Actions

Work Header

Di Kala Sehat Maupun Sakit

Summary:

Mew seorang musisi, 'terpaksa' mendatangi klinik kecil yg sudah menjadi langganannya semenjak dirinya masih kecil, siapa yang menyangka dirinya akan menemui tambatan hatinya?

Work Text:

___ 

 

10.30 A.M 

 

Mew menutup pintu ruang periksa saat sebuah suara ramah menyapanya.

“Selamat pagi, Mew.”

“Pagi, Dok.”

Meskipun mengenakan masker, mata coklat sang dokter terlihat tersenyum dan berkilau ketika Mew yang terbatuk duduk dihadapan mejanya. Di meja terpampang papan nama bertuliskan 'Gulf Kanawut'.

“Batuk pilek lagi?”

“Iya nih dok, gak tahu kenapa langganan banget kena batuk pilek gini.” Jawab Mew dengan suara sengau.

Gulf hanya menggelengkan kepalanya, matanya masih terlihat tersenyum sebelum ia mengambil termometer dan menyodorkan ke mulut Mew. Mew membuka maskernya dan mulutnya. Nurut.

Gulf menanyakan beberapa pertanyaan dan sepertinya tidak mengalami kesusahan berarti untuk menerjemahkan suara Mew yang bergumam karena menjawab sambil berusaha agar termometer di dalam mulutnya tidak terjatuh.

“Gak demam. Sudah berapa lama batuk pileknya?” tanya Gulf ketika akhirnya Gulf mengambil termometer dari dalam mulut Mew dan membaca hasilnya.

“Um...kayaknya hampir masuk dua minggu, deh..”

Gulf yang sedang mengetik di komputernya menghentikan kegiatannya. Ia menatap tajam Mew. “Kamu makan sayur dan buah seperti yang saya sarankan, kan?”

“Uhm...saya sudah berusaha untuk melaksanakan seperti yang dokter sarankan sih…” Masalahnya Mew tidak bisa mengatur secara penuh apa yang ia makan dengan banyaknya jadwal maupun event yang harus ia jalankan.

“Tidurnya teratur? 8 jam dalam sehari?”

Mew menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Akhir-akhir ini…tidak sih dok.” Apa boleh buat, untuk jadwal tidur pun, Mew juga tidak bisa mengontrolnya.

Gulf terlihat menghela nafasnya.

“Kalau begitu, yang bisa saya sarankan saat ini sekarang istirahat, makan, dan minum yang cukup. Ini lebih baik daripada minum obat apapun.”

“Tapi dok, saya harus dalam kondisi prima besok. Apa gak bisa dokter resepkan obat seperti biasanya?” Tanya Mew sedikit panik.

“Kamu ada kerjaan, besok?” Tanya Gulf sambil membaca file Mew yang terdaftar di klinik. Disana tertulis pekerjaan Mew adalah sebagai presenter. 'Ah...dan itu menjawab kenapa Mew tidurnya tidak teratur….'

Mew mengangguk.

Gulf menggelengkan kepalanya pelan, kemudian berdiri dan mendekati Mew untuk memeriksa dengan stetoskop.

“Kamu selalu begitu sama saya. Datang hanya disaat-saat akhir, di detik terakhir.”

“Maaf.” Ucap Mew, namun ujung lidahnya keluar sedikit membuat senyumnya terlihat menggoda.

Gulf tertawa kecil melihat ekspresi Mew, perlahan suasana formal di ruang klinik mencair menjadi lebih ringan.

“Yahh, paling tidak saya bersyukur sakit nya cuma batuk pilek...walaupun sepertinya saya hanya bisa mendengar suara kamu saat kamu sengau seperti ini.”

Mew terlihat kaget.

“Huh? Dokter belum pernah dengar suara saya? Saat tidak sengau seperti ini? Serius?”

Tawa Gulf lepas melihat ekspresi kaget dari Mew. Gulf kembali duduk di kursinya dan melanjutkan mengetik resep di komputernya.

“Kenapa kaget begitu? Memang nasib dokter ya begini. Kita cuma bisa bertemu dan melihat pasien saat kondisi pasien dalam keadaan kurang baik.”

Gulf selesai mengetik resepnya dan menyerahkan slip barcode ke Mew.

“Oke, kamu bisa mengambil resepnya di luar. Tunjukin slip barcode ini seperti biasa ya. Pesan saya cuma satu, meskipun susah, tolong istirahat yang teratur dan jaga makannya. Minum yang cukup. Obat-obatan itu hanya untuk pilihan terakhir saja, apalagi dengan kondisi lambungmu.”

“Terimakasih banyak, dok.” Mew terlihat ragu, sebelum membuka tas selempangnya. “Sebenarnya… saya merekam ini sebelum saya sakit.”

Mata Gulf mengerjap melihat barang yang disodorkan padanya. Sebuah CD writer yang di casingnya tertulis tanggal rekaman beserta tulisan dengan 3 huruf besar. “Rekaman apa ini…?”

Mew tersenyum kecil.

“Rekaman ini belum keluar secara official, tapi….kalau dokter berkenan, dokter boleh dengerin isi rekaman ini."

Gulf masih terlihat sedikit bingung ketika meletakkan CD yang ia terima di samping kotak stationary di mejanya.

“Baik, saya terima. Terima kasih banyak ya Mew.”

Mendengar itu, senyum Mew mengembang lebar sehingga matanya membentuk bulan sabit kembar. 

 

___ 

 

05.15 P.M 

 

Gulf meregangkan tubuhnya. Hari ini shift nya sudah selesai, setelah menyusun rapih laporan di komputernya, Gulf bergegas mengambil tas selempang dari dalam laci meja dan berdiri bersiap untuk meninggalkan ruang kerjanya. Namun, beberapa saat sebelum ia melangkah menjauh dari mejanya, matanya menangkap CD yang tergeletak di kotak stationary nya. CD yang diberikan oleh Mew pagi tadi. 

Langkah Gulf terhenti. Gulf tidak tahu Mew itu presenter apa, ia juga tidak tahu rekaman apa yang Mew rekam di CD itu. Tapi, kalau presenter biasanya akan membawakan berita yang berisikan informasi baru atau penting. Gulf menganggukkan kepalanya kecil, baiklah mungkin Gulf bisa mendengarkan sesuatu yang menarik selama perjalanan pulang nanti. Ia pun menjulurkan tangannya dan mengambil CD itu lalu memasukkannya ke dalam tas selempangnya dan bergegas keluar menuju parkiran. 

Gulf memasukkan CD ke dalam musik player di mobilnya dan musik instrumental pun mulai mengalun memenuhi seisi mobil. Musik nya lumayan catchy untuk sebuah intro, tanpa Gulf sadari jarinya mengetuk-ketuk kemudi mobil mengikuti irama dan betapa terkejutnya Gulf ketika sebuah suara jernih dan indah mulai mengalun mengikuti irama musik. Hampir-hampir saja Gulf menerobos lampu merah karena kagetnya. 

Mata Gulf membulat besar karena jelas-jelas suara itu ia kenal betul dan baru pagi tadi ia mendengarnya meskipun versi sengau-nya. 

Gulf melihat casing CD dan membaca “MSS.” 

Huh….? 

Malamnya, setelah Gulf selesai membaca jurnal kedokteran dan melihat situs bola kesayangannya, Gulf mulai googling kata “MSS” dan apa yang ia temukan membuat matanya kembali terbelalak lebar. 

 

___ 

 

“Pagi dok.” 

Kali ini Mew melihat ada sinar yang berbeda dari mata Gulf ketika ia melihat Mew masuk ke ruangannya. 

“Pagi, Mew.” 

Mew duduk di kursi yang ada di hadapan meja Gulf, lalu Gulf seperti biasa menyodorkan termometer ke dalam mulut Mew dan selama beberapa saat terdiam sembari melihat ekspresi Mew lekat. 

“Terimakasih CD nya ya, sudah 3 bulan yang lalu sejak kamu kasih CD itu dan saya suka dengan isinya.” Ucap Gulf memecah keheningan di ruangan. 

“Sama-sama,” gumam Mew mencoba menjawab dengan termometer yang masih berada di dalam mulutnya. Mata Gulf terlihat tersenyum meskipun ia mengenakan masker dan ketika Gulf lanjut diam tidak menanyakan untuk mendiagnosa sakitnya seperti biasanya, Mew mengangkat alisnya dan dengan lembut Gulf mengeluarkan termometer dari mulutnya Mew. 

“Saya tebak, dokter tidak pernah lihat berita entertainment ya?” 

Gulf hanya menggelengkan kepalanya pelan. 

“Iya, saya tidak pernah nonton acara seperti itu. Maaf ya.” 

Mew hanya tertawa kecil.

“Gak apa-apa kok, dok. Gak masalah.” 

“Saya selalu berfikir kalau para selebritis, musisi seperti kamu pasti menggunakan dokter pribadi yang jauh lebih berpengalaman daripada dokter baru seperti saya dan di klinik kecil seperti ini.” 

Well, we don't. Beberapa teman saya memilih untuk berobat di rumah sakit yang sistem keamanannya baik untuk privasinya mereka, tapi, mama saya sudah sering membawa saya ke klinik ini semenjak saya masih kecil, dan saat itu—saya yakin—ayah dokter yang memegang klinik ini sampai setahun yang lalu ya.” 

“Ah, sampai saya lulus kuliah kedokteran.” Gulf mengangguk kecil. “Kalau saya tahu lebih awal, saya bisa menyesuaikan diagnosa saya dengan gaya hidup kamu yang berbeda dengan orang biasa.” 

Mew memiringkan kepalanya, “Tapi dok, gaya hidup saya sama dengan orang biasa. Biasa banget.” 

“Dengan jam tidur yang tidak beraturan seperti ini?” Tanya Gulf skeptis. 

“Jangan nyindir gitu dok, coba dokter lihat deh, kantong tidur di mata dokter sama buruknya dengan kantong tidur di mata saya.” Jawab Mew dengan senyum yang makin melebar. 

Mendengar itu, tanpa Gulf sadari, ia pun tertawa lepas. 

“Astaga! Hahahaha~ oke, baik, you got one. Saya tidak akan ngomong itu lagi.” 

Mew tersenyum, dan Gulf membalas senyumnya meskipun hanya terlihat dari matanya saja dan Gulf kemudian kembali mengetik di komputernya dan mulai memberikan pertanyaan seperti biasanya. 

“Saya sebenarnya ingin memberikan saran seperti biasanya tapi saya pikir kamu datang kesini karena ingin cepat sembuh kan?” Ucap Gulf saat ia menyelesaikan pemeriksaannya. 

“Betul dok. Maaf, tapi besok hari pertama konser saya.” 

“Humm….kalau begitu, resep yang biasanya ya…” 

Mew menatap Gulf ketika Gulf kembali mengetik resep di komputernya.

“Uhmm dok, dokter mau nonton konser saya, gak?” 

Mata Gulf terbelalak kaget 

“Eh?” 

“Saya akan menampilan musik seperti yang ada di dalam CD yang saya berikan ke dokter, jadi, kalau dokter suka dengan isinya, saya pikir—-eh, tapi bakal ada banyak orang berkerumun dan teriak sih, cuma kalau dokter berkenan….” Mew menghentikan ucapannya, sadar bahwa apa yang keluar dari mulutnya sangat tidak beraturan dan aneh dan—- 

“Saya mau.” 

“Eh?” 

“Uhm...saya mau lihat konsernya, tapi, apa enggak telat untuk beli tiketnya? Terus terang, saya kurang paham dengan yang seperti ini….” Jawab Gulf pelan. 

“Gak masalah. Saya menyediakan kursi khusus untuk keluarga, dan ada beberapa ekstra disana. Dokter beneran mau datang?” 

“Beneran. Saya belum pernah lihat konser musik sebelumnya, jadi...saya pingin lihat.” 

“Great! Nanti mama saya juga bakal datang.” Ucap Mew, kali ini ekspresi Mew terlihat bersinar dan Gulf kembali melihat bulan sabit kembar di wajahnya Mew. 

Gulf hanya bisa tersenyum melihatnya dan eh, sepertinya kedua kuping kecilnya memerah entah kenapa. 

___ 

 

2 Minggu setelah konser | 12.01 P.M 

 

Gulf merenggangkan tubuhnya ketika ia keluar dari ruang kerjanya, dan menghentikan langkahnya saat ia melihat Mew tengah berdiri di hadapan meja resepsionis. Saat ini ruang tunggu klinik tengah kosong karena sedang jam makan siang. Sudah menjadi jadwal bahwa saat makan siang, klinik akan tutup selama satu jam kecuali apabila sedang ada keadaan darurat. 

“Mew!” Serunya sambil berjalan mendekati Mew. 

“Kenapa kesini? Sakit? Mau aku periksa sebelum aku istirahat?” Tanya Gulf. 

Mew tertawa ringan.  “Oh, bukan! Aku gak sakit kok! Aku kesini hanya untuk nganterin paket, sekalian, kalau boleh, mau makan siang bareng?” Jawab Mew sambil mengangkat paper bag yang ada di tangannya dan menunjukkannya ke Gulf. 

Mata Gulf terlihat tersenyum, ia masih menggunakan masker dan perlahan ia menggamit kecil lengan baju Mew, membawanya ke kantin klinik yang jaraknya hanya beberapa langkah dari meja resepsionis. Ya...melewati dua pintu ruang jaga dan ruang periksa sih… 

Mew memberikan paper bag yang ia bawa ke hadapan Gulf saat mereka telah duduk di meja kantin. Mereka sengaja memilih duduk di meja paling pojok yang  jauh dari jendela kaca lebar yang terlihat dari luar. 

“Ini oleh-oleh dari Mama. Mama baru pulang dari Jepang, dari wisata onsen bareng teman-temannya. “ 

Mata Gulf terlihat berbinar ketika menerimanya, dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya ia berkata, “bilang terimakasih banyak sama Mama ya, Mew.” 

Melihat senyum Gulf, otomatis Mew ikut tersenyum lalu perlahan jemarinya menyentuh ujung jemari Gulf yang masih memegang paper bag. “Mama juga bilang, dia pingin ngundang kamu makan malam bersama lagi. Kamu bisa dateng kan? Malam minggu, minggu depan?” 

Senyum Gulf melembut melihat jemari Mew mengelus lembut satu persatu jemarinya dari pangkal menuju ujung dan berpindah ke jarinya yang lain. 

“Tentu saja Mew. Aku akan datang.” Ucapnya lembut. 

Mata mereka bertemu selama beberapa saat, sebelum Mew berdehem dan menarik tangannya ketika pelayan kantin datang ke meja mereka dan mulai meletakkan pesanan mereka masing-masing. 

“Mama kayaknya senang denganmu Gulf.” 

“Hum?” 

“Hanya dengan bertemu sekali di konser kemarin, Mama langsung suka dan tidak berhenti bicara tentang kamu terus. Aura seorang dokter memang hebat ya dimata orang tua.” 

Gulf mendengus. 

“Kamu ngomong apa sih Mew? Mama kamu tuh sayang banget sama kamu. Hampir setiap hari Mama telepon aku cuma minta tolong untuk ingetin dan bilangin ke kamu supaya kamu lebih jaga diri kamu, jaga kesehatan kamu. Aku sendiri heran kenapa Mama minta tolong ke aku, kenapa Mama bisa mikir wejangan dari orang lain bisa didengar sama kamu sedangkan Mama nya sendiri selalu masuk kuping kiri keluar kuping kiri lagi.” 

Mew tertawa lepas mendengar cerita Gulf. Dadanya sampai bergoncang selama beberapa detik sebelum tawanya berhenti dan Mew menghapus air mata yang keluar dari matanya. 

“Mama ngomong gitu ke kamu? Serius? Mama kayaknya beneran suka dan sayang banget sama kamu, Gulf. Mama cerita ke aku juga sih waktu konser kemarin kamu begitu menjaga Mama dan sopan serta baik sama Mama. Baru kali ini aku lihat Mama tenang dan beneran menikmati konser aku. Makasih banyak ya Gulf.” 

“Sama-sama ya Mew.” 

Selama beberapa saat mereka terdiam, menikmati makanan masing-masing sebelum Mew kembali membuka percakapan, “Kamu sendiri gimana? Kamu bisa nikmatin konser kemarin?” 

“Eh...Uhm….” 

Mew tersenyum kecil. 

“Maaf Mew...aku gak begitu nyaman berada di kerumunan orang banyak….” 

“Sudah aku duga. Makasih ya sudah mau datang meskipun kamu tidak nyaman.” 

“Tapi Mew, aku nimatin musiknya. Aku menikmati saat kamu di panggung dan nyanyi. Suaramu bagus Mew. Terutama lagu ballad dan slow. Apalagi saat kamu bermain piano solo—” 

“Hei, gak apa-apa Gulf. Tenang. Alasan sebenarnya aku ngundang kamu ke konser aku itu—” 

Gulf menatap mata Mew. 

Mew meletakkan sendok yang tengah ia pegang lalu kali ini menggenggam erat tangan Gulf yang tengah terangkat dan membawanya ke atas meja. 

“Alasan aku mengundangmu ke konser aku itu….aku ingin melihat wajah kamu tanpa masker.” 

Mata Gulf mengerjap. 

“Huh? Mew… kamu bisa melihat wajahku di daftar dokter jaga yang tertempel di ruang tunggu klinik…?” tanya Gulf bingung. 

Mew tersenyum lembut. Jemarinya kembali mengelus tangan Gulf yang berada di genggamannya. 

“Tapi Gulf, foto yang di ruang tunggu itu gak bisa tersenyum manis seperti kamu, terus foto juga gak bisa merona seperti kamu yang sekarang.” 

“A—apa…? Mew, maksudmu apa?” 

Senyum Mew semakin melebar, perlahan dia membawa tangan Gulf ke bibirnya dan mengecupnya lembut. 

“Aku suka kamu Gulf, mau bertumbuh bersama aku? Mendampingi aku di kala sehat dan sakit?” 

Gulf tidak bisa berkata apa-apa. Seluruh tubuhnya terasa hangat dan ia yakin kini pasti wajahnya sudah memerah hingga sampai ke kedua kupingnya. 

Mata mereka bertaut. 

Gulf tidak dapat mengeluarkan suara apapun maupun menjawab permintaan Mew tapi melihat netra Mew saat ini, Gulf yakin Mew menangkap apa yang Gulf rasakan sebab untuk ketiga kalinya Gulf melihat mata Mew membentuk bulan sabit kembar di wajah tampan Mew. 

 

END