk di tengah paniknya. Mendapati Baekhyun tampak telah kembali dengan kesadaran penuhnya.
“Baek—“
“Turunkan aku,” ulang Baekhyun.
Mereka baru saja memasuki bangunan tempat orang menyewa hunian itu. Masih ada cukup banyak anak tangga yang harus dilalui sebelum sempurna sampai di kamar Baekhyun. Chanyeol tentu akan menolak, tapi Baekhyun memaksa dan lelaki mungil itu bisa benar-benar jatuh kalau Chanyeol tidak segera menurunkannya dengan benar.
Jadi ia melakukannya.
“Baek.. tunggu—“
Panggilan itu tidak dihiraukan. Dengan tertatih-tatih Baekhyun mendekati anak tangga pertama. Satu-dua-tiga berhasil ia lewati, tapi selanjutnya, ia nyaris terjatuh jika saja Chanyeol tak sigap menahan.
Desisan putus asa terdengar. Tak peduli apapun respon Baekhyun, Chanyeol mengalungkan sebelah lengan laki-laki itu dan membantunya meniti tangga. Tanpa kata, keduanya susah payah melanjutkan langkah.
Pintu kamar yang dituju sudah tampak di depan mata. Baekhyun memutar kenopnya. Tidak terkunci. Oh, bukan. Memang sang pemilik yang memang jarang mau repot-repot mengunci kamar tersebut.
Begitu berhasil menempatkan Baekhyun ke atas ranjang dan memastikannya mendapat posisi yang nyaman, Chanyeol beranjak. Berpikir untuk secepatnya mengambil kotak obat.
Tapi di saat itu pula Baekhyun menahannya. Menakjubkan melihat dengan luka sebanyak itu, Baekhyun mampu menahannya dengan cukup kuat. Chanyeol baru saja akan bertanya saat Baekhyun lebih dulu bersuara.
“Kau,” ucapnya pelan, “sedang apa tadi.. di sana?”
Chanyeol mengangkat alis, “Hm? Di mana?”
Baekhyun masih menjatuhkan pandangannya ke permukaan seprai putih miliknya. Tak mendongak apalagi menatap Chanyeol yang masih berdiri di sisi ranjang, tertahan olehnya.
“Sebelum menemukanku.. apa yang kau lakukan?” tanya Baekhyun pelan.
Entah untuk apa, ada rasa bersalah menggelayut dalam diri Chanyeol. Tidak, mungkin tidak hanya itu. Ia juga merasa bodoh, luar biasa bodoh, karena sempat terlintas di kepalanya saat bersama Baekhyun palsu itu, bahwa ia menyukai Baekhyun yang seperti itu. Sungguh. Betapa tololnya.
Chanyeol melepas genggaman Baekhyun di pergelangan tangannya dengan sebelah tangan yang bebas. Lantas, berganti menautkan jemari mereka erat. Ia mendudukkan diri di sisi ranjang, duduk menghadap si mungil. Bibir sebelah dalam tak sadar ia gigit. Merasa risau entah untuk apa.
“Baek,”
Tidak ada respon. Baekhyun hanya menggigit bibir bawahnya, tampak sibuk berpikir entah apa dengan terus menatap permukaan kasur.
“Maaf. Seharusnya aku datang lebih cepat.” Chanyeol mengeratkan genggaman tangannya pada milik Baekhyun, tanpa sekalipun melepas tatap dari lelaki yang tak kunjung mengangkat wajahnya. “Dan.. maaf karena.. bisa-bisanya terkecoh oleh tipuan itu,” lanjut Chanyeol pelan. Yang secara ajaib, mampu menarik si rambut merah untuk akhirnya membalas tatapnya.
Mereka tak pernah berada dalam situasi seperti ini. Seorang Baekhyun tentu saja akan mengernyit jijik bila Chanyeol menggenggam tangannya seerat ini, menatapnya dengan sorot rasa bersalah sepekat ini, dan meminta maaf berkali-kali. Heh, seperti sepasang kekasih saja.
Tapi situasi ini memang benar-benar pertama kalinya. Termasuk perasaan yang muncul untuk keduanya. Sesuatu yang tidak tergambarkan, yang sama sekali tak mereka tahu namanya.
Baekhyun hanya, merasa begitu marah setiap kali pikirannya akan hal-hal yang mungkin dilakukan Chanyeol dengan dirinya yang palsu itu—meski hanya sekilas ia lihat sosok itu—muncul. Bahkan meski sosok itu adalah dirinya di mata Chanyeol, fakta bahwa itu bukan benar-benar dia, Baekhyun tak suka.
Hanya dia. Hanya dia, Baekhyun yang seharusnya dikenal Chanyeol.
Dan Chanyeol, merasa amat bersalah untuk itu. Bahkan meski tak satu pun dari apa yang mereka rasakan terungkapkan satu sama lain.
Untuk waktu yang lama, mereka hanya bersitatap. Bersamaan dengan setiap detik di mana luka di tubuh Baekhyun tersulam perlahan-lahan. Sebuah kemampuan regenerasi yang meski tidak terlalu signifikan cepatnya, tetap tidak sama dengan manusia biasa.
Baekhyun mengeraskan rahang. Ia pikir, ia marah. Rasanya begitu kesal. Pada pikiran yang ia tahu betul sesungguhnya hanya prasangka kosongnya saja, pada dirinya yang kesulitan mengartikan apa yang sedang ia rasakan kini. Itu semua terasa menyulutnya.
Dia juga marah tentang fakta bahwa dirinyalah yang salah menyangka. Junmyeon memang sedang digunakan Red Force. Peduli setan cara apa yang digunakan untuk mengelabui mereka beberapa waktu belakangan. Nyatanya ia menghadapi si ketua OSIS itu sebagai seorang yang dijadikan inang.
Setelah waktu-waktu yang mereka gunakan berdua untuk sama-sama menghadapi satu per satu malapetaka yang tak pernah hentinya dibawa Red Force, ia masih begitu meremehkan Chanyeol.
Padahal dialah yang tidak berguna di sini.
Sebelah tangan yang bebas menarik kerah kemeja Chanyeol. Cepat. Seolah ingin mengungkapkan betapa marahnya dia, seolah ingin menghajar lelaki jangkung itu.
Tapi cengkeramannya berhenti di sana. Hanya sampai membawa Chanyeol lebih dekat dengannya. Berhenti di sana. Menjadikan keduanya pada sebuah jarak tak berarti yang terbekukan. Diam. Saling menyelami netra dengan hidung yang nyaris bersentuhan.
Chanyeol yang sempat mengira Baekhyun akan memukulnya telah lebih dulu hanyut di dalam dua bola mata kecil yang indah itu. Terlintas pula heran mengapa si rambut merah tak kunjung melayangkan tinjunya, alih-alih membuat jarak mereka jadi sedekat ini.
Tetapi keduanya memang tidak dapat menjelaskan. Sejak tadi pun seperti itu, kan?
Jadi ketika mereka justru saling mendorong dengan bibir masing-masing, bertaut dalam sebuah ciuman pertama di antara keduanya yang secara mengejutkan terjadi dengan begitu menggebu, tidak ada pula yang berusaha mencari tahu apa yang sesungguhnya tengah terjadi, mengapa, atau apapun itu. Yang ada, hanya keinginan untuk menuntaskan sesuatu yang mendorong dari dalam.
Baekhyun melumat asal bibir Chanyeol. Mendorong. Cengkeramannya sudah berpindah ke rahang lelaki itu.
Chanyeol tak ada beda. Ia mengisap bibir Baekhyun, tak masalah meski anyir darah turut terasa. Mendorong lebih kuat hingga Baekhyun memundur kalah tenaga.
Jemari yang saling menggenggam masih bertaut erat. Chanyeol menggunakan tangannya yang bebas untuk turut pula menangkup rahang Baekhyun, memberi usap lembut di pipi berisinya. Berusaha tak menambah sakit pada beberapa luka gores di sana.
Dua pasang mata terpejam erat sedari tadi. Persis ketika bibir pertama kali bertemu. Untuk ciuman yang lebih panjang lagi, keduanya rela hanya mengambil jeda sejenak demi satu tarikan napas, sebelum kembali tenggelam dalam lumatan-lumatan berikutnya.
Mereka berakhir saling memeluk di atas ranjang, berbaring saling menyamankan diri. Chanyeol menempatkan Baekhyun dalam rengkuhannya. Ingin membuat dirinya sebagai seorang yang bisa membuat Baekhyun merasa aman, menjadi pelindung yang tidak akan membiarkan Baekhyun merasakan sakit seorang diri seperti yang terjadi hari ini.
Keduanya bungkam sejak ciuman itu berakhir. Ketika membuka mata, Baekhyun menemukan dirinya terbaring di atas ranjang, di bawah kungkungan Chanyeol. Rupanya sejauh itu mereka berbuat hingga kesadaran mengawang. Tetapi, toh dengan kedekatan itu, ada nyaman yang mampu terekognisi. Maka tak seorang pun di antara keduanya memilih menjauh.
“Lukamu harus diobati,” kata Chanyeol setelah lama hening menguasai.
Ucapan pelan itu tak berbalas. Tetapi, rematan di kemejanya, juga Baekhyun yang semakin menenggelamkan kepala di dadanya yang menjadi jawaban.
Senyum kecil terbentuk. Chanyeol memahami bahasa itu. Lantas ia hanya berbisik, “Tidurlah,” dan memilih mengobati luka-luka Baekhyun nanti setelah lelaki ini sempurna tertidur. Urusan lain-lain, masih ada esok hari untuk mereka bicara.
.
oOo
.
Pagi hari ketika matahari sudah cukup tinggi, Baekhyun dibangunkan oleh suara-suara dari sisi lain kamarnya. Tempat lemari pendingin kecil dan beberapa peralatan makannya diletakkan.
Ia terbangun dengan pakaian yang sudah sepenuhnya berganti, juga beberapa plester bergambar karakter gajah yang membalut lukanya. Pipi, hidung, lengan. Cukup banyak tapi tidak pula semua dibalut. Beberapa di antaranya yang cukup ringan dibiarkan terbuka.
Perlahan ia bangkit. Bersama nyeri yang masih terasa di sekujur tubuh. Mengerjap. Mengusap mata berusaha mencari tahu dari mana suara-suara mengganggu itu berasal. Dan tidak butuh waktu lama untuk dia mengenali punggung dari sosok jangkung yang tampak sibuk entah apa di sudut kamarnya itu.
“Chanyeol,”
Punggung itu tersentak. Diikuti suara barang jatuh.
“Astaga, kagetnya,” Chanyeol mengelus dada. Beruntung bukan mangkuk berisi makanan yang menggelinding jatuh. “Baek?” Si tinggi itu tampak sedikit kelabakan begitu mengetahui Baekhyun sudah terbangun. Ia buru-buru menuntaskan kegiatannya, dan sambil tergopoh-gopoh membawa mangkuk berisi sup hangat dan segelas air.
Baekhyun mengernyit. Risih melihat kelakuan si tinggi. “Pelan-pelan,” ujarnya. Chanyeol mengiyakan dengan perilaku yang tidak tampak menjanjikan.
“Kau membeli ini?” tanya Baekhyun setelah Chanyeol mengambil tempat di sisi ranjang. Setengah bersila di hadapannya. Melihat Chanyeol menggeleng, Baekhyun mengangkat sebelah alisnya.
“Aku mengecek dapur asrama ini sebelum pergi keluar membeli sesuatu tadi dan bertemu seorang petugas di sana. Kubilang pada bibi itu kau sedang sakit, jadi dia memperbolehkan saat kuminta seporsi dari sup yang sedang dia masak,” jelas Chanyeol, memindahkan gelas air yang dibawanya ke tangan Baekhyun.
Melihat Chanyeol berbicara seringan itu, Baekhyun nyaris lupa kalau kemarin sesuatu yang tidak mengenakkan baru saja terjadi. Atau juga fakta bahwa Chanyeol baru saja mendapatkan semangkuk sup gratis untuknya.
Hidup hanya dari biaya lembaga sosial dan bayaran dari kerja paruh waktu di akhir pekan memang membuat Baekhyun tidak bisa terlalu sering menyetok makanan. Hanya sesekali dan ia lebih sering menggunakan uangnya untuk jajan di sekolah.
“Ini, buka mulutmu.”
Baekhyun melotot saat Chanyeol menyodorkan satu sendok dari sup itu padanya. “Aku hanya terluka kecil, bukannya lumpuh. Biarkan aku makan sendiri,” kata Baekhyun kesal, mengambil alih sendok dan mangkuk di tangan Chanyeol.
Entah karena Baekhyun yang bergerak terlalu cekatan atau Chanyeol yang pada dasarnya tidak bisa melawan si rambut merah itu, mangkuk berpindah tangan dengan cepat. Chanyeol pada akhirnya hanya menarik napas. Pasrah mengalah. Memilih duduk tenang mengamati Baekhyun yang mulai menyuap supnya sambil setengah merengut.
“Kau mau?” tawar Baekhyun setelah melirik dan mendapati Chanyeol tidak sama sekali melepas mata darinya.
“Tidak. Kau tahu aku tidak suka jamur.”
“Jadi kenapa kau melihatku seperti itu?!”
Chanyeol mengukir senyum. Sebenarnya dia sendiri tidak tahu untuk apa, tetapi melihat Baekhyun bersungut-sungut begitu, dia jadi ingin tersenyum saja.
Bukan jawaban tapi senyuman yang didapat, Baekhyun mengerjap. Pikirnya, keanehan Chanyeol sudah mulai tidak tahu tempat.
—meski diam-diam, Baekhyun sedikit berdegup entah karena apa.
“Ugh, terserah.”
Waktu dibiarkan berlalu sampai Baekhyun menghabiskan isi mangkuknya. Sedikit susah payah karena, Chanyeol sungguh seperti menatapnya lekat tanpa jeda. Menyebalkan. Tapi Baekhyun sendiri tidak lagi protes.
“Baekhyun,” panggil Chanyeol. “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”
Baekhyun hendak menyahut cepat. Mengomentari tentang bagaimana tingkah Chanyeol yang beberapa waktu belakangan harus repot-repot bilang ada-yang-ingin-kubicarakan tiap kali ingin mengatakan sesuatu.
Tetapi melihat raut Chanyeol, sekaligus kelebat kejadian hari kemarin yang sesungguhnya diam-diam membuatnya digelayuti resah, Baekhyun hanya menghela napas. Ia menggumam, mengisyaratkan agar Chanyeol segera memulai apapun itu yang ingin ia ungkapkan sembari meletakkan mangkuk dan gelasnya ke lantai di samping ranjang.
Chanyeol memulai dengan sedikit keraguan. Memutuskan memulai tanpa lagi memikirkan reaksi Baekhyun nanti, ia menceritakan apa yang menimpanya hari itu. Ketika ia harus susah payah membobol pintu besi gudang penyimpanan sekolah, tentang mengapa ia terus mencurigai Kim Junmyeon.
“Apa? Itu semua terjadi dan kau tidak mengatakan apapun padaku?”
“Baek,”
“Baik. Teruskan saja sifat sokmu itu. Melakukan semuanya sendiri dengan kejeniusanmu yang luar biasa,” sergah Baekhyun. Napasnya tampak memburu. Sejak Chanyeol memulai ceritanya, Baekhyun memanglah sudah menunjukkan perubahan raut yang signifikan. Namun sudah kepalang tanggung jika Chanyeol menghentikan.
Semua cerita itu masuk akal. Terlampau logis. Bahkan untuk saat ini, sudah terbukti. Baekhyun sendiri masuk ke perangkap ‘Junmyeon’ yang menyebabkannya harus terlibat pertarungan satu lawan satu kemarin.
Dan itu menyadarkan Baekhyun tentang kebodohannya selama ini. Ia banyak membuat kesalahan—salah berhitung, salah berprasangka. Itu membuatnya marah. Termasuk kepada dirinya sendiri.
Ia menarik napas dalam. Membuangnya kasar kemudian. Mencoba meredakan sesuatu yang terasa membumbung. Untuk hal ini, semakin tampak jelas bahwa dirinya bukan termasuk seorang yang pandai mengendalikan amarah.
“Kita mungkin harus memikirkan strategi yang lain. Mencoba mengetahui pola yang digunakan dan bergerak secara berlawanan.”
“Kau istirahatlah dulu.” Chanyeol berujar. Seperti mengingatkan akan luka-luka yang masih segar di sekujur tubuh Baekhyun, sekaligus kenyataan bahwa tidak seharusnya Baekhyun memiliki aktivitas berat terlebih menggunakan kekuatannya sebelum pulih.
“Ya,” kata Baekhyun, “dan kau akan menungguku,” putusnya. Ia tidak akan, dan tidak ingin membiarkan, salah satu dari mereka menghadapi Red Force sendirian lagi.
“Kita harus bergerak cepat.”
“Dan membiarkanmu bergerak sendiri?”
“Kita tidak tahu apa yang diincarnya.”
“Kita memang tidak pernah tahu!” sahut Baekhyun. Kencang. Matanya masih menyorot tajam, namun ada getaran di sana yang tak seorang pun dapat menyadarinya sebagai wujud ketakutan lelaki berambut merah itu.
Yang mereka tahu, Red Force datang untuk membuat kekacauan. Menghancurkan. Selain untuk melindungi tempat mereka tinggal serta orang-orang yang menghuninya, Chanyeol dan Baekhyun tidak memiliki hal lain untuk dijadikan alasan mengapa mereka harus susah-payah selama ini.
Red Force menyamar dengan baik. Tidak tahu bagaimana caranya tapi auranya sama sekali tidak terdeteksi. Dia membuat tipuan dengan dalam rupa Baekhyun. Menyerang saat mereka terpisah. Setelah semua itu, tidak mungkin Chanyeol tidak menyadari bahwa kali ini berbeda dari sebelumnya. Ia seharusnya cukup paham dan setuju dengan Baekhyun.
Tapi dia tidak tahu berapa lama waktu yang mereka miliki untuk menunggu. Jika radar tidak bisa lagi mendeteksi, maka bisa kapan saja mereka diserang. Besok. Malam ini. Atau satu jam dari sekarang.
Sementara ia tidak ingin itu terjadi sementara Baekhyun ada dalam keadaan seperti ini.
Pilihannya adalah, mencarinya dan menyerang lebih dulu.
Chanyeol diam-diam memantapkan diri. Meski tak lagi menyuarakan sanggahan, ia masih tidak akan membiarkan keinginan Baekhyun terkabul—sesuatu seperti membiarkan lelaki itu terlibat pertarungan lagi dalam waktu dekat. Tidak setelah peristiwa kemarin terjadi.
Ia beranjak. Mengambil mangkuk dan gelas yang diletakkan Baekhyun di lantai.
“Hari ini kita bolos saja. Kau harus istirahat.” Chanyeol berkata sambil lalu. Memutus topik yang sebelumnya mereka debatkan dan pergi menjauhi ranjang.
Baekhyun mendengus. Menarik satu bantal miliknya dan menyamankan duduknya. Belakangan, sulit sekali menemukan ujung dari perdebatan yang terjadi di antara mereka.
.
.
Membolos bukan berarti tidak bisa datang ke sekolah. Dengan keamanan yang tak seberapa, Chanyeol bisa dengan mudah masuk lewat tembok pembatas dekat lapangan belakang.
Ia tak berniat mengikuti kelas. Tentu saja. Ini sudah mendekati waktu istirahat makan siang. Seragamnya bahkan belum ganti sejak kemarin. Tapi siapa peduli. Ia perlu mencari seseorang.
Lapangan belakang sepi. Seperti biasanya. Hanya terdengar sayup-sayup suara dari kelas yang ribut serta kelas yang sedang dalam pelajaran olahraga di lapangan utama. Yang paling jelas hanyalah denging serangga yang menghuni pohon besar di sana.
Chanyeol menyusuri sisian bangunan belakang sekolahnya. Berbelok saat sampai di sudut. Memasuki sisi yang lain.
Dan tahunya, ia tidak perlu susah-susah mencari hari ini, saat menemukan seorang siswa dengan rambut pirang berantakan yang duduk bersandar di tembok luar bangunan yang kotor.
Chanyeol menghentikan langkah. Berhenti tepat setelah tikungan. Tak butuh waktu lama sampai siswa itu menoleh. Semakin membuat jelas lengan bawahnya yang dibalut perban secara asal, juga luka gores di pipi juga pelipisnya.
.
oOo
.
“Sebaiknya kau tidak perlu masuk dulu.”
“Tidak. Aku masuk hari ini.”
“Baekhyun..”
Tak menghiraukan kata-kata Chanyeol, Baekhyun menyandang ranselnya. Berjalan ke arah pintu. Memutar kenop, ia sedikit meringis kala aktivitas sesederhana itu menciptakan nyeri yang amat sangat di sepanjang tulang lengannya.
“Baek,” Chanyeol menyusul segera. Menahan tangan Baekhyun mendorong daun pintu. Upaya itu telak berbalas kenyitan dalam di dahi yang lebih pendek. Kesal niatnya diganggu-ganggu.
Chanyeol menghela napas. Melepaskan genggamannya dan membiarkan Baekhyun keluar lebih dulu sebelum mengekor di belakang.
Dua hari belakangan mereka tak banyak saling bicara. Chanyeol datang setiap pulang sekolah dan membawakan makanan. Menanyakan keadaan Baekhyun. Dan tidak ada lagi perbincangan selain itu.
Bila ditanya, keduanya tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Barangkali kecamuk di dalam diri masing-masing masih terlalu rumit dan tidak ada yang berusaha meluruskan.
Pagi ini Chanyeol datang lagi sebelum berangkat ke sekolah. Disambut oleh pemandangan Baekhyun yang tengah mengemasi tasnya. Hanya ada percakapan mengenai sarapan, dan mereka berdebat tentang apakah Baekhyun bisa masuk sekolah hari ini atau tidak.
Sampai ke depan pintu kelas, keduanya masih belum bertukar percakapan.
Ponsel bergetar singkat. Chanyeol mengambil benda itu dari sakunya.
Bisa kita bertemu nanti?
Chanyeol mengetikkan balasan dengan cepat.
Tentu. Di tempat seperti biasa?
Balasan selanjutnya tidak kunjung Chanyeol terima. Apa masalah jaringan membuat pesannya tertunda?
Tetapi seperti apa yang sering kali terjadi, Chanyeol mendapati dirinya mulai diliputi firasat-firasat aneh lagi. Demi Tuhan, mengapa ia mudah sekali merasa seperti ini?
Selama pelajaran berlangsung, Chanyeol lebih banyak tak tenang. Berkali-kali melirik ke ponsel yang berani tidak ia kumpulkan. Jam istirahat makan siang ia mendatangi sudut belakang bangunan sekolah. Tempat biasa yang ia maksudkan di dalam pesan.
Tidak ada siapapun. Pun ponsel yang tak menunjukkan satu pun pesan baru. Perasaan tak tenang mulai semakin tak keruan. Ini sedikit berlebihan, tapi berkali-kali hal serupa ia rasakan, muaranya tidaklah pada sesuatu yang menyenangkan.
Kali ini ia coba menunggu. Barangkali ini semua tak seburuk prasangkanya. Hari berjalan dan petang tiba. Ia menunggu sejak pulang sekolah di tempat yang sama. Tapi masih belum ada siapapun. Atau pesan apapun.
Dan satu hal yang ia sesali dengan amat sangat adalah tentang suatu kemungkinan yang bodohnya tak ia coba sejak tadi.
Ragu-ragu Chanyeol menarik radar dari saku celana. Menggenggam di telapak tangan dan menyalakan layarnya.
Begitu saja layar menunjukkan satu titik terang berwarna merah yang berkedip jelas.
Seperti terhenti napas karena itu. Sempat Chanyeol terdiam dengan jantungnya yang terasa berhenti berdetak.
Dia tahu. Dia tahu apa artinya ini.
Tanpa berpikir panjang Chanyeol melesat pergi. Berlari. Meninggalkan ranselnya begitu saja. Mengarah ke titik koordinat yang ditunjukkan. Secepat mungkin.
Lahan itu tak jauh. Berdekatan pula dengan sekolah dengan festival musim panas yang tempo hari ia datangi. Sebuah lahan kosong milik pemerintah yang entah disisakan untuk tujuan apa. Sempat dikeruk kemudian ditinggalkan.
“Di mana dia?” Chanyeol menggeram di tengah sengal napasnya. Mengepal tangan kuat-kuat sebagai bahasa tak sadarnya menahan amarah.
Seorang laki-laki di depan sana berbalik. Seorang yang seharusnya sudah Chanyeol tahu betul akan ada di sana.
“Hm? Siapa?” Senyum licik terulas. Chanyeol tahu betul makhluk itu telah mengejeknya. Tapi demi Tuhan, ia tidak ingin firasatnya kali ini benar. Sama sekali. Maka ia butuh jawaban tentang ke mana makhluk itu membawa Jongdae.
Tidak mendapat respon lagi, Junmyeon tertawa. Ia mengangkat sebelah tangannya. mengarahkannya serong tinggi-tinggi. Ia tampak membuat tarikan dengan telapak tangannya yang terbuka.
Bruk .
Sesuatu terjatuh di sisinya. Mata Chanyeol membola. Ia sempat memaksa dirinya untuk tak mempercayai tapi tidak berguna.
Apa yang ada di depan sana dan terlihat oleh matanya adalah tubuh manusia.
“Dia berkhianat. Jadi untuk apa menunda untuk membunuhnya.”
“Kau keparat!”
Kobaran api menyambar lurus. Cepat. Asalnya dari si jangkung yang kini telah kehilangan kesabarannya.
Chanyeol mengambil langkah seribu. Maju. Hanya sempat satu kali ia lirik tubuh tak bernyawa yang tergeletak di samping Junmyeon. Sebelum melepas sekali lagi kobaran berikutnya. Menembakkan dari jarak lebih dekat.
Ia bahkan tak peduli semua itu dapat ditahan dan pantulkan oleh sang musuh dengan mudah. Sebab semua pergerakannya dibuat tanpa perhitungan. Hanya wujud dari kemarahannya yang membumbung. Apapun itu untuk melampiaskannya.
Dia seharusnya tak membiarkan ini terjadi. Seharusnya dia tahu Jongdae berada dalam bahaya dengan membeberkan sebagian rencana Red Force padanya. Seharusnya dia bisa mencegah ini.
Tapi tubuh itu, seingin apapun ia berharap keajaiban, sudah tak lagi bernyawa.
“Dia tidak berkhianat. Kau yang memanfaatkan kebaikannya, bajingan.”
Chanyeol terengah. Hanya mampu berbisik kecil karena ia sialnya nyaris tak sanggup menahan rembes tangis yang akan keluar.
Kenapa semuanya harus serumit ini?
DUM .
Chanyeol terpelanting. Jatuh. Terseret sekian meter di atas tanah berbatu.
“Aku tidak sebaik itu untuk memberikanmu waktu merenung.”
Petir menyambar. Sengaja dibuat meleset. Menyambar tanah tepat di sisi tubuh Chanyeol.
“Kau mengambil kekuatannya.” Chanyeol bangkit. Menatap tanah di antara kedua sepatunya. Menyuarakan satu kesimpulan begitu menyadari benang petir itu berasal dari tangan sang musuh.
“Begitulah.”
Chanyeol mengangkat tangan kanannya. Hendak membuat serangan meski ia sendiri tidak memasang kuda-kuda yang cukup.
Maka ia kembali terpelanting alih-alih berhasil menembakkan apinya. Kalah cepat oleh pukulan gelombang yang dilepaskan Junmyeon.
“Lamban.”
Satu lagi pukulan akan dilepas. Chanyeol sudah bersiap menerimanya. Kalau satu kali lagi, seharusnya ia masih kuat. Setelah itu baru ia akan bangkit dan menghabisi. Sisi emosionalnya muncul di saat yang sangat tidak tepat.
“Matilah.”
Desing lain terdengar. Sambaran cahaya putih merebak. Mendahului pukulan yang hendak dilepas. Ganti Junmyeon terpukul mundur.
Tak sampai satu kedipan mata, seorang berambut merah sudah mengambil tempat di samping tubuh Chanyeol. Berdiri dengan kuda-kuda penuh.
“Bangun,” pintanya.
“Baekhyun—“
“Bangun dan kita selesaikan ini.” Baekhyun menatap lurus ke depan. Sepenuhnya awas. Berjaga kalau-kalau serangan kembali diarahkan kepada mereka selama menunggu si bodoh yang ada di sampingnya sadar dan bangkit memasang kuda-kuda.
Tapi lagi, mereka tidak punya waktu sebanyak itu. Junmyeon di depan sana sudah lebih dulu pulih seolah tidak ada apapun terjadi.
“Cih. Si pemegang kekuatan cahaya yang sok kuat.” Tangan kembali terangkat. Bersiap mengarahkan serangan pada Baekhyun dan Chanyeol.
Baekhyun terpaksa maju lebih dulu. Dengan kemampuannya bergerak gesit dan memberikan pukulan jarak dekat bertubi-tubi. Secepat cahaya pergerakannya.
Junmyeon mengimbangi. Tanpa kekuatan seperti milik Baekhyun, Red Force tidak pernah bisa diremehkan.
Saling berbalas. Ribuan pukulan dan tangkisan tiap detiknya. Bersama seluruh pergerakannya, Baekhyun mengumpati ketahanan makhluk itu. Kekuatan dan kecepatannya entah bagaimana jauh lebih besar dari sebelumnya.
“Sial.”
Langkah mundur diambil. Jarak kembali terbentang jauh. Baekhyun kembali ke samping Chanyeol. Keduanya kini berdiri bersisian.
Terengah. Baekhyun meraup udara banyak-banyak dan mengusahakan tenaganya segera pulih. Setelah semua upayanya, Junmyeon masih berdiri tegak di ujung sana. Menatap lurus kepadanya dan Chanyeol.
“Kupikir.. kita tidak bisa menyegelnya kali ini.”
Baekhyun diam menanggapi ucapan Chanyeol. Ia tidak ingin setuju tapi, dengan kekuatan seperti itu, rasa-rasanya memang mustahil.
“Kita coba formasi biasa. Kekuatan dua kali lipat. Jika tidak berhasil,” Baekhyun menjeda dan melanjutkan dengan rendah suaranya, “kita bunuh inangnya lebih dulu.”
“Baek..”
“Tidak ada cara lain. Kita sudah pernah menghadapinya. Berhasil memisahkan Red Force dari tubuh inang dan menyegelnya tidak menjamin tubuh yang digunakan tetap hidup setelahnya. Kali ini, membunuhnya lebih dulu bersamaan dengan Red Force jadi satu-satunya cara.”
Baekhyun terkesiap. Gesit mengepal tangan ke depan. Membentuk tameng.
Mereka terlalu banyak bicara dan tentunya Junmyeon tak akan membiarkan.
“Hitungan ketiga.”
Chanyeol menelan ludah. Ia ragu tapi untuk saat ini, mereka hanya bisa mencoba apa yang Baekhyun komandokan.
“Tiga. Dua.”
Chanyeol menyiapkan kuda-kudanya. Baekhyun menahan tameng dan bersiap melepasnya untuk melesat ke kiri setelahnya.
“Satu.”
Tameng diletuskan. Pukulan gelombang tekanan dari Junmyeon menembus udara kosong. Seketika cincin cahaya mengelilingi tubuh Junmyeon. Tak ada manusia yang dapat melihat dari mana asalnya. Tapi ketiganya tentu tahu.
Cincin yang terbentuk semakin jelas. Dari besar mengecil menyempit. Baik Baekhyun dan Chanyeol tidak terlihat di mana pun. Segalanya terjadi dalam waktu kurang dari dua detik. Yaitu ketika api menyambar. Merangkak cepat. Menjadikan cincin cahaya sebagai lintasan. Bersama menyempit seolah akan mengurung siapapun yang berada di tengah-tengahnya.
Sepersekian detik lagi sebelum penyegelan berhasil.
Tapi tidak. Tentu saja Red Force memahami pola itu meski dilakukan dengan kekuatan dan kecepatan dua kali lipat lebih besar.
Melompat tinggi. Cahaya dan api menyatu bertransformasi menjadi kristal. Memerangkap udara. Rencana pertama gagal. Chanyeol dan Baekhyun kembali ke satu titik. Saling memunggungi memasang kuda-kuda. Terengah. Berpeluh.
“Sial.”
Jarak lagi terbentang. Aman jika sekadar untuk mengambil napas.
Baekhyun memukulkan kepalannya ke depan. Membentuk tameng besar untuk melindunginya juga Chanyeol. Junmyeon tidak membiarkan mereka bernapas.
Glaarr .
Chanyeol merambatkan api ke tameng. Turut merambati gelombang yang masih dipukulkan ke tameng itu. Bergerak berlawanan arah. Mengejar asal pukulan. Karena itu Junmyeon menghentikan gelombang tekanannya.
Tapi tak lama. Sesaat setelah tameng meletus serangan berikutnya datang. Keduanya terpental. Terseret ke dua arah berbeda. Kali ini akibat kombinasi serangan itu serta energi yang kian terkuras, bangkit pun terasa begitu sulit. Tetapi keduanya mengusahakan dan kembali ke satu titik yang sama secepat mungkin untuk mengambil posisi saling melindungi.
“Serangan acak. Hitungan dua.” Baekhyun mengomando di tengah sengal napas. “Dua,” Kuda-kuda diperkuat sedapat mungkin, “satu.”
Kembali pada pertarungan jarak dekat. Dengan kecepatannya Baekhyun memulai lebih dulu. Sepersekian detik berikutnya Chanyeol menyusul. Mengobarkan serangan bertubi-tubi. Menargetkan Junmyeon yang gesit berkelit.
Baekhyun mengurungnya dalam kubah cahaya. Chanyeol bersiap merambatkan api tapi Junmyeon lebih dulu meledakkan apa yang mengurungnya dengan gelombang tak kasat matanya. Chanyeol dan Baekhyun menjauh. Mengambil jarak. Berpisah di dua arah dan mendekat secepat kilat. Kembali menyerang.
Semuanya berlangsung cepat. Tak akan mampu tertangkap oleh mata siapapun berapa banyak pukulan saling membalas. Api. Cahaya. Gelombang tekanan tak kasat mata.
Terus demikian, hingga sang pemilik kekuatan cahaya dan api nyaris sama sekali kehabisan energi. Memutuskan mundur pada jarak aman.
Kemeja mereka sudah basah oleh keringat. Kotor oleh debu dan tanah.
Juga darah.
Pukulan dan gelombang tekanan membuat darah mengalir keluar dari beberapa bagian tubuh. Meski empunya sudah berusaha menyesuaikan dengan kekuatan yang ada.
Baekhyun menyeka cepat darah yang mengalir dengan lengan kemejanya. Begitu pula Chanyeol. Setidaknya ini bisa dibilang tidak terlalu parah.
Melakukan pertarungan jarak dekat memang sesungguhnya amat tidak menguntungkan bagi mereka.
“Beritahu aku. Apa kalian pikir.. aku berada di sini karena ingin menghancurkan bumi?” Junmyeon melontar tanya.
Baekhyun berusaha mengatur napas. Ia tidak tahu apa urgensi pertanyaan itu di saat seperti ini. Tapi setidaknya ia bisa memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan kembali tenaganya.
“Chanyeol?” Kembali ia bertanya. “Kau pasti menyadarinya, kan? Bahwa ada hal besar yang kurencanakan?”
Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol, menatap nyalang karena selain ia sungguh semakin terbakar emosi melihat bagaimana Junmyeon bercakap dengan begitu santainya sementara dirinya dan Chanyeol sudah bermandikan peluh dan luka, pertanyaan barusan itu membuatnya merasa tidak tahu apa-apa. Merasa bodoh.
Chanyeol bungkam. Tidak pula menoleh membalas tatapan Baekhyun. Tapi Baekhyun sendiri melihat bagaimana raut lelaki itu dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan. Secara jelas.
Mirip seperti yang ia dapati beberapa waktu lalu, hanya saja dengan intensitas yang berbeda.
Dan karena itu, Baekhyun tersadar tentang fakta bahwa Chanyeol tidak mengatakan kekhawatiran itu padanya—tidak seperti biasanya—karena mereka tengah berada dalam pertengkaran. Dan dialah penyebabnya.
Alis berkedut kesal. Hal itu membuat Baekhyun luar biasa kesal. Sudah bertubi-tubi serangan ia berikan namun seolah tak berguna bagi makhluk itu. Dan sekarang, percakapan ini pula harus terjadi.
“Apa maumu sebenarnya?” Suara berat Chanyeol terdengar, bertanya pelan di tengah sengal napas. Separuh enggan, Baekhyun memalingkan pandangannya dari si jangkung itu dan kembali menatap musuh mereka di depan sana. Sebagaimana Chanyeol yang meski tampak jelas diliputi gundah sejak tadi, belum sekalipun lengah terhadap pergerakan Junmyeon dan memilih terus memasang mata padanya.
Junmyeon di tempatnya tertawa. Keras. Itu tampak begitu ganjil. Jelas bukan Junmyeon yang asli.
“Sungguh. Ini lucu sekali. Kalian tahu betapa bodohnya kalian?”
“ Fuck off ! Kau terlalu banyak bicara, sialan!” seru Baekhyun penuh amarah. Urat-urat lehernya menonjol. Tanda kemarahan mulai semakin tak terkendali.
Tapi kemarahan itu hanya berbuah seringaian di bibir Junmyeon. Gurat yang sesungguhnya tidak sama sekali akrab dengan wajah sosok ketua OSIS itu.
“Kalian—tidak, salah satu dari kalian pun cukup—mengingat siapa orang tua dan bagaimana kalian dilahirkan?”
Kerut alis Baekhyun berkedut tak suka. Pertanyaan yang tidak ia sukai, yang sialnya memanggil beberapa potongan memori yang sama sekali ia benci.
Ia terdiam. Seperti skakmat, dibuat tak bisa melawan otaknya sendiri yang mulai terpengaruh.
Ingatan satu per satu muncul.
Ia pikir tak ada lagi ingatan tersisa tentang semua mimpi buruk itu.
Tetapi mengapa hanya karena satu pertanyaan, semuanya kembali kepada kesadarannya dan seolah tereka ulang begitu saja?
Baekhyun benci. Baekhyun membenci itu semua.
Ting tong.
“Hey, Hyunbaek! Mau makan bersama kami?”
Saat itu Baekhyun tidak menghiraukan. Tentu saja. Ia sudah tau ke mana ajakan kosong itu akan bermuara. Untuk ukuran anak 9 tahun, Baekhyun sudah cukup punya perhitungan untuk itu. Lagipula untuk apa menanggapi ocehan teman-teman sekelasnya yang menyebut namanya saja tidak becus seperti itu.
“Kau tuli, ya?! Hyunbaek!”
“Sudahlah! Kau tidak boleh bersikap begitu padanya. Kata ibuku, kita harus bersikap baik pada anak-anak panti. Lihat, dia bahkan tidak bawa bekal!”
“Hahaha, kau benar. Dia tidak bawa bekal karena tidak punya ibu yang menyiapkan—“
Baekhyun berdiri dari kursinya. Menepis kotak-kotak makan kedua teman sekelasnya itu hingga berhamburan ke lantai. Mendorong satu di antaranya. Bersiap memukul.
“YAH! Apa yang kau lakukan?!”
“Pak Guru! Baekhyun menjatuhkan kotak bekal kami dan mau memukul Taejoo! Pak Guru!!”
Hari itu Baekhyun tidak tahu apa yang salah dari perbuatannya. Tapi akhirnya, hanya dia yang mendapat hukuman dan Ibu Panti harus datang untuk meminta maaf.
Itu baru satu. Satu dari sekian memori tidak mengenakkan yang bisa-bisanya melintas dalam kepala Baekhyun di situasi seperti ini. Kuda-kuda mengendur. Ia nyaris terhuyung. Pelipisnya kian banyak meneteskan peluh.
Chanyeol di sisinya menelan ludah. Dia tidak tahu apa yang Red Force lakukan pada mereka. Tapi satu per satu, untaian benang ingatan menjulur keluar. Terekognisi kembali. Sama sekali bukan saatnya tapi, ia tidak bisa melawan.
“Chanyeol ditemani pelayannya lagi.”
Kasak-kusuk terdengar. Bisik-bisik yang bersahutan.
“Anak orang kaya memang seperti itu.. Orang tuanya sibuk.”
“Ah, benar. Tapi.. hey, kau sudah tahu kalau Chanyeol itu bukan anak orang tuanya?”
“Huh? Apa maksudmu?”
“Maksudku, Chanyeol itu anak pungut.”
“Hey! Nanti Bu Guru mendengarmu!”
“E-eh..”
Meski semua bisik-bisik itu masuk dengan mulus ke pendengarannya, Chanyeol tampak tak terganggu. Ia memilih pura-pura tak mendengar.
Pelayan bilang, itu semua tidak benar. Anak-anak di daerah sekolah tempat Chanyeol belajar baru-baru ini memang seperti itu.
Katanya.
Tetapi Chanyeol bahkan tidak pernah ingat bagaimana rupa orang tuanya. Ia hanya kenal pada para pelayan, koki, guru privat dan dokter pribadinya, atau orang-orang yang sehari-hari ditemuinya di rumah.
Tidak ada yang ia tahu soal orang tua yang selalu disebut sibuk bekerja di luar negeri.
Bola mata bergetar goyah. Chanyeol merasa sekelilingnya beriak.
Sebuah telapak tangan menangkap miliknya. Menggenggam erat. Baekhyun menyatukan tangan mereka.
Fokus. Kita berdua di sini. Tidak lagi sendiri.
Perlahan Chanyeol memperoleh kembali kendali dirinya. Berusaha secepat mungkin. Genggaman Baekhyun ia balas dan pererat. Menjadikannya pegangan.
Selama ini, keduanya hidup tanpa pegangan. Semuanya mengawang. Identitas. Tempat untuk pulang. Seseorang untuk mengadu. Rasanya, Chanyeol dan Baekhyun tidak memiliki itu semua dan hanya menjalani hidup di tengah kabut.
Tapi sejak mereka bertemu dan menyadari bahwa mereka berbeda dari orang lain, juga adanya suatu keterikatan tak kasat mata yang membuat keduanya merasa familiar satu sama lain, rasanya kabut perlahan hilang. Masing-masing merasa, akhirnya menemukan sosok lain yang bisa menopang diri mereka. Dari yang semula sendiri, menjadi tidak lagi demikian.
Meski hanya terikat sebagai partner yang menjanjikan untuk menghadapi kekuatan yang tak tahu dari mana asalnya yang bernama Red Force, dua remaja SMA ini tahu mereka tidak bisa tanpa yang lainnya.
“Tujuanku bukan manusia. Bukan bumi,” katanya lagi. Ia kemudian tertawa kecil setengah berdecih, “Untuk apa mengincar tempat rusak seperti ini.”
Baekhyun kembali memfokuskan diri pada waktu dan tempat ia berpijak. Sudah hendak melontarkan sumpah serapah lagi saat kelanjutan kalimat disuarakan.
“Aku ke sini untuk kalian, tahu.”
“Kubilang berhenti bergurau,” geram Baekhyun. Memotong. Kepalan tangannya kian menguat. Ujung kuku jemari mungkin sudah menancap di telapak tangan.
Raut Junmyeon berubah.
“Kalian. Jika salah satu saja dari kalian bisa kumusnahkan, maka sisanya akan mudah.”
Baekhyun menggeram kesal. Pernyataan itu sama sekali tidak menjelaskan.
“Jadi? Sudah ingat asal-usul kalian?” Junmyeon tersenyum miring, mengingatkan dua orang lelaki di hadapannya.
Chanyeol dan Baekhyun bungkam. Campuraduk antara geram, kesal, dan hilang arah di saat yang bersamaan.
Tertawa lagi, Junmyeon melanjutkan, “Betapa lucunya, kan? Melihat makhluk yang bahkan tidak sama sekali dialiri darah manusia mati-matian membela dan mempertaruhkan diri demi makhluk fana itu.”
“Bumi ini penuh .”
“Palsu. Egois. Saling tindas. Saling gunjing.”
“Untuk apa tempat seperti itu dilindungi?”
Tidak ada berani mengakui namun, sedikit demi sedikit rentetan perkataan itu semakin terasa benar.
Chanyeol dan Baekhyun bungkam dan masih terjebak dalam pikiran mereka masing-masing.
“Apa maumu?” Chanyeol memotong. Bertanya. Suaranya tak sama sekali lantang. Energinya seolah sudah terkuras. Fisik dan emosi. Rasanya melelahkan.
Junmyeon mengangkat bahu. “Kau sudah tahu.”
Menuntut Baekhyun menatap Chanyeol. Meminta penjelasan.
Chanyeol melirik. Tertangkap basah kembali menyembunyikan sesuatu dari Baekhyun.
“Dia..” Chanyeol membasahi bibirnya, “hanya menginginkan kekuatan kita selama ini.”
Tak terima. Baekhyun kira, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar itu. “Apa? Hanya itu?” Ia tak percaya. “Hanya itu dan berapa nyawa sudah terbunuh dan berapa banyak tempat yang dibuat rusak?”
Junmyeon terbahak. Kencang sekali. Tawanya panjang menggelegar.
“Kau bicara seperti manusia, Baekhyun.” Junmyeon menyeka air di matanya. “Menurutmu, jika aku berhasil mengambil milik dua pemegang kekuatan terbesar di semesta ini, aku akan puas begitu saja?”
Baekhyun enggan menanggapi dengan kalimat lagi. Inginnya ia menghabisi langsung makhluk itu tanpa mendengar cakapnya lebih banyak lagi.
Ini semua membuatnya tidak tahu arah lagi.
“Tidak ada gunanya. Tidak ada yang berterima kasih pada kalian.”
“Atas semua usaha kalian mencegahku mencipta kekacauan, tidak ada yang akan berterima kasih.”
“Mereka tidak peduli pada kalian.”
Baekhyun menggeram panjang. Tak satupun sadar ketika si rambut merah itu melesat cepat. Maju. Tidak lagi berpikir panjang untuk menyerang.
Junmyeon nyaris kehilangan pertahanan. Tapi ia cepat menguasai keadaan. Mengimbangi Baekhyun yang menyerang membabi buta.
Itu semua benar. Mungkin. Perkataan yang baru saja terlontar. Tapi entah mengapa tak terasa demikian bagi Baekhyun.
Chanyeol tak lama berdiam. Ia bergabung. Tidak mempedulikan konflik batin yang tak hentinya mengganggu. Yang mungkin juga sama dirasakan oleh Baekhyun.
Baekhyun itu, keras sekali di luar. Tapi Chanyeol tahu mereka memiliki banyak hal yang sama untuk dirasakan. Kepedulian. Kasih sayang. Simpati dan empati.
Baekhyun..
Ya.
Kau.. mendengarku?
Mungkin. Aku tidak tahu.
Kubah cahaya. Rambatan api. Gelombang tekanan tak kasat mata dan berkelit.
Beberapa pola serangan berulang. Tidak ada perkembangan. Tapi tidak ada pula yang berniat berhenti.
Aku.. tidak bisa mempercayainya.
Kau memang tidak harus percaya.
Kita harus bagaimana?
Aku.. tidak tahu.
Keduanya terpelanting. Keras. Terjungkir berkali-kali. Baekhyun menghantam batu besar.
“Baekhyun..” Chanyeol merangkak. Mendekat berusaha mendekati Baekhyun. Berharap ia baik-baik saja.
DUM .
Pukulan lain mengempaskan tubuhnya. Menggagalkan upayanya memeriksa keadaan Baekhyun.
Energi tak lagi tersisa. Chanyeol tak tahu bagaimana lagi cara memaksa dirinya untuk kembali bangkit. Ia hanya mampu berguling semampunya saat sambaran petir berusaha mengincar. Ia nyaris tak dapat merasakan tubuhnya lagi.
Siapa kita.. Chanyeol?
Aku tidak tahu..
Benar, kita tidak mengetahui apapun..
Baek?
Ya?
Kupikir.. tidak apa-apa ‘kan, kalaupun kita memang bukan manusia?
Hm?
Yah, kau tahu, karena kita punya kekuatan untuk membantu orang lain, tidak ada salahnya, kan? Maksudku—
Aku tahu.
Ya, Baek?
Aku tahu, Chanyeol. Seperti itulah dirimu.
Terima kasih.
Kau ingat hari saat pertama kali kita bertemu?
Uh.. saat menyelamatkan paman penjual kue itu?
Hm. Kau mengamuk saat itu.
Tentu saja. Paman itu dipukuli hanya karena tidak mau memberi uang.
Ya. Kita, tidak suka melihat kejahatan.. sejahat apapun dunia berlaku pada kita.
..Aneh, ya.
Jadi mari kita selesaikan ini.
Uh? Bagaimana caranya?
Seperti biasa, kau hanya perlu mengikuti perintahku. Dengarkan aku.
Uhm, aku mengerti.
Kau bisa merasakan tanganku?
Kau.. memelukku? Baekhyun? Kau baik-baik saja?
Ya. Sekarang apa yang terasa di punggungmu?
Tubuhmu.. panas.
Bagus. Sekarang, serap semuanya.
Apa?
Serap semuanya. Panas. Tekanan. Aura. Semuanya. Serap ke dalam tubuhmu.
Baek?
Chanyeol. Lakukan.
Semua percakapan itu berkelebat. Mengambang antara kesadaran dan ketidaksadaran. Terdengar, sekaligus tidak. Terjadi, tapi tak benar terucap. Perintah terakhir dari Baekhyun yang Chanyeol dengar membuatnya mau tidak mau menurut. Tidak, ia tidak sekadar menurut, namun memang tubuhnya secara refleks merespon perintah itu. Sebagaimana yang selalu ia lakukan.
Di tengah lahan yang porak-poranda, tubuh dua remaja itu berpendar. Kerikil hingga bebatuan bergetar, terlempar, saat tercipta puting beliung mengelilingi tubuh keduanya. Merangkak secepat cahaya ke langit-langit. Seperti sebuah letusan cahaya.
Putih. Sebuah warna yang mewakili api yang sepanas inti matahari. Berkesiur cepat bersama angin. Sekilas seperti cahaya biasa, saat nyatanya ia adalah api yang berkobar cepat. Menembak ke angkasa.
Di antaranya, siluet kedua lelaki itu samar tampak. Si musuh pun belum mengambil tindakan karena habis akal akan apa yang tengah terjadi. Menatap nanar fenomena yang dimunculkan dua pemegang kekuatan besar semesta.
Siluet yang lebih tinggi berangsur tampak lebih jelas. Di antara pusaran puting beliung dan kobaran api putih yang seolah akan menerbangkan tubuhnya, surai lelaki itu berangsur berubah. Hitam. Beranjak cokelat. Merah. Abu-abu. Berhenti di sana. Tertiup angin kencang.
Raungan terdengar. Kencang. Panjang. Serupa gemuruh. Sang Red Force bahkan terkesiap. Langit seakan bergetar oleh raungan itu.
Lantas, ketika pusaran dan kobaran melemah, tinggallah seorang saja di sana. Si tinggi dengan kemeja berantakan akibat apa yang baru saja terjadi, lusuh, penuh noda, serta surai abu terang yang sudah tak berbentuk.
Tetapi tekad dari matanya memancar sekuat baja. Tubuh berdiri yakin di atas kedua kaki. Rahang tegas. Kepal tangan. Semua menggaungkan kekuatan dan keberanian.
Tiga ratus juta meter per detik. Melampaui cahaya ia bergerak. Maka tak butuh seperempat detik untuknya sampai di sisi Red Force, dan melepas serangan yang tak pernah ia miliki sebelumnya sampai kekuatan tak berwujud itu hancur lebur tak bersisa, menyisakan jasad inang tak bernyawa.
.
oOo
.
Pintu kamar rawat inap dibuka. Chanyeol melangkah masuk. Melempar senyum kecil pada seseorang yang duduk di atas ranjang rumah sakit. Tampak bersandar kaku dengan cervical collar di lehernya.
Senyum dibalas. Lelaki itu menyapa.
“Hai. Terima kasih sudah datang lagi,” katanya.
Chanyeol lagi tersenyum samar. Menghampiri meja nakas di samping ranjang dan menggantikan bunga di dalam vas dengan yang dibawanya.
“Tidak perlu repot-repot. Ibuku akan mengganti itu besok, sebenarnya.”
“Tidak masalah. Menggantinya setiap hari akan lebih baik.” Chanyeol melanjutkan kegiatannya. Menata aster ke dalam vas.
“Baiklah.”
Usai menyisihkan sisa bunga yang sudah separuh layu dan merapikan nakas, Chanyeol menarik kursi di sudut ruangan. Mengambil tempat ke samping si pasien.
“Bagaimana keadaanmu hari ini?” tanyanya.
Lelaki di atas ranjang tersenyum ramah, meski tak tampak leluasa karena barangkali ia belum bisa banyak berbuat. “Aku baik. Terima kasih. Bagaimana sekolah hari ini?”
Pertanyaan-pertanyaan rutin yang saling keduanya lontarkan setiap kali Chanyeol datang menjenguk. Tentang keadaan, tentang sekolah.
“Seperti biasa. Ah, beberapa menitipkan salam saat kubilang akan pergi mengunjungimu hari ini.”
Junmyeon di tempatnya kembali tersenyum. Matanya menyipit. Senang.
“Sampaikan terima kasihku juga,” katanya, “kalau kau tak keberatan.” Ia menambahkan.
“Tentu.” Chanyeol membalas dengan senyum tipis.
Kemudian seperti halnya hari-hari kunjungannya ke kamar ini juga, mereka akan hanyut dalam keheningan. Chanyeol tidak segera bangkit. Melainkan masih duduk di kursi dengan mata menerawang.
Junmyeon tidak banyak bertanya. Yang ia tahu, Chanyeol menyelamatkannya dari sebuah kecelakaan di lahan proyek pemerintah yang juga menewaskan satu orang siswa kelas 2-2. Selebihnya, Chanyeol belum memberi penjelasan lebih. Tapi Junmyeon cukup paham untuk tidak terlalu banyak menuntut ketika Chanyeol tampak tak baik-baik saja kala menceritakan hal-hal kepadanya. Pikirnya, mungkin lain waktu akan ada kesempatan untuk meluruskan.
Semuanya terjadi begitu saja. Saat detik-detik terakhir Chanyeol akan mengangkat tubuh tak bernyawa yang menjadi korban Red Force saat itu, napas dan detak jantung seolah dikembalikan pada jasadnya. Sekarat. Namun tetap hidup. Chanyeol sempat mengira ia hanya berhalusinasi saat tak merasakan denyut nadi dari tubuh itu.
Ia tidak tahu kekuatan macam apa yang mampu melakukan itu semua. Memusnahkan Red Force dalam waktu kurang dari satu detik, dengan sekaligus menyelamatkan tubuh inangnya.
Namun saat tak sengaja fokusnya tertambat pada kaca jendela kamar rawat inap itu dan melihat pantulan wajahnya yang berbingkai rambut sewarna abu, Chanyeol seolah mendapat jawabnya.
Baekhyun .
Seperti mimpi. Apa yang berlalu terasa tidak nyata. Tapi Chanyeol mengingatnya. Ia bahkan seperti terlahir kembali kala itu. Dengan keadaan begitu kuatnya. Seolah apapun bisa ia lakukan dan mengatasi Red Force yang demikian hebat bukanlah perkara sama sekali.
Yang Chanyeol tak mengerti, ia berakhir sendirian saat itu. Bersama semua kekuatan itu, Baekhyun menghilang, Tak tampak lagi sama sekali di hadapannya.
Esok hingga esoknya lagi, di sekolah, di rumah, atau di manapun, Chanyeol tak dapat menemukannya. Lebih dari dua minggu Baekhyun menghilang tanpa jejak. Pihak gedung tempatnya tinggal, panti tempatnya tumbuh, tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Nyaris setiap hari ia pergi ke kamar Baekhyun, petugas di sana turut menanyakan lelaki itu padanya.
“Dia.. sedang sakit. Aku datang untuk mengambilkan pakaian.”
Itu yang selalu ia jadikan jawaban.
Meski sendirinya tidak tahu-menahu, Chanyeol tidak setuju pada ide bahwa Baekhyun telah pergi . Tidak. Firasatnya tidak sama sekali membenarkan itu.
Hari sudah beranjak malam saat Chanyeol berpamitan pada Junmyeon dan ganti mengunjungi tempat tinggal Baekhyun yang masih sama kosongnya.
Ia menghidupkan lampu. Membenahi apapun yang bisa ia benahi meski itu sudah ia lakukan di setiap waktu ia datang. Semuanya sudah tertata rapi dan bersih.
Cermin kecil yang digantung di sisi meja belajar menjadi tambatan Chanyeol selanjutnya. Hanya iseng saja. Meski sudah lebih dari dua minggu berlalu, ia masih belum terbiasa dengan rambutnya saat ini.
Warna keabuan itu.. dari mana asalnya?
Chanyeol melipat bibir. Pertanyaan bodoh. Sesungguhnya ia hanya berpura-pura tidak tahu meski otaknya sudah membentuk kesimpulan tentang semua perubahan yang muncul di tubuhnya sendiri.
Kekuatan Baekhyun, kini ada pada dirinya.
Tanpa ia kehilangan kekuatannya sendiri.
.
.
“Dia menginginkan kekuatan kalian.”
“Huh?”
Pernyataan Jongdae tak dimengerti Chanyeol. Tapi laki-laki berambut pirang itu tentu sudah siap menjelaskan lebih.
“Dengan kekuatan kalian, jangankan menguasai bumi. Seluruh alam semesta pun, akan dengan mudah dia tempatkan di bawah kakinya.”
Chanyeol terdiam. Sedikitnya merasa tidak percaya, namun diam-diam merasakannya masuk di akal.
Ia hanya belum terbiasa membicarakan hal seperti ini dengan orang yang bukan Baekhyun.
“Sebenarnya..” Chanyeol akhirnya bersuara, “Siapa dia ?”
Jongdae melipat bibir. Menatap jauh ke langit-langit dari tempat mereka duduk di atas tanah.
“Aku juga tidak tahu.”
Chanyeol menatap figur samping wajah itu. Akhirnya menemukan rasa familiar mirip dengan yang ia miliki ketika pertama kali bertemu dengan Baekhyun.
Jongdae kemudian melanjutkan. “Aku hanya tahu sampai kepada fakta bahwa kita memang bukan manusia. Atau setidaknya, bukan makhluk yang berasal dari sini ,” katanya. “Dan kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan apapun-itu seperti Red Force. Ini mungkin sesuatu yang perlu menggali sejarah lama untuk mengetahui asal-usulnya.”
Semakin Jongdae berbicara, rupanya semakin dibuat mengerutkan dahi si lelaki yang lebih tinggi.
“Kau.. kelihatan tahu banyak hal.” Chanyeol menatap lamat. “Dan kau sendirian selama ini?”
Jongdae melirik sekali lagi ke arah Chanyeol, sebelum kembali menatap langit.
“Ya. Awalnya. Tapi tidak sampai aku melihat kalian bertarung dengan nya ,” kata Jongdae. Ia kemudian sedikit tertawa saat menambahkan, “Baekhyun pasti sudah menaruh curiga padaku. Dia beberapa kali menangkap basah aku memperhatikan kalian. Makanya, jangan bilang apa-apa dulu padanya, ya.”
Chanyeol menggumam. Mengerti. Satu per satu, apa yang sebelumnya hanya berupa prasangka menjadi terjelaskan
.
.
Dalam waktu singkat perkenalannya dengan Kim Jongdae, Chanyeol dipertemukan dengan banyak fakta. Tentang Jongdae dan kekuatan petirnya. Juga kemampuan menyamarkan aura. Kemampuan yang juga bisa dilakukannya pada orang lain jika ia mau. Seperti halnya pada Baekhyun dan Chanyeol sendiri waktu itu. Sesederhana melalui satu tepukan di bahu. Kemampuan yang juga dimanfaatkan oleh Red Force.
Makhluk itu memperdayanya. Memberikan ancaman. Hingga Jongdae tidak memiliki ruang selain untuk mengikuti perintah yang diberikan padanya.
Chanyeol tanpa sadar mengepalkan tangannya. Marahnya akan semua itu bangkit kembali.
Suhu kamar meningkat. Tak sengaja terpengaruh oleh sosok tinggi yang masih berdiri di depan cermin.
Memejam sejenak, Chanyeol berusaha mengendalikan diri. Harus. Atau ia bisa membakar tempat ini.
Kekuatannya meningkat berkali-kali lipat dan ia masih berada dalam usaha mempelajari cara mengendalikannya.
Kim Jongdae terlalu baik untuk menemui akhir naas seperti ini. Alih-alih karena merasa sama dengannya dan Baekhyun, Jongdae membantu karena ingin berterima kasih.
Seorang pria paruh baya di waktu ketika Chanyeol dan Baekhyun pertama kali bertemu, seorang yang mereka selamatkan bersama untuk pertama kali, adalah kakek angkatnya. Jongdae bilang, kakeknya adalah segalanya dan siapapun yang membantu orang yang ia sayangi jugalah demikian.
Chanyeol menggeertakkan giginya. Ia membenci dirinya yang tak mampu melindungi. Orang-orang yang menjadi korban. Jongdae. Baekhyun .
Seharusnya juga, seharusnya dia yang melindungi Baekhyun. Kini ia bahkan menerima semua kekuatan Baekhyun dan melanjutkan hidup seperti biasa.
Setelah semua kesulitan yang Baekhyun lalui dalam hidupnya, Chanyeol masih pula tidak mampu menjadi sosok yang membawa kebahagiaan untuknya.
Masih banyak yang belum ia katakan pada Baekhyun. Tentang cerita dari Jongdae. Tentang apa yang selama ini dibiarkan tak terucap.
Tapi di saat seperti ini, Chanyeol sempurna kembali kehilangan arah.
.
oOo
.
Waktu pulang sekolah lagi-lagi dihabiskan Chanyeol dengan duduk bersandarkan tembok gedung samping sekolah yang kotor. Sisi yang jarang dilalui siswa selain lapangan belakang. Duduk beralaskan tanah dan rumput liar, menatap ke arah langit tanpa juntrungan.
Meski tak jelas tujuannya, rutinitas ini cukup berguna dalam membawa ketenangan untuknya. Memberinya waktu merenung. Sekaligus menghabiskan waktu yang tak lagi ia tahu ingin digunakan untuk apa.
Baru kemarin ia menjenguk Junmyeon. Setelah ini ia hanya akan mengunjungi tempat tinggal Baekhyun seperti biasa. Kemudian pulang dan mengerjakan PR dengan rajin. Belajar untuk ulangan sekaligus mempersiapkan ujian.
Semua itu ia lakukan. Bahkan kebiasaan yang tidak biasa itu, yang selalu membuat Baekhyun mengomel gusar padanya, ia lakukan.
Sebuah cara yang diam-diam diselipkannya harap akan membawa Baekhyun kembali padanya.
Tempat ini akan mengingatkannya pada Jongdae. Dan kebiasaan-kebiasaan baru itu akan mengingatkannya pada Baekhyun. Selain itu, Chanyeol belum tahu hal apa lagi yang akan ia lakukan.
Bangkit, Chanyeol membersihkan celananya. Hari ini ia mengunjungi Baekhyun lebih cepat.
Langkah mulai diambil. Santai, atau lebih kepada sengaja ingin menghabiskan waktu yang ada.
Namun belum sempurna ia keluar dari bagian samping gedung sekolah, langkahnya terhenti. Terpikir sesuatu yang—mungkin—brilian, dan dapat dijadikannya opsi untuk hari ini.
Seperti apa yang ia lakukan pada Junmyeon, seharusnya juga ia lakukan untuk Jongdae. Ia perlu memberi kabar pada keluarganya. Atau dalam hal ini, kakeknya. Benar. Kenapa ia baru terpikir sekarang?
Cepat-cepat ia kembali ke dalam gedung sekolah. Menyambangi ruang tata usaha dan menghentikan karyawan di sana yang secara kebetulan baru saja ingin mematikan komputernya.
Chanyeol mengatur napas. Bicara terburu-buru.
“Maaf. Aku perlu data seorang siswa.” Chanyeol menjelaskan. Ia sempat dibuat kesulitan karena keperluannya dianggap tidak sesuai prosedur. Tapi setelah memohon-mohon, karyawan itu menyerah.
“Baik, baik. Tunggu sebentar.”
Database dibuka. Memasukkan nama Kim Jongdae di kolom pencarian. Chanyeol harus melakukan ini sebab di hari itu hingga setelahnya, tidak ada upacara pemakaman diselenggarakan. Kakek Jongdae mungkin sudah terlalu tua untuk mengurus hingga akhirnya hanya lembaga sosial bersama polisi yang membantu. Sekali lagi memperjelas bahwa selain dengan kakek itu, Jongdae tidak memiliki keluarga yang lain.
Chanyeol meringis pelan. Merutuki mengapa bisa-bisanya ia baru punya niat mengunjungi sang kakek sekarang. Ia seharusnya melakukannya sejak awal jika saja tak terlalu lama terpukul oleh apa yang terjadi.
Secarik kertas berisikan alamat akhirnya Chanyeol dapatkan. Ditulis buru-buru menggunakan sobekan yang ia ambil dari buku tulisnya.
“Terima kasih,” ucapnya, membungkuk dalam-dalam pada pria yang berjasa padanya itu.
“Ya, ya. Sudah sana. Sampaikan salamku untuk Kakek Kim.”
Chanyeol tersenyum. Mengiyakan. Lantas bergegas pergi.
Perlu melewati tiga halte dengan perjalanan bus untuk sampai di alamat itu. Ditambah limabelas menit berjalan kaki untuk naik ke perumahannya. Chanyeol sampai di tengah-tengah deretan rumah mungil yang saling berdempetan.
Jalanan terus ia susuri. Menanjak. Terus sampai ia tiba di hadapan pagar kecil dengan keterangan yang sama di kertas yang ia bawa.
Pagar kecil itu membuka sedikit. Memberikan celah untuknya melihat pelataran semen dan rumah kayu di baliknya.
Chanyeol mendorong pagar itu perlahan. Menyuarakan permisi dengan sopan.
“Permisi,” ulangnya sekali lagi. Kini sudah memijak di dalam. Pemandangan rumah tradisional menyambutnya. Pelataran yang cukup luas di tengah-tengah, dan rumah kayu sederhana yang dibangun mengeliling.
“Kakeek! Kubilang baju yang ini dibuang saja! Kenapa masih dimasukkan ke keranjang?!” Suara teriakan terdengar dari sisi rumah. Diikuti kasak-kusuk namun tak kunjung tampak empunya.
Chanyeol menggigit bibir bawahnya. Mungkin, ia berhalusinasi. Atau hanya kebetulan saja suara itu mirip.
Satu tarikan napas. Chanyeol berusaha meyakinkan diri.
“Permi—“
“Kakeek! Tidak dengar, ya? Baju ini—“
Kalau kau tidak tahu apa itu definisi dari waktu yang terasa seakan berhenti, maka seperti inilah kiranya. Kala kedua pasang mata itu bersirobok, tidak ada lagi yang mampu terekognisi selain kehadiran satu sama lain.
Apa yang ingin keluar dari mulut Chanyeol berhenti di udara. Celah di antara kedua bilah bibirnya dibiarkan begitu saja. Tidak, ia bahkan tak tahu dan tak menyadari seperti apa rupa ekspresinya saat ini.
Mata bulatnya berhenti pada sosok itu. Enggan berkedip. Takut-takut sosoknya menghilang setelah satu saja kedipan mata ia buat.
Sungguh, jika ini semua tidak nyata, ini benar-benar tidak lucu. Chanyeol tidak akan membiarkan air matanya menggenang hanya untuk sebuah objek khayalan.
Seluruh kata yang hendak terucap tak bisa sampai ke ujung lidah. Terpaku.
Bunyi duk pelan kemudian menjadi hal pertama yang terdengar. Keranjang berisi tumpukan pakaian yang dibawa seorang laki-laki yang baru saja muncul dan hendak melintas menuju bagian rumah yang lain diletakkan ke atas lantai semen berpasir.
Empunya lantas kembali berdiri tegak. Kembali bersitatap dengan si jangkung berambut abu yang datang berkunjung.
Tidak ada lagi mullet merah yang khas darinya. Yang ada hanya potongan sederhana sewarna jelaga yang membingkai wajah kecilnya yang manis.
Chanyeol tidak memegang jaminan apapun bahwa yang muncul di hadapannya adalah sosok yang sama. Meski wajah itu, mata itu, semuanya, semuanya tidak satupun yang berbeda.
Dan sesuatu dalam dirinya tak bisa berhenti berusaha memberitahu.
Bahwa itulah dia.
“Chanyeol,”
Tepat ketika panggilan itu ditujukan padanya, Chanyeol tak lagi menghiraukan ragu atau apapun. Ia menyeret langkah. Pelan, berangsur cepat. Berlari menyambar tubuh kecil itu.
“Chanyeol.” Satu lagi panggilan. Disuarakan oleh yang lebih pendek dalam sebuah bisik pelan nan bergetar.
Chanyeol melepas tangisnya. Peduli setan dengan isak yang terdengar tak ada beda dari anak bayi. Ia memeluk erat-erat sosok di dalam rengkuhannya. Merasakan benar-benar kehadiran fisiknya.
Baekhyun menenggelamkan kepalanya di dada Chanyeol. Si jangkung temannya, si konyol yang diam-diam tak pernah berhenti ia ingin jumpai lagi.
Sekian misteri yang belum terungkap biarlah menjadi urusan nanti. Untuk saat ini, keduanya hanya ingin saling merasakan kehadiran satu sama lain. Biarlah mereka saling berutang penjelasan satu sama lain, agar menjadikan wajib bagi mereka waktu yang panjang untuk saling membayar.
.
fin.
