Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-06-24
Words:
2,005
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
24
Hits:
212

everything about you were beautiful (and they still are)

Summary:

Ketika Wonpil tidak sengaja datang ke pesta dansa dan bertemu dengan mantan kekasihnya. Apa yang dirasakan? Tentu saja, panik.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Panik.

Satu kata untuk menggambarkan perasaan Wonpil saat ini. Sebenarnya ia tidak tahu apakah keputusannya untuk datang ke pesta ini tepat atau tidak.

Bukan, bukan karena acaranya tidak menyenangkan (buktinya sudah banyak kudapan ringan yang ia ambil dan masuk ke dalam mulutnya), tetapi datang tanpa pasangan adalah sebuah hal yang ia sesali saat ini. Agendanya hanyalah menemui teman-temannya, berbicara seperlunya saja, lalu merapat dengan dinding sambil mengamati keadaan sekitar dengan hati-hati. Dia memang ingin bersenang-senang, menikmati banyak dessert sebanyak yang ia bisa, tetapi ada satu hal yang sangat ingin ia hindari malam ini.

Pesta ini diadakan oleh temannya, yang juga mengenal mantan kekasihnya. Kalau Wonpil diundang, maka hal yang sama juga berlaku bagi orang tersebut. Sudah jelas kan, apa yang sangat ia hindari saat ini?

Wonpil terus berdoa di dalam hati agar rencananya bisa berjalan lancar, sayangnya rencana tersebut harus gagal.

Kedua mata Wonpil membelalak saat dia melihat sosok laki-laki yang baru saja masuk ke dalam ruangan sendirian. Ralat, ternyata dia datang bersama teman-teman akrabnya. Tidak seperti Wonpil yang datang seorang diri.

Ini bukanlah acara formal, tetapi hanya dengan kemeja hitam juga celana bahan berwarna senada saja sudah membuat sosoknya terlihat sangat menakjubkan malam ini. Dengan cepat Wonpil memakan suapan terakhir dari pudding yang ada ditangannya, piring yang sudah kosong kemudian dia taruh secara sembarang pada salah satu meja di dekatnya. Wonpil kembali berusaha menyembunyikan diri di antara tamu undangan yang lain.

Setelah merasa cukup aman, Wonpil merogoh saku celananya untuk mengambil saputangan miliknya. Membersihkan kedua sudut bibirnya dengan lembaran kain yang ia pegang, kemudian merapihkan helaian rambut yang jatuh menutupi sekitar matanya. Tangannya yang lain lalu meluruskan bagian depan blazer berwarna biru tua dan celana panjang yang ia kenakan. Wonpil kembali melirik ke sekelilingnya setelah selesai merapihkan diri, masih aman.

Kali ini dia kembali berhenti di sudut lain ruangan, masih berdiri dekat dengan dinding polos yang tidak dihiasi satu pun ornamen. Tidak jauh dari posisinya, ada meja lain yang berisi kue-kue kecil di atasnya. Wonpil kembali mengingat tujuan utamanya, menikmati dessert. Beragam pilihan pai berukuran kecil yang berada di atas meja sudah menarik seluruh perhatiannya saat ini.

Kedua kakinya hendak berjalan mendekati meja, tetapi langkahnya terhenti ketika ia merasa ada yang sedang memperhatikannya. Seharusnya ia tidak perlu penasaran, tetapi tubuhnya seperti menolak perintah dari otaknya. Ia menolehkan kepalanya ke samping, membuat pandangannya bertemu dengan pasang mata yang sekarang tengah memperhatikannya secara lekat.

Dengan pasang mata milik laki-laki yang sejak awal berusaha Wonpil hindari, mantan kekasihnya.

Ketika kedua mata mereka bertemu, di tengah ramainya orang dan bisingnya suara percakapan, saat itu terasa seperti hanya ada mereka berdua saja di dalam ruangan ini.

Laki-laki dengan postur tubuh tinggi itu tersenyum, pelan, dan ternyata hal tersebut masih sanggup membuat Wonpil berdebar karenanya. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya ke arah Wonpil—yang saat ini hanya bisa berdiri dengan kaku, membalas senyuman tersebut dengan kikuk.

"Hai."

Sebuah sapaan singkat keluar dari mulutnya, dengan senyuman yang masih setia berada di wajahnya. Dalam jarak yang dekat, Wonpil bisa melihat sedikit perubahan pada wajahnya. Juga pada rambutnya. Tetapi sosoknya tetap saja memberikan efek yang sama pada Wonpil walau sudah sekian lama waktu berlalu.

"Hai, Jae." balas Wonpil dengan singkat.

Jae hanya tertawa kecil sebelum bertanya kembali. "Kamu apa kabar?"

"Baik kok," gumam Wonpil dengan pelan sambil menundukkan kepala, melihat ke arah bagian depan bajunya yang masih rapih. Pai berukuran kecil yang ingin dia ambil sudah hilang dari pikirannya. Ia hanya bisa menarik napas, berusaha menenangkan diri sebelum mengangkat wajahnya kembali.

Tidak ada yang berbeda dari cara Jae menatapnya saat ini, semuanya masih sama seperti yang selalu ia lakukan dulu. Sepasang mata yang selalu menatapnya lembut, dengan hangat dan penuh dengan perasaan. Entah perasaan apa yang dimiliki Jae saat ini saat melihat Wonpil.

Wonpil tidak bisa memungkiri kalau kehadiran Jae di dekatnya masih membuatnya merasakan sensasi yang sama seperti dulu.

"Kamu ngga mau tanya kabar aku?"

"Aku lihat...kamu baik-baik aja. Kelihatannya sih gitu."

"Tapi sayangnya ngga."

Jawaban tersebut langsung membuat Wonpil menatap Jae dengan tajam. "Dan kayaknya aku ngga perlu tahu."

"Kenapa?" tanya Jae dengan suara lirih, yang anehnya masih dapat terdengar jelas pada telinga Wonpil.

"Sekarang bukan waktunya." Dan mungkin tidak akan pernah ada, lanjut Wonpil di dalam hatinya.

"Tapi kapan, Wonpil?"

Uh. Oh.

"Aku—"

"Kalau kamu mau bicara apa pun tentang kita, aku mohon, jangan. Aku...cuma mau senang-senang malam ini." potong Wonpil dengan cepat, bahkan sebelum Jae bisa menyelesaikan kalimatnya.

Ia memasang raut wajah datar miliknya, berusaha menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya dia rasakan di dalam hati. Tetapi nada suaranya yang lemah saat meminta Jae untuk tidak mengatakan apa-apa, jelas menunjukkan hal yang sebaliknya. Kepanikannya dapat terdengar dengan jelas dalam rentetan kalimat yang baru saja Wonpil ucapkan.

Tanpa sadar Wonpil kembali menundukkan kepalanya, mengambil satu langkah mundur untuk menjauhi Jae yang masih diam di tempatnya. Andai saja Wonpil tidak membuang pandangannya, maka ia bisa dengan jelas melihat kalau Jae memiliki rasa panik yang sama dengan apa yang dirasakan Wonpil saat itu.

Pergerakan Wonpil sangat terbatas karena mereka sudah berada pada bagian paling ujung dari ruangan. Punggungnya menabrak dinding yang dingin saat ia sudah tidak bisa lagi melangkah mundur. Sekilas ia bisa melihat tangan Jae hendak bergerak maju, seakan-akan ingin menyentuh dan menghentikan Wonpil agar tidak menjauh lagi.

Sepertinya Jae sadar itu akan membuat Wonpil semakin merasa terganggu. Jadi yang dilakukan setelahnya hanya menghela napas lelah dan menaruh lengannya pada posisi semula di samping tubuhnya.

"Aku, maaf, aku ngga akan bilang apa-apa, Pil. Tapi, aku mohon—" Dengan suara tercekat kalimatnya terpotong, Jae pun menarik napas semakin dalam, membuat Wonpil ikut menahan napasnya tanpa sadar. "—jangan tinggalin aku. Biarin aku di sini sama kamu. Malam ini saja."

Wonpil kembali terdiam.

Malam ini saja?

Kenapa? Kenapa bukan waktu itu Jae berkata seperti ini? Kenapa baru sekarang?

Kenapa Jae tidak mengatakannya di malam saat Wonpil meninggalkannya dulu?

 

 


 

 

Bukan tanpa alasan Wonpil pergi meninggalkan Jae begitu saja.

Semua berawal dari Wonpil yang diam-diam tidak sengaja mendengar Jae bercerita pada temannya kalau dia sudah tidak sanggup lagi menghadapi hubungan mereka. Wonpil memang tidak mendengar cerita lengkapnya, tetapi ia tahu Jae sudah menyerah. Ia tahu Jae sudah menyerah karena Jae tidak menolak tuduhan penuh amarah yang diucapkan oleh Wonpil.

Jae tidak berusaha memberikan pembelaan atau memperbaiki keadaan. Ia tidak berusaha mencegah perpisahan yang akan terjadi. Ia bahkan tidak mengucapkan satu patah kata pun—membiarkan Wonpil pergi meninggalkan Jae begitu saja.

Kalau kalian kira meninggalkan Jae adalah hal yang sangat mudah bagi Wonpil, tentu saja jawabannya salah.

Tidak mudah baginya untuk menjauhi Jae tanpa teringat akan bayang-bayangnya. Tidak mudah baginya untuk melupakan kenangan manis yang pernah mereka lewati bersama. Tidak mudah baginya untuk menjalani hari tanpa mengingat hal-hal yang kecil yang biasa Jae lakukan untuknya.

Wonpil tentu saja merasakan sakit yang amat sangat saat menyadari kalau Jae sudah tidak menginginkannya keberadaannya lagi. Tetapi tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain pergi meninggalkannya. Kalau Wonpil memang menyayangi Jae, menuruti kemauannya adalah hal yang seharusnya dia perbuat, kan?

Maka itu yang kemudian Wonpil lakukan, pergi dari kehidupan Jae.

Lantas, mengapa bisa-bisanya Jae meminta Wonpil untuk menemaninya malam ini?

Jae datang bersama teman-temannya, sedangkan Wonpil datang sendirian. Memang ada teman-teman yang ia kenal, tetapi mereka sibuk mengobrol dengan tamu lainnya. Wonpil juga tidak peduli karena terlalu sibuk berusaha bersembunyi, walaupun pada akhirnya dia gagal.

Tidak ada satu pun kata yang terucap dari bibir keduanya. Mereka membiarkan kesunyian itu tetap berada di antara mereka. Padahal saat itu bisa saja Wonpil pergi dari sisi Jae, pulang dan beristirahat di dalam kamar tidurnya yang hangat, tetapi ia tidak melakukannya.

Wonpil bahkan tidak tahu alasannya, tetapi ia kembali menuruti permintaan Jae malam ini.

Wonpil masih belum berani menatap wajah Jae. Hati kecilnya meragukan keberaniannya. Wonpil jelas paham, hanya dengan menatap kedua mata Jae saja sudah cukup untuk membuat dia mengingat semua kenangan yang mereka miliki.

Mengingat bagaimana Jae pernah menatapnya dengan begitu indah, dengan penuh rasa sayang yang terpancar di dalamnya. Mengingat bagaimana kemudian Jae akan memanggil namanya dengan lembut juga dengan suara tawa khas miliknya. Mengingat bagaimana Jae pernah menjadi salah satu alasan ia pernah begitu bahagia dalam hidupnya.

Lagu yang dipasang di dalam ruangan tiba-tiba berubah menjadi lagu bertempo lambat. Tidak lagi heboh seperti lagu-lagu sebelumnya. Perubahan lagu tersebut juga membuat Wonpil tiba-tiba menjadi tenang.

Yang tidak ia sangka, Jae kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan Wonpil. Wonpil hanya bisa menatap telapak tangan milik Jae yang berada di depannya, sebelum bergeser untuk menatap wajah lelaki yang lebih tinggi dengan penuh pertanyaan dari kedua matanya.

"Can I have this dance?"

Apa?

Wonpil langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan cepat. Sejak kapan acara ini menjadi ajang untuk berdansa dengan pasangan? Terima kasih kepada ajakan dansa dari Jae, detak jantung milik Wonpil kini menjadi lebih kencang dari sebelumnya. Jujur saja Wonpil ingin menolaknya. Tetapi hati kecilnya berkata untuk menerimanya.

It's not like it's going to hurt him, right?

Tangan kanan milik Wonpil diletakan di atas telapak tangan milik Jae yang lebih besar dari tangannya. Jae menyelipkan jari jemari kurusnya di antara celah jari Wonpil dengan perlahan. Ia kemudian menarik Wonpil agar semakin mendekat, lalu menuntunnya bergerak mengikuti irama lagu yang sedang diputar.

Mereka masih berada di tempat yang sama.

Dengan Wonpil yang berusaha mengikuti alunan lagu yang sedang diputar dengan baik, lalu Jae yang semakin lama berusaha merapatkan tubuh mereka berdua. Lengan kiri milik Jae sudah melingkari pinggang milik Wonpil, sedangkan tangan kanannya memegang punggung Wonpil dengan hati-hati, seakan-akan punggung milik Wonpil adalah sesuatu yang sangat rapuh. Wonpil yang semula kebingungan dalam posisinya, akhirnya meletakkan kedua telapak tangannya untuk bersandar pada bahu kokoh milik Jae, berusaha agar ia tidak semakin terperangkap dalam rengkuhan hangat miliknya.

Lagi, tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari keduanya. Mereka menikmati waktu yang berjalan di antara keduanya dalam diam. Secara tidak sadar Wonpil mulai menyandarkan kepalanya pada bahu milik Jae, membuat puncak rambut halus milik Wonpil menempel dengan kulit lehernya. Semakin dekat dia bersandar, semakin cepat pula jantungnya berdebar. Wonpil bahkan bisa dengan jelas mencium wangi parfum milik Jae yang menguar dari tubuhnya.

Tidak ada yang berubah, semuanya masih tetap sama.

Lagu yang dipasang silih berganti, tetapi semuanya masih lagu dengan tempo lambat, santai dan menenangkan. Mereka pun masih tidak berpindah dari posisi semula, berada pada sudut ruangan. Tidak peduli untuk bergeser ke tengah ruangan seperti yang dilakukan orang-orang lainnya. Yang mereka inginkan hanyalah menikmati momen yang ada dengan tenang.

Tiba-tiba Wonpil bisa merasakan Jae mulai menundukkan kepalanya, mendekatkan kedua wajah mereka secara perlahan. Wonpil yang sudah terbawa suasana pun mengikuti pergerakannya. Dia berjinjit di ujung kakinya agar bisa mendekatkan wajahnya dengan Jae, dibantu dengan dia yang semakin mengeratkan pegangan tangannya pada pinggang Wonpil.

Ujung hidung keduanya bersentuhan saat Jae memiringkan kepalanya, kemudian semuanya terjadi begitu saja.

Bibir mereka bersatu tanpa aba-aba, dengan Wonpil yang memejamkan matanya erat untuk menikmati sentuhannya. Wonpil bisa merasakan kedua belah bibir tipis milik Jae yang mengecupnya lembut dan tidak memaksa. Hangat napasnya menerpa wajah Wonpil dalam setiap helaan yang ada.

Pada saat yang sama, Wonpil bisa merasakan sensasi yang mirip seperti kembang api yang meletup-letup tanpa henti di dalam hatinya, saat kedua mata miliknya telah terpejam sepenuhnya. Rasanya seperti ada ratusan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya, berusaha untuk keluar dengan kepakan sayap mereka yang tidak berhenti sama sekali. Seluruh tubuhnya merasa hangat—semua terasa sangat familiar baginya, memabukkan dan menyenangkan.

Wonpil pun harus mengakui, kalau dia merindukan keadaan seperti ini.

Wonpil merindukan pelukan dari Jae yang sangat hangat dan selalu bisa menjaganya. Wonpil merindukan suara milik Jae yang selalu memanggil namanya dengan bahagia, kemudian mengucapkan berbagai macam kata untuk menunjukkan rasa sayang yang ia miliki pada Wonpil. Wonpil merindukan sosok Jae yang selalu ada bersama di sisinya, setiap harinya.

Semuanya, Wonpil merindukan semuanya, ia merindukan semua hal pada diri Jae juga keberadaan dirinya secara seutuhnya.

Jae secara perlahan melepaskan bibirnya dari bibir milik Wonpil, tetapi ia masih belum melepaskan Wonpil dari dekapannya sama sekali. Dengan suara yang bergetar juga penuh keraguan, ia akhirnya bertanya dengan sebuah bisikan pelan.

"I'm sorry but—can I keep kissing you like this?"

Wonpil menganggukkan kepalanya dengan lemah. Menatap pasang mata milik Jae dengan sayu. Tentu saja. Tanpa perlu Jae bertanya juga, Wonpil akan selalu menjawab "Iya".

Notes:

previously posted on my write(.)as acc but i decided to post it here for a better archive.