Work Text:
Sumpah, Oikawa hanya bercanda ketika ia mengucapkan kalimat yang pernah nge-trend beberapa bulan lalu itu, "you wanna kiss me so bad it makes you look stupid", kepada Ushijima dengan nada suara dan ekspresi muka super songong yang menjadi ciri khasnya. Satu hal yang Oikawa lupa, ia berbicara pada Ushijima Wakatoshi, orang terserius yang pernah ia kenal, dan dapat dipastikan hampir 100% akan selalu menganggap serius semua ucapan Oikawa.
Saat itu, Aoba Johsai dan Shiratorizawa baru saja selesai melakukan latihan di hari pertama training camp yang berlangsung di Shiratorizawa. Oikawa sedang membeli minuman di vending machine samping gym ketika Ushijima datang menghampirinya. Kapten Shiratorizawa itu memberikan komentar tanpa diminta seperti biasa. Performa Oikawa hari ini, kemampuannya yang tersia-siakan, bla bla bla. Oikawa tidak bisa membedakan apakah komentar-komentar tersebut merupakan pujian atau hujatan ketika keluar dari mulut Ushijima. Sebetulnya Oikawa malas sekali menanggapinya, tapi ia pikir menggoda Ushijima sekali-kali apa salahnya.
Ushijima telah selesai berbicara. Saat itu juga Oikawa mendekatkan dirinya pada ruang personal Ushijima, mencondongkan tubuhnya sedikit, dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. Oikawa mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Ushijima lekat-lekat.
"Hmm, ternyata dari tadi Ushiwaka-chan merhatiin gue banget ya? Sorry ya, Ushiwaka-chan, setau gue, kalo main voli tuh yang diperhatiin bolanya, bukan cuma setter lawannya."
Ushijima diam saja mendengar perkataan Oikawa, ia hanya menatap mata Oikawa dengan wajah datar seperti biasa. Walaupun tidak terlihat adanya reaksi sedikitpun dari wajah Ushijima, Oikawa tidak gentar. Oikawa semakin mendekatkan wajahnya kepada Ushijima.
"Ushiwaka-chan, you wanna kiss me so bad it makes you look stupid," kata Oikawa sambil tersenyum menyeringai.
Wajah Oikawa dan Ushijima kini terlampau dekat. Oikawa dapat melihat ketika mata Ushijima sedikit melebar tepat setelah ia mengatakan kalimat tersebut. Dalam hatinya Oikawa sedikit merasa puas karena berhasil memecah ekspresi datar Ushijima walau hanya sedikit saja. Namun, seringai Oikawa tidak bertahan lama. Detik berikutnya mata Ushijima yang tadinya menatap mata Oikawa menjadi turun menatap bibirnya. Beberapa detik kemudian, mata Ushijima kembali naik menatap mata Oikawa.
"What if I say I do? I do want to kiss you, Oikawa."
Napas Oikawa tertahan, detak jantungnya melaju berkali-kali lebih cepat. Ia tidak percaya apa yang baru saja ia dengar dari mulut Ushijima. Otak Oikawa berputar mencari kata-kata yang tepat untuk membalas perkataan Ushijima ketika ia merasakan telapak tangan Ushijima di pipi kirinya.
Ushijima mendekatkan wajahnya pada Oikawa. Oikawa ingin kabur namun sensasi telapak tangan Ushijima di pipinya dan hembusan napas Ushijima di wajahnya seolah-olah menyihir dirinya dan membuat kedua kakinya menempel di lantai.
Oh tidak, oh tidak, oh tidak.
Ushijima semakin mendekat, ia menyesuaikan dirinya hingga bibirnya sejajar dengan bibir Oikawa.
"Oikawa, boleh?"
Suara Ushijima terdengar lebih dalam dari biasanya dan Oikawa tidak pernah merasa selemah ini sebelumnya. Mungkin saat itu otaknya sudah korslet, pikir Oikawa, karena ia mendapati dirinya mengangguk dan menutup kedua matanya.
Sedetik kemudian Oikawa merasakan kelembutan bibir Ushijima pada bibirnya. Ushijima menciumnya dengan lembut dan tidak terburu-buru. Semakin lama ciuman mereka menjadi semakin dalam. Oikawa mengangkat kedua tangannya dan meraih kaus Ushijima di bagian pinggang. Lutut Oikawa sudah seperti jelly dan ia betul-betul butuh pegangan.
Oikawa tentu saja sudah pernah ciuman sebelumnya, entah bersama mantan pacar atau fansnya. Namun, gadis-gadis itu lembut dan mungil, terkadang bibir mereka manis karena lipgloss atau lipbalm, dan parfum mereka beraroma seperti vanilla atau bunga-bunga lainnya.
Rasanya tentu 180° berbeda dengan apa yang dialami Oikawa saat ini. Ini kali pertama Oikawa mencium laki-laki. Ushijima satu-satunya orang yang bisa membuat Oikawa merasa mungil. Telapak tangan Ushijima yang besar terasa kasar namun hangat di pipinya. Walaupun mereka baru saja selesai latihan dan bersimbah keringat tidak sampai 30 puluh menit yang lalu, Oikawa bisa mencium aroma deodorant yang maskulin menguar dari Ushijima.
Ushijima semakin bersemangat mencium Oikawa ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan ingar bingar anak-anak Seijoh dari arah gym. Oikawa membuka matanya dan refleks mendorong tubuh Ushijima. Oikawa kemudian memutar tubuhnya membelakangi Ushijima.
"Jangan bilang siapa-siapa, awas kalo berani," ancam Oikawa sebelum ia melangkah meninggalkan Ushijima. Ushijima tidak menghentikannya.
°•°•°•°•°
Kemarin, Oikawa sudah bertekad bahwa ciuman di depan vending machine itu akan menjadi ciuman pertama dan terakhirnya dengan Ushijima. Tapi rasanya tekad tersebut akan sulit dipertahankan, mengingat hari ini baru hari kedua dari lima hari training camp yang harus ia jalani di Shiratorizawa.
Sebagai kapten dari masing-masing tim, Oikawa dan Ushijima mau tidak mau akan sering bertemu entah untuk briefing, evaluasi, atau membantu pelatih mempersiapkan training camp setiap harinya. Terlebih kedua tim ini sama-sama tidak punya manager. (Kok bisa sekolah elite langganan masuk nasional ga punya manager, julid Oikawa dalam hati).
Oikawa tidak paham bagaimana bisa Ushijima bersikap seperti tidak ada hal yang terjadi di antara mereka sama sekali, sedangkan Oikawa benar-benar kesulitan tidur semalam. Memori ciumannya dengan Ushijima terus terbayang-bayang dalam pikirannya. Sebenci apapun Oikawa untuk mengakuinya, ia tidak bisa menyangkal bahwa ia tidak merasa marah ataupun sebal saat Ushijima menciumnya kemarin. Ia malah marah pada dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia tidak marah ketika dicium musuh bebuyutannya itu.
Oikawa sedang berdua dengan Ushijima di ruang penyimpanan gym setelah training hari kedua selesai. Anggota tim yang lain sudah kembali ke dorm siswa Shiratorizawa untuk bersih-bersih dan bersiap makan malam. Kedua kapten tim ini ditugaskan oleh Pelatih Washijo untuk mengecek dan menghitung persediaan bola voli, mengingat bola voli yang dipakai hari ini banyak yang kondisinya buruk dan harus segera diganti.
Oikawa dan Ushijima berdiri saling membelakangi. Mereka tengah menghitung dan mengecek kondisi bola voli di dalam keranjang besar yang terletak di hadapan masing-masing. Suasananya hening, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat membuka pembicaraan dengan satu sama lain.
Oikawa telah selesai dengan keranjang bola volinya. Ia memutar tubuhnya untuk memberitahu Ushijima bahwa ia akan kembali ke dorm terlebih dahulu, namun betapa kagetnya Oikawa ketika mendapati Ushijima telah berdiri tepat di belakangnya. Oikawa refleks melempar tubuhnya ke belakang. Ushijima refleks melingkarkan tangan kirinya di pinggang Oikawa untuk mencegah Oikawa terjungkal dan menabrakkan punggungnya ke keranjang bola.
Kini posisi mereka begitu dekat, persis seperti apa yang terjadi kemarin, bedanya kini tangan Ushijima berada di pinggang Oikawa dan bukan di pipinya. Oikawa menatap kedua mata berwarna olive keemasan milik Ushijima dan sensasi yang persis seperti apa yang ia rasakan kemarin datang membanjiri sekujur tubuhnya.
Oh tidak, oh tidak, oh tidak, AAAAAARRGGHHH
Fuck it. If I want to kiss these lips, then I will.
Oikawa meletakkan kedua tangannya di kedua pipi Ushijima dan menciumnya. Ushijima terkejut untuk beberapa saat sebelum akhirnya membalas ciuman Oikawa. Kedua tangan Oikawa berpindah posisi dari pipi Ushijima menjadi melingkari lehernya. Tangan Ushijima tidak pernah meninggalkan pinggang Oikawa. Oikawa merasa tubuhnya jauh lebih rileks dibandingkan kemarin.
Entah berapa lama Oikawa dan Ushijima saling memburu bibir satu sama lain, hingga akhirnya Oikawa menghentikan ciuman mereka untuk mengambil napas. Dengan napas terengah-engah mereka saling menatap mata satu sama lain selama beberapa detik. Ushijima baru saja akan kembali mencium Oikawa ketika suara dering ponsel membuyarkan suasana. Oikawa dan Ushijima saling melepaskan tangan mereka dari satu sama lain dan mengambil ponsel dari saku celana masing-masing.
Oikawa sempat melirik layar ponsel Ushijima dan melihat nama "Satori Tendou" tercetak di layarnya. Ushijima mengangkat telepon dari Tendou, samar-samar Oikawa mendengar suara Tendou menanyakan apakah Ushijima sudah selesai dengan tugas dari Pelatih Washijo. Oikawa membuka ponselnya sendiri dan mengecek pesan di group chat-nya bersama Iwaizumi, Matsukawa, dan Hanamaki. Mereka juga bertanya apakah Oikawa sudah selesai dan apakah mereka perlu menunggu Oikawa supaya bisa makan malam bersama-sama.
"Oikawa, kamu udah selesai kan ngecek bolanya? Ayo kembali ke dorm."
Oikawa ingin bilang kalau ia tidak ingin kembali ke dorm bersama dengan Ushijima. Namun, tiba-tiba ia teringat kalau semua orang juga sudah tahu mengenai tugas yang diberikan kepada kedua kapten tersebut dan malah akan lebih aneh jika mereka tidak kembali ke dorm bersama-sama. Karena itu, Oikawa hanya mengangguk dan bergegas keluar dari ruang penyimpanan.
°•°•°•°•°
Hari ketiga dan keempat training camp berjalan dengan lancar. Dalam kedua hari tersebut, entah apakah dunia sedang berkonspirasi atas Oikawa dan Ushijima, tapi mereka selalu bisa menemukan kesempatan untuk berciuman. Sekali saat pagi buta di dalam kamar mandi komunal yang kosong karena tampaknya Oikawa dan Ushijima adalah orang yang bangun paling pagi di hari itu, sekali di bawah tangga setelah mereka memberikan laporan evaluasi tim ke Pelatih Washijo di ruang guru, dan sekali di dalam kamar dorm Oikawa setelah Ushijima mengantarkan botol minumnya yang tertinggal di gym (Iwaizumi yang menjadi teman sekamar Oikawa saat itu sedang pergi mandi).
Oikawa tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ciuman yang awalnya terjadi karena kalimat iseng yang dilontarkan Oikawa kini malah terjadi berulang kali. Satu hal yang pasti, Oikawa ketagihan.
°•°•°•°•°
Hari ini adalah hari kelima sekaligus hari terakhir training camp Shiratorizawa x Aoba Johsai. Setelah menyelesaikan pertandingan latihan terakhir siang ini, semua anggota klub voli Shiratorizawa dan Aoba Johsai berkumpul di lapangan depan gym untuk makan barbeque. Entah siapa yang mengidekan, mungkin pelatih mereka terinsipirasi dari postingan Pak Takeda Ittetsu di Facebook tentang training camp Tokyo bulan lalu.
Training camp ini berjalan dengan lancar. Shiratorizawa dan Aoba Johsai sama-sama mengakui satu sama lain merupakan lawan yang kuat dan dilaksanakannya training camp ini merupakan pengalaman yang sangat berharga.
Anggota klub voli Shiratorizawa dan Aoba Johsai juga mulai akrab satu sama lain walaupun selalu menjadi musuh bebuyutan di lapangan selama ini. Namun menurut anggota klub voli, hal ini sepertinya tidak berlaku pada kapten mereka. Oikawa jelas-jelas menghindari Ushijima jika tidak ada keperluan dengannya dan Ushijima juga tidak membuat pergerakan sama sekali untuk mendekati Oikawa. Walaupun bagi teman-teman terdekat kedua kapten tersebut, mereka beberapa kali menangkap keduanya sesekali mencuri pandang ke satu sama lain.
Setelah acara barbeque selesai, semua anggota saling membantu untuk membereskan perlengkapan dan sampah. Pemanggang barbeque dipercayakan kepada Ushijima dan Oikawa untuk dibawa ke ruang penyimpanan umum yang terletak di belakang gym.
Setelah mereka menaruh pemanggang tersebut dan mengunci kembali ruang penyimpanan, baik Oikawa dan Ushijima tidak ada yang beranjak dari lokasi mereka berdiri. Mereka menatap mata satu sama lain, dan seolah sudah saling paham, Ushijima mendekati Oikawa dan sedetik kemudian Oikawa telah terperangkap di antara dinding luar ruang penyimpanan dan tubuh Ushijima.
Oikawa menempatkan satu tangannya di belakang leher Ushijima dan satu lagi di belakang kepalanya. Oikawa menurunkan kepala Ushijima sehingga bibir mereka berdua bertemu. Ciuman mereka terasa lebih memburu dari sebelum-sebelumnya. Suara kecil dalam kepala Oikawa berkata bahwa ia tidak tahu apakah hal seperti ini bisa terulang kembali di waktu yang akan datang.
Saking sibuknya dengan satu sama lain, Oikawa dan Ushijima tidak menyadari adanya beberapa pasang mata yang melihat mereka.
"HEH, SINTING LO BERDUA!" teriak Iwaizumi. Iwaizumi, Matsukawa, Hanamaki memergoki Oikawa dan Ushijima.
Mendengar teriakan tersebut, Oikawa langsung mendorong tubuh Ushijima menjauh darinya.
"Gila, kecewa jagat pervolian Seijoh dan Shiratorizawa kalo tau kelakuan kapten-kaptennya kayak begini," timpal Hanamaki.
Oikawa menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya, semu merah terlihat jelas di wajahnya sampai ke telinga dan lehernya. Oikawa tidak mampu mengucapkan apapun, tidak mampu pula menatap wajah teman-temannya. Ushijima diam berdiri di samping Oikawa dan menatap ketiga anggota Seijoh yang baru saja memergoki mereka.
Suasana menjadi hening untuk beberapa detik hingga akhirnya Matsukawa menyeletuk, "Tuh kan, bener. Rivalry mereka tuh pasti ada bumbu-bumbunya."
"Ya gue kira bakal sampe kita lulus SMA dulu baru ada kemajuan, lo tau sendiri kan si Oikawa kayak gimana sifatnya," kata Iwaizumi.
"Walaupun Oikawa tukang denial ya pasti cepet atau lambat bakal sadar juga," Hanamaki menimpali.
"Udah sering gue bilangin padahal jangan benci-benci amat sama orang nanti berubah jadi cinta, beneran kejadian kan," kata Iwaizumi.
"Bisa ga sih kalian ga ngomongin gue seolah-olah gue ga ada di hadapan kalian!??" Oikawa akhirnya meledak. Melihat reaksi Oikawa, ketiga temannya hanya terkekeh. Oikawa benar-benar mempertimbangkan untuk ganti teman saat itu juga.
"Yaudah, congrats ya kalian berdua!" kata Iwaizumi sambil beranjak meninggalkan Oikawa dan Ushijima. Hanamaki dan Matsukawa mengikuti di belakangnya.
"Kalo mau lanjut ciuman awas kepergok sama orang lagi," kata Matsukawa.
"Jangan lama-lama abis ini kan kita langsung balik ke Seijoh."
"Jangan lupa pajak jadian!" kata Hanamaki sambil melambaikan tangannya ke arah Oikawa dan Ushijima.
"Tapi... gue sama Ushiwaka gak jadian..." kata Oikawa.
Mendengar pengakuan Oikawa, Iwaizumi, Matsukawa, dan Hanamaki menghentikan langkah mereka dan saling berpandangan satu sama lain.
"Ah, bodo amat anjing."
"Kalo pulang dari camp dia curhat-curhat ngegalauin Ushiwaka ga bakal gua ladenin liat aja." Iwaizumi, Matsukawa, dan Hanamaki berbalik badan dan lanjut berjalan meninggalkan Oikawa yang ternganga.
"WOY MAKSUDNYA APA-," Oikawa baru saja hendak melangkah untuk mengejar teman-temannya ketika pergelangan tangannya ditarik oleh Ushijima.
"Oikawa, sebentar."
Ribut-ribut dengan ketiga temannya tadi membuat Oikawa sedikit lupa bahwa Ushijima juga sedang berdiri di sampingnya sedari tadi. Mengingat kejadian yang baru saja terjadi, semu merah kembali menghampiri pipi Oikawa.
Oikawa tahu cepat atau lambat ia dan Ushijima harus berbicara tentang apa yang terjadi di antara mereka selama training camp ini. Oikawa telah berpikir keras semalaman namun rasanya otaknya seperti ingin meledak. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidur dan menyerahkan permasalahannya ke Oikawa Tooru di kemudian hari.
Oikawa sendiri belum sepenuhnya yakin dengan apa yang ia rasakan. Lima hari ini rasanya berlalu begitu cepat untuk Oikawa bisa memproses perasaannya sendiri. Benar, Oikawa suka dicium Ushijima. Namun, apakah ia benar-benar juga menyukai Ushijima sepenuhnya? Bukankah selama ini Oikawa begitu yakin kalau dirinya membenci Ushijima? Haruskah Oikawa menggali lebih dalam? Apakah ia harus memberi kesempatan pada apapun yang terjadi di antara mereka ini?
Sebelum Oikawa menyelam lebih jauh dalam pikirannya sendiri, Ushijima berdeham.
"Aku harap, kita tetap bisa ketemu lagi setelah training camp ini selesai."
"Ya masih dong, kan masih ada turnamen musim semi, gimana sih Ushiwaka-chan?" Duh, bukan waktunya bercanda Tooru! Oikawa merutuk dalam hati.
"Maksudnya bukan itu, Oikawa. Maksudnya di luar pertandingan official, dan di luar pertandingan latihan juga."
Ushijima yang kini berada di hadapan Oikawa rasanya bukan seperti Ushijima. Ushijima mengarahkan pandangannya ke samping, menolak untuk melihat wajah Oikawa secara langsung. Tampak semburat merah samar di pipinya. Oikawa dapat melihat jemari tangan Ushijima mengepal dan membuka beberapa kali. Kemana Ushiwaka yang dengan percaya diri bilang kalau dia ingin mencium Oikawa beberapa hari yang lalu???
Melihat Ushijima yang seperti ini, Oikawa tersenyum miring.
"Siniin HP lo," kata Oikawa sambil menengadahkan tangannya ke arah Ushijima.
Ushijima mengeluarkan ponsel dari kantongnya dan meletakkannya di atas tangan Oikawa. Oikawa membuka aplikasi LINE dan memasukkan ID nya di sana.
"Hari Minggu gue kosong kalo ga main sama Iwa, Makki, Mattsun, atau keponakan gue. Hari Senin Seijoh libur latihan. Chat LINE gue kalo mau ngajak janjian," kata Oikawa sambil menyodorkan kembali ponsel kepada Ushijima.
Apa yang terjadi selanjutnya membuat Oikawa menahan napas (Oikawa jadi banyak menahan napas selama berdekatan dengan Ushijima beberapa hari ini).
Ushijima tersenyum.
Hanya senyuman kecil berupa sedikit tarikan pada sudut-sudut bibir. Namun pada wajah Ushijima yang minim ekspresi, senyum tersebut sangatlah memikat. Mata Ushijima berpindah dari menatap layar ponselnya menjadi menatap Oikawa.
"Terima kasih, Oikawa," kata Ushijima sambil masih tersenyum.
Perasaan hangat menguar dalam dada Oikawa. Rasanya ia ingin kembali mencium Ushijima, sekali saja, untuk terakhir kalinya sebelum ia pulang. Oikawa baru saja melangkahkan satu kaki untuk mendekatkan diri pada Ushijima ketika,
"HEI! NGAPAIN KALIAN BERDUA MASIH DI SITU!?"
Oikawa dan Ushijima membeku di tempat.
"Oikawa! Kamu udah selesai beres-beres kah!? Habis ini kita langsung pulang, awas kalo kaptennya malah telat!" kata Pelatih Irihata sedikit berteriak sambil berkacak pinggang dari koridor di samping gym.
"Siap, Coach!" kata Oikawa sambil melakukan gestur hormat dengan tangan kanannya.
Setelah Pelatih Irihata berbalik badan dan meninggalkan mereka, Oikawa dan Ushijima saling menatap satu sama lain dan tertawa kecil.
Melihat senyum dan tatapan mata Ushijima, serta mendengar sedikit tawanya, membuat Oikawa merasa ia telah mengambil keputusan yang tepat. Pada akhirnya, Oikawa tidak menyesali sama sekali atas keisengan dirinya untuk menggoda Ushijima dan mulutnya yang tak terkontrol di hari pertama training camp.
Well, Oikawa dan Ushijima mendapat satu catatan penting untuk diingat, mereka harus mencari tempat yang lebih privat dan bebas gangguan jika ingin mengulangi 'aktivitas rahasia' mereka lagi di kemudian hari.
