Work Text:
Hanahaki disease is a fictional disease in which the victim coughs up flower petals when they suffer from one-sided love. It ends when the beloved returns their feelings or when the victim dies. It also can be cured through surgical removal, but when the infection is removed, the victim's romantic feelings for their love also disappear.
(Kehadiran mu membawa sorak)
Sunoo bergegas untuk mulai kayuhan pada sepedanya. Membelah jalanan desa dengan gesit menuju stasiun kedatangan bus, setelah melihat jam tangan digitalnya menunjukkan pukul lima sore.
Senyum lebar Sunoo terbingkai hangat di wajahnya; menyapa setiap orang yang mengenalinya di sepanjang jalan yang ia lewati. Hal itu terjadi bukan karena desa itu yang sangat kecil namun sebab eksistensi Sunoo sangat populer di kalangan masyarakat desa. Mereka bahkan memanggil Sunoo dengan sebutan “Si Manis” karena senyuman indahnya yang di gemari kalangan wanita.
Sinar matahari masih menusuk walaupun hari sudah semakin sore, yang mana rasa panasnya dapat tersalurkan dengan jelas hingga ke tulang. Dan hal itu tak membuat kayuhan Sunoo melemah. Seakan tak ingin membuat orang yang sudah lama tak bertemu dengannya itu menunggu; padahal jika ia melambatkan kayuhanya pun, tak akan membuat teman lamanya itu menunggu.
Baru lima belas menit perjalanan yang Sunoo tempuh, namun dahinya sudah dipenuh oleh peluh; sama seperti orang yang sedang lari maraton. Sangat lelah tetapi tak membuat dirinya berhenti untuk beristirahat, karena hanya dalam waktu kurang dari lima menit lagi, Sunoo akan segera sampai.
Dan tak ada yang bisa mengalahkan ketebalan debu yang di produksi oleh stasiun bus saat sedang musim panas. Ruang luas yang di dominasi oleh tanah yang mengering itu menjadi sumber debu alami yang melayang saat ada kendaraan yang lewat. Yang kadang orang setempat menyirami air untuk mengurangi kadar debut itu.
Sesampainya, Sunoo hanya perlu memakirkan sepedanya; lalu menunggu di kursi tunggu yang sudah tersedia. Seharusnya dalam waktu dua menit lagi, bus yang berasal dari Seoul akan segera tiba.
Dan benar saja, bus berkapasitas tiga puluh satu orang itu datang; membuat hamparan debu di tanah kering itu melayang hingga mengakibatkan Sunoo terbatuk-batuk karena berhasil menghirup debu itu. Matanya menjadi sedikit merah setelah bus itu berhenti tepat di depan kursi tunggu.
Sunoo langsung berdiri setelah melihat pintu bus itu terbuka. Ia memperhatikan dengan senyum lebar, pada setiap langkah kaki yang keluar dari bus itu.
Matanya berbinar saat melihat pria dengan wajah yang sangat familiar, keluar dari pintu bus. Pipinya bersemu; mungkin karena cuaca yang panas dan rasa senang yang gak bisa di bendung.
Namun Sunoo merasakan adanya perubahan dengan pria yang sedang berjalan ke arahnya itu…
Penampilan pria di depannya sangat berbeda dari tiga tahun yang lalu; dimana menjadi pertemuan terakhir keduanya sebelum mereka menjadi sangat sibuk, membuat jarak yang jauh karena urusan sekolah menengah atas yang terlampau jauh dari ekspetasi.
“Sunoo!”
Sontak Sunoo langsung tersadar dari lamunannya. Kemudian senyumnya kembali mekar saat pria di depannya itu; dengan outfit santai yang terlihat seperti ‘anak kota’, mendekatkan dirinya. Tepat di depan Sunoo. Mengusak rambutnya halus sebelum tersenyum.
“Sunghoon?”
Sunoo malah bertanya karena sedikit ragu dengan perubahan yang sangat jelas pada pria yang ada di depannya. Dan reaksi yang pria itu berikan padanya sangat berbeda dengan Sunghoon yang sangat pemalu.
“Iya—gue Sunghoon, masa lo lupa?”
“Enggak, gue gak lupa. Cuma mastiin aja—soalnya lo keliatan, beda.”
Mata itu masih berbinar saat berbicara dengan Sunghoon. Rasa antusias nya sangat kuat, hingga Sunoo melupakan bahwa faktanya tak ada waktu untuk mengobrol di tempat seperti ini; dengan kadar debu yang tinggi.
Sunghoon tersenyum setelah mendengar ucapan Sunoo. “Hehehe, gue makin ganteng ya?”
Dan kali ini Sunoo yakin jika orang di depannya itu memang Sunghoon; teman semasa kecilnya. Karena kadar dari narsistik dalam dirinya memang sangat tinggi, dan Sunoo mengetahui itu.
“Iya deh lo emang paling ganteng…” Ada jeda kekehan halus sebelum Sunoo menyambut Sunghoon dalam pelukan singkatnya. “Welcome back Sunghoon, seriusan Daegu kangen berat sama lo.”
“Bisa aja lo—tapi seriusan gue juga kangen kok. Syukurnya musim panas kali ini gak ada yang harus gue urus—ditambah usaha lo buat bujuk eomma langsung approved hahaha.”
Benar, semua rencana kedatangan Sunghoon adalah usaha Sunoo. Karena dirinya yang tak kuat, melihat teman masa kecilnya itu terus-menerus memamerkan skill memasaknya di aplikasi burung biru, yang membuat Sunoo merencanakan keberangkatan nya tanpa berpikir panjang.
Melibatkan semua anggota keluarganya untuk ikut serta membantu Sunoo merangkai kalimat yang pas agar orang tua Sunghoon memberikan izin kepadanya.
Bukan hanya dalam segi transportasi, Sunoo juga menyediakan rumahnya untuk di pakai oleh Sunghoon selama berada di Daegu. Karena rumah Sunghoon, sudah terjual saat keluarganya memutuskan untuk pindah ke Seoul; maka Sunghoon tak lagi memiliki tempat untuk tinggal di Daegu.
Ini bukan karena Sunghoon tidak bermodal untuk menyewa penginapan di desa itu. Namun karena Sunoo bilang jika desa itu adalah tempat dimana ia tumbuh besar, maka untuk apa Sunghoon menyewa penginapan jika masih ada satu ruangan kosong yang Sunoo sudah siapkan hanya khusus untuk Sunghoon. Lagi pula harga penginapan di desa itu cukup mahal, karena ramainya orang yang ingin menghabiskan liburannya untuk menikmati kehidupan desa yang masih asri itu.
“Ya udah langsung pulang aja yuk—tapi gue ke sini pake sepeda, lo gak masalah ‘kan?” Sunoo menujuk ke arah sepeda keranjang yang berukuran cukup besar, dan sengaja di sesuaikan untuk dua orang.
Sunghoon menatap lirih ke arah sepeda keranjang yang Sunoo tunjuk. “Gak masalah—asal gue yang bawa.” Namun sepertinya ia cukup percaya diri.
“Loh, emang lo bisa naik sepeda? Gue yakin di Seoul lo jarang naik sepeda.” Dan kini Sunoo yang ragu.
Sunghoon berjalan mendekati Sunoo dengan tangan yang langsung di setarakan dengan puncak kepala Sunoo; lalu di tarik ke tubuh Sunghoon untuk memperlihatkan bahwa tinggi Sunoo hanya sebatas telinga Sunghoon.
“Kalo lo yang bawa, gue yakin sepedanya bakal ngebalik.” Jelas Sunghoon dengan wajah yang menurut Sunoo, sangat menyebalkan. “Anyway no offense ya, gak ada maksud buat height shaming.” Sambungnya.
Dan Sunoo hanya membelalakkan matanya karena setelah keputusan sepihak itu, Sunghoon langsung berjalan menuju parkiran sepedanya; lalu datang menghampiri Sunoo dengan kayuhan yang sangat kaku.
“Sunghoon—perjalanan kita lumayan jauh, lo yakin bisa naik sepeda? Soalnya gue kuat kok.” Sunoo mencoba meyakinkan Sunghoon yang sangat percaya diri itu, dengan tatapan tak yakinnya.
“Yakin—buru naik, entar keburu malem.”
Dengan raut wajah jengahnya, Sunoo berjalan malas menuju jok belakang dari sepeda keranjang itu. Duduk dengan nyaman sambil kakinya sedikit harus di tekuk karena tubuhnya yang cukup tinggi.
“Siap?” Sunghoon bertanya dengan intonasi di buat-buat seakan sedang berlaga dalam sebuah perlombaan.
“Iya siap.” Jawab Sunoo, dengan kesan malas.
Sunghoon memulai kayuhan ragunya setelah mendengar suara Sunoo. Dengan setang sepeda yang tak lurus; sedikit berbelok-belok karena mungkin beban yang di bawa bukan hanya dirinya jadi ia perlu menyesuaikan diri agar lebih seimbang.
“Ini lo kenapa jemput gue pake sepeda? Emang Gauri noona gak ada di rumah?”
Gauri adalah kakak perempuan Sunoo, dulu keduanya selalu bermain bersama kakak perempuan Sunoo yang selalu punya banyak mainan untuk keduanya. Dan jarak di antara keduanya yang tak terlalu jauh dari Gauri, membuat Sunghoon juga merasa dekat dengan kakak perempuan Sunoo.
“Mobil kita lagi di bengkel, terus gue gak bisa naik motor. Noona juga gak bisa—paman Taehyung lagi ada di kebun stroberi, gak bisa di ganggu. Dari pada lo gak di jemput, mending sama gue ‘kan?”
Sunghoon mengangguk paham dengan penjelasannya Sunoo. “Iya, tapi cape juga ya—lo makin berat deh kayanya, padahal tingginya sama aja.”
Sunoo memberi pukulan kecil pada punggung Sunghoon. “Enak aja, yang ada lo tuh makin gede. Badan gue kecil gini malah di bileng berat—gue gak berubah. Lo tuh yang makin gede.”
Sunghoon menertawakan kalimat terakhir yang Sunoo lontarkan. “Lo juga berubah tau Sun, makin cakep. Sampe pangling.”
Dan saat itu anehnya Sunoo tak memberi respon apa-apa, ia hanya bisa memalingkan wajahnya dari punggung Sunghoon dengan senyum salah tingkahnya.
“Kan baru di puji sekali aja lo udah salting gitu—apa lagi tadi keringetan gitu, cakep banget.”
“Siapa yang salting? Gue lagi liat sawah tau. Ngapain salting sama lo.”
Dan Sunghoon tertawa karena percakapan mereka. Rasanya mengganggu Sunoo masih sama mengasikkan nya untuk Sunghoon; menurutnya ada kepuasan sendiri setelah melihat pipi Sunoo yang memerah atau telinganya yang tak bisa lagi di tutupi jika sedang salah tingkah. Sunghoon merindukan itu.
“Di depan sana belok kanan—eh, hati-hati ada bebek nyebrang.“ Sunoo setengah berteriak saat gerombolan anak bebek dan induknya berbaris rapi saat menyeberangi jalanan. Dan syukurnya Sunghoon dapat berhenti dengan tepat; tidak mengganggu mereka.
“Bebek yang terakhir mukanya kaya lo. “ Ujar Sunghoon, sengaja.
“Lucu dong gue.” Bukan respon itu yang sebenarnya Sunghoon harapkan. Sunghoon lebih suka jika Sunoo marah atau cemberut karena ulahnya.
Dan hanya stau belokan lagi, keduanya akan sampai di kediaman keluarga Kim. Tempat dimana Sunoo dan Sunghoon sering menghabiskan waktu untuk bermain. Mungkin perkarangan rumah keluarga Kim yang sangat luas.
“Liat tuh—Gauri noona.” Sunoo menunjuk ke arah perkarangan rumahnya, dimana ada noona dan eommanya yang sepertinya sedang menunggu kedatangan Sunoo dan Sunghoon.
Sunghoon, dengan semua peluh di dahinya mengayuh sepeda itu dengan gesit; masuk ke dalam pekarangan kediaman Kim.
“Uri—Sunghoonie!” wanita paruh baya itu berdiri sambil setengah berteriak memangil Sunghoon yang sedang memakirkan sepedanya.
“Padahal anaknya ada di sini, tapi yang di panggil Sunghoon doang.” Keluh Sunoo.
“Eomma udah bosen sama kamu—sekarang mau sayang-sayangan sama anak eomma yang satu ini.” Lalu eomma merentangkan tangannya ke arah Sunghoon yang berjalan mendekat.
“Eomma apa kabar? Makin cantik aja.” Puji Sunghoon yang setelah di peluk oleh perempuan paruh baya di depannya itu. “Sunghoon lagi keringetan, peluknya nanti aja, ya?” Sambung Sunghoon sedikit melonggarkan pelukan itu.
Dan benar, kedekatan keduanya sudah seperti ibu dan anak. Mungkin karena nonya Kim yang sangat menyukai anak kecil—atau karena Sunghoon selalu terlihat baik di mata nyonya Kim. Yang Sunghoon tahu, sejak kecil ia seperti berbagi ibu dengan Sunoo; dan perlakuan nyonya Kim yang tak pernah membedakan dirinya dan Sunoo membuat Sunghoon merasa seperti memiliki rumah kedua.
“Bisa aja kamu—emang kenapa kalo keringetan? Anak eomma wangi gini.”
“Here we go again.” Ujar Sunoo berjalan dengan tatapan sini sambil melepaskan backpack milik Sunghoon, dan membawanya masuk.
“Eomma udah ih peluk-pelukan nya. Sunghoon pasti mau mandi dulu.” Kali bukan Sunoo yang menegur, melainkan Gauri; anak pertama dari keluarga Kim.
Sunghoon sedikit terpana dengan perubahan yang ada dalam diri Gauri. Sangat berbeda. Dalam gaya berpakaian di dalam rumah, dan rambutnya. Semua berubah. Namun perempuan yang satu tahun lebih tua dari nya itu masih manis seperti ingatan terakhir Sunghoon mengenai Gauri.
“Hai—noona apa kabar?” Sunghoon mengulurkan tangannya.
Dan Gauri yang peka langsung menjabat tangan itu. “Baik dong, liburan gini sayang banget kalo sampe sakit.”
Dan demi Tuhan, tak ada yang lebih manis dari senyuman perempuan di depannya itu.
“Woy Sunghoon!—kamar mandinya kosong tuh, kalo mau mandi buruan.” Sunoo teriak dari dalam, menyadarkan Sunghoon dari lamunan nya.
“Loh—kok teriak-teriak gitu ngasih taunya.” Nyonya Kim masuk bersamaan dengan Sunghoon dan Gauri, sambil memarahi Sunoo yang berkelakuan seperti Tarzan.
“Maaf hehe.”
Lalu Sunghoon menarik Sunoo dalam rangkulannya, untuk berjalan menuju kamar Sunoo. “Gue tidur di sini ‘kan?” Tanya Sunghoon.
“Enggak lah, ‘kan ada kamar tamu.” Jelas Sunoo.
“Tapi gue mau di sini—boleh, ya?”
Yang di rayu saat ini bukan nyonya Kim—dan entah mengapa Sunoo seakan termakan raut wajah memelas itu sehingga rasanya tak bisa menolak keinginan teman kecilnya yang sudah lama tak bertemu itu.
“Argh… Fine, asal gue di kasur.”
“So… Gue tidur di lantai?” Sunghoon menatap bingung, sambil memperhatikan isi kamar Sunoo yang hanya memiliki satu kasur.
“Entar gue cariin extra bed.”
Mata Sunghoon seketika berbinar. “Thank you!” Lalu dirinya menarik Sunoo kedalam pelukan singkat.
“Mandi sana, lo bau!” Keluh Sunoo.
“Namanya juga abis keringetan, hehe.”
Musim panas kali ini tak akan lagi menjadi hampa. Berbeda dengan tahun kemarin. Kali ini, Sunoo yakin jika kedatangan Sunghoon akan membuat musim panasnya menjadi hangat.
Sunoo yakin jika keberadaan Sunghoon bisa menghilangkan kehampaan yang selama ini ia rasakan. Tak ada yang perlu di khawatirkan, karena kali ini. Eksistensi Sunghoon bukan hanya sebuah wacana.
Dia di sini, dan sangat nyata.
(Riuh hangat, di meja makan.)
Breaking news!
Para peneliti berhasil menemukan penyakit baru yang di beri nama Hanahaki disease. Yang mana menurut hasil penelitian penyakit ini termasuk dalam salah satu golongan penyakit langka dan terbilang aneh. Dimana, jika seseorang terpapar penyakit ini; ia akan memuntahkan kelopak bunga yang setelah di teliti, akibat dari tumbuhnya bunga di paru-paru.
Penyebabnya masih belum di ketahui, namun keberadaan nya memang nyata. Dan para peneliti mengumumkan, jika penyakit ini tidak menular. Masyarakat di harap tidak panik—
BIP!
“Lihat, penyakit di luar sana makin aneh. Bisa jadi karena pemanasan global—perubahan ekstrem pada bumi 'kan bisa menimbulkan banyak virus baru hidup. Makannya anak-anak eomma harus jaga kesehatan yang benar, makan yang banyak—kurangi diet-diet gak jelas. Bumi kita makin gak sehat.”
Makan malam kali ini membawa topik yang sangat serius. Mungkin karena nyonya Kim adalah salah satu orang yang peduli akan lingkungan, dan melihat berita yang makin hari makin tak masuk di akal membuat dirinya geram dengan orang-orang yang tak bisa merawat bumi ini dengan baik.
“Bener—apa lagi masalah sampah, Gauri udah nyerah deh. Makin hari makin gedek liat orang-orang.” Mungkin bukan hanya nyonya Kim yang peduli akan lingkungan, sepertinya kebiasaan yang sudah sering ia terapkan pada anak-anaknya membangun kesadaran.
“Ya bener, tapi kalo kaya gitu udah masuk ke kesadaran masing-masing. Kita gak bisa tiap hari kasih reminder ke orang-orang—tapi bukan berarti ngasih reminder itu buruk ya, i mean gak bisa tiap hari karna kita bukan alarm. Kalo udah kaya gini kita cuma bisa berdoa aja biar orang-orang gak telat sadar, jangan kebiasaan nunggu ada pandemic atau bencana alam aja baru bertindak.” Kali ini si bungsu Sunoo yang berbicara.
Sunghoon yang melihat itu tersenyum bangga melihat percakapan di meja makan malam ini. Percakapannya memang serius dan memiliki opini yang bebobot, namun tak mengurangi kehangatan di meja makan.
“Nih makan ikan yang banyak, biar cepet tinggi.” Sunghoon menaruh potongan ikan pada mangkuk nasi Sunoo.
“Hahaha kalo Sunoo itu kurang tinggi bawaan gen Hoon—di tambah pas kecil kurang olahraga yang narik tubuh, jadi gitu deh.” Jelas Gauri sambil terkekeh.
Dan mata Sunghoon seketika berbentuk bulan sabit setelah melihat Gauri tersenyum. “Iya ya.”
“Tapi sebenarnya Sunoo masih bisa tumbuh kok, cuma udah termasuk lambat aja pertumbuhan nya. Ya, 1 atau 2 centimeter masih bisa lah.” Ujar nyonya Kim.
Sunghoon mengusak kasar rambut Sunoo sambil berkata. “Besok kita pull up ya—lumayan siapa tau bisa naik 5 centi.”
“Holiday means doing nothing. Gue bangun siang kalo libur gini—kalo bangun pagi gak ada kerjaan.”
“Nah yang gini nih salah—pola hidup gak sehat, makan juga milih-milih—” Sunoo yang sedang menyisihkan sayuran di mangkuk langsung melahap dengan cepat sayuran itu, sambil menampilkan ekspresi tak suka. “—terus jam tidur gak teratur, udah deh kalo ada virus paling cepet kena.”
“Tuh dengerin, dek.” Kali ini Gauri menyendokan sayurannya untuk Sunoo.
“Loh kok ke gue semua.” Protes Sunoo.
“Gak boleh berantem di depan makanan—cepet abisin abis itu eomma bikinin dessert.”
Lalu Sunoo berlaga seperti anak kecil polos yang sangat gembira setelah mendengar kata 'dessert' keluar dari mulut ibu-nya.
“Lo gini aja gemes ya.” Ujar Sunghoon tertawa gemas dan lagi-lagi mengusak puncak kepala Sunoo.
“Eomma suka nih liat meja makan rame kaya gini, ada Sunghoon juga rasanya meja makan jadi hidup lagi.” Nyonya Kim tersenyum hangat, dengan tangan di kepalkan untuk menopang dagunya. Menatap hangat ke arah anak-anaknya.
“Sunghoon juga pengen bilang makasih buat eomma soalnya udah bantu mintain izin ke eomma-nya Sunghoon.”
“Iya eomma tuh baru tau kalo kamu gak bisa ke sini salah satunya karena udah gak ada tempat tinggal ya, di tambah eomma kamu gak bisa ikut ke sini. Dan juga ya eomma kamu ternyata takut kalo kamu kenapa-kenapa di sini—makanya pas eomma minta izin langsung di izinin soalnya tau kalo ada eommanya Sunoo di sini.”
Sunghoon mengangguk tanda membenarkan ucapan nyonya Kim. “Iya gitu.”
“Ya udah, puji Tuhan ya sekarang kita bisa kumpul lagi—eomma mau bikin dessert dulu ya. Abis makan jangan tidur, minum air putih yang banyak.” Urai nyonya Kim yang setelah itu pergi meninggalkan meja makan.
“Jadi Sunghoon sibuk apa?” Tanya Gauri membuka suara sambil mengambil piring-piring kosong di meja makan.
“Gue jadi pengurus osis pas masuk SMA terus sekarang lagi persiapan buat masuk perguruan tinggi aja sih.”
Gauri mengangguk paham.
“Kalo noona? gimana kuliah nya?” Kali ini Sunghoon ikut membantu Gauri.
“Gue sama aja sih, isinya nugas sama ukm. Yang beda sekarang gue udah gak ngejar juara satu, sekarang cuma mau cumlaude aja biar bisa lulus cepet terus kerja deh.”
Semua orang tahu jika Gauri itu sangat rajin. Prestasinya selalu terdengar. Ia sangat berprestasi di bidang akademik maupun non-akademik. Nyonya Kim juga selalu membanggakan anak pertamanya itu.
Berbeda dengan Sunoo yang sangat pasif disekolah, ia lebih suka di bidang seni; namun tak mau mengembangkan bakatnya. Katanya itu karena orang-orang tak bisa menghargai musik seperti dirinya, dan yang selama ini ia lihat membuat dirinya muak.
“Kalo uri-ddeonu gimana?”
Sunghoon menyebut panggilan kecil Sunoo yang sudah lama ia lupakan. Karena bagi Sunoo ia hanya terlihat seperti bayi jika terus di panggil seperti itu. Dan sebenarnya Sunoo akan marah jika ada yang memanggilnya dengan panggilan itu. Namun, kali ini reaksinya berbeda.
“Ya gitu aja. Nothing special.” Tak ada keluhan, hanya reaksi datar.
Lalu Gauri dan Sunghoon pergi menuju dapur, meninggalkan Sunoo sendiri di meja makan, bersama dengan pikirannya yang sedang mencari-cari tempat yang harus Sunghoon kunjungi.
Semerbak wangi dari puding coklat mengisi ruang makan itu, yang tak lama membuat Sunoo melangkah ke arah dapur. Melihat eomma-nya yang sedang mengaduk puding di atas kompor.
Sunoo memeluk wanita paruh baya itu dari belakang. “Eomma.” Ujarnya.
“Ya?” Nyonya Kim mengelus pelan tangan anaknya itu.
“Besok Sunoo mau ke air terjun ya?” Dan ternyata memang benar jika ada keinginan lain di balik tingkah manis anaknya itu.
“Air terjun di deket kebun stroberinya Taehyung?”
“Iya—boleh, ya? kan ada Sunghoon. Sunoo gak sendirian, serius.”
Sunoo sangat ingin pergi ke air terjun itu, jauh dari sebelum Sunghoon datang. Namun sayangnya, Nyonya Kim sangat takut jika terjadi sesuatu jika Sunoo memaksakan diri untuk pergi ke sana. Di lihat dari banyaknya lumut di bantuan sekitar air terjun menjadi salah satu alasan nyonya Kim tak memberi Sunoo izin.
“Banyak lumut nak di batunya. Kalo kamu kepeleset gimana?”
Sunoo menekuk bibirnya. “Eomma, please.”
“Sunoo... Masih banyak tempat yang bisa kalian datangi. Kebun stroberinya Taehyung juga bisa tuh, cantik banget view nya di sana.”
Raut wajah Sunoo masih sama, campuran antara muka sedih dan memelas.
“Ah jinjja!—ya udah pergi sana.” Dan nyonya Kim kalah dengan wajah memelas anaknya.
“Sunghoon! besok kita ke air terjun ya!” Teriak Sunoo antusias sembari berjalan mendatangi Sunghoon.
Yang Sunoo tahu. Kebahagian dirinya adalah salah satu sumber kebahagiaan nyonya Kim. Maka ia hanya butuh sedikit paksaan agar nyonya Kim tak merasa mengecewakan anaknya; seperti saat ini.
(Pagi hari yang hangat)
Sunoo terbangun kala alarm milik Sunghoon berbunyi sangat nyaring. “Sunghoon matiin alarm lo!” Teriak Sunoo yang menutup telinganya dengan bantal.
“Lo aja, gue masih ngantuk.” Jawab Sunghoon dengan suara paraunya.
Seakan tak tahan, Sunoo membangunkan tubuhnya untuk meraih ponsel milik Sunghoon yang berada di nakas. Dan pantas saja, Sunghoon memasang alarm beruntun yang tak mungkin akan mati dalam waktu singkat.
Matahari sudah berhasil masuk melalui sela-sela jendela. Membuat Sunoo enggan kembali tidur sebab ia yakin sebenar lagi eomma-nya akan datang untuk memarahi dirinya yang tak kunjung keluar untuk sarapan.
“Sunghoon, bangun!” Ujar Sunoo yang dengan malas berteriak sambil menggaruk lengannya yang tak gatal.
Sunghoon mulai merasa terganggu dengan suara Sunoo yang terus mencoba membangunkan Sunghoon. Ia mulai tak nyaman dan seketika bangun dengan wajah khas orang yang baru bangun tidur. Tak lupa dengan jejak cetakan bantal yang membekas di pipinya; yang membuat Sunoo terkekeh dengan suara paraunya.
“Karena lo lama—gue bakal pake kamar mandi nya duluan.” Ujar Sunoo yang ternyata setelah itu dengan gerakan cepat Sunghoon langsung lari menuju pintu keluar kamar Sunoo; yang sudah jelas akan kekamar mandi lebih dulu. “Curang banget!” Protes Sunoo, sedikit berteriak.
“Kenapa sih pagi-pagi udah teriak.” Nyonya Kim datang setelah mendengar suara cukup berisik dari arah kamar Sunoo.
“Mau ngadu kelakuan Sunghoon, tapi anaknya udah kabur.” Jelas Sunoo.
“Hahaha emang dia ngapain?”
Bahkan hanya dengan mendengar nama Sunghoon, nyonya Kim bisa tersenyum girang. Belum lagi jika mendengar ulah anak itu. Dan Sunoo sangat senang melihatnya. Entahlah, jika mengenai Sunghoon, Sunoo tak akan bisa cemburu atau bahkan marah karena berbagi ibu dengan Sunghoon. Namun berbeda ceritanya jika itu Gauri, ia akan mencari cara untuk merebut kembali perhatian ibu-nya.
“Rebutan kamar mandi.”
“Ya udah, pake kamar mandi eomma aja.” Ujarnya lalu pergi keluar sambil terkekeh halus membayangkan tingkah Sunghoon.
“Oke.”
Sunoo bangkit dari kasur dengan merapihkan sedikit bagian kasurnya yang berantakan, sebelum kemudian keluar dari ruang kamarnya itu.
Sebelum sampai di kamar mandi nyonya Kim, Sunoo sengaja berjalan lewat kamar mandi miliknya; untuk mendengar Sunghoon yang ternyata langsung mandi sambil menyanyikan lagu dengan suara pas-pasan miliknya.
Senyuman pertama Sunoo hari ini karena Sunghoon, dan Sunoo menyukai fakta itu. Sebab keberadaan Sunghoon memang salah satu dari keinginan Sunoo di umurnya yang dalam dua hari lagi akan bertambah. Umur ke delapan belas, dan harapannya hanya ingin bertemu Sunghoon.
Mungkin juga karena rasa penasaran dengan kehidupan Sunghoon setelah tiga tahun tak bertemu, atau karena Sunoo yang menyangkal bahwa dirinya sudah membendung rasa rindu yang tak bisa lagi di tahan. Yang pasti eksistensi Sunghoon sangat berarti untuk Sunoo.
Dan seperti saat ini—Sunoo bisa bersenandung sambil menyikat giginya hanya karena tak sabar untuk segera pergi menuju air terjun bersama Sunghoon.
Ia membayangkan betapa menyenangkannya musim panas kali ini. Beberapa skenario cantik telah ia susun rapi di kepalanya. Seperti bermain air di air terjun, memetik buah stroberi, bersepeda mengelilingi desa atau bernostalgia dengan kembali memaikan permainan lama bersama Sunghoon.
Semuanya terdengar indah jika di bayangkan.
“Dek, mandinya udah belom?—Sunghoon udah siapin sarapan tuh.” Gauri beteriak di luar kamar mandi, dengan Sunoo yang baru saja beres.
Sunoo keluar dengan handuk di kepalanya; rambutnya masih setengah basah. Seperti biasa ia hanya akan membiarkan kering dengan sendirinya.
“Woah, masak apa dia?” Tanya Sunoo yang mengikuti langkah Gauri menuju meja makan.
“Masak garlic bread kesukaan gue, tapi gak ada di Daegu—yang ituloh dek, yang gue bawa dari Seoul kemarin.” Jelas Gauri.
Keduanya sudah berada di meja makan, dengan Sunoo yang masih memegang handuk kecilnya. Dengan bau bawang putih yang sepertinya gurih itu menusuk indera penciuman keduanya begitu tiba di meja makan.
“Gue bikinin spesial buat lo berdua.” Ujar Sunghoon dengan senyum manisnya sambil membawa dua buah garlic bread untuk Sunoo dan Gauri.
“Hoon.” Sunoo memanggil.
“Kenapa?—langsung di coba aja Sun, enak loh.” Sunghoon ikut bergabung di meja makan.
“Sunghoon sayang, Sunoo gak bisa makan bawang putih, alergi.” Ujar nyonya Kim yang sedang mengoleskan selai kacang di atas roti tawar.
“Oh... Maaf Sun, gue kira lo suka banget sama bawang. Salah inget ya gue?” Sunghoon terlihat murung.
“Enggak lo bener kok, di sini ada yang suka banget sama bawang putih. Tapi bukan gue—yang suka itu Gauri noona.” Jelas Sunoo yang menerima roti yang eomman-nya buatkan.
“Iya gue suka banget.” Gauri langsung menyantap roti buatan Sunghoon dengan sangat girang, ada gerakan mungil di setiap kunyahan nya.
“Iya eomma juga suka nih—Sunoo doang yang gak suka.”
Sunoo tak sedih, ia hanya menyayangkan Sunghoon yang tak membuatkan apa-apa untuknya; padahal dirinyalah yang paling ingin memakan masakan Sunghoon.
“Hoon, nanti bikinin gue Beef Teriyaki yang lo post di Twitter dong.”
“Iya Sun, siap. Asal lo sekarang jangan marah aja.” Sunghoon sebenarnya merasa tidak enak dengan ulahnya pagi ini, namun ingatan nya persis seperti dory. Dan hal seperti ini pasti sering terlupakan.
“Siapa juga yang marah. Gue tuh bakal marah kalo lo telat ganti baju—soalnya gak mungkin ke air terjun pake kaos item kaya gitu. Entar makin panas.” Urai Sunoo.
“Loh, lo berdua mau ke air terjun?” Gauri terkejut karena ia pikir eomma-nya tak akan memberi izin.
“Iya, emang kenapa?”
“Mau ikut—soalnya kapan lagi coba eomma ngasih izin ke air terjun.” Rengek
“Ya, ayo ikut.” Sunoo itu bukan orang yang ribet, jika dirinya ingin melakukan sesuatu; tak perlu merengek.
“Tapi gue mau ketemu sama senior.” Gauri menekuk bibirnya sambil mengigit potongan terakhir dari garlic bread miliknya.
“Ya udah lain kali aja.” Lagi-lagi Sunoo menjawab dengan singkat.
“Nanti kalo lo gak sibuk kita ke sana lagi.” Kali ini Sunghoon yang berbicara.
Dan setelah itu hanya ada obrolan ringan mengenai olahraga yang membugarkan tubuh, yang tentu saja di mulai oleh nyonya Kim. Semuanya pasti akan mendengarkan dengan seksama jika nyonya Kim sedang bersuara. Tak ada yang menyela jika beliau sedang berbicara, itu adalah salah satu bentuk respect mereka.
Walaupun sebenarnya tak ada satupun dari anak-anaknya yang menyukai olahraga, namun omongan sang ibu itu akan terus mereka dengar dan tampung. Tak ada selaan membela diri yang di dominasi oleh rasa malas. Mungkin juga karena mereka sadar akan kekhwatiran sang ibu setelah melihat banyak anak muda yang terkena penyakit aneh.
Bahkan beliau secara terang-terangan sering bilang. “Eomma paling gak bisa di tinggal anak eomma—jadi sebelum ada yang ninggalin eomma, mending eomma yang duluan mati. Eomma mau liat anak-anak eomma sukses dulu.” Dan kata-kata itu membuat kedua anaknya menjadi sangat penurut.
Mereka paham, setelah mendiang ayah pergi. Eomma menjadi takut akan kehilangan. Dan pelampiasan nya adalah bentuk proteksi kepada anak-anaknya.
Bukan sekali dua kali nyonya Kim melarang kedua anaknya untuk mendatangi suatu tempat karena menurutnya tempat itu tidak aman. Walaupun sebenarnya tak begitu berbahaya, namun hanya dengan imajinasi buruknya; ia lebih memilih untuk melarang anak-anak nya, beliau tak peduli anaknya merasa kecewa. Karena ia akan percaya jika mereka mendatangi tempat itu bersama. Katanya semua terasa aman jika masih dalam pengawasan nya.
Dan untuk kali pertamanya, nyonya Kim memberi izin pada Sunoo untuk mendatangi salah satu tempat yang masuk ke dalam blacklist miliknya.
Mungkin karena itu musim panas. Atau karena bersama Sunghoon.
“Botol minum bawa?” Wanita paruh baya itu memastikan sekali lagi sebelum keduanya benar-benar melangkah keluar dari rumahnya.
“Bawa, tiga botol—ada di tas Sunghoon.” Jelas Sunoo dengan rinci.
“Oke... Hmm—”
“Udah ya eomma, jangan panik. We will be alright, 'kan Sunoo gak sendiri.” Kali ini Sunoo menepuk pundak ibunya untuk menenangkan.
“Iya—Sunghoon jagain Sunoo, ya?”
“Siap!” Ujar Sunghoon yang kemudian membuka isi tasnya; mengeluarkan satu botol suncream. “Musim panas dan lo gak pake suncream? entar kebakar aja kulit lo.” Oceh Sunghoon yang dengan telaten mengoleskan suncream itu di wajah Sunoo.
“Enak banget ya gue di perhatiin ini, berasa kaya majikan.”
“Ngelunjak ya lo.”
Lalu kemudian nyonya Kim hanya terkekeh girang melihat kedua anak muda di depannya ini.
Seperti yang Sunoo bilang, kebahagian wanita paruh baya itu salah satunya adalah kebahagiaan anaknya. Karena hanya itu yang seorang ibu bisa lakukan; membuat anaknya bahagia agar bisa merasakan kebahagiaan.
Walaupun kasih anak hanya panjang galah, namun tak ada penyesalan bagi nyonya Kim untuk mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan anak-anaknya.
And on this warm morning, everyone feel the happiness.
(Sebuah kausa tak bersuara)
Hanya dalam waktu lima belas menit, keduanya sampai di batasan; dimana sepeda tak bisa lagi di gunakan. Dan salah satu cara menuju ke air terjun hanya dengan jalan kaki selama dua kilo meter.
“Eh—sini dulu.”
Sunoo yang ingin berjalan menjauhi sepeda keduanya langsung terdiam setelah mendengar seruan Sunghoon.
“Apa? buruan deh Hoon, panas.” Keluh Sunoo dengan satu tangannya menutup matahari yang menyoroti wajahnya.
Sunghoon jalan mendekati Sunoo, dengan jari-jari yang memegang karet rambut. “Dari lama gue pengen liat apple hair lo—gak puas liat di foto doang.” Jari-jari Sunghoon dengan lihai mengingat kumpulan rambut Sunoo.
Selisih tinggi keduanya cukup jauh; itu membuat Sunoo dengan jelas dapat melihat wajah Sunghoon yang dengan serius mengikat rambutnya. Terlihat sedikit kesulitan karena rambut Sunoo yang licin, namun tetap lihai.
“Bagus gak?” Tanya Sunoo setelah jemari Sunghoon melepas kumpulan rambutnya.
”Bagus—jauh lebih bagus dari apa yang gue liat di foto. I think this is your attraction.” Ujar Sunghoon, sangat jujur.
Sunoo memalingkan wajahnya, karena ucapan Sunghoon. “Attraction apa deh—buru ah, panas nih.” Ucap Sunoo, lalu menarik lengan Sunghoon untuk segara memulai perjalanan mereka.
“Tas lo berat gak Sun?” Sunghoon sedikit berteriak karena Sunoo yang berjalan lebih dulu darinya.
“Enggak, gini doang ringan.”
Padahal Sunoo bisa saja mengeluh mengenai tasnya yang sangat berat dengan tiga botol air minum didalamnya, namun ia memutuskan untuk tidak mengeluh karena ia tahu jika Sunghoon akan mengambil alih tasnya jika ia mengeluh.
“Kalo cape bilang ya, jangan sok kuat.” Kali ini Sunghoon menyamakan langkahnya, sambil merangkul Sunoo.
Keduanya terus berjalan bersamaan dengan beberapa turis yang sepertinya memiliki tujuan yang sama. Tak sesekali Sunghoon mengeluh sebab matahari di musim ini serasa lebih panas dari sebelumnya; dan peluh yang memenuhi dahi. Rasanya perjalanan terasa jauh karena panas yang begitu menyengat.
Sedangkan Sunoo sangat menikmati perjalanan nya sambil mendengar musik dengan earphone bluetooth nya. Ia tak lagi mendengarkan ocehan Sunghoon yang terus menanyakan pertanyaan yang sama seperti 'bentar lagi sampe kan?' atau 'kapan sih nyampenya?' dan terus berulang.
Sunghoon menyadari langkah kaki Sunoo yang mulai melemah. Sunoo berjalan jauh lebih lambat dari sebelumnya, entah karena terhanyut dalam pemandangan alam yang indah atau karena memang dirinya sudah merasa lelah. Yang pasti Sunoo tertinggal cukup jauh di belakang; dimana Sunghoon tanpa sadar sudah berjalan lebih dulu terlalu jauh.
“Dengerin apaan sih?” Sunghoon mengambil satu bagian earphone bluetooth yang menyumbat salah satu telinga Sunoo—kemudian ia pakai untuk mendengar musik yang sama dengan Sunoo.
“Tuh udah denger.” Jawab Sunoo singkat.
“Judulnya apa? gak pernah denger.”
“Tebak aja sendiri.”
Sunoo sedikit berlari sambil mematikan musik yang sedang ia putar, meninggalkan Sunghoon yang ternyata mengajarnya. Karena Sunghoon harus mendengarkan gemericik air yang sudah jelas terdengar.
Wajah Sunghoon seketika berubah saat melihat penampakan dari air terjun yang sangat amat Sunoo banggakan itu. Kecantikannya jauh dari ekspetasi, sangat memanjakan mata.
Senyum bangga telah mengembang di pipi Sunoo, seperti anak kecil yang sedang memamerkan mainannya. Bedanya, Sunoo sedang mamerkan salah satu tempat ke bangganya di desa ini.
Tanpa aba-aba tangan Sunghoon meraih jemari Sunoo yang kemudian kedua pasang jemari itu bertautan. Katanya 'batunya lumutan, kata eomma harus hati-hati' namun jantung Sunoo berdetak di luar ritme normal.
Beberapa kali Sunghoon memastikan pijakan pada batu yang akan ia lewati, tidak licin; agar saat Sunoo menginjaknya, ia tak tergelincir. Sunghoon memperhatikan langkah Sunoo yang berada di belakangnya dari ujung matanya, dan Sunoo menyadari itu.
Sunoo merasa ada yang aneh dengan dirinya, karena ritme jantungnya yang tak kunjung normal, pipi yang terasa panas dan juga bibirnya yang seperti ingin terus tersenyum. Seakan waktu berjalan begitu cepat, dengan Sunghoon yang terus menggenggam tangannya.
“Hoon, di atas batu itu aja. Biar gak terlalu jauh.” Ujar Sunoo, menunjuk ke arah bebatuan lebar di sisi air terjun.
“Oke.”
Sunghoon melepas tautan jemari itu, sambil membantu Sunoo melepaskan backpack miliknya; yang ternyata jauh lebih berat dari dugaannya.
“Sun, harusnya lo bilang kalo tasnya seberat ini—gue bisa bantu kok, tas gue isinya cuma baju ganti aja.” Jelas Sunghoon sambil mengeluarkan isi tas Sunoo; yang semua isinya adalah kebutuhan bersama. Berbeda dengan Sunghoon yang hanya membawa keperluan pribadinya.
“Iya—lagian itu berat sama air minum doang, Hoon.” Jelas Sunoo.
Lalu dengan kikuk Sunghoon berjalan menuju tepat di belakang Sunoo, sambil memberi instruksi pada Sunoo untuk mendudukan tubuhnya. Dan Sunghoon mulai memijat bahu Sunoo, dengan tepat pada titik yang membuat bahunya terasa kaku.
Sunoo merasa jika perlakuan Sunghoon semakin hangat, jauh lebih hangat dari pertemuan terakhir mereka. Kadar kejahilan pada dirinya juga berkurang, mungkin karena Sunghoon yang semakin dewasa. Atau karena Sunoo yang terlambat menyadarinya.
“Thanks, Hoon.”
Sunghoon tak menjawab, hanya terus memijat hingga Sunoo merasa cukup dan menyuruhnya untuk berhenti.
Sebagai anak laki-laki pertama, Sunghoon masuk dalam kategori Kakak yang baik; bagi Sunoo. Ia sering mendengar cerita adik Sunghoon yang tak pernah mengeluh karena Kakaknya, berbeda dengan Sunoo dan Gauri yang hampir setiap hari bertengkar. Tak heran jika Sunghoon memiliki aura seorang Kakak yang kuat.
Lalu setelah itu, keduanya berendam sambil berenang dan juga mengambil beberapa gambar untuk di abadikan. Sunghoon juga mengajari Sunoo bagaimana cara berenang, karena Sunoo tak pernah sama sekali mencoba untuk berenang, eomma yang melarangnya. Dan Sunghoon begitu telaten mengajarin Sunoo beberapa teknik agar tidak tenggelam.
Keduanya memanfaatkan waktu selama di air terjun dengan baik, seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu mereka, karena kesempatan ini tak akan terjadi untuk kedua kalinya. Sunoo juga beberapa kali mengirim gambar untuk Gauri agar bisa menyaksikan air terjun itu secara jelas, walaupun tak ada balasan darinya.
Hari semakin siang, nyonya Kim sudah lebih dulu menelepon Sunoo untuk segara menyuruh keduanya pulang. Sunghoon yang paham dengan itu tak ingin menahan Sunoo walaupun masih merasa nyaman di situ.
Sunghoon kembali mengaplikasikan suncream di wajah Sunoo sambil memuji beberapa bagian wajahnya yang terlihat sempurna, sebelum kembali bersepeda; tak bisa di ragukan lagi, Sunghoon sangat tahu cara memperlakukan orang dengan benar.
Perjalanan yang tadinya terasa jauh pun sekarang terasa sangat dekat. Sunoo sudah menawarkan Sunghoon untuk begantian membawa sepeda itu, namun jelas saja Sunghoon menolak. Walupun peluh terus bercucuran, ia tak lagi mengeluh. Katanya karena ia juga harus berolahraga meski sedang di desa. Ia juga terus mengayuh sepeda itu dengan gesit, seperti tak sabar untuk segera pulang.
Perkarangan kediaman keluarga Kim telah telihat—ada satu mobil asing yang terparkir di perkarangan rumah itu. Sunghoon memperhatikan mobil itu sebelum memakirkan sepedanya. Sunoo sudah lebih dulu turun, dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Sunghoon yang sedang memasang gembok pada sepadanya.
Begitu Sunghoon masuk, Gauri menyapanya. Dan Sunghoon malah melihat ke arah seseorang di samping Gauri, dimana ada satu pria yang jelas jauh lebih tua darinya. Duduk dengan jarak sangat dekat dengan Gauri.
Apa itu seniornya?
Tak bisa bertahan lama, Sunghoon hanya membalas senyuman Gauri kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang makan dimana nyonya Kim berada.
“Eomma,” nyonya Kim menoleh ke arah sumber suara itu, “itu siapa?” Tanya Sunghoon, penasaran.
“Yang di ruang tamu?” Sunghoon mengangguk.
“Seniornya Gauri noona?”
“Iya—mantanya juga hehehe, ganteng ya—eomma tuh suka banget sama dia, anaknya rajin dan baik. Kalo ke sini gak pernah lupa bawain eomma sesuatu. Kaya gini contohnya, eomma di kasih bunga.” Jelas nyonya Kim sambil merapikan bunga-bunga itu untuk di masukan ke dalam vas.
Mantan?
“Uhuk, uhuk.” Tenggorokan Sunghoon seketika gatal, seperti ada yang menggelitik tenggorokannya.
“Loh—minum dulu Hoon.” Nyonya Kim dengan cepat menuangkan air pada gelas, dan menyodorkannya pada Sunghoon.
Sunoo datang dari arah kamarnya setelah mendengar Sunghoon yang terbatuk, ia langsung mengelus pundak Sunghoon halus; yang menurutnya bisa saja membuat batuknya mereda (walaupun sepertinya tak berpengaruh)
“Dek, air di sana dingin, ya?” Tanya nyonya Kim.
“Iya, kan mata air.” Ujar Sunoo.
“Ya udah, bikinin Sunghoon teh panas. Kasian kayanya tenggorokannya gatel—mungkin Sunghoon gak biasa berenang di air dingin gitu.” Titah sang ibu.
“Eh—uhuk, gak apa-apa, gak usah. Tenggorokan Sunghoon tiba-tiba gatel aja.” Jelas Sunghoon.
Sunghoon masih terbatuk-batuk, sambil memperhatikan Gauri yang sedang bercanda gurau dengan senior yang katanya mantannya itu, di ruang tamu. Jarak keduanya begitu dekat, bahkan sangat dekat. Dan semakin Sunghoon perhatikan, tenggorokannya semakin sakit.
It feels like something is growing in Sunghoon’s lungs.
(Semu mu, juga semuku)
Sunghoon terus terbatuk saat mendengarkan cerita Sunoo mengenai hubungan Gauri dan mantannya. Ia tak tahu alasan mengapa tenggorokannya menjadi sangat gatal, namun sekarang ia hanya ingin tahu kebenaran dari hubungan Gauri dan pria itu. Entahlah, Sunghoon hanya merasa penasaran.
“Udah dua bulan, tapi mantannya Gauri noona masih sering ke sini. Masih sering kasih hadiah buat eomma dan gue, masih suka bantu-bantu eomma juga kalo butuh tenaga laki-laki. Intinya Yeonjun hyung itu udah kaya anak kesayangan eomma juga.”
Yeonjun, nama mantan Gauri. Sunghoon baru mengetahui semua fakta itu hari ini; setelah dua hari pertemuan pertamanya dengan Yeonjun. Tenggorokannya masih sangat gatal bercampur perih, namun ia tak bisa mengeluh karena sedang berada di rumah orang lain sebagai tamu. Jika ia terus mengeluh akan sangat merepotkan untuk keluarga Kim. Sunghoon sadar diri, jadi ia memilih untuk menahannya.
“Terus—uhuk, kenapa putus?” Bahkan hanya dengan mengucapkan beberapa kata saja, Sunghoon sudah kembali terbatuk.
“Yeonjun hyung mau tunangan sama Gauri noona, tapi noona gak mau karena ngerasa masih muda banget—ya walaupun wajar-wajar aja sih, Gauri noona ‘kan banyak yang suka di kampus. Kayanya Yeonjun hyung takut Gauri noona bosen sama dia, jadi main ngajak tunangan aja. Sedangkan Gauri noona gak mau cepet-cepet.” Urai Sunoo, rinci.
“Uhuk-uhuk—Gauri noona masih suka sama mantannya?”
“Iya, dia masih sering nangisin Yeonjun hyung.”
Detik itu, Sunghoon terbatuk dengan sangat keras. Wajahnya memerah, tangannya terus memegang lehernya. Sunoo panik sejadinya; lampu kamar sudah di matikan karena mereka memang merencanakan bercerita sampai tertidur seperti biasanya. Dan dengan cahaya yang minim, Sunoo menjadi sangat panik karena terus mendengar Sunghoon terbatuk-batuk.
Dan setelah Sunoo menyalakan lampu, ia melihat darah di sekitar mulut Sunghoon dengan tangan yang menggenggam sesuatu, dan jejak darah di luarnya.
”Sunghoon, l-lo—lo berdarah.”
Sunghoon melihat ke arah genggaman tangannya yang penuh dengan jejak darah. “Sunoo, gue kenapa?”
Sakit, rasanya sangat sakit bagi Sunoo melihat Sunghoon dengan keadaan seperti itu. Dadanya menjadi sesak karena raut wajah Sunghoon yang terlihat tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia berjalan mendekati Sunghoon, sambil mengambil beberapa lembar tissue untuk menyapu darah di sudut bibir Sunghoon.
Sunghoon masih memproses semuanya, ia masih kaget jika dirinya batuk hingga berdarah. Karena sepanjang hidupnya, Sunghoon tak pernah sekalipun terkena penyakit yang serius—ia perlahan melonggarkan ganggamanya, yang entah mengapa setelah merasakan ada sesuatu di dalamnya, Sunghoon memilih untuk menutupnya setelah Sunoo menyalakan lampu.
Sunoo dapat melihat pergerakan itu, sangat pelan.
Dan setelah di buka, ada beberapa buah kelopak bunga dengan gumpalan darah di dalamnya.
“Sunoo… Gue kenapa?” Tangan Sunghoon gemetar, tubuhnya kaku.
Sunoo yang melihat itu seketika menahan nafas—Hanahaki, Sunghoon terkena Hanahaki.
Dengan cepat, Sunoo meraih tangan Sunghoon sambil menjatuhkan kelopak bunga itu. Mengusap tuntas darah yang berada di tangannya, membersihkan setiap jejak darah yang tersisa. Lalu setelah selesai, Sunoo membuang kelopak bunga itu di tong sampah, kamarnya—sambil menyuruh Sunghoon untuk tidur di kasurnya selagi dirinya membersihkan extra bed milik Sunghoon dari tetesan darah.
Sangat telaten Sunoo membersihkan semuanya; dan Sunghoon menyaksikan itu semua. Ia masih memegang tenggorokannya, yang masih sangat gatal itu, seperti ada yang mengganjal di tenggorokan nya. Dan Sunghoon tak tahu menyebab semuanya, rasanya hanya sesak dan sakit.
Malam itu, Sunoo memutuskan untuk tidur di extra bed milik Sunoo. Membiarkan Sunghoon menguasai kasurnya, karena dirinya tak mungkin membiarkan Sunghoon tidur di extra bed yang sebenarnya cukup tipis itu. Ralat, Sunoo tidak tidur—lebih tepatnya tidak bisa tertidur karena masih memikirkan apa yang terjadi demgan Sunghoon.
“Sunoo—uhuk.”
“Iya? Masih gatel tenggorokan nya?” Tanya Sunoo.
“Masih—uhuk, gue mau pegang tangan lo boleh gak?—gue takut.”
Jarak keduanya tak jauh, karena Sunoo sengaja mendekatkan kadua kasur itu. Jadi ia bisa dapat dengan mudah meraih tangan Sunghoon untuk di genggam—sangat erat, seakan tak ingin meninggalkan Sunghoon sendirian.
Setelah melihat Sunghoon sedikit tenang dan mulai menutup matanya—walaupun masih terbatuk-batuk kecil—ia memutuskan untuk mencari tahu asal usul penyakit itu di aplikasi burung biru; dimana menjadi tempat dengan kumpulan informasi yang biasanya lebih update dari media.
Sunoo mulai menyelancarkan jari-jarinya di atas benda pipih itu, setelah mengetikan Hanahaki di kolom pencarian. Mata Sunoo langsung tertuju pada satu utasan dengan likes dan rt yang sangat banyak.
Ia mulai dengan penjelasan pertama dimana penyakit ini masih sangat baru di identifikasi kan walaupun sudah banyak korban. Lalu beberapa tweet dibawahnya menjelaskan bahwa peneliti tidak akan mungkin mengungkapan jenis penyakit ini secara detail karena belum menemukan alasan yang pasti.
Di dalam utasan itu juga tertera cerita mengenai salah satu keluarganya yang terpapar penyakit ini kemudian meninggal karena dokter tak bisa menangani penyakit ini dengan benar, namun kejadiannya tiga tahun lalu; dimana penyakit ini masih sangat langka. Berbeda dengan sekarang—ada yang juga menceritakan jika temannya selamat dari penyakit itu, namun enggan memberi informasi apapun tentang penyakit itu.
Setelah Sunoo membaca setiap utasan yang ada di Twitter, tak ada satupun yang dapat menjrlaskan penyabab dari penyakit ini—yang ada malah kumpulan orang yang malah menakut-nakuti dirinya dengan menekankan seakan penyakit ini tak bisa di sembuhkan dengan apapun. Seakan penyakit ini akan hilang jika orang itu mati.
Sunoo bingung apa ia harus membawa Sunghoon ke rumah sakit, atau memberi tahu orang tuanya jika Sunghoon sakit.
Pikiran Sunoo jauh dari kata rasinoal saat ini, he just scared after seeing that blood, and his favorite flower; marigold.
(Dialog, pagi hari)
“Hey, muka lo pucet banget. Sunoo udah kasih obat?”
Sunoo menyuruh Sunghoon untuk menjemur tubuhnya setelah dua hari berdiam diri di dalam kamar. Semua orang pikir Sunghoon hanya demam biasa, karena Sunoo dengan keras melarang Sunghoon untuk mengatakan jika dirinya menunjukkan gejala Hanahaki. Itu terjadi karena Sunoo yang membaca artikel tentang penelitian yang gagal pada korban yang terpapar Hanhaki dan mempercepat kematian. Dan Sunoo tak mau jika keberadaan Sunghoon mengundang perhatian.
“Udah mendingan kok. Lo kemana aja?” Tanya Sunghoon to the point.
“Biasa urusan project kampus.”
Gauri memegang botol plastik di tangannya, jari-jarinya mengupas ujung segel yang belum terbuka itu.
“Bukan nya universitas juga libur?” Tanya Sunghoon penasaran.
“Iya, libur—sebenarnya bukan urusan kampus.” Akhirnya Gauri jujur pada Sunghoon. “Ini urusan personal hehehe.” Sambungnya dengan kekehan manis.
Sunghoon menarik nafas dalam, bersamaan dengan angin segar yang berhembus menyapu wajahnya. Ada sedikit rasa nyaman pada dadanya setelah melihat Gauri tersenyum. Ia bahkan ikut tersenyum karena itu.
“Lo boleh cerita, if you can’t hold anymore.” Sunghoon menoleh ke arah Gauri, sambil tersenyum. Dan senyumnya bercampur dengan cahaya hangat, matahari pagi.
“Everything is too complicated, ini Cuma tentang mantan gue yang gak mau pisah aja.” Ujarnya.
“Karena apa?” Sunghoon pura-pura bodoh.
“Karena udah gak sayang(?)” Ragu, sangat ragu.
Sunghoon sedikit terkekeh saat rasa sakit pada dadanya kembali datang, seakan rasanya kembali sangat cepat.
“Padahal lo berdua masih saling sayang, Cuma kayanya lo aja yang bosen? Atau emang udah gak mau lagi sama dia? Tapi kalo dia balik—lo gak akan nahan, right?”
Sangat benar, dan tepat.
“Padahal lo dua tahun lebih muda dari gue, tapi langsung paham sama perasaan gue—dan gue malah denial terus hehe.” Gauri tertawa miris.
“Because love is blind and complicated. Terlalu banyak hal yang sebenarnya gampang tapi di bikin susah kalo udah soal jatuh cinta.”
Gauri mengakui semua perkataan Sunghoon itu benar. Sangat benar.
Lalu setelah itu tak ada yang ingin membuat percakapan ini menjadi panjang. Karena yang lebih muda tak ingin membuat semua terdengar rumit di mata yang lebih tua.
Dan mereka tak sadar, jika Sunoo menyaksikan itu semua sambil tersenyum.
Everything makes more sense, for Sunoo.
(Kekhawatiran yang kandas)
Malam ini Sunoo meminta Sunghoon untuk membuatkan nya makanan; setelah perjalanan panjang mereka sore tadi.
Sunoo mengajak Sunghoon untuk bertemu dengan paman Taehyung, yang mana memang belum memiliki waktu yang cukup untuk mendatangi kediaman keluarga Kim untuk melihat Sunghoon, walaupun jarak kedua rumahnya yang tak begitu jauh.
Mereka menghabiskan sisa hari dengan memetik stroberi dan bercerita dengan paman Taehyung—yang selalu punya ribuan cerita untuk di sampaikan kepada keduanya. Sunghoon terlihat senang saat itu, walaupun batuknya tak kunjung mereda. Sampai paman Taehyung membuatkan air hangat madu untuk Sunghoon.
Tetapi walaupun Sunghoon terbatuk-batuk; tak mengurangi kadar kehangatan pertemuan mereka.
“Udah jadi belom?” Sunoo mengintip ke arah kompor dari balik punggung lebar Sunghoon
Sunghoon sedikit menoleh sambil tersenyum setelah melihat Sunoo berada di belakangnya. “Bentar lagi, tinggal nunggu bumbunya nyerep—coba deh bumbunya.” Sunghoon menyendok sedikit bumbu Teriyaki untuk Sunoo cicipi.
Sunoo tersenyum lebar setelah menyicipi bumbu Teriyaki yang Sunghoon buat. “Enak, perut gue sampe bunyi nih—gak sabar.” Ujar Sunoo.
Sunghoon menyuruh Sunoo untuk menunggu bersama dengan nyonya Kim di meja makan. Dan Sunoo menuruti perkataan Sunghoon.
“Wangi banget ya—Sunghoon masak banyak gak, sayang?” Tanya nyonya Kim.
“Banyak kok eomma.” Seru Sunghoon dari dapur.
“Good—Sunoo, panggilin hyung sama noona kamu di teras. Kalo noona kamu suruh Yeonjun pulang, bilang eomma marah kalo pulang gak makan malam dulu, okay?”
Sunoo mengangguk paham, lalu sesuai perintah ia memanggil kakak dan mantan pacar kakaknya itu; untuk masuk, bergabung’ dalam meja makan bersama eommanya. Yeonjun selalu menuruti apa yang eomma katakan, dan karena itulah eomma menyukainya.
“Nah, gini kan asik—meja makan jadi rame.” Ujar nyonya Kim setelah melihat Yeonjun dan Gauri.
“Hehehe—kita bakal makan masakan siapa eomma? Kirain Yeonjun eomma yang masuk.” Tanya Yeonjun, dengan senyum manisnya.
“Hari ini yang masak Sunghoon; temennya Sunoo. Dari kemarin mau masakin eomma gak jadi mulu, abis sakit dia.” Jelas nyonya Kim yang di jawab dengan anggukan paham oleh Yeonjun.
Sunoo bangkit dari kursinya, setelah mendengar benturan kecil pada piring dari arah dapur, sepertinya Sunghoon sedang menyusun masakannya di piring. Namun langkahnya terhenti setelah melihat Sunghoon yang sangat antusias dengan senyum lebarnya menyusun rapi nasi, daging dan potongan daun bawang di setiap piring.
“Hoon…”
“Ya?” Sunghoon menoleh ke arah Sunoo.
“Buat satu piring lagi masih cukup gak?”
“Masih kok, gue sengaja bikin setiap orang dua porsi. Takut pada mau nambah—kalo gak abis juga bisa di makan besok pagi.” Ujarnya dengan riang.
“Maksud gue, piringnya lebihin satu ya.”
”Hm? Buat siapa?” Sekarang Sunghoon memutar tubuhnya menghadap Sunoo, dengan tangan yang sedang memegang pisau.
“Buat Yeonjun hyung, eomma ngajak makan bareng. Masih cukup ‘kan nasinya?”
Raut wajah Sunoo berubah drastis. Sangat berbeda dengan dirinya beberapa detik yang lalu.
“Masih.” Jawabnya datar.
“Hm, hoon?”
”Uhuk—ya?”
“Abis dinner kita ngobrol berdua, ya? Ada yang mau gue omongin.”
Ada jeda hening di antara keduanya, mungkin karena Sunghoon yang sedang fokus menata makanan atau memang sengaja membuat sunyi karena sedang memikirkan sesuatu.
“Tentang?”
“Entar aja, lo juga bakal tau kok—by the way, makasih ya udah masakin kita.”
Tak lama dari pertemuan keduanya, Sunghoon datang dengan membawa nampan yang berisikan piring-piring. Sunoo membantu Sunghoon membawakan makanan itu; dengan Sunghoon yang terus terbatuk.
Sunoo duduk tepat di samping Sunghoon yang bersebrangan dengan Gauri kakaknya, sedangkan Sunghoon duduk tepat di depan Yeonjun.
Nyonya Kim memulai makan malam ini dengan memanjatkan syukur pada Tuhan atas makanan yang masih bisa mereka santap malam ini. Kebiasaan yang selalu nyonya Kim utamakan pada kedua anaknya; tak boleh lupa untuk bersyukur. Tak heran jika kehidupan keluarga ini sangat hangat.
“Wow… Sunghoon, ini enak banget loh.” Baru suapan pertama, nyonya Kim sudah membulatkan matanya dengan ekspresi wajah yang sangat menikmati makanan itu.
“I told you, Sunghoon itu jago banget masak. Masa dia bisa bikin udon—udon nya di bikin sendiri, bukan beli. Kuah nya juga bikin sendiri, keren ‘kan?” Kali ini Sunoo membanggakan teman di sampingnya itu.
“Iya, gue liat tuh post-an Sunghoon di Twitter. Enak-enak banget keliatannya.” Ujar Gauri yang memuji dan di balas senyuman oleh Sunghoon.
“Iya bener, enak masakan lo.” Kali ini Yeonjun mengeluarkan suara, walaupun hanya pujian singkat.
Sunghoon menundukan sedikit kepalanya untuk berterima kasih atas pujian yang ia terima. Walaupun ia sedang menahan untuk tidak berbicara karena tenggorokannya yang tiba-tiba menjadi sangat gatal dan perih. Nafasnya juga terasa mulai sesak.
Dan Sunghoon tak paham mengapa hanya dengan melihat kedua orang di depannya itu, dadaknya seperti teriris. Rasanya sangat sesak dan menyakitkan. Namun Sunghoon harus menahannya hingga makan malam ini selesai.
Saat menyuapkan beberapa sendok nasi pada tenggorokan nya, Sunghoon merasakan perih yang teramat sakit. Ia sesekali terbatuk karena harus membuka mulutnya. Dan Sunoo yang sadar akan gerak gerik Sunghoon, lantas langsung berinisiatif untuk mengambilkan Sunghoon air hangat.
Untungnya, nyonya Kim tidak curiga sama sekali. Karena sepertinya beliau pikir Sunghoon hanya batuk biasa.
Makan malam itu berakhir dengan cepat karena Yeonjun yang harus segera pulang. Dan mereka lagi-lagi memuji sambil berterimakasih pada Sunghoon karena telah membuat makanan selezat itu. Karena tenggorokan Sunghoon yang masih sakit, ia hanya bisa tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Ia menyaksikan Gauri dan Yeonjun keluar dari ruangan itu—dan ia juga menangkap pemandangan, dimana Gauri dan Yeonjun sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya serius; dilihat dari ekspresi mereka.
Gauri seperti sedang menjelaskan sesuatu, sedangkan Yeonjun menyimat dengan dahi yang mengernyit. Sepertinya pembahasan kali itu sangat serius—Sunghoon tak ingin mengetahui apa yang mereka lakukan, karena pertama itu adalah privasi dan kedua dadaknya hanya semakin sesak.
Sunoo yang menyaksikan itu, lantas membawa Sunghoon menuju kamar dimana mereka berdua tidur. Ia menyuruh Sunghoon untuk meminum air hangat dengan madu yang ia buat. Dan sambil pelan mengelus dada Sunghoon yang sepertinya sedang kesakitan.
“Sunghoon… Ada yang mau lo ceritain?” Sunoo memulai dengan memancing Sunghoon untuk bercerita.
“Hm, gak ada. Emang ada apa?”
“Rasanya sakit ya, Hoon?” Kali ini Sunoo menggenggam jemari Sunghoon, dengan bibir yang ia tekuk.
“Banget… Tapi mendingan tiap minum air anget.” Jelas Sunghoon, mencoba menenangkan Sunoo yang terlihat lebih tersiksa dari pada dirinya.
“Lo mau pulang ke Seoul gak? Gue takut kalo lo kelamaan di sini malah makin sakut.” Ujar Sunoo.
”Gue pulang pas waktunya aja Sun—masih mau nikmatin udara seger dulu. Belom ada seminggu gue disini, masa pulang.” Kali ini Sunghoon mengeeratkan genggaman Sunoo.
“Hoon…”
”Iya? Bilang aja Sun, jangan sungkan. Gue tau yang lo mau bahasa bukan tentang Seoul.”
Sunghoon seperti sangat mengetahui dirinya. Walaupun sudah terpisah beberapa tahun, namun chemistry di antaranya masih tetap ada. Layaknya seperti sahabat. Dan yang Sunoo dengar, Sunghoon itu anak ambis yang sangat anti sosial di Seoul.
Hidupnya monoton, hanya tentang belajar dan organisasi. Tak ada yang lain, karena hanya itu yang mampu ia lakukan. Makanya, keduanya tak pernah putus hubungan karena Sunghoon yang akan terus menghubungi Sunoo di saat ia lelah dan begitu sebaliknya. Tidak tiap hari, tapi keduanya selalu saling memberi kabar.
“Hari ini masih batuk bunga?” Tanya Sunoo penasaran.
“Dua kali doang—kemarin lebih banyak.” Ujar Sunghoon.
Sunoo menganggukp paham sambil mengelus lembut; jemari Sunghoon. Seakan ingin menenangkan Sunghoon yang sudah melewati semuanya tanpa bantuan dokter.
Kali ini tatapan Sunoo, sangat tajam tepat di mata Sunghoon. Ia menarik nafas pelan sebelum mulai membuka bibirnya.
“Lo, suka sama Gauri noona ‘kan?”
Dan hari ini, adalah pembahasan pertama di antara keduanya mengenai percintaan.
“Hm…”
“Your eyes telling me… Jelas banget, bahkan gue tadinya gak mikir lo bakal suka sama Gauri noona. Tapi tadi pagi, gue ngerasa itu Hoon.” Sunoo tersenyum, untuk memberikan Sunghoon tempat yang aman untuk mengatakannya.
“Jelas banget, ya?”
“Enggak kok, Cuma emang ketauan aja. Kan gue sahabat lo hehehe.”
“Iya, tapi gue gak bisa ngapa-ngapain. ‘Kan udah ada kak Yeonjun.” Sunghoon tersenyum lirih setelah mengucapkan kalimat itu.
“Siapa bilang?”
Sunghoon mengernyitkan dahinya sesaat. “Maksud lo?”
“Lo liat mereka lagi ngobrol tadi? Sebelum Kak Yeonjun mau pulang?—” Sunghoon mengangguk cepat, dengan tangan Sunoo yang masih ada di sana. “—Gauri noona mau nyelesain semuanya.”
Sunghoon diam, terpatung. Jadi,ia punya harapan?
“Ya tapi, kayanya gue bukan tipenya Gauri noona.” Ia kembali murung, walaupun beberapa detik yang lalu tersenyum girang.
“Dia kakak gue Sunghoon—just do it, okay? Lo harus berani bilang, Gauri noona gak mungkin ngebiarin lo tanpa ngasih kesempatan.”
“Sun… Lo seriusan?”
Sunoo mengangguk yakin.
“Besok noona gak ada jadwal apa-apa. Lo ajak dia jalan aja, ke taman yang baru di bangun di deket rumah paman Taehyung juga boleh. Cantik kok view nya.”
Sunghoon tak tahu harus berkata apa lagi, karena setelah mendengar rentetan kalimat yang Sunoo ucap, dadanya terasa lebih lega dari sebelumnya.
“Sunoo, makasih.” Sunghoon menarik tubuh mungil di depannya, dan mendekap pelan tubuh itu. Sunoo hanya membalas dengan anggukan kecil sambil mengelus-elus pelan pundak Sunghoon. Sambil berdoa dalam hati untuk kesebuhan Sunghoon.
Your happiness is also my happiness.
(Kala Tuhan memberi nikmat)
Pagi ini, Sunoo terbangun lebih dulu dari semua penghuni rumahnya. Ia langsung pergi ke luar rumah sambil membawa teh panas yang ia buat. Menikmati terbitnya sinar matahari dari teras rumahnya. Ia terus menghirup udara segar, sambil meminta Tuhan untuk terus memberinya kesempatan untuk bisa menikmati udara segara ini sepanjang hidupnya.
Wangi dari teh hijau panas yang ia buat sangat membantu meringankan berat dipundaknya. Rasanya semua lelahnya hilang hanya karena dapet menikmati semuanya.
“Lo bangun kok bangun duluan tapi gak bangunin gue?” Suara parau itu membuat Sunoo terkejut dalam diamnya.
“Astaga—lo nyapa dulu kek, main langsung nanya aja.”
“Pertanyaan gue belom di jawab.” Kali ini Sunghoon langsung mendudukan tubuhnya di kuris rotan samping Sunoo berada.
“Soalnya lo ngorok, kaya gak pernah tidur bertahun-tahun. Gak tega bangunin nya.” Jelas Sunoo sembari menyesap teh hijau nya. “By the way, gue udah bilang ke Gauri noona. Katanya kalo mau piknik di taman, nanti sore aja sekitaran jam lima.” Sambung Sunoo.
“Mau ngajak lo boleh gak sih?” Tanya Sunghoon dengan rambut acak-acakan dan suara paraunya, namun di paksa memelas.
“Mana ada nge-date ngajak temen, aneh lo.” Sinis Sunoo.
Sunghoon mendekatkan kursi keduanya, lalu menyenderkan kepalanya pada bahu Sunoo.
“Apa lo kita aja ya yang pacaran?” Sunoo terbelalak kaget. “Abisnya gue ngerasa gak bisa lepas dari lo, Sun.” Ujar Sunghoon dengan sebelah tangannya yang merangkul bahu Sunoo; dan kepala yang masih menempel di pundak Sunoo.
“Kalo ngomong jangan suka asal.” Ujar Sunoo.
“Abisnya, kalo sama Gauri noona ‘kan canggung. Kalo sama lo udah nyaman, bisa langsung pelukan kaya gini. Terus kalo pacaran mau ciuman juga gak perlu malu.”
Dan demi Tuhan, pagi hari Sunoo penuh dengan umpatan tertahan karena sialnya, Sunghoon mengatakan kalimat itu dengan kadar keseriusan nol persen, sedangkan ritme jantung Sunoo sudah berdetak tak keruan. Dan ini masih pagi hari.
“Udah ah—gue mau mandi.” Sunoo pergi meninggalkan Sunghoon di teras, sendirian namun memanfaatkan moment itu untuk menelas tuntas teh hijau milik Sunoo.
(Kali ini, hanya ada semuku)
Sunghoon dan Gauri pergi untuk piknik; meninggalkan Sunoo dan nyonya Kim dirumah. Rasanya sangat hampa, karena beberapa hari ini Sunoo sudah terbiasa dengan keberadaan Sunghoon disekitar nya.
“Eomma, lagi bikin apa?” Sunoo memutuskan pergi ke dapur, dimana arah sumber suara berada.
“Kimchi, buat nyetok aja.” Jelasnya eomma-nya yang sebenarnya tanpa di kasih tahupun Sunoo harusnya langsung paham setelah melihat bumbu meras khas kimchi itu.
“Eomma…” Sunoo bersandar pada tembok di ruangan itu, sambil menggigit kukunya; salah satu kebiasaan buruk Sunoo.
“Apa sayang?”
“Waktu eomma jatuh cinta ke appa, ceritanya kaya gimana?”
”Eh—kenapa tiba-tiba nanya itu?”
“Sunoo Cuma mau tau aja.” Ujarnya sambil memeluk kakinya yang ia lipat di atas kursi.
“Hm… Eomma agak lupa, tapi Cuma satu hal yang eomma inget. Saat itu eomma Cuma mau appa kamu, gak mau yang lain. Bahkan pas udah pacaran sama appa kamu, eomma masih posesif gak mau di tinggal. Kalo kata orang sekarang, eomma itu bucin—tapi setelah mengenal cinta, eomma kayanya bisa relain apa aja buat appa kamu; sama kaya apa yang appa kamu korbankan buat eomma, Gauri dan Sunoo.” Jelas nyonya Kim yang setelah itu menggelengkan kepalanya karena mengingat kisah cinta nya yang sangat klise.
“Eomma seneng gak pas jatuh cinta?”
“Jelas iya dong. Eomma seneng banget sampe rasanya pengen balik ke masa itu aja.”
“Kok seru banget ya…” Sunoo tersenyum masam.
“Kamu kenapa sih, sayang?” Nyonya Kim, melepas sarung tangan nya, lalu berjalan ke arah Sunoo berada; lalu langsung memeluk anak bungsunya itu.
“Sunoo gak apa-apa.” Sunoo membalas pelukan hangat itu, seakan tak ingin satu-satunya orang yang menemaninya itu pergi meninggalkannya.
“Eomma itu besarin kamu sampai sebesar ini Sunoo—kalo ada yang terjadi, pasti eomma tau. So… Kamu kenapa sayang? Ayo cerita sama eomma.”
Dulu, eomma pernah bilang jika hidup beliau akan penuh kembali saat anak-anaknya mempercayainya lebih dari siapapun.
“Sunoo lagi suka sama seseorang eomma—” Ada jeda tarikan nafas pada detik itu, “—uhuk, tapi kok dada Sunoo sakit ya?” Sunoo tak lagi bisa menahannya.
“Sunoo, kamu batuk?”
“Eh, engg—uhuk Enggak eomma, tenggorokan Sunoo gatel aja. Tapi dadanya perih.”
“Sunoo kamu kenapa sayang?”
“Eomma—uhuk, Sunghoon mau nembak Gauri noona—uhuk, uhuk, uhuk—hoek!”
Yang Sunoo ingat, setelah ucapan terakhir nya. Eomma berteriak saat melihat muntahan kelopak bunga dan juga gumpalan darah yang mengenai pakaiannya. Setelah itu semuanya menjadi gelap. Namun Sunoo dapat mendengar teriakan eomma-nya.
(Hanahaki disease)
Sunoo tersadar saat mendengar tangisan di rongga telinganya. Dengan tatapan sayu, Sunoo dapat melihat samar-samar eomma-nya menggenggam tanganya erat sambil terisak. Nafas Sunoo tak lagi sesak, namun matanya memanas saat mendengar eomma terus memanjatkan doa dalam isakan nya.
Sunoo ingin memanggil eomma-nya, namun tenggorokannya sangat sakit, lantas ia hanya bisa menggerakkan jemarinya; yang membuat eomma-nya berteriak memanggil dokter. Walaupun bukan itu yang Sunoo inginkan.
“Sayang, ini eomma.” Nyonya Kim kembali menepuk pelan pipi Sunoo, namun balasan yang ia terima adalah senyuman lemas di wajah Sunoo.
“Dokter—gimana keadaan anak saya? Dan penyakit apa ini?” Tanya nyonya Kim saat dokter dan beberapa suster selesai mengecek kondisi Sunoo.
“Kita harus membahas ini di ruangan saya Bu—setelah ini tolong datang ke ruangan saya.” Jelas sang Dokter sambil tersenyum ramah.
Sunoo tidak tuli, ia mendengar semua percakapan itu. Lalu ia menahan jemari sang Ibu sambil memberi isyarat sambil berbisik, meminta keduanya membahas penyakit Sunoo di ruangan ini.
“Maaf Bu sesuai prosedur, kami tidak bisa membahas di sini.”
Sunoo menatap wajah eomma-nya; memohon . “Dokter, tolong…” Ujar nyonya Kim, seakan menyalurkan apa yang ingin Sunoo bilang.
“Hanahaki disease Bu.” Dokter itu seperti tak tega mengatakannya, karena setelah penggalan kalimat itu. Nyonya Kim menutup wajahnya sambil menangis.
Sunoo juga ikut menangis, namun ia lebih tenang. Karena ia mengetahui itu semua.
“P-penyabab nya?” Tanya nyonya Kim terisak.
“One-sided love.”
Mata Sunoo membelalak kaget dengan ucapan sang Dokter.
“Gak masuk akal.” Nyonya Kim berekspresi sebaliknya.
“Bahkan penyakit ini memang tidak masuk akal, Bu. Tidak ada yang berani menyebar luaskan penyebab penyakit ini karena kasusnya yang langka dan juga mematikan.” Dokter mencoba membuat nyonya Kim paham.
“Penyembuhannya?”
“Operasi, hanya itu. Namun ada efek—”
“Sunoo, kita operasi ya? Mau ‘kan sayang?” Tanya nyonya Kim memotong perkataan dokter, ia memohon pada anaknya dengan air mata yang terus berlinang.
“Eomma… Dokternya mau ngejelasin.” Tegur Sunoo.
“Operasi tidak semudah itu Bu, kesempatannya hanya 85% setelah melihat kasus anak Ibu. Dimana pohon dalam tubuhnya tumbuh hingga ke rongga tenggorokan—dan lagi, bukan hanya itu efek samping dari operasi. Anak ibu akan kehilangan seluruh perasaannya cintanya.”
Detik itu juga, Sunoo terisak sambil memegang dadanya yang terasa sakit. Ia menangis setelah mendengar ucapan terakhir dari Dokter. Ia menangis karena rasanya Tuhan sangat tidak adil, memberikan kesempatan pada Sunghoon untuk kehilangan bunga sialan itu di bunganya, sedangkan Sunoo harus merasakan sakitnya.
“Eomma… I’m an idiot, aren’t i?”
(Di balik marigold)
Sunoo bukan seorang pecinta bunga; bahkan ia sangat buruk dalam mengingat jenis bunga. Namun saat sebelum ayahnya meninggal dunia, beliau sering pulang sambil membawakan anak-anaknya bunga. Dan di saat anggota keluarganya mendapatkan bunga yang berbeda setiap harinya, Sunoo malah mendapatkan bunga yang sama,
Marigold namanya.
Bunga berwarna oranye ke merahan itu, menjadi bunga favorit pertamanya. Karena hanya dengan melihat bunga itu, ayahnya bisa terus mengingat anaknya.
Namun, tidak sampai muntahan kelopak pertamanya keluar.
It used to be his favorite flower. But not until the flower gnawed at his lungs.
Harusnya musim panas menjadi waktu favorit nya karena kedatangan Sunghoon. Cinta pertama yang dalam beberapa bulan yang lalu menjadi waktu dimana persisinya Sunoo menyadari jika ia jatuh hati pada Sunghoon. Dan eksistensi nya membawa sorak pada hidup Sunoo.
Namun, kala senyum bukan diperuntukkan padanya. Maka, hanya ada rasa sakit dan perih yang menyiksa.
Sunoo masih bisa tersenyum walau paru-parunya perih. Ia masih bisa berbohong pada dirinya sendiri walaupun nafasnya tercekat.
Harusnya Sunoo bahagia saat dirinya berhenti memuntahkan kelopak bunga itu selama beberapa hari. Namun, ada bagian lain yang tersakiti melebihi sakitnya bunga marigold yang menggerogoti paru-parunya; yaitu melihat Sunghoon harus ikut memuntahkan bunga kesayangannya.
Seperti berjalan di jalanan kosong tanpa arah. Sunoo kehilangan akalnya, yang ia tahu; setelah berbincang dengan mantan pengidap Hanahaki disease melalui Dm Twitter, Sunoo menjadi tahu jika akar penyakit ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Pantas saja kelopak bunga itu tak pernah berhenti keluar dari rongga tenggorokan nya karena Sunghoon yang sangat jelas menyukai Gauri sejak awal kedatangannya.
Sunoo memang bodoh, karena memaksa Gauri untuk mencoba menyukai Sunghoon dengan di iming-imingi menjadi satu alasan untuknya bisa menjauhi Yeonjun.
Dan tentu saja, malam itu Gauri mengakhiri hubungannya dengan Yeonjun dengan alasan jika dirinya tak akan jauh lagi pada Yeonjun. Karena sudah ada Sunghoon. And it works, sesuai dugaan Sunoo.
Sunoo pikir masalahnya akan selesai dengan operasi, persis seperti narasumber yang ia tanyai beberapa hari yang lalu. Namun sayangnya, tak ada yang memberi tahu Sunoo jika operasi memiliki arti bahwa dirinya harus melupakan cinta pertamannya; Park Sunghoon.
(Sebuah pengunguman pilu)
Ini hari kedua sejak kedatangan Sunoo di rumah sakit ini. Rasanya sangat aneh karena harus terus istirahat; padahal dirinya hanya lemah bukan kehilangan fungsi dari bagian tubuhnya. Namun eomma-nya melarang Sunoo untuk berjalan-jalan; kecuali saat pagi hari menggunakan kursi roda.
Dan hari ini, akan jadi pertemuan pertama dirinya dengan Sunghoon setelah dua hari yang lalu eomma melarang Sunghoon untuk datang mengunjunginya. Alasannya hanya karena eomma masih membenci bahwa faktanya Sunghoon menyukai Gauri, bukan Sunoo. Namun Sunoo sudah berpesan untuk tidak memberi tahu siapapun mengenai penyakitnya.
Eomma bilang, Sunghoon terus menangis dirumah. Bahkan ia tak bisa tidur di kamar Sunoo karena cemas dengan keadaan Sunoo. Dan Sunoo hanya tertawa mendengar ucapan Eomma.
Dan malam ini, Sunghoon dan noona-nya akan datang.
Ceklek!
Sunoo memasang wajah semangat nya kala suara pintu terbuka; dan menampilkan Sunghoon dan Gauri di sana. Ia melihat Sunghoon yang berjalan ke arah bangsalnya dengan linangan air mata di pelupuknya.
Pria itu menangis saat melihat perubahan drastis pada Sunoo. Wajahnya gak lagi berwarna kemerahan saat tersenyum, bibirnya tak lagi berwarna segar dan tubuhnya yang hanya dalam dua hari terlihat begitu kurus. Sunoo seperti kehilangan dirinya sendiri.
Saat itu, Gauri datang untuk mengelus pundak Sunghoon. Menanangkan pria itu yang terus terisak sambil memeluk Sunoo; yang tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya ia hanya ingin tersenyum menyaksikan kedua insan di depannya yang terlihat baik-baik saja.
Nyonya Kim yang nyaksikan itu hanya bisa menahan diri agar tidak memarahi Sunghoon. Karena ini bukan kesalahan anak itu.
“Malam ini Sunghoon mau nginep di sini sambil jagain Sunoo, boleh ya?” Sunghoon memohon pada nyonya Kim yang sebenarnya tak ingin memberikan izin.
Namun saat Sunoo memberi isyarat bahwa dirinya tak masalah dengan itu, maka Nyonya Kim hanya membalas dengan anggukan; tanda memberi izin.
Mereka semua berbincang panjang lebar malam itu, sedikit bernostalgia mengenai masa kecil mereka. Nyonya Kim ikut terhibur malam itu. Menikmati masa-masa dimana hidup tak begitu berat.
Hari sudah semakin malam, nyonya Kim dan Gauri pamit untuk pulang karena hari ini, Sunghoon lah yang akan menjaga Sunoo.
Sunghoon mendekatkan kursinya ke arah bangsal Sunoo. Dengan senyum lebarnya, ia menyapa kembali Sunoo saat ruangan itu hanya berisikan keduanya.
“Sunoo… Perutnya masih sakit?” Ia mengelus tangan Sunoo.
Yang Sunghoon tahu, Sunoo habis menjalankan operasi usus buntu. Itu adalah salah satu alasan yang Sunoo buat untuk mengelabuhi Sunghoon dan Gauri.
“Udah gak sakit kok, Cuma kalo ketawa sih iya.” Saat tertawa memang ada bagian tubuhnya yang sakit, namun bukan perutnya. Melainkan tenggorokannya yang lecek akibat gesekan tangkai dan kelopak bunga.
“Bagus deh… Pasti lo bosen ya makan bubur?” Tanya Sunghoon.
“Hoon… Lo mau bicara apa? Bilang aja.” Seakan peka terhadap gerak gerik Sunghoon yang terbilang mencuriakan, Sunoo tahu jika Sunghoon ingin mengatakan sesuatu.
Lalu Sunghoon hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Gue malu banget bilangnya…”
“Apa sih? Gak bisanya lo malu gini.”
Pipi Sunghoon bersemu, jemarinya tak bisa tenang memainkan besi bangsal Sunoo. Persis seperti orang yang salah tingkah.
“Gini Sun…”
Tolong jangan katakan kalimat itu…
“Akhirnya gue pacaran sama Gauri—Ternyata mau jalanin hubungan ini… Gue seneng banget sampe rasanya—”
Kalimat Sunghoon terpotong kala Sunoo mulai memuntahkan kelopak bunga dan gumpalan darah segar dari mulutnya. Persis seperti apa yang dulu ia alami.
“Sunoo lo…”
“Yah… Ketauan hehe.” Sunoo masih bisa terkekeh di saat darah sudah mengotori tubuhnya. Namun seakan sudah terbiasa, Sunoo langsung mengambil lembaran tissue di nakas untuk membersihkan tubuhnya.
Sunghoon masih terdiam, hanya menyaksikan kejadian itu dengan tatapan kosongnya. Baru saja wajahnya bersemu, namun sekarang sudah sedikit pucat.
“Hoon, boleh minta ambilin hoodie abu-abu gue? Disana, minta tolong ya.”
Seakan tak ada yang terjadi, Sunoo mengganti pakaian rumah sakit itu dengan hoodie kesayangannya; yang di beri oleh Sunghoon sebagai hadiah perpisahan keduanya tiga tahun lalu. Ia masih menyimpan, walaupun warnanya sudah tak seperti dulu.
“Jadi… Gimana lo—uhuk— sama Gauri noona sekarang?” Masih dengan senyum yang sama, Sunoo sangat memaksakan diri.
Sunghoon menarik nafas sebelum memulai perkataannya. “Pacaran sama yang lebih tua ternyata enak Sun, gak seribet pacaran sama anak SMA.”
Sunoo masih terbatuk-batuk, dengan beberapa kelopak bunga yang terus keluar.
“Oh iya? Apa bedanya Hoon?”
Sunghoon menjelaskan semua perbedaan dari berbagai sudut. Dan Sunoo terus memuntahkan kepolak bunga itu saat Sunghoon bercerita. Sunghoon ingin berhenti namun Sunoo terus saja mengatakan ‘Lanjut, jangan berenti karena gue’ Dan tak ada pilihan lain karena ucapan itu.
“Sunghoon…”
“Iya?”
Sunoo mengelap sudut bibirnya yang penuh dengan darah. “Malem ini, mau tidur satu kasur sama gue?—kasurnya besar, terlalu besar buat satu orang.”
Tanpa pikir panjang, Sunghoon langsung tersenyum dengan anggukan setuju.
Malam itu, Sunoo tertidur dengan keadaan memeluk Sunghoon, erat. Sangat erat hingga membaut kehangatan dan rasa nyaman untuk Sunghoon. Sampai ia tertidur setelah membuat janji pada Sunoo.
Janji bahwa dirinya akan membahagiakan Gauri.
Dan berjanji bahwa sampai akhir tak akan marah pada Sunoo.
Bukan hanya Sunghoon yang membuat janji, begitupun dengan Sunoo. Yang jelas saja atas perintah Sunghoon.
Ia berjanji, untuk tidak meninggalkan Sunghoon sendirian.
Dan Sunoo berjanji sambil tersenyum pada Sunghoon yang hampir terlelap, dengan Sunoo didalam pelukannya. Sangat hangat.
Rasanya malam itu Sunghoon tidur dengan sangat nyenyak, seakan tak pernah merasakan tertidur dengan rasa kenyamanan seperti itu. Sunghoon ingin terus seperti ini hingga esok hari, sampai dirinya bisa membuatkan Sunoo sarapan yang lebih layak dari pada bubur hambar yang rumah sakit ini berikan.
Namun, saat ia terbangun. Sunoo sudah terbujur kaku, dengan tubuh yang sangat dingin. Masih memeluk Sunghoon, dengan wajah yang tersenyum pucat. Dengan bekas darah di ujung bibirnya.
Tangisan Sunghoon pecah. Dadaknya seakan tercabik. Dunianya seakan runtuh.
He left, after lying to Sunghoon that he wouldn't leave him alone.
Halo Sunghoon!
Honestly, gue buruk banget dalam menulis surat kaya gini. Tapi gue harus buat, soalnya kata eomma pergi tanpa ngasih salam perpisahan itu gak sopan. So… Lo pasti paham tujuan gue nulis surat ini.
Sunghoon? Lo tau gak kenapa gue bersikeras nyuruh lo ke Daegu tahun ini? Karena ulang tahun gue kali ini tepat dimana jadwal kepulangan lo (yang berarti masih ada tiga hari lagi dari gue nulis surat ini) Gue Cuma mau liat lo di tahun ini, dan lagi-lagi semesta ngasih jalan terbaiknya.
Gue gak tau Hoon, surat ini bakal nyampe di tangan lo kapan, tapi yang gue tau lo pasti bakal baca. Entah pas hari dimana lo nerima surat ini, atau besok setelah lo rasa sesek di dada lo ilang, atau bahkan lo diemin surat ini bertahun-tahun karena marah sama gue yang bakal pergi duluan.
Tapi Sunghoon, gue harap lo bisa berenti marah sama gue karena ngambil pilihan ini. It's also very hard for me. Gue harap lo paham dengan keputusan yang gue ambil.
Surat ini gak tersusun, Hoon. Salah satunya karena gue gak bisa nulis surat dan kedua, karena di tiap paragraf nya mood gue berubah-ubah. Lima menit yang lalu pas nulis paragraf pertama, gue seneng banget karena masih ada niatan baik buat ninggalin salam perpisahan buat lo. Tapi tiba dimana gue harus nulis salam perpisahan nya, dada gue makin sakit. Sesek banget Hoon. Mood gue berubah lagi karena gak mau surat ini berakhir.
Sunghoon gue gak mau hidup dengan semua rasa sayang gue untuk lo yang akan hilang.
Sekarang gue tau Hoon rasanya ada bunga yang keluar dari tenggorokan. Sakit banget ya ternyata.
Sunghoon, lo percaya gak kalo ada yang namanya kehidupan kedua?
Kalo percaya, gue harap Tuhan mempertemukan kita lagi di kehidupan kedua. Dengan hubungan yang sama; tapi gue minta kalo penyakit sialan ini gak nyerang kita lagi hehe.
Lo pasti udah dengerkan dari eomma kalo lo itu cinta pertama gue? Kalo di bikin cerita tragis banget ya? Tapi asal lo tau, gue gak nyesel sama sekali jadiin lo cinta pertama gue. Karena gue tau, gue gak salah nentuin target. Jadi jangan risih ya kalo ada yang mati karena cintanya gak terbalaskan? Hehehe (please jangan tertekan, gue bakal ngerasa bersalah kalo kata-kata gue malah nyakitin lo)
Sunghoon, Park Sunghoon. Kalo Tuhan ngasih kesempatan gue untuk bilang langsung kalimat ini, gue bakal berterima kasih. Tapi, sayangnya Tuhan ngasih rencana lain.
Park Sunghoon, gue bukan sahabat yang baik.
Karena gue sayang sama lo, bukan sebagai sahabat. I love you Park Sunghoon, I really do.
See you Sunghoon; when God reunites us in the next life.
(Obsesi dan nyaman)
Sudah satu tahun berlalu, namun Sunghoon tak kunjung berani untuk mendatangi makam Sunoo. Bahkan untuk menginjakan kakinya kembali ke Daegu saja, ia belum siap.
Rasanya seperti ribuan penyesalan datang pada dirinya.
Penyesalan dimana dirinya baru menyadari arti cinta yang sesungguhnya. Dimana ia baru paham membedakan rasa obsesi dengan nyaman.
Tak ada lagi musim panas bagi Sunghoon. Karena Sunghoon baru menyadari saat ia tak lagi memiliki rumah untuk pulang.
Sunoo pergi meninggalkan Sunghoon; yang belum sempat membalas perasaanya. Karena dunia Sunghoon memang berjalan sangat lambat, hingga tak pernah menyadari semua itu.
Di kehidupan selanjutnya, Sunghoon hanya ingin Sunoo tahu bahwa dirinya akan terlahir kembali; hanya untuk mengatakan bahwa dirinya juga menyayangi Sunoo, bukan sebagai sahabat.
The end.
