Work Text:
Moran tidak bisa berhenti menyelidiki leher William.
Tadinya ia berpikir ada jerawat tumbuh di leher belakang William, tapi jerawat tidak berwarna sampai kemerahan ungu. Begitu pun bentol digigit serangga.
Mungkin ia bisa memikirkan kemungkinan lebih positif lagi, tapi pengalaman tidur dengan wanita terus mencegahnya demikian.
Iya, semakin diperhatikan, dua tanda itu menyerupai… cupang…
Mana William sedang memakai piyama tidurnya tanpa memakai kemeja putih didalamnya, jadi tambah kelihatanlah cupang tersebut!
"Hoo… kalau begitu peranku dalam rencana ini," Albert belum menyadarinya karena ia duduk bersebrangan dengan William, dan sedang membaca draft rencana kedepan nanti.
Louis juga belum menyadari karena ia berdiri disamping William. Sebenarnya bisa saja ia melihatnya bila ia memutuskan untuk mundur beberapa langkah sedikit.
Fred? Bagaimana dengan pemuda itu? Ketika Moran menoleh ke sebelahnya, Fred tampak terlihat biasa saja. Kecuali kedua matanya yang terus menghindari William, dan kedua telinganya yang memerah-
Ah, dia juga melihatnya, bukan? Kita berdua sama-sama tak sengaja mengetahui kehidupan lain tuan William yang berhubungan dengan aspek seksual, bukan?
Moran tidak bermaksud untuk mencari tahu soal kehidupan pribadi seseorang, ataupun membesarkan sesuatu yang menurutnya nornal saja, apalagi William adalah seorang pria dewasa.
Tapi kalau kau berdiri tepat dibelakangnya, cupang itu... menyolok dan mengganggu perhatiannya sekali.
"Aku menyukai rencana ini," ucap Albert sambil menyerahkan lembaran kertas ke William, "Kita bisa melakukannya kapan pun kau mau."
Mau tak mau, William harus berdiri untuk mengambilnya. Namun, belum lama ia beranjak, ia tiba-tiba meringis.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Louis.
"Tidak apa," jawab William dengan senyum tertahan, "Pinggulku agak sedikit sakit saja. Nanti akan membaik sendiri, kok."
Sontak, Moran kesedak ludah, tapi untungnya ia bisa meredakannya dengan batuk kecil.
Cupang yang ada di leher belakang. Pinggul yang sakit.
Bukankah itu sangat terlihat jelas?
"Kakak duduk dulu saja," Louis mengantarkan lembaran kertas dari tangan Albert ke William, "Aku buatkan teh herbal supaya badan Kakak tidak pegal lagi, ya."
Sang adik pun telah pergi meninggalkan ruangan tanpa menaruh kecurigaan sedikit pun pada 'gejala' yang dialami Kakaknya. Ugh, seandainya Bond ada disini, mungkin ia lah yang membuka suara duluan akan cupang tersebut. Sayang orang itu sedang pergi ke luar sebentar untuk menemui Moneypenny dan Von Herder atas perintah William.
"Kau tak perlu ikut dalam rencana ini kalau masih kelelahan, William," ujar Albert.
"Tidak apa-apa." William mengangkat tangannya untuk memijat pundak belakangnya, "Aku akan istirahat sebentar."
Moran hampir kesedak lagi ketika tangan William menyusup masuk kedalam piyama, tanpa sengaja menurunkan kain itu sedikit hingga terlihat kulit pundaknya. Pasalnya, ia tak sengaja melihat sekilas sebuah bekas yang lebih mencolok dibandingkan kedua cupang tersebut.
Sebuah bekas gigitan.
Oh, astaga. Moran bukanlah seseorang yang memikirkan bagaimana bentuk kehidupan seks teman kerjanya, apalagi tuannya sendiri. Tetapi melihat peninggalan-peninggalan tersebut membuat ia tak bisa berhenti mempertanyakannya.
Moran kembali menoleh ke arah Fred yang kini juga menatap pundak William dengan mata membesar sebelum menghadap ke arah lain dengan muka memerah.
Selamat tinggal, pemikiran polos Fred.
Sepanjang setengah hidup ia mengabdi pada William, tak pernah ia menemukan sang tuan memberi celah terbuka akan kehidupan pribadinya. Bahkan, William sendiri belum pernah terlihat mempunyai teman dekat ataupun kekasih selama masa hidupnya. Ia menghabiskan banyak waktu bersama Albert dan Louis, baik ketika sedang bekerja ataupun sedang bersantai.
Mungkin ada rasa jenuh. Moran sendiri mengunjungi tempat bar atau menyewa prostitusi untuk pelampiasan seksual semata mengusir rasa kesepian. Mungkinkah William juga merasakan hal yang sama? Ingin mencicipi bagaimana rasanya menyentuh hasrat dan jatuh kedalamnya, berusaha memenuhi apa yang kosong didalam hatinya.
Tapi sampai segitunya, kah? Ugh, Moran bukanlah orang yang suka berkomentar, tapi ia tidak juga menyangka bahwa William termasuk seseorang yang cukup agresif di atas ranjang. Bahkan dirinya saja belum pernah melakukannya sampai sejauh itu-
Oh, astaga, Moran! Berhenti lah memikirkan tidak-tidak! Ini tuanmu sendiri!
"Ngomong-ngomong, William, aku tidak ingin ikut campur tapi alangkah baiknya kalau kau tidak banyak beraktivitas supaya energimu tersimpan, apalagi sampai berhubungan badan tepat sebelum melakukan misi." Ohok! Seharusnya William lah yang kesedak ludah hingga terbatuk-batuk karena tertangkap basah Albert, tapi kenapa malah Moran dan Fred yang kesedak sementara yang terlibat malah bersikap tenang?
"Ya, akan kuingat saranmu, kak Albert," William - sempat-sempatnya! - tersenyum, "Meskipun sebenarnya kemarin aku tidak berencana untuk terlalu agresif, tapi sepertinya malah-"
"Wi-William! Sebaiknya kita tidak perlu merambat ke topik itu, kan?!" panik Moran.
"Ah, maaf, Moran…" William akhirnya menoleh kebelakang, sebelum beralih kembali kedepan.
"Tapi aku berharap kau masih mengingat prioritasmu, William," Albert melipat kedua kakinya, "Kau tak ingin ketahuan dahulu oleh Sherlock Holmes bukan, hanya karena kelepasan pas sedang melakukan dengannya?"
Moran tak tahu sudah berapa kali kedua matanya melotot dan ludahnya kesedak. Ia bahkan tak bisa tidak berteriak kaget mendengarnya.
"Sh-Sherlock Holmes-?!"
"Hush." William mengangkat jari telunjuknya didepan bibir sembari menghadap ke arah Moran, "Kita tidak ingin Louis mendengarnya, bukan?"
Ah. Moran langsung melirik ke arah pintu. Bisa gawat kalau orang itu sampai mendengar.
Tapi yang benar saja? William dan detektif Holmes itu melakukan-
Moran memang bukan dalam posisi dimana dia bisa mengatur segala hubungan William. Tapi dengan detektif sekaligus nemesis tuannya itu? Bagaimana dia bisa mengidahkannya dengan mudah?
Dan kenapa Albert dan William terlihat tenang saja?!
Ah, banyak sekali pertanyaan yang Moran ingin keluarkan, tapi ia tak tahu memulai darimana!
"Achoo!"
John spontan berhenti berjalan, "Kau sedang flu, Sherlock?"
"Tidak." Sherlock mengusap hidungnya, "Hidungku gatal saja."
"Kau kurang beristirahat, Sherlock!" John menaruh buku-bukunya ke atas lantai dan segera menghampiri Sherlock yang sedang berbaring di atas sofa, "Dari tadi pagi kau mengeluh kalau badanmu pegal. Kau terus menerus menguap karena kurang tidur. Belum lagi semalam kau berkeliaran entah kemana dan baru pulang pagi hari! Kau ini apa tidak tidur semalam?"
"Err… sebenarnya ada alasan lain, John."
"Dan aku sepintas melihat ada bentol merah serta memar kecil di lehermu! Bagaimana kalau kau digigit serangga tanpa sepengetahuanmu dan kau terkena malaria?!"
"Itu bukan bentol serangga, John!" hardik Sherlock, "Kau ini… padahal kau punya pacar tapi kau tidak tahu apa-apa."
"Eh? Apa maksudmu?" John mengerutkan keningnya, "Jadi itu luka apa kalau bukan bentol serangga? Memar karena puk- Astaga! Sherlock, kau berantem dengan seseorang didalam bar semalam?!"
"Bukan! John, yang benar saja!" Sherlock menepuk dahinya, "Sudahlah. Lagipula untuk apa juga memberitahumu."
"Tunggu. Aku masih tidak mengerti." John mendekatkan diri pada Sherlock untuk melihat jelas lehernya, "Tapi kelihatan seperti bentol- tunggu..."
Melihat teman dekatnya itu tak kunjung sadar, Sherlock mulai frustasi, "Itu cupang, John!"
"Cupang?" Seketika muka John memerah, "Oh! Astaga?! Cu-Cupang?!"
"Aku mau tidur." Sherlock memiringkan badannya, menghadap ke arah sandaran sofa.
"Tunggu dulu! Jadi semalam kau-! Astaga! Sherlock! Aku tahu kau orang dewasa tapi-! Oh, ini sangat tidak tertebak!"
