Actions

Work Header

i want you (to the bone)

Summary:

“Shouto,”

Abu-abu dan biru kehijauan bertemu dengan merah. Si pirang menatapnya lekat, sedangkan si dwi-warna mencoba mencari tahu. Kedua anak adam tersebut berhadapan, dan disinilah mereka; pada akhir kisah.

“Bahagia selalu.”

Notes:

Boku no Hero Academia © Kohei Horikoshi. Highly recommended to play To The Bone by Pamungkas while reading. Enjoy. ♡

Work Text:

 

 

 

 

— Have I ever told you?

 

 

 

 

Masih ada kurang lebih satu jam.

Katsuki melirik jam digital di nakasnya, kemudian kembali mengaitkan kancing kemejanya. Acara dimulai pukul delapan malam, sehingga ia masih punya cukup banyak waktu.

Kancing terakhir terpasang, dan ia segera mengaktifkan ponselnya.

Begitu jarinya mengetuk aplikasi pesan, ia diserang dengan puluhan (mungkin sampai ratusan) notifikasi. Berdecak, Katsuki hapal sekali jika grup kelasnya tersebut selalu berisik sepanjang waktu—bahkan sekalipun kini mereka semua telah lulus dan berkutat dengan kehidupan masing-masing.

Aku sudah di jalan! Lelaki blonde itu menyeringai, mengejek antusiasme Eijirou yang terlalu tinggi. Cepat sekali, Bro. Aku saja belum mandi. Denki pemalas. Aku sih sudah sampai, hehe. Lho? Rajin sekali Deku. Apa? Cepat sekali?! Katsuki bahkan bisa mendengar suara Mina dalam benaknya.

Ia terus mengusap layar ponselnya, membaca satu-persatu pesan disana—hingga rasa bosan mulai mendera, dan akhirnya Katsuki berhenti.

Mereka begitu bahagia, ya?

Tentu saja. Katsuki juga.

Tring!

Manik crimson-nya berpendar. Sebuah notifikasi mengalihkan fokusnya, kemudian menekannya.

Eijirou: Katsubro, kau ikut?

Yeah.

Eijirou: Baguslah.

Eijirou: Aku agak khawatir.

It's okay. Tidak perlu mencemaskanku.

Eijirou: Uhm, oke.

Eijirou: Aku sudah melihat gedungnya. Sampai jumpa di acara nanti, Katsubro!

Menekan emotikon jempol, Katsuki lalu kembali menutup ponselnya dan terdiam sesaat.

Tidak apa-apa. Lelaki itu berpikir. Lagipula ia sudah mempersiapkannya sejak lama, jadi tidak masalah, bukan?

Menyadari waktu yang terus berjalan, ia segera menyambar dasi dan jas hitamnya—kemudian bergegas.

 


 

Gedung itu besar sekali. Katsuki memperhatikan eksistensi bangunan tersebut yang sudah terlihat dari kejauhan. Terlihat mewah dan berkelas, dengan nuansa kecokelatan yang amat kental. Bugatti miliknya memasuki halaman gedung—di mana awalnya ia kesusahan mencari tempat parkir saking banyaknya tamu yang datang. Yeah, untung saja tak lama kemudian lelaki itu menemukannya.

Satu tungkainya keluar, dan sejenak Katsuki merasakan atmosfer di sekitarnya mendadak berat.

“Wah, Katsuki!”

Katsuki yang membetulkan dasinya terkesiap. Sosok Ojiro melambai beberapa meter di belakangnya, dengan Tooru yang memeluk lengannya.

“Oh, halo Ojiro.” ujarnya. “Baru sampai?”

“Mhm!” Tooru mengambil alih pembicaraan. “Sebenarnya sudah agak lama, tapi aku mengajak Ojiro-kun untuk berkeliling! Gedung ini besar sekali, Katsuki. Aku penasaran berapa uang yang harus dikeluarkan Endeavor untuk menyewanya, hihihi.”

“Tch, dasar kampungan.”

Tooru melompat-lompat protes, “Katsuki! Mulutmu masih sama saja seperti dulu, ya! So mean!”

“Tooru-chan...,” Ojiro tertawa, kemudian menepuk bahu Katsuki. “Sudahlah, ayo masuk bersama.”

“Cepat! Cepat, Katsuki!”

“Oke.”

Menghela napas, Katsuki melangkah di belakang mereka.

Begitu memasuki ruangan, mereka disapa dengan sahutan dan lambaian. Katsuki tidak banyak merespon. Pupilnya berkeliling menyusuri sisi demi sisi ballroom tersebut.

Tempat ini dipenuhi dengan warna emas. Alunan musik menggema memenuhi seluruh ruangan. Peony tersusun rapi di setiap sisi ruangan, beberapa di setiap meja. Sebuah lampu kristal tergantung di tengah ruangan, memantulkan cahaya keemasan yang membuat Katsuki terpana. Sangat indah.

Ia pasti sangat menyukainya.

“Cantik sekali ya, Bakugou-san?”

Itu Momo. Wanita itu menyelipkan rambut hitamnya ke belakang telinganya, kemudian tersenyum tulus. “Aku suka bunganya.”

“Yah, kalau suka kapan-kapan minta Yosetsu membelikannya.”

Momo terkekeh, “Dia pasti akan segera membelikannya begitu mendengar ini.”

“Tentu saja. Apa sih yang tidak untukmu?”

Wanita itu kembali tertawa, kemudian menunjuk peony yang ada di dekat mereka. “Lihat, indah sekali, bukan? Selera Shouto-san sangat bagus.”

Shouto.

Iris merahnya memperhatikan bunga itu dalam diam.

”... Yeah,” Lidah Katsuki terasa pahit. “Tidak buruk juga untuk ukuran seorang Nerd.

Jujur, dirinya sendiri juga menyukai pilihan ini.

“Bakubrooo!”

Katsuki beralih. Denki dan Hanta tiba-tiba menyerangnya dengan pelukan erat. Lelaki itu berteriak emosi, hampir ingin memecahkan dua kepala tersebut kalau saja ia lupa jika mereka sekarang berada di tempat umum.

“Aku rindu sekali padamu, Blasty!” Denki merengut (di kejauhan, Kyouka memijat pelipis). “Bagaimana pekerjaan? Aman?”

“JANGAN MENYENTUHKU!”

“Aku kira kau tidak akan datang!” Giliran Hanta yang menghantam punggungnya, membuat urat Katsuki berdenyut. “Kau 'kan mana mau menghadiri acara semacam ini.”

“Sebaiknya kalian menjauh dariku sekarang juga,” geramnya. “Sebelum aku mengacaukan tempat ini.”

“Aduh, galak sekali bintang kita ini,” Denki mencolek lengan Katsuki—lalu dihadiahi tinju maut.

“Mina sedang melakukan dokumentasi! Ayo sapa dia!”

“Kau mau merasakan kepalan tanganku juga?”

“Ah, ayolah Katsuki! Sebentar saja!”

“Tidak mau! Lepaskan!”

“Katsubroooo!”

Kesabaran Katsuki seperti diuji. Sekarang giliran Eijirou yang memeluknya, beserta Denki dan Hanta yang juga kembali merengkuhnya.

“SIALAAAAAN!”

Kericuhan sempat terjadi selama beberapa menit, namun bersyukurlah karena lelaki pirang tersebut dapat menahan tangannya. Pada akhirnya, Denki dan Hanta diamankan—menyisakan Eijirou yang tertawa terbahak-bahak karena Mineta yang mengejar sekelompok perempuan, lalu menyikut bahunya.

“—Aduh, hahaha.” Lelaki bersurai merah itu mengusap air matanya, “Aku jadi rindu masa-masa sekolah.”

“Dia masih gila seperti biasanya.”

“Tentu saja. Pada dasarnya, semuanya masih sama. Hanya jelas kehidupan dan status kita saja yang kini berubah, bukan?”

Katsuki mengangguk pelan, “Kau benar.”

“Omong-omong,”

Ada jeda cukup lama sebelum lelaki itu melanjutkan, “Izuku dan yang lainnya mengunjungi Shouto.”

Bibirnya terkatup rapat, enggan menyahut.

“Aku sempat menyapanya, lalu Shouto membalasnya dengan senyum. Dia terlihat keren sekali. Begitu bahagia dan sangat manly!”

Berdeham, Katsuki melipat kedua tangannya. “Begitu, ya?”

Eijirou mengangguk, kemudian menepuk bahunya beberapa kali.

”... Bagus kalau begitu.”

“Sebaiknya kau pergi mengunjunginya juga.”

Baiklah. Ini dia.

“Aku tahu.”

Eijirou terdiam. Ia tahu sahabatnya ini sedang berjuang dengan konflik internal dalam dirinya—namun tidak dapat melakukan apa-apa.

”... Sepertinya aku harus merapikan dasiku. Aku terlalu banyak menariknya tadi.”

“Oh,” Eijirou mangut. “Baiklah.”

Menjauh, lelaki itu kembali merasakannya. Atmosfer yang memberat, dengan dadanya yang berdentum keras.

 


 

Shouto akan menikah.

Katsuki melangkah hendak kembali ke ballroom. Pada malam ini, Todoroki Shouto akan menikah—melepas nama keluarganya dan mengubahnya menjadi nama sang suami. Malam ini, ia akan kembali bertemu dengannya setelah hampir empat tahun tidak pernah berjumpa.

Malam ini, ia akan melepas Shouto seluruhnya.

Katsuki benci mengakui ini, namun lelaki itu tidak bisa. Bahkan untuk berhenti pedulipun, ia tidak bisa. Empat tahun sudah ia lakukan dengan semaksimal mungkin. Berhenti mencari tahu kabarnya, menghindari di manapun kemungkinan mereka bisa bertemu, bahkan mencari seseorang yang sanggup menghapus bayangan surai dwi-warna tersebut dari hidupnya—namun pada akhirnya, usahanya sia-sia. Ia akan menemukan dirinya menanyakan tentang lelaki itu pada Izuku atau Tenya, atau diam-diam berusaha mencari sendiri, meskipun Shouto tidak pernah tahu.

Sekuat apapun Katsuki menyangkal, namun nyatanya, ia amat menginginkan Shouto.

Ia ingin menyentuh pipi itu. Ia ingin mengusap wajah itu. Ia ingin mengelus rambut itu. Ia ingin melihat senyum itu. Ia ingin menarik tubuh itu ke dalam rengkuhannya. Ia ingin tatapan itu. Ia ingin.

Ia ingin, namun ia tidak bisa.

Sejak awal, Katsuki kalah. Begitu melihat bibir itu untuk pertama kalinya berpagutan dengan orang lain yang bukan dirinya, ia sadar jika impiannya tersebut hanya angan semu.

Cinta sialan. Ia terkekeh miris. Dari semua orang, mengapa harus lelaki itu? Mengapa harus Shouto? Lalu mengapa ia tidak bisa?

Sebuah pintu tiba-tiba terbuka, membuat Katsuki yang hampir melewatinya terperanjat—diikuti gumaman panik yang memenuhi gendang telinganya.

“K-Kacchan! Astaga, maafkan aku! Kau tidak apa-apa?”

”... Sialan.” Katsuki membetulkan letak arlojinya, melayangkan tatapan sinis pada Izuku yang terus meminta maaf. “Bagaimana jika pintu sialan itu mengenai hidungku, Deku? Kau mau bertanggung-jawab, hah?”

“A-Aku minta maaf!”

“Aduh, Katsuki... Sudah, dong. Deku-kun 'kan sudah minta maaf.” Suara Ochako menggema dari balik pintu. “Jangan terlalu berisik. Itu akan mengganggu groom kita!”

Oh.

Oh.

“Eh, iya?”

Katsuki menangkap Ochako yang bersuara, diikuti suara lain yang tidak terdengar jelas.

Shit. Tunggu sebentar. Lelaki pirang itu berubah gugup, memutuskan untuk pergi secepat mungkin—sebelum niatnya terurung karena suara Ochako yang kembali terdengar (kali ini sangat jelas, karena kepalanya menyembul keluar.)

“O-Ochako-san!” ucap Izuku terkejut.

“Oh, Katsuki!” ujar wanita itu, kemudian menunjuk ke belakangnya. “Shouto ingin kau masuk. Katanya, dia ingin melihatmu.”

Sial. Secepat ini?

”... Oh.”

Katsuki berbalik, bergumam pelan, “Oke.”

Baiklah.

Izuku dan Ochako meninggalkannya, sedangkan Katsuki meraih knop pintu.

Shouto begitu bersinar di matanya. Terdengar hiperbola, namun Katsuki tidak berbohong. Tuxedo putih itu terlalu sempurna di tubuhnya. Lelaki itu memunggunginya, membuat ia bersyukur karena ia tidak menangkap merah samar di wajahnya ataupun tatapan memujanya.

Terutama helai-helai lembut itu. Kira-kira sehalus apa saat telapak tangannya menyentuhnya?

“Katsuki,”

Shouto berbalik menghadapnya. Senyumannya menjadi sambutan pertama, disusul mulutnya yang terbuka, “Apa kabarmu?”

“Baik.” Katsuki kesusahan mengontrol jantungnya yang berdegup cepat. “Kau sendiri?”

Shouto mengangguk. “Aku baik-baik saja. Banyak hal yang telah kulalui selama ini, tapi untunglah semuanya berjalan dengan normal. Pekerjaanku baik, dan sekarang perusahaan ayah akan menambah cabang baru di Kyoto. Kau mendengarnya?”

“Ya. Beritanya ada di televisi. Selamat untuk itu.”

Shouto terkekeh. “Terimakasih banyak. Ah, omong-omong apa kau bertemu dengan Tsuyu dan Tenya? Mereka sekarang hebat sekali. Kafe milik Tenya semakin ramai, dan katanya Tsuyu juga akan menikah! Apa kau tahu itu, Katsuki?”

Menggeleng, lelaki itu menyandarkan punggungnya ke tembok. “Tidak. Hanya ada Deku dan Mochi. Aku juga baru tahu tentang ini, dan... yeah, aku turut senang.”

“Sayang sekali. Padahal Tenya bilang jika sudah lama tidak melihatmu. Terakhir sekitar beberapa bulan yang lalu.”

“Kesibukan memang menyita cukup banyak waktu.” gumamnya. “Tapi itulah konsekuensi hidup, 'kan?”

“Mhm.” Shouto mangut.

Katsuki tersenyum tipis.

“Bagaimana denganmu?”

“Oh? Aku juga baik, sepertimu.” ujar lelaki blonde tersebut. “Brand milikku cukup populer di kalangan muda. Kalau kau menemukan pakaian dengan merk GZ, itu milikku.”

Ia terperangah, “Benarkah? Inasa punya banyak koleksi GZ di lemarinya.”

Senyum Katsuki memudar.

“Ada berbagai macam desain, aku tidak tahu apa saja itu—namun dia sangat gemar mengoleksinya. Aku akan memberitahunya, mungkin setelah ini dia akan meminta tanda tanganmu.”

Katsuki tidak banyak bersuara selama beberapa menit.

“Kau tahu? Inasa menyukai warna emas, jadi aku memilih semua desain pernikahan ini. Untunglah dia sangat menyukai pilihanku.”

Aku juga, Shouto.

“Bagus.” gumamnya, berdeham sebentar. “Baldy memilih pendamping yang tepat.”

Pipi Shouto bersemu, masih mengulum senyum, “Yah, begitulah...,”

Dada Katsuki terhimpit sesuatu tak kasat mata.

“Shou,”

Lelaki itu mengangkat kepalanya, memandangi Katsuki penasaran. “Iya, Katsuki?”

“Kau bahagia sekali, ya?”

Katsuki memandanginya lekat. Shouto kembali mengangguk, tersenyum begitu manis—namun membuat hatinya semakin teriris.

“Sangat. Ini adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku.” ujarnya.

Kebahagiaan terbesar. Katsuki memandangi lantai yang dipijakinya, enggan menatap sepasang manik heterokromatik itu.

“Kalau begitu, lanjutkan.”

“Eh?”

Shouto memejamkan mata. Satu tangan Katsuki bergerak menyentuh pucuk kepalanya, mengacak-acaknya gemas—membuatnya mengeluarkan rengekan protes.

“Katsuki! Butuh waktu lama untuk menata ini!”

“Hahaha,”

Ia tertawa.

Shouto melihatnya, namun terdengar seperti dipaksakan.

“Terus lanjutkan itu, ya,” ujarnya, tersenyum padanya. “Kalau Baldy tidak membuatmu demikian, pukul dia sekeras-kerasnya lalu tinggalkan sesegera mungkin. Kalau perlu beritahu ayahmu, biar Orang Tua tersebut membakarnya hidup-hidup.”

“B-Baik!” Shouto mengangguk cepat, balas menatap lelaki di sebelahnya. “Aku mengerti.”

“Bagus. Ingat kata-kataku baik-baik, paham?”

Rasanya aneh. Hawa di sekitar mereka terasa berbeda. Apa ini hanya perasaan Shouto saja? Atau memang ada sesuatu? Maniknya mencoba menelusuri netra merah Katsuki, mencari petunjuk.

“Kurasa acaranya akan segera dimulai.” Katsuki memecah pikiran Shouto yang berkecamuk, menunjuk pintu di belakangnya dengan jempolnya. “Aku harus segera keluar dari sini.”

“Oh—ehm, baiklah.”

“Aku pergi dulu. See you outside.

Lelaki bersurai dua warna tersebut mengangguk.

Hening.

Shouto memandanginya, namun Katsuki sama sekali tidak membuka pintu. Lelaki itu hanya berdiri di depan kayu tersebut, sudah meraih knop yang ada di depannya—namun tidak melakukan apa-apa. Hal itu jelas membuat dahinya berkerut bingung, lalu pelan-pelan menanyakannya.

”... Katsuki?” Tidak mendapat respon. “Apa... Ada sesuatu?”

Lelaki itu berbalik.

Shouto terdiam, tiba-tiba tidak bisa mengeluarkan suara. Sepasang mata itu terlihat... Lembut. Ia tidak pernah melihat Katsuki menatap seseorang seperti ini. Tatapan itu tampak tulus dari hati terdalam, dan tatapan itu sanggup membuat ia mendadak susah bernapas. Kedua mata itu tampak tenang, penuh kasih, dan disaat yang sama—

Menyimpan luka.

“Hei, Halfie.”

Shouto tersentak.

“Empat tahun yang lalu, saat kelulusan.” Lelaki itu tersenyum, “Kau ingat? Waktu itu aku ingin mengatakan sesuatu. Aku memintamu untuk menunggu di depan asrama untuk itu. Sayangnya, aku terlambat. Aku berlari untuk menemuimu, berpikir jika kau marah karena itu. Tapi ternyata, kau masih disana.”

Ia jelas ingat. Malam kelulusan. Katsuki tiba-tiba saja meminta dirinya untuk keluar dan menunggu. Shouto tidak mengerti, namun pada akhirnya ia menurut dan mengikuti permintaannya.

Namun, hingga pesta selesai dan Shouto kembali ke kamarnya untuk beristirahat, Katsuki tidak pernah datang.

“Aku baru saja ingin menghampirimu, tapi kakiku berhenti ketika aku sadar jika kau tidak sendirian.” Kekehan keluar dari bibir si pirang, “Ternyata Baldy ada disana, lalu dia menciummu di depan mataku.”

Ah.

Shouto mengigit bibirnya. Rasa asing menghampiri dirinya, dan mendadak euphoria yang ia rasakan sedari tadi hilang.

“Karena sekarang kita sudah bertemu lagi, dan mungkin saja setelah ini aku tidak punya kesempatan untuk berjumpa denganmu—aku akan mengatakannya sekarang. Dengarkan aku, oke?”

Jantung Shouto berpacu dengan cepat.

“Baik.”

Katsuki menghela napas.

“Shouto,”

Abu-abu dan biru kehijauan bertemu dengan merah. Si pirang menatapnya lekat, sedangkan si dwi-warna mencoba mencari tahu. Kedua anak adam tersebut berhadapan, dan disinilah mereka; pada akhir kisah.

“Bahagia selalu.”

 


 

Suatu hari, Katsuki pernah membayangkan—bagaimana rasanya berada di sisinya? Apakah akan membuat jantungnya berdetak cepat? Ataukah malah menjadi tenang dan nyaman?

Bagaimana rasanya pulang ke rumah dengan senyum di bibirnya sebagai ucapan selamat datang? Apakah itu akan menggembirakan? Bagaimana rasanya memeluk tubuh itu dan menghirup aromanya? Apakah itu adalah sebuah rumah yang sesungguhnya?

Bagaimana rasanya memiliki semua itu?

Hiruk pikuk memenuhi seluruh penjuru. Katsuki memperhatikan dalam diam, bagaimana teman-temannya begitu bersemangat dan menyambut Inasa dengan tepuk tangan dan wajah bahagia. Lelaki bertubuh tinggi itu tersenyum cerah, melangkah penuh percaya diri di hadapannya—seakan mengejeknya.

Kau tidak bisa, 'kan?

Tentu saja tidak. Katsuki tidak bisa, dan tidak akan pernah.

Bagaimana rasanya menjadi dirinya?

Katsuki ingin. Ia ingin tahu bagaimana rasanya menjadi orang pertama di hidup lelaki itu. Ia ingin tahu bagaimana rasanya bangun dengan wajahnya sebagai pemandangan pertama yang ia lihat. Ia ingin melihat tawa itu menguar untuknya. Ia ingin merasakan bagaimana jari-jari itu tertaut pada jarinya. Ia ingin. Ia begitu menginginkannya. Katsuki ingin.

Ia begitu menginginkannya, sangat teramat hingga membuatnya lupa diri.

Sebuah tangan merangkul lengan Inasa dengan mesra—membuat Katsuki lagi-lagi kembali memperhatikan wajah itu.

Shouto sangat indah. Cahaya keemasan memancar melewati helai-helai rambutnya, membuatnya menjadi yang tercantik malam itu. Ketika Inasa melangkah dengan percaya diri, maka lelaki yang lebih muda tersebut melangkah dengan anggun. Merah muda samar menghiasi kedua pipinya, membalas siulan dan sahutan tamu-tamu di sekitarnya dengan senyuman kecil.

Bagaimana rasanya menjadi lengan itu?

Lelaki bersurai dwi-warna tersebut menoleh pada suaminya, kemudian tertawa sembari menutupinya dengan buket peony di tangannya.

Bagaimana rasanya menjadi poros dunianya?

Katsuki melihat tatapan itu. Tatapan yang tidak pernah Shouto berikan kepada siapapun. Sorot penuh cinta dan bahagia—kedua bola mata yang memikat Katsuki sejak awal pertemuan mereka, sepasang benda yang bahkan lebih indah dari permata manapun; dan kini menatap orang lain yang bukan dirinya.

Ia paham.

Pipi itu tidak akan bisa ia sentuh. Wajah itu tidak akan bisa ia usap. Rambut itu tidak bisa ia elus. Senyum itu bukan miliknya. Tubuh itu tidak akan bisa ia rengkuh. Tatapan itu bukan untuknya. Sejak awal, ia tidak akan bisa bersanding bersama lelaki itu.

Ia ingin, namun mulai hari ini, Katsuki berhenti mengingininya.

Perlahan-lahan, ia melangkah mundur. Katsuki berjalan melewati satu persatu tamu undangan, menjauh dari keramaian. Ia sempat berpapasan dengan Izuku yang bingung dan Eijirou yang menatapnya khawatir, namun Katsuki hanya memberi mereka anggukan.

Semuanya akan baik-baik saja.

Ia berhenti di depan pintu keluar. Katsuki berbalik, untuk mendapati sepasang mata lain memandanginya.

Di kejauhan, Shouto menatapnya. Senyum masih terpatri di wajahnya, namun itu tidak secerah sebelumnya. Lelaki itu berdiri berdampingan dengan suaminya di depan sana, tidak bereaksi ketika beberapa tamu menggoda betapa serasinya mereka berdua.

Matanya berair.

Lelaki bersurai pirang itu menunjuk satu matanya, kemudian menggunakan dua jari telunjuknya untuk membentuk tanda X. Shouto membalasnya dengan kekehan, sedikit mengadah sembari mengedipkan mata beberapa kali.

Bibir Katsuki membentuk sebuah senyum tipis. Senyum pertama tanpa beban yang ia keluarkan selama berada di tempat ini.

Jika ini adalah kebahagiaan terbesarnya, maka kebahagiaan terbesar Katsuki adalah melihatnya bahagia.

Pintu tertutup rapat. Katsuki melangkah menjauh, bersama seluruh harapan dan keinginannya yang tidak akan pernah terwujud.

 

 

 

 

— I want you to the bone.