Work Text:
Jaemin sedang sibuk dengan rebusan ramuannya ketika pintunya diketuk dari luar. Jam dindingnya menyatakan bahwa hari baru sudah dimulai sejak tiga jam yang lalu. Jaemin tidak tahu siapa yang akan mengunjungi rumahnya di hari Selasa pukul tiga pagi. Rumah yang seharusnya tidak dapat dideteksi—kecuali orang tersebut memang sudah mengetahui lokasinya. Hanya ada dua orang lain di dunia yang mengetahui keberadaan Jaemin selain dirinya—Jisung dan Haechan—dan kecuali nyawa mereka ada di ambang batas, Jaemin berani bersumpah tidak akan ada satu kata pun yang akan keluar dari mulut mereka. Lebih banyak kemungkinan mereka akan mati lebih dahulu sebelum lokasi Jaemin akan mereka berikan, pada akhirnya motto Slytherin adalah untuk selalu menjaga sesamanya.
Dalam sekejap, jantungnya berdebar jauh lebih cepat. Punggungnya langsung menegak dan tangannya dengan sigap mengarah ke tongkat sihirnya yang tertutup tumpukan barang-barang di atas sofanya. Tongkat tersebut dengan cepat tertarik ke udara dan pulang ke rumahnya di dalam genggaman Jaemin. Ada mantra stasis yang Jaemin arahkan ke ramuannya yang masih di atas api untuk memberhentikan proses didihnya, sebelum dia pergi untuk menemui tamunya.
Sekali lagi pintunya diketuk dengan cepat—namun kali ini lebih mendesak, lebih memaksa, walaupun juga terdengar lebih lemah. Alis Jaemin berkerut dalam konsentrasi ketika mendengar perubahan bunyi ketukan tersebut. Dia tidak bisa menebak wajah siapa yang dia temui ketika membuka pintunya—mungkinkah salah satu Pelahap Maut? Jaemin tidak mengundang siapapun ke rumahnya hari ini, dan siapapun yang dapat masuk melewati semua mantra penangkal yang sudah diaktifkan di sekitar rumahnya hanya berarti kabar buruk. Tangannya menggenggam tongkatnya lebih erat, tubuhnya terasa begitu tegang seakan sudah siap untuk masuk ke dalam posisi duel dalam detik selanjutnya.
Jaemin tahu apa yang sedang terjadi di luar sana—di luar hutan di mana ia mengambil tempat sembunyi. Sejarah sedang berulang dan semua bekas murid Slytherin telah menjadi target dari kedua sisi perang. Ada kemungkinan besar bahwa dia sudah ditemukan oleh Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut —pada akhirnya Jaemin adalah ahli ramuan terbaik pada generasinya. Jaemin hanya dapat berharap bahwa Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut tidak akan mengetuk pintu orang-orang yang ia datangi, sehingga besar kemungkinan dia tidak akan jatuh mati sesaat setelah membuka pintu.
Setelah yakin bahwa ada mantra mematikan di ujung lidahnya dan energinya sudah terkumpul di pangkal tongkatnya, Jaemin dengan kasar membuka pintu rumahnya dan menodongkan ujung tongkat sihirnya ke arah si tamu tidak diundang. Postur duelnya sempurna dan tongkatnya hampir menusuk lawannya yang ternyata berdiri terlalu dekat dengan pintunya—ada setitik darah yang berhasil ditarik oleh Jaemin, namun mantranya tercekat ketika otaknya berhasil memproses pria yang ada di hadapannya.
Lee Jeno.
Ada energi yang seketika membuncah dalam dirinya—tegang bagai kawat yang akan putus, lalu ada cemas yang sedikit demi sedikit meluap, memenuhi dadanya dengan sesak. Jika dia tidak menggigit lidahnya sendiri hingga menarik darah, mungkin Jeno sudah tidak akan ada lagi karena kontrol Jaemin yang sesaat goyah dari sihirnya. Lee Jeno, pahlawan favorit setiap penyihir, anak emas Hogwarts yang kemudian lulus dan menjadi anak emas satu departemen kementrian sihir. Auror kebanggaan dunia magis dan juga musuh bebuyutan Jaemin sejak pertama kali mereka bertatap pandang di dalam aula besar Hogwarts.
Jaemin tidak tahu apa yang Jeno lakukan di depan rumahnya atau bagaimana dia bisa menemukan rumahnya. Kemungkinan terbesar dia akan diajak atau dipaksa untuk masuk ke dalam kubu Jeno dari peperangan ini—Jaemin tahu bahwa kedua kubu tidak memiliki ahli ramuan dan obat yang handal. Dan hal ini tidak dikatakan demi melambungkan ego Jaemin sendiri, namun memang sangat jarang—atau bahkan hampir tidak ada—ahli ramuan yang menguasai kedua sisi sihir seperti Jaemin. Jaemin tidak pernah berhenti mencari ilmu hanya sebatas sihir yang diizinkan oleh hukum. Pengetahuan—baik dan buruk—akan selalu berguna untuk diketahui.
Jeno sebagai orang berkompas moral lurus, yang tidak pernah neko-neko, dan selalu berpedoman kepada keadilan—tidak pernah setuju. Mungkin keadilan juga yang membawanya sampai ke depan pintu Jaemin.
Jaemin tidak peduli akan keadilan.
Jaemin peduli akan nyawanya dan nyawa adiknya, Jisung, yang sekarang masih ada di bangku sekolah di tengah-tengah perang yang sedang terjadi. Jaemin tahu tempat teraman untuk Jisung sekarang adalah Hogwarts, namun demi eksistensi dari masa depan Jisung, dia tidak boleh terlibat dalam perang ini baik di kubu Jeno maupun di kubu Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut. Menang di kubu Jeno hanya akan berakhir mati sia-sia di tangan sisa-sisa Pelahap Maut yang haus akan pembalasan dendam. Sementara menang di kubu Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut berarti menandatangani kontrak seumur hidup untuk menjadi budaknya. Jaemin tidak sudi jika masa depan Jisung harus berakhir seperti itu.
Lebih baik dicela untuk tidak melakukan apapun dalam perang. Setidaknya mereka dapat berlindung di belakang kata takut dan kepengecutan yang masih menjadi bagian dari sifat manusia.
Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala Jaemin, namun semuanya terhenti ketika matanya kembali memandang kondisi pria di hadapannya. Mukanya begitu pucat dan dibasuh keringat yang masih terus jatuh dari pelipisnya.
“Jeno?” tanya Jaemin lirih. Suaranya ikut bergetar melihat tubuh Jeno yang bergetar hebat dari ujung kepala hingga kakinya. Matanya terlihat begitu tidak fokus—seakan sudah diambang sadar. Salah satu tangannya mencengkram perutnya dan yang satu lagi berusaha berpegang dengan kusen pintu Jaemin. Lalu tatapan Jaemin jatuh pada darah yang menyelimuti Jeno—terlalu banyak hingga kemejanya tidak sedikitpun terlihat warna aslinya. Udara di sekitar mereka terbalut dengan bau besi yang begitu menyengat, Jaemin harus menahan dirinya agar tidak memuntahkan makan malamnya. Dia tidak tahu bagian mana dari Jeno yang terluka separah ini, namun ia tahu bahwa Jeno mungkin tidak akan selamat kalau lukanya tidak segera ditangani.
“Jen? Jeno, lu kenapa?” Jaemin kembali bertanya, berusaha menyadarkan Jeno akan situasi di sekitarnya—berusaha mencari jawaban. Tatapan Jeno akhirnya berfokus pada wajah Jaemin yang dibalut kecemasan sebelum tubuhnya terhuyung-huyung bergerak mendekat. Seakan tertarik oleh sebuah utas tali tak terlihat, Jaemin secara spontan ikut bergerak maju demi menangkap tubuh Jeno agar tidak terhempas ke lantai rumahnya dan melukai bagian dirinya yang lain. Kedua lengan Jaemin melingkari tubuh Jeno dan berusaha menahan berat badan mereka berdua di ambang pintunya. Disaat Jeno sudah aman dalam dekapannya, barulah Jaemin dapat melihat apa yang sedari tadi terhalangi tubuh Jeno dari pandangannya.
Ada separuh bagian tubuh manusia yang hancur terkoyak di teras rumah Jaemin—pakaiannya familiar, seorang petinggi dari kementrian sihir. Ada beberapa bagian tubuh yang terpental sedikit lebih jauh dari tubuh yang rusak tersebut. Lalu ada lengan yang tergeletak di samping kaki Jeno—lengan yang menyandang tato terkutuk milik Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut. Seekor ular yang melingkari tengkorak manusia. Tanda kontrak dari Pelahap Maut.
Sepertinya salah satu petinggi di kementerian sihir merupakan bawahan dari Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut, dan Jeno kemungkinan besar berkelahi hingga titik darah penghabisan sebelum ber- disapparate ke halaman rumah Jaemin dengan musuhnya. Jaemin masih tidak tahu bagaimana Jeno dapat menemukan lokasinya.
“Jaem…” Jaemin mendengar suara lirih di dekat telinganya yang terdengar begitu sulit untuk dikeluarkan. Nafas Jeno terdengar sesak di telinganya dan ia berusaha memberhentikan pria tersebut sebelum usahanya untuk berbicara hanya akan memperparah lukanya. Jaemin tidak ingin pahlawan kesayangan satu dunia sihir ini mati di depan terasnya. Yang ada Jaemin akan ikut mati dituduh sebagai pembunuh.
Namun Jeno memang selalu keras kepala sedari dulu. Jaemin hanya mengerang kecil ketika Jeno kembali berusaha berbicara.
“Na— Nana, dengerin gue…” Tubuh Jaemin kembali menegang mendengar panggilan masa kecilnya keluar dari mulut Jeno. Jaemin tidak pernah memperbolehkan orang lain selain temannya dan adiknya untuk memanggilnya dengan nama tersebut. Jeno tidak punya hak untuk memanggilnya Nana. “Aku gak tau lagi harus kemana… Maaf … maafin gue—” Mata Jaemin terbelalak dalam takut ketika melihat mata Jeno yang kemudian berputar ke belakang kepalanya—hilang kesadarannya sebelum selesai menyampaikan pesan yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepala Jaemin.
Jaemin tidak tahu permintaan maaf apa yang ingin diutarakan Jeno, tapi hatinya ingin mendengar lebih—ingin mengerti lebih jauh bagaimana Jeno dapat tahu lokasinya, kenapa Jeno datang menemuinya ketika sudah di ambang jurang hidup, ingin tahu tentang Jeno dan apa yang dia lakukan selama ini. Jaemin ingin tahu lebih banyak lagi tentang Jeno yang sekarang ada di dalam dekapannya dan bukan Jeno yang ia kenal di dalam dinding kastil Hogwarts.
Namun Jeno harus bertahan hidup untuk menjawab semua pertanyaannya.
Tangan Jaemin dengan sigap mengibaskan tongkatnya ke arah serpihan tubuh entah milik siapa di terasnya, menyulut semua potongannya dengan api hingga terbakar habis. Lalu ditutupnya pintu rumahnya dan ditaruhnya mantra pertahanan paling ampuh yang dapat ia lakukan dengan Jeno yang terkulai tidak sadarkan diri di tangannya. Lalu ditambahkan beberapa hex dan jinx demi memperketat perlindungannya walaupun hanya sedikit.
“ Don’t die ,” hanya kata-kata tersebut yang dapat Jaemin lantunkan ke arah Jeno sebelum berusaha membopong badannya ke arah ruang studi Jaemin tempat ia menyimpan semua ramuan obatnya yang paling ampuh demi menyelamatkan pria di pelukannya.
