Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of RayEmma Week 2021
Stats:
Published:
2021-06-20
Words:
290
Chapters:
1/1
Kudos:
10
Hits:
126

it was hard to find you

Summary:

"Aku khawatir kau akan merindukanku?"

Notes:

The Promised Neverland © Kaiu Shirai, Posuka Demizu

(tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini).

Didedikasikan untuk:
#RayEmmaWeek2021

Day I: Reunion

Work Text:

Ray membuang napas lega saat akhirnya melihat figur Emma di tengah kegelapan. Sahabatnya itu tersenyum, tidak ada luka satu gores pun. Buru-buru Ray turun dari teras, mengambil sebagian kayu bakar dari pelukan Emma.

“Tadi aku sempat melihat kelinci putih dan dia mengajakku bermain. Kau menunggu lama, ya?”

Ray teringat cerita fiksi abad sembilan belas dan bersyukur Emma kembali ke sini, bukan masuk ke dalam lubang asing. 

“Aku akan senang kalau kau mengajakku.” Ray melempar kayu terakhir ke perapian. “Tolong bilang kalau mau pergi. Kamu tahu, kan, dirimu itu sulit ditemukan?”

Emma menyipitkan mata. “Rasa-rasanya kau selalu berhasil menemukanku?”

Ray berdiri menghadap Emma yang berjongkok. “Kau bisa melihatku sebagai orang pintar.”

Emma menendang kaki Ray. 


Akhir pekan minggu ini Ray membawa Emma untuk menginap di kota. Anak-anak yang lain ingin bertemu. Malam Minggu, ada premier sebuah film yang telah digadang-gadang sukses besar sejak satu tahun lalu.

“Ray, kau di sini? Tidak ikut yang lain?”

Perpustakaan sudah sepi karena mayoritas penghuni sedang menunggu angkutan di halaman depan rumah. 

“Sedang penasaran. Tidak usah pedulikan aku. Sana susul yang lain. Aku titip satu bungkus popcorn dan satu gelas cola.”

Ray melambaikan tangan lalu berjalan ke rak lain.


“Tampaknya rencana membaca dalam sunyi Anda tidak berhasil.”

“Aku batal menikmati popcorn dan cola malam ini.” Ray menarik kursi yang berhadapan dengan Emma. “Kenapa tidak ikut ke bioskop?”

Emma memastikan Ray sedang menaruh perhatian untuk jawabannya. “Aku khawatir kau akan merindukanku?”

Gelak tawa tanpa ragu keluar dari tenggorokan Ray. Ia berdiri dan memasukkan kursi kembali. Kemudian dia memutari meja untuk berdiri di sebelah Emma. 

“Aku penasaran sama film itu.”

“Sepertinya aku semakin bisa membacamu seperti buku terbuka.”

Ray menoleh ke arah lain. “Satu, dua, tiga. Salahmu kalau kita tertinggal adegan epik pembuka film paling menarik abad ini.”

 

Series this work belongs to: