Work Text:
.
.
.
Dua kubuh terpisahkan jauh oleh jarak, saling menatap sinis—memberikan mata bak pembunuh keji, yang kapan saja bisa melempar pisau. Mereka berselisih, menolak untuk menurunkan ego.
Lain hal dengan pihak yang tak terlibat dalam perang dingin, Jose Baden meneguk bir dalam gelas, yang sejak awal dibawanya sebelum atmosfer memanas. Ia duduk di sofa panjang dalam lorong masuk utama manor.
Tepat di sebelahnya, Edgar duduk di ujung, menyibukkan diri dengan kuas dan kanvas. Aneh rasanya dia bisa tetap fokus dalam menggambar di situasi runyam seperti sekarang. Pelukis itu memang hebat.
Gelas itu diteguk sekali lagi, Jose membuang napas sepanjang mungkin. Sang Kepala Petugas mengulum senyum kikuk. “Jadi, kalian masih ingin meributkan aku harus masuk dalam tim siapa—?”
“Tentu saja!”
Jose meringis pelan setelah menerima bentak secara serentak, kejam sekali mereka.
Kubuh pertama; ada Tukang Pos, si ‘Tahanan’, juga Penjaga Makam. Kemudian di kubuh sebelah; Koboi, Penambang, dan Ahli Parfum masih memicing tak suka pada kelompok seberang.
Ia menaruh gelas di meja bulat berkaki pendek, lalu memijit kening. Terus terang, Jose pernah terjebak dalam situasi ini. Bahkan hingga kini pun masih tak mampu memahami alasan jelas mengapa dirinya jadi pemicu keributan. Birnya pun terasa hambar.
“Yah— biar kalian tidak ribut lagi, bagaimana kalau aku akan turun ke ‘permainan’ dua kali secara bergantian? Pertama di tim Balsa dulu karena mereka yang turun lebih dulu, baru aku masuk ke tim Campbell?”
“Tidak setuju.”
Saran ditolak mentah-mentah. Oke, Jose rasa ini akan semakin buruk.
“Anda harus memperhatikan kondisi badan Anda juga, Tuan Baden.” Norton adalah orang pertama yang memberi sanggahan.
Ada kecemasan dalam raut tampan Luca. “Campbell benar, memang Anda kuat untuk bermain dua permainan berturut-turut?”
“Kau tidak perlu memaksakan diri. Ingatlah umurmu, Tuan Baden.” Vera mengibas tangan.
Jose justru mendapat berbagai ceramah. Kenapa ia malah disudutkan seperti ini—
Sang Koboi berdecak pinggang, menatap sangsi. “Lagipula … Baden, kondisimu belum seratus persen pulih, kan? Aku tidak akan membiarkanmu turun ke permainan lebih dari sekali.”
Kemudian seringai bangga ditarik oleh Kevin. “Maka dari itu, gabung saja ke timku. Kami akan melindungimu selama permainan.”
Andrew, yang semenjak tadi bergeming pun mendecih. Mata merah memandang rendah pada Kevin. “Heh. Bisa-bisanya kau mencuri kesempatan, Koboi Mesum.”
“Siapa yang kaupanggil Koboi Mesum, hah!?”
Victor mengangkat tinggi buku sketsa berukuran sedang, bertuliskan" “Tuan Baden harus ikut dengan tim kami! Kami bisa melindungi Tuan lebih baik dari kalian!” dalam kanvas kosong itu.
Percikan api telah membesar, membakar setiap sumbu. Aura hitam mulai memenuhi ruang kosong di antara mereka.
“Kalian memang ingin cari masalah, ya?” Magnet kebanggaan telah dikeluarkan Norton. Sifat jahat telah menguasai.
Sementara Luca, melakukan beberapa senam statis; melemaskan otot-otot tubuh. Senyumnya beda dari biasanya. “Harusnya aku yang bilang begitu.”
Adu mulut telah tergantikan oleh adu pukul. Dua kubuh kembali berselisih, dan Jose sudah amatlah lelah dengan semua ini. Mata malas komikalnya seolah mengatakan ‘bodoh amat’.
Detik selanjutnya, Jose melirik pada Edgar. Kali harap orang itu merespons—dan Tuan Pelukis menangkap sinyalnya. “Ada apa, Tuan Baden? Kau bisa lihat kalau aku sedang sibuk?”
Jose menghela parau. “Apa kau tidak bisa menghentikan mereka?”
Dua lempeng visualisasi kembali menatap kayu kanvas, Edgar acuh. “Mungkin nanti, aku masih harus menyelesaikan lukisan bugil badanmu dulu.”
“… tunggu, apa kaubilang—”
.
.
.
.
.
End.
