Work Text:
"Shoko, Suguru sukanya apa?"
Isapan rokok di antara belah bibir terhenti. Shoko melempar tatapan heran kepada Satoru, yang seolah baru saja menanyakan pertanyaan paling absurd yang pernah dia dengar di hari itu.
"Hah? Kok tanya aku? Kamu enggak salah orang?"
"Ya kan kamu temannya juga." Satoru menarik kursi, duduk berhadapan dengan Shoko.
"Betul. Tapi enggak sedekat kamu sama dia. Bentar dulu. Ini dalam rangka apa, sih?"
"Um, cuma pengen ngasih hadiah buat Suguru. Tiga hari lagi ulang tahunnya dia, kan?"
Di tahun pertama semenjak Geto Suguru resmi terdaftar sebagai murid sekolah Jujutsu, hari kelahirannya dirayakan dengan bau amis darah dari celah luka di lengan dan gemeretak gigi roh kutukan yang berdenging di telinga. Tidak ada selebrasi, kartu ucapan, atau kue spons stroberi sebagai hidangan. Alih-alih Suguru harus menelan roh kutukan dalam bentuk gumpalan sebesar bola golf. Rasanya seperti menelan muntahan sarapan tadi pagi.
Shoko sempat memberikan ucapan keesokan harinya. Sementara Satoru? Dia benar-benar lupa sampai tiga bulan berikutnya. Satoru lalu menyeret Suguru ke kafe langganannya karena dia sedang ingin makan parfait (“Selamat ulang tahun, Suguru!”). Suguru tidak protes.
Dengan demikian, Satoru punya cukup alasan kenapa ia bersikukuh ingin memberikan hadiah yang layak kepada sahabat sendiri di tahun ini. Tentu karena Satoru bukan tipe teman brengsek. Tolong digarisbawahi.
"Kalian lebih sering barengan. Ke mana-mana berdua terus. Harusnya kamu lebih tahu dong." Tangan Shoko menyilang di depan dada.
“Emang. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, jujur aku tuh bingung Suguru sukanya apa. Soalnya dia enggak pernah bilang dengan gamblang.” Satoru mendesah. Rambut putih diacak. Frustrasi.
“Oh. Ya udah. Tanya aja langsung sama orangnya,” tanggap Shoko ringan. Shoko bangkit dari kursi, hendak beranjak keluar ruang kelas ketika lengannya ditahan Satoru.
“Shokoooo~ bantuin dong!” Satoru bergelayut manja seperti koala. “Ngapain ngasih hadiah kalau orangnya tahu. Enggak seru.”
Shoko melirik teman seangkatannya dari balik bahu. Sepasang mata dengan warna biru yang terlalu mentereng itu berkilat penuh harap di balik kacamata hitam. Bibir manyun. Satoru terlihat layaknya anak kucing yang minta dikasihani. Rambut kecokelatan disisir ke belakang dengan jari. Bola mata Shoko berputar. Shoko menarik napas panjang dan dihembuskan dalam satu sentakan.
Shoko kembali duduk sembari bergumam, “kenapa aku bisa temenan sama kamu...”
Batang rokok yang tinggal separuh dibawa ke bibir. Asap putih mengepul. “Oke. Jadi gini deh. Coba sekarang kamu bikin daftar kesukaannya Geto.”
Satoru bergerak cepat mengambil secarik kertas dan pulpen.
[Makanan: Zaru soba.] Centang. Ini sudah menjadi rahasia umum. Nenek pemilik kedai tempat biasa Suguru makan juga tahu. Ini sudah terlalu sering Suguru konsumsi. Bisa jadi ketika lambungSuguru dibelah, isinya soba semua.
[Hobi: Baca buku, berlatih seni bela diri.] Satoru tahu Suguru suka baca buku filsafat. Sekarang pertanyaannya adalah buku filsafat apa yang Suguru belum punya? Satoru tidak bisa menjawab ini disebabkan tiap kali mereka ke toko buku, Satoru akan segera menuju rak komik sementara Suguru berkutat di rak dengan tema bacaan yang bertolak belakang. Walaupun demikian, jika ditanyakan ke Suguru perihal serial komik yang sedang diikuti Satoru, maka Suguru bisa menjawab dengan presisi. Suguru acap kali membelikan komik terbitan baru untuk Satoru. Sedangkan opsi kedua? Oh lupakan saja. Tentu tidak lucu jika mereka harus gontok-gontokan di hari ulang tahun.
[Tempat: Taman hiburan???] Suguru dan Satoru pernah ke taman hiburan. Sekali—dua kali. Kala itu, mereka dapat tiket gratis dari klien sehabis misi memberantas roh kutukan. Satoru ingin naik roller coaster. Suguru ikut. Kali kedua, mereka datang lagi ke taman bermain yang sama. Satoru ingin coba wahana lain. Suguru ikut.
[Game: Zelda???] Telat setahun bagi Suguru ketika konsol genggam Nintendo Dual Screen jatuh ke tangannya. Sebagai yang empunya duluan, Satoru merekomendasikan sederet judul permainan yang menurutnya menarik. Sebagian besar bergenre petualangan. Pilihan Suguru tertambat pada Zelda. Satoru mencibir bahwa Suguru tidak akan lampaui rekornya menamatkan Zelda. Suguru ambil tantangan itu. Nyatanya, Suguru berhasil taklukan game tersebut seminggu lebih cepat dari Satoru. Suguru tersenyum puas tatkala kacamata hitam bundar Satoru melorot sampai pucuk hidung dan mulut ternganga (“Ta-tapi koleksi pokemon-ku lebih banyak!”).
[Film: The Lord of The Rings???] Hidup berprofesi sebagai shaman artinya minim liburan. Sekalipun mereka masih dalam kategori siswa sekolah, keduanya tetap disibukan dengan berbagai misi. Mengingat kemampuan Satoru dan Suguru di atas rata-rata bahkan bisa melebihi shaman veteran hingga dikenal sebagai “Duo Terkuat”. Ada kalanya hari libur mereka isi dengan bersantai di kamar asrama. Biasanya, Satoru lebih suka berada di kamar Suguru yang lebih rapi dan bersih ketimbang kamar sendiri. Hari itu Satoru usulkan maraton trilogi The Lord of The Rings untuk yang keempat kali. Suguru telah menyiapkan aneka camilan dan minuman soda. Lampu kamar dimatikan. Cahaya televisi memantul di wajah mereka. Bantal-bantal dan selimut disusun menyerupai benteng. Tungkai panjang Satoru berselonjor malas. Tangan mendekap boneka beruang pemberian Suguru yang didapat dari mesin capit. Pundak mereka saling bersentuhan dalam remang. Mereka akan menonton hingga kantuk tidak tertahankan lagi dan matahari mulai merangkak naik dari ufuk timur. Terkadang ketika Satoru bangun, dia mendapati pundak Suguru menopang kepalanya.
Satoru selesai menulis. Pulpen diletakan di samping, mendorong kertas ke depan. Shoko meraih kertas tersebut. Dagu bertopang pada satu tangan, menilik setiap daftar yang tercantum di sana.
“Jadi gimana, Shoko?”
“Diam dulu. Jangan berisik!”
Patuh, Satoru menutup resleting mulutnya dalam gerak komikal.
“Tanda tanya ini maksudnya apa?” Tanya Shoko.
“Oh itu. Aku enggak yakin Suguru benar-benar suka karena—“ Kalimat Satoru menggantung di udara. Ada bunyi Klik! Dalam kepala, seperti saat lubang pintu menemukan kunci yang pas. Satoru paham alasan mengapa sulit baginya dalam menemukan apa yang dia cari.
“Karena?” Shoko menuntut jawab. Tubuh condong ke arah Satoru sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
Satoru menjilat bibirnya yang terasa kering, sebelum akhirnya membuka mulut. “Karena semuanya kesukaanku.”
“Hmm...”
Shoko dorong badang ke belakang hingga menyentuh punggung kursi. Benang merah ditarik layaknya detektif yang tengah menganalisa kasus. Menjalin satu per satu hingga temukan konklusi. Satoru merasa dirinya seperti sedang berada di persidangan menunggu vonis.
“Mungkin Geto sukanya sama kamu.”
.
.
Bertanya pada Shoko adalah keputusan yang salah.
Satoru mengamini pernyataan ini. Tidak puas dengan jawaban Shoko, Satoru mencari responden lain dan menanyakan hal yang sama.
Berikut rekap hasil sesi wawancara:
- Nanami Kento, murid tahun pertama: “Geto-san ingin hidup tenang dan damai tanpa gangguan dari Gojo-san.”
(Itu maunya kamu sendiri kan, Nanami....”)
- Haibara Yu, murid tahun pertama: “Ikat rambut! Geto-san rambutnya panjang jadi pasti butuh ikat rambut!”
(Kok standar banget jawabanmu. Iket rambut doang sih Suguru udah punya segudang.”)
- Yaga Masamichi, guru: “Suguru anak baik, tidak banyak pilih. Dikasih apa pun pasti bilang terimakasih. Coba kamu contoh dia, Satoru!”
(Lho, kenapa jadi aku yang diceramahin....”)
Satoru mendecih. Kesabarannya hilang.
Persetan dengan kejutan, pikirnya. Satoru menggunakan senjata terakhir; tanya langsung.
“Suguru!” Pintu menjeblak terbuka. “Cepetan jawab, kamu pengen apa buat hadiah ulang tahun?” Satoru bertanya tanpa tedeng aling-aling.
Suguru, yang tengah membaca buku di kamar dengan tenang, mendongak. Mata mengerjap, coba telaah pertanyaan dadakan Satoru. Suguru tahu teman baiknya itu rada aneh. Meskipun sering bersama, tetap saja ada waktu di mana Suguru dibuat gagal paham dengan tingkah laku Satoru.
“Eh? Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
Lidah Satoru berdecak tidak sabar. “Perlu banget aku jelasin? Aku yang kaya dan baik hati ini mau ngasih kamu hadiah ulang tahun. Buruan bilang aja, sebelum aku berubah pikiran,” jabar Satoru sembari sebelah tangan berkacak pinggang. Badan bersender pada daun pintu.
“Enggak perlu repot-repot sih sebenernya. Aku ditraktir makan zaru so—“
“ASTAGA! Jangan sebut zaru soba lagi, demi Tuhan! Apa enggak bosen makan tepung terus?” Kalimat Suguru dipotong Satoru.
“Sama kayak kamu yang tiap hari minum teh dengan lima balok gula.”
“Itu beda kasus ya, Suguru... Udah jangan bahas ini lagi. Balik ke topik awal.”
Satoru amati gerak-gerik Suguru, menunggu jawaban. Tangan Suguru melipat di depan dada. Kepala dimiringkan beberapa derajat. Sesekali ujung jari telunjuk menggaruk pipi. Bola mata melirik ke langit-langit, samping, jatuh ke lantai, sebelum akhirnya berpindah menatap Satoru.
“Aku udah lama pengen ke Museum Nezu,” kata Suguru. “Sabtu nanti ayo kita ke sana.”
Tunggu sebentar.
“Kita?” ulang Satoru.
“Iya. Kita. Aku dan kamu.”
“Heh.” Satoru terkekeh pelan. Alis terangkat tinggi. “Apaan nih? Ajakan kencan?”
Suguru tergelak. Menaruh buku yang belum habis dibaca di atas meja, Suguru berdiri. Dia berjalan mendekati lelaki yang lebih tinggi.
“Aku enggak bilang gitu, lho. Kalau mau dianggap sebagai kencan ya terserah.” Suguru mengendikkan bahu.
“Kenapa baru sekarang ngajaknya?”
“Aku pikir kamu bakal bosen lihat patung-patung Buddha dan kaligrafi.”
“Aku mau, kok. Kalau Suguru yang ajak.”
Suguru mengulas senyum. Barangkali ada sekrup yang lepas dari kepala Satoru, sebab di matanya senyuman Suguru terlihat lebih manis dari biasanya—sangat manis.
“Oke. Jadi, ya, berarti.” Langkah Suguru melewati Satoru. Pundak Satoru ditepuk. “Ngomong-ngomong aku mau beli minuman. Mau nitip?”
“Susu pisang,” sahut Satoru singkat.
Keluar kamar, Suguru meninggalkan Satoru yang mematung.
(“Mungkin Geto sukanya sama kamu.”)
Sialan memang Shoko.
Malam ini Satoru tidak bisa tidur memikirkan itu.
.
.
.
.
the end
