Work Text:
+++
“Sendirian aja.”
Renjun mengangguk, melepaskan nafas panjang. Angin malam membawa sengatan asap api unggun dalam sapuannya, bermain manja dengan rambut tengkuk Renjun, menyeruak masuk ke dalam lipatan kaos tipis.
Renjun menggigil, pelan.
Donghyuck tidak bersuara, tidak memberikan komentar atau ejekan. Dia duduk di sebelah Renjun, menghela napas juga, melihat kebawah juga, kepada gemerlap kota dan seisinya. Seperti angin malam yang sudah berteman dengan Renjun, tangannya menemukan tempatnya di tengkuk Renjun.
“Dingin?”
Renjun mengangguk lagi, bergeser mendekat kepada Donghyuck. Dia hangat, tapi kulit tangannya dingin. Renjun tidak berkata apa-apa.
“Nih.”
Tangan dingin itu ditarik, dan Renjun tidak sempat bersedih, digantikan dengan lembutnya jaket lima puluh ribu won kesayangan Donghyuck. Sepasang tangan menarik kerah jaket itu, membenarkan posisinya di sekitar bahu Renjun.
“Pake, yang bener,” kata Donghyuck, berlutut di depannya. Renjun tidak tahu apa Donghyuck tahu, tapi dahinya mengkerut kalau dia sedang berpikir. Apa yang ada di pikirannya? Apakah Renjun?
Donghyuck mengangguk saat Renjun mengikuti kemauannya, memasukkan tangannya kedalam lengan jaket dan menarik resletingnya keatas. Donghyuck tersenyum, puas. “Biar ngga dingin.”
Renjun tersenyum juga, seperti ada lelucon di antara mereka. Seperti bertukar sentuhan itu biasa. Donghyuck bersimpuh saat dia selesai, mengangkat alis, seperti bertanya, apa? Mau ngomong apa sekarang?
Renjun tertawa kecil, menggelengkan kepala. Seperti ini pun tetap menyenangkan menggoda dia.
“Oke,” Renjun berkata, “makasih.”
Gelak tawa Mark benggema dari belakang mereka, diikuti oleh pekikan tawa Chenle. Suara-suara itu mencuri perhatiannya dari Renjun. Donghyuck memandang kebelakang, melewati bahu Renjun, dan apa yang ia lihat disana memerahkan pipinya.
“Ayo, balik,” Donghyuck menggumam, “ dicariin .”
Dia pergi secepat dia datang, cepat-cepat mengibaskan daun kering dari celana dan telapak tangan, meninggalkan Renjun sendirian pada petak tanahnya. Renjun menoleh kebelakang, dan melihat Jisung tersenyum jahil ke arah mereka berdua, menyeringai bahkan ketika Donghyuck mulai mengganggunya, mengejarnya di sekitar api unggun.
Renjun tertawa.
Park Jisung, dasar bocah tidak tahu diuntung.
-
Seperti semuanya, ide gila mereka dimulai dari kamar Jisung. Pukul 2:30 pagi. Dibantu oleh delirium setelah dua minggu berkutat dengan ujian akhir.
“Camping gasih,” Mark bergumam, setengah tertidur dengan kepalanya di bahu Chenle.
“Camping fix,” sahut Chenle.
“Dimana?” Donghyuck membalas, sayup-sayup. Lampu remang-remang di kamar Jisung membuatnya terlihat mengantuk, dia memandang Renjun sekilas, lalu memalingkan muka, seperti malu.
Renjun membalas pandangan Donghyuck dengan tatapan, meskipun Donghyuck telah membuang muka. Jaemin menghela napas di sebelah Renjun. Tempat tidur Jisung terlalu kecil untuk mereka bertiga--dia, Jaemin, dan Jeno. Renjun terhimpit diantara meja dan Jaemin.
Tapi itu pun tidak dirasakan oleh Renjun. Dia hanya memperhatikan Donghyuck, lemparan pandangannya, dan merahnya pipinya, berwarna keemasan disinari pindaran lampu.
“Gunung sebelah aja,” kata Jisung.
“Besok?”
“Fix,” kata Jaemin.
“Sewa tenda, Renjun-ah.”
Renjun mengangkat bahu, mengetuk meja belajar Jisung dengan satu jari. Tiga ketukan untuk mengesahkan keputusan, seperti yang diajarkan di kelas. Donghyuck melihatnya lagi.
Renjun menyeringai, Donghyuck memutar mata.
“Oke,” Renjun menjawab mudah.
Dan dengan begitu saja, mereka berangkat.
-
Renjun menyewa tiga tenda, untuk dibagi di antara mereka bertujuh. Semua ingin tidur dengan Mark dan Jeno, maka urutan harus ditentukan dengan tiga ronde permainan Uno, dimana Renjun main curang dan sama sekali tidak ada yang menyadarinya.
Mark meringkuk saat dia tertidur, memeluk bantal leher semangkanya erat-erat. Renjun memastikan dia sudah lelap sebelum dia menyelinap keluar, kembali ke sepetak rumput di ujung tebing tadi. Disana Renjun berdiri, dengan tangannya di dalam kantung jaket Donghyuck.
Renjun menatap langit lekat-lekat. Disini, dia bisa melihat bintang, melihat bulan yang seluas piring kaca. Apabila ia bisa, ingin rasanya mengambil kerlipan bintang dan menaruhnya di belakang mata. Untuk didatangi lain hari, saat dunia sedang gelap, saat Renjun sedang tidak baik-baik saja.
“Mikirin apa, sih?”
Renjun tersenyum.
Di manapun, sedang merasa apapun, Donghyuck selalu menemukannya. Rasanya itu takdir mereka, untuk selalu mengejar dan dikejar. Mengikuti dan diikuti. Apabila Renjun menoleh, akan selalu ada Donghyuck disana.
Renjun tidak menjawab pertanyaan Donghyuck. Donghyuck menghela napas, dan berdiri di sebelah Renjun. Dia begitu dekat, bau minyak wanginya membaur dengan bau jaket yang dipakai Renjun. Dia hangat, sekarang, tidak lagi dingin, dan dia menyentuhkan bahunya dengan bahu Renjun.
“Mikirin mama?”
“Ngga,” jawab Renjun. “Mikirin skripsi.”
“Ngawur. Mulai aja belom.”
Renjun tertawa, dan berkata dengan pelan. “Ngga mikirin apa-apa kok.”
“Oke.”
Mereka berdua terdiam melihat bintang, berdiri termenung dengan semesta di sekeliling mereka. Donghyuck tidak selalu seperti ini, tidak biasanya seperti ini. Dia selalu memiliki komentar di ujung lidah, harus selalu membuat suara. Tapi mungkin bintang bisa membuatnya terdiam juga, hembusan angin bisa mengetuk jatuh kata-katanya, bunyi jangkrik dan gemericik sungai bisa lebih menarik daripada suara tawa.
Jemari hangat menyelipkan diri mereka di selah jari Renjun. Renjun menahan napas, dia bahkan tidak menyadari bahwa tangannya telah bergantung keluar dari kantung jaket, dan telah ditemukan oleh Donghyuck.
Seperti takdir saja, selalu mencari dan menemukan.
Donghyuck melipat jari-jarinya, menggenggam tangan Renjun erat.
Hangat , pikir Renjun. Di tengah-tengah desiran angin malam, Renjun merasa hangat.
“Senen gausah bawa motor ya,” celetuk Donghyuck. “Bareng gue aja.”
Renjun tersenyum kecil, dan meremas balik tangah Donghyuck. “Oke,” kata dia. “Bawa sarapan ya.”
Donghyuck menghela nafas, memutar mata. Dia mulai berjalan, menarik Renjun kembali ke arah tenda mereka. “Banyak mau lu.”
“Bawain.”
“Iya, iya.”
“Donghyuck.”
Renjun berhenti di tengah lingkaran tenda. Sisa kayu api unggun tadi malam berkeratak di bawah sepatu, membuat noda pada sol putih kinclong Renjun. Donghyuck menatapnya, menunggu Renjun untuk melanjutkan. Untuk komplen, mungkin. Untuk berkilat lidah.
Renjun hanya menatapnya lekat-lekat, selekat dia menatap bintang. Andai saja Renjun bisa menyimpan Donghyuck selalu di pikiran, ia akan taruh Donghyuck di langit, bersama bulan dan bintang dan semesta. Disana dia akan berada, selalu di bayang-bayang kesadaran Renjun.
Renjun menggelengkan kepala, menarik tangannya dari hangatnya genggaman Donghyuck. Saat ini bukan waktu untuk menempa asa. Renjun mengejar dan dikejar. Tidak ada yang tertangkap.
“Ga jadi, ayo tidur.”
“Renjun,” Donghyuck berkata pelan.
Dengan nada seperti itu, tidak mungkin Renjun tidak menoleh. Tidak mungkin Renjun tidak berdiri ditempat saat Donghyuck melangkah maju dan mengelus pipinya, sebelumnya mengecupnya, dengan lembut.
Renjun terkesiap.
Gemerlap bintang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rangkaian bunga yang mekar merekah dibawah rusuk Renjun, dan mengganti semua udara di paru-parunya. Jantungnya meronta melawan kungkungan tulang belulang, seperti ingin lari dari dalam dada.
“Donghyuck,” dia berbisik, menangkupkan tangannya pada wajah Donghyuck.
Donghyuck mengecupnya lagi.
“Donghyuck.”
Donghyuck mengangguk, mundur dari rangkulan tangan Renjun. Pipinya merah lagi, hangat dibawah jemari Renjun. Renjun menyukainya, sepuhan cantik dari nirwana. Warna yang hanya ada di surga dan di kedua pipi Donghyuck.
“Sayang,” Renjun berkata.
Donghyuck menggigit bibir, tidak mau melihat mata Renjun. Ia mengangguk.
Renjun tertawa. “Sayang, kamu menyukaiku?”
Donghyuck menggenggam satu tangannya, menatapnya dengan pandangan setengah jengkel. Mukanya tetap merah. Betapa imut belahan hatinya ini.
“Menurut lo aja sih Njun.”
Renjun tersenyum puas, dia menangkup pipi Donghyuck dengan satu tangan, tangan yang lain dia taruh di tengkuk Donghyuck. Renjun mencium bibir Donghyuck; lembut.
“Oke,” dia berbisik. Satu kecupan lagi. “Sayang.”
“Oke?” Donghyuck bertanya. “Kita pacaran?”
Pacar. Betapa kekanak-kanakan kata itu. Donghyuck bukan… pacar. Bukan sesuatu yang bisa berganti, yang akan ditinggalkan tiga bulan lagi.
Renjun menggelengkan kepala. “Bukan.”
“Hah?”
“Bukan pacar.”
“Lalu, kita apa?”
Oh, pertanyaan yang bagus . Yang terbaik, yang tidak pernah terjawab selama tujuh tahun mereka mengenal satu sama lain. Apakah ada kata di dunia yang bisa secara tepat menggambarkan bagaimana Donghyuck membawa matahari ke hidupnya? Apa ada yang bisa mendeskripsikan kerasnya jantung Renjun berdetak saat mendengar tawa lepas Lee Donghyuck? Apakah ada kata yang bisa melingkup semua cinta, semua bahagia, semua indah, dan semua tawa yang dirasakan karena ada Donghyuck?
“Jagain hatiku, Donghyuck.” Renjun berkata, “itu punya kamu.”
“Oh,” Donghyuck berkata kecil. Matanya terbelalak. “ Oh. ”
“Hati kamu aku jaga disini,” Renjun mengambil tangan Donghyuck dan meletakkannya di atas dada. “Gaakan kulepas, sampe kapanpun.”
Donghyuck mengangguk. Ia tertegun, memandang tangan Renjun di atas tangannya. Untuk kedua kalinya hari itu, Renjun berujar, apa yang sedang berlangsung di kepalanya, apa yang sedang dia pikirkan?
“Senin jemput aku,” kata Renjun, “jangan telat, ya?”
Donghyuck mengangguk.
“Udah tidur sana,” dia melanjutkan, “besok ketemu lagi.”
Mereka berpisah, masuk ke tenda masing-masing untuk tidur. Renjun merasa terlalu panas di dalam sleeping bag dia. Semua hembusan napas, semua sentuhan lembut, bahkan cantiknya kipasan bulu mata Donghyuck dia ingat. Memori itu berputar-putar terus dalam pikirannya, bagaikan film.
Tuhan , Renjun berdoa, dia untuk aku, tuhan. Jangan biarkan dia pergi. Biarkanlah dia ada disisiku selamanya.
Renjun menghela napas, dan menutup mata, pergi untuk bertemu Donghyuck dalam mimpi.
-
(Dan disanalah mereka bertemu untuk seumur hidup mereka, di atas awan, di bawah hangatnya matahari. Berdua, dalam relung mimpi. Mengejar, dan ditangkap. Mencinta, dan dicintai.)
-
fin.
+++
