Work Text:
Furuya Rei si gila kerja. Tak ada harinya yang tidak disibukkan dengan pekerjaan. Menjadi sosok Furuya Rei yang bekerja sebagai PSB, menggunakan kode nama Bourbon di suatu organisasi, belum lagi menjadi Amuro Tooru si pelayan kafe sekaligus menjadi murid detektif tidur. Di hari liburnya ia masih berkutat dengan pekerjaan sialannya itu.
Akhir-akhir ini ia mendapat misi penting untuk memata-matai seseorang. Sudah dua minggu ia tidak tertidur pulas, sibuk mengikuti sang target. Kaleng kopi bisa ditemukan di sudut mobilnya, kantung mata sudah bertengger di mata indahnya. Terkadang ia bisa lalai dengan kesehatan fisiknya. Akai Shuichi sampai lelah menasihati.
Dan di sinilah dia, terbaring lemah di ranjang, selimut dua lapis mendekap tubuh, angka 38,3°C terpampang jelas di layar termometer. Furuya Rei sukses membuat dirinya terkena demam. Terpaksa mengambil libur di semua pekerjaannya. Akai Shuichi tidak tahu ingin tertawa atau menangis. Dia memang menasihati Furuya Rei untuk beristirahat—walaupun tidak didengar, siapa yang menyangka Furuya Rei sendiri yang membuatnya harus beristirahat.
Sekarang saatnya Akai Shuichi berperan sebagai pasangan-yang-baik. Pagi-pagi ia sudah bangun, dirinya berkutat di dapur, apron menempel di tubuhnya, harum kari tercium. Ia juga tak lupa membuat teh hijau kesukaan sang kasih.
Furuya Rei terbangun oleh aroma tersebut. Tubuhnya masih lemah tetapi masih ingin beranjak dari ranjang ketika ia mendengar suara berat memperingatkan, “Stay still. Tubuhmu masih lemas, jangan banyak bergerak.”
Mendongak dan melihat Akai Shuichi membawa nampan berisi sepiring kari, secangkir teh hijau, dan semangkuk penuh buah-buahan. Senyum lemah terulas di wajah Furuya Rei, “Hmm? Ini ya, kari andalan Okiya Subaru?”
Akai Shuichi menarik kursi, duduk di samping ranjang, ia memandang lurus ke arah Furuya Rei, mengelus bawah mata kasihnya, terkekeh. Tangannya beralih menyisir surai pirang milik Furuya Rei yang sedikit berantakan khas bangun tidur, dilanjut membantunya duduk di atas ranjang.
Akai Shuichi siap menyendokkan kari buatannya saat tangannya dihentikan, “Aku bisa sendiri,” cicit Furuya Rei pelan, bibirnya sedikit mengkerut. Akai Shuichi menghela napas, masih kukuh ingin menyuapi kasihnya, “I'll treat you today, you can relax.”
Furuya Rei menatap Akai Shuichi. Mata zamrudnya dipenuhi kekhawatiran, tetapi tak menghilangkan kesan tegas. Cahaya matahari yang menerobos masuk menyinari kulit kecoklatan, rambut hitam keritingnya terlihat tak terawat, kantung mata permanen tinggal di bawah matanya.
Ia mengunyah suapan ketiganya, tertawa pelan, “Kapan lagi Aku disuapin agen FBI?,” ujarnya sambil menyeruput teh hijau. Akai Shuichi mendengus, lanjut menyuapi sang kasih, “Kapan lagi juga Aku nyuapi dan merawat agen PSB yang bandel ini?”
Furuya Rei melotot, sedikit tidak terima, “Bandel apa?,” walaupun begitu ia masih menerima suapan dari kasihnya. Akai Shuichi mengelap ujung bibir Furuya Rei, “Bandel, sudah diingatkan untuk istirahat tapi diabaikan, sekarang kena getahnya sendiri.”
Yang dinasihati hanya merespon dengan mengerucutkan bibir, Akai Shuichi paham. Si gila kerja ini memang tidak ada jeranya, lihat saja, besok juga akan diulangi lagi. Tetapi Akai Shuichi juga tidak jera untuk menasihati.
Metabolisme tubuh Furuya Rei memang sangat cepat. Keesokan harinya ia sudah duduk di ranjangnya sambil mengutak-atik laptopnya, sesekali mengangkat telepon. Air mukanya terlihat serius, membuat alisnya membentuk 'V'.
Akai Shuichi hanya menggeleng di sampingnya, lihat, 'kan? Furuya Rei adalah Furuya Rei. Sekali gila kerja tetaplah gila kerja.
Fin.
